Showing posts with label kuliner. Show all posts
Showing posts with label kuliner. Show all posts

12.6.11

Kue Jaman Dulu


Salah satu enaknya menjadi anak-anak adalah tidak perlu terlalu pusing soal duit. Dikasih duit oleh orang tua, ya seneng, bisa buat jajan. Tidak dikasih, ya paling manyun gak bisa jajan.

Nah ngomongin soal jajanan masa kanak-kanak, saya teringat dengan kue koya. Kue yang dibuat dari tepung beras dan berisi kacang ijo. Rasanya kesat dan baunya khas, serta tentu saja enak dikunyah.

Saya tidak ingat lagi berapa harganya saat itu. Yang saya ingat kue tersebut dapat dijumpai di pedagang yang mangkal di depan sekolah. Menurut si pedagang, ia kulakan kue tersebut di pasar yang tidak jauh dari sekolah. Ia biasanya belanja kue seminggu sekali, tapi kalau banyak yang beli, ia cepat-cepat menambah stoknya.

Meski tidak setiap hari beli dan memakan kue koya, saya termasuk yang menyukai kue tersebut. Saya akan membelinya jika dapat uang jajan dari orang tua.

Selain kue koya sebagai kue jaman dulu alias jadul, kue lainnya adalah kue sagon, jajanan tepung yang kalau dimakan langsung memenuhi rongga mulut. Kue ini mirip dengan kue koya, hanya saja lebih cepat hancur begitu mendarat di mulut.

Jajanan lainnya adalah kerupuk kuning digoreng pasir dan disiram sambel kacang cair. Biasanya kerupuk dibawa oleh si pedagang menggunakan plastik besar dan cairan sambalnya dimasukkan dalam panci berukuran sedang.

Kue dan makanan tersebut di atas sekarang pun masih ada, tapi tidak lagi dijual di sekolahan. Sepertinya kalah bersaing dengan kue dan makanan lain.

Saya sendiri mendapatkan kue koya seperti pada foto dipostingan ini ketika sedang membeli oleh-oleh di toko kue bakpia Yogyakarta.

Melihat kue koya nangkring di rak, saya jadi teringat masa kanak-kanak. Langsung saja saya beli beberapa buah dan dipotret dulu sebelum dimakan dan dijadikan postingan (maklumlah blogger).

Nach kalau salah satu kue kesukaan saya saat kanak-kanak adalah kue koya, apa kue kesukaan anda saat kecil?


dikirim lewat BlackBerry® oleh pemilik blog http://arisheruutomo.com

5.6.11

Nikmatnya Mi Celor Palembang

Waktu masih menujukkan pukul 8 pagi ketika saya dan beberapa orang teman berkunjung ke rumah makan Mi Celor 26 H. Syafei Z di 26 Ilir Palembang. Rumah makan ini tidak terlalu besar, hanya ada s9 meja yang masing-masing dikelilingi 4 buah kursi. Terlihat pengunjung memenuhi ruangan dan asyik bersantap.

Beruntung, ketika memasuki ruangan ada pengunjung yang telah selesai bersantap, sehingga rombongan saya pun bisa segera menempati kursi-kursi yang kosong.

Setelah memesan minuman, kami pun segera memesan mi celor atau mi celup yang merupakan menu satu-satunya di rumah makan tersebut.

Tanpa menunggu lama, pesanan pun tiba. Tampak semangkuk penuh mi telur berwarna kuning yang disiram kuah kental agak kekuningan dan ditaburi daun bawang.

Bentuk mi celor yang disajikan berbeda dengan mi telur pada umumnya. Mi celor ukurannya tebal dan lurus tidak keriting, sepintas seperti spagheti, makanan pasta khas Italia.

Aroma udang tercium dari kuah mi celor. Tidak mengherankan karena ternyata bahan utama kuah mi celor adalah potongan-potongan otak udang yang diambil dari udang satang (udang berukuran besar). Kuah otak udang inilah yang membuat sedap mi celor, konon makin banyak campuran otak udangnya makin sedap rasa mi celor.

Saking sedapnya mi celor ini, rekan saya Donny B.U tidak sungkan-sungkan untuk menyantap 2 porsi mi celor. Saya sendiri ingin tambah, tapi apa daya, kapasitas perut sudah tidak muat karena sebelum ke mi celor 26 Ilir, saya sudah sarapan lontong di hotel tempat saya menginap.

Bicara mi celor, makanan ini sebenarnya bukanlah sajian kuliner yang cuma bisa dijumpai di Palembang. Kita juga bisa mendapatkan mi celor di daerah lain di Sumatera seperti Lampung dan Jambi.

Namun, di Palembang, mi celor menjadi makanan khas, tidak kalah populernya dengan pempek. Mi celor sepertinya menjadi menu wajib warga Palembang dan sekitarnya. Bahkan warga Palembang yang berada di perantauan pun sudah menjadikan kunjungan ke mi celor sebagai ritual baru saat pulang kampung.

Dengan kesedapan mi celor dan harga per porsi sebesar Rp. 10 ribu, "mie celor 26 Ilir Haji Syafei" tidak pernah kekurangan pengunjung. Bahkan di saat liburan pengunjungnya bisa membludak. Tidak heran jika sebelum Magrib, mi celor di rumah makan H. Syafei sudah habis.

Bicara rumah makan mi celor di 26 Ilir, saya berkesempatan bertemu dengan pemilikinya, Pak H. Syafei. Dengan usianya yang tidak lagi muda, beliau tidak lagi melayani langsung pembeli mi celornya. Ia hanya duduk sebagai kasir, menerima dan memberikan pengembalian pembayaran dari pelanggannya.

Dengan ramah beliau menerima permintaan saya untuk berfoto bersama. "Wah layaknya artis aku ini, pakai diminta berfoto bareng. Barusan juga ada pengunjung dari Surabaya yang minta foto bersama". Ujar Pak H. Syafei.

"Iya pak, soalnya mi celor bapak enak sich", timpal saya

"Alhamdullilah, jika banyak yang suka", kata Pak Syafei.

Nach tunggu apa lagi, jika anda ke Palembang, jangan lupa ke Mi Celor 26 Ilir. Nikmati sensasi otak udang di mi celor yang sesungguhnya. Bukan otak udang yang berarti bodoh.


dikirim lewat BlackBerry® oleh pemilik blog http://arisheruutomo.com

23.4.11

Ayam Lepas Lezat dan Pedas

Ngomongin “ayam lepas” jangan bayangkan ayam-ayam yang berkeliaran dan terbebas dari kandangnya. Jangan pula bayangkan “ayam” yang dikejar-kerja petugas kamtib karena menggangu kesusilaan. “Ayam lepas” disini adalah nama rumah makan baru di bilangan Kalimalang Bekasi, tepatnya di dekat Rumah Sakit Global Bros, sekitar 200 meter dari Mall Metropolitan.

Ketika kami tiba di rumah makan tersebut, terlihat kursi dan meja telah dipadati pengunjung yang sedang asyik menikmati hidangan yang tersedia. Beberapa pengunjung lainnya terlihat mengantri untuk mendapatkan tempat duduk dan memesan paket makanan untuk dibawa pulang.

Saya perhatikan, ramainya pengunjung di rumah makan “Ayam Lepas” ini bukan dikarenakan hari itu hari libur (libur Paskah), tetapi sudah ramai sejak peresmiaannya sekitar sebulan yang lalu. Setiap kali melintasi Kalimalang, saya perhatikan rumah makan ini ramai pengunjung. Ehm … pasti ada yang istimewa dari rumah makan ini, selain nama rumah makannya yang unik.

Tanpa berlama-lama, usai sholat Jumat di Masjid Al-Azhar Kalimalang, kami pun menyempatkan diri untuk mampir dan mencicipi makanan yang disajikan di resto yang memakai konsep warna merah pada desain ruangannya ini. Beruntung, saat kami tiba, terdapat sebuah meja kosong yang baru saja ditinggalkan pengunjung sebelumnya. Jadi kami bisa datang, duduk dan langsung pesan makanan.

Sesuai nama rumah makannya, menu utama yang disajikan adalah paket ayam goreng spesial yang dibandrol dengan harga Rp. 14 ribu per porsi. Dengan harga tersebut kita akan mendapatkan setangkup nasi putih, sepotong ayam goreng tepung, selembar kol, selada dan 2 potong timun, sekerat terong, dan sambal uleg. Selain paket ayam, terdapat pula paket burung spesial dan paket lele goreng dengan harga yang sama seperti paket ayam. Selain itu pula terdapat menu tambahan seperti cah kangkung, oseng-oseng toge, tempe goreng, dan berbagai aneka minuman.

Penasaran dengan menu utama, saya pun memesan paket menu ayam goreng spesial. Tanpa menunggu terlalu lama, pesanan pun segera hadir. Disajikan di atas piring berwarna berwarna putih, terlihat cantik dan menggoda selera . Terlihat sepotong ayam goreng berwarna coklat kemerahan berbalut tepung tipis yang mengingatkan kita akan sajian ayam kremes, hanya saja tepung kremesnya dipisahkan. Di tengah terdapat setangkup nasi putih yang dikelilingi lalapan dan sambal uleg yang terbuat dari cabe rawit, cabe merah, bawah putih dan merah serta terasi.

Tanpa menunggu lama, ayam goreng pun segera dibedah sebelum masuk ke mulut. Begitu kulit ayam goreng dikelupas, terlihat daging ayam berwarna putih mulus, segar dengan aromanya yang wangi. Asyiknya, begitu potongan daging didorong ke mulut dan dikunyah, terasa sekali kelembutannya, tidak kalah dengan gorengan ayam produk impor.

Yang lebih dahsyat, begitu potongan ayam dicocolkan ke sambal uleg dan dikunyah bersamaan, akan terasa ledakan yang luar biasa dari sambal uleg. Jika diibaratkan sebuah bom, kepedasan sambal uleg ini tidak kalah dengan ledakan bom buatanan para teroris durjana. Tidak heran begitu sambal uleg melewati batang tenggorokan, keringat pun mulai bercucuran dan mulut mulai megap-megap menahan pedas. Nach kalau sudah kepedasan seperti ini, tidak ada penangkal lain yang lebih pas selain teh manis hangat yang bisa diseruput di sela-sela atau seusai makan.

Dengan kombinasi daging ayam yang lezat dan sambal yang pedas, tidak heran jika oleh pemilik rumah makan, Hedi Siagian asal Medan, “ayam lepas” disebut sebagai ayam lezat dan pedas. Saya setuju dengan pendapat sang pemilik. Kalau anda penasaran, tidak ada salahnya untuk mencoba.


4.10.10

Menikmati Soto Mie Bogor di Bekasi

Mendung menggantung seharian dan diikuti hujan deras menjadikan udara di Bekasi terasa dingin. Menanti hujan reda, perut terasa lapar dan bayangan makanan hangat seperti soto atau baso menggelayut di pelupuk mata. Untuk itu begitu hujan berhenti, saya dan keluarga memutuskan untuk makan di luar rumah dan berburu makanan hangat yang lokasinya tidak jauh dari tempat tinggal yaitu di sekitaran kawasan perumahan Taman Galaxy. Saya ingat di lokasi pertokoan perumahan tersebut banyak pedagang yang menjual soto ayam, bakmi ayam ataupun mie baso.

Setelah berputar-putar sejenak di kawasan pertokoan, pilihan justru jatuh pada pedagang kaki lima yang menjual soto mie Bogor yang mangkal di depan sebuah ruko. Ketika kami tiba terlihat Pak Agus si penjual soto mie Bogor sedang sibuk melayani pembeli. Di gerobak kaca terlihat tumpukan potongan kol. Mie kuning, tomat, risoles dan potongan daging babat yang sepertinya menggugah selera.

Beberapa pembeli terlihat menyantap soto mie di dekat gerobak Pak Agus, sementara beberapa lainnya memilih menikmati soto mie di atas kendaraan atau membungkus soto mie tersebut dan menyantapnya di rumah.

Tanpa berlama-lama, kami pun segera memesan masing-masing satu mangkuk soto mie. Dengan cekatan Pak Agus menyiapkan pesanan kami. Tangannya memasukkan mie kuning ditambah potongan kol, tomat, risoles dan potongan daging/babat ke dalam sebuah mangkuk. Setelah itu ia menyiramkan kuah panas berwarna kuning kecoklatan plus sesendok sambal. Begitu kuah dituangkan langsung tercium aroma khas soto mie Bogor yang menyegarkan dan mengundang selera makan.

Tampilan Soto Mi Bogor ini memang menggugah selera. Saat saya menyeruput kuah soto mi, terasa kesegaran dan kehangatannya. Rasa gurih dan segar terasa menyergap lidah kita, apalagi ditambah dengan sesendok sambal yang cukup pedas. Untung udara terasa dingin seusai hujan, sehingga sensasi pedas tidak membuat badan mengucurkan keringat berlebihan.

Dengan harga Rp. 9.000 per porsi, plus nasi putih sebagai menu tambahan, soto mie Bogor buatan Pak Agus kiranya cukup layak untuk dinikmati. Kita tidak perlu jauh-jauh ke Bogor untuk sekedar menikmati sajian soto mie yang menggoda, cukup menikmati sajian soto mie Bogor ala kaki lima dari pak Agus, maka rasa kangen akan soto mie akan terobati.

25.8.10

Mencicipi Uli Bakar di Stasiun Bekasi

Para penumpang kereta baru saja keluar dari Stasiun Bekasi ketika seorang pedagang uli ketan bakar menawarkan dagangannya sambil tersenyum. “pak, bu … uli bakarnya, masih anget nih” ujar sang pedagang sambil mengipas-ngipas bara api dari arang yang digunakan memanggang uli ketan. Saya lihat beberapa orang menghampirinya dan membeli beberapa potong uli bakar untuk dibawa pulang.

Saya yang tadinya tidak begitu memperhatikan akhirnya tertarik dan mencoba menghampiri. Sambil menunggu kendaraan yang akan menjemput, saya kemudian berbincang-bincang dengan si penjual uli ketan tersebut. Mang Asep begitu ia biasa dipanggil ketika saya menanyakan namanya. Sudah hampir 10 tahun ini ia berdagang uli ketan di kota Bekasi. Menurutnya ia biasa berjualan di sekitar Stasiun kereta kota Bekasi, RSUD dan Polres Bekasi atau terkadang di kawasan GOR.

“Jadi Mang Asep enggak punya lokasi tetap untuk berjualan?” tanya saya.

“Enggak pak, saya ngider saja ke tempat-tempat yang ramai. Kalau sore saya panggul barang dagangan ke Stasiun Bekasi karena biasanya ramai oleh penumpang yang pulang kerja. Nanti kalau sudah rada sepi, saya pindah ke RSUD atau Polres Bekasi” jawab Mang Asep.

“Terus berapa harga jual uli ketan ini?”

“Kalau di stasiun Bekasi Mamang menjualnya seribu rupiah per buah, tapi kalau di RSUD atau Polres kadang Mamang naikin harganya menjadi seribu lima ratus atau dua ribu rupiah per buah”.

“Lho kok harga jualnya enggak sama?”

“Iya, soalnya Mamang mesti berjualan disana sampai tengah malam, terkadang sampai jam 2, dan seringkali harus bayar pungutan atau pajak pak?”

“Bayar pajak ke Gayus?”

“hehehehe … enggak pak, bayarnya ke orang-orang yang suka jaga di sekitar situ” (tampaknya Mang Asep ngejawab sambil mengira-ngira siapa itu Gayus …)

“Berapa besar pajaknya mang dan kalau enggak ngasih bagaimana?”

“ya sekitar 5-10 ribu rupiah pak, kadang ditambah dengan beberapa buah uli yang saya jual. Kalau enggak ngasih ya mamang diusir enggak boleh jualan. Tapi khusus di stasiun ini, Alhamdullilah sudah sekitar seminggu ini enggak ada yang minta”

“wah rupanya Gayus ada dimana-mana ya …”

“hehehehe … “ (sambil tertawa, kali ini saya lihat Mang Asep tampaknya mulai bingung … apa hubungannya Gayus dengan uli ketan dagangannya)

Sebelum kebingungan Mang Asep berlanjut, saya lanjutkan dengan pertanyaan berikutnya.

“Mang, kalau semalam berapa kira-kira uli ketan yang bisa dijual?”

“Wah enggak tentu pak, … tapi rata-rata sih uli ketan yang saya bawa sebanyak 200 buah selalu habis. Hanya saja waktunya yang enggak tetap. Terkadang belum jam 9 malam sudah habis,tapi lain waktu baru habis hingga tengah malam.”

“Mang saya coba satu ya, yang itu yang enggak terlalu gosong” ujar saya sambil melihat uli ketan yang penampilan dan bau bakarannya menggoda. Selain itu enggak enak juga sama Mang Asep, masa cuma ngobrol doank dan enggak beli hehehehe …

“o iya pak … pakai gula kan?” dengan cekatan Mang Asep membalik sebuah uli yang sudah mulai terlihat kuning kecoklatan dan kemudian membubuhkan gula pasir yang telah dicampur parutan kelapa (seperti serundeng).

“Wah mantab pak rasanya, gurih dan ulinya tidak lengket. Lebih enak lagi kalau sambil duduk-duduk dilengkapi secangkir teh hangat atau kopi”

“Iya pak, kalau ditemani teh atau kopi lebih enak. Di depan Polres biasanya para pembeli juga pesan teh atau kopi yang ada di warung sekitar situ”

“Uli ini Mang Asep buat sendiri?”

“Enggak pak, saya ambil dari orang lain. Saya tinggal bawa dan jual. Enggak sempat kalau buat sendiri dan capek. Lebih senang ambil uli dari orang lain, walau untungnya harus dibagi dengan si pembuat uli ketan”

“Kalau pikulannya juga sewa?”

“Enggak, kalau ini punya Mamang sendiri, cuma ulinya saja yang ambil dari orang” ujarnya Mang Asep sambil mengipas bara api agar panasnya tetap terjaga.

“lalu berapa keuntungannya semalam Mang?”

“Ehm … lumayan lah pak (tanpa menyebutkan jumlahnya). Bisa buat makan sehari-hari” jawab Mang Asep.

>Sebetulnya saya ingin berbincang-bincang lebih lama lagi dengan Mang Asep, sayang kendaraan jemputan saya sudah datang.

“Mang jemputan saya sudah datang nich, terima kasih ya ngobrolnya. O ya saya beli yang mentah donk beberapa buah, buah besok pagi, asyik kan dimakan ditemani secangkir teh”

“o iya pak … ini ulinya. Sebaiknya disimpan di kulkas pak biar gak berubah rasanya” ujar Mang Asep sambil membungkus beberapa uli mentah.

Setelah menerima uli, saya pun segera meninggalkan Mang Asep. Namun dari dari bincang-bincang singkat tersebut saya bisa melihat kegigihan pedagang kecil seperti Mang Asep. Meski omzet dan keuntungannya tidak terlalu besar (ya kalau di rata-rata semalam bisa menjual 200 uli dengan harga seribu rupiah per buah, maka total omzetnya adalah Rp. 200 ribu), ia bisa tetap terus tersenyum memperlihatkan keceriaannya.

Mang Asep tidak terlihat mengeluh dan pasrah ketika pendapatannya berkurang karena kena “Gayus” sebesar Rp. 5-10 ribu per lokasi. Dengan tidak berkeinginan untuk membuat sendiri uli ketannya, Ia sepertinya tidak terlihat ngoyo dalam berjualan. Ia cukup puas memperoleh keuntungan dari barang yang dijualnya, sementara keuntungan dari pembuatan uli biarlah menjadi hak si pembuatnya.

Bagi mereka yang orang sekolahan atau wiraswastawan menengah atas, apa yang dilakukan Mang Asep mungkin dipandang sebelah mata. Dengan berjualan seperti itu dan pendidikan yang rendah, Mang Asep mungkin tidak akan pernah naik kelas.

Nah disinilah perlunya campur tangan berbagai pihak, misalnya Pemerintah Daerah atau wiraswastawan yang telah berhasil, untuk membantu meningkatkan taraf hidup orang-orang seperti Mang Asep yang memiliki semangat untuk berwirusaha namun terkendala modal, keahlian dan pengetahuan yang terbatas. Orang-orang seperti Mang Asep tidak bisa ikut seminar kewirausahaan dengan biaya jutaan atau ratusan ribu rupiah. Boro-boro ikut seminar, ia pun tidak memiliki cukup modal, keahlian dan pengetahuan untuk meningkatkan usahanya. Menurut saya, hanya bantuan dan bimbingan lah, misalnya dengan pola kemitraan, yang bisa membantu orang-orang seperti Mang Asep untuk bisa naik kelas. Bagaimana menurut anda?

9.5.10

Sayur Gabus Pucung Warung Besan

Mas Masim Vavai Sugianto dalam tulisan di blognya pernah mengutip tulisan Bondan Winarno di kolom “Jalansutra”: “Jaka sembung makan pete, ambil sapu di ujung gunung Jangan ngaku orang Jakarte, kalo kaga tahu “Gabus Pucung”. Saya cuma tersenyum membaca apa yang ditulis Bondan. Mungkin karena saya kurang pergaulan, meski lahir dan besar di Jakarta dan kemudian tinggal di Bekasi, saya justru baru mendengar sayur gabus pucung ketika mempersiapkan pembentukan Komunitas Blogger Bekasi (Be-Blog) pada awal Agustus 2009.

Tapi soal ikan gabus, saya sudah lama tahu dan sering merasakan kenikmatannya. Ketika masih kanak-kanak dan tinggal di Kampung Sawah Tanjung Priok, saya dan teman-teman memang sering mancing ikan gabus, sepat atau betok di empang atau rawa-rawa (saat itu kawasan Tanjung Priok belum dipadati rumah seperti sekarang ini). Setiap kali mendapat ikan gabus, orang tua saya tidak pernah mengolahnya menjadi sayur gabus, paling banter ikan tersebut digoreng dan dipecak seperti ikan lele.


Makanya ketika pertama kali mendengar sayur gabus pucung, bayangan saya adalah ikan gabus yang dimasak seperti umumnya orang memasak ikan pindang atau pepes plus kuah. Dari postingan Mas Vavai saya kemudian tahu kalau sayur gabus pucung itu adalah sayur ikan gabus yang berwarna hitam pekat yang berasal dari pucung (kluwak) yang biasa digunakan untuk bumbu rawon. (tapi walaupun Mas Vavai telah membuat postingan sayur gabus pucung sejak 2007 dan sering bertemu dengan saya, belum pernah sekalipun Mas Vavai mentraktir masakan tersebut, ya setidaknya di warung ibunya Mas Vavai di Tambun … hehehe piss Mas Vavai).

Sejak mengenal sayur gabus pucung di saat persiapan pembentukan Be-Blog dan Amprokan Blogger 2010, saya sebenarnya sudah berniat untuk mencoba masakan tersebut. Dari informasi yang saya peroleh, setidaknya ada sebuah rumah makan di Bekasi yang menawarkan menu sayur gabus pucung yaitu di jalan raya Narogong, melewati perumahan Kemang Pratama. Satunya lagi adalah sebuah rumah makan di jalan raya Kali Malang, tepatnya di Pondok Kelapa, Jakarta Timur.

Setelah beberapa kali tertunda, akhirnya hari Minggu 9 Mei 2010 saya berkesempatan mampir di Warung Besan yang terletak di Jalan Kali Malang No. 37, Pondok Kelapa, Jakarta Timur. Di warung ini dapat dijumpai masakan khas Betawi kuno seperti gabus pucung. Menurut penjualnya, menu gabus pucung di Warung Besan asli diolah dari resep bumbu warisan nenek moyang.

Tanpa berlama-lama, saya langsung memesan menu sayur gabus pucung. Ada tiga pilihan potongan ikan gabus yang disajikan yaitu bagian kepala, badan dan ekor. Dengan harga per porsi sebesar Rp. 19.500,-kita akan mendapatkan 2 potongan ikan gabus, karenanya kita harus memilih bagian ikan gabus yang ingin disantap. Saya memilih bagian kepala dan badan.


Karena sudah siap saji, cukup dengan menghangatkan sebentar maka hidangan sayur gabus pucung pun segera siap di meja makan. Dari segi tampilan, sepintas tidak terlihat perbedaan yang mencolok antara sayur gabus pucung dengan rawon daging pada umumnya, yang agak membedakan adalah tidak adanya toge sebagai pelengkap.

Kalau dari segi tampilan tidak terlalu berbeda dengan rawon, maka dari segi rasa barulah tampak perbedaannya. Meski sama-sama menggunakan pucung (kluwek) sebagai bumbu (dan mengakibatkan kuahnya berwarna hitam), namun perpaduan bumbu-bumbu lainnya seperti kemiri, bawang merah, bawang putih, cabe merah, jahe, kunyit dan daun salam yang ditumis menjadi satu, menjadikan rasa gabus pucung Warung Besan terbilang unik. Terasa sekali rasa gurih dan asinnya, walau tidak ada rasa pedas yang mencuat. Aroma wangi yang keluar dari kuah pucung terasa membangkitkan selera. Kenikmatan tersebut semakin lengkap dengan adanya lalapan selada dan kol serta sambal agak manis yang disediakan gratis.

Kalau Bondan Winarno selalu berkata maknyuus seusai menikmati suatu sajian, maka saya pun tidak mau kalah dengan Bondan dengan mengatakan bahwa sayur gabus pucung di Warung Besan ini sangat luar biasa dan layak dicoba (semoga pemilik Warung Besan membaca postingan ini dan memberikan porsi gratis sayur gabus pucung … halah). Selain dapat kemewahan menikmati ikan gabus yang sudah jarang dengan harga yang relatif tidak mahal, saya juga bisa mencicipi makanan kuno orang-orang Betawi dan Bekasi (sebagian orang Bekasi yang keturunan Betawi juga mengakui sayur gabus pucung sebagai makanan khasnya).

Mudah-mudahan ke depannya banyak orang yang bisa menternakkan ikan gabus sehingga menu sayur gabus pucung tidak punah. Semoga pula anggapan bahwa sayur gabus pucung hanya masakan untuk para boss (karena langkanya) dapat berubah menjadi makanan masyarakat pada umumnya seperti halnya pecak lele yang dapat dengan mudah didapat di berbagai tempat, bahkan hingga di warung tenda.

4.3.10

Menikmati Pho di Sudut Ho Chi Minh City

Pada awal Maret 2010 lalu saya menghadiri salah satu pertemuan ASEAN di Ho Chi Minh City (HCMC). Di sela-sela pertemuan, saya berkesempatan mencoba masakan khas Vietnam yang disebut Pho yaitu sup mi yang dihidangkan dengan irisan daging (pho bo) atau ayam (pho ga).

Dari sekian banyak restoran di HCMC yang menghindangkan Pho, salah satu yang terkenal adalah Restoran Pho 2000 yang terletak di pusat kota. Letak restoran ini sangat strategis di pusat keramaian dan di depan Ben Thanh Market (pasar terbesar di HCMC). Dengan letaknyan yang strategis dan rasa sup mienya yang khas, tidak mengherankan jika restoran ini menjadi pilihan banyak orang, termasu Presiden AS Bill Clinton ketika berkunjung ke Viet Nam pada tahun 2000.


Dalam kunjungannya ke HCMC, Bill Clinton menyempatkan diri untuk mencicipi Pho. Kesempatan ini tentu saja dimanfaatkan dengan baik oleh si pemiliki restoran dan karyawannya untuk berfoto bersama. Kini foto-foto kunjungan Bill Clinton dipajang di dinding restoran dan untuk mengenang kunjungan Clinton tersebut, maka restoran ini pun dilengkapi namanya menjadi Restaurant Pho 2000 – Pho for President.

Seperti halnya sup mie pada umumnya, Pho disajikan hangat dalam mangkuk dengan mie khusus yang terbuat dari tepung beras dilengkapi irisan tipis daging atau ayam, toge, dan daun vermicelli. Rasanya mantab dan kesegaran kuahnya menjadikan badan terasa hangat. Jika kurang pedas, kita pun masih bisa menambahkannya dengan bubuk cabe kering atau irisan cabe merah.

6.12.09

Bubur Ayam 3 in 1

Sebagai penggemar bubur ayam, jika ada kesempatan pantang rasanya melewati sajian tersebut. Apalagi jika sajian bubur ayamnya berbeda dari umumnya yang ditemukan. Kali ini kesempatan untuk mencicipi sajian bubur ayam dengan rasa beda datang saat menghadiri peluncuran buku "Intelijen Bertawaf Teroris Malaysia dalam Kupasan" karya Marsekal Muda (purn) Prayitno Ramelan di Apartemen Essence (5/11/09). Bubur yang disajikan adalah bubur ayam Betawi yang sepertinya sudah jarang ditemui.


Secara umum tidak banyak perbedaan menyangkut bahan dasar bubur nasi atau yang lebih populer dengan sebutan bubur ayam. Sesuai namanya, bahan dasar bubur tentu saja beras yang dimasak dengan banyak air sehingga menjadi bubur yang lembut. Yang membedakan adalah asesoris yang menyertainya.

Bubur Manado misalnya, asesorisnya adalah sayur-sayuran dan ikan asin yang dicampur jadi satu. Sedangkan asesoris bubur ayam Cirebon adalah kacang kedelai, potongan cakwe, kecap, emping/kerupuk dan tentu saja suwiran daging ayam. Adapun asesoris bubur ayam dari daerah Jawa Tengah agak sedikit berbeda, yaitu kacang kedela, kecap, kerupuk/emping, suwiran ayam plus bumbu kuning.

Nah pada bubur ayam Betawi ada penambahan dalam hal asesori yaitu adanya toge segar, potongan sawi yang dibuat seperti asinan, emping dan kerupuk beras serta bumbu saus kacang seperti yang lazim kita temui pada hidangan nasi uduk. Suwiran daging ayam diganti dengan potongan daging yang telah dioseng-oseng terlebih dahulu sehingga mirip abon.

Ketika bubur nasi dan bumbu kacang berbaur dengan beragam asesoris, terasa perpaduan kenikmatan 3 sajian makanan dalam satu mangkuk alias 3 in 1. Saat menyantap bubur, kita seolah menyantap nasi uduk dan asinan Bogor sekaligus. Rasa nasi uduk tentu saja berasal dari saus kacangnya sementara kenikmatan asinan Bogor berasal dari toge dan sawi yang dipotong kecil-kecil. Emping dan kerupuk merah semakin melengkapi kenikmatan menyantap bubur ayam … kriuk kriuk. Benar-benar maknyus pokoknya.

Selain maknyus, munculnya cita rasa 3 in 1 inilah yang membedakan bubur Betawi dengan bubur dari daerah lain. Hal ini tentu saja bagus untuk memperkaya ragam kuliner di tanah air. Masyarakat pun bisa mengenal dan mencoba beragam bubur ayam tersebut dengan kekhasannya masing-masing. Ya seperti kita mengenal beragam soto: ada soto ayam Pekalongan, Bandung, Surabaya, Banjar, Makassar dan sebagainya.

11.4.08

Kopi Luwak 100 Dollar

Meskipun minum kopi, sesungguhnya saya bukanlah penggemar berat kopi. Di kantor, ketika rekan-rekan kerja lebih banyak memilih kopi sebagai minuman pembuka di pagi hari atau di siang hari (katanya agar tidak mengantuk setelah makan siang), saya justru lebih memilih teh atau air putih. Saya baru ngopi ketika kongkow sejenak menjelang sore di warung kopi belakang kantor, itu pun hanya sesekali dan hanya memesan kopi standar atau cafucino. Pernah suatu ketika mencicipi kopi Irlandia, bukannya kenikmatan yang dirasakan, malah kepala menjadi pusing. Gimana enggak pusing, wong kopi kok dicampur wiski.

Karenanya tidak mengherankan jika saya tidak terlalu bisa membedakan antara satu jenis kopi dengan kopi lainnya. Saya agak heran juga ketika melihat dan mendengarkan berita di CNN bahwa Peter Jones Departement Store di London menjual kopi seharga 50 pound atau hampir US$ 100 per 100 gramnya. Meskipun mahal, tetap saja banyak yang membelinya. Tentu saja hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai keistimewaan kopi tersebut dan kenapa mahal?.

Menurut si pembaca berita, kopi buatan De Longhi dan dinamakan Caffe Raro ini merupakan perpaduan kopi Jamaican Blue Mountain dan Kopi Luwak. Ditambahkannya pula bahwa keistimewaan tersebut didapat karena kopi luwak berasal dari biji kopi yang diolah secara alami melalui pencernaan binatang yang disebut luwak (sejenis musang) yang berasal dari Indonesia. Konon kopi yang dicerna luwak ini memiliki kenikmatan luar biasa.

Tentang alasan kenapa Caffe Raro dijual mahal, si penjual berujar bahwa penyebabnya adalah keterbatasan bahan baku, produksi biji kopi hasil pencernaan terbatas, hanya 260 kg per tahun, sementara peminat kopi luwak besar. Selanjutnya untuk meyakinkan bahwa luwak memakan biji kopi, maka di toko tersebut diperlihatkan luwak hidup di dalam kandang.

Sebagai bukan penggemar kopi, saya cuma manggut-manggut saja. Tidak ada cukup alasan bagi saya untuk cepat-cepat memburu Caffe Raro. Bagi saya, kopi yang enak adalah kopi yang harum, tidak pahit, murah dan ada yang membuatkan. Saat ngopi, cukup secangkir saja, dan akan lebih nikmat jika ditemani penganan.

Versi tertulis berita CNN ada disini, foto dari sini.


19.2.07

Tempe dan sikap percaya

Cerita tentang tempe sepertinya merupakan cerita yang tidak ada habisnya, setidaknya bagi saya. ”Enggak ada kartu matinye” kata orang Betawi. Nah kalau dalam postingan terdahulu saya telah membahas mengenai diplomasi tempe dan cara membuat tempe, kali ini saya akan bercerita mengenai penjualan tempe di tempat saya tinggal sekarang ini.

Berbeda dengan tempe di tanah air, yang dapat dengan mudah ditemukan di pasar, super market, warung-warung ataupun pedagang keliling, di Brussel tempe hanya dapat ditemukan di salah satu toko Asia yang terdapat di kawasan Centrum. Itu pun persediaannya sangat terbatas, sehingga seringkali orang yang membeli tidak kebagian tempe. Konon tempe yang dijual di toko ini dibuat oleh orang Belgia asal Indonesia. Namun karena dibuat sendiri dan juga karena keterbatasan tenaga, maka penyediaan tempe untuk dijual di toko ini pun tidak bisa terlalu banyak.

Beruntunglah bagi orang Indonesia, terutama yang bekerja di Kedutaan, karena selain bisa membeli tempe di toko Asia, ternyata tempe bisa diperoleh pula di kantornya. Menurut rekan saya, secara berkala ada penjual yang memasok tempe ke kantor kedutaan. Uniknya, penjualan tempe di kedutaan tidak seperti penjualan pada umumnya, dimana penjual menunggui barang jualannya dan si pembeli membayar langsung kepada si penjual. Di kedutaan, si penjual cukup menaruh tempenya di dalam refrigator kantor dan meletakkan selembar kertas tanpa pesan apapun (mungkin maksudnya agar si pembeli mencatatnya secara sukarela mengenai jumlah tempe yang dibelinya). Yang ada hanya pesan lisan, itu pun disampaikan dari mulut ke mulut, “mohon pembayaran agar disampaikan kepada mbak Muji dengan harga 1,60 euro per tempe” Setelah itu si penjual pergi dan kembali lagi seminggu atau dua minggu lagi untuk mengambil uang tempe dari mbak Muji.

O ya mbak Muji ini adalah pegawai kedutaan yang menangani urusan dapur. Dan dalam urusan tempe ini, tampaknya ia diamanatkan sebagai tenaga “pemasaran” yang memberitahukan staf kedutaan bahwa ada tempe baru di refrigerator dan menerima pembayaran dari pembeli. Ia tidak nongkrong seharian di dapur atau di depan refrigerator untuk mengawasi siapa-siapa yang mengambil tempe. Ia pun tidak perlu repot-repot menagih pembayaran tempe, karena si pembeli tempe secara suka rela akan menemuinya untuk memberikan pembayaran.

Awalnya saya cukup heran juga dengan cara penjualan semacam itu. Keheranan saya sebetulnya lebih didorong oleh sikap si penjual tempe yang tidak merasa khawatir bahwa tempenya akan diambil begitu saja oleh orang-orang yang ada di kedutaan. Kekhawatiran ini beralasan dengan mengingat bahwa kedutaan di Brussel termasuk besar dan memiliki banyak staf, sehingga bisa saja terdapat kemungkinan adanya orang yang “nakal” dengan mengambil tempe 4 buah tempe tapi hanya membayar 2 kepada mbak Muji (ingat masa-masa sekolah dulu pas jajan di kantin, makan tempe/tahu goreng tiga, ngaku dua, eh … bayarnya satu hehehe) atau karena kesibukan, kemudian lupa membayar tempe yang diambilnya.

Ketika suatu saat berkesempatan bertemu dengan penjualnya, seorang ibu, keheranan tersebut saya ungkapkan. Jawaban si ibu sederhana saja, “ya gak apa-apa toch mas kalau ada yang mau berbuat curang atau lupa mbayar, nanti kalau dapat rejeki kan pasti mbayar. Kalau pun lupa mbayar, gusti Allah kan melihatnya”. Iya tapi ibu kan bisa rugi kalau tempenya diambil tapi enggak dibayar dengan benar? timpal saya. “ach gak perlu khawatir mas, rejeki mah enggak kemana, masa cuma gara-gara tempe aja terus ngebohong” begitu ujar si ibu.

Dari jawaban-jawaban si ibu itu, saya menangkap kesan bahwa ia percaya bahwa pembelinya akan membayar penuh. Dan dia juga yakin bahwa setiap perbuatan curang akan dilihat dan dicatat oleh Allah S.W.T serta akan memperoleh ganjaran yang setimpal. Dari jawaban ibu ini saya juga jadi teringat cerita-cerita jaman Rasullulah dahulu, yang salah satunya menceritakan mengenai pedagang-pedagang di Mekkah yang bergegas meninggalkan barang dagangannya ketika waktu sholat jum’at tiba dan tidak tidak khawatir barang dagangannya diambil orang. Tapi di era dewasa ini, yang katanya berada di era global, apakah sikap seperti si ibu itu masih relevan, khususnya dikaitkan dengan jual beli berskala besar?

Catatan:
- tempe pada foto merupakan buatan sendiri, bukan tempe yang dijual oleh si ibu.
- cerita ini diambil dari blog saya lainnya setelah diedit disana-sini.

UPDATE (02/05/08): Links terkait tulisan saya mengenai tempe

- Diplomasi tempe

- Cara membuat tempe


7.1.07

Teh

Seperti biasanya, tugas rutin akhir pekan saya adalah menemani istri berbelanja untuk keperluan seminggu. Seperti biasanya pula, kesempatan tersebut dipergunakan untuk melihat-lihat berbagai macam produk yang dipajang di rak-rak besar yang berjejer rapih, sesuai dengan jenis produknya. Akhirnya pada suatu lorong yang memuat berbagai produk minuman, saya menjumpai satu rak khusus yang menjual berbagai macam teh. Sebagai salah seorang menggemari minuman teh, saya terkesan melihat begitu beragamnya pilihan teh yang berderet di rak. Meski bahan dasarnya sama, yaitu teh, kita bisa memilih green tea, golden tea, pearl tea, lemon tea, mango tea, alps tea, mint tea, Morocco tea, Tahiti tea, Chinese tea, Japanese tea, dan beragam nama lainnya yang akan menjadi sangat panjang jika disebutkan satu per satu.

Teh-teh tersebut dikemas dengan sangat rapih dan menarik tersebut, serta disiapkan sebagai teh instant yang dapat langsung diseduh tanpa harus melalui proses pembuatan yang rumit. Kita cukup menyediakan secangkir air panas dan mencelupkan teh yang terdapat dalam sachet, tambahkan gula jika ingin menikmati teh manis, lalu aduk-aduk. Setelah itu, teh siap disajikan, atau jika untuk diminum sendiri, kita dapat langsung menyeruputnya dari cangkir saat masih hangat.

Banyaknya variasi teh dan kemudahan yang ditawarkan dalam penyajiannya, menjadikan teh sebagai suatu jenis minuman yang tetap digemari. Bahkan bagi para penggemarnya, teh telah menjadi semacam minuman yang harus selalu ada. Sarapan pagi akan serasa lebih nikmat jika dibarengi dengan menyeruput secangkir teh hangat. Nikmat sekali rasanya dan perut langsung terasa hangat.

Kini, kebiasaan minum teh tidak lagi sekedar dilakukan di rumah, tetapi telah memasuki wilayah yang lebih luas yaitu perkantoran. Di Indonesia, saya sering menjumpai kantor-kantor yang menyediakan minuman teh bagi para stafnya. Di tempat saya saja, selain air putih, disediakan pula teh hangat siap saji didalam termos besar yang diperuntukkan bagi para staf yang sewaktu-waktu ingin minum teh. Selain para staf, tamu-tamu kantor pun pasti akan ditawari minuman teh atau kopi.

Rekan saya yang bekerja di perusahaan asing, bilang bahwa saya beruntung karena memiliki pilihan untuk minum teh atau kopi di kantor setiap harinya secara gratis. Menurutnya, ditempatnya bekerja, jika ia ingin minum teh atau kopi harus membayar, dengan memasukkan sejumlah mata uang logam kedalam mesin yang disediakan. Kalau tidak ingin membayar setiap kali hendak minum teh, maka ia harus membawa teh instan sendiri dari rumah. Rekan saya tersebut juga menambahkan mengenai alasan kantornya yang tidak menyediakan fasilitas tersebut, karena pengadaannya memang tidak dimasukkan dalam anggaran.

Cerita rekan saya tersebut ada benarnya, karena setiap kali menghadiri pertemuan di kantor tempat mitra saya bekerja, tidak ada minuman teh atau kopi yang ditawarkan. Paling top yang ditawarkan adalah air putih, itupun dituangkan kedalam gelas plastik. Saya tidak yakin kalau kantor tempat mitra saya bekerja tersebut tidak memiliki anggaran. Anggarannya ada, hanya saja mungkin telah disatukan dalam bentuk gaji yang diterima masing-masing staf. Hal itu yang mungkin lupa disebutkan rekan saya mengenai alasan tidak disediakannya minuman teh atau kopi dikantornya.

10.11.06

Cara Membuat Tempe

Dalam tulisan terdahulu mengenai diplomasi tempe, saya menyebutkan bahwa salah satu alasan untuk membuat tempe sendiri adalah untuk mengurangi ketergantungan kepada penjual tempe. Mengurangi ketergantungan terhadap penjual tempe menjadi hal penting, jika kita sebagai penggemar tempe kebetulan berada jauh dari tanah air dan di kawasan tempat tinggal kita tersebut tidak ada yang menjual tempe.

Alasan saya tersebut ternyata banyak didukung teman-teman dan bahkan banyak pula yang menanyakan langsung atau melalui email bagaimana cara membuat tempe. Terus terang saya merasa senang atas tanggapan dan pertanyaan teman-teman saya tersebut (maaf bukan bermaksud Ge Er lho). Tapi disisi lain juga saya sedih karena kemampuan saya untuk membuat tempe ternyata masih sebatas teori.

Karenanya ketika menjawab pertanyaan, jawabannya pun masih sebatas teori (ach teori mulu ... kata seorang teman yang biasa nyeletuk). Tapi untuk tidak terlalu mengecewakan teman-teman dan juga anda yang sengaja atau barangkali tidak sengaja membaca tulisan ini, saya mencoba menelusuri berbagai situs di internet yang menjelaskan cara membuat tempe.

Akhirnya ketemu satu situs milik mbak Sylvie Gill, seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Mandalay, Myanmar. Jangan salah, meski pun tinggal di Myanmar, tapi beliau bukan orang Myanmar melainkan orang Indonesia yang tampaknya mengikuti tugas suaminya (kalau melihat nama keluarganya, nampaknya bukan orang Indonesia) di Myanmar. Situs mbak Sylvie ini menurut saya sangat menarik karena menjelaskan cara pembuatan tempe dengan mudah dan dilengkapi dengan gambar-gambar serta perlengkapan yang dibutuhkan.

Berikut resep membuat tempe yang dikutip dari situs mbak Sylvie. Selamat mempraktekan dan saya doakan semoga berhasil. Jangan lupa, kalau sudah bisa membuat tempe, ajak saya untuk mencicipinya atau kirimkan ke rumah saya (he .. he .. he) :

1. siapkan kacang kedelai sebanyak 1 kg dan ragi tempe sebanyak 2 gram.

2. cuci bersih kacang kedelai dan rendam selama 24 jam.

3. setelah direndam selama 24 jam, kacang kedelai mekar. Mulailah meremas-remas kacang kedelai agar kulit arinya lepas.

4. Setelah bersih, tuangkan kacang kedelai ke dalam panci dan beri air secukupnya. Rebus kacang kedelai selama kurang lebih 30 menit. Selama kacang kedelai direbus akan muncul buih putih seperti gambar diatas ini.

5. Setelah direbus selama 30 menit, buang air yang tersisa di dalam panci. Kemudian, taruh kembali panci yang tinggal berisikan kacang kedelai diatas kompor. Aduk-aduk, jangan sampai hangus. Proses ini dilakukan untuk mengeringkan kacang kedelai. Jangan terlalu lama - karena kacang mudah hangus.

6. Tuang kacang kedelai ke wadah yang memudahkan kacang kedelai menjadi dingin.

7. Setelah dingin, taburkan ragi tempe sebanyak 2 gram dan aduk rata (bagi anda yang tinggal di Eropa, ragi tempe bisa didapatkan disini).

8. Siapkan plastik dengan ukuran sesuai selera. Masukkan kacang kedelai ke dalam plastik hingga ketebalan kira-kira 2-3 cm.

9. Tutup plastik (bisa dengan menggunakan lilin).

10. Kemudian lubangi plastik yang telah berisi kacang kedelai dengan menggunakan pisau (atau garpu) kira-kira 8 lubang untuk setiap sisi atas dan sisi bawah.

11. Simpan tempe didalam lemari. Alas yang dipakai untuk menyimpan adalah rak lemari es yang diganjal bagian bawahnya, sehingga ada sirkulasi udara. Diamkan selama kurang lebih 36 jam.

Perhatian : Menurut pengalaman seorang teman, untuk yang merantau di negara yang mengalami suhu dingin, tempe kadang dibalut dengan handuk, agar lebih hangat sebelum dimasukan ke dalam lemari.

12. setelah 36 jam, tempe siap diolah


UPDATE (02/05/08): Links terkait tulisan saya lainnya mengenai tempe

- Tempe dan sikap percaya

4.10.06

Diplomasi Tempe

Baca KoKi di Kompas tanggal 3 Oktober 2006 jadi teringat keinginan untuk belajar membuat tempe sendiri. Alasan untuk membuat tempe sendiri cukup sederhana, dengan bisa membuat sendiri kita tidak terlalu tergantung kepada penjual tempe. Hal ini cukup penting bagi seorang penggemar tempe seperti saya yang kebetulan tinggal jauh dari tanah air. Kalau pas tinggal di suatu negara yang masyarakat Indonesianya cukup banyak, maka supply tempe tidak menjadi masalah karena biasanya ada saja satu dua orang Indonesia yang memiliki keahlian memproduksi tempe dan menjualnya. Berbeda jika tinggal di suatu negara yang jumlah masyarakat Indonesianya sedikit, bisa jadi tempe akan menjadi makanan mewah karena sulit diperoleh.

Sebenarnya secara teori membuat tempe itu tidak terlalu sulit. Cukup sediakan kacang kedelai dan ragi tempe, maka kita akan bisa membuat tempe. Hanya saja dalam prakteknya mungkin tidak semudah yang dibayangkan. Sama seperti membuat makanan lainnya, diperlukan kesabaran dan praktik pembuatan secara terus menerus. Dengan kesabaran dan praktek secara terus menerus, diharapkan akan diperoleh cara pengolahan dan pembuatan yang pas dan menghasilkan suatu adonan tempe yang memiliki rasa yang nikmat, tidak pahit dan dapat bertahan lama.

Sejarah pembuatan tempe sendiri sebenarnya tidak terlalu jelas. Dalam Wikipedia disebutkan bahwa rujukan pertama mengenai tempe ditemukan pada tahun 1875 dalam sebuah kamus bahasa Jawa-Belanda. Diperkirakan pembuatan tempe bisa jadi dimulai pada masa era tanam paksa di Jawa, dimana pada saat itu masyarakat Jawa terpaksa menggunakan hasil pekarangan seperti singkong ubi dan kedelai, sebagai sumber pangan. Pendapat lain yang ditulis di Wikipedia adalah tempe kemungkinan diperkenalkan oleh orang-orang Tionghoa yang memproduksi makanan sejenis yang disebut koji, kedelai yang difermentasikan menggunakan kapang Aspergillus. Dari Jawa, tempe kemudian menyebar ke seluruh penjuru tanah air, bahkan kini telah mendunia dan dibuat di banyak negara seperti Jepang, Eropa, Amerika Serikat, Kanada, Australia dan berbagai negara lainnya.

Tempe sekarang tidak lagi dipandang sebagai makanan kampungan dan diperuntukan bagi kelas rendahan. Menurut penelitian, tempe memiliki kandungan gizi tinggi, kaya akan serat, kalsium, vitamin B dan zat besi, selain itu tempe mempunyai nilai obat, seperti antibiotika yang bisa untuk menyembuhkan infeksi dan antioksidan pencegah penyakit degeneratif. Dengan kondisi seperti tersebut, tidak mengherankan jika tempe naik kelas dan dipandang sebagai makanan pengganti daging. Lebih lanjut bahkan beberapa negara maju telah mempatenkan tempe dengan beragam varian. Hal tersebut lalu memunculkan kekhawatiran bahwa tempe akan menjadi komoditi yang dapat dimonopoli pemegang lisensi.

Dengan naiknya derajat tempe, sebenarnya sudah saatnya kita tidak memandang remeh tempe sebagai makanan rendahan dan kelas murahan. Kita juga bisa mulai merubah istilah ”mental tempe” dari sesuatu yang lemah dan murahan, menjadi suatu semangat tinggi dan berkelas seperti kandungan gizi yang terdapat pada tempe. Mental tempe juga dapat diartikan sebagai suatu mental yang bermanfaat bagi sekeliling dan berguna dalam berbagai kesempatan. Seperti halnya tempe yang bisa berperan menerobos kelas atas produk makanan dunia, jika kreatif dan tidak segan-segan mencari terobosan-terobosan baru yang membuat tempe bergengsi, maka kita pun bisa merangsek ke atas melalui diplomasi tempe.

Diplomasi tempe adalah kegiatan diplomasi yang memanfaatkan tempe sebagai soft power untuk memberikan tekanan kepada pihak lain, tanpa menggunakan kekerasan. Tujuannya, kalau memungkinkan, menjadikan tempe sebagai bagian dari gaya hidup masyarakat yang dijadikan sasaran. Sehingga bisa saja bunyi iklan teh di Indonesia diadaptasi sehingga menjadi ”apapun minumannya, makanannya tempe”. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah menjadikan tempe sebagai menu utama dalam kegiatan-kegiatan resmi seperti resepsi kenegaraan, resepsi diplomatik, atau berbagai kegiatan lainnya baik resmi maupun tidak resmi, lingkup nasional, regional ataupun internasional. Tentu saja langkah-langkah seperti itu akan berhasil jika disertai dengan pengolahan tempe secara kreatif dan variatif dan penyajiannya dilakukan secara menarik pula. Apalagi jika kemudian dikaitkan dengan isu-isu global dewasa ini seperti isu lingkungan hidup dengan mengusung tema antara lain "tempe ramah lingkungan tidak mengandung kolesterol". Melalui hal-hal seperti itu, saya yakin tempe bisa tampil ke pentas dunia seperti halnya burger, hotdog, spagheti, pizza dan lain sebagainya.

Mungkin kita bisa membayangkan bagaimana serunya jika warung tegal (warteg) mas Slamet, yang menu utamanya berupa macam-macam hidangan tempe seperti tempe bacem, tempe oncom, keripik tempe, tempe bayam dan sebagainya, berdiri tegak disamping McDonald atau Pizza HUT di kawasan pertokoan Avenue Louis, Brussel. Jika di McDonald ada burger dan minuman coca cola, maka di warteg mas Slamet ada nasih putih plus tempe oncom dan keripik tempe serta minuman teh nasgitel (panas, legit dan kentel), yang teh beserta pocinya diimpor langsung dari Indonesia. Kebayang kan berapa peningkatan nilai ekspor perdagangan kita yang berasal dari menu itu saja. Belum lagi jumlah tenaga kerja Indonesia yang didatangkan dari Tegal oleh mas Slamet untuk membantu wartegnya di Avenue Louis dan beberapa tempat lainnya.

Imajinasi semacam itu bisa dikembangkan lebih seru lagi, kita bisa membayangkan bahwa tempe dijadikan hidangan utama dalam setiap kegiatan atau pertemuan di markas PBB ataupun Uni Eropa. Sehingga setiap menyantap hidangan tempe, para staf dan pejabat di markas organisasi internasional tersebut akan teringat akan Indonesia sebagai country of origin tempe. Sehingga seandainya PBB tadinya merencanakan akan mengeluarkan resolusi yang melarang pengembangan tempe di Indonesia (misalnya karena desakan Amerika Serikat yang memandang tempe berbahaya bagi kepentingannya, seperti halnya isu nuklir Iran), dengan sendirinya rancangan resolusi tersebut dapat segera dibatalkan. Selain sangat tidak efektif, ternyata tempe itu enak dibacem dan perlu.

Dalam lingkup yang jauh lebih kecil, tempe sebagai instrumen diplomasi juga cukup untuk efektif dalam penerapannya. Hal ini pernah saya lakukan terhadap tetangga seapartemen yang pada awal-awal tinggal disana bersikap kurang simpatik. Namun setelah menerima kiriman sepiring tempe goreng mendoan disertai penyampaian keterangan cara menyantapnya, sikap tetangga tersebut menjadi lebih baik. Bahkan tidak jarang menegur terlebih dahulu jika kebetulan berpapasan. Tetangga yang lain lagi, ketika dikirimi semangkuk bubur ayam dan beberapa potong tempe goreng, malah memberikan taplak meja makan sebagai tanda terima kasih.

Berdasarkan alasan antara lain seperti tersebut di atas dan mengurangi ketergantungan pada penjual tempe, niat untuk belajar membuat tempe sendiri tampaknya perlu segera direalisir. Selain itu, saya juga sependapat dengan perkataan mantan Menteri dan Ketua Bappenas Kabinet Gotong Royong, Kwik Kian Gie: "tempe itu makanan enak, sehat, dan bergizi. Isinya kedelai yang sekarang harganya mahal. Maka what is wrong being tempe anyway...? ".

UPDATE (02/05/08): Links tulisan saya lainnya mengenai tempe

- Cara membuat tempe

- Tempe dan sikap percaya