Showing posts with label islam. Show all posts
Showing posts with label islam. Show all posts

17.11.10

Mari Belajar (lagi) Berkurban dari Yuk Timah

Hari ini bertepatan dengan tanggal 10 Dzulhijah 1431 H (Rabu, 17 November 2010) sebagian besar umat Islam di Indonesia merayakan hari raya Iedul Adha atau yang biasa dikenal sebagai hari raya kurban atau hari raya haji. Kenapa saya katakan sebagian besar? Karena sebagian lainnya sudah merayakan dan melaksanakan sholat Iedul Adha sehari lebih cepat (Selasa, 16 November 2010).

Tidak ada yang salah dengan perbedaan penetapan waktu Iedul Adha. Bahwa hampir setiap tahun umat Islam di Indonesia dihadapkan pada perbedaan penentuan hari raya Iedul Adha juga bukanlah masalah yang mesti diributkan. Saya yakin masing-masing pihak telah berijtihad dengan mendasarkan pada perhitungan dan dalil-dalil yang kuat.

Hal lain yang juga menarik setiap menjelang hari raya kurban adalah munculnya sejumlah pertanyaan terkait perlunya menyembelih hewan kurban setiap tahunnya? Ada seorang rekan saya bertanya di sebuah milis, kalau misalnya saya seorang pedagang yang sedang memiliki hutang, apakah saya mesti terlebih dahulu membeli hewan kurban untuk kemudian disembelih dan dibagikan ke masyarakat yang tidak mampu atau saya mesti membayar hutang-hutang saya?

Untuk menjawab pertanyaan semacam itu, sebagian besar ulama berpandangan bahwa berkurban merupakan salah satu perintah Allah SWT kepada hambanya yang mampu untuk berkurban dan hukumnya sunnah yang sangat ditekankan dan makruh ditinggalkan bagi yang mampu melaksanakannya. Pelaksanaannya pun tidk sembarang waktu, melainkan telah ditetapkan yaitu sesudah dilaksanakannya Sholat Iedul Adha. Hal ini sesuai dengan hadist Nabi yang berbunyi “Barang siapa yang menyembelih hewan kurbannya sebelum dia (Imam) melakukan shalat atau sebelum kami melakukan shalat maka hendaknya dia menyembelih sembelihan lain sebagai gantinya, dan barang siapa yang belum menyembelih maka hendaknya dia menyembelih dengan membaca ‘bismillah’”. (HR. Muslim).

Jikapendapat ulama sudah cukup jelas, maka semestinya tidak ada alasan lagi untuk bersikap ragu dalam memaknai ibadah kurban. Mengutip pernyataan
Prof. Dr. Thaufic Boesoire, seorang Guru Besar pada Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran, “ibadah kurban tidak hanya mengingatkan perlunya berkorban harta, waktu, dan pikiran saja, akan tetapi juga mengurangi rasa egoisme yang tega mengorbankan orang lain, serta berkorban untuk menahan diri dari sikap menghalalkan segala cara untuk mencapai sutau tujuan, yang secara sadar maupun tidak sadar, telah menjadi kebiasaan sebagian masyarakat kita”.

Jadi tunggu apa lagi, tidak ada alasan bagi yang mampu untuk tidak berkurban. Jika masih ragu, maka kita masih perlu bercermin pada seorang Yuk Timah yang mampu mendengar, mengerti, menghayati, lalu menginternalisasi ajaran kurban yang ditinggalkan Nabi Ibrahim dengan caranya sendiri. Meski miskin dan tidak diwajibkan untuk berkurban, Yuk Timah dengan tekun menyisihkan sebagian pendapatan yang diperolehnya setiap hari sebagai seorang buruh cuci. Ketika uang yang dikumpulkannya sudah mencukupi, Yuk Timah pun langsung menggunakannya untuk membeli hewan kurban.

Jika merasa berat untuk mengeluarkan uang dalam jumlah besar sekaligus, kita bisa meniru cara Yuk Timah. Caranya kita bisa mulai menyisihkan uang setiap harinya, misalnya Rp. 5.000,- (bagi perokok angka ini mungkin setara dengan sebatang rokok). Tempatkan uang tersebut dalam celengan tanah atau kaleng (tidak perlu harus ke Bank karena akan merepotkan). Jauhkan dari godaan untuk mengambil uang tersebut untuk kepentingan konsumtif (biasanya godaan datang saat uang yang dikumpulkan sudah mulai terlihat banyak). Kalau cara ini dilaksanakan dengan penuh kesungguhan dan konsisten, maka dalam setahun (sekitar 355 hari dalam tahun Islam) akan didapatkan uang sebesar 355 X Rp. 5.000,- = Rp. 1.775.000,-. Cukup untuk mendapatkan seekor kambing/domba berukuran super dengan berat hampir 40 kg.

Selamat berhari raya kurban, semoga keikhlasan kita dalam berkurban diterima Allah SWT

16.9.10

Uang Semir Usai Sholat

Dalam bahasa Indonesia setidaknya kita mengenal ada dua cara untuk memaknai kata-kata: secara harfiah atau kiasan. Secara harfiah artinya kita memaknai suatu kata-kata dalam arti yang paling mendasar, misalnya uang diartikan sebagai alat pembayaran. Sementara memaknai kata secara kiasan atau perumpamaan, biasanya digunakan untuk memperhalus penyampaian kata yang sebenarnya, misalnya penggunaan kata “uang semir” untuk menggantikan kata uang sogok yang biasanya diberikan untuk menyogok seseorang agar diperlancar segala urusannya.

Bahwa kata “uang semir” dipilih sebagai kata kiasan pengganti uang sogok atau uang pelicin sesungguhnya tidaklah mengherankan karena fungsi semir sendiri pada hakekatnya adalah untuk mengkilapkan, melicinkan atau membuat suatu benda (biasanya sepatu atau sandal dari kulit) menjadi kinclong. Dengan tingginya praktik korupsi di Indonesia, penggunaan kata “uang semir” sebagai kata kiasan tentu saja jauh lebih populer dibanding pengartian kata secara harfiah. Sedikit sekali orang yang menerapkan kata “uang semir” secara harfiah yaitu menggunakan lembaran uang sebagai alat untuk menyemir (mengkilapkan atau membersihkan sepatu atau sandal dari kulit.

Dari yang sedikit itu, saya berkesempatan langsung menyaksikan seseorang menerapkan kata “uang semir” secara harfiah. Adalah seorang bapak berusia sekitar 50 tahunan (sebut saja bapak X) yang melakukannya di depan masjid Rest Area KM 227 Tol Palikanci pada tanggal 13 September 2010 sekitar pukul 13.45 wib.

Saat itu si bapak X baru saja usai sholat dhuhur dan akan kembali ke kendaraannya. Sambil mengenakan topi hitam berlogo Pemda DKI, bapak X mengeluarkan selembar uang kertas seribu rupiah dari kantungnya. Dengan muka dingin bapak X kemudian menyemir sepatu sandal yang akan dikenakannya menggunakan lembaran uang seribuan tersebut. Ia tidak peduli atau mungkin bersikap masa bodoh jika perbuatannya disaksikan banyak orang yang ada di lingkungan masjid.

Usai menyemir sepatu sandalnya dengan lembaran uang seribu rupiah, si bapak X meremas-remas uang tersebut dan membuangnya ke pengemis dan anak-anak yang berada di pelataran masjid. Lagi-lagi ia bersikap cuek dan tidak peduli bahwa perbuatannya disaksikan banyak orang.

Melihat kejadian tersebut, saya dan banyak orang yang berada di tempat tersebut terus terang hanya bisa bengong. Saya sendiri seolah tidak percaya melihat kejadian tersebut. Bagaimana bisa seorang bapak yang baru saja menyelesaikan sholat dan kemungkinan menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan, dengan entengnya melakukan penghinaan terhadap fungsi uang dan memperlihatkan keangkuhannya di hadapan banyak orang. Kemana sikap rendah hati dan kesabaran yang mestinya didapat dari sholat dan puasa yang dilakukannya?

Boleh jadi si bapak X memang tidak suka dengan kehadiran pengemis dan anak-anak di sekitar Rest Area Toll Palikanci yang meminta-minta uang dari para pemudik yang mampir di tempat tersebut. Tapi apakah harus berlaku demonstratif seperti itu? Saya rasa tidak. Kalau bapak X memang tidak suka dengan keberadaan mereka dan tidak ingin memberikan sumbangan, semestinya lebih baik diam saja. Atau kalau si bapak X kenal dengan pengelola Rest Area, ia bisa memintanya agar pengemis dan anak-anak tersebut tidak berada di pelataran masjid dan memberikan solusinya.

Pikiran saya kemudian melantur jauh membayangkan kelakuan si bapak X seandainya ia adalah pejabat Pemda DKI (asumsi ini didasarkan pada topi berlogo Pemda DKI yang dikenakannya). Perilaku macam apa yang akan dilakukannya terhadap anak buah atau masyarakat?. Saya bayangkan si bapak X akan mengedepankan sikap angkuhnya dan berkeinginan untuk selalu dilayani dan diberi uang semir. Kalau di Pemda DKI banyak orang yang berkelakuan seperti bapak X, tidak mengherankan jika banyak urusan yang menyangkut urusan masyarakat tidak pernah tuntas penyelesaiannya, misalnya masalah kemacetan. Jangan heran jika urusan kemacetan di Jakarta yang mestinya menjadi tanggungjawab Pemda justru diambil alih Pemerintah Pusat.

9.9.10

Mohon Maaf Lahir dan Bathin Yaa ...

Kepada semua pengunjung blog ini dengan segala kerendahan hati saya menghaturkan: SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1413 H, MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN, Taqoobbalallahu minna wa minkum Taqobbal yaa Kariim …

30.8.10

Indahnya Berbuka Puasa Bersama Blogger Bekasi

Sebagai bagian dari rangkaian acara ulang tahun pertama Komunitas Blogger Bekasi (Be-Blog), pada tanggal 29 Agustus 2010 diselenggarakan acara berbuka puasa bersama bertempat di Dusun 1 Desa Jatimulya Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi.

Acara buka puasa bersama yang diselenggarakan Be-Blog ini terkesan istimewa karena tidak hanya dihadiri para blogger atau onliner lainnya, seperti yang umumnya dilakukan komunitas blogger, tetapi juga dilakukan bersama-sama dengan anak-anak yatim dan dhuafa rumah baca Mutiara Mandiri pimpinan Pak Toni. Tempat berbuka puasa pun bukan di rumah makan, tetapi kantor Rukun Warga (RW) dan jalanan menuju Desa Jatimulya.

Dipilihnya rumah baca Mutira Mandiri sendiri tidak terlepas dari kegiatan yang dilaksanakan rumah baca tersebut dalam ikut serta membantu mencerdaskan anak bangsa, khususnya anak yatim dan dhuafa, melalui pemberian pendidikan tambahan dan penyampaian informasi secara sukarela kepada sekitar 180-an anak usia TK dan SD.

Atas kesadaran sendiri para pengelola dan “guru” di rumah baca memberikan pendidikan tambahan bagi anak-anak yatim dan dhuafa warga desa Jatimulya. Apa yang mereka jalankan tentu saja sejalan dengan misi Be-Blog yang ingin berbagi pengetahuan dan informasi serta pengalaman yang dimiliki baik online maupun offline. Hal ini juga sejalan dengan ajaran agama Islam yang menyatakan bahwa salah satu amal jariah yang dihitung adalah ilmu yang dibagikan.

Dengan tema “Bergembira dan ceria bersama anak-anak”, kegiatan buka puasa bersama kali ini diisi dengan beragam hiburan seperti kasidahan dan sulap, pembagian buku tulis dan bacaan, santunan kepada anak yatim dan bantuan pendanaan pengelolaan rumah baca.

Sekitar pukul setengah empat sore sebanyak 250-an undangan sudah hadir dan memenuhi tempat yang disediakan. Sesuai tema, maka undangan yang hadir sebagian besar adalah anak-anak usia sekolah taman kanak-kanak dan sekolah dasar. Kehadiran mereka dengan seragam oranye dan kehadiran para ibu anak-anak tersebut pertemuan begitu meriah dan semarak.

Tepat pukul empat acara pun dimulai dengan acara hiburan menjelang berbuka. Bertindak sebagai pembawa acara adalah koordinator kegiatan acara ini dan juga motor gerakan Sejuta Buku Anak Indonesia (SeBUAI) Adyanti Rahmarina dan guru rumah baca Mutiara Mandiri Heri Sugianto.




Acara diawali dengan penampilan kasidah remaja putri majelis taklim RW 01 pimpinan ibu Yani, yang juga “guru” di rumah baca Mutiara Mandiri. Dengan cukup apik dan kompak mereka melantunkan beberapa tembang kasidahan.

Tidak mau ketinggalan dengan remaja putri majelis taklim, anak-anak rumah baca Mutiara Mandiri kemudian menampilkan kebolehannya berpuisi dan melantunkan beberapa buah tembang diiringi Kelompok Pengamen Jalanan (KPJ) Bekasi.


Usai penampilan anak-anak berpuisi dan bernyanyi, acara semakin meriah dengan penampilan sulap dari Mr. Huda yang menampilkan sulap-sulap klasik seperti merubah tongkat menjadi bunga, bola pingpong, tali yang sambung menyambung dan sebagainya. Dengan gaya interaktif, Mr. Huda juga mengajak anak-anak untuk naik dan berani berdiri di atas panggung untuk ikutan bermain sulap.

Dengan beragam acara yang menarik dan meriah, tak terasa waktu menjelang berbuka pun semakin mendekat. Untuk itu acara dilanjutkan dengan pembacaan ayat-ayat suci al-quran dan pembagian buku tulis dan bacaan kepada semua anak-anak anggota taman baca Mutiara Mandiri dan pembagian santunan kepada beberapa anak yatim dan piatu.

Alhamdullilah semua kegiatan buka puasa bersama dan beramal be-Blog bisa terlaksana dengan lancar. Ucapan terima kasih kami haturkan kepada seluruh donator yang telah memberikan sumbangan, baik dana, konsumsi, tenaga maupun doa. Semoga amal ibadahnya diterima Allah SWT dan diberikan pahala yang setimpal.

17.9.09

Idul Fitri Tiba, Mari Memaafkan Lewat SMS

Saat Idul Fitri tiba, apa yang biasanya anda lakukan untuk menyampaikan permohonan maaf kepada orang-orang yang kita kenal namun keberadaan mereka jauh dari kita ? Kirim saja melalui Short Message Service (SMS), lebih praktis dan cepat sampai atau kalau mereka punya account fesbuk kirim saja lewat fesbuk, mudah tinggal ngetag saja begitu kata seorang teman.

Ya ditengah kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, pengiriman permohonan maaf jarak jauh memang dapat lebih mudah dilakukan. Cukup dengan menekan tombol-tombol di telepon genggam, dalam hitungan detik pesan-pesan yang dikirimn dapat diterima saat itu juga dan tepat sasaran.

Beda dengan jaman dulu, dimana orang harus membeli kartu idul fitri terlebih dahulu, menempelkannya dengan perangko dan mengirimkannya lewat kantor pos. Meski kartu pos masih memiliki kelebihan tersendiri, misalnya dapat dijadikan bukti nyata perhatian pengirim dan lebih personal, namun masalah kepraktisan, ketepatan dan juga biaya menjadikan orang lebih suka mengirim SMS Idul Fitri dibanding harus bersusah payah mengirimkannya lewat kantor pos.

Meskipun ada perrgeseran mode pengiriman, akan tetapi kalau kita simak pesan-pesan yang ingin disampaikan maka pada hakekatnya tidak jauh berbeda. Setidaknya sms idul fitri yang dikirim dapat dikelompokan menjadi:

* Permohonan maaf secara langsung, contoh “selamat idul fitri, mohon maaf lahir bathin”.

* Permohonan maaf puitis, contoh:

- “mawar berseri di pagi hari, pancarannya putih menyapa nurai. sms dikirim pengganti diri. selamat idul fitri mohon maaf lahir dan bathin”,

- “kala mata melihat, kala bibir berucap, kala hati bersangka, kadang tersirat khilaf. di hari fitri 1 syawal 1430h ini, mhn maaf lahir & bathin”

- “Rmdhn tlah kta tmpuh,Kta dgr gma tkbr m’ngumndng.Saling m’maafkn dg hti yg lapng.Dg hti yg brsh kta kmbli mjd fitri.Minalaidin wlfaidzin mhn mf lhr btn”.

* Permohonan maaf menggunakan bahasa asing, contoh:

- “Taqobbalallahu minnaa waminkun Taqobbal yaa karim,kullu’amin wa antum fii khoir,Shiyamana wa shiyamakum, minal aidin wal faidzin maaf lahir batin”.

- Faith makes all things possible. Hope makes all things work. Love makes all things beautiful. May you have all of the three. Happy Iedul Fitri.

* Permohonan maaf menggunakan bahasa daerah, contoh:

- “Cangkem iki sering nggedabrus, utek iki sering mikir sing elek. Minal aidzin wal faidzin. Mohon maaf lahir batin”.

* Permohonan maaf kreatif dengan menyinggung produk layanan operator telekomunikasi. Contoh:

- “Walau hati tak sebening xl, tak secerah mentari. fren,aku mohon simpati-mu untuk bebas-kan aku dari sgala dosa.mohon maaf lahir batin ya”.

- “Walopun operator sibuk n’ sms pending terus, Kami sekeluarga tetap kekeuh mengucapkan Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir Dan batin”

- Menjelang Lebaran, Sebelum Sinyal Hilang, Sebelum Operator Sibuk, Sebelum SMS pending mulu, Saya mo ngucapin . Met Idul Fitri, Minal Aidzin Wal Faidzin Mohon Maaf Lahir dan Bathin”

* Permohonan maaf gaya anak muda, contoh:

- “MTV bilang kalo MO minta maap g ush nunggu lebaran. Org bijak blg kerennya kalo mnt maap duluan. Ust. Jefri blg org cakep mnt maap gk prl disuruh. Kyai blg org jujur Ga perlu malu utk minta maap. Jd krn Mrs anak nongkrong yg jujur, keren cakep Dan baek Ya gw ngucapin minal aidzin wal faizin , mohon maaf lahir Dan batin ..”

Selamat menyambut idul fitri, selain persiapan mudik (untuk yang akan mudik), sudahkan anda mempersiapkan sms idul fitri ? kalau boleh tahu kapan anda akan mengirimkan sms idul fitri dan bagaimana bunyi sms anda ?

7.10.08

Usai Mudik

Kehidupan memang melelahkan namun biasanya masih menyisahkan keriangan. Itulah salah satu alasan untuk bersyukur ... (blog Gombal).

Perjalanan darat Jakarta - Pemalang selama 20 jam untuk jarak sekitar 350 km tentu saja sangat melelahkan. Padahal saat di Brussel, dengan waktu tempuh dan mode transportasi yang sama, saya bisa tiba di Barcelona atau Monaco. Itu pun sudah beristirahat sejenak di beberapa tempat dengan nyaman.

Tentu saja terdapat keriangan yang berbeda antara perjalanan wisata Brussel - Barcelona dengan mudik lebaran ke Pemalang. Apalagi ini pertama kalinya kami sekeluarga bertemu kembali dengan orang tua dan mertua, setelah 5 lebaran di perantauan.


Saya bersyukur bahwa perjalanan yang melelahkan telah dilewati. Kelelahan berdesak-desakan
dan berbagi jalan dengan para pemudik lain terbayar dengan silahturahmi dan kehangatan bertemu orang tua, mertua, saudara dan para kerabat lainnya.

Usai Idul Fitri, usai mudik dan kembali ke ibukota, kembali kita menjalani kehidupan sesungguhnya di belantara kehidupan metropolitan dengan segala perniknya. Semoga kita semua dapat mensyukuri segala nikmat yang diberikan.

Untuk itu, sebelum bulan bulan Syawal mencapai akhir, perkenankan kami menghaturkan minal aidzin wal faizin, mohon maaf lahir dan bathin. Terlambat ? enggak apa-apa, better late than never lah masa better late than never dong :)

Bonus: Pulang yang (bukan) sekadar pulang

3.9.08

Doa dan Kiai GR

Alkisah pada suatu hari ada seorang Kiai yang tersesat dalam hutan rimba dan bertemu dengan seekor harimau. Karena ketakutan, sang Kiai berusaha menghindar dari kejaran harimau dengan memanjat sebuah pohon yang tinggi. Malangnya, ternyata sang harimau dapat pula memanjat pohon tersebut dan hampir saja menerkam si Kiai. Untunglah sang Kiai masih bisa meloncat dan segera berlari ke sebuah gua.

Tidak mau kehilangan buruan, harimau pun segera meloncat dan menyusul ke dalam gua. Celaka bagi sang Kiai ternyata gua tersebut buntu, sehingga tidak ada jalan lagi untuk menghindar dari kejaran harimau, yang ternyata sudah berada tepat dihadapannya.

Dalam keadaan ketakutan setengah mati, sang Kiai teringat akan Allah SWT dan cepat-cepat berdoa untuk mengharapkan datangnya mukzizat. Pikirnya, dia kan Kiai pasti doanya akan segera dikabulkan Allah SWT. Maka sambil memejamkan kedua matanya dan menengadahkan kedua tangan, berdoalah sang Kiai dengan khusu’.

Lima menit berlalu, tidak ada tanda-tanda kalau harimau akan menerkam. Begitu pun setelah hampir 10 menit, keadaan masih aman-aman saja. Hingga akhirnya setelah hampir 20 menit berlalu, sang harimau belum juga menerkam, sang Kiai mulai berpikir bahwa mukzizat benar-benar telah datang dan doanya dikabulkan seketika.

Maka dengan memberanikan diri, dibukalah sebelah matanya untuk melihat keadaan. Betapa kagetnya sang Kiai ternyata si harimau masih berada dihadapannya sedang menengadahkan kedua tanganseperti sedang berdoa.

“Alhamdullilah, Allah SWT ternyata mengabulkan doa saya seketika, harimau tidak jadi memangsa saya” begitu gumam sang Kiai. Mendengar gumam sang Kiai, si harimau menjawab “weis… jangan GR dulu …. saya belum memakan Kiai karena sedang memanjatkan doa sebelum makan”

Cerita di atas disampaikan seorang ustad, yang berceramah di masjid kantor saya, saat menjawab pertanyaan berapa lama permohonan dalam doa akan dikabulkan oleh Allah SWT. Disampaikannya bahwa memang dalam Al Qur’an terdapat ayat yang berbunyi “Berdoalah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab doa kalian”. Ayat ini merupakan penegasan Allah SWT dan jaminan bahwa Dia akan mengabulkan doa hamba-hamba-Nya. Namun segera ditambahkannya bahwa tentu saja kita tidak akan mengetahui kapan doa tersebut dikabulkan.

Dijelaskannya bahwa dalam pandangan ayat-ayat Ilahi, doa-doa yang dijamin Allah SWT untuk mengabulkannya adalah doa-doa yang memiliki karakterikstik khusus. Di antaranya, doa itu haruslah diiringi dengan tekad dan usaha atau kerja keras. Selain itu, sebaiknya permintaan utama yang diminta manusia ketika berdoa adalah permohonan akan kebaikan dan hidayah dari Allah SWT. Bila doa dilakukan dalam dua kondisi itu, doa itu akan memberi banyak pengaruh kepada jiwa manusia.

Moral cerita: kalau ingin doa kita dikabulkan, sampaikan permohonan untuk kebaikan dan hidayah dari Allah SWT serta diiringi tekad dan usaha atau kerja keras. Pengabulan doa tidak bersifat instan. Ibarat ingin lulus ujian suatu mata kuliah, tidak bisa dengan hanya membaca materi dalam waktu 1-2 jam saja, melainkan perlu persiapan jauh-jauh hari sebelumnya.

30.8.08

Marhaban Ya Ramadhan

Jika semua harta adalah racun,
maka zakatlah penawarnya
Jika seluruh umur adalah dosa, tobat adalah obatnya
Jika seluruh bulan adalah noda, Ramadhan adalah pemutihnya

Harta yang paling berharga, Sabar
Teman yang paling setia, Amal
Bahasa yang paling manis, Senyum
Ibadah yang paling indah, Ikhlas
Perbuatan yang paling mulia, Memaafkan

Marhaban Ya Ramadhan
Kami sekeluarga mohon maaf lahir dan bathin,
teriring doa dan harapan semoga ibadah puasa kita diterima Allah SWT
dan selalu mendapatkan ridhoNya, Amin.Ya Robbal Alamin

#Terima kasih untuk rekan-rekan yang telah mengirimkan sms berisikan antara lain pesan-pesan tersebut.



10.1.08

Selamat Tahun Baru 1429 H

Thanks utk Ndoro Kakung utk info stripgeneratornya.




19.12.07

Yu Timah dan Hari Raya Kurban

Menjelang Idul Adha 1428H (2007), seorang teman semasa SMA dulu memforwardkan sebuah artikel mengenai Yu Timah dan keinginannya melaksanakan ibadah kurban, meski karena kemiskinannya yang bersangkutan tidak diwajibkan untuk melaksanakan ibadah tersebut. Artikel tersebut tidak menyebutkan siapa penulisnya, namun demikian tulisan tersebut cukup untuk mengingatkan mereka yang mampu untuk berkurban, menyantuni mereka yang bernasib kurang beruntung dan mungkin telah terpinggirkan.

Seorang Yu Timah, yang merupakan bagian dari 39 juta orang miskin di Indonesia, gigih menabung rupiah demi rupiah yang diperolehnya untuk membeli seekor kambing guna dikurbankan pada hari raya. Duitnya tidak dipergunakan untuk membeli barang-barang konsumtif. Yu Timah lebih memilih untuk berkurban dan berbagi suka terhadap mereka yang duka. Sementara kebanyakan orang yang mampu, justru terlalu banyak berpikir dalam berkurban. Bahkan ketika memutuskan untuk berkurban pun, kalau bisa memilih kambing atau sapi yang termurah dan kecil.

Padahal ketika jutaan orang melakukan wukuf di padang Arafah, sambil menyeru “Labbaik Allahuma Labbaik” (Aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah), kita selalu diingatkan kembali untuk mengisi jiwa dengan kesediaan berkurban di sisi Allah, melandasi ibadah yang setiap hari kita kerjakan. Mengutip pesan Prof. Dr. Thaufic Boesoirie, Khotib sholat Idul Adha di KBRI Brussel (18/12), “ibadah kurban tidak hanya mengingatkan perlunya berkorban harta, waktu, dan pikiran saja, akan tetapi juga mengurangi rasa egoisme yang tega mengorbankan orang lain, serta berkorban untuk menahan diri dari sikap menghalalkan segala cara untuk mencapai sutau tujuan, yang secara sadar maupun tidak sadar, telah menjadi kebiasaan sebagian masyarakat kita”.

Aah rasanya kita memang perlu belajar dari orang-orang seperti Yu Timah dalam memaknai arti pengorbanan, memaknai perintah Allah SWT kepada Nabi Ibrahim AS untuk menyembelih putranya Nabi Ismail AS dan tentu saja menterjemahkannya dalam kehidupan keseharian. Dalam menterjemahkannya, kita mungkin tidak harus muluk-muluk. Langkah seperti Bangsari dengan program peminjaman kambing untuk anak-anak sekolah di Bangsari Bantarsari Cilacap misalnya, bisa dijadikan contoh untuk menuntaskan kemiskinan melalui peningkatan pendidikan. Bukankah pengetasan kemiskinan itu merupakan makna utama dari hari raya kurban?

kembali ke Yu Timah, anda pasti bertanya-tanya, siapa sich Yu Timah itu? Tanpa berpanjang kata, berikut saya copy pastekan cerita tentang Yu Timah tersebut:

Ini kisah tentang Yu Timah. Siapakah dia? Yu Timah adalah tetangga kami. Dia salah seorang penerima program Subsidi Langsung Tunai (SLT) yang kini sudah berakhir. Empat kali menerima SLT selama satu tahun jumlah uang yang diterima Yu Timah dari pemerintah sebesar Rp 1,2 juta. Yu Timah adalah penerima SLT yang sebenarnya. Maka rumahnya berlantai tanah, berdinding anyaman bambu, tak punya sumur sendiri. Bahkan status tanah yang di tempati gubuk Yu Timah adalah bukan milik sendiri.

Usia Yu Timah sekitar lima puluhan, berbadan kurus dan tidak menikah. Barangkali karena kondisi tubuhnya yang kurus, sangat miskin, ditambah yatim sejak kecil, maka Yu Timah tidak menarik lelaki manapun. Jadilah Yu Timah perawan tua hingga kini. Dia sebatang kara. Dulu setelah remaja Yu Timah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Jakarta. Namun, seiring usianya yang terus meningkat, tenaga Yu Timah tidak laku di pasaran pembantu rumah tangga. Dia kembali ke kampung kami. Para tetangga bergotong royong membuatkan gubuk buat Yu Timah bersama emaknya yang sudah sangat renta. Gubuk itu didirikan di atas tanah tetangga yang bersedia menampung anak dan emak yang sangat miskin itu.

Meski hidupnya sangat miskin, Yu Timah ingin mandiri. Maka ia berjualan nasi bungkus. Pembeli tetapnya adalah para santri yang sedang mondok di pesantren kampung kami. Tentu hasilnya tak seberapa. Tapi Yu Timah bertahan. Dan nyatanya dia bisa hidup bertahun-tahun bersama emaknya. Setelah emaknya meninggal Yu Timah mengasuh seorang kemenakan. Dia biayai anak itu hingga tamat SD. Tapi ini zaman apa. Anak itu harus cari makan. Maka dia tersedot arus perdagangan pembantu rumah tangga dan lagi-lagi terdampar di Jakarta. Sudah empat tahun terakhir ini Yu Timah kembali hidup sebatang kara dan mencukupi kebutuhan hidupnya dengan berjualan nasi bungkus. Untung di kampung kami ada pesantren kecil. Para santrinya adalah anak-anak petani yang biasa makan nasi seperti yang dijual Yu Timah.

Kemarin Yu Timah datang ke rumah saya. Saya sudah mengira pasti dia mau bicara soal tabungan. Inilah hebatnya. Semiskin itu Yu Timah masih bisa menabung di bank perkreditan rakyat syariah di mana saya ikut jadi pengurus. Tapi Yu Timah tidak pernah mau datang ke kantor. Katanya, malu sebab dia orang miskin dan buta huruf. Dia menabung Rp 5.000 atau Rp 10 ribu setiap bulan. Namun setelah menjadi penerima SLT Yu Timah bisa setor tabungan hingga Rp 250 ribu. Dan sejak itu saya melihat Yu Timah memakai cincin emas. Yah, emas. Untuk orang seperti Yu Timah, setitik emas di jari adalah persoalan mengangkat harga diri. Saldo terakhir Yu Timah adalah Rp 650 ribu.

Yu Timah biasa duduk menjauh bila berhadapan dengan saya. Malah maunya bersimpuh di lantai, namun selalu saya cegah.
''Pak, saya mau mengambil tabungan,'' kata Yu Timah dengan suaranya yang kecil.
''O, tentu bisa. Tapi ini hari Sabtu dan sudah sore. Bank kita sudah tutup. Bagaimana bila Senin?''
''Senin juga tidak apa-apa. Saya tidak tergesa.''
''Mau ambil berapa?'' tanya saya.
''Enam ratus ribu, Pak.''
''Kok banyak sekali. Untuk apa, Yu?''
Yu Timah tidak segera menjawab. Menunduk, sambil tersenyum malu-malu.
''Saya mau beli kambing kurban, Pak. Kalau enam ratus ribu saya tambahi dengan uang saya yang di tangan, cukup untuk beli satu kambing.''
Saya tahu Yu Timah amat menunggu tanggapan saya. Bahkan dia mengulangi kata-katanya karena saya masih diam. Karena lama tidak memberikan tanggapan, mungkin Yu Timah mengira saya tidak akan memberikan uang tabungannya. Padahal saya lama terdiam karena sangat terkesan oleh keinginan Yu Timah membeli kambing kurban.
''Iya, Yu. Senin besok uang Yu Timah akan diberikan sebesar enam ratus ribu. Tapi Yu, sebenarnya kamu tidak wajib berkurban. Yu Timah bahkan wajib menerima kurban dari saudara-saudara kita yang lebih berada. Jadi, apakah niat Yu Timah benar-benar sudah bulat hendak membeli kambing kurban?''
''Iya Pak. Saya sudah bulat. Saya benar-benar ingin berkurban. Selama ini memang saya hanya jadi penerima. Namun sekarang saya ingin jadi pemberi daging kurban.''
''Baik, Yu. Besok uang kamu akan saya ambilkan di bank kita.''
Wajah Yu Timah benderang. Senyumnya ceria. Matanya berbinar. Lalu minta diri, dan dengan langkah-langkah panjang Yu Timah pulang.

Setelah Yu Timah pergi, saya termangu sendiri. Kapankah Yu Timah mendengar, mengerti, menghayati, lalu menginternalisasi ajaran kurban yang ditinggalkan oleh Kanjeng Nabi Ibrahim? Mengapa orang yang sangat awam itu bisa punya keikhlasan demikian tinggi sehingga rela mengurbankan hampir seluruh hartanya? Pertanyaan ini muncul karena umumnya ibadah haji yang biayanya mahal itu tidak mengubah watak orangnya. Mungkin saya juga begitu.

Ah, Yu Timah, saya jadi malu. Kamu yang belum naik haji, atau tidak akan pernah naik haji, namun kamu sudah jadi orang yang suka berkurban. Kamu sangat miskin, tapi uangmu tidak kaubelikan makanan, televisi, atau pakaian yang bagus. Uangmu malah kamu belikan kambing kurban. Ya, Yu Timah. Meski saya dilarang dokter makan daging kambing, tapi kali ini akan saya langgar. Saya ingin menikmati daging kambingmu yang sepertinya sudah berbau surga. Mudah-mudahan kamu mabrur sebelum kamu naik haji.

Keterangan foto: foto kambingnya Bangsari, diambil tanpa ijin ybs.

UPDATE:
Artikel mengenai Yu Timah ditulis oleh Ahmad Tohari (jadi ingat Genduk Dhuku dan Roro Mendut) dengan judul "Belum Haji Sudah Mabrur" dan dimuat di Republika tanggal 18 Desember 2007. Terima kasih untuk Adi di Riyadh atas infonya.

12.9.07

Marhaban Yaa Ramadhan

Allahumma Baarik lana fi Rajab wa Sya'ban wa ballighna Ramadhan.

Sungguh cantik kain plekat, dipakai orang pergi ke pekan.
Puasa Ramadhan semakin dekat, silap dan salah mohon dimaafkan.

Berharap padi dalam lesung, yang ada cuma rumpun jerami.
Harapan hati bertatap langsung, cuma terlayang pesan di blog ini.

Sebelum cahaya surga padam, sebelum hidup berakhir, sebelum pintu tobat tertutup, sebelum Ramadhan datang, saya mohon maaf lahir dan bathin....

Taqqobalahu Minna Waminkum, Taqoballahu Ya Karim, Marhaban Ya Ramadhan Selamat Menunaikan Ibadah Puasa.

Aris Heru Utomo & Keluarga




Thanks utk rekan ANto atas kiriman ucapannya.

27.2.07

Mathematics in Islam

On 23rd February 2007, the BBC News issued an article on Advanced Geometry of Islamic Arts. It was mentioned that a study of medieval Islamic art has shown some of its geometric patterns use principles established centuries later by modern mathematicians. According to the researchers, Islam has applied the concepts of geometry on their arts since 15th Century. This indicates intuitive understanding of complex mathematical formula, even if the artisans had not worked out the underlying theory.

Quoting from Wikipedia, actually the history of Islamic mathematics refers to the mathematics developed by mathematicians of the Islamic culture, from the beginning of Islam until the 17th century — mostly including Arab and Persian mathematicians, as well as other Muslims and non-Muslims that were a part of the Islamic culture. Islamic mathematics is also known as Arabic mathematics due to most of the texts on Islamic mathematics being written in Arabic. Islamic mathematics is the main aspect of the greater history of Islamic science, and also an important part of the history of mathematics.

Since I am not mathematician or even a scientist, I would not explore it in advance. I am simply trying to quote that mathematic and other kinds of science are not new issues in Islam. From literatures we knew that the development of science in the world can be traced directly to the Muslim scientists. For example if we discussed the development in chemistry, we could refer to Jabir Ibn Haiyan, is generally known as the father of chemistry (died 803 C.E). Jabir wrote several books on chemistry. Two of his books, Kitab-al-Kimya, and Kitab al-Sab'een, were translated into Latin and various European languages. Those books were popular in Europe for several centuries and have influenced the evolution of modern chemistry. Today, several technical terms devised by Jabir, such as alkali, are found in various European languages and have become part of scientific vocabulary.

In addition, some other Muslim scientists and thinkers have also contributed immensely to human knowledge especially in the period between 8th and 14th century CE. For example, we could refer to Ibn Sina or Avicenna (980-1037) who well known in Medicine, Philosophy, Mathematics, and Astronomy. We could also named Ibn Rushed or Averroes (1128-1198) for Philosophy, Law, Medicine, Astronomy, and Theology.

That was in the past, now we should admit that Muslim scientists contributions have been largely lag behind the western countries. Wars, Conflicts and other internal problems make scientists in Muslim countries could not develop and explore their potential capabilities. Research and development activities are so limited as well as its supporting literatures. If it was not burned during the wars, most of literatures have been transferred to the western countries. It is regrettable that nowadays Muslim scientist could not compete with others in order to enhance knowledge and for the common interest of human being.