Showing posts with label Perjalanan. Show all posts
Showing posts with label Perjalanan. Show all posts

11.7.11

Pilot Bas DiCaprio

Dulu ketika kanak-kanak, hampir semua teman saya kalau ditanya cita-citanya pasti menjwab ingin menjadi dokter , pilot atau insinyur. Ketiga profesi ini menjadi pilihan utama saat itu karena tugas-tugasnya terlihat jelas secara kasat mata. Dokter dengan seragam putih-putih dan stestokop menggelantung di leher atau kantung baju terlihat gagah dan siap membantu orang-orang yang sakit. Insinyur terlihat gagah dengan topi proyek dan bisa membangung gedung, jembatan atau membuat kendaraan seperti mobil dan pesawat terbang. Sementara pilot selain gagah dengan seragamnya, juga memiliki keempatan luas untk berkeliling daerah bahkan dunia serta dikeliling pramugari-pramugari yang cantik.

Dari sekian banyak teman-teman masa kanak-kanak saya, banyak yang berhasil mewujudkan cita-citanya. Ada yang jadi dokter, insinyur dan juga pilot, salah satunya adalah Bas yang menjadi pilot pesawat sewaan. Sejak SMA, teman saya itu memang bercita-cita ingin menjadi pilot biar bisa jalan-jalan dan dikelilingi cewek-cewek cantik. Walau tampangnya tidak seganteng Leonardo DiCaprio dalam film Catch Me If You Can, tapi Bas ini cukup pintar di sekolah (hahahaha sorry Bas). Saya tidak tahu sejak kapan Bas berhasil masuk tes penerbang dan menjadi pilot. Karena sejak lulus SMA kami menempuh jalan masing-masing dan baru bertemu ketika reuni SMA tahun 2009. Bas ini merupakan salah satu yang aktif menghubungi teman-teman yang sudah berpencar ke seluruh penjuru dunia. Saya juga tidak tahu dari mana dia dapat nomor telepon genggam saya.

Sejak reuni SMA itu saya jadi tahu kalau Bas ini jadi seorang pilot dan sering melanglang ke berbagai daerah dan dunia. Setiap kali melakukan perjalanan, ia selalu berbagai cerita dan tentu saja foto-foto dimana dia berada, termasuk foto-foto dengan crew pesawat, tentu saja yang wanita. Salah satunya adalah foto saat ia sedang makan siang dalam postingan ini.

Melihat foto Bas sedang makan siangi, saya jadi teringat dengan lakon Leonardo Dicaprio dalam Catch Me If You Can. Dalam film tersebut DiCaprio yang berperan sebagai Frank Abagnale Jr yang dalam usia 19 tahun berhasil menggelapkan uang jutaan dollar dengan menyamar dalam berbagai profesi salah satunya adalah sebagai pilot Pan Am. Sebagai pilot, Frank Abagnale Jr. bukan saja berhasil mencairkan cek jutaan dollar tetapi juga dikerubungi para pramugari yang cantik-cantik.

Teman saya Bas tentu saja bukan Frank Abagnale Jr. yang menggelapkan uang jutaan dollar. Bas adalah teman yang baik. Yang selalu mengingatkan teman-temannya untuk tetap menjalin tali silaturahmi. Ia rajin mengirim dan meneruskan sms jika ada temannya yang mengadakan suatu acara atau bahkan saat mengalami musibah. Dan pada saat ada acara kumpul-kumpul, jika dia berada di Jakarta, ia pasti mengusahakan untuk hadir apalagi kalau ada wanita-wanita cantiknya hahahahaha ... peace Bas

Dikirim lewat BlackBerry® oleh pemilik blog http://arisheruutomo.com

2.7.11

Kemah di Kuburan

Ach gile loe, siapa juga yang berani berkemah di pemakaman? Apa enaknya? Yang ada juga rasa takut, pemakaman alias kuburan kan menyeramkan? Begitu reaksi yang saya bayangkan jika pertanyaan atau tawaran untuk berkemah di kuburan diajukan. Saya yakin reaksi yang dibayangkan tidak terlalu jauh meleset dari keadaan sesungguhya karena berkemah di kuburan memang bukan suatu hal yang lazim dan selama ini pun belum ada tawaran seperti itu.

Nach di luar kelaziman tersebut, ada tawaran aneh yang diajukan oleh pejabat sebuah kota di Taiwan, Yilan County, yaitu mengajak orang berkemah di kuburan yang bernama Sakura Cemetery Park, kawasan pekuburan seluas 45 hektar dan dapat menampung 7000 jenazah.


Pengelola makam berani menawarkan kawasan pekuburan yang terletak di ketinggian 750 meter dari permukaan laut, karena dari tempat tersebut para wisatawan dapat menyaksikan keindahan pemandangan alam Yilan County dan memperoleh suasana tenang. Para wisatawan bebas untuk mendirikan tenda di 15 titik lokasi perkemahan yang telah disiapkan, termasuk mendirikan tenda dekat kuburan. Untuk memberikan rasa aman dan nyaman, pengelola pun menjamin keamanan para pengunjung selama 24 jam per hari.
Ketika tawaran dibuka pada tanggal 25 Juni 2011 lalu, setidaknya sudah sekitar 100 orang yang telah berkemah disana, kebanyakan di akhir pekan. Bahkan khusus untuk bulan Juli 2011 ini terdapat kegiatan kemah bersama yang melibatkan sekitar 100 keluarga. Menurut pejabat Yilan County, Lin Tsung-hsien, tujuan kemah bersama di pekuburan adalah untuk mempromosikan gagasan menjadikan pemakaman sebagai taman wisata.

Sebenarnya sih upaya untuk menjadikan kawasan pekuburan sebagai taman wisata bukan lah hal yang baru. Di Indonesia misalnya, banyak pekuburan, khususnya kuburan tokoh-tokoh atau pemuka agama, yang ramai dikunjungi orang pada saat musim liburan atau hari-hari besar keagamaan seperti layaknya tempat wisata, misalnya Gunung Kawi dan Makam Wali Songo.

Tapi walau bukan hal yang baru, usulan yang terdengar aneh tersebut patut diacungi jempol. Ya namanya juga usaha.

20.6.11

Anarkisme Pengguna KRL

“Cinta ditolak dukun bertindak”, begitu candaan yang sering kita dengar ketika seseorang ditolak cintanya. Nah entah terinspirasi oleh kata-kata tersebut, para pengguna KRL yang menolak pola baru kereta rel listrik (KRL) melakukan tindakan anarkis dengan merusak gerbong KRL yang dikelola PT Kereta Api Commuter Jabodetabek (PT KCJ) pada hari Sabtu lalu (18/06/11). Sejumlah gerbong KRL dilempari batu sehinga memecahkan kaca-kaca gerbong dan merusak sebagian kursi.

Dari obrolan dengan para pengguna KRL, diketahui bahwa salah satu alasan penolakan kebijakan baru PT KCJ adalah karena adanya pelonjakan harga karcis dari yang semula Rp.4.500/Rp. 5.500 menjadi Rp. 8.000/Rp. 9.000. Kenaikan harga sebesar Rp. 2.500 merupakan jumlah yang cukup besar bagi penumpang KRL ekonomi AC yang umumnya pegawai rendahan dan pedagang kecil. Karenanya disarankan agar PT KCJ lebih baik meningkatkan pelayanan daripada sekedar menaikkan harga.

Keberatan-keberatan di atas mestinya diperhatikan dengan seksama oleh PT KCJ, termasuk pola perilaku pengguna KRL ekspres dan KRL ekonomi, sehingga tidak sampai perusakan. Bukan rahasia lagi bahwa pengguna KRL sebenarnya telah tersegmentasi menjadi penumpang KRL ekspres AC, KRL ekonomi AC dan KRL Ekonomi non-.AC Penumpang KRL ekspres AC umumnya lebih teratur dan tertib serta wangi, mulai dari antri tiket hingga saat berada di dalam gerbong. Sementara pengguna KRL ekonomi AC dan non-AC cenderung lebih bebas. Nach bisa dibayangkan jika karakter berbeda bersatu dalam satu gerbong KRL yang jumlahnya terbatas, yang terjadi adalah kesemrawutan dan saling berebut untuk sekedar bisa masuk gerbong. Akibatnya pula, tidak ada lagi sedikit kenyamanan yang dapat diperoleh, meski hanya sekedar celah digerbong.

Untuk itu langkah yang tepat bagi PT KCJ adalah membenahi standar layanannya dengan antara lain menambah gerbong dan menambah jalur kereta, khususnya jalur khusus KRL. Jika selama ini hanya ada 2 jalur KRL dari stasiun Manggarai ke Kota, maka untuk menambah kapasitas sebaiknya mulai direncanakan untuk menambah jalur KRL, misalnya menambah 2 jalur lagi sehingga menjadi 4 jalur. Dengan penambahan jalur tersebut, maka KRL tidak perlu berebut dengan kereta jarak jauh saat masuk Jakarta.

Jika upaya di atas bisa dilakukan, bukan hanya waktu tempuh KRL menjadi lebih cepat, jumlah penumpang yang diangkut pun otomatis bisa menjadi lebih banyak. Dan niscaya tidak akan ada lagi aksi anarkis oleh masyarakat yang berakibat rusaknya sejumlah gerbong. Akhirnya Balada kereta rakyat pun akan happy ending.

22.5.11

Balada Kereta Rakyat

"Ach pemerintah bisanya cuma melarang penumpang naik di atas gerbong, tanpa bisa menyediakan gerbong yang cukup. Coba kalau gerbongnya cukup, kita kan gak bakalan naik di atap gerbong", begitu komentar para penumpang menanggapi tindakan PT KAI (Kereta Api Indonesia) untuk menertibkan penumpang di atas kereta.


Pertanyaan tersebut seperti mana dulu telor atau ayam? Tanpa jawaban yang pasti, permasalahan seperti di atas memang akan terus berputar-putar dan cuma bisa saling menyalahkan.

Calon penumpang tidak mau ketinggalan kereta agar bisa segera sampai tujuan, walau untuk itu rela bergelantungan dan bertaruh nyawa di atas gerbong.

Sementara PT KAI, atas nama keterbatasan, sulit untuk menyediakan infrastruktur kereta baik gerbong maupun rel secara cepat.

Jadi solusinya bagaimana? Kalau saya, daripada memaksakan diri, sebaiknya calon penumpang mengalah untuk tidak naik ke atap gerbong. Bukan apa-apa, kalau jatuh atau kesambar listrik, yang rugi kan penumpangnya juga. Memangnya PT KAI akan ikut bertanggungjawab sepenuhnya?

dikirim lewat BlackBerry® oleh pemilik blog http://arisheruutomo.com

29.3.11

Aturan Baru KA Jabodetabek, Menguntungkan atau Merugikan?



Sebuah pengumuman ditempel oleh petugas Stasiun KA di Bekasi untuk memberitahukan bahwa mulai 1 April 2011 terdapat aturan baru KA Jabodetabek.

Dalam aturan baru tersebut dikatakan bahwa mulai 1 April 2011 seluruh rangkaian kereta Jabodetabek berhenti di semua stasiun, termasuk kereta express. Selain itu penumpang dikenakan tarif yang sama yaitu Rp. 6.000 (dari Bekasi dan Serpong) dan Rp. 7.000 (dari Bogor dan Angke).

Menurut Humas PT KAI Daerah Operasi I (Jabodetabek), Mateta Rizallulhaq, seperti yang dikutip dari media cetak, kebijakan ini diambil agar seluruh penumpang dapat terangkut dan mengurangi penumpukan penumpang di satu titik yang mengakibatkan angka kriminal tinggi, dan untuk memenuhi target mengangkut 1,2 juta penumpang pada tahun 2014.

Sebagai akibat dari perubahan aturan, akan ada penambahan waktu perjalanan untuk kereta express. Masih kata Mateta, Jika sebelumnya waktu tempuh kereta express Pakuan Bogor adalah 55, maka akan menjadi 81 menit (molor 26 menit). Bekasi express yang tadinya 35 menit, menjadi 45 menit. Sedangkan Benteng express yang tadi 45 menit, menjadi 55 menit.

Menyikapi perubahan aturan baru ini, pertanyaan mendasar yang kemudian muncul adalah apakah kebijakan tersebut sudah diperhitungkan dengan seksama dan memperhatikan situasi di lapangan? Kalau pertanyaan tersebut diajukan ke PT KAI pasti jawabannya adalah kebijakan tersebut sudah dipertimbangkan dengan seksama.

Tapi coba anda tanyakan kepada para penumpang, pasti jawaban sebaliknya yang akan diperoleh. Anda yang terbiasa naik kereta pasti sudah paham bagaimana penuh sesaknya kereta yang mereka tumpangi, bahkan untuk kereta ekspress yang bayarannya jauh lebih mahal dari kelas ekonomi.

Nah kalau kereta ekspress dihapuskan (dengan berhenti di semua stasiun) dan bayaran yang sama, maka semua macam penumpang akan masuk ke dalam kereta. Dan bisa dibayangkan bagaimana penuh sesaknya kereta (seperti kereta kelas ekonomi saat ini). Kalau sudah penuh sesak seperti itu, bukan lagi kenyamanan yang didapat tapi justru kesumpekan. Kereta pun akan jadi cepat rusak dan petugas juga susah mengawasinya (lagi-lagi kasus di kereta ekonomi bisa jadi contoh).

Usul saya, daripada kebijakan tersebut akan merugikan penumpang dan juga PT KAI sendiri. Lebih baik kebijakan yang sekarang tetap diberlakukan. Agar semakin banyak penumpang yang terangkut, tambah saja jumlah gerbong dan perbaiki infrastrukturnya (misalnya perbanyak jalur relnya).

http://arisheruutomo.com dan http://aseanblogger.com Sent from my BlackBerry® smartphone

14.3.11

Penumpang Berani Mati


Sampai sejauh ini kereta api masih merupakan angkutan massal yang relatif murah dan aman. Diperkirakan satu gerbang bisa memuat setidaknya 100-125 orang. Jika satu rangkaian terdiri dari 8 gerbong, maka sekali angkut akan terbawa setidaknya 1000 orang.

Dengan biaya murah dan kapasitas angkut yang besar, banyak calon penumpang yang mengandalkan kereta untuk ke tempat tujuan.

Sayangnya, meski kereta merupakan angkutan yang bersifat massal, namun pemerintah belum mampu menyediakan gerbong dan rangkaian yang mencukupi. Akibatnya, untuk bisa mendapatkan tempat di kereta, calon penumpang harus berebut.

Untuk berebut, seringkali calon penumpang melupakan aspek keselamatan. Foto pada postingan ini memperlihatkan bagaimana penumpang naik dan turun dibagian yang bukan semestinya. Celakanya, dengan tidak menutup pintu kereta (dengan alasan rusak), pihak pengelola kereta ikut andil dalam mencelakakan penumpang.

++++
http://arisheruutomo.com dan http://aseanblogger.com Sent from my BlackBerry® smartphone

3.3.11

Lounge Bandara Soekarno Hatta


Pertama harus saya katakan bahwa ide foto pada postingan ini berasal dari Pak Eko Eshape yang sudah terlebih bikin postingan soal BNI lounge. Saya sengaja ambil sudut gambar yang sama karena sekalian memamerkan blog saya yang lain (http://arisheruutomo.com).

Gambar di atas sendiri merupakan suasana di BNI Lounge yang ada di terminal 2 bandara Soekarno Hatta. Selain lounge BNI, di terminal ini ada juga lounge executive Garuda, Mandiri dan Danamon.

Sebagai pemegang kartu BNI, tentu saja saja saya memilih Lounge BNI sebagai tempat menunggu sebelum boarding. Cukup menunjukkan kartu kredit BNI, mbak resepsionis akan mencatat kartu yang kita miliki dan selanjutnya kita bisa menikmati fasilitas yang ada di lounge.

Hidangan yang tersedia di lounge cukup lengkap, mulai dari makanan ringan berupa jajanan pasar seperti getuk, jagung/ubi rebus dan temnpe mendoan. Selain itu juga tersedia makanan berat seperti soto, ayam goreng kecap, spageti dan sebagainya. Minuman yang tersedia pun cukup bervariasi, mulai dari air mineral, teh botol hingga soft drink dan kopi/teh.

Bagi anda para perokok juga tersedia smoking room di pojokan.

Sementara itu bagi anda yang ingin internetan, ada 4 buah pc tapi 2 pc sering rusak. Soal kecepatan, harap sabar karena memang tidak secepat yang anda bayangkan. Tapi lumayan lah untuk kirim/terima email atau sekedar fesbukan.

Saran saya, kalau anda punya cukup waktu tiba di bandara, tidak ada salahnya untuk menunggu di lounge daripada bengong lihat penumpang hilir mudik.

++++
http://arisheruutomo.com dan http://aseanblogger.com Sent from my BlackBerry® smartphone

28.1.11

Mengunjungi Crop Circle di Sleman, Yogyakarta

Hingga hampir sepekan sejak ditemukan pertama kali pada Minggu, 23 Januari 2011, crop circle yang terletak di desa Jogotirto, Kecamatan Brebah, Sleman, Yogyakarta, terus menarik perhatian banyak orang untuk melihatnya secara langsung. Banyak warga Yogyakarta dan sekitarnya, termasuk yang dari luar kota, datang berduyun-duyun melihat batang-batang padi yang rebah dan membentuk lingkaran teratur tersebut. Bahkan media cetak dan elektronik pun setiap hari memberitakan fenomena yang baru pertama kalinya terjadi di Indonesia.

Seperti kata peribahasa “pucuk dicinta ulam pun tiba”, keinginan saya untuk mengunjungi lokasi crop circle di desa Jogotirto terwujud ketika pada minggu ini saya berkesempatan menghadiri suatu kegiatan di Yogyakarta. Usai menghadiri kegiatan dan menyelesaikan segala urusan terkait di kota gudeg, didampingi Mas Purwanto pengemudi kendaraan yang disewa kantor dan seorang rekan kerja, kami pun segera meluncur menuju desa Jogotirto.

Langit terang dan udara agak sedikit terik ketika kami tiba di desa Jogotirto. Terlihat sekelompok warga desa yang mengenakan tanda “Panitia” berdiri di ujung jalan menuju lokasi crop circle. Mereka bertindak sebagai pemungut tanda masuk/parkir bagi setiap warga yang datang menggunakan kendaraan bermotor. Setiap kendaraan roda empat dikenakan ongkos masuk/parkir sebesar Rp. 5.000,-, sedangkan kendaraan roda dua dikenakan tarif Rp. 2.000,-.

Mobil-mobil diparkir di sepanjang jalan desa menuju lokasi, sementara kendaraan roda dua diparkir di samping bekas sebuah gedung dan rumah seorang penduduk, sekitar 100-an meter dari lokasi.

“Hari ini pengunjung yang mengendarai mobil sepertinya agak berkurang mas, dua hari lalu ketika saya kesini, mobil yang diparkir bahkan meluber hingga keluar batas jalan ini” ujar mas Purwanto ketika melihat jejeran mobil yang sedang di parkir di sepanjang jalan. “ “Saya mesti berjalan cukup jauh untuk sampai ke lokasi” imbuh Mas Purwanto. Apa yang dikatakan mas Purwantoi tidaklah keliru karena pengunjung terlihat tidak lagi terlalu padat seperti yang saya saksikan di televise beberapa hari sebelumnya.

Setelah kendaraan di parkir, kami pun segera berjalan menuju lokasi. Di kiri kanan jalan terlihat banyak warga masyarakat yang memanfaatkan keramaian dengan menjajakan beragam macam dagangan, mulai dari makanan dan minuman ringan hingga foto-foto crop circle yang dijual dengan berbagai ukuran. Selain itu ada pula 1-2 warga yang berinisiatif menyewakan tangga kepada pengunjung yang ingin melihat crop circle dari ketinggian.

Sesampainya di lokasi, terlihat sudah banyak warga masyarakat yang berdiri dipinggir jalan sedang melihat dan mengabadikan hamparan padi menghijau yang beberapa bagiannya rebah teratur dan membentuk pola-pola simetris. Sementara itu sebagian warga lainnya melihat crop circle dari sebuah bukit tidak jauh dari lokasi.

Berbeda dengan jalan desa yang diaspal, jalan di sisi lokasi dan menuju bukit merupakan jalan tanah, becek dan licin seusai hujan turun. Meski sudah diperingati dan diberi tanda larangan, banyak warga masyarakat yang nekad naik ke puncak bukit. Dengan kondisi ini tidak mengherankan jika ada pengunjung yang terjatuh dan bahkan meninggal dunia ketika berusaha menaiki bukit.

Terlepas dari siapa pembuat crop circle, saya perhatikan keberadaannya ternyata memberi berkah bagi warga masyarakat desa Jogotirto dan sekitarnya. Sebagai gambaran, dari tiket masuk/parkir saja warga desa Jogotirto bisa memperoleh masukan yang cukup besar. Dari penuturan seorang warga yang menjadi panitia, selama hampir sepekan ini setidaknya ada sekitar 300-an kendaraan roda empat per harinya, sedangkan untuk kendaraan roda dua jumlahnya jauh lebih banyak lagi yaitu sekiatr dua ribuan.Jika dipukul rata ada 300 mobil/hari dan 2000 motor/hari, maka jumlah pemasukan per hari dari parkir kendaraan adalah sekitar 5,5 juta rupiah per hari. Artinya dalam seminggu ini terdapat pemasukan sekitar 40-an juta bagi “Panitia”.

Sementara para pedagang dadakan juga bisa meraup rejeki yang lumayan. Seorang warga yang menjual foto crop circle misalnya, dalam sehari ia bisa menjual paling kurang 100 lembar foto dalam berbagai ukuran. Ada dua ukuran foto yang dijualnya yaitu ukuran 5R dan postcard. Untuk 5R dijual Rp 20 ribu per lembar dan ukuran postcard Rp. 5.000,-/lembar.

Sedangkan warga lain yang menyewakan tangga juga tidak kalah sumringah (gembira). Dari tangga yang disenderkan ke pohon dan disewakan Rp. 2000,- sekali naik, setidaknya ia bisa mendapatkan 400 ribu rupiah per hari. Jumlah yang sangat besar dari suatu kegiatan yang tidak membutuhkan keahlian apapun.

Dengan jumlah pendapatan yang cukup besar tersebut, tidak heran jika banyak warga masyarakat desa Jogotirto yang mensyukuri keberadaan crop circle di desanya dan berterima kasih kepada para pembuat crop circle. Meski ketika ditanya banyak yang percaya bahwa crop circle terbut buatan alien atau UFO, tetapi sesungguhnya mereka tidak terlalu peduli tentang siapa pembuat crop circle yang sebenarnya. Yang penting kehadiran crop circle telah membawa berkah dan rejeki tersendiri bagi mereka. Untuk itu tidak sedikit warga yang berharap crop circle yang ada tersebut tidak cepat rusak sehingga masih bisa dinikmati lebih lama lagi.


11.1.11

Tintin ke Bulan

Bongkar-bongkar kembali lemari pakaian, saya mendapatkan kaos bergambar Tintin dan Milou (Snowy) dengan kostum astronout. Kaos tersebut saya beli ketika berkunjung ke Museum Komik di Brussel, Belgia pada tahun 2007. Seingat saya, kaos ini baru sekali dipakai dan setelahnya saya tumpuk bersama kaos lainnya. Karena jarang dipakai tentu saja kaos tersebut masih bagus kondisinya.

Melihat kaos ini sayapun teringat kembali tentang komik populer abad ke-20 yang menceritakan petualangan seorang wartawan muda asal Belgia bernama Tintin ke berbagai penjuru dunia, bahkan hingga ke bulan. Yang membuatnya fenomel adalah karena buku komik tersebut telah diterbitkan ke dalam 80 bahasa (termasuk Indonesia) dan telah terjual lebih dari 350 juta copy. Kepopulerannya di seluruh dunia tidak terlepas dari ceritanya yang universal dan bisa melewati kendala waktu, bahasa dan budaya.

Tintin adalah seorang wartawan berjambul rekaan George Remi atau Herge, komikus asal Belgia. Herge dengan jeli dan akurat serta coretan yang tegas, menampilkan tokoh Tintin sebagai tokoh wartawan yang gemar berpetualang ke berbagai tempat dunia serta tokoh-tokoh lain yang mendampinginya seperti kapten Haddock yang pemabuk, Profesor Calculus yang budek ataupun detektif kembar Dupont dan Dupond, serta tentu saja anjingnya Milou.

Komik pertama Tintin yang menceritakan petualangan Tintin ke Uni Soviet pertama kali dimuat di surat kabar Belgia Le Vingtieme Sicle pada tahun 1929, sebelum pada akhirnya dicetak menjadi buku komik hitam putih. Sedangkan buku komik berikutnyamenceritakan Tintin antara lain pergi ke Kongo, Amerika, Mesir, China, Tibet, Australia, termasuk singgah di Jakarta ( Vol 714 pour Sydney /Penerbangan 714 ke Sydney). Selain itu Tintin juga pernah menyelami dasar samudra. mendaki Himalaya dan mendarat di bulan.

Dari sekian banyak komik Tintin, salah satu yang menjadi favorit saya adalah kisah petualangan Tintin di bulan. Dengan detail Herge menggambarkan roket yang dipergunakan ke ruang angkasa, termasuk pembagian ruang pada roket tersebut. Digambarkan pula suasana di ruang angkasa ketika Tintin dan kapten Haddock melayang-layang ketika keluar dari roket atau saat mendarat di bulan.

Gambaran yang disampaikan Herge tentu saja menarik, terutama membaca imajinasi Herge yang yang melompat jauh. Ketika buku komik " objective lune /tujuan ke bulan" dicetak tahun 1953 dan " on a marche sur la lune /pendaratan ke bulan" dicetak tahun 1954, dunia antariksa internasional masih dalam tahapan riset untuk dapat menerbangkan manusia ke ruang angkasa dan mendaratkannya di bulan. Yuri Gagarin, manusia pertama yang terbang ke luar angkasa dengan roket Vostok 1 , baru melakukannya pada tanggal 12 April 1961. Sementara melalui misi Apollo 11 , Neil Amstrong dan Edwin Aldrin baru mendarat di bulan tanggal 20 Juli 1969. Artinya sebelum manusia pertama ke ruang angkasa, Tintin telah berkelana di ruang angkasa 7 tahun sebelumnya.

Ketika menuliskan imajinasi nya, Herge memang tidak sekedar berkhayal. Ia melakukannya dengan dukungan literatur yang kuat. Ketika membuat komik berjudul objective lune (tujuan ke bulan) misalnya, ia telah banyak membaca referensi tentang ruang angkasa sebelumnya. Dengan referensi yang lebih dari cukup, Herge bisa berimajinasi dengan bebas namun tetap berpijak ke bumi. Karena itu membaca komik petualangan Tintin serasa melihat dokumentasi suatu tempat dan peristiwa. Dilengkapi komentar-komentar lucu tokoh-tokoh lainnya, komik Tintin menjadi menarik dan disukai banyak orang.

Repost dengan sedikit edit disana-sini dari tulisan saya sebelumnya dengan judul sama Tintin ke Bulan

23.10.10

Kopdar Be-Blog dengan Blogger Angin Mamiri

Setelah beberapa waktu terakhir ini hanya transit di Bandara Hassanudin dalam perjalanan ke Manado dan Ambon, akhirnya pada tanggal 20-21 Oktober 2010 saya benar-benar menjejakkan kaki kembali di kota Daeng, Makassar, guna menghadiri kegiatan pertemuan kelompok ahli yang diselenggarakan Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kementerian Luar Negeri (BPPK Kemlu). Kunjungan ini menjadi yang pertama sejak kunjungan pada tahun 2002-2003 dalam acara yang hampir serupa dan diselenggarakan pula oleh BPPK Kemlu.

Di sela-sela kegiatan diskusi yang diselenggarakan di Golden Hotel Makassar, kesempatan ini saya pergunakan untuk melakukan kopi darat (kopdar) dengan teman-teman blogger yang ada di kota Makassar dan tergabung dalam Komunitas Blogger Angin Mamiri.

Berbekal nomor telepon dari Daeng Amril Taufik Gobel, penasihat Be-Blog yang juga penasihat dan sesepuh blogger Angin Mamiri, saya pun mengontak Ketuanya Daeng Ipul Gasing. Pucuk dicinta ulam tiba, ternyata Daeng Ipul sudah dikontak Daeng Amril dan siap melakukan kopdar. Janji pun kemudian dibuat, kopdar dilaksanakan tanggal 21 Oktober 2010 pukul 19.30 di Café Pier 52 yang lokasinya persis disamping Golde Hotel Makassar.

Sesuai waktu yang dijanjikan, saya pun segera meluncur ke tempat acara. Didampingi rekan saya, Dedi Setiadi, saya tiba 5 menit lebih awal. Di café yang persis menghadap pantai Losari tersebut terlihat banyak kursi yang masih kosong, hanya ada beberapa kursi yang diduduki beberapa anak muda, salah satunya yang terletak di sudut ruangan.

Karena belum saling mengenal, saya tidak berani memastikan bahwa anak-anak muda tersebut adalah teman-teman dari blogger Angin Mamiri. Untuk memastikan, saya kirim sms ke Daeng Ipul dan juga menyampaikan status di twitter bahwa saya sudah di lokasi. Harapan saya, begitu menerima pesan sms, salah satu dari anak-anak mudah tersebut adalah Daeng Ipul. Tapi sampai beberapa saat ternyata tidak ada reaksi apa-apa dari mereka dan mereka tetap asyik berbincang-bincang satu sama lain.

“wah pasti bukan mereka pikir saya” sambil mengambil posisi duduk tidak jauh dari mereka.

Tak lama kemudian masuklah seorang pemuda mengenakan kaos pesta blogger 2009 sambil menggandeng anak perempuan kecil. “eh ini pasti Daeng Ipul” gumam saya dalam hati.

Benar saja tak lama kemudian masuk telepon dari Daeng Ipul yang memang mengenakan kaos pesta blogger 2009. Ternyata juga anak-anak muda yang duduk dipojokan adalah teman-teman dari blogger Angin Mamiri yang telah terlebih dahulu datang. Ada Iko, Tika, dan Nani. Beberapa waktu kemudian bergabung Intan dan Mas Kribo (wah maaf saya lupa namanya) serta Hers, blogger Semarang yang kebetulan juga sedang dinas di Makassar.

Setelah saling memperkenalkan diri, obrolan pun langsung berjalan. Meski belum pernah bertemu sebelumnya, obrolan langsung lancar terutama saat berbincang-bincang tentang blog. Saya bercerita tentang be-blog yang baru berusia setahun dan mereka bicara tentang perkembangan blogger Angin Mamiri yang sudah memasuki tahun ke-5. Kami pun bertukar cerita tentang pengalaman mengelola komunitas dan yang lebih penting mengelola semangat ngeblog diantara para blogger. Sementara sambil ngobrol-ngobrol, Tika dengan lincahnya memainkan kamera klasiknya yang bisa berganti warna blitz dari pink, kuning, hingga hijau.

Perbincangan mengenai upaya menjaga semangat ngeblog menjadi mengemuka mengingat bahwa sejalan dengan perkembangan media sosial, disadari ernyata banyak blogger yang sudah tidak lagi memiliki passion untuk ngeblog. Banyak blogger, termasuk blogger-blogger lama dan dulunya dijadikan panutan blogger pemula, yang lebih memilih menggunakan media sosial seperti facebook dan twiter untuk berbagi dan membiarkan blognya terlantar. Selain lebih praktis, tidak perlu banyak kata untuk bisa update status. Imbasnya, kegiatan komunitas blogger pun jadi kurang gairahnya.

Mengingat malam semakin menjelang dan perut mulai keroncongan, perbincangan pun disambung di restoran Hade yang menyajikan menu makanan laut. Disini tidak ada lagi perbincangan serius selain menikmati makanan yang dipesan. Ikan cepu bakar, kakap tepung, cumi hitam, dan kangkung balacan menjadi menu utama yang sangat menggugah selera. Tidak mengherankan jika tiga bakul nasi pun tandas.

Usai menyantap hidangan makan malam, Intan yang dari awal sudah ingin menyanyi akhirnya menuntas keinginannya dengan menyanyikan tembang Vina Panduwinata. Tidak salah pilihan lagunya karena suara Intan memang mirip Vina. Kalau saja ada lomba mencari bakat, pasti blogger dari Angin Mamiri ini bakalan terpilih. Sambil mendengarkan Intan menyanyi, saya pun ngetweet begini “Kalau ada lomba, Ajengkol yang jagoan karaoke dari Be-blog mah lewat nich sama Intan” Beberapa waktu kemudian ada re-tweet dari Mbak Ajeng yang rupanya speechless dengan tweet saya dan cuma berkomentar “Wah …”.

Karena waktu sudah larut dan keesokan paginya saya harus kembali ke Jakarta, maka kopdar pun diakhiri dengan ritual foto bersama. Mudah-mudahan di pesta blogger 2010 d Jakarta, teman-teman blogger Angin Mamiri bisa bertemu dengan be-Blog dalam formasi yang lebih lengkap.




10.10.10

Mengunjungi Pintu Kota Ambon Yang Cantik

Minggu kedua Oktober 2010, saya berkesempatan mengunjungi Provinsi Seribu Pulau di kawasan timur Indonesia yaitu Provinsi Maluku. Rasanya amat sangat disayangkan jika sudah jauh-jauh terbang ke kota Ambon namun melewati kesempatan mengunjungi tempat-tempat wisata di daerah ini. Untuk itu usai menuntaskan pekerjaan, saya pun mengayunkan langkah kaki menuju tempat wisata yang terdapat di daerah ini. Salah satu tempat wisata tersebut adalah Pintu Kota yang terletak di desa Airlouw, sekitar 30 perjalanan darat dari Kota Ambon.

Untuk mencapai lokasi ini saya mesti menyusuri jalan yang agak berkelok-kelok di sisi barat Pulau Ambon. Dengan infrastruktur jalan raya yang relatif baik, perjalanan menjadi terasa nyaman, apalagi sepanjang perjalanan kita pun dapat menengok pemandangan laut lepas.

Setibanya di tempat tujuan kami segera membeli tiket untuk dapat memasuki Pintu Kota. Dinas Pariwisata kota Ambon mengenakan tarif sebesar Rp. 2.000 per orang dan Rp 10 ribu untuk parkir mobil. Usai dengan urusan pembayaran , kami pun segera memasuki areal tempat wisata tersebut. Meski hari Minggu, kawasan wisata ini ternyata tidak terlalu ramai oleh pengunjung. Beberapa motor terlihat diparkir di kawasan tersebut, sementara mobil yang kami tumpangi merupakan mobil pengunjung satu-satunya.

Mendengar nama Pintu Kota, mungkin anda akan membayangkan sebuah pintu gerbang atau gapura untuk masuk ke kota Ambon. Namun Pintu Kota sebenarnya adalah sebuah karang raksasa yang menjorok ke laut dan memiliki lubang besar menyerupai pintu di bawahnya. Dari lubang ini bisa disaksikan panorama Teluk Ambon yang indah.

Sementara dari atas bukit, pengunjung dapat memuaskan pandangan ke arah laut. Laut saat itu sedang surut sehingga batu-batu karang di sekeliling Pintu Kota seolah bermunculan dari dasar laut. Perpaduan batu karang berlubang dengan batu-batu karang kecil disekelilingnya serta hamparan laut luas menjadikan pemandangan di kawasan ini menjadi lebih indah dan menyegarkan mata.

Tanpa berlama-lama saya pun segera menuruni bukit menuju kawasan pantai. Terlihat beberapa pengunjung sedang asyik berduaan di beberapa tempat memanfaatkan sepinya kawasan pantai. Sementara di dekat Pintu Kota tampak sebagian pengunjung sedang berfose dan sesekali membasahi kakinya dengan air laut yang menerjang dengan halus.

Tidak terlihat adanya pengunjung yang mencoba berenang di tepian pantai. Dengan kontur pantai yang dipenuhi batu-batu karang, tampaknya menyulitkan pengunjung untuk berenang. Hal ini mungkin yang menyebabkan tempat wisata ini sepi pengunjung. Para wisatawan, khususnya wisatawan setempat, tampaknya lebih memilih kawasan wisata lain yang memiliki pantai yang landai seperti Natsepa dan Liang di sebelah timur pulau Ambon.

Secara keseluruhan kawasan wisata Pintu Kota cukup mengasyikan dan layak dikunjungi wisatawan, baik domestik maupun manca negara. Hanya saja agar kecantikan Pintu Kota dan berbagai kawasan wisata lainnya di Maluku dapat lebih menggoda wisatawan untuk datang perlu pembenahan infrastuktur dan diikuti dengan pembenahaan aspek manajerial pengelolaan tempat wisata secara lebih profesional mulai dari pengelolaan transportasi, penginapan hingga penyebarluasan informasi. Kalau saja hal ini bisa dilakukan, niscaya kawasan wisata bahari di Maluku bisa menyaingi Bali. Apalagi melalui rempah-rempah, Maluku sudah sejak lama dikenal dunia.

19.9.10

Mata-mata Israel di Bumi Cinta

Sebuah jaringan clandestein organisasi intelijen Israel, Mossad, yang berkedudukan di Moskow, Rusia, merencanakan sebuah aksi pengeboman di sebuah hotel yang terletak pusat keramaian kota. Dalam aksi pengemboman ini diskenariokan bahwa pelakunya adalah seorang muslim berhaluan keras. Tujuannya untuk memperburuk citra Islam di mata dunia dan lebih memudahkan perjuangan kaum Yahudi di Palestina.

Untuk menjalankan skenario tersebut, agen-agen intelijen Mossad di Moskow dibawah pimpinan Ben Solomon telah menyepakati bahwa orang Islam yang akan dijadikan kambing hitam adalah Mohammad Ayyas, seorang mahasiswa pasca sarjana asal Indonesia yang sedang melakukan penelitian mengenai Islam di Rusia.

Ayyas dipilih sebagai calon korban karena selain seorang muslim yang taat, secara kebetulan ia tinggal satu apartemen dengan salah satu agen Mossad yang cantik jelita bernama Lorna. Kebersamaan dalam satu apartemen memudahkan Ben Solomon dan kelompoknya mempersiapkan jebakan bagi Ayyas. Lewat Lorna, yang secara diam-diam memasang kamera tersembunyi di kamar Ayyas, setiap gerakan Ayyas dapat dipantau dan direkam. Selain itu Lorna pun dapat dengan mudah menyusupkan bahan pembuat bom di kamar Ayyas sebagai barang bukti yang memperkuat kesan bahwa Ayyas lah pelakunya.

Untuk mematangkan aksinya, Ben Solomon dan kawan-kawan juga mengkondisikan segala sesuatunya, misalnya menampilkan kehadiran Ayyas palsu di hotel (yang dibuat berdasarkan rekaman yang dibuat Lorna) serta menjalin hubungan dengan pihak keamanan dan kalangan media Rusia. Sehingga ketika peledakan terjadi, tidak lama kemudian pihak keamanan Rusia bisa langsung menuding Ayyas sebagai pelakunya dan media langsung memberitakan bahwa gerakan teroris muslim lah yang berada dibalik aksi pengeboman.

Dengan segala jebakan yang telah tersusun rapih tersebut, apakah Ayyas mampu lolos dan terhindar dari marabahaya yang mengancamnya? Apakah Ayyas akhirnya mengetahui jika Lorna yang tinggal satu apartemen dengannya ternyata agen dinas rahasia Mossad? Sebagai orang bujangan, apakah Ayyas juga mampu menghindarkan diri godaan Lorna yang jelita dan seksi? Dan pertanyaan yang juga tidak kalah pentingnya adalah apakah Ayyas mampu menyelesaikan penelitiannya dengan baik?

Semua pertanyaan di atas tentu saja memerlukan jawaban. Dan jawaban untuk semua pertanyaan itu terdapat dalam novel karya Habiburrahman El Shirazy “Bumi Cinta”. Novel ini merupakan karya terbaru Habiburrahman El Shirazy (HES), setelah dua novelnya terdahulu “Ayat-ayat Cinta (AAC)” dan “Ketika Cinta Bertasbih (KCB)” (keduanya sudah difilmkan dengan judul yang sama).

Seperti kedua novelnya terdahulu, dalam novelnya kali ini HES kembali mengeluarkan resep yang lazimnya dijumpai dalam novel dan film spionase khas James Bond 007 yaitu sang tokoh utama tampil dikelilingi wanita-wanita cantik di sekitarnya. Jika dalam novel dan film James Bond tokohnya utamanya adalah sosok agen rahasia Inggris yang tampan, maka dalam novel-novel HES tokoh utamanya adalah sosok pemuda muslim Indonesia yang pintar dan alim serta ulet. Tidak ada yang keliru dengan pemilihan resep ini karena bagaimanapun tokoh-tokoh yang terdapat dalam novel-novel HES hanyalah medium untuk meneruskan pesan moral yang ingin disampaikannya.

Dalam AAC kita dapat melihat bahwa Fahri sang tokoh utama adalah pemuda muslim Indonesia yang sedang belajar di Kairo Mesir. Fahri digambarkan sebagai pemuda yang alim dan disukai banyak sahabat wanitanya. Beberapa wanita cantik yang berada di sekitar Fahri adalah Nurul, Noura, Aisha dan Maria Girgis. Sedangkan dalam KCB tokoh utamanya adalah Azzam seorang pemuda muslim Indonesia yang juga sedang belajar di Kairo, Mesir, yang selain pintar dan alim juga ulet dalam berusaha dengan berjualan tempe. Bahkan karena keuletannya berjualan tempe, Azzam mampu membiayai sekolah adik-adiknya di Indonesia. Dalam kehidupan kesehariannya, tokoh Azzam setidaknya dikelilingi tiga wanita cantik Anna, Elliana, dan Husna.

Yang membedakan antara AAC dan KCB dengan Bumi Cinta adalah lokasi cerita yang tidak lagi di Kairo tetapi di ibukota Rusia, Moskow. Tokoh utama dalam Bumi Cinta adalah Ayyas, seorang pemuda muslim Indonesia yang sedang menempuh pendidikan S-2 di New Delhi, India dan berada di Moskow atas permintaan pembimbingnya guna melakukan penelitian bagi penulisan tesisnya mengenai Islam di Rusia. Perbedaan lainnya adalah wanita-wanita cantik yang hadir di sekeliling tokoh utama adalah wanita-wanita bule non-muslim. Sehingga jangan dibayangkan jika wanita-wanita cantik dalam Bumi Cinta mengenakan jilbab sejak awal seperti dalam AAC dan KCB.

Pilihan Rusia sebagai setting cerita menurut saya merupakan pilihan yang cerdas dari penulisnya dalam menggabungkan latar belakang komunisme Rusia dengan syiar agama Islam. Apalagi bukan merupakan suatu rahasia jika sebagai mbahnya komunis, negeri beruang merah tersebut tidak terlalu menaruh hormat kepada ajaran-ajaran agama. Dan bagi Indonesia sendiri ajaran komunisme masih memiliki trauma yang berkepanjangan pasca pemberontakan G30S/PKI.

Bagi tokoh utamanya sendiri, kondisi Rusia yang komunis dan kebebasan pasca runtuhnya Partai Komunis Uni Soviet (PKUS) menjadi tantangan tersendiri. Runtuhnya PKUS selain memporakporandakan Uni Soviet, juga menjadikan masyarakat Rusia kehilangan kendali dan berusaha mengekspresikan kebebasan sebebas-bebasnya termasuk dalam kehidupan seksual. Hal ini antara lain terlihat dari data pengakses situs porno di internet yang ternyata berasal dari Rusia. Selain itu pasangan kumpul kebo juga sangat banyak jumlahnya. Di tengah kondisi seperti ini Ayyas harus berjuang keras menghadapi godaan wanita-wanita cantik seperti Yelena, Linor dan Anastasia.

Cerita menjadi semakin menarik karena seperti telah disinggung di awal tulisan ini, HES mengikutsertakan keterlibatan Yahudi yang selalu ingin mendiskreditkan umat muslim di seluruh dunia. Meski tidak diceritakan secara detail operasi intelijen Mossad, kecuali yang terkait dengan Ayyas, pembaca dapat mengikuti bagaimana suatu operasi intelijen dijalankan, khususnya dalam menjebak calon korbannya. Tidak sampai disitu, HES pun menceritakan pergolakan bathin Lorna sebagai mata-mata Israel melawan Palestina dan pada bagian akhir terdapat kejutan-kejutan yang mungkin tidak diduga oleh pembacanya.

Hal lain yang juga menarik dari novel ini adalah cara HES menggambarkan detail kota Moskow dengan baik. Sehingga tidak terasa pembaca seolah sedang berada di kota tersebut. Salah satu tempat yang digambarkan dengan detail adalah suasana stasiun kereta bawah tanah yang sangat terkenal di Moskow. Berbeda dengan berbagai stasiun kereta bawah tanah di Eropa, stasiun kereta bawah tanah di Rusia bukan hanya bersifat fungsional tetapi juga sebagai show room karya seni. Stasiun dibangun dengan material kelas satu yang didatangkan dari berbagai tempat di dunia, misalnya untuk marmernya secara khusus didatangkan dari Italia. Sehingga ketika berada di stasiun kita seolah berada di bawah museum bawah tanah. Hal ini saya rasakan sendiri ketika berkunjung ke Moskow beberapa waktu yang lalu, rasanya saya ingin berlama-lama di stasiun kereta api yang kokoh dan berada di kedalaman sekitar 70 meter dibawah permukaan tanah.

Secara keseluruhan novel ini sangat menarik. Selain diajak mengenal kota Moskow, pembaca juga diajak membangun jiwa lewat percakapan-pecakapan bernas antar tokoh-tokohnya dan contoh-contoh yang digambarkan dalam novel tersebut. Ach rasanya sudah tidak sabar untuk menyaksikan versi layar lebarnya dan melihat apakah visualisasinya seindah novelnya.

27.6.10

Melongok ASEAN Center di Moskow

Dibandingkan hubungan ASEAN dengan negara mitra lainnya, hubungan ASEAN-Rusia relatif lebih muda. Tahun 2011 mendatang, hubungan ASEAN-Rusia baru menginjak tahun ke-15, bandingkan dengan hubungan ASEAN-Uni Eropa yang sudah lebih dari 30 tahun. Meskipun relatief muda, akselerasi hubungan keduanya justru tidak ketinggalan dengan mitra-mitra ASEAN lainnya. Di level hubungan kepala negara/pemerintahan misalnya, ASEAN-Rusia telah sekali menyelenggarakn Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN-Rusia di Kuala Lumpur pada tahun 2005. Direncanakan KTT ke-2 ASEAN-Rusia akan diselenggarakan kembali pada bulan Oktober di Ha Noi, Vietnam.

Akselerasi hubungan ASEAN-Rusia ini tentu saja menarik mengingat pada masa Perang Dingin, negara-negara anggota ASEAN terbelah dalam poros Timur-Barat. Negara-negara Indochina yang merupakan negara sosialis yaitu Vietnam, Laos dan Kamboja sangat dekat ke Rusia (saat itu Uni Soviet). Sementara sebagian besar negara anggota ASEAN lainnya lengket dengan negara-negara Barat yang dipimpin AS.

Berbeda dengan hubungan semasa Uni Soviet, kini hubungan ASEAN-Rusia tidak lagi terbatas pada hubungan antar negara, tetapi telah berkembang pada tingkatan yang lebih luas. Kini hubungan keduanya telah pula melibatkan peran serta masyarakat di ASEAN dan Rusia. Kesempatan bekerjasama di berbagai bidang, misalnya pendidikan, penelitian ilmiah dan kemanusiaan, pun menjadi lebih terbuka.

Dalam konteks ini, tidak mengherankan jika kemudian ASEAN dan Rusia menyepakati pembentukan ASEAN Center di Moscow State Institute of International Relations Moscow State Institute of International Relations (University) of the Ministry of Foreign Affairs of the Russian Federation (disingkat MGIMO-University). Dipilihnya MGIMO University memperlihatkan arti penting ASEAN di mata Rusia dan kesungguhan untuk meningkatkan hubungan ASEAN dan Rusia.

MGIMO University sendiri merupakan sebuah perguruan tinggi terkemuka di Rusia yang fokus pada studi hubungan internasional. Universitas ini didirikan pada tahun 1944 dan berada dibawah Kementerian Luar Negeri Rusia. Banyak alumni MGIMO University yang kini telah menduduki berbagai jabatan penting di pemerintahan dan akademi ilmu pengetahuan Rusia serta lembaga-lembaga penelitian Internasional, salah satunya adalah Menlu Rusia Sergey Lavrov.

Namun bukan karena alumni MGIMO University jika kemudian Menlu Sergei Lavrov lah yang meresmikan ASEAN Center pada tanggal 15 Juni 2010. Menlu Lavrov meresmikan Center ini karena melihat pembentukan ASEAN Center di Moskow penting guna mengisi gap dalam hubungan bilateral Rusia-ASEAN.

Dalam acara peresmian Center, Menlu Lavrov mengatakan bahwa peresmian ini tidak terlepas dari perlunya kebutuhan akan suatu lembaga yang dapat mendorong kesadaran publik di Rusia dan bangsa-bangsa Asia Tenggara mengenai pentingnya kemitraan Rusia-ASEAN dan adanya dasar untuk menciptakan kemitraan antara akademisi dan pengusaha serta meningkatkan hubungan humaniter Rusia-ASEAN. Kebutuhan ini dirasakan penting mengingat selama ini belum tampak peningkatan yang signifikan, terutama di sektor kerjasama ekonomi dan perdagangan, termasuk turisme.

Hadir dalam acara peresmian ini seluruh ketua dan anggota delegasi 7th ASEAN-Russia Senior Officials Meeting (SOM) yang baru saja mengadakan pertemuan pada tanggal 14-15 Juni 2010, termasuk Dirjen Kerjasama ASEAN Kemlu RI Djauhari Oratmangun, Dubes negara-negara anggota ASEAN di Moskow, dan para dosen serta sejumlah mahasiswa MGIMO.

Usai acara peresmian dilanjutkan dengan peninjauan ke kantor ASEAN Center yang terletak di lantai 4 gedung baru MGIMO University. Kantor Center menempati salah satu ruang berukuran sekitar 8×4 meter. Di ruang ini dipajang koleksi buku-buku tentang ASEAN dan Rusia karya penulis dari negara anggota ASEAN dan Rusia. Dari Indonesia tampak buku karya wartawan Kompas, Simor Saragih, “Bangkitnya Rusia, Peran Putin dan Eks KGB”, dan “Vodka, Cinta dan Bunga” karya staf KBRI Moskow, Aji Surya. Selain itu dipajang pula benda-benda kerajinan dari negara anggota ASEAN, seperti batik dan Wayang dari Indonesia.

Mengomentari pembentukan ASEAN Center ini, Dirjen ASEAN Kemlu RI, Djauhari Oratmangun, mengharapkan Center dapat menjadi batu pijakan kerjasama riset dan mempererat hubungan ASEAN-Rusia. Sementara Dubes RI Hamid Awaludin yang juga hadir pada acara peresmian mengemukakan bahwa pembentukan Center dilakukan pada saat yang tepat dan senang karena peresmiannya dilakukan disaat peringatan 60 tahun hubungan bilateral Indonesia-Rusia. Sehingga Center ini dapat pula dimanfaatkan untuk mempromosikan Indonesia di Rusia.

Sebagai penutup dapat disampaikan bahwa ASEAN Center ini dipimpin oleh Dr. Victor Sumsky, seorang pakar Asia Tenggara/Studi Oriental di MGIMO University dan peneliti senior di Institute of World Economy and International Relations Moskow (IMEMO) serta seorang Indonesianis terkemuka di Rusia. Dana untuk menjalankan kegiatan ini berasal dari Russia-ASEAN partnership Fund. Dana tersebut digunakan antara lain untuk membayar tenaga ahli dan melakukan kegiatan penelitian. Selain itu akan digunakan pula untuk membuat portal internet yang berisikan informasi tentang berbagai hal dalam hubungan ASEAN-Rusia. Saat ini Portal tersebut akan ditampilkan dalam bahasa Rusia dan Inggris, namun kedepannya direncanakan akan ditampilkan juga dalam bahasa semua negara anggota ASEAN.

12.6.10

Solo dan Warisan Budaya Jawa

Solo atau Surakarta di sebelah mananya Yogyakarta? Begitu umumnya pertanyaan yang muncul ketika berbicara tentang Solo. Begitu pun ketika berbicara tentang budaya Jawa, banyak orang yang lebih menengok Yogyakarta dibanding Solo. Bagi orang Jawa, pertanyaan tersebut sepertinya terdengar aneh, namun tidak bagi masyarakat di luar Jawa dan orang asing. Bagi mereka Yogyakarta lebih beken dibanding Solo.

Dalam konteks ini lah upaya Komunitas Blogger Bengawan Solo untuk menyelenggarakan Sharing Online Lan Offline (SOLO) pada tanggal 4-5 Juni 2010 patut diapresiasi sebagai upaya untuk lebih memperkenalkan Solo dan segala potensi yang dimilikinya. Melalui acara yang dikemas secara santai, blogger Solo memperkenalkan kotanya lewat kunjungan ke kampung batik, susur sungai Bengawan Solo dan tak ketinggalan pertunjukan musik keroncong.

Dari perbicangan selama mengikuti kegiatan SOLO, diketahui bahwa alasan dipilihnya batik sebagai jendela untuk mengintip kota Solo tidak terlepas dari upaya membranding Solo sebagai kota batik dan kota yang mewarisi nilai-nilai budaya Jawa (the spirit of Java). Bahkan untuk membranding Solo sebagai kota batik, Walikota Solo Joko Widodo saat bertemu dengan para blogger menyampaikan bahwa setiap tahunnya di Solo digelar Solo Batik Carnival yang pada tahun ini akan dilaksanakan pada tanggal 23 Juni 2010. Pada kegiatan karnaval yang dilakukan di jalan-jalan utama kota Solo, akan ditampilkan lebih dari 350 orang peserta yang berpakain batik dengan desain khusus. Dan tahun ini kegiatan tersebut menjadi lebih istimewa karena bersamaan dengan Solo sebagai tuan rumah APMCHUD (Asia Pacific Minister`s Conference on Housing and Urban Development) yang akan dihadiri ratusan delegasi dari berbagai negara di Asia Pasifik.

Pilihan batik dan warisan semangat budaya Jawa sebagai langkah branding kota Solo tentu saja tidak keliru, karena bagaimanapun bagi masyarakat Solo, batik dan budaya Jawa merupakan dua hal yang tak terpisahkan. Sudah sejak lama masyarakat Solo mengenakan batik, baik dalam acara-acara di keraton maupun dalam kehidupan sehari-hari. Di samping itu, di Solo pula kita dapat menemukan jejak-jejak sejarah kekuasaan dan kebudayaan Jawa.

Melongok sejenak sejarah kota Solo, maka kita akan mendapatkan bahwa kota Solo didirikan pada masa Kesultanan Mataram tahun 1745 di desa Sala di tepi Bengawan Solo dan pernah menjadi pusat pemerintahan pada masa akhir Kesultanan tersebut. Ketika pada akhirnya Mataram pecah, Solo kemudian menjadi pusat pemerintahan Kasunanan Surakarta dan Praja Mangkunegaraan.

Dalam perkembangannya, kedua kraton Solo pewaris sejarah Jawa ini memang kalah pamor dibandingkan dengan Kesultanan Yogyakarta dibawah kepemimpinan Sri Sultan Hamengkubuwono. Namun demikian peran Solo sebagai salah satu pewaris nilai-nilai budaya Jawa tetaplah penting. Berbagai bangunan bersejarah, produk kesenian, dan makanan khas masih dapat dijumpai di Solo, salah satunya adalah Kampung Batik Laweyan.

Kampung Batik Laweyan merupakan kawasan sentra batik di Kota Solo yang menurut sejarahnya sudah ada sejak jaman kerajaan Pajang tahun 1546. Dalam sejarah perkembangannya, ketika Solo menjadi kota dagang penting, pernah berdiri Syarikat Dagang Islam pada tahun 1905. Karenanya pula tidak mengherankan jika di kampung batik Laweyan ini sangat terasa nuansa Islaminya. Hal ini antara lain terlihat dari keberadaan Masjid Laweyan yang dibangun pada tahun 1546 oleh pemiliknya Kyai Ageng Beluk guna menunjang dakwahnya.

Melongok kawasan kampung batik ini, kita akan melihat suatu kawasan yang didesain dengan konsep terpadu, tempat ratusan pengerajin batik membuat dan menjual berbagai motif batik seperti Tirto Tejo dan Truntum dengan harga yang bervariasi. Disini para blogger diajak mengelilingi gang-gang sempit perumahan penduduk yang berpagar tembok tinggi. Mengingat sejarahnya dan arti penting kawasan ini, Pemerintah Kota Solo pun sudah sejak lama melindungi bangunan yang memiliki kekayaan arsitektur Jawa kuno dan membina kelangsungan industri kerajinan batik di kawasan ini, serta menjadikannya sebagai kawasan wisata sejarah.

Sementara itu melalui kegiatan susur Bengawan Solo para blogger diajak melihat langsung kondisi lingkungan sungai Bengawan Solo yang legendaris sambil diajak memahami nilai-nilai sejarah yang melekat dengan sungai ini. Di tepi sungai inilah pertama kali didirikan bangunan Kesultanan Mataram, pendahulu Kasunanan Surakarta dan Praja Mangkunegaraan.

Secara keseluruhan acara berlangsung apik dan berhasil untuk memperkenalkan salah satu bagian kota Solo. Namun tentu saja waktu 1-2 hari belum cukup untuk menjawab keingintahuan para blogger tentang Solo dan memahami nilai-nilai yang terkandung dalam the Spirit of Java. Semoga pada acara berikutnya bisa ditampilkan sisi Solo yang lainnya.

Menutup kegiatan, para blogger peserta Sharing Online Lan Offline dimanjakan alunan musik keroncong, dimana salah seorang cucu Alm. Gesang menjadi penyanyinya. Tanpa basa basi para blogger langsung dibawa ke alam bawah sadar lewat tembang Bengawan Solo di nomor pembuka dan selanjutnya mengalir sampai jauh ...

Bengawan Solo
Riwayatmu ini
Sedari dulu jadi
Perhatian insani

Musim kemarau
Tak seberapa airmu
Di musim hujan, air
meluap sampai jauh

Mata airmu dari Solo
Terkurung Gunung Seribu
Air mengalir sampai jauh
Akhirnya ke laut

Itu perahu
Riwayatmu dulu
Kaum pedagang selalu
Naik itu perahu

4.4.10

Memasak Telor di Kawah Domas

Kawasan wisata Gunung Tangkuban Perahu di Lembang, Bandung dikenal sebagai kawasan wisata yang menyajikan keindahan alam pegunungan dan kawah yang masih aktif seperti Kawah Ratu, Upas dan Domas. Dari puncak Gunung Tangkuban Perahu di ketinggian 1860 meter, kita bisa melihat Kawah Ratu yang masih aktif seperti sebuah mangkuk raksasa dengan lekukan-lekukan tanah pada dindingnya. Suatu pemadangan alam yang luar biasa indahnya dan sekaligus memperlihatkan kebesaran Allah SWT.

Memanfaatkan libur Paskah (3 April 2010), kami sekeluarga pun mengunjungi tempat wisata Tangkuban Perahu tersebut. Kami menempuh perjalanan ke arah Lembang yang berjarak sekitar 30 KM dari Kota Bandung. Setibanya di tempat tujuan, awalnya kami akan masuk dari pintu 2, tapi oleh petugas diarahkan ke pintu 1 (sekitar 1 KM dari pintu 2) karena jalan dari pintu 2 rusak berat dan sulit dilalui kendaraan. Di pintu masuk pengunjung dikenakan biaya sebesar Rp. 13.000,- per orang, parkir kendaraan roda empat sebesar Rp. 1.500,- (untuk bis dikenakan tarif sebesar Rp. 8.500,-). Khusus untuk kendaraan roda 4 dan sepeda motor bisa langsung diparkir hingga bibir Kawah Ratu. Sementara untuk bis disiapkan tempat parkir di bagian bawah.


Di puncak Kawah Ratu ini, para pengunjung bisa berfoto ria dengan menampilkan pemandangan alam puncak Gunung Tangkuban Perahu sebagai latar belakang. Selain wisatawan domestik, banyak pula wisatawan mancara negara seperti dari Eropa, Jepang, China dan Malaysia yang mengabadikan keindahan alam di kawasan ini. Lelah berjalan dan menikmati pemandangan, wisatawan dapat menikmati beragam penganan seperti jagung dan uli bakar, pisang dan tahu goreng, bakso atau mie rebus siap saji. Selain itu wisatawan juga bisa membeli cinderamata seperti kaos, selendang, topi, gelang, cincin, batu alam, tanaman bonsai hingga angklung dan senjata khas Jawa Barat.

Seperti telah sedikit disinggu di atas, selain Kawah Ratu, ada juga kawah aktif lain di kawasan Tangkuban Perahu yaitu Kawah Domas. Untuk mencapai Kawah Domas, kita bisa turun langsung dari Kawah Ratu menyusuri jalan setapak sepanjang 1,2 KM. Bagi yang tidak terbiasa dengan wisata alam, menuruni jalan setapak ini bisa cukup melelahkan. Hutannya yang masih hijau dan rimbun menjadikan perjalanan menuju Kawah Domas cukup mengasyikan. Jika anda tidak cukup kuat menyusuri langsung jalan setapak dari Kawah Ratu, anda bisa mengambil jalan pintas dari arah lain yang terletak di bagian tengah gunung. Dari sini perjalan ke Kawah Domas memang lebih mudah dan hanya perlu waktu sekitar 30 menit berjalan kaki.

Berbeda dengan Kawah Ratu yang hanya dapat dinikmati keindahannya dari puncak gunung, maka Kawah Domas dapat didatangi secara langsung. Di kawah yang masih aktif ini wisatawan dapat merasakan langsung bau belerang dan menikmati kehangatan air kawah yang meletup-letup. Semburan air panasnya yang berkisar antara 94-98 derajat Celcius bisa menjadi sensasi dan pengalaman baru. Kita dapat relaks dengan merendamkan kaki di kehangatan air kawah. Dengan memanfaatkan jasa tukang pijat, kita juga bisa merasakan nikmatnya pijatan menggunakan lumpur kawah.

Yang tidak kalah mengasyikan, kita juga dapat merebus telor selama sekitar 10 menit. Telor bisa didapatkan dari pedagang yang terdapat di lokasi ini. Harganya Rp 2.500,- per butir. Telor yang direbus selama 10 menit ini dijamin matang dan dapat disantap ditempat (sambil merendamkan kaki di kehangatan air kawah). Tidak ada perubahan rasa dari telor yang disantap, rasanya sama seperti kita merebus telor menggunakan air panas biasa. Anda ingin mencoba? Silahkan luangkan waktu libur anda ke kawasan Gunung Tangkuban Perahu dan mampir lah di Kawah Domas.

2.4.10

Jumatan di Kampung Alor, Dili

Waktu menunjukkan pukul 12.00 ketika Jumat (27 maret 2010) saya tiba di masjid An Nur Kampung Alor, Dili. Pelataran masjid yang pada hari-hari lain terlihat lowong, pada hari Jumat justru disesaki kendaraan roda empat. Bukan hanya pelataran, sisi jalan menuju mesjid dan tanah kosong di seberangnya pun (tepat di Kedutaaan Australia) sudah dipenuhi kendaraan. Sebagian besar adalah kendaraan berwarna putih dengan tulisan “UN” pada kedua sisinya.

Menurut seorang warga Kampung Alor asal Sulawesi yang bernama Amirudin, masjid An Nur sebagai salah satu masjid yang ada di kota Dili memang selalu ramai dihadiri warga muslim Timor Leste yang akan menunaikan ibadah sholat Jumat. Kehadiran anggota Pasukan Keamanan PBB yang berasal dari negara yang banyak penduduk muslimnya seperti Mesir, Malaysia dan Nigeria pun semakin meramaikan masjid. Mereka inilah yang menyesaki pelataran masjid dengan kendaraan dinas PBB-nya,

Memasuki masjid, terlihat para jamaah sudah memenuhi seluruh ruangan. Sama seperti sholat Jumat di Indonesia, para jamaah yang hadir pun mengenakan pakaian sehari-hari yang bebas dan rapih plus kopiah, termasuk polisi PBB yang sebagian besar masih mengenakan seragam dinasnya (lengkap dengan pistol di pinggang). Sementara sebagian jamaah lain yang baru datang tampak sedang mengambil wudlu di sisi kanan masjid. Selain tempat untuk jamaah pria, di sisi kiri masjid disiapkan pula tempat untuk jamaah wanita.

Usai menunaikan sholat sunnah, saya pun duduk bersilah di atas lantai ubin teraso, yang sebagian besar sudah tidak mulus lagi. Saya bergabung dengan sekitar 300 orang jamaah untuk mendengarkan kotbah dalam bahasa Indonesia. Sebagian besar jamaah terlihat tekun mendengarkan apa yang disampaikan khotib, termasuk polisi PBB asal Nigeria dan Mesir yang tidak mengerti bahasa Indonesia, sementara sebagian jamaah lainnya terlihat terkantuk-kantuk.

Usai shalat Jumat, para jamaah pun segera membubarkan diri untuk melanjutkan pekerjaan masing-masing. Samad, seorang anggota polisi PBB asal Malaysia dan akan mengakhiri tugasnya pada bulan Oktober 2010 ini misalnya, segera bergegas kembali ke posnya yang tidak bisa ditinggalkan berlama-lama. Bahkan ketika hujan belum reda (kebetulan hujan turun bertepatan usainya sholat Jumat), Samad segera menuju Mitsubishi Pajeronya bersama beberapa polisi PBB lainnya asal Malaysia. Sementara Amirudin, yang meskipun tinggalnya tidak jauh dari masjid di Kampung Alor ini, juga bergegas untuk kembali menunggui dagangannya. Meskipun demikian, di beberapa orang lainnya, sambil menunggu hujan reda, terlihat tengah asyik berbincang satu sama lain. Bahkan dari logat bicaranya terasa sekali kalau mereka adalah pendatang asal Jawa Timur.

Menurut sejarah yang dikutip dari buku "Islam di Timor Timur" karya Ambarak A. Bazher (Gema Insani 1995), Masjid An Nur didirikan pada tahun 1955 atau 1956 atas inisiatif Imam Haji Hasan Bin Abdulah Balatif Kepala Kampung Alor dan masyarakat muslim Dili. Pendirian ini direstui oleh Kepala Suku Arab saat itu, Hamud bin Awad Al-Katiri. Dalam perkembangannya kemudian terbentuk perkampungan Islam seperi sekarang ini.



Karena kerusakan disana-sini, pada awal tahun 1980-an masjid ini diperbaiki dan diresmikan kembali oleh Pangdam IX/Udayana Mayjen Dading Kalbuadi pada tanggal 20 Maret 1981. Masjid An Nur ini memiliki dua lantai, lantai pertama untuk tempat sholat sementara lantai kedua digunakan sebagai ruang sekolah. Di bagian tengah masjid terdapat sebuah taman yang mungkin maksudnya digunakan sebagai penyejuk ruang alami. Di pojok kanan terdapat perpustakaan sederhana dimana buku-buku Islam dan beberapa keping CD di letakkan di dua buah rak kayu.

Berdiri sejak tahun 1955, tentu saja masjid ini memiliki catatan sejarah panjang kehadiran umat Islam di Timor Timur, baik pada masa Portugis, saat berintegrasi dengan Indonesia maupun ketika akhirnya menjadi Timor Leste.

Ketika Timor Leste dibawah Portugis, oleh masyarakat di Kampung Alor Masjid An Nur ini dijadikan sebagai salah satu tempat perjuangan politik untuk mengusir Portugis. Masjid ini pun pernah menjadi salah satu basis perjuangan proses integrasi Timor Timur dengan Indonesia. Ambarak A Bazher misalnya menyebutkan peran tokoh-tokoh umat Islam Timor Timur seperti H. Salim Bin Said Al-Katiri, Hedung Bin Abdullah dan Sya’ban Joaqim dalam meminta bantuan rakyat dan pemerintah Indonesia.

Ketika Timor Timur akhirnya menjadi Timor Leste, umat muslim, khususnya yang berasal dari Indonesia, sempat mengalami pengalaman tidak mengenakkan terkait dengan status kewarganegaraan mereka. Pada tahun 2004 misalnya, meski di Pengadilan yang dipimpin hakim internasional, Emiliano dos Reis, mereka tidak dianggap melanggar Undang-undang Imigrasi dan Suaka nomor 9/2003, sekitar 247 warga muslim asal Indonesia tetap diusir secara paksa (deportasi) dan menggunakan kekerasan untuk keluar dari Timor Leste. Sayangnya ketika kejadian tersebut berlangsung, tokoh-tohoh HAM yang selama masa integrasi lantang bersuara justru terkesan diam saja.

Kini, enam tahun setelah pengusiran tersebut di atas, kehidupan umat islam di Timor Leste tampaknya mulai normal kembali. Hal tersebut setidaknya tampak dari ramainya sholat Jumat dan berjalannya sekolah yang dikelola pengurus masjid An Nur. Masyarakat Indonesia yang tinggal di kampong Alor pun sudah bisa menjalankan kegiatannya kembali seperti berdagang, dan sebagian diantaranya telah menjadi Warga Negara Timor Leste. Lebih jauh, mengutip omongan Presiden Pusat Komunitas Islam Timor Leste, Arief Abdullah Sagran, "Tidak ada intimidasi karena agama di Timor Leste meskipun kami minoritas." Semoga


29.3.10

Perjalanan ke Balibo, dari Deklarasi hingga Film

Sabtu, 27 Maret 2010, cuaca sangat cerah ketika rombongan kami yang terdiri dari Duta Besar Agus Tarmidzi (Penasehat khusus ASEAN Kemlu Timor Leste), Victor Sambuaga (Sekretaris I Politik KBRI Dili) , Gatot H. Gunawan (Staf Direktorat Jenderal ASEAN Kemlu RI), Florence Pattipeilohy (Staf Politik KBRI Dili) dan saya sendiri meninggalkan Dili. Tujuan akhir dari perjalanan ini adalah Kota Maliana yang berjarak sekitar 100-an km dari Dili. Namun karena dalam perjalanan ke Maliana kami juga melewati Balibo, sebuah kota kecil yang terletak di dataran tinggi distrik Bobonaro atau sekitar 20 km sebelum Maliana, kami pun tidak melewatkan kesempatan untuk menyinggahi kota ini.

Balibo menjadi tempat yang patut disinggahi karena di tempat inilah tercatat salah satu episode sejarah hubungan Indonesia-Tinor Leste dimana lewat Deklarasi Balibo yang diproklamirkan pada tanggal 30 November 1975, sebagian masyarakat Timor Timur berkeinginan untuk berintegrasi dengan Indonesia. Nama Balibo juga menjadi daya tarik tersendiri karena menurut film Balibo 5 produksi Arenafilm Australia dan disutradarai Robert Connolly, di Balibo lah 5 awak jaringan televisi Australia terbunuh ketika sedang meliput berita. Film ini menjadi kontroversial dan dilarang peredarannya di Indonesia karena dipandang dapat menguak luka lama integrasi Timor Timur ke Indonesia, khususnya dikaitkan dengan keterlibatan Pasukan Khusus TNI dalam peristiwa kematian 5 awak televisi tersebut.

Untuk mencapai Balibo dari Dili setidaknya dibutuhkan waktu 3,5 jam perjalanan darat melewati jalan berkelok-kelok dan penuh lubang menyusuri pantai Timor hingga Batu Gade. Dari Batu Gade, kendaraan dibelokkan ke kiri menanjaki dataran tinggi dimana kota Balibo berada. Sama seperti perjalanan dari Dili-Batu Gade, perjalanan menuju Balibo, selain menanjak, juga berkelak-kelok dan penuh lubang serta sesekali dihadapkan pada longsoran tanah dan batu dari bukit-bukit sepanjang jalan. Dengan kondisi jalan yang kuirang nyaman, tidak mengherankan jika seorang anggota rombongan kami sempat muntah karena tidak tahan menghadapi guncangan.

Sepanjang perjalanan yang mendaki, terlihat pohon-pohon sawit yang tidak terawat dan bangunan-bangunan rumah yang ditinggalkan penghuninya, bahkan sebagian di antaranya masih memperlihatkan sisa-sisa terjadinya perusakan.


Tepat di tengah kota Balibo, masih tampak berdiri monumen Deklarasi Balibo berupa patung seorang pria Timor bersarung yang sedang memegang bendera dan berkalung seutas tali yang terputus. Lokasi monumen Deklarasi Balibo ini sangat strategis di antara dua bukit kecil dan jalan utama antara Maleno (kota sebelum Maliana) dan Batu Gade. Karena letaknya yang strategis inilah, tempat ini dulunya sering menjadi medan pertempuran. Siapa yang bisa menguasa bukit akan lebih mudah mengontrol kawasan tersebut. Tidak mengherankan jika di salah satu bukit terdapat benteng peninggalan Portugis (sekarang disana digunakan sebagai tempat berdirinya menara telekomunikasi), sementara di bukit satunya digunakan sebagai bangunan tempat tinggal dan pemakaman.

Monumen Deklarasi Balibo dibangun untuk mengenang ditandatangainya deklarasi yang mendukung integrasi Timor Timur dengan Indonesia oleh 4 partai politik yaitu Associacao Popular Democratica de Timur (Apodeti) yang dipimpin Arnoldo dos Reis Araujo dan Jose Fernando Osario Soares, Uniao Democratica Timorense (UDT) pimpinan Francisco Xavier Lopes da Cruz da Dominggos Olivera, KOTA (Klibur Oan Timur Aswin) pimpinan Jose Martin dan Partai Trabalista pimpinan A Barao.

Menurut Hendro Subroto dalam bukunya “Saksi Mata Perjuangan Integrasi Timor Timur” keinginan keempat partai untuk berintegrasi dengan Indonesia dilandasai kesengsaraan dan kekejaman selama penjajahan Portugal lewat tangan Fretilin (Frente Revolucionaria de Timor Lesta Independence) yang sedang berkuasa. Deklarasi Balibo juga dimaksudkan untuk menandingi pernyataan kemerdekaan yang dicetuskan Fretilin secara sepihak pada 28 Nopember 1975 dengan menyatakan berdirinya “Republik Demokrasi Timor Timur”.

Monumen ini sekarang sudah tidak terawat, penjelasan tentang monumen ini pun sudah tidak tampak, yang ada justru coretan-coretan grafiti di beberapa bagian monumen. Konon ketika masih menjadi bagian Indonesia, di depan monumen ini terdapat sebuah gedung museum yang mendokumentasikan berbagai informasi tentang proses integrasi Timor Timur dan Deklarasi Balibo.

Dalam film Balibo 5, di kawasan sekitar monumen inilah diperkirakan 5 awak jaringan televisi Australia nekad menjemput ajalnya saat tentara Indonesia bertempur dengan Fretilin. Kenapa saya bilang nekad? Karena sebenarnya kelima orang tersebut telah diperingatkan, bahkan oleh pihak Fretilin sendiri untuk meninggalkan Balibo yang sangat berbahaya bagi keselamatan mereka. Tetapi demi mendapatkan berita eksklusif dan yakin bahwa sebagai jurnalis tidak akan menjadi sasaran tembakan, mereka tetap bertahan disana hingga akhirnya terjebak dalam pertempuran yang mengakhiri kehidupan mereka pada 16 Oktober 1975.

Tuduhan bahwa tentara Indonesia melakukan pembunuhan biadab dan pelanggaran HAM serta kebebasan pers pun kemudian bermunculan. Bahkan pada bulan Februari 2007 Pengadilan New South Wales menyatakan bahwa “Balibo 5 (maksudnya kelima awak televisi tersebut), ditembak dan atau ditikam langsung, bukan di tengah pertempuran, guna membungkam upaya mereka mengekspose gerakan tentara Indonesia ke Timor Timur pada tahun 1975”.

Meski tentara-tentara yang namanya disebutkan telah melakukan bantahan-bantahan, masalah ini masih terus dimunculkan dari waktu ke waktu, apalagi keputusan Pengadilan New South Wales ternyata diikuti dengan keputusan Polisi Federal Australia yang berkeinginan untuk membuktikan kematian Balibo 5. Mantan Menteri Penerangan Yunus Yosfiah yang menjadi tertuduh utama misalnya, telah beberapa kali membantah keterlibatannya dalam insiden Balibo 5. Menurutnya meski ia dan pasukannya pernah bertugas di Balibo, tapi saat kejadian ia tidak berada disana. Namun meski telah memberikan bantahan, namanya masih dikaitkan dengan tokoh Mayor Andreas yang diduga sebagai dirinya. Begitu pun halnya dengan mantan Gubernur DKI Sutiyoso, yang juga pernah bertugas di Timor Timur, telah memberikan bantahan mengenai keterlibatannya di Balibo. Anehnya, meski belum terbukti keterlibatannya dan telah memberikan bantahan, ketika Sutiyoso berkunjung ke Australia dirinya sempat akan ditangkap dan dipenjarakan disana.


Sementara itu di sebelah kanan monumen Deklarasi Balibo masih dapat disaksikan beberapa bangunan yang rusak parah dan tidak terurus. Sepertinya ditinggalkan penghuninya yang eksodus ke Timor Barat usai jajak pendapat tahun 1999. Adapun tidak jauh dari monumen terdapat prasasti yang dibuat Australia untuk menunjukkan narsisme tentaranya mengamankan Balibo usai pasca jajak pendapat. Dengan penuh kebanggaan Australia memahatkan rasa bangganya di kedua prasasti tersebut dengan menyatakan bahwa tentara negeri kanguru inilah yang pertama kali tiba di Timor Leste pada Septrember 1999 untuk menyelamatkan sebuah negara demokrasi dan mengamankan Timor Leste. Padahal ketika Indonesia memutuskan untuk mengintegrasikan Timor Timur sebagai salah satu propinsinya di tahun 1975, negeri yang mengaku sebagai Deputy Sherif AS ini pula yang memberikan dukungan pertama kepada Indonesia.

Sebagai sebuah kota kecil, tidak banyak penduduk yang tinggal di Balibo. Letaknya yang berada di ketinggian menyulitkan bagi warganya untuk bercocok tanam. Beda dengan Maliana yang berada di dataran rendah dan banyak memiliki daerah datar, yang memudahkan masyarakatnya untuk bercocok tanam, terutama bertanam padi. Ketika kami berkunjung tidak terlihat aktivitas dan keramaian warga, jalan dan rumah-rumah terlihat lengang, hanya terlihat beberapa anak kecil sedang bermain.

Karena letaknya yang berada di dataran tinggi, dari Balibo kita dapat melihat keindahan pemandangan alam di sekitarnya. Sepanjang mata memandang, tampak pegunungan menghijau dengan hiasan berupa awan putih berarak. Sementara itu jika memandangkan mata ke arah utara, akan tampat hamparan laut biru perairan Timor (dalam film Balibo 5, pemandangan laut didramatisir dengan kehadiran sejumlah besar kapal perang TNI-AL (kenyataannya, karena letaknya yang cukup jauh, sekitar 15 km, akan sangat sulit melihat kehadiran kapal perang dalam jumlah besar, apalagi jika harus melihat dengan mata telanjang).

Beberapa meter dari Monumen Deklarasi Balibo, terdapat sebuah gedung sekolah dasar yang dulunya dibangun Pemerintah RI sebagai Sekolah Dasar Negeri Balibo. Tampaknya tidak ada perubahan fungsi dari gedung tersebut, kecuali namanya yang dirubah menjadi sekolah dasar Timor Leste dan ditulis dalam bahasa Portugis. Sementara sebuah kantor yang mungkin dulunya digunakan sebagai kantor camat Balibo sekarang difungsikan sebagai kantor Pemerintah Sub-distrik Balibo.

Sama seperti kebanyakan warga Timor Leste, warga Balibo pun masih menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari, selain Tetun. Seorang warga Balibo yang melihat saya sedang melakukan aksi potret memotret sambil tersenyum menyampaikan salam dalam bahasa Indonesia. Sayang karena keterbatasan waktu, dan cuaca cerah berubah menjadi hujan, kami segera bergegas menuju perbatasan RI-Timor Leste di Motaen, Kabupaten Belu (sekitar 10 km dari Balibo). Hal ini harus segera kami lakukan agar jangan sampai perjalanan turun dari Balibo terhambat oleh longsoran tanah dan batu akibat hujan yang deras.

Demikian cerita persinggahan singkat kami di Balibo, walau singkat namun sangat bermanfaat . Setidaknya saya bisa membayangkan dan merasakan bagaimana suasana historis di kawasan ini. Saya membayangkan bagaimana para tentara Indonesia dan sebagian masyarakat Timor Timur berjuang untuk mengintegrasikan wilayahnya dengan bertempur dan mempertaruhkan nyawanya di medan yang berbukit-bukit. Saya juga dapat membayangkan bagamana lebaynya Australia mendefinisikan perannya di Timor Leste dan terkadang mendramatisir kejadiaan di Balibo dan memanfaatkan kejadiaan saat konflik terjadi di Timor Leste untuk menekan Indonesia.

Menghadapi pandangan dan sikap berbagai pihak yang mungkin ingin mendiskreditkan Indonesia, langkah yang tepat adalah bukan dengan melakukan berbagai larangan, tapi justru membuat informasi yang sifatnya terpadu. Dari film Balibo 5 kita bisa mengambil pelajaran bahwa film tetaplah bisa dijadikan sebagai media untuk promosi dan proganda. Untuk itu, hal sederhana yang bisa dilakukan adalah membuat film dari sudut pandang Indonesia. Dalam sejarah integrasi Timor Timur ke Indonesia, kita tidak bisa memungkiri bahwa sejarah Indonesia di Timor Timur telah menjadi fakta, karenanya menuliskan apa yang terjadi merupakan keniscayaan. Langkah ini lebih efektif dalam memunculkan citra positif Indonesia di dunia internasional serta bisa menjaga hubungan baik Indonesia dengan negara tetangganya seperti Australia dan tentu saja Timor Leste. Kita banyak memiliki sutradara handal yang dapat membuat film-film bermutu dan bukankah kita juga banyak memiliki pengalaman dalam membuat film perjuangan dengan Belanda sebagai bad guynya?