Showing posts with label pendidikan. Show all posts
Showing posts with label pendidikan. Show all posts

21.4.11

Hari Kartini

R.A Kartini merupakan salah satu tokoh perempuan Indonesia yang berhasil mengangkat peran kaum wanita Indonesia agar sejajar dengan kaum pria.


Untuk menghormati dan mengingatkan kita semua akan peran dan jasa-jasa Kartini, setiap tanggal 21 April (yang merupakan tanggal kelahiran Kartini) diperingati sebagai Kartini.

Sayangnya, meski setiap tahun diperingati, masih banyak saja yang tidak mengetahui tanggal kelahiran Kartini. Salah satunya adalah DPP PDI Perjuangan yang dengan gagahnya memajang spanduk peringatan hari Kartini 20 April. Aneh-aneh saja, padahal ketua partainya kan wanita, yang bisa naik jadi ketua dan Presiden RI, salah satunya karena peran Kartini.

Ach jangan2 mereka ingin mengamandemen hari kelahiran Kartini?

dikirim lewat BlackBerry®. kalau mau baca blog keren klik http://arisheruutomo.com

20.4.11

Tulisan di Blog Masuk Jurnal Ilmiah

“Ris, dua buah tulisanmu dimuat di Jurnal Luar Negeri Kementerian Luar Negeri Kementerian Luar Negeri yah”, tanya seorang rekan saya sambil menunjukkan dua buah jurnal yang terbit setiap 4 bulan sekali, dimana di kedua jurnal tersebut terdapat tulisan saya.

“Iya, benar. Tahun 2010 lalu saya memang mengirimkan dua buah tulisan ke redaksi Jurnal Luar Negeri, tapi tidak dalam waktu yang bersamaan” ujar saya. “Alhamdullilah kedua tulisan yang berjudul Kualitas Kepemimpinan Indonesia di ASEAN dan resensi 60 tahun hubungan Indonesia-Rusia, dimuat dalam jurnal edisi Januari-April 2010 dan Mei-Agustus 2010, sementara untuk edisi September-Desember 2010 saya tidak mengirimkan”, tambah saya kemudian.

“Wah asyik dong, berarti dari 3 edisi Jurnal luar Negeri yang terbit pada tahun 2010, dua diantaranya memuat tulisanmu” tanya teman saya lebih lanjut.

“Benar sekali, dua buah tulisan saya tersebut memang berasal dari blog http://arisheruutomo.com dan http://arishu.blogspot.com. Hanya saja, sebelum mengirimkan ke redaksi Jurnal Luar Negeri, tulisan tersebut saya perbaiki sedikit agar lebih sesuai dengan bahasa jurnal” jawab saya segera.

“Terus terang saya tidak menduga kalau kedua tulisan saya dilirik oleh Redaksi Jurnal Luar Negeri . Sepengetahuan saya. jurnal yang diterbitkan oleh Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kemlu merupakan jurnal serius yang mengupas perkembangan politik dan hubungan luar negeri RI. Dan biasanya pula, tulisan yang dimuat di jurnal tersebut merupakan tulisan para pakar yang sudah dipresentasikan di forum-forum seminar atau diskusi, sehingga sudah teruji” saya mencoba memberikan penjelasan tambahan.

“Tulisan ringan saya seputar politik dan hubungan luar negeri memang sengaja dibuat ringan agar informasi yang disampaikan mudah dicerna para pembaca. Selain itu, dengan menempatkan tulisan kita di blog, kita bisa memperoleh masukan dan pertanyaan dari pengunjung, dimana semua itu bisa digunakan untuk memperkaya konten tulisan. Tidak berlebihan jika saya katakan bahwa blog merupakan suatu inkubator, tempat kita mengendapkan pemikiran-pemikiran dalam suatu tulisan sebelum nantinya disempurnakan menjadi sebuah tulisan yang lebih baik langit” tambah saya lagi.

“O gitu, baru tahu kalau blog bisa jadi inkubator tulisan. Keren banget mas, saya juga mau ngeblog ach” samber teman saya tersebut.

“Oke sip, selamat ngeblog ya. Saya mohon pamit, mau ambil honor tulisan” ujar saya seraya t menuju kantor Redaksi Jurnal Luar Negeri.

19.3.11

Perempuan Produktif


Gambar di atas saya ambil saat berkunjung ke Samarinda beberapa waktu yang lalu. Baca nama organisasinya Himpunan Perempuan Produktif atau HIPERPRO, bisa jadi tidak sedikit yang tersenyum geli sambil bertanya-tanya tentang makna dibalik kata-kata “Perempuan Produktif”.

Sayangnya hari sudah gelap dan kantor HIPERPRO pun sudah tutup sehingga tidak ada siapapun di tempat itu yang bisa ditanyakan mengenai kegiatan organisasi tersebut. Untunglah ada om Google yang baik dan selalu siap dengan sejumlah informasi. Dari om Google diketahui bahwa HIPEPRO Kalimantan Timur dipimpin oleh Hj. Syarifah Noorlaila. Menurut ibu Syarifah, visi HIPERPRO adalah membentuk sumber daya manusia perempuan yang mandiri agar dapat menjadi pilar dan mitra dalam pembangunan keluarga, masyarakat dan bangsa.

Masih menurut ibu Syarifah, HIPERPRO memiliki misi untuk meningkatkan kepedulian dan peran serta keluarga, masyarakat dan pemerintah dalam pemberdayaan perempuan melalui pendidikan dan pelatihan, peningkatan produktivitas dan pendapatan perempuan, pelayanan kesehatan reproduksi, penelitian dan perlindungan hukum atas hak-hak perempuan,”

Oke deh bu Syarifah, terima kasih untuk penjelasannya. Semoga tidak ada lagi yang bertanya-tanya mengenai HIPERPRO ketika melihat papan nama organisasi perempuan produktif yang ibu pimpin. Salam produktif.

9.3.11

Mancing

Bicara mancing maka bayangan kebanyakan orang adalah melempar/meletakkan kail ke kolam air yang dalam dan luas atau laut yang diperkirakan banyak ikannya. Tapi bagi Bang Mamad, sebut saja begitu karena saya belum sempat menanyakan namanya, mancing bisa dilakukan di kali kecil dengan air berwarna hitam dan dangkal.

"Bang memangnya bisa dapat ikan?" Tanya saya ketika pagi ini menjumpai Bang Mamad sedang jongkok di belakang kali kecil perumahan Persada Kemala, Bekasi Barat. Tangannya sedang memegang pancingan dengan mata kail di atas permukaan kali yang hitam.

"Bisa pak, biasanya saya dapat ikan lele. Ikan tersebut tidak terlihat karena agak tersembunyi di antara lumpur dan sampah. Kita mesti sabar"

Wow, luar biasa. Melihat kalinya yang dangkal, kotor dan banyak sampah ternyata masih ada ikan yang bisa dikail. Hal ini seolah menegaskan bahwa rezeki memang bisa diapat selama mau berusaha.

Dari kejadian pagi ini, saya pun teringat sebuah foto pedagang ketoprak yang mangkal di tengah timbunan sampah di tempat pembuangan akhir sampah di Bantar Gebang. Jika melihat jualan si pedagang ketoprak kita pasti tidak menyangka akan ada pembeli yang menghampiri. Alasannya sederhana, ketoprak dijual di kawasan yang sangat kotor dan bau dengan lalat yang beterbangan kesana-kemari dan hinggap di gerobak dan makanan.

Tapi penjual ketoprak tersebut tetap tenang menanti datangnya pembeli. Benar saja, ketika matahari sudah tepat di ubun-ubun, para pemulung yang berada di sekitar lokasi meninggalkan keranjangnya dan menghampiri si pedagang ketoprak. Selain para pemulung, para supir truk pun tidak ketinggalan untuk membeli ketoprak. Tidak perlu waktu lama, dagangan pun habis.

Kejadian lain yang juga berhubungan adalah cerita dari Pak Ahmad Kurnia, pemimpin redaksi newsroom Kemenkominfo saat berjumpa kemarin siang. Menurut Pak Kurnia, saat dirinya berada di ruang tunggu bandara Juanda, Surabaya, ia bertemu dengan seorang pegawai bank Swiss yang berkantor pusat di Lugano, Swiss. Pegawai bank tersebut berada di Surabaya dalam rangka menemui sejumlah klien orang Indonesia yang ingin berinvestasi di bank tempat ia bekerja.

"Yang mengejutkan, ternyata para klien Indonesia tersebut menginvestasikan dana minimal US$ 1 juta di bank Swiss tersebut" ujar Pak Kurnia. "dan yang lebih mengejutkan ternyata jumlahnya bukan cuma 1-2 tapi cukup banyak dan tidak sedikit pula yang menginvestasikan lebih dari US$ 5 juta, itu berarti di tengah kondisi perekonomian saat ini, banyak orang Indonesia yang kaya-kaya dan lebih memilih menginvestasikan dananya di luar neger".

Moral dari cerita ini, jangan pandang remeh air yang hitam dan dangkal. Jangan remehkan pula tempat yang kotor dan bau. Atau jangan remehkan orang lain. Karena dari mereka mungkin rejeki kita berasal. Seperti kata Forest Gump "Life is like a box of chocolates. You never know what you're going to get".

http://arisheruutomo.com dan http://aseanblogger.com Sent from my BlackBerry® smartphone

8.3.11

Selandia Baru tawarkan Beasiswa untuk mahasiswa Indonesia Timur

Kedutaan Besar Selandia Baru di Jakarta, melalui situsnya DISINI menawarkan program beasiswa pasca sarjana sebanyak 50 orang per tahun. Tawaran terbuka untuk umum dan seluruh lapisan masyarakat, baik yang bekerja di pemerintahan, perguruan tinggi, swasta ataupun kelompok masyarakat madani. Namun demikian pemberian beasiswa diprioritaskan bagi mahasiswa Indonesia yang berasal dari NTB, NTT, Maluku, Papua dan papua Barat.

Adapun program studi yang ditawarkan adalah program-program yang mendukung pembangunan ekonomi berkelanjutan. Mahasiswa yang lulus seleksi akan memperoleh tiket pergi pulang, biaya kuliah, dan tunjangan hidup selama kuliah. Mereka akan belajar di berbagai perguruan tinggi di Selandia Baru yaitu Auckland University of Technology (AUT), Lincoln University, Massey University, Unitec, University of Auckland, University of Canterbury, University of Otago, Victoria University of Wellington dan University of Waikato.
Persyaratan umum untuk memperoleh beasiswa antara lain adalah sebagai berikut:
•WNI dan bertempat tinggal di Indonesia setidak selama dua tahun terakhir.
•Berusia dibawah 40 tahun
•Bukan WN Selandia Baru atau Australia, atau menikah dengan WN Selandia Baru atau Australia
•Memiliki skor IELTS 5,5 atau lebih
•Sarjana
•Pengalaman kerja minimal 2 tahun

Persyaratan lengkap dapat diperoleh DISINI

28.12.10

Catatan dari Kopdar BeBlog: Menulis Melewati Tapal Batas

Baban Sarbana bisa disebut sebagai seorang blogger yang produktif. Dua tahun ngeblog sudah berhasil menerbitkan 6 buah buku yaitu “Ampuh Cerdas Tanpa Batas”, “Saldo dan Bidadari Surga”, “Lebah Cerdas on the Road, “Hati tak Bersudut”, “Blogger Ngomong Politik”, dan “Tapak Tilas Barack Obama”.

Tapi siapa sangka jika untuk menerbitkan buku pertamanya yang berjudul “Ampuh Cerdas Tanpa Batas” ia harus menunggu sekitar satu setengah tahun. Setelah melalui proses pemanggilan beberapa kali, termasuk harus mengisi rangkaian kuisoner yang diberikan penerbit, barulah buku pertamanya terbit. Siapa sangka pula jika naskah buku “Lebah Cerdas on the Road” ditolak pemilik penerbitan justru dimana ia sendiri bekerja sebagai kepala bagian di perusahaan tersebut. Ironisnya naskah buku tersebut malah diterima oleh penerbit lain dan langsung dicetak.

Sementara itu Donny Budi Utoyo (Donny BU) yang dikenal sebagai motor penggerak Internet Sehat dan pendiri ICT Watch menyampaikan pengalamannya dalam memulai gerakan Internet Sehat di Indonesia. Berbeda dengan paparan Donny BU dalam berbagai pertemuan blogger atau pengguna internet yang lebih banyak menjelaskan tentang penggunaan internet secara panjang lebar, maka di acara ini secara eksklusif (jiaah ngikut gaya tivi merah) Donny BU bercerita tentang dunia penulisan yang pada akhirnya membuat dirinya “nekad” keluar dari detik.com dan memilih mandiri dengan kegiatan internet sehatnya.

Semua paparan di atas disampaikan Baban dan Donny BU dalam acara kopi darat blogger Bekasi (BeBlog) di Bekasi Cyber Park tanggal 26 Desember 2010. Acara yang digelar dengan didahului makan siang ini (BeBlog menyiapkan voucher makan senilai Rp. 20 ribu) memang bukan sekedar kumpul-kumpul dan MEOK (makan enak omong kosong) tapi juga sekaligus syukuran keberhasilan BeBlog menjadi yang terbaik dalam Pesta Blogger 2010 kategori komunitas berbasis wilayah dan sharing penulisan guna memotivasi blogger untuk lebih rajin menulis.

Dengan gaya paparan yang khas orang Bogor, Baban menjelaskan proses kreatifnya dalam menulis dan membagi tips menembus penerbit. Menurut Baban, menulis jangan diartikan hanya sebagai kegiatan untuk membuat buku atau blog tetapi juga mencakup beragam kegiatan lainnya misalnya membuat script untuk film atau pertanyaan-pertanyaan dalam sebua kuis (kebetulan ia pernah membantu membuat soal-soal dalam acara yang dibuat Helmi Yahya).

Ditambahkan oleh Baban bahwa penyakit seorang penulis adalah “Susah untuk memulai, tetapi ketika sudah memulai, susah untuk berhenti”. Karena itu agar bisa segera menulis maka“tulis apa yang dipikirkan, jangan pikir apa yang akan dituliskan”. Gunakan semua alat bantu penulisan seperti alat rekam atau kamera untuk melengkapi tulisan dan membantu daya ingat. Segeralah menulis selagi sempat dan jangan menunda-nundanya karena bisa jadi apa yang kita lihat dan rasakan akan hilang begitu saja. Hal ini pulalah yang ia lakukan ketika berkunjung ke Amerika Serikat (AS) sebagai pemenang “the Golden Ticket”. Setiap usai melakukan kunjungan diusahakan untuk menuliskannya di blog pada hari itu juga. Dengan rajin mencatat apa yang dilihat dan menuangkan dalam tulisan di blog, maka apa yang dituliskan tersebut dapat berfungsi sebagai data yang jika sewaktu-waktu dibutuhkan dapat digunakan dan tinggal memolesnya.

Menurut Baban, untuk bisa menulis dengan baik setidaknya ada lima langkah yang bisa dilakukan yaitu T.U.L.I.S (Temukan ide, Ukir Idenya, Libatkan otak kiri dan kanan, Ilmu dan teknik penulisan dikuasai, dan Sesuaikan tulisan dengan pembaca). Denganberlatih terus menerus, proses TULIS akan bisa berjalan dengan sendirinya dan mengalir lancar ibarat air yang memancar dari mata air.

Terkait dengan tips menembus penerbit, Baban menyarankan agar seorang penulis bersikap percaya diri ketika membawa naskahnya ke penerbit. Penulis datang ke penerbit bukan untuk meminta-minta tetapi justru akan memberikan pekerjaan dan pendapatan bagi penerbit. Namun demikian penulis tidak boleh sombong seolah-olah tulisannya paling bagus dan benar.

Ditambahkan oleh Baban bahwa saat ini banyak penerbit yang mencari penulis, sebaliknya banyak penulis yang kesulitan mendapatkan penerbit. Untuk itu yang perlu dilakukan adalah mengetuk pintu penerbit dan tidak sungkan-sungkan untuk banyak bertanya. Persiapkan hal-hal teknis yang diperlukan saat membawa naskah ke penerbit. Cari penerbit yang sesuai dengan isi buku yang ingin diterbitan, karena setiap penerbitan memiliki kekhasan masing-masing. Carilah penerbit besar dan kredibel karena jika ditolak biasanya akan memperoleh penjelasan tentang alasan penolakan. Alasan penolakan tersebut bisa dijadikan masukan untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan pada naskah yang ditulis. Secara guyon Baban menambahkakan bahwa kalau ditolak penerbit besar rasanya tidak terlalu malu karena banyak saingannya :-) .

Sementara itu Donny BU menjelaskan bahwa semua kegiatan yang dilakukannya saat ini di Internet Sehat dan ICT Watch pada dasarnya berawal dari menulis. Donny BU mengisahkan bahwa sebagai seorang wartawan di detik.com, ia memang selalu dituntut untuk membuat tulisan, baik reportase maupun opini. Seiring perjalanan waktu, muncul minatnya untuk mengumpulkan data-data yang terkait dengan perkembangan internet di Indonesia seperti berapa jumlah pengguna internet, tujuan penggunaan internet hingga apa yang dicari di internet. Data-data yang dikumpulkannya ini secara berkala ditampilkan di web atau blog agar bisa dibaca banyak orang. Semakin banyak data yang diunggah semakin banyak kemungkinan dibaca banyak orang.

Secara perlahan apa yang dilakukannya ternyata menjadi modal yang dapat digunakan untuk mengembangkan kegiatan yang menghasilkan. Terlebih di Indonesia baru beberapa gelintir orang saja yang melakukan kegiatan pengumpulan data tentang pemanfaatan internet di Indonesia. Dengan modal seperti itu dilengkapi pengalaman, networking dan keyakinan yang dimiliki, Donny pun memutuskan untuk mengundurkan diri dari detik.com. Padahal di media online tersebut ia sudah menduduki posisi mapan dengan gaji yang memadai serta tawaran kendaraan roda empat jika bertahan dua tahun lagi.

Tidak banyak orang yang percaya, termasuk teman-temannya di detik.com. ketika ia memilih mundur dan berniat berdikari di dunia ICT. Keputusan yang tentu tidak mudah karena ia harus siap meloncat dari zona nyaman yang dirasakannya selama 15 tahun terakhir, ke zona lain yang belum tentu memberikan kenyamanan seperti yang telah didapatkan selama ini.

Setelah melewati masa-masa sulit selama beberapa waktu, apa yang dilakukan Donny BU kini telah membuahkan hasil. Berawal dari pesanan seorang client asal Singapura, kini Internet Sehat dan ICT Watch telah mampu melakukan banyak kegiatan dengan dukungan dari berbagai sponsor dan mampu mengirimkan stafnya ke berbagai tempat untuk mensosialisasikan kegiatan internet sehat. Agar lebih luas lagi jangkauan dari apa yang ia kerjakan, Donny dan tim Internet Sehat tengah menyiapkan modul, buku dan video yang menjelaskan perkembangan internet di Indonesia. Semua modul, buku dan video tersebut nantinya akan diunggah di internet agar banyak orang yang bisa mengaksesnya. Agar apa yang dilakukan bisa go internasional, ia pun menterjemahkan semua modul dan video tersebut ke dalam bahasa Inggris (dengan membayar tenaga penterjemah) .

Dari apa yang dipaparkan oleh dua blogger dalam bincang-bincang santai kopdaran BeBlog, terlihat adanya kesamaan kata kunci untuk maju yaitu menulis. Lewat menulis keduanya berhasil menembus sekat-sekat pembatas menuju dunia yang lebih luas. Dengan menulis, Baban Sarbana yang besar di Bogor bisa berjalan-jalan ke AS tanpa mengeluarkan biaya. Lewat menulis pula, Baban dapat melepaskan belengu dirinya setelah sempat drop out dari IPB karena sakit. Kekecewaan Baban karena drop out kuliah berhasil dilampiaskan lewat kegiatan menulis.

Sedangkan Donny BU berhasil melepaskan diri dari zona nyaman yang selama ini dirasakannya untuk loncat ke zona lain yang diharapkan lebih baik dan dengan pribadi yang lebih mandiri. Dengan menulis, ia pun bisa berbagi ke banyak orang tentang penggunaan internet dan perlunya bernternet secara sehat.

Berkaca pada keberhasilan Baban dan Donny BU, ada beberapa hal yang bisa ditarik sebagai pembelajaran antara lain menulis itu adalah suatu kegiatan yang sangat positif, bukan hanya bagi diri sendiri tetapi juga orang lain yang membacanya. Ketekunan dalam menulis, selain membuat kita mahir dalam menulis juga bisa mendorong peningkatan kapasitas pribadi untuk lebih percaya diri dalam melakukan suatu tindakan. Dan yang juga tidak kalah penting, dengan menulis kita bisa berbagi dan beramal kepada banyak orang. Insya Allah apa yang dilakukan tersebut akan mendapatkan ganjaran yang setimpal dari Allah S.W.T.

Jadi tunggu apa lagi, segera tuliskan apa yang dipikirkan, jangan pikir apa yang akan dituliskan. Kalau sudah jadi, jangan lupa posting di bloggerbekasi.com

Terima kasih untuk Baban Sarbana dan Donny Budi Utoyo atas sharingnya yang sangat bernilai. Semoga bisa tetap berbagi untuk acara-acara berikutnya.

19.9.10

Mata-mata Israel di Bumi Cinta

Sebuah jaringan clandestein organisasi intelijen Israel, Mossad, yang berkedudukan di Moskow, Rusia, merencanakan sebuah aksi pengeboman di sebuah hotel yang terletak pusat keramaian kota. Dalam aksi pengemboman ini diskenariokan bahwa pelakunya adalah seorang muslim berhaluan keras. Tujuannya untuk memperburuk citra Islam di mata dunia dan lebih memudahkan perjuangan kaum Yahudi di Palestina.

Untuk menjalankan skenario tersebut, agen-agen intelijen Mossad di Moskow dibawah pimpinan Ben Solomon telah menyepakati bahwa orang Islam yang akan dijadikan kambing hitam adalah Mohammad Ayyas, seorang mahasiswa pasca sarjana asal Indonesia yang sedang melakukan penelitian mengenai Islam di Rusia.

Ayyas dipilih sebagai calon korban karena selain seorang muslim yang taat, secara kebetulan ia tinggal satu apartemen dengan salah satu agen Mossad yang cantik jelita bernama Lorna. Kebersamaan dalam satu apartemen memudahkan Ben Solomon dan kelompoknya mempersiapkan jebakan bagi Ayyas. Lewat Lorna, yang secara diam-diam memasang kamera tersembunyi di kamar Ayyas, setiap gerakan Ayyas dapat dipantau dan direkam. Selain itu Lorna pun dapat dengan mudah menyusupkan bahan pembuat bom di kamar Ayyas sebagai barang bukti yang memperkuat kesan bahwa Ayyas lah pelakunya.

Untuk mematangkan aksinya, Ben Solomon dan kawan-kawan juga mengkondisikan segala sesuatunya, misalnya menampilkan kehadiran Ayyas palsu di hotel (yang dibuat berdasarkan rekaman yang dibuat Lorna) serta menjalin hubungan dengan pihak keamanan dan kalangan media Rusia. Sehingga ketika peledakan terjadi, tidak lama kemudian pihak keamanan Rusia bisa langsung menuding Ayyas sebagai pelakunya dan media langsung memberitakan bahwa gerakan teroris muslim lah yang berada dibalik aksi pengeboman.

Dengan segala jebakan yang telah tersusun rapih tersebut, apakah Ayyas mampu lolos dan terhindar dari marabahaya yang mengancamnya? Apakah Ayyas akhirnya mengetahui jika Lorna yang tinggal satu apartemen dengannya ternyata agen dinas rahasia Mossad? Sebagai orang bujangan, apakah Ayyas juga mampu menghindarkan diri godaan Lorna yang jelita dan seksi? Dan pertanyaan yang juga tidak kalah pentingnya adalah apakah Ayyas mampu menyelesaikan penelitiannya dengan baik?

Semua pertanyaan di atas tentu saja memerlukan jawaban. Dan jawaban untuk semua pertanyaan itu terdapat dalam novel karya Habiburrahman El Shirazy “Bumi Cinta”. Novel ini merupakan karya terbaru Habiburrahman El Shirazy (HES), setelah dua novelnya terdahulu “Ayat-ayat Cinta (AAC)” dan “Ketika Cinta Bertasbih (KCB)” (keduanya sudah difilmkan dengan judul yang sama).

Seperti kedua novelnya terdahulu, dalam novelnya kali ini HES kembali mengeluarkan resep yang lazimnya dijumpai dalam novel dan film spionase khas James Bond 007 yaitu sang tokoh utama tampil dikelilingi wanita-wanita cantik di sekitarnya. Jika dalam novel dan film James Bond tokohnya utamanya adalah sosok agen rahasia Inggris yang tampan, maka dalam novel-novel HES tokoh utamanya adalah sosok pemuda muslim Indonesia yang pintar dan alim serta ulet. Tidak ada yang keliru dengan pemilihan resep ini karena bagaimanapun tokoh-tokoh yang terdapat dalam novel-novel HES hanyalah medium untuk meneruskan pesan moral yang ingin disampaikannya.

Dalam AAC kita dapat melihat bahwa Fahri sang tokoh utama adalah pemuda muslim Indonesia yang sedang belajar di Kairo Mesir. Fahri digambarkan sebagai pemuda yang alim dan disukai banyak sahabat wanitanya. Beberapa wanita cantik yang berada di sekitar Fahri adalah Nurul, Noura, Aisha dan Maria Girgis. Sedangkan dalam KCB tokoh utamanya adalah Azzam seorang pemuda muslim Indonesia yang juga sedang belajar di Kairo, Mesir, yang selain pintar dan alim juga ulet dalam berusaha dengan berjualan tempe. Bahkan karena keuletannya berjualan tempe, Azzam mampu membiayai sekolah adik-adiknya di Indonesia. Dalam kehidupan kesehariannya, tokoh Azzam setidaknya dikelilingi tiga wanita cantik Anna, Elliana, dan Husna.

Yang membedakan antara AAC dan KCB dengan Bumi Cinta adalah lokasi cerita yang tidak lagi di Kairo tetapi di ibukota Rusia, Moskow. Tokoh utama dalam Bumi Cinta adalah Ayyas, seorang pemuda muslim Indonesia yang sedang menempuh pendidikan S-2 di New Delhi, India dan berada di Moskow atas permintaan pembimbingnya guna melakukan penelitian bagi penulisan tesisnya mengenai Islam di Rusia. Perbedaan lainnya adalah wanita-wanita cantik yang hadir di sekeliling tokoh utama adalah wanita-wanita bule non-muslim. Sehingga jangan dibayangkan jika wanita-wanita cantik dalam Bumi Cinta mengenakan jilbab sejak awal seperti dalam AAC dan KCB.

Pilihan Rusia sebagai setting cerita menurut saya merupakan pilihan yang cerdas dari penulisnya dalam menggabungkan latar belakang komunisme Rusia dengan syiar agama Islam. Apalagi bukan merupakan suatu rahasia jika sebagai mbahnya komunis, negeri beruang merah tersebut tidak terlalu menaruh hormat kepada ajaran-ajaran agama. Dan bagi Indonesia sendiri ajaran komunisme masih memiliki trauma yang berkepanjangan pasca pemberontakan G30S/PKI.

Bagi tokoh utamanya sendiri, kondisi Rusia yang komunis dan kebebasan pasca runtuhnya Partai Komunis Uni Soviet (PKUS) menjadi tantangan tersendiri. Runtuhnya PKUS selain memporakporandakan Uni Soviet, juga menjadikan masyarakat Rusia kehilangan kendali dan berusaha mengekspresikan kebebasan sebebas-bebasnya termasuk dalam kehidupan seksual. Hal ini antara lain terlihat dari data pengakses situs porno di internet yang ternyata berasal dari Rusia. Selain itu pasangan kumpul kebo juga sangat banyak jumlahnya. Di tengah kondisi seperti ini Ayyas harus berjuang keras menghadapi godaan wanita-wanita cantik seperti Yelena, Linor dan Anastasia.

Cerita menjadi semakin menarik karena seperti telah disinggung di awal tulisan ini, HES mengikutsertakan keterlibatan Yahudi yang selalu ingin mendiskreditkan umat muslim di seluruh dunia. Meski tidak diceritakan secara detail operasi intelijen Mossad, kecuali yang terkait dengan Ayyas, pembaca dapat mengikuti bagaimana suatu operasi intelijen dijalankan, khususnya dalam menjebak calon korbannya. Tidak sampai disitu, HES pun menceritakan pergolakan bathin Lorna sebagai mata-mata Israel melawan Palestina dan pada bagian akhir terdapat kejutan-kejutan yang mungkin tidak diduga oleh pembacanya.

Hal lain yang juga menarik dari novel ini adalah cara HES menggambarkan detail kota Moskow dengan baik. Sehingga tidak terasa pembaca seolah sedang berada di kota tersebut. Salah satu tempat yang digambarkan dengan detail adalah suasana stasiun kereta bawah tanah yang sangat terkenal di Moskow. Berbeda dengan berbagai stasiun kereta bawah tanah di Eropa, stasiun kereta bawah tanah di Rusia bukan hanya bersifat fungsional tetapi juga sebagai show room karya seni. Stasiun dibangun dengan material kelas satu yang didatangkan dari berbagai tempat di dunia, misalnya untuk marmernya secara khusus didatangkan dari Italia. Sehingga ketika berada di stasiun kita seolah berada di bawah museum bawah tanah. Hal ini saya rasakan sendiri ketika berkunjung ke Moskow beberapa waktu yang lalu, rasanya saya ingin berlama-lama di stasiun kereta api yang kokoh dan berada di kedalaman sekitar 70 meter dibawah permukaan tanah.

Secara keseluruhan novel ini sangat menarik. Selain diajak mengenal kota Moskow, pembaca juga diajak membangun jiwa lewat percakapan-pecakapan bernas antar tokoh-tokohnya dan contoh-contoh yang digambarkan dalam novel tersebut. Ach rasanya sudah tidak sabar untuk menyaksikan versi layar lebarnya dan melihat apakah visualisasinya seindah novelnya.

6.9.10

Staf Istana Presiden Ikut Awasi Seleksi CPNS Kemlu


Pada tanggal 4 September 2010, bertempat di Hall A Arena Pekan Raya Jakarta (PRJ), telah dilaksanakan ujian seleksi penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Kementerian Luar Negeri (Kemlu) tahun 2010 tahap kedua. Sebanyak 4.678 peserta yang lolos seleksi tahap pertama (administrasi), dari sekitar 16 ribu pendaftar, berhak mengikuti seleksi tahap kedua ini.

Sejak pukul 06.30 pagi para peserta telah berdatangan dan memadati halaman luar Hall A PRJ, menanti dibukanya pintu registrasi ulang dan ruang ujian. Sesuai jadwal, tepat pukul 07.30 pintu tempat ujian akhirnya dibuka. Dengan tertib para peserta berbaris dan membentuk antrian untuk mendaftar ulang sesuai dengan formasi jabatan yang ditawarkan yaitu Pejabat Diplomatik dan Konsuler (PDK), Bendaharawan dan Penata Kerumahtanggaan Perwakilan (BPKRT), Petugas Komunikasi (PK), Dokter Umum dan Dokter Gigi.

Setelah mendaftar ulang dan diberikan stiker nomor peserta, para peserta memasuki ruangan di Hall A yang sangat luas dan mampu menampung sekitar 5.000 peserta. Segera setelah semua peserta menduduki kursinya masing-masing, proses seleksi tahap kedua berupa tes akademik dimulai dengan pembukaan segel soal-soal yang diujikan secara simbolik oleh Wakil Menteri Luar Negeri Triyono Wibowo dan disaksikan 3 orang wakil peserta ujian dari setiap sektor. Segera setelah soal-soal ujian dibuka dan dibagikan ke seluruh peserta, seleksi tahap kedua pun dimulai tepat pukul 09.23.

Dengan sigap para peserta kemudian membuka dan menyimak soal-soal ujian yang dibagikan. Pertanyaan yang diajukan meliputi pengetahuan umum, penguasaan tertulis bahasa Inggris dan pengetahuan tambahan sesuai kompetensi formasi jabatan. Untuk PDK, pertanyaan tambahan yang diajukan adalah hal-hal yang terkait dengan politik dalam dan luar negeri. Untuk BPKRT, pertanyaan tambahan menyangkut manajemen dan keuangan. Adapun untuk PK, pengetahuan tambahan yang ditanyakan terkait dengan matematika dan teknologi informasi. Sementara bagi para dokter umum dan gigi diberikan pertanyaan tambahan yang meliputi biologi dan kesehatan.

Agar pelaksanaan ujian tertulis berjalan lancar dan tidak ada peserta yang mencontek atau melakukan tindakan curang lainnya, maka sekitar 200-an pegawai Kemlu, baik diplomat maupun non-diplomat, direkrut secara sukarela menjadi pengawas ujian. Menariknya, selain melibatkan pegawai Kemlu yang sedang bertugas di kantor Kemlu sendiri, kegiatan seleksi CPNS juga melibatkan pegawai Kemlu yang sedang diperbantukan di kantor istana presiden. Karenanya tidak berlebihan jika dikatakan bahwa seleksi CPNS Kemlu tahun ini juga ikut diawasi staf istana kepresidenan.

Selanjutnya untuk menghindari terjadinya kecurangan dengan memanfaatkan saluran komunikasi selular, maka selama proses seleksi sinyal komunikasi di Hall A diacak. Akibatnya tentu saja semua orang yang ada di Hall A PRJ tidak dapat berkomunikasi lewat telepon selularnya, termasuk panitia.

Menyempurnakan pelaksanaan seleksi, selain pegawai Kemlu yang menjadi panitia, ikut serta pula pejabat dari kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara (PAN) dan Badan Kepegawaian Nasional yang bertindak sebagai saksi dan penilai proses seleksi yang dilakukan. Mereka akan menilai apakah proses seleksi CPNS di Kemlu telah berjalan sesuai ketentuan standar ISO atau tidak.

Sebagai informasi, Kemlu telah menerapkan standar ISO 9001:2008 dalam sistim penerimaan CPNS sehingga prosesnya berjalan bersih, transparan dan berdasar kompetensi. Pendaftaran dilakukan secara on-line yang dipadu dengan pengiriman berkas lewat pos. Pada tahun 2009, proses rekrutmen ini ditingkatkan dengan sistem e-recruitment, yang membuat para pelamar dapat memantau setiap tahapan proses seleksi dan mengetahui perkembangan terbaru melalui akun email masing-masing. Sistem e-recruitment ini dimaksudkan untuk meningkatkan transparansi dan aksesibilitas.

Ditengah pelaksanaan ujian, Menlu Marty Natalegawa menyempatkan diri untuk hadir dan meninjau langsung jalannya ujian. Dengan gaya informal dan santai, Menlu berkeliling dari satu sektor ke sektor dan menyalami petugas dan pengawas serta berbincang-bincang sejenak dengan mereka. Tidak lupa pula Menlu menyampaikan rasa syukur dan kebahagiaannya melihat besarnya minta para pelamar untuk bergabung dengan Kemlu.

Direncanakan dari 4.678 peserta yang mengikuti ujian pada tahapan kedua ini, akan direkrut 60 orang untuk menjadi PDK, 30 orang BPKRT, 25 orang PK serta masing-masing seorang dokter umum dan dokter gigi.

24.1.10

Seribu Walikota

Ini masih soal cerita yang terkait dengan angka seribu, tapi tentu saja bukan tentang seribu alasan ngeblog, melainkan cerita yang terkait dengan uang seribu rupiah. Ceritanya sendiri berasal dari kehadiran saya pada peluncuran program menabung akhir pekan yang diadakan pihak pemerintah kota Bekasi pada tanggal 23 Januari 2010.

Bagi orang berpunya, duit seribu rupiah sepertinya memang tidak memiliki arti sama sekali. Duit segitu cuma recehan yang keberadaannya antara ada dan tiada. Saking kecilnya, bahkan untuk sekedar membayar parkir pun tidak cukup. Beda dengan orang yang tidak berpunya, duit seribu rupiah akan sangat bermanfaat dan bisa menjadi penyambung nyawa. Duit seribu rupiah bisa memberikan sebuah kekuatan untuk mendapatkan seribu rupiah lagi pada keesokan harinya.

Dari sini kita bisa melihat bahwa ada makna berbeda dibalik suatu nilai mata uang. Arti uang akan tergantung untuk apa dan siapa yang mempergunakannya. Uang menjadi akan lebih bermanfaat jika jatuh pada orang yang membutuhkannya.

“Coba kalau setiap akhir pekan setiap orang di Bekasi menabung paling tidak seribu rupiah saja, berapa banyak uang yang akan terkumpul dalam seminggu, sebulan dan setahun? Kemudian dari jumlah uang terkumpul tersebut, jika sebagian digunakan untuk membantu modal usaha para pengusaha kecil atau rakyat miskin yang ingin memulai usaha, maka akan banyak orang yang akan terbantu. Pada gilirannya, tingkat kemiskinan di kota Bekasi pun akan ikut menurun” begitu disampaikan Walikota Bekasi H. Mochtar Mohammad saat meluncurkan gerakan “Sabtu-Minggu Hemat Menabung Seribu Rupiah (Sagu Hemat Seribu).

Program Sagu hemat Seribu merupakan program baru pemerintah Kota Bekasi yang didukung Bank Indonesia dan dijadikan sebagai suatu pilot project sebelum nantinya diterapkan secara nasional.

Dengan program ini, pada tahap awal semua pegawai negeri sipil (PNS) daerah di Pemkot Bekasi, jumlahnya sekitar 13 ribu pegawai, diwajibkan untuk memiliki tabungan yang diberi nama “Tabunganku” dan dikelola oleh PT Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) Kota Bekasi. Setiap Jumat, staf yang ditugaskan akan menagih ke seluruh pegawai untuk menabung.

Dengan instruksi walikota yang mewajibkan stafnya untuk menabung, maka dengan mudah kita akan mendapatkan angka bahwa jika setiap pegawai menabung minimal seribu rupiah per minggu, maka dalam 1 minggu akan diperoleh Rp. 13 juta, sebulan menjadi Rp. 52 juta dan setahun menjadi Rp. 624 juta. Suatu jumlah yang tidak kecil.

Kalau kemudian jumlah tabungan tersebut disalurkan untuk memberikan bantuan kredit usaha kepada pengusaha kecil atau masyarakat miskin di Bekasi yang baru akan memulai usaha, dengan masing-masing mendapatkan pinjaman sebesar Rp. 5 Juta, maka dalam setahun akan terdapat setidaknya 600 orang pengusaha kecil atau rakyat miskin yang terbantu.

Lalu jika semua duit tabungan disalurkan untuk kredit pengusaha kecil dan masyarakat miskin, maka si nasabah akan mendapatkan apa? Apa jaminannya bahwa uang si nasabah tidak akan hilang karena dikemplang peminjam?

Seperti halnya menabung di bank syairah, selain dijamin hak-haknya, nasabah pun tetap memeproleh hak bagi hasil. Walikota bahkan menjamin bahwa uang yang berada di tabungan dikelola dengan prinsip-prinsip perbankan dan menggunakan sistem syariah. Dana nasabah dijamin sepenuhnya oleh Pemkot yang telah menggelontorkan deposit sebesar Rp. 10 Milyar dari dana APBD ke BPRS. Bank Jawa Barat sebagai pemeritah daerahpun tidak ketinggalan memberikan dukungan.

Nasabah pun tidak perlu khawatir bahwa dana tabungannya di BPRS tidak kembali karena si kreditor, yang dalam hal ini adalah pengusaha kecil dan rakyat miskin, tidak mampu mengembalikan pinjamannya. Pemberian pinjaman kepada pengusaha kecil dan masyarakat miskin dilakukan bukan hanya sekedar memberi seperti Bantuan Langsung Tunai (BLT), tapi berupa pinjaman yang harus dikembalikan dalam jangka waktu tertentu. Dan calon pengusaha kecil atau orang miskin yang mendapatakn pinjaman tersebut telah diberikan pemahaman dan pelatihan serta praktik magang kewirausahaan oleh praktisi kewirausahaan yang telah terbukti keberhasilannya. Sehingga ada kesinambungan perputaran duit simpanan dan pada saat bersamaan proses pengentasan kemiskinan dapat terus berlangsung.

Jika program “Sagu Hemat Seribu” dapat berjalan dengan baik, maka secara tidak langsung anggota masyarakat miskin akan terus berkurang karena sebagian dari mereka sudah dapat hidup mandiri. Dari segi anggaan pun, Walikota tidak akan dipusingkan dengan APBD karena pada hakekatnya dana deposit tetap utuh. Dana APBD untuk pos pengentasan kemiskinan pada tahun-tahun beriokutnya pun dapat dimanfaatkan untuk pos lainnya seperti pendidikan atau asuransi kesehatan warga masyarakat.

Dengan keyakinan akan keberhasilan program “Sagu Hemat Seribu”, Walikota berani menargetkan agar setiap kecamatan setidaknya dapat mengumpulkan dana tabungan minimal Rp. 1 Milyar per tahun dan menjaring sebanyak mungkin penabung di luar staf pemkot. Kalau di Kota Bekasi terdapat 12 kecamatan, maka dalam setahun minimal akan terkumpul dana sebesar Rp. 12 Milyar per tahun. Bayangkan berapa orang yang bisa tertolong dengan anggaran sebesar Rp. 12 milyar ini?.

Untuk mencapai target tersebut walikota menginstruksikan dengan tegas kepada para camat, lurah dan kepala dinas beserta stafnya untuk menabung di BPRS dan mengajak masyarakat luas untuk ikut serta seperti PKK, karang taruna, Kelompok-kelompok pengajian dan sebagainya. Instruksi ini sangat perlu karena sampai saat ini baru 5.750 orang dari 13 ribu staf Pemkot yang terdaftar sebagai penabung di BRPS, dengan total dana tabungan baru sebesar Rp. 152 juta. Warga masyarakat Kota Bekasi pun banyak yang belum mengerti program ini.

Sebagai upaya jemput bola, Walikota pun meminta agar di setiap kelurahan disiapkan sebuah ruangan untuk kantor kas BPRS, tujuannya untuk memudahkan anggota masyarakat menyetorkan tabungannya.

Untuk memperlihatkan kesungguhannya dalam menabung, Walikota Mochtar Mohammad pun turut serta dalam kegiatan ini dengan membuka rekening “Tabunganku” dan berupaya menabung setiap akhir pekan. Sambil bergurau Pak Wali menyatakan bahwa baginya menabung itu sangat penting, bukan saja untuk mengurangi sikap konsumtif tetap juga sebagai upaya mengumpulkan modal untuk persiapan pilkada 2013.

Kembali ke program “Sagu Hemat Seribu”, dari sisi konsep program ini cukup baik, khususnya sebagai suatu kegiatan yang ditujukan untuk menggerakan masyarakat agar gemar menabung dan mengurangi pola konsumtif di akhir pekan. Namun tentu saja dalam implementasinya diperlukan suatu kesungguhan, terutama oleh pegawai Pemkot. Sudah menjadi kelaziman, bila suatu program yang ditetapkan oleh seorang pemimpin ekskutif daerah seperti walikota, akan mengalami kelambatan birokrasi di level bawahnya. Tanpa instruksi dan arahan yang jelas dari pimpinan, suatu program kegiatan bisa jadi akan tersendat-sendat.

Dalam kaitan ini, blogger memiliki peran penting, bukan hanya untuk mensosialisasikan dan membantu program hemat dan mari menabung lewat berbagai tulisan di blog, tetapi juga berperan dalam mengawasi dan mengkritisi setiap pelaksanaan dari program ini. Independensi blogger sangat membantu bagi kelancaran program ini dan program-program pembangunan lainnya.


3.1.10

Bincang On Air di Awal Tahun 2010

Tahun baru, resolusi baru, dan semangat baru, begitu pikiran yang ada dibenak saya saat memacu kendaraan menuju Stasiun Radio Dakta 107 FM di pagi istimewa di hari pertama tahun 2010. Istimewa, karena pagi ini saya akan mengawali kegiatan awal tahun dengan berbincang-bincang on air mengenai blog dan pengenalan blog ke masyarakat di acara Diskusi Pagi Radio Dakta.

Saya tiba di Dakta pukul 08.00 WIB dan sudah ditunggu Mas Harun Al Rasyid (host acara Diskusi Pagi) dan Mas Deni Wahab (Penyiar Radio Dakta) serta Mas Irfan Zj (Admin be-Blog) yang menemani saya mewakili Komunitas Blogger Bekasi (be-Blog).

Mengawali acara diskusi pagi on air, Mas Harun mengemukakan bahwa sejalan dengan perkembangan internet muncul blog sebagai salah satu alternatif untuk menyampaikan segala hal yang terjadi di masyarakat, mulai dari sajadah hingga haram jadah begitu istilahnya. Sejak itu perbincangan tentang blog pun pun mengalir mulai dari pembentukan be-Blog dan bagaimana cara bergabung menjadi anggota be-Blog, kekhawatiran blogger akan di-Prita-kan, hingga keterkaitan blogger dengan politik praktis. Perbincangan semakin menarik dengan adanya keterlibatan pendengar radio Dakta yang turut serta bertanya lewat telepon dan sms.

Menyangkut pembentukan be-Blog, kami sampaikan bahwa komunitas blogger di Bekasi dibentuk tanggal 17 Agustus 2009 oleh 5 orang blogger Bekasi dan kemudian diperkenalkan ke publik pada tanggal 17 Oktober 2009 dalam suatu acara di Bekasi Cyber Park dan dihadiri Walikota Bekasi H. Mochtar Mohammad. Saat ini anggota be-Blog yang terdaftar di situs http://bloggerbekasi.com tercatat sebanyak 382 orang. Sebagian besar anggota be-Blog memiliki blog pribadi dan aktif memberikan kontribusi artikel di blog komunitas.

Dalam usianya yang baru 5 bulan, be-Blog telah aktif melakukan berbagai kegiatan sosialisasi blog lewat pelatihan membuat blog dan menulis cepat dan bermanfaat. Setelah sukses menyelenggarakan pelatihan blog pada 14 November 2009, pada 16 Januari 2010 akan dilaksanakan pelatihan serupa di Universitas Islam 45 (Unisma) Bekasi. Sejauh ini sebanyak 20 orang dosen Unisma telah memesan tempat untuk ikut serta dalam pelatihan, sementara tempat sisanya akan dibuka untuk umum (pengumuman kegiatan ini akan dimuat di blog komunitas dalam waktu dekat).

Selain sosialiasi blog, keaktifan be-Blog juga tampak dari penyelenggaraan berbagai lomba menulis seperti lomba SEO tentang Bekasi Peduli Aids, dan Lomba Penulisan blog dan foto bertema “Aku Cinta Bekasi” yang saat ini sedang berlangsung dan berhadiah total 45 juta rupiah.

Keaktifan be-blog lainnya juga bisa dilihat dari banyaknya artikel yang muncul di blog komunitas, dimana hampir setiap hari setidaknya 3-5 tulisan baru muncul. Berbagai topik dan isu dimunculkan oleh anggota be-Blog, ada yang dikemas serius dan ada pula disajikan ringan. Karenanya harus dimaklumi jika suatu tulisan tidak bisa mejeng terlalu lama halaman muka be-Blog.

Mengawali tahun baru ini, be-Blog juga akan menyelenggarakan kopi darat dengan Walikota Bekasi pada tanggal 9 Januari 2009. Antusiasme teman-teman blogger untuk mengikuti acara ini terlihat sangat besar sepeti tampak dari kontribusi tulisan yang masuk (hingga tulisan ini dibuat sudah terdapat 65 tulisan).

Mengenai kekhawatiran tulisan seorang blogger dapat dianggap mencemarkan nama baik dan menyeret blogger ke pengadilan, kami sampaikan bahwa bagaimanapun Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) diundangkan untuk memberikan kepastian hukum kepada masyarakat dalam melakukan transaksi elektronik. Bahwa dalam UU tersebut terdapat pasal yang bisa menjerat blogger, kami sampaikan agar kita bisa menghindarinya dengan mengikuti berbagai kiat aman dari jeratan UU ITE.

Hal lain yang dibicarakan adalah menyangkut aktivitas blogger dalam politik praktis, khususnya keterkaitan blogger Bekasi dengan kegiatan Walikota. Pertanyaan ini diajukan oleh salah seorang pendengar Radio Dakta, Pak Kosim, yang sedang berada di perjalanan antara Karawang-Bekasi (persis seperti judul puisi Chairil Anwar). Kami sampaikan bahwa pada dasarnya blogger bersikap netral dan dalam menyampaikan pandangannya di blog selalu diupayakan objektif. Blogger yang baik adalah blogger yang dapat menyampaikan pandangannya secara jernih dan objektif. Jika suatu hal memang dipandang baik maka akan dikatakan baik, sebaliknya jika buruk maka akan dikatakan buruk pula.

Menyangkut keterlibatan pemimpin daerah seperti walikota (dan suatu saat bupati atau bahkan gubernur) dalam kegiatan blogger, pada dasarnya tidak terlepas dari perlunya sinergi dan kerjasama yang baik antara blogger dan semua pihak terkait untuk bersama-sama membangun masyarakat dan wilayah Bekasi. Kritis dalam menyampaikan sesuatu hal bukan berarti diikuti sikap antipati atau sebaliknya dukungan yang membabi buta. Sikap kritis justru diperlukan untuk memunculkan solusi suatu permasalahan dan nantinya diimplementasikan dalam suatu kebijakan dan pelaksanaan di lapangan. Karenanya kerjasama antara blogger dan pejabat publik bukan dimaksudkan untuk menumpulkan sikap kritis blogger dalam menulis.

Menutup perbincangan, saya tekankan kembali mengenai tidak perlunya blogger khawatir terjerat pasal pencemaran nama baik dalam UU ITE dengan sikap kritisnya. Jika blogger menulis dengan baik di blognya dan memenuhi kiat-kiat terhindar dari UU ITE, Insya Allah tidak akan menemui masalah.

Selamat tahun Baru 2010, semoga ditahun ini kita semua bisa lebih aktif ngeblog, membuat tulisan dan mengupdate blognya secara teratur, dan tidak lupa melakukan blogwalking ke berbagai tempat untuk memperluas jejaring (networking).

14.11.09

Listrik Boleh Padam, Blogshop Be-Blog Tetap Jalan

Jauh-jauh hari acara blogshop blogger Bekasi (Be-Blog) telah direncanakan akan diselenggarakan pada hari ini tanggal 14 November 2009 mulai pukul 10.00 WIB. Awalnya kegiatan akan diselenggarakan di Balai Patriot milik Pemerintah Kota Bekasi, namun karena tempatnya terlalu besar dan pertimbangan lainnya, akhirnya acara dipindahkan ke STMIK Bani Saleh. Persiapan pun telah diatur sedemikian rupa, termasuk penggunaan komputer dan akses internet yang didukung Telkom Speedy.

Sayang, sehari menjelang acara digelar, Perusahaan Listrik Negara alias PLN dengan tenangnya menyampaikan bahwa pada tanggal 14 November 2009 kawasan dimana STMIK Bani Saleh berada terkena giliran pemadaman listrik. Saya yang berada jauh dari Bekasi (kebetulan sedang berdinas di Den Haag, Belanda) kemudian membayangkan bagaimana teman-teman panitia Be-Blog yang dikomandani Om Jay menjadi sedikit bingung mengenai kelanjutan pelaksanaan kegiatan.

Namun, dari informasi yang saya terima, keputusan cepat telah diambil, kegiatan tidak perlu dibatalkan. Acara akan berjalan walau tidak ada listrik dari PLN. Lho lalu dari mana mendapatkan listrik untuk komputer yang akan digunakan selama kegiatan ? Rupanya ada Plan B yang telah disiapkan yaitu menggunakan genset yang disediakan Telkom Speedy. Namun karena keterbatasan daya, listrik yang dihasilkan hanya akan digunakan untuk komputer pembicara saja. Sementara untuk para peserta diharapkan mengisi penuh baterai notebooknya supaya bisa mengikuti kegiatan secara penuh dan tetap maksimal. Sementara pelatihan online pembuatan blog diganti dengan memperbanyak jam praktek penulisan.

Alhamdullilah satu permasalahan untuk sementara sudah dapat diatasi. Semoga dengan keterbatasan listrik tidak memadamkan semangat berbagai ilmu dari teman-teman Be-Blog. Kalau keterbatasan listrik menjadikan terasa tidak maksimal, para peserta bisa mengkontak secara pribadi teman-teman panitia Be-Blog untuk berkonsultasi lebih lanjut. Toch teman-teman panitia Be-Blog juga teman-teman peserta dan juga teman blogger semua.

Selamat berblogshop dan maju terus blogger Bekasi dan Indonesia. Semoga dengan bertambahnya ilmu ngeblog yang didapat semakin banyak tulisan yang bisa dibaca banyak orang dan bermanfaat bagi pembacanya.

Untuk PLN yang semakin loyo dalam menyediakan daya listrik bagi masyarakat, semoga memperoleh kekuatan untuk menambah vitalitas PLN. Masa’ sudah 64 tahun merdeka, menyediakan pelayanan publik saja tidak mampu.

15.7.09

Dari Peluncuran Pesta Blogger 2009, Perlukah Blogger Memiliki Kode Etik

Bertempat di gedung serba guna Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo), Pantia Pesta Blogger 2009 (PB 2009) yang diketuai Iman Brotoseno secara resmi mengumumkan rencana ajang temu blogger Indonesia yang akan diadakan di Jakarta pada tanggal 24 Oktober 2009. Kegiatan pesta blogger kali ini merupakan penyelenggaraan yang ketiga kalinya sejak tahun 2007. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, kegiatan PB09 kali inipun diorganisir oleh Maverick dan Bubu.com dan mendapatkan dukungan utama dari Depkominfo, Kedutaan Besar AS di Jakarta, Microsoft dan Air Asia.

Adapun tema yang ditetapkan untuk pesta blogger kali ini adalah One Spirit One Nation. Menurut Iman, dipilihnya tema tersebut tidak terlepas dari penyelenggaraan pemilu tahun 2009 dimana kita seakan terpecah oleh partai, kelompok ataupun capres/cawapres. Karenanya melalui tema One Spirit One Nation para blogger diharapkan dapat mengatasi segala perbedaan dan bisa lebih merekatkan diri sebagai satu bangsa serta berperan konstruktif dalam menjaga persatuan nasional.

Mewakili Menteri Kominfo Mohammad Nuh yang berhalangan hadir karena menghadiri rapat Kabinet, Dirjen Aplikasi Telematika Cahyana Ahmadjayadi mengemukakan bahwa pemerintah mendukung penuh penyelenggaraan pesta blogger yang diharapkan dapat menjadi penyemangat terbentuknya Indonesia yang lebih kuat. Terkait dengan kebebasan yang dimiliki setiap blogger, Pak Cahyana mengemukakan bahwa pada dasarnya setiap blogger memiliki kebebasan penuh namun demikian tetap harus memiliki tanggungjawab.

Mengenai UU ITE, yang banyak dikhawatirkan pengguna internet, khususnya blogger, sebagai ancaman terhadap kebebasan berpendapat, Pak Cahyana mengemukakan bahwa UU ITE sendiri pada dasarnya dimaksudkan untuk melindungi kegitan transaksi elektronik agar para penggunanya memiliki kekuatan hukum atas bukti transaksi yang dijalankan. Memang dalam UU ITE terdapat pasal 27 ayat 3 yang mengatur mengenai larangan pencemaran nama baik dan penghinaan, tapi hal tersebut bisa dicegah jika para pengguna internet memiliki hak dan kewajiban.

Ditambahkannya bahwa untuk mencegah terulangnya kasus Prita, dirasakan perlu adanya suatu terobosan agar para blogger dapat memiliki hak dan kewajiban sebagai pengguna internet. Untuk itu Depkominfo bersama-sama dengan para pakar hukum telematika dan beberapa blogger telah beberapa kali bertemu untuk membahas dan mencari solusi yang sesuai. Dari pertemuan-pertemuan yang telah dilakukan diperoleh masukan mengenai perlunya para blogger Indonesia memiliki kode etik blogger seperti kode etik bagi wartawan. Dengan memiliki kode etik, para blogger akan memiliki rambu-rambu mengenai mana yang sebaiknya dilakukan dan mana yang perlu ditinggalkan.

Namun mengingat blogger dan para pengguna internet lainnya tidak berkumpul dalam suatu organisasi yang solid tentu saja tidak mudah merumuskannya. Karenanya disarankan agar dalam penyusunan kode etik blogger kiranya dapat belajar dari nettiqute para pengguna internet secara umum. Dalam nettiquete disebutkan antara lain perlu dipatuhinya aturan-aturan dalam pengiriman pesan di internet, misalnya tidak menuliskan pesan dengan menggunakan huruf besar semuanya. Karena penulisan dengan huruf-huruf besar dianggap sebagai bentuk ekspresi kemarahan si penulis.

Lalu kalaupun memang blogger Indonesia dipandang perlu untuk memiliki suatu kode etik tersendiri, kapan kode etik tersebut akan terbentuk? Jawaban pertanyaan ini tentunya akan terpulang kepada seluruh blogger Indonesia. Sebagai sebuah proses pembelajaran , penyusunan suatu kode etik blogger dapat dipandang sebagai suatu proses pendewasaan dalam membuat suatu tulisan dan menentukan suatu tulisan layak tampil ke publik. Dengan kata lain sensor suatu tulisan dilakukan oleh si blogger itu sendiri.

Dalam hubungan tersebut di atas, berbagai kegiatan blogshop (blogging workshop) - seperti yang pertama kali digagas dan dilaksanakan secara periodik oleh Kompasiana (Kompasiana Blogshop) dan nantinya akan diselenggarakan pula oleh Panitia Pesta Blogger 2009 di beberapa daerah yaitu Malang, Balikpapan, Samarinda, Makassar, Medan, Bandung dan Yogyakarta - kiranya dapat diapresiasi dengan baik sebagai upaya untuk mengenalkan nilai-nilai positif dan semangat berbagi informasimelalui blog.

Kita tentunya berharap kalaupun nantinya disepakati adanya suatu kode etik bagi blogger Indonesia, maka blogger Indonesia tidak dihantui kekhawatiran dan ketakutan tentang apa yang boleh dan tidak diunggah ke blog. Apapun latar belakang seorang blogger (agama, suku, partai politik, pilihan capres ataupun sekedar hobby), semuanya diharapkan tidak akan menjadi sumber pertentangan dan ajang melontarkan kata-kata yang tidak patut.

Selamat hari Rabu rekan-rekan pembaca, apakah hari ini anda berpendapat blogger Indonesia perlu kode etik ?


11.2.08

Museum dan Sejarah Kita

Free Image Hosting at allyoucanupload.com Kalau ditanya berapa kali anda dan keluarga anda berkunjung ke museum dan berapa kali ke mall setiap tahunnya, mungkin anda akan lebih mudah menjawab pertanyaan yang pertama. Jawabannya kalau tidak 0, paling banter 1-2 kali saja. Terus terang saja, saya juga dulu termasuk yang jarang mengunjungi museum. Makanya ketika diundang Mas Iman Brotoseno untuk ikutan ngisi ceritaindonesia saya agak sedikit grogi. Saya bukan sejarawan dan pengetahuan saya tentang sejarah pun minim sekali. Berbeda dengan menulis di ceritakaos yang bisa lebih bebas, menulis atau tepatnya mewartakan kembali informasi tentang (sejarah) Indonesia dengan jujur, jelas tidak mudah. Dibutuhkan suatu keakuratan mengenai suatu peristiwa yang ingin disampaikan.

Beruntunglah sekarang ini ada Pakde Gugel yang hampir tahu segalanya dan langsung membawakan informasi yang dibutuhkan kehadapan kita. Dengan sedikit pengetahuan saya dan informasi dari Pakde Gugel jadilah tulisan pertama saya disana. Bahwa tulisan pertama tersebut tentang Perjanjian Linggajati, terus terang tanpa disengaja. Kebetulan ketika saya membereskan ruang kerja, terlihat gambar rumah tempo dulu di sebuah kalender tahun 2007.

Free Image Hosting at allyoucanupload.com
Narasi singkat pada kalender tersebut menyebutkan bahwa rumah tersebut merupakan Museum Perundingan Linggajati. Disana tercantum bahwa pada tanggal 11-13 November 1947, di rumah tersebut telah dilakukan perundingan antara Pemerintah Indonesia dan Belanda. Disebutkan pula di rumah itulah untuk pertama kalinya Indonesia dan Belanda berada dalam satu meja perundingan sebagai dua pihak yang setara.

Sebenarnya tidak ada yang keliru dengan penyebutan gambar rumah tersebut, sampai kemudian saya ingat bahwa Perundingan Linggajati sebenarnya dilaksanakan pada tahun 1946 dan hasilnya baru ditandatangani pada tahun 1947. Karena Belanda kemudian menolak isi perjanjian tersebut, maka dilakukanlah Aksi Polisional I atau yang dikenal sebagai Clash Action I pada tahun 1947.

Setelah konsultasi (lagi-lagi) dengan Pakde Gugel dan Wiki Cahandong Wikipedia, diketahui bahwa Perundingan Linggajati memang benar dilaksanakan tanggal 11-12 November 1946 bukan tahun 1947. Untung saja kalender tersebut cuma berlaku setahun dan bukan merupakan buku sejarah yang harus dipelajari. Bayangkan kalau kekeliruan tercantum dalam buku sejarah, bisa-bisa pembacanya akan mengingat bahwa Perjanjian Linggajati dilaksanakan tahun 1947. Itu baru soal tahun, belum lagi menyentuh substansi lainnya seperti hal-hal yang dirundingkan dan hasil-hasilnya.

Gambar museum dan kesalahan narasi sepertinya tidak ada hubungannya. Namun sebenarnya keduanya memiliki kesamaan yaitu perlunya pemahaman sejarah. Museum dibuat dengan kesadaran bahwa seluruh anggota masyarakat perlu mendapatkan pendidikan sejarah guna dapat memahami negeri ini. Museum merupakan jendela yang dapat membuka perjalanan bangsa suatu bangsa.

Kalau sekarang ngomongin museum pastinya akan ditanggapi dengan sebelah mata. Lebih mengasyikan berjalan-jalan di mall, chatting atau nongkrong di café. Mengunjungi museum dinilai sebagai tindakan yang membosankan, apalagi banyak museum yang kotor, kumuh dan menyeramkan. Selain itu ada anggapan bahwa museum diperuntukkan untuk anak sekolah/mahasiswa untuk menjawab tugas-tugas yang diberikan sekolahnya.

Bahwa berkunjung ke museum membosankan dan kadang museumnya tidak terawat ada benarnya. Karenanya dibutuhkan kreatifitas dari pemerintah dan pihak pengelola museum dalam menata museum agar bisa dipasarkan dan menjadi pilihan seluruh keluarga dalam mengisi liburan atau akhir pekan sambil melepas penat. Selain itu pemerintah diharapkan juga tidak pelit dalam mengucurkan dana bagi biaya perawatan museum.

Mengenai pandangan bahwa museum hanya untuk pelajar/mahasiswa atau bahkan peneliti, sepenuhnya tidak benar. Museum sebagai tempat pembelajaran sejarah, merupakan tempat untuk semua orang. Siapa saja boleh masuk ke museum dan mempelajari isinya, tidak ada perbedaan sosial ekonomi, pendidikan, suku ataupun agama.

Kalau saja pemerintah, pengelola museum, kurator dan anggota masyarakat bisa bekerjasama menghidupkan museum, mungkin museum di Indonesia akan lebih ramai pengunjung dan anggota masyarakat yang belajar sejarah akan lebih banyak lagi. Belajar sejarah dengan senang hati tanpa harus merasa seperti diindoktrinasi.

Mungkin sangat berlebihan jika saya membayangkan bahwa suatu saat museum di Indonesia akan seramai Museum Louvre di Paris, yang dikunjungi ribuan wisatawan setiap akhir pekannya. Mereka bukan hanya ingin melihat lukisan Monalisa tetapi juga ingin menyaksikan sejarah Eropa pada umumnya dan karya seni dunia lainnya. Bahkan setelah novel dan film Da Vinci Code beredar, Museum Louvre menjadi lebih ramai oleh pengunjung yang ingin mencocokan tempat-tempat yang disebutkan dalam novel tersebut.

Namun kiranya tidak berlebihan jika membayangkan bahwa setiap keluarga di Indonesia setidaknya berkunjung ke museum sebanyak 2-3 kali dalam setahun. Kalau kegiatan mengunjungi museum sudah bisa menjadi bagian budaya, maka kejadian salah narasi seperti dalam kalender di atas tidak akan terulang. Dan yang jelas pula tidak akan ada salah menyebutkan foto RA Kartini sebagai Nyonya Meneer atau secara cengengesan menyebutkan gambar Tuanku Imam Bonjol sebagai ketua FPI.

Free Image Hosting at allyoucanupload.comO ya ketika membuat tulisan ini, saya menemukan situs museumkita. Saya tidak kenal siapa pengelolanya, pemerintah atau perorangan, tapi saya angkat topi untuk usahanya mengenalkan museum yang ada di Indonesia. Saya perhatikan isinya masih banyak yang kosong. Kalau ada diantara anda ada yang memiliki informasi mengenai museum dan kegiatannya, mungkin bisa membantu pengelola untuk melengkapinya.

10.11.07

So(sok) Pahlawan

Pernah nonton Accidental Heroes yang dibintangi Dustin Hoffman dan Andy Garcia? Film jadul buatan tahun 1992 ini bercerita tentang 2 orang kriminal kelas teri yang berubah menjadi pahlawan setelah menolong penumpang sebuah pesawat terbang yang terperosok saat melakukan pendaratan darurat. Salah seorang penumpang yang berhasil diselamatkan adalah reporter TV yang kemudian menyebarkaluaskan berita ini, termasuk tindakan penyelamatan yang dilakukan Berni Laffante (diperankan Dustin Hoffman). O ya, saat kejadian, karena gelap sang reporter tidak mengenali sosok Berni yang buru-buru meninggalkan pesawat setelah regu penyelamat tiba di lokasi kecelakaan. Berni sendiri buru-buru meninggalkan pesawat karena takut tindakannya mencuri dan mengambil barang penumpang diketahui orang lain.

Sang reporter kemudian berupaya menemukan sosok Berni untuk mengucapkan terima kasih dan memberikan sejumlah uang sebagai bentuk penghargaan. Bak dongeng Cinderella, pencarian dilakukan dengan bermodalkan sebelah sepatu Berni yang tanpa sengaja tertinggal di lokasi kejadian. Cerita akan berakhir disini kalau saja Berni menyimpan sepatu yang sebelahnya dan mengakui bahwa dialah yang menolong para penumpang. Sayang Berni membuang sebelah sepatu tersebut, yang kemudian dipungut rekannya sendiri sesama kriminal kelas teri John Bubber (dimainkan Andy Garcia). Berbekal sebelah sepatu dan cerita penyelamatan yang didengarnya sendiri dari Berni, John kemudian mengaku sebagai pahlawan yang menyelamatkan penumpang. Celakanya, pada saat yang bersamaan, Berni justru baru ditangkap polisi karena kedapatan mencuri.

Akhirnya dengan bantuan media massa, John dipandang sebagai sosok pahlawan yang tanpa pamrih melakukan pertolongan kepada orang yang membutuhkan. Ketika Berni akhirnya keluar dari penjara dan mengaku bahwa dialah yang sebenarnya menolong para penumpang pesawat, tentu saja banyak orang yang tidak mempercayainya. Apalagi Berni dikenal sebagai seorang kriminal dan baru saja keluar dari penjara.

Tapi seperti umumnya film Hollywood yang selalu happy ending, John akhirnya mengakui bahwa sebenarnya bukan dia yang menolong penumpang, melainkan Berni. Sementara Berni juga mengakui bahwa niat awalnya masuk ke dalam pesawat bukanlah untuk membantu para penumpang menyelamatkan diri, melainkan untuk mencuri barang yang ada di pesawat. Itulah sebabnya ia segera berlari meninggalkan pesawat begitu petugas penyelamat datang. Jadi ia menghilang bukan karena tidak ingin dikenal.

Lagi-lagi dengan bantuan media massa, pengakuan Berni dan John ini kemudian dikemas menjadi cerita baru. Pengakuan tulus yang dilakukan secara terbuka oleh keduanya dipandang sebagai suatu kejujuran dan keberanian yang luar biasa dan tidak kalah heroiknya dengan aksi kepahlawanan lainnya. Suatu sikap yang tampaknya tidak lagi banyak dimiliki masyarakat perkotaan.

Lalu apa inti dari dongengan mengenai film buatan tahun 1992 ini? Sederhana saja, ternyata sosok kepahlawanan bisa muncul dari suatu kejadian biasa saja dan dari kejadian sehari-hari yang berlangsung di sekitar kita. Untuk menjadi pahlawan tidak perlu mengangkat senjata dan pergi ke medan tempur. Pahlawan juga bisa diciptakan, oleh media. Media memiliki peran besar dalam membentuk pencitraan sosok kepahlawanan seseorang. Secara satir film ini ingin memperlihatkan bahwa masyarakat bisa saja tertipu dengan pencitraan yang dibuat media mengenai sosok pahlawan. Bahwa seorang pahlawan adalah sosok yang sempurna, padahal pahlawan juga manusia biasa.

Masih dengan semangat mencitrakan sosok pahlawan, CNN mencoba menampilkan pahlawan-pahlawan kontemporer, yang berjuang tidak lagi dengan memanggul dan menembakkan senjata, melainkan mereka-mereka yang bergiat untuk memajukan masyarakat, melindungi hak-hak anak, memperjuangkan keadilan, anak-anak muda yang dipandang melakuka kegiatan luar biasa, dan tindakan-tindakan lain yang memberikan inspirasi dan membangkitan keberanian.

Kemudian, disadari atau tidak, Panitia Hadiah Nobel yang tersohor juga menetapkan kepahlawanan tersendiri berdasarkan kategorisasi, misalnya perdamaian, kedokteran, fisik, sastra dan sebagainya. Khusus penetapan pahlawan (baca pemenang hadiah nobel) perdamaian, Panitia Nobel juga mulai menyesuaikan kriterianya lebih ke akar permasalahan (hulu). Mereka yang dianggap layak sebagai pahlawan baru adalah mereka yang konsisten mengatasi akar masalah perdamaian yaitu kemiskinan. Sehingga tidak mengherankan jika M. Yunus dinyatakan sebagai pahlawan perdamaian 2006 serta Al Gore dan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) sebagai pahlawan perdamaian 2007.

Tidak ada yang salah dengan kategorisasi-kategorisasi seperti tersebut di atas. Hanya saja jangan sampai kita terjebak dengan sosok-sosok pahlawan yang dimunculkan media massa atau organisasi internasional. Karena sebenarnya dalam kehidupan kita sehari-hari, banyak pahlawan-pahlawan yang tidak terliput media massa dan seringkali juga luput dari perhatian kita semua. Ingat saja himne guru “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” yang mepersonifikasikan kepahlawanan guru yang terabaikan.

Satu hal yang pasti, setiap orang adalah pahlawan, setidaknya untuk dirinya sendiri ataupun keluarga. Tidak mudah memang menjadi pahlawan, tampaknya lebih mudah menjadi pahlawan kesiangan yaitu orang-orang yang ketika masa sulit sembunyi dan susah dicari (kalau jaman sekarang handphonenya susah dihubungi dan nomornya berganti-ganti setiap saat), dan baru tampil ketika masa sulit teratasi dan mengaku-ngaku bahwa kesuksesan yang diraih berkat usahanya.

Harapan saya, semoga anda dan saya, tidak termasuk dalam kategori pahlawan kesiangan. Selamat Hari Pahlawan 10 November 2007. Pekik merdeka 3X … pekik, pekik, pekik !!!

4.9.07

Ayo Kembali ke Sekolah

Setelah libur panjang musim panas selama 7 minggu, mulai Senin 3 September 2007 anak-anak usia sekolah di Belgia sudah harus kembali ke bangku sekolah. Seperti tahun-tahun sebelumnya, para murid dan orang tua dengan penuh gairah memulai tahun ajaran baru, dengan pelajaran dan buku baru. Di sekolah-sekolah negeri, baik yang berbahasa Belanda ataupun Perancis, buku pelajaran biasanya disediakan secara cuma-cuma. Buku pelajaran sudah dipersiapkan sejak dini, sehingga tidak ada kegaduhan mengenai penggunaan buku pelajaran, apalagi sampai heboh gonta ganti buku pelajaran. Selanjutnya para orang tua murid hanya diminta membeli perlengkapan alat tulis untuk satu tahun ajaran, yang jenis dan jumlahnya sudah disebutkan oleh pihak sekolah saja.

Selain tidak direpotkan dengan buku pelajaran, murid dan orang tua juga tidak diributkan dengan masalah seragam. Di sekolah-sekolah di Belgia, pada umumnya tidak ada aturan bahwa setiap murid harus menggunakan seragam sekolah. Para murid diperkenankan menggunakan pakain bebas rapih.

Kesiapan memasuki tahun ajaran baru bukan monopoli pihak sekolah dan orang tua, tetapi juga sektor lain yang mendukung kelancaran kegiatan sekolah seperti pihak pengelola transportasi. Untuk memberikan angkutan gratis bagi anak sekolah berumur 12 tahun kebawah, pihak pengelola transportasi memberikan kartu berlangganan (abondemen) gratis kepada pelajar usia 12 tahun kebawah. Berdasarkan data base yang ada dan tanpa adanya permintaan, kartu berlangganan tersebut dikirimkan langsung ke alamat sang pelajar.

Kalau kebetulan seorang pelajar belum menerima kartu berlangganan gratis, misalnya karena pendatang baru sehingga namanya tidak tercantum dalam data base, pelajar yang bersangkutan dipersilahkan mengisi formulir yang disediakan di loket-loket stasiun kereta api. Setelah diproses, sekitar seminggu kemudian si pelajar akan memperoleh kartu berlangganan. Kartu tersebut dikirimkan langsung ke alamat orang tua si pelajar. Sementara pelajar yang telah berusia 12 tahun ke atas, meski membayar, namun hanya membayar sesuai harga pelajar, sekitar 50 persen dari harga yang berlaku.

Dengan keadaan seperti di atas, sekolah di Belgia cukup menyenangkan dan tidak merepotkan orang tua. Para orangtua sangat terbantu dengan persiapan yang dilakukan, mulai dari buku pelajaran hingga transportasi. Merujuk hal tersebut, kapan yach para orang tua di Indonesia dapat memperoleh pendidikan yang baik bagi putra/putrinya, tanpa harus direpotkan masalah-masalah seperti buku pelajaran, iuran sekolah ataupun transportasi?

4.5.07

Mengenang Guru

Tanggal 2 Mei kemarin kita semua memperingati hari pendidikan nasional (hardiknas). Seperti umumnya memperingati hardiknas, kita akan selalu diingatkan akan jasa-jasa para guru dalam mendidik putra-putri bangsa. Secara pribadi, terkadang kita juga akan selalu diingatkan akan kenangan terhadap guru-guru yang pernah mendidik kita di sekolah. Mungkin kita akan diingatkan akan guru yang baik, sabar dan telaten dalam membimbing dan mengajari kita. Terkadang kita juga diingatkan akan guru yang lucu, galak dan sering marah-marah. Tidak jarang pula kita teringat akan guru yang rajin memberikan pekerjaan rumah atau suka menghukum murid di depan kelas. Mengingat itu semua sekarang mungkin kita semua bisa tersenyum-senyum sendiri, sambil mengingat-ingat betapa bodohnya dan mungkin juga betapa bandelnya kita.
Saya ingat Pak Makful, guru saya waktu di SD, beliau sangat sabar dalam mendidik dan mengajarkan murid-muridnya. Padahal banyak muridnya yang dikenal bandel (termasuk saya hehehe). Satu pengalaman yang masih berkesan adalah ketika pelajaran sejarah, beliau menjelaskan mengenai Timtim. Kebetulan saat itu Timtim baru saja diintegrasikan kedalam NKRI menjadi provinsi RI ke-26. Dan kebetulan pula dikelas saya ada murid baru yang berasal dari provinsi tersebut, namanya Raid. Beliau menanyakan ke murid-muridnya apakah ada yang tahu kepanjangan Timtim?. Mendapat pertanyaan tersebut, saat itu tidak ada satupun murid yang ditunjuk yang bisa menjawabnya. Pas giliran saya, dengan yakin saya jawab bahwa Timtim itu merupakan kependekan dari taman ismail marzuki taman ismail marzuki (maklum saat itu saya hanya tahu kependekan dari TIM yaitu Taman Ismail Marzuki yang di Cikini). Beliau tidak marah mendengar jawaban saya dan hanya tersenyum-senyum. Selanjutnya sambil memperkenalkan Raid, beliau menerangkan mengenai provinsi Timtim.

Lain lagi dengan Pak Soeprayogi, guru olah raga saat SMP. Saya sangat ingat sekali dengan beliau, karena berkat ”hadiah” dari beliau, saya sulit duduk dengan nyaman selama seminggu. Ceritanya gara-gara bermain sepak bola saat hujan di halaman sekolah, hampir sebagian besar murid pria di kelas kami harus merasakan hukuman dari beliau. Hukumannya tidak tanggung-tanggung, bukan cuma sekdar distrap di depan kelas, tetapi juga disabet dengan rotan (maaf) di pantat. Akibatnya tentu saja saya dan rekan-rekan yang terkena sabetan rotan susah harus menahan sakit saat pelajaran sekolah selama seminggu.

Di SMA, ada banyak nama guru yang masih saya ingat, misalnya saja ibu Asmidar (yang berkonde dan berkebaya, mengajar bahasa Indonesia), Pak Thamrin yang mengajar Matematika, Pak Santo (kimia), Bu Asmarni (biologi) dan tentu saja Pak Djoko Soedibyo (beliau ini walau enggak pernah ngajar di kelas, tapi namanya ada terus di ijazah SMA karena beliau kepala sekolahnya hehehehe). Mereka merupakan beberapa guru yang sangat baik dan berdedikasi tinggi. Ada juga pak Filemon yang ngajar fisika waktu kelas 1 sebelum penjurusan dan rajin ngasih les private. Ada juga bu guru matematika yang kurus langsing (kalau gak salah namanya bu Maria Ulfah).

Wah banyak sekali kalau mau mengabsen satu persatu dan jujur saja banyak nama-nama yang sudah saya lupa. Tapi walau lupa dengan nama-nama mereka, saya tetap sangat menghormati mereka sebagai pahlawan tanpa tanda jasa yang berperan penting dalam turut memajukan bangsa ini. Untuk itu, mumpung hardiknas belum terlewat jauh, saya turut mengucapkan selamat hardiknas, semoga dunia pendidikan Indonesia semakin bertambah maju. Kepada bapak dan ibu guru selamat bertugas dan sukses selalu. Salam hardiknas !!!

27.2.07

Mathematics in Islam

On 23rd February 2007, the BBC News issued an article on Advanced Geometry of Islamic Arts. It was mentioned that a study of medieval Islamic art has shown some of its geometric patterns use principles established centuries later by modern mathematicians. According to the researchers, Islam has applied the concepts of geometry on their arts since 15th Century. This indicates intuitive understanding of complex mathematical formula, even if the artisans had not worked out the underlying theory.

Quoting from Wikipedia, actually the history of Islamic mathematics refers to the mathematics developed by mathematicians of the Islamic culture, from the beginning of Islam until the 17th century — mostly including Arab and Persian mathematicians, as well as other Muslims and non-Muslims that were a part of the Islamic culture. Islamic mathematics is also known as Arabic mathematics due to most of the texts on Islamic mathematics being written in Arabic. Islamic mathematics is the main aspect of the greater history of Islamic science, and also an important part of the history of mathematics.

Since I am not mathematician or even a scientist, I would not explore it in advance. I am simply trying to quote that mathematic and other kinds of science are not new issues in Islam. From literatures we knew that the development of science in the world can be traced directly to the Muslim scientists. For example if we discussed the development in chemistry, we could refer to Jabir Ibn Haiyan, is generally known as the father of chemistry (died 803 C.E). Jabir wrote several books on chemistry. Two of his books, Kitab-al-Kimya, and Kitab al-Sab'een, were translated into Latin and various European languages. Those books were popular in Europe for several centuries and have influenced the evolution of modern chemistry. Today, several technical terms devised by Jabir, such as alkali, are found in various European languages and have become part of scientific vocabulary.

In addition, some other Muslim scientists and thinkers have also contributed immensely to human knowledge especially in the period between 8th and 14th century CE. For example, we could refer to Ibn Sina or Avicenna (980-1037) who well known in Medicine, Philosophy, Mathematics, and Astronomy. We could also named Ibn Rushed or Averroes (1128-1198) for Philosophy, Law, Medicine, Astronomy, and Theology.

That was in the past, now we should admit that Muslim scientists contributions have been largely lag behind the western countries. Wars, Conflicts and other internal problems make scientists in Muslim countries could not develop and explore their potential capabilities. Research and development activities are so limited as well as its supporting literatures. If it was not burned during the wars, most of literatures have been transferred to the western countries. It is regrettable that nowadays Muslim scientist could not compete with others in order to enhance knowledge and for the common interest of human being.

12.1.07

Kebijakan Multi Bahasa di Uni Eropa

Memasuki tahun 2007, keanggotaan Uni Eropa (UE) meningkat dari 25 negara anggota menjadi 27 dengan masuknya Bulgaria dan Rumania pada tanggal 1 Januari lalu. Bersamaan dengan masuknya kedua negara tersebut, bahasa nasional mereka pun kemudian ditetapkan sebagai bahasa resmi di UE. Penetapan tersebut tidak terlepas dari kebijakan multi bahasa UE yang tetap mengakui bahasa nasional masing-masing negara anggota sebagai medium komunikasi resmi dalam setiap pertemuan ataupun bahasa dalam dokumen-dokumen yang dihasilkan. Dengan demikian, jika sebelumnya bahasa resmi di UE hanya berjumlah 21 bahasa, dengan diakuinya bahasa nasional Bulgaria dan Rumania, maka bahasa resmi UE menjadi 23 bahasa.

Kebijakan multi bahasa UE yang mengikat semua warganya, boleh dikatakan merupakan hal yang unik dan cermin pengakuan bahwa setiap bahasa nasional masing-masing negara anggotanya diperlakukan sama. Perlakuan sama diberikan, entah itu kepada bahasa yang banyak dipergunakan seperti Perancis, Jerman dan Inggris ataupun bahasa yang hanya dimengerti warga negara yang bersangkutan seperti bahasa Ceko, Hungaria ataupun Malta.

Dengan kebijakan multi bahasa tersebut, UE memiliki kewajiban untuk menyediakan tenaga penterjemah, baik untuk kepentingan pertemuan ataupun untuk menterjemahkan semua dokumen yang ada. Tujuannya adalah agar setiap warga negara UE memahami ketentuan-ketentuan yang tercantum di dalam dokumen, dengan bahasa masing-masing. Untuk itu, bisa dibayangkan berapa banyak tenaga penterjemah yang dibutuhkan dan berapa besar biayanya.

Ketika pada tahun 2004 sepuluh negara bergabung menjadi anggota baru UE, setidaknya terdapat 80 ribu halaman dokumen perjanjian dan berbagai ketentuan terkait yang harus diterjemahkan kedalam 9 bahasa baru pada saat itu. Anggaran yang dipergunakan pada tahun 2004 diperkirakan sebesar 807 juta euro. Sementara anggaran UE secara keseluruhan sebesar 99,8 milyar euro. Dengan demikian anggaran tahunan yang dialokasi untuk melakukan penterjemahan saja adalah sebesar 1 persen dari total anggaran. Sekarang di tahun 2007, dengan masuknya dua negara baru, anggaran yang dipergunakan untuk penterjemahan meningkat menjadi 1,1 milyar euro.

Meskipun anggota UE merupakan negara-negara maju, namun jumlah anggaran penterjemah yang melebihi 1 milyar euro per tahunnya tentu saja menimbulkan pertanyaan, terutama yang terkait dengan efesiensi dan efektifitas penterjemah dalam setiap pertemuan, yang jumlahnya diperkirakan sebanyak 11.000 pertemuan setiap tahunnya. Selain pertemuan pleno dalam berbagai level, sebenarnya banyak pertemuan yang tidak perlu menggunakan seluruh bahasa resmi, cukup mempergunakan beberapa bahasa yang banyak penggunanya. Sehingga penggunaan anggaran penterjemah dapat lebih efisien.

Menyimak pengalaman UE, saya merasa bersyukur bahwa Indonesia memiliki bahasa nasional sekaligus bahasa persatuan yaitu bahasa Indonesia. Seandainya saja pada tahun 1928 tidak ada Sumpah Pemuda, yang mengikrarkan satu bahasa persatuan, kita akan dihadapkan pada kerumitan seperti yang dihadapi UE. Contohnya, kita akan dihadapkan pada kesulitan memfasilitasi penterjemahan pada pertemuan-pertemuan di DPR atau saat rapat koordinasi antar gubernur yang biasanya diadakan setiap tahun. Dibutuhkan tenaga-tenaga penterjemah bahasa Jawa, Sunda, Aceh, Batak, Ambon, Manado, Betawi, Bugis, Madura, Bali, Dayak, Palembang, Padang, Melayu, Papua dan banyak lagi yang lainnya. Kesulitan lainnya terhadi saat menterjemahkan berbagai peraturan perundangan, ketentuan-ketentuan ataupun dokumen-dokumen yang dihasilkan ke dalam berbagai bahasa daerah.

Dari segi biaya, kita juga akan dihadapkan pada jumlah biaya yang sangat besar. Sebagai contoh, anggaran sebesar 1,1 milyar euro per tahun sama saja dengan Rp. 13,2 triliun. Duit sebesar Rp 13,2 triliun tersebut tentu saja akan sangat berarti untuk menunjang prioritas program kegiatan yang sangat dibutuhkan masyarakat seperti peningkatan kapasitas dan kualitas pendidikan di Indonesia (sebagai gambaran anggaran pendidikan dalam APBN 2007 saja sebesar kurang lebih 18 triliun atau cuma lebih besar 4,8 triliun saja).
Sementara itu, bagi saya sendiri, akan terdapat kesulitan menulis di blog dengan bahasa yang bisa dimengerti seluruh orang Indonesia. Tidak mungkin saya menulis blog dalam bahasa Batak, Manado, Bugis dan bahasa-bahasa daerah lain yang tidak saya mengerti. Namun dengan satu bahasa persatuan seperti sekarang, setidaknya setiap orang Indonesia yang bisa membaca, akan mengetahui arti kata-kata yang saya tulis.