9.2.10

Warga Bekasi (Ternyata) Tak Peduli Adipura

Target Walikota Bekasi H. Mochtar Mohamad untuk meraih Piala Adipura tahun 2010 tampaknya akan menghadapi tantangan serius. Ketika beliau secara sungguh-sungguh berkampanye dari satu tempat ke tempat lain, melakukan aksi tanam pohon setiap minggu dan ber iklan di radio, ternyata tidak jauh dari kantor walikota, tepatnya di kawasan Gelanggang Olah Raga (GOR) dan Bumi Perkemahan Pramuka kondisinya masih sangat memprihatinkan. Sehingga tepat rasanya jika dikatakan semut di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak kelihatan.

GOR dan Bumi Perkemahan Pramuka yang letaknya persis di depan kantor walikota ini, setiap akhir pekan memang selalu dipadati warga Bekasi yang ingin melakukan berbagai kegiatan seperti berolah raga, berekreasi hingga berpacaran. Tempatnya yang cukup luas dan rimbun memang menunjang semua kegiatan tersebut. Sayang kondisi kebersihan lingkungan tidak terpelihara dan dengan mudah dapat dijumpai sampah-sampah yang berserakan.

Banyaknya anggota masyarakat yang berkumpul, disertai kehadiran pedagang kaki lima, menjadikan kawasan GOR dan Bumi Perkemahan sangat ramai, khususnya di akhir pekan. Namun rendahnya kesadaran anggota masyarakat dalam turut serta memelihara kebersihan dan lingkungan, menjadikan kawasan ini kotor. Kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan dan senantiasa mengedepankan aspek kebersihan merupakan faktor penting berhasilnya upaya memelihara kebersihan lingkungan.

Untuk itu, sebelum jauh-jauh bicara tentang Adipura dan kesadaran masyarakat, hanya ada sebuah pertanyaan sederhana yang kiranya perlu dijawab “Apa upaya anda menjaga kebersihan dan sudahkan hari ini anda membuang sampah pada tempatnya ?”

Read More..

30.1.10

Twitter Melinjo, Anggota DPR, dan Blog

Pagi ini ketika mengakses akun twitter mobile muncul keterangan “twitter is over capacity. Too many tweets! Please wait a moment and try again”. Saya cuma termangu saja membaca keterangan ini. Oops … ternyata banyak juga pengguna twitter di negeri ini sehingga untuk mengaksesnya pun harus antri.

Lalu iseng-iseng saya mencoba mencari tahu tentang berapa jumlah pemilik akun twitter di Indonesia saat ini. Dari hasil konsultasi dengan Om Gugel diketahui bahwa berdasarkan laporan RJMetrics Inc yang dikutip Vivanews, jumlah pemilik akun twitter di seluruh dunia sebanyak 75 juta. Dari jumlah tersebut sebanyak 2.41 persen atau sekitar 1,8 juta berasal dari Indonesia. Suatu jumlah yang cukup besar dan memperlihatkan antuasme kalangan pengguna internet. Saking banyaknya pengguna Twitter di Indonesia tidak mengherankan jika pengguna Twitter Indonesia nangkring di peringat ke-6 dunia.

Sebagai suatu layanan jejaring sosial dan micro-blogging tidak berbayar yang mulai diperkenalkan pada Maret 2007, Twitter memang membuat kepincut banyak pengguna internet. Dengan program pengiriman pesan pendek 140 karakter melalui berbagai layanan seperti lewat sms, instant messenger, web service atau layanan pihak ketiga seperti Twitterrific, Twhirl dan Facebook, menjadikan pada pengguna internet mudah untuk mengupdate berbagai perkembangan dan peristiwa yang terjadi. Lewat Twitter bisa didapatkan updates informasi terbaru secara gratis mengenai apa yang dilakukan teman, saudara, keluarga atau blogger seperti saya ini.

Lalu apa hubungannya Twitter dengan melinjo atau tangkil dalam bahasa Sundanya? Bukankah selama ini melinjo lebih dikenal sebagai tanaman yang bijinya sering digunakan untuk sayur asem ataupun bahan baku emping?.

Begini ceritanya, di Twitter dalam beberapa hari terakhir ini ramai kicauan (istilah di Twitter untuk postingan) tentang seorang anggota DPR RI yang berkomentar bahwa masalah perdagangan manusia (human trafficking) adalah tugasnya Kementerian Perdagangan. Komentar anggota DPR RI tersebut tentu saja dianggap lucu. Sejak kapan Kementerian Perdagangan menangani perdagangan manusia? Memangnya manusia disamakan dengan komoditi perdagangan lainnya sehingga harus ditangani Kementerian Perdagangan. Kalau iya, jangan-jangan perdagangan manusia akan diatur pula dalam kerangka kerjasama ASEAN-China Free Trade Agreement.

Berbeda dengan pekerja infotainment yang langsung melapor ke polisi ketika tersinggung dengan kicauan Luna Maya di Twitter, Kementerian Perdagangan dan Menterinya tenang-tenang saja. Selain kemungkinan tidak punya akun Twitter, beda halnya dengan Menkominfo Tifatul Sembiring yang aktif bertwitter, Menteri Perdagangan Mari Pangestu juga mungkin tidak merasa terganggu dengan kicauan sang anggota DPR di Twitter.

Sebaliknya, yang gregetan justru para Tweeps (julukan bagi pengguna Twitter) karena melihat komen asal bunyi dari wakilnya di DPR. Suatu komentar yang memperlihatkan ceteknya pengetahuan sang anggota DPR tersebut. Dari sikap geregetan ini maka kemudian muncullah berbagai kicauan di Twitter.

Dari sekian banyak Tweeps yang berkicau tentang komentar sang anggota DPR RI, salah satunya adalah pemilik akun Twitter dengan nama V. Melinjo. Saya tidak tahu dari mana ia mendapatkan inspirasi untuk membuat akun di Twitter dengan nama tersebut. Mungkin si pemilik akun sangat menyukai sayur asem atau emping atau barangkali pula penggunaan nama melinjo karena ada kemiripan dengan nama sang anggota DPR?. Akun V. Melinjo ini memiliki banyak pengikut (follower) karena kicauan-kicauannya yang menyentil sang anggota DPR dilakukan dengan ringan dan aktual. Coba saja simak salah satu kicauannya berikut ini:

Sambil dandan, sambil nonton diskusi tentang anak jalanan di TV. Anak = Human. Jalanan = Traffic. Oh, itu toh maksudnya human trafficking.

Cari info ttg human trafficking di mana, ya? Di Yellow Page ngga ada no telp-nya nih. Hmmm. Google aja deh”.

Sementara itu ada pula Tweeps lain yang berkicau “untung saja human trafficking bukan dianggap urusan polisi lalu lintas karena ada kata traffic dan bisa dihubungkan dengan traffic light?”.

Sang anggota DPR RI yang dikicaukan di Twitter, tentu saja bisa gerah dipojokkan dengan kicauan seperti tersebut di atas. Meskipun demikian, ia tidak bisa berbuat banyak karena apa yang dikicaukan para Tweeps seperti V. Melinjo bisa jadi didasarkan suatu peristiwa yang sebenarnya. Para Tweeps cukup mendapatkan satu pernyataan yang tidak berkenan dari seorang tokoh publik untuk kemudian dikicaukan di akun Twitter. Jika si pemilik akun memiliki pengikut yang banyak, bisa jadi dalam waktu tidak terlalu lama, apa yang dikicaukan di akunnya bisa langsung dibaca banyak orang.

Sebagai sebuah jejaring sosial, kemunculan Twitter tentu saja memunculkan sejumlah harapan dan pada saat bersamaan kekhawatiran akan dampaknya. Dari sisi harapannya, Twitter memberikan kemudahan untuk menyampaikan dan mengakses informasi secara lebih cepat dan tepat. Twitter bisa juga menjadi alat kontrol diri agar seseorang bersikap proporsional. Sementara kekhawatirannya antara lain adalah apa yang dikicaukan para Tweeps bisa jadi akan merugikan atau menyudutkan seseorang.

Lalu apa kaitannya Twitter dengan blog?

Sebagaimana sudah disinggung di atas, Twitter merupakan jejaring sosial baru yang menawarkan kemudahan dalam penyampaian informasi secara cepat. Berbeda dengan blog, Twitter memiliki ukuran yang lebih kecil dan hanya memuat maksimal 140 karakter, sehingga kemudian disebut sebagai mikroblog (microblog). Dengan tagline “What’s happening”, seseorang cukup menuliskan secara singkat apa yang terjadi di sekitarnya. Tidak perlu membuat artikel panjang seperti di blog.

Dengan kelebihan seperti ini, tidak mengherankan jika banyak orang yang kemudian beralih ke microblogging seperti Twitter dan Facebook. Bukan hanya blogger yesterday afternoon saja yang pindah ke microblogging tetapi blogger yang sudah lama ngeblog pun banyak yang beralih. Banyak teman-teman saya yang sudah cukup lama ngeblog saat ini mengalami kejenuhan. Banyak yang tergoda dengan kenyamanan microblog seperti Twitter karena bisa update status setiap saat tanpa harus mempersiapkan segala sesuatu seperti saat akan ngeblog.

Adapula yang berpendapat bahwa sudah susah-susah nulis di blog, ternyata hanya sedikit yang membaca tulisannya bahkan terkadang tidak ada yang mengunjungi selain dirinya. Sementara kalau kita menulis update di Facebook atau Twitter, banyak yang baca dan terkadang banyak pula yang mengomentarinya.

Menurut saya ini cara pandang seperti ini kurang pas, meninggalkan kebiasaan ngeblog dan memusatkan perhatian pada Twitter atau Facebook. Dari bentuknya saja blog dan microblog jelas berbeda. Blog bisa bebas menampilkan ekspresi penulisnya, berapapun karakter yang dibutuhkan, dan dapat dibaca orang banyak tanpa tergantung pada jalinan pertemanan dan jumlah pengikut. Sementara microblog terbatas pada jumlah karakter yang disediakan (Twitter 140 karakter) dan jangkauan pembaca pun hanya sampai pada teman-teman yang menjadi teman (seperti fasilitas note di Facebook) atau jumlah pengikutnya (Twitter).

Kalau merasa jenuh masih bisa dimaklumi karena kejenuhan bisa hinggap pada siapa saja. Tapi jangan terlalu lama sehingga melupakan blog dan akhirnya pensiun ngeblog. Untuk itu sebenarnya kita dapat mengkombinasikan kebiasaan ngeblog sekarang ini dengan aktivitas berkicau di Twitter dan Facebook. Status di Twitter dan Facebook bisa dimanfaatkan untuk mempromosikan apa yang sudah kita tulis di blog.

Cara lainnya adalah bergabung dengan blog keroyokan seperti Kompasiana. Selain untuk mendapatkan kesempatan tulisan dibaca orang, kita bisa mendapatkan banyak pengetahuan dan beragam ide dari tulisan para blogger lainnya, selain itu kita juga bisa memanfaatkan fasilitas di blog keroyokan tersebut untuk mempromosikan tulisan kita lewat Twitter dan Facebook.

Untuk menyegarkan pikiran dari kejenuhan ngeblog kita juga bisa aktif dalam kegiatan kopi darat (kopdar) dengan sesama teman blogger guna bertukar pikiran dan berdiskusi tentang berbagai hal mulai dari isi blog hingga isi kantong. Ikut komunitas blogger yang ada di sekitar kita juga akan sangat membantu menyegarkan aktivitas ngeblog kita, bahwa ngeblog bukan sekedar merangkai kata tapi juga merangkai kegiatan nyata. Kegiatan Amprokan Blogger yang akan diadakan Komunitas Blogger Bekasi pada tanggal 6-7 Maret 2010. bisa dijadikan contoh bagaimana kegiatan merangkai kata diwujudkan dalam kegiatan nyata. Amprokan Blogger (yang berarti temu blogger) merupakan kegiatan nyata dalam rangka memperingati HUT ke-13 Kota Bekasi yang diisi antara lain dengan kegiatan lomba menulis dan foto blog, kunjungan ke tempat pengolahan sampah terpadu di Sumur Batu Bantar Gebang, live blogging contest, seminar, hingga upaya memecahkan rekor postingan MURI.

Akhrnya ngeblog ibaratnya seperti berlari marathon, tidak bisa cepat-cepat sampai tujuan. Perlu mengatur nafas dan kecepatan agar tidak ambruk di tengah jalan. Kalau merasa capek dan jenuh ngeblog, istirahatlah sejenak. Setelah segar kembalilah ngeblog. Mudah-mudahan dengan beristirahat ngeblog bisa muncul ide-ide baru yang memperlancar kegiatan ngeblog dan menjadikan blog jauh lebih bermanfaat bagi pembaca.

Salam semangat ngeblog


Read More..

26.1.10

Jadi Model Iklan Dadakan

Harian Kompas tanggal 25 Januari 2010 halaman 32, memuat iklan istimewa blog Kompasiana. Suatu iklan yang menampilkan wajah-wajah sumringah dan saling terhubung satu sama lain lewat titik-titik menyerupai kabel. Di tengahnya terdapat sebuah teks biru berbunyi “Ngeblog itu …. Kompasiana”.

Pemasang iklan tersebut adalah Kompas.com yang hari itu kembali mengiklankan blog Kompasiana di media cetak agar lebih dikenal oleh masyarakat luas (sebelumnya dengan format seperempat halaman koran, Kompasiana juga sudah muncul pada tanggal 16 Januari 2010).

Iklan ini cukup istimewa karena menampilkan para blogger yang menulis di Kompasiana sebagai modelnya antara lain mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, Direktur Kompas.com Taufik M. Mihardja, Admin Kompasiana Pepih Nugraha dan Iskandar Zulkarnaen, dan tentu saja saya sendiri.

Bahwa saya menjadi model iklan adalah pengalaman pertama. Namanya juga pengalaman pertama tidak mengherankan jika saat-saat pemotretan menjadi momen yang mendebarkan. Meski sebagai blogger dapat dikatakan saya sering berfoto-foto, tapi berfoto seperti layaknya seorang model tetap saja membuat saya gugup. Kegugupan diawali ketika harus memutuskan apakah mengenakan dasi atau tidak. Saya ragu karena melihat teman-teman yang lain datang dengan pakaian santai, sementara saya yang datang langsung dari kantor masih mengenakan dasi.

Tetapi setelah melihat ada rekan lain berfoto dengan mengenakan pakaian lapangan untuk mengebor minyak di tengah laut, saya akhirnya memutuskan untuk mengenakan dasi agar ada ciri khusus, sekaligus agar bisa menggambarkan bahwa blog Kompasiana diisi oleh orang-orang dengan berlatar belakang profesi. Setelah beberapa kali pengambilan gambar, Alhamdullilah sang fotografer bisa mendapatkan gambar yang diinginkan.

Ketika pada akhirnya iklan blog Kompasiana muncul dan ada foto saya disana, tentu saja saya senang. Tidak pernah menyangka merasakan pengalaman sebagai model iklan dadakan dan muncul bareng dengan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Read More..

24.1.10

Seribu Walikota

Ini masih soal cerita yang terkait dengan angka seribu, tapi tentu saja bukan tentang seribu alasan ngeblog, melainkan cerita yang terkait dengan uang seribu rupiah. Ceritanya sendiri berasal dari kehadiran saya pada peluncuran program menabung akhir pekan yang diadakan pihak pemerintah kota Bekasi pada tanggal 23 Januari 2010.

Bagi orang berpunya, duit seribu rupiah sepertinya memang tidak memiliki arti sama sekali. Duit segitu cuma recehan yang keberadaannya antara ada dan tiada. Saking kecilnya, bahkan untuk sekedar membayar parkir pun tidak cukup. Beda dengan orang yang tidak berpunya, duit seribu rupiah akan sangat bermanfaat dan bisa menjadi penyambung nyawa. Duit seribu rupiah bisa memberikan sebuah kekuatan untuk mendapatkan seribu rupiah lagi pada keesokan harinya.

Dari sini kita bisa melihat bahwa ada makna berbeda dibalik suatu nilai mata uang. Arti uang akan tergantung untuk apa dan siapa yang mempergunakannya. Uang menjadi akan lebih bermanfaat jika jatuh pada orang yang membutuhkannya.

“Coba kalau setiap akhir pekan setiap orang di Bekasi menabung paling tidak seribu rupiah saja, berapa banyak uang yang akan terkumpul dalam seminggu, sebulan dan setahun? Kemudian dari jumlah uang terkumpul tersebut, jika sebagian digunakan untuk membantu modal usaha para pengusaha kecil atau rakyat miskin yang ingin memulai usaha, maka akan banyak orang yang akan terbantu. Pada gilirannya, tingkat kemiskinan di kota Bekasi pun akan ikut menurun” begitu disampaikan Walikota Bekasi H. Mochtar Mohammad saat meluncurkan gerakan “Sabtu-Minggu Hemat Menabung Seribu Rupiah (Sagu Hemat Seribu).

Program Sagu hemat Seribu merupakan program baru pemerintah Kota Bekasi yang didukung Bank Indonesia dan dijadikan sebagai suatu pilot project sebelum nantinya diterapkan secara nasional.

Dengan program ini, pada tahap awal semua pegawai negeri sipil (PNS) daerah di Pemkot Bekasi, jumlahnya sekitar 13 ribu pegawai, diwajibkan untuk memiliki tabungan yang diberi nama “Tabunganku” dan dikelola oleh PT Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) Kota Bekasi. Setiap Jumat, staf yang ditugaskan akan menagih ke seluruh pegawai untuk menabung.

Dengan instruksi walikota yang mewajibkan stafnya untuk menabung, maka dengan mudah kita akan mendapatkan angka bahwa jika setiap pegawai menabung minimal seribu rupiah per minggu, maka dalam 1 minggu akan diperoleh Rp. 13 juta, sebulan menjadi Rp. 52 juta dan setahun menjadi Rp. 624 juta. Suatu jumlah yang tidak kecil.

Kalau kemudian jumlah tabungan tersebut disalurkan untuk memberikan bantuan kredit usaha kepada pengusaha kecil atau masyarakat miskin di Bekasi yang baru akan memulai usaha, dengan masing-masing mendapatkan pinjaman sebesar Rp. 5 Juta, maka dalam setahun akan terdapat setidaknya 600 orang pengusaha kecil atau rakyat miskin yang terbantu.

Lalu jika semua duit tabungan disalurkan untuk kredit pengusaha kecil dan masyarakat miskin, maka si nasabah akan mendapatkan apa? Apa jaminannya bahwa uang si nasabah tidak akan hilang karena dikemplang peminjam?

Seperti halnya menabung di bank syairah, selain dijamin hak-haknya, nasabah pun tetap memeproleh hak bagi hasil. Walikota bahkan menjamin bahwa uang yang berada di tabungan dikelola dengan prinsip-prinsip perbankan dan menggunakan sistem syariah. Dana nasabah dijamin sepenuhnya oleh Pemkot yang telah menggelontorkan deposit sebesar Rp. 10 Milyar dari dana APBD ke BPRS. Bank Jawa Barat sebagai pemeritah daerahpun tidak ketinggalan memberikan dukungan.

Nasabah pun tidak perlu khawatir bahwa dana tabungannya di BPRS tidak kembali karena si kreditor, yang dalam hal ini adalah pengusaha kecil dan rakyat miskin, tidak mampu mengembalikan pinjamannya. Pemberian pinjaman kepada pengusaha kecil dan masyarakat miskin dilakukan bukan hanya sekedar memberi seperti Bantuan Langsung Tunai (BLT), tapi berupa pinjaman yang harus dikembalikan dalam jangka waktu tertentu. Dan calon pengusaha kecil atau orang miskin yang mendapatakn pinjaman tersebut telah diberikan pemahaman dan pelatihan serta praktik magang kewirausahaan oleh praktisi kewirausahaan yang telah terbukti keberhasilannya. Sehingga ada kesinambungan perputaran duit simpanan dan pada saat bersamaan proses pengentasan kemiskinan dapat terus berlangsung.

Jika program “Sagu Hemat Seribu” dapat berjalan dengan baik, maka secara tidak langsung anggota masyarakat miskin akan terus berkurang karena sebagian dari mereka sudah dapat hidup mandiri. Dari segi anggaan pun, Walikota tidak akan dipusingkan dengan APBD karena pada hakekatnya dana deposit tetap utuh. Dana APBD untuk pos pengentasan kemiskinan pada tahun-tahun beriokutnya pun dapat dimanfaatkan untuk pos lainnya seperti pendidikan atau asuransi kesehatan warga masyarakat.

Dengan keyakinan akan keberhasilan program “Sagu Hemat Seribu”, Walikota berani menargetkan agar setiap kecamatan setidaknya dapat mengumpulkan dana tabungan minimal Rp. 1 Milyar per tahun dan menjaring sebanyak mungkin penabung di luar staf pemkot. Kalau di Kota Bekasi terdapat 12 kecamatan, maka dalam setahun minimal akan terkumpul dana sebesar Rp. 12 Milyar per tahun. Bayangkan berapa orang yang bisa tertolong dengan anggaran sebesar Rp. 12 milyar ini?.

Untuk mencapai target tersebut walikota menginstruksikan dengan tegas kepada para camat, lurah dan kepala dinas beserta stafnya untuk menabung di BPRS dan mengajak masyarakat luas untuk ikut serta seperti PKK, karang taruna, Kelompok-kelompok pengajian dan sebagainya. Instruksi ini sangat perlu karena sampai saat ini baru 5.750 orang dari 13 ribu staf Pemkot yang terdaftar sebagai penabung di BRPS, dengan total dana tabungan baru sebesar Rp. 152 juta. Warga masyarakat Kota Bekasi pun banyak yang belum mengerti program ini.

Sebagai upaya jemput bola, Walikota pun meminta agar di setiap kelurahan disiapkan sebuah ruangan untuk kantor kas BPRS, tujuannya untuk memudahkan anggota masyarakat menyetorkan tabungannya.

Untuk memperlihatkan kesungguhannya dalam menabung, Walikota Mochtar Mohammad pun turut serta dalam kegiatan ini dengan membuka rekening “Tabunganku” dan berupaya menabung setiap akhir pekan. Sambil bergurau Pak Wali menyatakan bahwa baginya menabung itu sangat penting, bukan saja untuk mengurangi sikap konsumtif tetap juga sebagai upaya mengumpulkan modal untuk persiapan pilkada 2013.

Kembali ke program “Sagu Hemat Seribu”, dari sisi konsep program ini cukup baik, khususnya sebagai suatu kegiatan yang ditujukan untuk menggerakan masyarakat agar gemar menabung dan mengurangi pola konsumtif di akhir pekan. Namun tentu saja dalam implementasinya diperlukan suatu kesungguhan, terutama oleh pegawai Pemkot. Sudah menjadi kelaziman, bila suatu program yang ditetapkan oleh seorang pemimpin ekskutif daerah seperti walikota, akan mengalami kelambatan birokrasi di level bawahnya. Tanpa instruksi dan arahan yang jelas dari pimpinan, suatu program kegiatan bisa jadi akan tersendat-sendat.

Dalam kaitan ini, blogger memiliki peran penting, bukan hanya untuk mensosialisasikan dan membantu program hemat dan mari menabung lewat berbagai tulisan di blog, tetapi juga berperan dalam mengawasi dan mengkritisi setiap pelaksanaan dari program ini. Independensi blogger sangat membantu bagi kelancaran program ini dan program-program pembangunan lainnya.


Read More..

16.1.10

1001 Alasan Ngeblog

Sejak blog mulai popular di awal tahun 2000-an, jumlah akun blog (blog account) di Indonesia terus meningkat dari waktu ke waktu. Dari data gabungan penyedia blog (blog hosting) seperti di blogspot, wordpress, multiply ataupun blog-blog berbayar, diperkirakan pada awal tahun 2010 ini jumlah akun blog di Indonesia telah melebih angka 1 juta dan akan terus meningkat seiring membaiknya infrastruktur telekomunikasi di berbagai daerah Indonesia.

Jika melihat seseorang bisa saja memiliki 2 atau 3 akun blog, maka angka tersebut memang belum mencerminkan jumlah blogger (pengguna blog) yang sesungguhnya. Namun demikian, besarnya jumlah akun blog yang terus meningkat setiap saat setidaknya memperlihatkan adanya kegairahan menulis dan berbagi lewat blog dari sebagian pengguna internet.

Perkembangan blog di Indonesia terus tumbuh demikian pesatnya, selain jumlah akun blog yang terus meningkat, postingan dalam setiap akun blog pun tidak kalah ramainya. Selain itu semakin banyak komunitas-komunitas blog yang dibentuk diberbagai daerah, dimana para blogger bukan hanya menulis dalam suatu akun blog bersama (biasa disebut blog aggregator) tetapi juga melakukan aktivitas dalam kehidupan nyata.

Blog atau weblog sebagai website pribadi yang berisikan tulisan si pemilik blog dan link ke blog lainnya memang telah menjelma menjadi media yang menarik. Lewat blog, sang pemilik bisa bebas menuliskan apa yang ingin disampaikan dan pada saat bersamaan tulisannya bisa dibaca dan ditanggapi orang banyak secara online. Hal ini tentu saja menjadi daya tarik tersendiri bagi para penulis atau warga masyarakat biasa untuk bisa menyampaikan gagasan ataupun tanggapan tanpa khawatir disensor seperti layaknya pemuatan berita atau tulisan di media mainstream.

Daya tarik lainnya adalah semakin mudahnya orang untuk membuat blog dan melakukan aktivitas ngeblog (blogging). Lewat pengembangan fitur-fitur blog dan semakin banyaknya penyedia tempat ngeblog (blog hosting), gratis maupun berbayar, setiap orang berkesempatan untuk memiliki blog sendiri.

Meski ngeblog memiliki daya tarik sendiri, tidak bisa dipungkiri jika ngeblog bagi sebagian orang dianggap sebagai sesuatu beban. Ngeblog menjadi beban karena dengan ngeblog seseorang dituntut untuk konsisten memperbarui blognya dengan tulisan-tulisan anyar. Tanpa sering-sering memperbarui blognya, maka blog yang dibuat akan sepi pengunjung.

Ngeblog juga menjadi beban saat dihadapkan pada kendala content, yaitu kesulitan dalam menentukan isi tulisan dan apa yang ingin ditampilkan. Kendala ini yang antara lain mendorong banyak blogger pemula yang kemudian mengambil jalan pintas dengan melakukan copy paste alias copas. Pada akhirnya pun, hanya sedikit blogger yang bisa bertahan mengelola blog.

Kenapa Saya Ngeblog ?
Selama ini sering berkembang anggapan bahwa menjadi blogger memerlukan suatu persyaratan khusus menyangkut pengetahuan internet dan teknologi informasi serta kemampuan menulis. Dari sekedar persepsi, lambat laun anggapan tersebut pada akhirnya bisa dianggap sebagai suatu kebenaran. Banyak teman saya, dengan latar belakang pendidikan yang memadai dan beberapa menjadi tenaga pengajar di perguruan tinggi, yang terjebak dalam pandangan seperti ini, “…ach saya kan enggak begitu paham internet, paling yang bisa saya lakukan cuma kirim dan terima email serta baca-baca tulisan di website. Kalau saya jadi blogger dan aktif ngeblog, saya akan kesulitan mempublikasi tulisan saya dan bisa jadi orang yang berkunjung ke blog saya akan dengan mudah menyerang pendapat saya yang dianggap tidak bermutu.

Padahal seperti halnya berbicara, ngeblog pun tidak terlalu memerlukan persyaratan khusus tentang internet. Sejauh kita bisa mengetikkan jemari di atas keyboard, sejauh itu pula kita bisa ngeblog. Hanya dengan memiliki alamat email, kita bisa segera membuat akun blog hanya dalam waktu beberapa menit. Kegiatan ngeblog pun sama seperti kita sedang berbincang-bincang dan bertemu dengan orang-orang yang berada di sekitar kita. Seperti orang yang berbincang-bincang, ngeblogpun memerlukan pengaturan kata-kata, ekspresi, dan melihat efek.

Kata-kata diatur sedemikian rupa agar cocok dengan lawan bicara. Ekspresi dikemas begitu rupa supaya orang tahu kita tengah bersusah payah menampakkan keseriusan. Setiap habis berbicara, kita ingin melihat efeknya. Jika orang melengos, kita merasa gagal. Sementara jika lawan bicara meminta kita terus berbicara, maka artinya apa yang disampaikan sesuai dengan greget yang diinginkannya.

Berbekal semangat di atas, saya sendiri kemudian mulai ngeblog pada Agustus 2006 dengan memanfaatkan penyedia jasa blog gratisan (blog hosting) di blogspot.com (http://arishu.blogspot.com). Pembuatan blog di blogspot ini cukup mewakili keinginan lama saya untuk memiliki web pribadi. Di blog tersebut saya bisa menuangkan pengalaman saat berkunjung ke negara-negara di Eropa dan berbagai opini lainnya, tanpa khawatir tulisan saya dinilai tidak bagus oleh orang lain.

Beberapa saat ngeblog di blogspot, saya merasakan bahwa blog saya tersebut tidak bisa menampung hasrat kenarsisan yang muncul seiring makin dikenalnya blog saya. Untuk menampung kenarsisan tersebut, saya pun membuat akun lainnya di multiply (http://arishu.multiply.com) yang kala itu menyediakan tempat untuk memejeng foto-foto yang bisa dilihat dan dikomentari orang banyak.

Sejak itu saya pun menemukan keasyikan dalam ngeblog. Selain menulis dan mengutak-atik tampilan blog, saya sering berkunjung ke blog-blog lainnya yang dikenal dengan istilah blog walking. Menyapa dan meninggalkan jejak di berbagai blog serta mendapatkan banyak teman baru di dunia maya. Akun-akun blog yang saya milikipun semakin bertambah karena kemudian saya mendaftar dan membuat banyak blog baru memanfaatkan penyedia jasa blog gratisan seperti di wordpress.com, detik.com dan dagdigdug.com ataupun mengikuti blog komunitas seperti kompasiana.com dan Komunitas Blogger Bekasi (http://bloggerbekasi.com).

Isi tulisan saya beraneka ragam, mulai dari masalah serius tentang politik dan hubungan luar negeri, perjalanan ke berbagai tempat, cerita tentang hobby seperti koleksi perangko dan keramik, sampai hal-hal tidak penting lainnya yang kemudian saya jadikan penting lewat blog.

Terdorong untuk lebih fokus dalam kegiatan ngeblog, sejak Oktober 2009 lalu sayapun membuat akun blog di penyedia jasa blog berbayar. Nama domainnya pun sangat keren karena menggunakan nama saya secara lengkap yaitu http://arisheruutomo.com. Blog ini rencananya akan difokuskan pada masalah politik dan hubungan luar negeri, ditambah dengan cerita perjalanan di dalamnya.

Ngeblog Memang Mengasyikan

Bahwa ngeblog itu mengasyikan sudah saya singgung sedikit pada bagian sebelumnya. Dengan ngeblog saya mendapatkan banyak manfaat baik bagi diri kita maupun bagi orang lain (pengunjung blog). Meskipun saya berpandangan bahwa ngeblog itu mengasyikan, tapi saya tetap menghormati pandangan orang lain yang melihat kegiatan ngeblog dari sisi yang berbeda, ngeblog bukan sebagai sesuatu kegiatan yang menguntungkan. Bagaimanapun, ngeblog memang bukan untuk semua orang.

Kalau anda bekerja sehari penuh, dari pagi hingga malam menjelang tanpa istirahat, mungkin anda tidak perlu ngeblog. Percuma menghabiskan waktu beberapa jam untuk sekedar berbagi lewat tulisan tanpa ada yang membayar anda. Mendingan anda menghabiskan waktu dengan bekerja dan mendapatkan gaji atau penghasilan dari pekerjaan tersebut.

Kalau anda cukup bahagia dengan rutinitas pekerjaan sehari-hari, pergi ke kantor pada pagi hari dan pulang menjelang petang/malam, begitu terus setiap hari, setiap minggu, setiap bulan, mungkin juga anda tidak perlu ngeblog. Jangan memaksakan ngeblog jika kegiatan ngeblog menjadikan anda merasa memperoleh tambahan beban dan mengurangi waktu istirahat.

Tapi hidup terkadang bukan sekedar rutinitas dan selalu ingin mendapatkan sesuatu tanpa pernah memberi. Ada hal-hal lain yang bisa memperkaya warna kehidupan, salah satunya adalah ngeblog. Dengan dasar seperti ini, tentu saja selalu ada ruang alasan untuk ngeblog dan menjadikannya sebagai suatu kegiatan yang mengasyikan. berikut beberapa alasan untuk ngeblog:

1. Ngeblog untuk tempat berbagi. Mungkin selama ini kita tidak pernah merasakan bahwa kita sudah sangat banyak menerima dari orang-orang di sekeliling kita, termasuk dari internet. Setiap kali mengakses internet, kita menerima beragam informasi dari jutaan orang di seluruh baik itu tulisan, lagu-lagu, gambar ataupun foto. Untuk itu sudah saatnya membayarnya dengan sedikit berbagi dengan masyarakat dunia lewat tulisan-tulisan di blog. Hal inilah yang menjadi alasan utama saya untuk ngeblog karena bisa berbagi dan belajar untuk memulai suatu interaksi sosial satu dengan yang lain. Dengan ngeblog saya bisa saling berbagi cerita, pengalaman, pengetahuan dan pandangan-pandangan tentang berbagai macam topik yang akan menciptakan suatu jalinan afiliasi. Komentar yang masuk pada postingan diblog ataupun komentar kita pada blog orang lain memperlihatkanindahnya berbagi pengalaman, pengetahuan, bahkan berbagi kepedulian.

2. Representasi Diri. Blog dapat dimanfaatkan sebagai representasi pandangan-pandangan saya tentang suatu masalah.

3. Inkubator. Seringkali dalam membuat tulisan saya cenderung berpanjang-panjang dan agak detail. Tapi tidak jarang pada awalnya tulisan tersebut berasal dari tulisan yang singkat. Penulisan singkat di blog dimaksudkan sebagai ruang mengendapkan naskah. Ketika tulisan singkat tersebut mendapatkan komentar beragam sudut pandang, saya memiliki kesempatan untuk menyempurnakannya berrdasarkan ide-ide yang diberikan lewat komentar.

4. Ngeblog sebagai proses pembelajaran dan berlatih menulis. Ngeblog merupakan media yang tepat untuk mengekspresikan gagasan ataupun ide yang kita miliki. Aktivitas menulis blog merupakan proses belajar. Saya yang awalnya sama sekali tidak percaya diri untuk mulai ngeblog, karena merasa tidak berbakat menulis, ketika memaksakan diri untuk terus ngeblog, maka ide-ide itu terus mengalir dan keluarlah suatu tulisan.

5. Ngeblog untuk menjalin dan memperbanyak teman/relasi/persahabatan. Ngeblog merupakan wadah sosialisasi karena dengan ngeblog kita bisa mendapat teman baru. Dengan mengunjungi blog orang lain atau dikenal dengan istilah blogwalking, kemudian memberikan komentar berarti kita belajar mengungkapkan pendapat , menerima pendapat orang lain dan memahami orang lain. Dengan ngeblog kita bisa menemukan bahwa ternyata dunia tak sesempit yang kita perkirakan. Tak terbayang sebelumnya kalau ternyata blog bisa memperbanyak kuantitas dan kualitas pertemanan.

6. Ngeblog untuk mencari tambahan penghasilan. Banyak yang pada awalnya berpikiran ngeblog untuk mencari uang tambahan dan ini bisa dilakukan lewat blog. Misalnya dengan menjadi publisher Google Adsense atau situs PPC (Pay Per Click) lokal seperti Kumpul Blogger, AdsenseCamp, Adspeedy, dan masih banyak lagi.

7. Buku. Beberapa blogger berhasil menerbitkan buku dari hasil ngeblog bahkan sudah difilmkan seperti blog kambing jantan. Postingan-postingan yang menarik dan memiliki nilai jual tidak tertutup untuk dilirik penerbit dan dibukukan.

8. Promosi. Blog bisa dijadikan media promosi tentang berbagai hal yang sedang dilakukan, menjual barang, mengampanyekan beberapa kegiatan, dan lain-lain.

Penutup

Alasan-alasan yang saya kemukakan di atas memang jumlahnya belum seribu satu seperti judul tulisan ini. Tapi saya tidak bermaksud membohongi anda untuk ngeblog dengan banyak alasan. Jika anda sudah merasa mantap dengan beberapa alasan di atas, saya yakin anda bisa mulai ngeblog, selanjutnya anda sendirilah yang nantinya menambahkan alasan-alasan untuk ngeblog.

Ngeblog memang bukan untuk semua orang, karenanya ngebloglah agar anda berbeda dengan orang kebanyakan. Hanya mereka yang benar-benar berkomitmen dan memiliki gairah menulis yang menganggap blog sebagai salah satu media yang mampu menampung hasrat untuk menulis. Bagi blogger sejati, berbagai layanan baru boleh datang dan pergi, tetapi blog tetap teman sejati. Blogger sejati akan tetap hidup sepanjang tetap berkarya, baik lewat tulisan maupun non-tulisan. Kemunculan media sosial baru justru dapat menjadikan blogger lebih eksis dan dimanfaatkan sebagai tempat promosi karyanya.



Read More..

3.1.10

Bincang On Air di Awal Tahun 2010

Tahun baru, resolusi baru, dan semangat baru, begitu pikiran yang ada dibenak saya saat memacu kendaraan menuju Stasiun Radio Dakta 107 FM di pagi istimewa di hari pertama tahun 2010. Istimewa, karena pagi ini saya akan mengawali kegiatan awal tahun dengan berbincang-bincang on air mengenai blog dan pengenalan blog ke masyarakat di acara Diskusi Pagi Radio Dakta.

Saya tiba di Dakta pukul 08.00 WIB dan sudah ditunggu Mas Harun Al Rasyid (host acara Diskusi Pagi) dan Mas Deni Wahab (Penyiar Radio Dakta) serta Mas Irfan Zj (Admin be-Blog) yang menemani saya mewakili Komunitas Blogger Bekasi (be-Blog).

Mengawali acara diskusi pagi on air, Mas Harun mengemukakan bahwa sejalan dengan perkembangan internet muncul blog sebagai salah satu alternatif untuk menyampaikan segala hal yang terjadi di masyarakat, mulai dari sajadah hingga haram jadah begitu istilahnya. Sejak itu perbincangan tentang blog pun pun mengalir mulai dari pembentukan be-Blog dan bagaimana cara bergabung menjadi anggota be-Blog, kekhawatiran blogger akan di-Prita-kan, hingga keterkaitan blogger dengan politik praktis. Perbincangan semakin menarik dengan adanya keterlibatan pendengar radio Dakta yang turut serta bertanya lewat telepon dan sms.

Menyangkut pembentukan be-Blog, kami sampaikan bahwa komunitas blogger di Bekasi dibentuk tanggal 17 Agustus 2009 oleh 5 orang blogger Bekasi dan kemudian diperkenalkan ke publik pada tanggal 17 Oktober 2009 dalam suatu acara di Bekasi Cyber Park dan dihadiri Walikota Bekasi H. Mochtar Mohammad. Saat ini anggota be-Blog yang terdaftar di situs http://bloggerbekasi.com tercatat sebanyak 382 orang. Sebagian besar anggota be-Blog memiliki blog pribadi dan aktif memberikan kontribusi artikel di blog komunitas.

Dalam usianya yang baru 5 bulan, be-Blog telah aktif melakukan berbagai kegiatan sosialisasi blog lewat pelatihan membuat blog dan menulis cepat dan bermanfaat. Setelah sukses menyelenggarakan pelatihan blog pada 14 November 2009, pada 16 Januari 2010 akan dilaksanakan pelatihan serupa di Universitas Islam 45 (Unisma) Bekasi. Sejauh ini sebanyak 20 orang dosen Unisma telah memesan tempat untuk ikut serta dalam pelatihan, sementara tempat sisanya akan dibuka untuk umum (pengumuman kegiatan ini akan dimuat di blog komunitas dalam waktu dekat).

Selain sosialiasi blog, keaktifan be-Blog juga tampak dari penyelenggaraan berbagai lomba menulis seperti lomba SEO tentang Bekasi Peduli Aids, dan Lomba Penulisan blog dan foto bertema “Aku Cinta Bekasi” yang saat ini sedang berlangsung dan berhadiah total 45 juta rupiah.

Keaktifan be-blog lainnya juga bisa dilihat dari banyaknya artikel yang muncul di blog komunitas, dimana hampir setiap hari setidaknya 3-5 tulisan baru muncul. Berbagai topik dan isu dimunculkan oleh anggota be-Blog, ada yang dikemas serius dan ada pula disajikan ringan. Karenanya harus dimaklumi jika suatu tulisan tidak bisa mejeng terlalu lama halaman muka be-Blog.

Mengawali tahun baru ini, be-Blog juga akan menyelenggarakan kopi darat dengan Walikota Bekasi pada tanggal 9 Januari 2009. Antusiasme teman-teman blogger untuk mengikuti acara ini terlihat sangat besar sepeti tampak dari kontribusi tulisan yang masuk (hingga tulisan ini dibuat sudah terdapat 65 tulisan).

Mengenai kekhawatiran tulisan seorang blogger dapat dianggap mencemarkan nama baik dan menyeret blogger ke pengadilan, kami sampaikan bahwa bagaimanapun Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) diundangkan untuk memberikan kepastian hukum kepada masyarakat dalam melakukan transaksi elektronik. Bahwa dalam UU tersebut terdapat pasal yang bisa menjerat blogger, kami sampaikan agar kita bisa menghindarinya dengan mengikuti berbagai kiat aman dari jeratan UU ITE.

Hal lain yang dibicarakan adalah menyangkut aktivitas blogger dalam politik praktis, khususnya keterkaitan blogger Bekasi dengan kegiatan Walikota. Pertanyaan ini diajukan oleh salah seorang pendengar Radio Dakta, Pak Kosim, yang sedang berada di perjalanan antara Karawang-Bekasi (persis seperti judul puisi Chairil Anwar). Kami sampaikan bahwa pada dasarnya blogger bersikap netral dan dalam menyampaikan pandangannya di blog selalu diupayakan objektif. Blogger yang baik adalah blogger yang dapat menyampaikan pandangannya secara jernih dan objektif. Jika suatu hal memang dipandang baik maka akan dikatakan baik, sebaliknya jika buruk maka akan dikatakan buruk pula.

Menyangkut keterlibatan pemimpin daerah seperti walikota (dan suatu saat bupati atau bahkan gubernur) dalam kegiatan blogger, pada dasarnya tidak terlepas dari perlunya sinergi dan kerjasama yang baik antara blogger dan semua pihak terkait untuk bersama-sama membangun masyarakat dan wilayah Bekasi. Kritis dalam menyampaikan sesuatu hal bukan berarti diikuti sikap antipati atau sebaliknya dukungan yang membabi buta. Sikap kritis justru diperlukan untuk memunculkan solusi suatu permasalahan dan nantinya diimplementasikan dalam suatu kebijakan dan pelaksanaan di lapangan. Karenanya kerjasama antara blogger dan pejabat publik bukan dimaksudkan untuk menumpulkan sikap kritis blogger dalam menulis.

Menutup perbincangan, saya tekankan kembali mengenai tidak perlunya blogger khawatir terjerat pasal pencemaran nama baik dalam UU ITE dengan sikap kritisnya. Jika blogger menulis dengan baik di blognya dan memenuhi kiat-kiat terhindar dari UU ITE, Insya Allah tidak akan menemui masalah.

Selamat tahun Baru 2010, semoga ditahun ini kita semua bisa lebih aktif ngeblog, membuat tulisan dan mengupdate blognya secara teratur, dan tidak lupa melakukan blogwalking ke berbagai tempat untuk memperluas jejaring (networking).

Read More..

26.12.09

Ruang Publik dan Ruang Inspirasi Warga Bekasi

Jika sebagian besar anggota masyarakat ditanyakan kemana menghabiskan waktu di akhir pekan, saya yakin sebagian besar jawabannya adalah “di rumah saja” atau “pergi ke mall”. Mereka yang memilih di rumah saja beralasan kalau keluar khawatir terserempet mobil, macet, panas, berdebu dan tidak aman jika berjalan sendirian. Sementara yang pergi ke mall beralasan karena bosan terus menerus di rumah, perlu jalan-jalan agar bisa cuci mata, melihat-lihat keramaian dan tentu saja bisa ngadem karena sebagian besar mall menggunakan pendingin gedung/ruangan.

Jarang sekali atau bahkan mungkin tidak ada yang menjawab akan memanfaatkan sebagian waktunya untuk mengunjungi tempat terbuka seperti taman sambil berolahraga, duduk-duduk dan membaca buku. Kalau pun ada yang menjawab ke taman, pasti mengunjungi taman berbayar seperti taman rekreasi,taman buah atau kebun raya.

Tidak ada yang keliru dengan jawaban di atas, karena memang pilihan tempat yang tersedia bagi masyarakat untuk berekreasi (nyaman dan gratis) memang terbatas. Hampir sebagian besar kota di Indonesia belum memiliki taman atau hutan kota yang dapat digunakan warganya untuk berekreasi di akhir pekan dengan nyaman. Kalaupun ada taman, umumnya kotor dan tidak terawat. Hal ini bisa terjadi karena Pemerintah daerah/kota sepertinya lebih cenderung mengedepankan pembangunan fisik yang cepat memberikan keuntungan finansial seperti mall.

Padahal dengan lebih banyaknya warga yang enggan keluar rumah, lebih senang menghabiskan waktu di mall, atau menikmati jalan-jalan dengan mobil sebenarnya menjadikan kota tidak sehat dan tidak memunculkan interaksi antar warga. Pada gilirannya tidak memunculkan inspirasi yang mencerahkan bagi kehidupan warganya. Karena itu patut disimak apa yang dikatakan mantan Walikota Bogota, Kolombia, Enrique Penelosa, bahwa “kota yang baik adalah kota yang bisa merangsang warganya keluar rumah dengan sukarela dan ceriah”.

Dalam konteks kota Bekasi, apakah kota ini telah menjadi kota yang baik seperti yang dikatana Penelosa?. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, mari sejenak menelusuri keadaan di kota Bekasi. Dari gerbang masuk ke kota Bekasi seperti tol Pondok Gede Barat, Bekasi Barat ataupun Timur, maka akan mulai tampak deretan bangunan beton seperti halnya yang terdapat di ibu kota Jakarta. Sebagai daerah penyanggah Jakarta dan dengan sebagian besar warganya mencari nafkah di Jakarta, maka Bekasi pun tumbuh dan berkembang mengikuti Jakarta. Tengok saja pertumbuhan fisik di kanan kiri pintu tol Bekasi Barat dan Timur yang dipenuhi mall, supermarket, gedung perkantoran dan apartemen.

Jalan-jalan utama dan penghubung lainnya terus dibangun dan ditata. Lihat saja ruas jalan utama di kota Bekasi yaitu Jalan Achmad Yani pun telah diperlebar dan diperhalus. Selain itu proyek ruas jalan baru sepanjang Kalimalang mulai dibangun dan nantinya menambah ruas jalan Kalimalang yang sudah ada selama ini. Semua upaya di atas harus diakui telah memberikan gambaran wajah kota Bekasi yang lebih tertata rapih dan bersih.

Sayang pembangungan dan pembenahan yang dilaksanakan tersebut baru terbatas fisik, keramahan dan kenyamanan belum sepenuhnya menyentuh ruang publik yang menjadi kebutuhan warga. Tengok saja kebutuhan warga pejalan kaki di sepanjang Jalan Achmad Yani misalnya, meski trotoar sudah diperbaiki, namun belum didukung pepohonan rindang yang meneduhkan pejalan kaki. Sebagian kantor dan pusat pertokoan telah mulai melakukan penanaman pohon, tapi sebagian lainnya belum melakukan. Bahkan beberapa instansi terlihat sudah tidak memiliki tempat lagi untuk menanam pohon. Kalau saja setiap kantor yang ada di jalan tersebut menanam pohon-pohon yang akan tumbuh besar, termasuk penanaman pohon di jalur tengah jalan oleh Pemerintah Kota, maka dalam 4-5 tahun kedepan akan didapati jalan Achmad Yani yang teduh dan nyaman untuk pejalan kaki. Setidaknya kita akan mendapatkan suasana seperti di jalan Dipenogoro Jakarta.

Namun untuk saat ini, jangan coba-coba anda berjalan kaki dari ujung jalan depan kantor walikota menuju ujung jalan satunya dimana terdapat jembatan yang melintasi Kalimalang. Kalau itu dilakukan, dijamin peluh yang menetes akan bercampur dengan debu yang berterbangan.

Ruang publik lainnya adalah taman kota atau hutan kota yang idealnya bisa menjadi paru-paru kota dan ruang bersama bagi warga untuk berkumpul. Sebagai paru-paru kota, taman yang baik bisa mendinginkan kota dari teriknya matahari dan polusi kota. Sebagai ruang berkumpul warga, taman berguna untuk tempat berolahraga, tempat berkumpulnya berbagai anggota masyarakat dan tempat bertukar pikiran. Dimana semua ini pada gilirannya bisa memunculkan berbagai inspirasi dan kreativitas warga.

Sejauh ini taman kota yang bisa dijadikan benchmark kota adalah taman di alun-alun kota Bekasi yang dibangun bersama oleh Pemerintah Kota dan salah satu perusahaan otomotif. Taman kota yang dikelilingi Masjid Agung Al-Barokah, kantor Kodim, RSUD Bekasi, Polres, dan Kejaksaan ini memang terlihat teduh dinaungi berbagai pohon besar. Namun sayang keteduhan taman tidak diikuti dengan perawatan taman, dimana rumput dan ilalang tumbuh liar dan merusak pemandangan. Jogging track yang ada disekelilingnya tidak berfungsi karena mulai tertutup rumput-rumput, selain bau yang datang dari kotoran hewan dan manusia yang buang hajat seenaknya. Keadaan ini tentu membuat masyarakat enggan berkunjung ke taman.

Sementara itu, trotoar yang mengelilingi taman dan alun-alun kota sebagian mengalami kerusakan dan sebagian lainnya ditempati pedagang kaki lima. Kondisi ini tentu saja tidak memungkinkan bagi warga berjalan nyaman di sepanjang trotoar karena memang tidak ada tanaman pelindung yang bisa meneduhi pejalan kaki. Jadi memang amat disayangkan, jika taman yang semestinya bisa dimanfaatkan bagi kepentingan warga, setidaknya untuk berolahraga di pagi hari tidak termanfaatkan secara maksimal. Kalau untuk berolahraga bersama saja tidak nyaman, bagaimana bisa untuk sekedar duduk-duduk, berbincang santai , membaca dan mendapatkan ide-ide kreatif.

Bicara tentang ruang publik untuk menumbuhkan budaya kreatif, penataan taman tentu saja bukan satu-satunya cara. Namun pembenahan taman sebagai ruang publik yang dapat dimanfaatkan warganya bisa dikedepankan oleh Pemerintah Kota Bekasi. Jika ini dilaksanakan dengan baik, maka Bekasi bukan hanya bisa meraih Piala Adipura di tahun 2010 tetapi juga membudayakan warga untuk kreatif dan aktif mendorong proses pembangunan dan hidup bersih di lingkungannya. Untuk itu pula Pemerintah Kota kira dapat mendorong berbagai proses kreatif dan program yang diajukan oleh berbagai komunitas masyarakat di Bekasi seperti Komunitas Blogger Bekasi, Tangan Di Atas, Bike 2 Work, Forum Masyarakat Bekasi, masyarakat Penggemar Kuliner, Gerakan Masyarakat Peduli Adipura, Pengamen dan Anak Jalanan dan lain-lain.

Khusus Komunitas Blogger Bekasi sejauh ini para blogger telah turut serta mendukung program Pemerintah kota Bekasi seperti sosialisasi gerakan penghijauan dan lingkungan ke masyarakat di Bekasi melalui penyebarluasan opini dan informasi di internet serta aksi nyata di lapangan. Kalau saja pemahaman masyarakat semakin tinggi dan diikuti upaya penataan taman yang bisa menyentuh kebutuhan masyarakat Bekasi, penataan bukan hanya di taman kota alun-alun tetapi di seluruh taman yang ada di Bekasi termasuk di perumahan-perumahan, dapat dibayangkan bagaimana tumbuh dan besarnya kecintaan dan gairah masyarakat untuk ikut serta memajukan Bekasi. Pada gilirannya tentu saja Bekasi akan semakin maju. Semoga.

Read More..

23.12.09

Mengunggah Kenangan Satgas P3TT

“Mohon perhatian, pesawat dengan nomor penerbangan MZ 8480 dengan tujuan Dili siap untuk diberangkatkan. Para penumpang dipersilahkan untuk menuju pintu 9” begitu bunyi pengumuman yang terdengar di ruang keberangkatan Bandara Ngurah Rai Denpasar pada Minggu pagi 13 Desember 2009. Saya pun segera bergegas ke pintu 9, seolah tak sabar untuk segera menengok kembali ibu kota Timor Leste, Dili. Mengunggah kenangan saat akan bertugas dan berada di kota ini.

Sepuluh tahun lalu, sekitar Juni/Juli 1999, saya ditugaskan menjadi anggota Tim Pendahulu (Advance Team) Satuan Tugas Pelaksanaan Penentuan Pendapat di Timor Timur (Satgas P3TT) Deplu. Dalam Tim Pendahulu ini terdapat pula mantan Duta Besar RI untuk Vietnam dan China, Juwana (Ketua Tim dan Wakil Ketua Satgas P3TT), Dino Patti Djalal (juru bicara Satgas P3TT), Oddo Manuhutu (Staf Direktorat Organisasi Internasional Deplu, anggota Satgas P3TT) dan Suherman (Staf adminstrasi/keuangan, anggota Satgas P3TT).

Tim pendahulu ini bertugas antara lain untuk mempersiapkan kantor dan dukungan bagi Satgas P3TT yang baru dibentuk Deplu untuk mengawasi jalannya jajak pendapat (referendum) di Timor Timur (Timtim). Satgas yang dipimpin Duta Besar Agus Tarmidzi (mantan Duta Besar RI di Wina dan Jenewa) ini akan tiba secara bertahap setelah segala sesuatunya siap di Dili. Karenanya dapat dikatakan bahwa tugas Tim Pendahulu adalah membuka jalan bagi kelancaran pelaksanaan tugas Satgas P3TT.

Setelah memperoleh briefing dari Menlu Ali Alatas, Tim Pendahulu segera berangkat menggunakan penerbangan Garuda ke Denpasar, disambung dengan Merpati menuju Dili. Karena malamnya mengikuti rapat hingga larut malam dan sesudahnya masih harus mempersiapkan perangkat sandi dan komunikasi hingga pukul 3 pagi, saya nyaris terlambat tiba di Bandara Soekarno-Hatta. Dengan berlari-lari dan membawa perangkat yang lumayan berat akhirnya saya masuk ke pesawat yang siap diberangkatkan. Di pesawat terlihat sudah duduk ketua dan anggota tim pendahulu lainnya.Untung saja saya tidak ditepoki oleh seluruh penumpang karena masuk pesawat paling akhir.

Alhamdullilah perjalanan Jakarta-Denpasar-Dili berjalan lancar. Saat tiba di Bandara Comoro Dili waktu menunjukkan pukul 2 siang. Seorang perwira Korem 614/Wiradharma dan staf kantor Gubernur Timtim sudah menjemput dan langsung membawa rombongan ke rumah makan Padang yang letaknya tidak jauh dari kantor Gubernur Timtim. Mungkin karena sudah lewat jam makan siang dan perut mulai kelaparan, makanan apapun yang disajikan pun terasa nikmat. Tidak peduli peluh bercucuran. Saking nikmatnya, terlihat Dino Patti Djalal sampai menyantap dua potong ayam pop.

No free lunch, begitu perkataan yang sering saya dengar. Perkataan tersebut ternyata sangat tepat jika ditujukan kepada tim kami. Usai makan siang, kami tidak memiliki banyak waktu dan dituntut untuk bergerak cepat mencari tempat penginapan sebelum hari gelap. Saat itu kami belum mendapatkan bayangan akan menginap dimana. Dari Jakarta, dengan bantuan Pemda Timtim sebenarnya kami sudah berupaya mendapatkan penginapan, namun tidak berhasil karena semua hotel penuh diisi warga asing yang akan meliput referendum, termasuk hotel Mahkota dan Farol (dua hotel yang cukup besar dan layak di Dili). Untuk itu Pak Juwana selaku Ketua Tim Pendahulu memutuskan untuk segera mendapatkan rumah sewa yang bisa dijadikan kantor Satgas P3TT dan tempat tinggal para personilnya.

Menggunakan sebuah kendaraan dinas Pemda kami pun berkeliling untuk mendapatkan tempat tinggal. Sedangkan barang-barang bawaan ditempatkan di kendaraan dinas lainnya. Tujuan pertama adalah kawasan di sekitar Gubernuran dimana terdapat rumah-rumah yang cukup besar dan memungkinkan untuk difungsikan sebagai kantor dan tempat tinggal. Plihan pertama jatuh ke sebuah rumah besar yang terletak tidak jauh dari gereja Motael. Ketua Tim Pendahulu sebenarnya merasa cocok dengan rumah tersebut, meski, tapi dengan pertimbangan keamanan diputuskan untuk tidak menyewa rumah ini. Dari informasi yang diberikan anggota Korem, kawasan darah di sekitar gereja Motael sangat rawan karena banyak didiami simpatisan Fretelin dan pro kemerdekaan. Dari sini pula bermula insiden Santa Cruz tahun 1991 yang menjadi setback perjuangan Indonesia mempertahankan integrasi Timtim di dunia internasional.

Setelah berkeliling ke beberapa lokasi lainnya, akhirnya Tim Pendahulu sampai di komplek perumahan baru di kawasan Delta Comoro. Meski letaknya agak jauh dari kantor gubernur, namun lebih aman karena di kawasan ini diperkirakan lebih banyak pendukung pro integrasi dan tidak jauh dari Markas Polda Timtim. Di kawasan Delta Comoro ini akhirnya kami mendapatkan dua rumah type 70 yang akan disewakan. Masing-masing rumah ini memiliki 3 kamar dan 2 buah kamar mandi. Kondisinya relatif masih baru dan bagus serta letaknya saling berhadapan. Namun kosong melompong karena semua isinya telah dipindahkan atau dijual pemiliknya, yang sengaja meninggalkan kota Dili karena takut terjadi kerusuhan.

Setelah disepakati harga sewa per bulannya, Tim Pendahulu pun akhirnya menempati kedua rumah tersebut. Duta Besar Juwana, Dino Patti Djalan dan Oddo menempati rumah (sebut saja rumah B), sedangkan saya dan Suherman menempati rumah A (dengan satu kamar diperuntukkan bagi Pak Agus Tarmidzi, Ketua Satgas P3TT, yang akan datang seminggu berikutnya). Masih segar dalam ingatan, malam pertama di Dili dilalui Tim Pendahulu dengan tidur di rumah kosong dan hanya beralaskan kasur busa pinjaman. Beruntung air tersedia sehingga tidak perlu khawatir tidak bisa mandi keesokan harinya.

Paginya saya bangun agak terlambat dan saya lihat Dino Patti Djalal baru saja menyelesaikan lari pagi. Juru bicara Satgas P3TT ini rupanya rajin memelihara stamina dengan berlari pagi. Pagi itu kegiatan diawali dengan briefing dari Pak Juwana mengenai apa yang akan dilakukan sesuai dengan tugas pokok masing-masing. Pak Juwana dan Dino Patti Djalal menyiapkan hal-hal substansi termasuk menghubungi para pihak terkait baik di Pemda, Kodam, Polda ataupun UNAMET (United Nations Mission in East Timor). Suherman melengkapi kebutuhan logistik kantor dan mencari rumah tambahan untuk menampung anggota-anggota Satgas yang akan semakin banyak berdatangan. Saya sendiri segera meluncur ke kantor Telkom, Dishub Kodam, Polda dan kantor Gubernur untuk menyiapkan pembukaan jaringan sandi dan komunikasi. Alhamduillilah tidak sampai seminggu semua jaringan komunikasi tertutup dan terbuka sudah dapat beroperasi.

Hari-hari penugasan di Dili pun kemudian dijalani dengan penuh warna, apalagi setelah Ketua Satgas P3TT tiba di Dili. Berbagai pertemuan dan kegiatan menerima tamu silih berganti dilakukan di rumah A. Suatu ketika hadir pimpinan UNAMET, Ian Martin. Pada saat lain datang pula Pangdam Udayana Mayjen Adam Damiri didampingi Danrem 614/Wiradharma, Kolonel Tono Suratman dan Kapolda Timtim, Kolonel Timbul Silaen. Sementara situasi di Dili dan berbagai distrik lainnya di Timtim semakin memanas dengan terjadinya konflik di berbagai tempat. PBB lewat UNAMET mulai menancapkan kukunya, sementara TNI dan Polisi gamang dalam mengambil tindakan.

Ditengah-tengah pelaksanaan tugas, sekali waktu saya menemani Suherman mencari perlengkapan kantor dan sekaligus melihat-lihat suasana kota. Pada waktu lain saya sekedar nongkrong di kawasan pertokona perumahan Delta Comoro dimana terdapat beberapa pedagang kaki lima yang menjual gorengan dan keripik singkong. Pedagang kaki lima ini umumnya berasal dari Jawa, namun belum sempat meninggalkan Timtim karena tidak memiliki cukup biaya. Saya berbincang-bincang dengan mereka dan menanyakan rencana mereka seandainya lewat referendum ternyata masyarakat Timtim lebih memilih merdeka.

Selain berbincang-bincang dengan warga pendatang, saya pun berusaha untuk berbincang-bincang dengan warga asli Timtim. Namun untuk melakukan hal ini perlu hati-hati, salah-salah ucap bisa menyinggung warga yang mendukung kemerdekaan. Untuk mengetahui mana pendukung integrasi dan mana pendukung kemerdekaan, Pak Agus Tarmidzi memiliki cara yang unik. Setiap kali berjumpa dengan warga asli Timtim, beliau langsung menyapa “selamat pagi/siang/malam, apa kabar?”. Jika dijawab dengan perkataan “Selamat pagi/siang/malam, kabar baik bapak”, maka dapat dipastikan yang bersangkutan pendukung pro integrasi. Sementara jika tidak menjawab apapun, apalagi cemberut, dapat dipastikan yang bersankitan pendukung pro kemerdekaan.

Saking sibuk dan padatnya kegiatan persiapan memantau pelaksanaan referendum, tidak terasa hampir sebulan saya berada di Dili. Namun saya harus segera kembali ke Jakarta ketika ada panggilan mendadak untuk tes masuk Sekolah Dinas Luar Negeri (Sekdilu). Setelah memperoleh ijin Ketua Satgas dan tentu saja Sekjen Deplu, saya berupaya mendapatkan tiket pulang meski harus mengupgrade tiket ekonomi yang saya pegang menjadi business (tentunya dengan tambahan biaya yang tidak sedikit). Saya masih ingat ketika dalam penerbangan Dili-Denpasar, duduk sederetan dengan saya Gubernur Timtim Abilio Soares yang tampaknya akan ke Jakarta pula. Saya perhatikan ia lebih banyak diam dan membisu, hanya sesekali berbincang dengan Ketua DPRD yang duduk di sebelahnya. Mungkin ia sedang risau akan masa masa depan Timtim dan dirinya.

Karena waktu yang sangat mendesak dan berpikir akan kembali ke Dili seusai mengikuti tes Sekdilu, saya ke Jakarta hanya membawa pakaian di badan dan dokumen perjalanan. Sementara barang bawaan lainnya saya tinggal di Dili. Ternyata apa yang terjadi kemudian memperlihatkan hal yang berbeda, seusai mengikuti tes Sekdilu saya dilarang kembali ke Dili karena dipandang telah menyalahi prosedur dengan meninggalkan pos. Pimpinan unit dimana saya bekerja di Jakarta tidak bisa menerima penjelasan bahwa saya kembali dengan seijin Ketua Satgas dan Sekjen Deplu. Hal ini tentu saja sangat mengecewakan, bukan karena saya tidak dapat melanjutkan tugas dan barang-barang saya masih tertinggal di Dili, tetapi karena melihat sikap pimpinan di unit kerja yang tidak mendukung anak buahnya untuk maju lewat pendidikan.

Mengingat kejadian di atas saya tentu saja sedih dan semakin sedih ketika pada akhirnya hasil referendum memperlihatkan dukungan mutlak masyarakat Timtim terhadap pro kemerdekaan. Beruntung kekecewaan saya terobati karena berhasil lulus tes masuk Sekdilu dan mulai mengikuti pendidikan pada bulan Oktober 1999. Kini ketika berkesempatan kembali ke Timor Leste, walau hanya seminggu, saya ingin menuntaskan sedikit kenangan tentang Dili. Bukan hanya kotanya, tetapi juga peristiwa-peristiwa yang melingkupinya.


Read More..

6.12.09

Bubur Ayam 3 in 1

Sebagai penggemar bubur ayam, jika ada kesempatan pantang rasanya melewati sajian tersebut. Apalagi jika sajian bubur ayamnya berbeda dari umumnya yang ditemukan. Kali ini kesempatan untuk mencicipi sajian bubur ayam dengan rasa beda datang saat menghadiri peluncuran buku "Intelijen Bertawaf Teroris Malaysia dalam Kupasan" karya Marsekal Muda (purn) Prayitno Ramelan di Apartemen Essence (5/11/09). Bubur yang disajikan adalah bubur ayam Betawi yang sepertinya sudah jarang ditemui.


Secara umum tidak banyak perbedaan menyangkut bahan dasar bubur nasi atau yang lebih populer dengan sebutan bubur ayam. Sesuai namanya, bahan dasar bubur tentu saja beras yang dimasak dengan banyak air sehingga menjadi bubur yang lembut. Yang membedakan adalah asesoris yang menyertainya.

Bubur Manado misalnya, asesorisnya adalah sayur-sayuran dan ikan asin yang dicampur jadi satu. Sedangkan asesoris bubur ayam Cirebon adalah kacang kedelai, potongan cakwe, kecap, emping/kerupuk dan tentu saja suwiran daging ayam. Adapun asesoris bubur ayam dari daerah Jawa Tengah agak sedikit berbeda, yaitu kacang kedela, kecap, kerupuk/emping, suwiran ayam plus bumbu kuning.

Nah pada bubur ayam Betawi ada penambahan dalam hal asesori yaitu adanya toge segar, potongan sawi yang dibuat seperti asinan, emping dan kerupuk beras serta bumbu saus kacang seperti yang lazim kita temui pada hidangan nasi uduk. Suwiran daging ayam diganti dengan potongan daging yang telah dioseng-oseng terlebih dahulu sehingga mirip abon.

Ketika bubur nasi dan bumbu kacang berbaur dengan beragam asesoris, terasa perpaduan kenikmatan 3 sajian makanan dalam satu mangkuk alias 3 in 1. Saat menyantap bubur, kita seolah menyantap nasi uduk dan asinan Bogor sekaligus. Rasa nasi uduk tentu saja berasal dari saus kacangnya sementara kenikmatan asinan Bogor berasal dari toge dan sawi yang dipotong kecil-kecil. Emping dan kerupuk merah semakin melengkapi kenikmatan menyantap bubur ayam … kriuk kriuk. Benar-benar maknyus pokoknya.

Selain maknyus, munculnya cita rasa 3 in 1 inilah yang membedakan bubur Betawi dengan bubur dari daerah lain. Hal ini tentu saja bagus untuk memperkaya ragam kuliner di tanah air. Masyarakat pun bisa mengenal dan mencoba beragam bubur ayam tersebut dengan kekhasannya masing-masing. Ya seperti kita mengenal beragam soto: ada soto ayam Pekalongan, Bandung, Surabaya, Banjar, Makassar dan sebagainya.

Read More..

5.12.09

Intelijen Mulai Bertawaf di Essence

Cerita tentang dunia intelijen cenderung membetot perhatian banyak orang. Tengok saja film-film James Bond yang umumnya box office atau cerita mengenai organisasi intelijen Israel Mossad yang pernah menjadi best seller pada masanya.

Menyadari keingintahuan banyak orang tentang dunia intelijen, dengan cerdik Kang Pepih Nugraha, administrator Kompasiana, menyatukan tulisan-tulisan Pak Prayitno Ramelan yang berlatarbelakang intelijen di blog Kompasiana dalam sebuah buku dengan judul menggelitik “Intelijen Bertawaf: Teroris Malaysia dalam Kupasan”. Bagaimana tidak menggelitik, cerita tentang intelijen saja sudah merangsang keingintahuan, apalagi kemudian dibubuhi kata “tawaf” yang merupakan ritual umat muslim mengelilingi Kabah.

Resminya hari ini 5 Desember 2009 buku Intelijen Bertawaf akan diluncurkan di Apartemen Essence, Jalan Darmawangsa XI. Namun belum lagi buku ini beredar, berbagai pertanyaan dan analisis sudah mengemuka dalam berbagai tulisan di blog. Ada pembaca yang mempertanyakan mengenai etika mengaitkan tawaf dengan terorisme. Ada juga seorang pendesain grafis yang menafsirkan pemilihan huruf tawaf berwarna merah darah sebagai imej yang menakutkan. Sehingga tercitrakan suatu tawaf yang berdarah-darah dan menakutkan.

Sah-sah saja dan tidak ada yang keliru jika ada pemerhati, yang meskipun menurut pengakuannya belum membaca buku ini, mempertanyakan dan menafsirkan judul buku Pak Pray seperti di atas. Bagi saya yang menarik justru adalah keberhasilan dan kepiawaian Kang Pepih dalam memilih judul buku dari sekitar 30-an judul tulisan Prayitno Ramelan yang diterbitkan kali ini dan membuat calon pembacanya penasaran. Sama seperti halnya judul buku Chappy Hakim “Cat Rambut Orang Yahudi” yang merupakan gabungan dari 2 buah tulisan Pak Chappy di Kompasiana, judul buku ini juga diambil dari beberapa tulisan Prayitno Ramelan di Kompasiana yaitu “Intelijen Bertawaf, Session 1 dan 2 (diunggah 10 dan 11 Agustus 2009) dan “Awas, Teroris Dilepas Di Malaysia (diunggah 26 September 2009).

Seperti diungkapkan sendiri oleh Penulis dalam kesempatan bincang-bincang di rumahnya, sebetulnya ada sekitar 200 tulisan beliau di Kompasiana. Selain topik tentang intelijen, yang sesuai dengan latar belakangnya sebagai mantan Kepala Dinas Pengamanan dan Sandi TNI AU, terdapat pula topik tentang partai politik yang telah dipilih untuk diterbitkan. Namun oleh penerbit Grasindo dipandang perlu untuk memisahkannya, agar perhatian lebih terfokus.

Kembali ke soal Intelijen bertawaf, apa hubungan antara tawaf dan Intelijen? Kenapa intelijen harus bertawaf? Dalam tulisannya di Kompasiana tanggal 10 Agustus 2009, penulisnya bilang begini, hakikat tawaf adalah “gerak.” yang teratur dan terstruktur, baik yang sudah menjadi ketentuan Tuhan, seperti gerak jagad raya, maupun yang masih bisa ditentukan oleh manusia sendiri. Dengan bertawaf, dunia intelijen bisa bergerak teratur dan terstrukutr dalam menjaga dan memberi rasa aman dan nyaman ke masyarakat. Untuk itu, intelijen bahkan harus lebih pro aktif bertawaf. Saat ini masalah yang menghantui sisi keamanan adalah teror bom, Fungsi intelijen, untuk menangkal beberapa ancaman, harus terfokus pada manajemen dan proses pengelolaan inteljien pada tiga isu kunci yaitu pertama, pola penggalangan; kedua, komando, kendali dan koordinasi dan ketiga, ketiga aplikasi teknologi.

Ditambahkan oleh si penulis buku bahwa bila Intelijen bertawaf (dalam arti memanfaatkan pola penggalan sistematis dan terstruktur) ketahanan moral dan mental bangsa Indonesia akan semakin kuat. Semua pihak akan menjadi “indra” sebagai komponen sistem pertahanan rakyat semesta. Dengan kondisi ideal ini, tidak akan ada lagi celah persembunyian bagi para teroris.

Dengan penjelasan gamblang seperti yang dikemukakan si penulis tersebut di atas, mungkin rasa penasaran terhadap buku Intelijen Bertawaf dapat dialihkan ke pertanyaan bagaimana intelijen akhirnya bertawaf dalam praktik yang sesungguhnya di masyarakat? Apakah ancaman rasa aman dan nyaman hanya berasal dari tindak terorisme ? Bukankah ketidak adilan hukum dan kisruh antar lembaga penegak hukum misalnya, juga menyebabkan hilangnya rasa aman dan nyaman di masyarakat? Bisakah hal-hal semacam itu membuat intelijen bertawaf?

Jawabannya mungkin bisa kita temukan (dan mungkin tidak) dalam acara peluncuran buku tersebut yang rencananya akan dihadiri banyak tokoh penting. Selain Mantan Kepala Badan Intelijen Negara A.M Hendropriyono dan Mantan KASAU Chappy Hakim yang hadir sebagai pembahas buku, rencananya akan hadir pula Menkopolhukam Marsekal (Purn) Djoko Suyanto, KSAU Marsekal Imam Sufaat, Kabareskrim Polri Ito Sumardi, Pimpinan KPK Bibit Samad Riyanto, mantan petinggi-petinggi TNI dan tentu saja para blogger Kompasiana. Terdengar kabar pula kalau beberapa menteri kemungkinan juga akan hadir sebagai teman penulis.

Akan sangat menyenangkan melihat para tokoh nasional bertawaf di Essence dan mendengarkan suara merdu Yuni Shara. Saya sendiri merasa senang bisa bantu-bantu Pak Prayitno Ramelan sebagai Ketua tidak resmi dalam perhelatan ini dan berharap acara Sabtu ini berjalan lancar. Harapan lebih lanjut tentu saja, selain buku Intelijen Bertawaf laris di pasaran, para blogger juga bisa tertular semangat beliau dalam menulis yang baik dan benar serta bermanfaat bagi banyak orang. Siapa tahu ada penerbit yang melirik tulisan-tulisan kita, sehingga bisa menerbitkan buku seperti Pak Prayitno Ramelan.

Read More..