6.12.09

Bubur Ayam 3 in 1

Sebagai penggemar bubur ayam, jika ada kesempatan pantang rasanya melewati sajian tersebut. Apalagi jika sajian bubur ayamnya berbeda dari umumnya yang ditemukan. Kali ini kesempatan untuk mencicipi sajian bubur ayam dengan rasa beda datang saat menghadiri peluncuran buku "Intelijen Bertawaf Teroris Malaysia dalam Kupasan" karya Marsekal Muda (purn) Prayitno Ramelan di Apartemen Essence (5/11/09). Bubur yang disajikan adalah bubur ayam Betawi yang sepertinya sudah jarang ditemui.


Secara umum tidak banyak perbedaan menyangkut bahan dasar bubur nasi atau yang lebih populer dengan sebutan bubur ayam. Sesuai namanya, bahan dasar bubur tentu saja beras yang dimasak dengan banyak air sehingga menjadi bubur yang lembut. Yang membedakan adalah asesoris yang menyertainya.

Bubur Manado misalnya, asesorisnya adalah sayur-sayuran dan ikan asin yang dicampur jadi satu. Sedangkan asesoris bubur ayam Cirebon adalah kacang kedelai, potongan cakwe, kecap, emping/kerupuk dan tentu saja suwiran daging ayam. Adapun asesoris bubur ayam dari daerah Jawa Tengah agak sedikit berbeda, yaitu kacang kedela, kecap, kerupuk/emping, suwiran ayam plus bumbu kuning.

Nah pada bubur ayam Betawi ada penambahan dalam hal asesori yaitu adanya toge segar, potongan sawi yang dibuat seperti asinan, emping dan kerupuk beras serta bumbu saus kacang seperti yang lazim kita temui pada hidangan nasi uduk. Suwiran daging ayam diganti dengan potongan daging yang telah dioseng-oseng terlebih dahulu sehingga mirip abon.

Ketika bubur nasi dan bumbu kacang berbaur dengan beragam asesoris, terasa perpaduan kenikmatan 3 sajian makanan dalam satu mangkuk alias 3 in 1. Saat menyantap bubur, kita seolah menyantap nasi uduk dan asinan Bogor sekaligus. Rasa nasi uduk tentu saja berasal dari saus kacangnya sementara kenikmatan asinan Bogor berasal dari toge dan sawi yang dipotong kecil-kecil. Emping dan kerupuk merah semakin melengkapi kenikmatan menyantap bubur ayam … kriuk kriuk. Benar-benar maknyus pokoknya.

Selain maknyus, munculnya cita rasa 3 in 1 inilah yang membedakan bubur Betawi dengan bubur dari daerah lain. Hal ini tentu saja bagus untuk memperkaya ragam kuliner di tanah air. Masyarakat pun bisa mengenal dan mencoba beragam bubur ayam tersebut dengan kekhasannya masing-masing. Ya seperti kita mengenal beragam soto: ada soto ayam Pekalongan, Bandung, Surabaya, Banjar, Makassar dan sebagainya.

Read More..

5.12.09

Intelijen Mulai Bertawaf di Essence

Cerita tentang dunia intelijen cenderung membetot perhatian banyak orang. Tengok saja film-film James Bond yang umumnya box office atau cerita mengenai organisasi intelijen Israel Mossad yang pernah menjadi best seller pada masanya.

Menyadari keingintahuan banyak orang tentang dunia intelijen, dengan cerdik Kang Pepih Nugraha, administrator Kompasiana, menyatukan tulisan-tulisan Pak Prayitno Ramelan yang berlatarbelakang intelijen di blog Kompasiana dalam sebuah buku dengan judul menggelitik “Intelijen Bertawaf: Teroris Malaysia dalam Kupasan”. Bagaimana tidak menggelitik, cerita tentang intelijen saja sudah merangsang keingintahuan, apalagi kemudian dibubuhi kata “tawaf” yang merupakan ritual umat muslim mengelilingi Kabah.

Resminya hari ini 5 Desember 2009 buku Intelijen Bertawaf akan diluncurkan di Apartemen Essence, Jalan Darmawangsa XI. Namun belum lagi buku ini beredar, berbagai pertanyaan dan analisis sudah mengemuka dalam berbagai tulisan di blog. Ada pembaca yang mempertanyakan mengenai etika mengaitkan tawaf dengan terorisme. Ada juga seorang pendesain grafis yang menafsirkan pemilihan huruf tawaf berwarna merah darah sebagai imej yang menakutkan. Sehingga tercitrakan suatu tawaf yang berdarah-darah dan menakutkan.

Sah-sah saja dan tidak ada yang keliru jika ada pemerhati, yang meskipun menurut pengakuannya belum membaca buku ini, mempertanyakan dan menafsirkan judul buku Pak Pray seperti di atas. Bagi saya yang menarik justru adalah keberhasilan dan kepiawaian Kang Pepih dalam memilih judul buku dari sekitar 30-an judul tulisan Prayitno Ramelan yang diterbitkan kali ini dan membuat calon pembacanya penasaran. Sama seperti halnya judul buku Chappy Hakim “Cat Rambut Orang Yahudi” yang merupakan gabungan dari 2 buah tulisan Pak Chappy di Kompasiana, judul buku ini juga diambil dari beberapa tulisan Prayitno Ramelan di Kompasiana yaitu “Intelijen Bertawaf, Session 1 dan 2 (diunggah 10 dan 11 Agustus 2009) dan “Awas, Teroris Dilepas Di Malaysia (diunggah 26 September 2009).

Seperti diungkapkan sendiri oleh Penulis dalam kesempatan bincang-bincang di rumahnya, sebetulnya ada sekitar 200 tulisan beliau di Kompasiana. Selain topik tentang intelijen, yang sesuai dengan latar belakangnya sebagai mantan Kepala Dinas Pengamanan dan Sandi TNI AU, terdapat pula topik tentang partai politik yang telah dipilih untuk diterbitkan. Namun oleh penerbit Grasindo dipandang perlu untuk memisahkannya, agar perhatian lebih terfokus.

Kembali ke soal Intelijen bertawaf, apa hubungan antara tawaf dan Intelijen? Kenapa intelijen harus bertawaf? Dalam tulisannya di Kompasiana tanggal 10 Agustus 2009, penulisnya bilang begini, hakikat tawaf adalah “gerak.” yang teratur dan terstruktur, baik yang sudah menjadi ketentuan Tuhan, seperti gerak jagad raya, maupun yang masih bisa ditentukan oleh manusia sendiri. Dengan bertawaf, dunia intelijen bisa bergerak teratur dan terstrukutr dalam menjaga dan memberi rasa aman dan nyaman ke masyarakat. Untuk itu, intelijen bahkan harus lebih pro aktif bertawaf. Saat ini masalah yang menghantui sisi keamanan adalah teror bom, Fungsi intelijen, untuk menangkal beberapa ancaman, harus terfokus pada manajemen dan proses pengelolaan inteljien pada tiga isu kunci yaitu pertama, pola penggalangan; kedua, komando, kendali dan koordinasi dan ketiga, ketiga aplikasi teknologi.

Ditambahkan oleh si penulis buku bahwa bila Intelijen bertawaf (dalam arti memanfaatkan pola penggalan sistematis dan terstruktur) ketahanan moral dan mental bangsa Indonesia akan semakin kuat. Semua pihak akan menjadi “indra” sebagai komponen sistem pertahanan rakyat semesta. Dengan kondisi ideal ini, tidak akan ada lagi celah persembunyian bagi para teroris.

Dengan penjelasan gamblang seperti yang dikemukakan si penulis tersebut di atas, mungkin rasa penasaran terhadap buku Intelijen Bertawaf dapat dialihkan ke pertanyaan bagaimana intelijen akhirnya bertawaf dalam praktik yang sesungguhnya di masyarakat? Apakah ancaman rasa aman dan nyaman hanya berasal dari tindak terorisme ? Bukankah ketidak adilan hukum dan kisruh antar lembaga penegak hukum misalnya, juga menyebabkan hilangnya rasa aman dan nyaman di masyarakat? Bisakah hal-hal semacam itu membuat intelijen bertawaf?

Jawabannya mungkin bisa kita temukan (dan mungkin tidak) dalam acara peluncuran buku tersebut yang rencananya akan dihadiri banyak tokoh penting. Selain Mantan Kepala Badan Intelijen Negara A.M Hendropriyono dan Mantan KASAU Chappy Hakim yang hadir sebagai pembahas buku, rencananya akan hadir pula Menkopolhukam Marsekal (Purn) Djoko Suyanto, KSAU Marsekal Imam Sufaat, Kabareskrim Polri Ito Sumardi, Pimpinan KPK Bibit Samad Riyanto, mantan petinggi-petinggi TNI dan tentu saja para blogger Kompasiana. Terdengar kabar pula kalau beberapa menteri kemungkinan juga akan hadir sebagai teman penulis.

Akan sangat menyenangkan melihat para tokoh nasional bertawaf di Essence dan mendengarkan suara merdu Yuni Shara. Saya sendiri merasa senang bisa bantu-bantu Pak Prayitno Ramelan sebagai Ketua tidak resmi dalam perhelatan ini dan berharap acara Sabtu ini berjalan lancar. Harapan lebih lanjut tentu saja, selain buku Intelijen Bertawaf laris di pasaran, para blogger juga bisa tertular semangat beliau dalam menulis yang baik dan benar serta bermanfaat bagi banyak orang. Siapa tahu ada penerbit yang melirik tulisan-tulisan kita, sehingga bisa menerbitkan buku seperti Pak Prayitno Ramelan.

Read More..

28.11.09

Bekasi Peduli AIDS

Bukan karena seorang dokter jika Mbak Ajeng kemudian mempelopori kontes SEO Bekasi Peduli AIDS, tetapi lebih karena kekhawatiran akan penyebaran virus AIDS yang terus meluas. Kekhawatian tersebut sangat beralasan karena di Bekasi saja jumlah penderita AIDS terus meningkat setiap tahunnya. Data Komisi Penanggulangan AIDS Kota Bekasi pada bulan Maret 2009 misalnya memperlihatkan bahwa selama satu tahun terakhir jumlah penderita bertambah sebanyak 162 orang, sehingga jumlah penderita yang tergolong ODHA (orang dengan HIV/AIDS) yang masih hidup sebanyak 1.060 orang.

Memperhatikan data seperti tersebut di atas, sudah selayaknya jika gagasan Mbak Ajeng mengonlinekan Bekasi Peduli AIDS disambut positif. Apalagi hal ini sejalan dengan Hari AIDS sedunia yang bertemakan “Hentikan AIDS, Jaga Janjinya” dan jatuh pada 1 Desember. Melalui kontes SEO Bekasi Peduli AIDS oleh Komunitas Blogger Bekasi (be-Blog), blogger memperlihatkan kepedulian terhadap AIDS dan mendukung pemerintah dalam melaksanakan pemberantasan AIDS.

Dengan tema lomba “Hentikan Penyebaran AIDS di wilayah Bekasi dan Blogger siap mejadi DUTA AIDS” memperlihatkan harapan agar blogger dapat membantu menumbuhkan kesadaran masyarakat mencegah ancaman bahaya AIDS sejak dini dan menjauhkan diri, keluarga, kerabat dan sahabatnya dari kegiatan yang menyebabkan terjadinya penularan virus HIV/AIDS seperti penggunaan jarum suntik dan seks.

“Jaga janji dan Duta AIDS” merupakan dua kata kunci dalam suksesnya penanggulangan penyebaran virus HIV/AIDS. Hal ini tidak terlepas dari kenyataan bahwa pada umumnya korban HIV/AIDS adalah para pengguna obat-obatan terlarang, misalnya lewat jarum suntik, sehingga peran Duta AIDS akan sangat penting dalam menjaga janji mantan pengguna obat terlarang agar tidak kembali menjadi pengguna. Karenanya pula seorang Duta AIDS harus bisa bertindak menjauhkan virus HIV/AIDS daripada menjauhi orangnya.

Dalam kaitan ini, meski keberadaan seorang Duta AIDS sangat diperlukan untuk memberikan penyuluhan dan penyadaran serta bersahabat kepada mereka-mereka yang telah menjadi korban, namun harus tetap diingat bahwa tidak semua orang siap untuk menjadi Duta AIDS. Setidaknya ada beberapa alasan ketidaaksiapan seseorang menjadi Duta AIDS seperti masih munculnya kekhawatiran tertular virus ataupun takut dijauhi keluarga karena berdekat-dekatan dengan korban HIV/AIDS.

Mengingat beratnya tugas seorang Duta AIDS, maka yang bersangkutan sebelum melaksanakan tugasnya jelas dituntut untuk memahami lebih lanjut mengenai HIV/AIDS dan penyebaran virusnya. Selain itu diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih luas kepada orang di sekelilingnya seperti keluarga dan sahabat, sehingga tidak muncul kekhawatiran ketika seorang Duta AIDS terjung ke lapangan. Tantangan yang tidak mudah, karenanya kontes SEO Bekasi Peduli AIDS oleh be-Blog sesungguhnya baru awal dari pemahaman akan penyakit yang membahayakan tersebut dan upaya-upaya pencegahannya.

Salam be-Blog, Salam Bekasi Peduli AIDS

Read More..

26.11.09

Membaca Rambu Berbahasa Inggris di Bekasi

Kalau kita berkendaraan mendekati perempatan Jalan Achmad Yani dari arah Jalan K.H Noer Ali (Kali Malang), persis di depan Bekasi Cyber Park, kita akan mendapatkan rambu lalu lintas dalam dua bahasa, Indonesia dan Inggris. Selain di tempat tersebut, beberapa rambu serupa dapat dijumpai di dekat jembatan penyeberangan, tidak jauh dari Giant Hypermart, dan jalan Chairil Anwar (depan DPRD Kota Bekasi). Hal ini tentu saja menarik perhatian karena menimbulkan pertanyaan mengenai siapa yang menjadi sasaran pemasangan rambu lalu lintas dalam dua bahasa tersebut?.

Pada rambu yang berada di depan Bekasi Cyber Park, tertulis arah terus (Straight) menuju kantor Polres Metro Bekasi (Police Office of Bekasi), DPRD Kota Bekasi (Local House of Representative of Bekasi Municipality), belok kanan (Turn Right) ke Bogor (Bogor City), dan belok kiri (Turn Left) ke Kantor Walikota (Mayor Office of Bekasi) dan Asrama haji Jawa Barat (Hajj Dormitory of West Java).

Melihat penggunaan bahasa Inggris pada rambu-rambu tersebut maka kita bisa langsung menebak bahwa hal tersebut bukan ditujukan bagi para pelancong asing yang sedang berkunjung ke Bekasi. Lalu siapa target dari rambu lalu lintas ini? Melihat objeknya adalah kantor-kantor pemerintahan di kota Bekasi, diperkirakan sasarannya adalah orang asing yang akan berkunjung ke tempat-tempat tersebut. Dijadikannya kantor-kantor pemerintahan sebagai objek pada rambu tersebut sepertinya menegaskan bahwa Bekasi bukanlah daerah tujuan wisata. Kalau saja Bekasi merupakan daerah tujuan wisata, maka objek yang dicantumkan dalam rambu lalu lintas bisa jadi berupa museum atau monumen bersejarah.

Tidak ada yang keliru dengan penggunaan rambu lalu lintas dalam bahasa Indonesia dan Inggris tersebut, karena hal tersebut justru memperlihatkan sikap tanggap Pemerintah Kota dalam merespon perkembangan di kota Bekasi. Sebagai salah daerah yang berbatasan langsung dengan wilayah ibukota DKI Jakarta, saat ini memang telah mengalami kemajuan yang begitu pesat. Infrastruktur, sarana dan prasarana terus dibenahi guna terus menggulirkan roda perekonomian dan memberikan kenyamanan bagi warga penghuninya. Kondisi ini tak pelak menjadikan Bekasi sebagai daerah penyeimbang Jakarta, yang perkembangannya tidak ketinggalan dengan ibu kota negara.

Hal positif lainnya dari adanya rambu dua bahasa tersebut adalah terdorongnya pemahaman warga Bekasi mengenai perkembangan kotanya menjadi sebuah kota internasional. Untuk itu warga Bekasi pun tampaknya sudah harus membiasakan diri berbahasa Inggris agar tidak kagok jika berbicara dengan orang asing yang menggunakan bahasa tersebut.

Mengenai penggunaan kata dalam bahasa Inggris, hal tersebut sebenarnya sudah tidak asing lagi bagi warga Bekasi. Lihat saja pusat-pusat perbelanjaan di sekitar pintu tol Bekasi Barat yang telah menggunakan bahasa Inggris semua seperti Bekasi Square Mall, Mall Metropolitan, Giant Hypermart dan Bekasi Cyber Park. Bahkan kalau anda memasuki area bioskop Cinema XXI di Giant, akan didapatkan keterangan tentang berbagai tempat dalam Inggris. Kalau diperhatikan lebih lanjut, di seputaran Pintu Tol Bekasi Barat tersebut, hanya SPBU Pertamina dan restoran sunda Pajajaran saja yang belum menyesuaikan namanya ke dalam bahasa Inggris.

Tentu saja tolok ukur berubahnya suatu kota menjadi kota internasional bukan semata banyaknya penggunaan bahasa asing. Terdapat berbagai tolok ukur lain yang mesti digunakan. Beberapa daiantaranya adalah ketersediaan infrastruktur bertaraf internasional yang memudahkan mobilitas dan akses informasi bagi masyarakat.

Mengenai hal di atas, masih banyak kekurangan yang mesti dibangun dan diwujudkan. Misalnya pembangunan jalan yang dapat menghubungkan satu kawasan industri dengan kawasan lain, pembangunan pelabuhan laut internasional dan pembangunan sarana komunikasi yang memudahkan cara kerja aparat pemerintah dan memberikan akses warga Bekasi untuk menjelajah dunia maya. Khusus pembangunan sarana komunikasi ini, malah dipandang perlu untuk membangun suatu kawasan free hot spot dimana warga secara gratis memperoleh akses internet (suatu hal yang tentunya sangat menyenangkan para blogger jika kawasan free hot spot bisa terealisir).

Nah sambil menunggu Bekasi menjadi sebuah kota internasional, tampaknya secara bertahap warga Bekasi bisa mulai belajar dan memperlancar penggunaan bahasa asing.

Selamat hari Kamis pembaca, bagaimana pemakaian bahasa asing, terutama pada rambu-rambu lalu lintas, di kota anda ?


Read More..

24.11.09

Hendropriyono dan Ganyang Malaysia

Bagi banyak orang, nama Abdullah Mahmud Hendropriyono, mantan Menteri Transmigrasi dan Pemukiman Perambah Hutan di era Presiden B.J Habibie dan Kepala Badan Intelijen Negara di era Presiden Megawati Soekarnoputri, mungkin tidak terlalu asing. Namun bahwa beliau adalah kakak kandung tetangga depan rumah, saya baru mengetahuinya belum lama ini. Sebagai penghuni baru di sebuah perumahan di Bekasi Barat, saya memang belum banyak mengenal dekat tetangga sekitar.

Jumat, 20 November 2009, Pak Heri dan Ibu Eni, tetangga depan rumah saya itu mengundang kami dan tetangga sekitar menghadiri acara midodareni* anak perempuannya yang akan menikah Sabtu ini. Dalam acara ini hadir pula Pak Hendropriyono yang merupakan kakak kandung Ibu Eni.

Meski acaranya midodareni, jangan bayangkan dalam acara tersebut melulu diisi rangkaian acara adat Jawa saja. Acara sudah dimodifikasi dengan menghadirkan penyanyi yang diiringi organ tunggal untuk menemani tamu undangan saat santap malam. Disinilah kemudian Pak Hendro unjuk kebolehan membawakan sebuah lagu.

Alih-alih langsung bernyanyi, Pak Hendro terlebih dahulu bercerita tentang acara midodareni yang dimaksudkan untuk mengecek kesiapan keluarga mempelai wanita dalam melaksanakan upacara pernikahan pada keesokan harinya. Keluarga mempelai pria hadir dalam acara tersebut, namun sang calon mempelai pria meski boleh hadir namun tidak diperkenankan bertemu sang calon istri dan tidak boleh menyantap hidangan yang disediakan, kecuali air putih. Menurut Pak Hendro, hal tersebut merupakan bentuk latihan kesabaran dan simbol bahwa pihak pria lah yang nantinya memiliki kewajiban utama dalam menafkahkan keluarganya.

Usai bercerita tentang acara midodareni, barulah Pak Hendro berbicara tentang Malaysia saat mengkoreksi sebuah lagu melayu yang dibawakan sang penyanyi. Menurut beliau, lagu melayu yang dibawakan bukanlah dari Malaysia tetapi dari Riau. Begitu pula dengan lagu Semalam di Malaya, bukanlah lagu Malaysia tetapi lagu Melayu yang asalnya dari Riau. Asal usul Malaysia adalah dari Melayu Riau, dimana banyak orang Melayu yang pindah kesana pada masa lalu. Malaysia merupakan negara bentukan Inggris yang dimerdekakan pada 31 Agustus 1957.

Konflik dengan Indonesia terjadi ketika Malaysia berkeinginan menggabungkan Brunei, Sabah dan Sarawak dengan Persekutuan Tanah Melayu pada tahun 1961. Dikemukakan oleh Pak Hendropriyono bahwa sebenarnya pada tahun 1961 tersebut beberapa wilayah bebas seperti Serawak sedang melakukan referendum untuk menentukan apakah akan bergabung dengan Federasi Malaysia bentukan Inggris atau berdiri sendiri sebagai negara merdeka. Namun belum selesai proses referendum, pada tanggal 16 September 1961 secara sepihak Serawak dimasukan kedalam Federasi Malaysia. Keputusan ini ditentang oleh Presiden Soekarno yang menganggap Malaysia sebagai “boneka” Inggris. Presiden Soekarno memandang Malaysia sebagai negara yang tidak bersahabat dengan Indonesia dan menjadi sandungan dalam hubungan dengan Indonesia. Sejak itu konflik terus meningkat dan berpuncak pada kebijakan “Ganyang Malaysia” kepada negara Federasi Malaysia setelah PM Malaysia Tunku Abdul Rahman sangat menghina Indonesia dan presiden Indonesia dengan menginjak lambang negara Garuda Pancasila.

Kenapa cerita ini disampaikan pada suatu acara menjelang pernikahan? Menurut Pak Hendro, generasi muda sekarang, termasuk keponakannya yang akan menikah, banyak yang tidak paham sejarah, termasuk dalam masalah hubungan Indonesia-Malaysia. Ketika Malaysia diawal-awal masa kemerdekaannya, Indonesia banyak mengirimkan tenaga ahli kesana untuk membantu pembangunan mereka. Kini mereka lebih maju dari Indonesia dan orang-orang Indonesia yang berangkat kesana justru bukan lagi tenaga ahli melainkan tenaga kerja yang memiliki ketrampilan rendah.

Dengan kondisi di atas, Pak Hendro melihat perlunya generasi muda memahami sejarah agar bisa lebih memahami kondisi Indonesia secara utuh. Untuk itu ia berencana untuk membuat buku mengenai hal ini sebagai tambahan referensi sejarah Indonesia. Selanjutnya untuk memberikan semangat kepada generasi muda, Pak Hendro kemudian menyanyikan lagu Irlandia berjudul Danny Boy. Menurut beliau lagu ini menggambarkan pesan dari orang tua kepada anaknya yang akan berangkat perang dan cocok untuk membangkitkan semangat.

Usai acara midodareni, saya sempat berbincang sejenak dengan Pak Hendro dan meminta beliau untuk menulis di blog. Menyicil tulisan lewat blog seperti yang dilakukan beberapa mantan tentara seperti Prayitno Ramelan dan Chappy Hakim. Kalau kesulitan membuat blog sendiri, bisa ikut blog keroyokan seperti Kompasiana. Beliau merespon dengan baik tawaran tersebut.

Terima kasih pak Hendropriyono atas sharingnya. Ditunggu lho tulisannya di blog.

* Midodareni berasal dari kata dasar widodari (Jawa) yang berarti bidadari yaitu putri dari sorga yang sangat cantik dan sangat harum baunya. Midodareni biasanya dilaksanakan antara jam 18.00 sampai dengan jam 24.00 ini disebut juga sebagai malam midodareni, calon penganten tidak boleh tidur. Dalam acara ini disampaikan petuah-petuah dan nasehat serta doa-doa kepada calon mempelai. Adapun dengan selesainya midodareni saat jam 24.00 calon pengantin dan keluarganya bisa makan hidangan yang disediakan.

Read More..

14.11.09

Listrik Boleh Padam, Blogshop Be-Blog Tetap Jalan

Jauh-jauh hari acara blogshop blogger Bekasi (Be-Blog) telah direncanakan akan diselenggarakan pada hari ini tanggal 14 November 2009 mulai pukul 10.00 WIB. Awalnya kegiatan akan diselenggarakan di Balai Patriot milik Pemerintah Kota Bekasi, namun karena tempatnya terlalu besar dan pertimbangan lainnya, akhirnya acara dipindahkan ke STMIK Bani Saleh. Persiapan pun telah diatur sedemikian rupa, termasuk penggunaan komputer dan akses internet yang didukung Telkom Speedy.

Sayang, sehari menjelang acara digelar, Perusahaan Listrik Negara alias PLN dengan tenangnya menyampaikan bahwa pada tanggal 14 November 2009 kawasan dimana STMIK Bani Saleh berada terkena giliran pemadaman listrik. Saya yang berada jauh dari Bekasi (kebetulan sedang berdinas di Den Haag, Belanda) kemudian membayangkan bagaimana teman-teman panitia Be-Blog yang dikomandani Om Jay menjadi sedikit bingung mengenai kelanjutan pelaksanaan kegiatan.

Namun, dari informasi yang saya terima, keputusan cepat telah diambil, kegiatan tidak perlu dibatalkan. Acara akan berjalan walau tidak ada listrik dari PLN. Lho lalu dari mana mendapatkan listrik untuk komputer yang akan digunakan selama kegiatan ? Rupanya ada Plan B yang telah disiapkan yaitu menggunakan genset yang disediakan Telkom Speedy. Namun karena keterbatasan daya, listrik yang dihasilkan hanya akan digunakan untuk komputer pembicara saja. Sementara untuk para peserta diharapkan mengisi penuh baterai notebooknya supaya bisa mengikuti kegiatan secara penuh dan tetap maksimal. Sementara pelatihan online pembuatan blog diganti dengan memperbanyak jam praktek penulisan.

Alhamdullilah satu permasalahan untuk sementara sudah dapat diatasi. Semoga dengan keterbatasan listrik tidak memadamkan semangat berbagai ilmu dari teman-teman Be-Blog. Kalau keterbatasan listrik menjadikan terasa tidak maksimal, para peserta bisa mengkontak secara pribadi teman-teman panitia Be-Blog untuk berkonsultasi lebih lanjut. Toch teman-teman panitia Be-Blog juga teman-teman peserta dan juga teman blogger semua.

Selamat berblogshop dan maju terus blogger Bekasi dan Indonesia. Semoga dengan bertambahnya ilmu ngeblog yang didapat semakin banyak tulisan yang bisa dibaca banyak orang dan bermanfaat bagi pembacanya.

Untuk PLN yang semakin loyo dalam menyediakan daya listrik bagi masyarakat, semoga memperoleh kekuatan untuk menambah vitalitas PLN. Masa’ sudah 64 tahun merdeka, menyediakan pelayanan publik saja tidak mampu.

Read More..

24.10.09

Mengintip Kunci Sukses Kompasiana

Ketika tulisan ini dibuat pesta ulang tahun pertama Kompasiana pasti baru saja selesai. Hiruk pikuk dan keakraban para Kompasianers (julukan bagi penulis dan penggemar Kompasiana) dalam jumpa darat tersebut juga baru saja berakhir. Sebentar lagi berbagai laporan dari kegiatan ulang tahun akan bermunculan di Kompasiana.

Saya sendiri sebenarnya ingin hadir dalam acara tersebut, namun karena ditugaskan kantor untuk ke Belanda sejak 19 Oktober lalu maka terpaksa saya membatalkan konfirmasi kehadiran pada acara yang sebenarnya sudah ditunggu beberapa waktu sebelumnya. Bagi saya,kehadiran dalam acara yang digelar Kompasiana sangat menyenangkan. Saya bisa bertemu dan bercengkerama dengan para Kompasianers yang selama ini sudah saling kenal, pada saat yang bersamaan bisa berkenalan dengan teman-teman Kompasianers baru.

Dalam pandangan saya, keakraban antar Kompasianers inilah yang menjadi salah satu kunci sukses keberhasilan Kompasiana di usianya yang pertama. Kesuksesan Kompasiana bukan disebabkan karena dilahirkan oleh Kompas. Pengalaman memperlihatkan, Kompas justru pernah gagal mempertahankan Kolom Kita (Koki) sebagai media jurnalisme warga.

Keakraban lah yang pada akhirnya membentuk suatu komunitas yang dinamis, yang menjaga cita-cita dan keinginan untuk menjadikan Kompasiana sebagai rumah sehat bersama. Tidak mengherankan ketika wajah Kompasiana mulai dikotori segelintir orang, berbagai reaksi muncul agar Kompasiana kembali membersihkan diri dan jangan merusak nama Kompas. Pun ketika Kompasiana dipandang mulai lebih banyak mengakomodir tulisan esek-sek (sehingga sempat muncul istilah Kompaseksiana), banyak yang mengingatkan agar Kompasiana tidak terjebak menjadi blog esek-esek.

Kunci kedua yang berperan penting dalam kesuksesan Kompasiana adalah adanya pihak yang secara serius mengurus Kompasiana sebagai blog keroyokan. Benar bahwa sebuah blog keroyokan memiliki keuntungan tersendiri dalam hal pengisian tulisan dimana banyak orang bisa memberikan kontribusinya. Tapi tanpa diurus sungguh-sungguh, tidakakan banyak penulis yang ingin ikut serta meyampaikan tulisannya. Tanpa tulisan yang selalu diupdate, sebuha blog tinggal menunggu kesunyiannya.

Salut kepada Pak Taufik Miharja dan Kang Pepih Nugraha selaku administrator Kompasiana yang mau membuka diri dan bekerja sama dengan semua pihak serta mendengarkan suara dan pendapat para Kompasianers. Keterbukan yang mereka berikan menjadikan Kompasianers lebih bersahabat. Percaya dan semakin yakin bahwa suaranya didengar. Selain itu keinginan para penulis di Kompasiana untuk dapat berbagi informasi dan pandangan serta berdiskusi dengan kalangan yang lebih luas dapat tersalurkan.

Selamat ulang tahun yang pertama Kompasiana. Sukses dan semoga semakin terus tumbuh dan berkembang serta menjadi rumah sehat kita bersama.

Salam dari Clingedael, Den Haag



Read More..

6.10.09

Undangan Launching Blog Komunitas Blogger Bekasi

Setelah melalui berbagai persiapan pendahuluan, anggota Komunitas Blogger Bekasi yang tergabung dalam tim kepanitiaan mengundang para blogger Bekasi untuk menghadiri launching blog komunitas yang akan dilaksanakan pada Sabtu, 17 Oktober 2009 pukul 11.00 s/d 15.30 di teras Gloria Jean’s Coffee, Bekasi Cyber Park (seberang Metropolitan Mall), Bekasi Barat. Panitia tidak mengenakan biaya apapun bagi peserta yang akan menghadiri acara tersebut. Panitia bahkan menyiapkan konsumsi bagi 100 peserta pertama yang mengkonfirmasikan kehadirannya.

Lalu apa saja acaranya ?

Selain peluncuran blog komunitas yang diharapkan akan dilakukan oleh Walikota Bekasi, juga akan diselenggarakan bincang-bincang dengan tema “Menembus Tapal Batas Bekasi Melalui BLOG”. Hadir sebagai pembicara Chappy Hakim (Marsekal/Mantan KSAU/penulis buku “Cat Rambut Orang yahudi”), Paman Tyo (Blogger tinggal di Bekasi), dan Pepih Nugraha (Jurnalis Senior Kompas, pendiri serta administrator kanal Blog Kompasiana). Moderator: Masim “Vavai” Sugianto (praktisi TI).

Berminat menghadiri acara ini ? silahkan klik blog Komunitas Blogger Bekasi dan isi formulir pendaftaran yang disediakan. Ayo buruan jangan sampai ketinggalan.

Read More..

4.10.09

Ketika Petugas Tol Berbatik

Jumat 2 Oktober 2009 sepertinya menjadi hari yang istimewa dimana banyak orang ramai-ramai mengenakan batik. Para kaum lelaki yang mengenakan batik terlihat lebih ganteng dan rapih, adapun kaum perempuannya semakin cantik dalam balutan batik. Seorang teman yang jarang mengenakan batik sampai berkomentar “wah rupanya hari ini ada resepsi nasional ya sehingga banyak yang berbatik”.

Sebenarnya hari Jumat tersebut tidak ada hajatan nasional, masyarakat Indonesia justru sedang bersedih dengan musibah gempa yang menimpa saudara-saudaranya di Padang, Jambi dan berbagai wilayah lain di Sumatera. Namun hari Jumat tersebut dirayakan dengan mengenakan batik secara serempak guna menyambut penetapan UNESCO yang menyatakan batik sebagai warisan budaya dunia yang berasal dari Indonesia. Masyarakat Indonesia patut bergembira karena akhirnya batik diakui sebagai warisan Indonesia alias milik Indonesia.

Dari sekian banyak anggota masyarakat Indonesia yang mengenakan batik, salah satunya adalah Mas Abdurrachman, petugas pintu tol Pondok Gede Timur. Jika pada hari-hari biasa Mas Abdurrachman mengenakan seragam biru muda khas Jasa Marga, maka pada hari itu ia mengenakan batik warna coklat. Nampaknya batik tersebut masih baru dan hanya dipakai khusus pada hari Jumat tersebut.

Sebetulnya saya ingin bertanya lebih lanjut mengenai alasannya ikutan berbatik di hari Jumat tersebut, tapi karena antrian kendaraan di belakang sudah memanjang, dari pada diklakson rama-ramai, saya putuskan hanya untuk mengambil gambarnya. Bukankah lewat gambar kita juga bisa bercerita lebih banyak ?

Dari gambar yang diambil sepersekian detik, terlihat Mas Abdurrachman yang sedang tersenyum. Tampaknya ia sangat gembira bisa turut serta dalam hari batik dan memperlihatkan kecintaannya akan salah satu produk budaya nasional.

Respon yang luar biasa seperti yang diperlihatkan mas Abdurrachman kiranya patut diapresiasi dengan baik. Namun seperti kebiasaan masyarakat kita yang cenderung bersikap responsif dalam menanggapi suatu permasalahan dan hangat-hangat tahi ayam dalam melakukan sesuatu, maka saya berharap agar “batik day” tidak diartikan secara sempit yaitu berbatik ke kantor hanya pada tanggal 2 Oktober alias setahun sekali.

Makna “batik day” hendaknya dipahami secara lebih luas sebagai upaya untuk mewarisi budaya nasional. Sebagai ahli waris yang sah, masyarakat Indonesia tentunya dapat memelihara tradisi membuat dan mengenakan batik dalam kehidupan sehari-hari. Bukan hanya berbatik ketika ada klaim dari negara lain.

Kenapa hal di atas saya kemukakan ? karena dari pengamatan sekilas, tampak masih ada keterpaksaan dari sebagian anggota masyarakat dalam berbatik ke kantor atau kegiatan lainnya. Sebagai contoh, dalam bincang-bincang di sebuah stasiun radio, seorang pendengar dengan polos mengatakan bahwa ia berbatik ke kantor karena ada perintah dari atasannya dan kalau ia menolak mengenakan batik, ia khawatir gajinya akan dipotong.

Saya yakin apa yang disampaikan pendengar radio tersebut jujur dan saya yakin apa yang dikemukakannya mewakili orang-orang yang terpaksa berbatik, terutama saat berkantor. Mereka mungkin kurang nyaman dan merasa batik hanya cocok untuk acara resepsi. Padahal kalau kita melihat busana batik dewasa ini, maka kita akan melihat bagaimana batik telah dikemas lebih gaul dan cocok digunakan dalam berbagai kesempatan. Bahkan bagi mereka yang terbiasa nge-jeans, batik pun bisa dipadukan penggunaannya.

Lebih jauh, dengan mengenakan batik dalam kegiatan sehari-hari, kita bukan saja memelihara budaya nasional, tetapi pada saat bersamaan menghidupkan perekonomian khususnya industri batik. Pengerajin batik akan tertolong dengan besarnya pesanan yang terus masuk dan tidak khawatir pasar batik dikuasai asing. Disini terlihat adanya guliran-guliran dari penggunaan batik dan bukan sekedar mewarisi tanpa memberikan nilai ekonomis ataupun nilai tambah lainnya.

Dengan alasan tersebut di atas, maka sebenarnya tidak ada alasan untuk hanya berbatik (ke kantor) setahun sekali. Setiap minggu kita bisa berbatik, bahkan jika perlu 2-3 hari dalam seminggu. Sehingga kita bisa ber”batik day” setiap minggu. Bukankah begitu rekan-rekan ?



Read More..

28.9.09

Selamat Datang Kembali di Jakarta

Alhamdullilah setelah menempuh perjalanan yang melelahkan dari Pemalang, Jawa Tengah, akhirnya kami sekeluarga tiba kembali dengan selamat di Bekasi pada Sabtu malam (26/9). Setelah beristirahat pada hari Minggu, maka Senin ini mulai kembali beraktifitas. Sebagai seorang komuter, saya akan kembali menyusuri kemacetan jalan-jalan sepanjang kali malang, tol Jatibening – Pondok Gede dan seterusnya hingga tiba di kawasan perkantoran dekat Lapangan Banteng.

Pada hari Senin ini, bukan saya saja yang akan memulai aktiftas dengan menyusuri jalan-jalan ibu kota, jutaan komuter akan melakukan hal yang sama. Bukan hanya dari Bekasi, tetapi juga dari Bogor, Tanggerang dan Depok. Semua komuter akan tumplek memenuhi kota Jakarta demi sesuap nasi dan pelunasan kreditan kendaraan dan rumah serta sebutir berlian (halah).

Jakarta akan kembali dipadati pendatang. Pemandangan lengannya ibu kota seperti yang ditayangaan stasiun televisi saat hari raya idul fitri hanya menjadi impian yang indah. Sama seperti kita menonton sinetron di televisi yang dipenuhi aktris cantik dan aktor ganteng dengan kulit yang bening.

Kita yang terbiasa berdesak-desakan di bus kota, kembali akan melakoni rutinitas tersebut. Sementara pengemudi kendaraan-kendaraan bermotor, baik roda dua ataupun empat, kembali akan beradu nyali mencari celah ruang kosong di jalan raya. Adapun mereka yang duduk nyaman di dalam mobil berpendingin akan meneruskan kenikmatannya sambil menghubungi rekannya lewat blackberry atau memeloti laporan yang disampaikan anak buahnya.

Seperti kata Koes Plus “ke Jakarta aku kan kembali, walaupun apa yang kan terjadi”, maka apapun yang terjadi, mari kita hadapi dengan semangat baru dengan hati yang lebih bersih setelah sebulan berpuasa dan merayakan idul fitri. Mari kembali ke kehidupan normal setelah sepekan lebih bersilaturahmi dengan keluarga dan mengendarkan urat-urat ketegangan.

Mumpung suasana lebaran belum terlalu jauh dan masih di minggu pertama bulan Syawal, perkenankan saya dengan tulus menghaturkan selamat hari raya Idul Fitri 1430 H. Mohon maaf lahir dan bathin bila ada salah-salah tulis selama mempostingkan artikel di blog ini.


Read More..