17.7.09

Alex Fergusson, MU dan Semangat Pantang Menyerah

We are the champions - my friends

And we'll keep on fighting - till the end -
We are the champions -
We are the champions
No time for losers
'Cause we are the champions

Cuplikan tembang “We are the Champion” yang dibawakan Queen terasa pas untuk menggambarkan keberhasilan perjuangan Manchester United (MU) dalam menjadi yang terbaik, tidak hanya di Inggris dan Eropa bahkan Dunia. Sejak ditangani Manajer dan Pelatih Sir Alex Ferguson pada akhir tahun 1986, MU berhasil menjadi salah satu klub tersukses dengan raihan trofi juara yaitu 11 kali Juara Liga Primer Inggris, 2 kali Juara Piala Champion, sekali Juara Piala Interkontinental antar klub dunia, sekali Juara Dunia antar Klub FIFA, 5 kali Juara Piala FA, 3 kali Juara Piala Carling, 7 kali Juara Piala Charity Shield, sekali Juara Piala Winner UEFA.

Semua keberhasilan tersebut tentu saja tidak terlepas dari peran Manajer dan Pelatih Ferguson yang mampu membina dan meracik keahlian pemain-pemainnya dalam satu tim yang solid. Dan tentu saja keberhasilan tersebut tidak terlepas dari dukungan penuh manajemen klub yang member kepecayaan penuh kepada manajer dan pelatih. Ya kalau saja manajemen klub tidak mendukung Ferguson, sudah sejak lama ia didepak dari MU. Hal ini bisa terjadi karena dalam tahun-tahun awal kepelatihannya di MU pencapaian prestasinya tidaklah seperti yang kita lihat seperti data di atas. Ketika mulai melatih MU, kesebelasan Setan Merah tersebut hanya menduduki posisi 11 klasemen dan sering gagal dalam perebutan juara Piala FA dan Piala Charity Shield.

Namun dengan semangat pantang menyerah dan disiplin tinggi, semua kendala akhirnya dapat diatasi satu persatu. Banyak kejadian yang memperlihatkan semangat pantang menyerah dari MU. Contoh paling anyar adalah perjuangan MU dalam merebut gelar juara Liga Primer musim kompetisi 2008/2009. Setelah tersendat di awal musim dan tertinggal oleh Liverpool hingga setengah musim kompetisi, MU tidak menyerah dalam perburuan gelar juara bahkan permainannya semakin stabil dan terus berada di jalur kemenangan. Hasilnya pada akhir musim MU dapat mengungguli Liverpool hingga selisih 7 poin.

MU sepertinya menyadari sepenuhnya bahwa tidak ada ruang bagi pihak yang kalah. Seberapapun pihak yang kalah menyatakan diri sebagai yang terbaik, hanya pemenang lah yang selalu mendapat apresiasi lebih besar. Apresiasi bukan hanya kepada klub, tetapi seluruh pemain, pelatih dan semua personil pendukung. Karenanya akan sangat sulit melihat MU bertanding asal-asalan dan memberikan kemenangan kepada lawan-lawannya. Kalau dalam suatu pertandingan MU mengalami kekalahan, maka hal tersebut terjadi karena lawannya memang lebih baik pada saat pertandingan.

Bahwa MU punya semangat tinggi untuk keep on fighting sebenarnya bukan hanya saat kompetisi berlangsung, bahkan sebelum musim kompetisi dimulai semangat tersebut sudah diperlihatkan. Saya ingat apa yang dikatakan Manajer dan Pelatih Alex Ferguson di awal musim 2008/2009 lalu dalam upayanya merebut gelar juara Liga Primer Inggris untuk ke-18 kalinya: “I think it will come (to get the trophy). This side’s young. It’s developing all the time. It’s a good young team and there are plenty of years left in them. They’ll do it in their own time.”

Ferguson memang tidak pernah ragu akan kemampuan bertarung timnya. Meski pemainnya banyak yang masih berusia muda, namun soal kemampuan dan mental bermain bola tidak perlu diragukan. Ferguson, yang telah menukangi MU lebih dari 22 tahun, memiliki pandangan tajam dalam melihat kemampuan dan kebintangan seorang pemain sepakbola sekaligus mengasah kemampuan bermain para pemainnya.

Karenanya Ferguson tidak pernah risau dengan kepergian bintang-bintangnya. Sebagai contoh, ketika ditahun 1992 banyak pemain intinya yang pindah ke klub lain, ia segera merekrut Eric Cantona yang saat itu masih merupakan pemain cadangan di Leeds United. Dibawah gemblengan Ferguson, Eric Cantona menjadi bintang dan pemain yang disegani kawan dan lawannya. Bahkan ketika MU mulai menjadi langganan juara Liga Primer Inggris, para pendukung Setan Merah pun kemudian menjuluki Cantona sebagai Eric The King.

Ketika Eric Cantona akhirnya pensiun di tahun 1996, MU tidak perlu waktu lama untuk mendapatkan penggantinya yang sepadan. Sang pelatih melihat kebintangan baru di diri David Beckham. Ketika pada akhirnya Bechkam yang telah menjadi bintang berkilau hijrah ke Real Madrid pada tahun 2003, MU pun kembali mendapatkan bintang baru yaitu Cristiano Ronaldho.

Kini ketika Ronaldo pada akhirnya juga pergi ke Real Madrid, MU bergeming untuk mendapatkan pemain bintang dengan harga mahal namun tidak sesuai kebutuhan klub. Maka ketika tawaran MU merekrut David Villa dari Valencia dan Frank Ribbery dari Bayern Munchen ditolak oleh pemain dan klub yang bersangkutan, Ferguson memutuskan untuk mengakhiri perburuan pemain bintang.

Ferguson lebih memilih utnuk menguatkan semangat timnya agar tidak menyerah meski tidak ada bintang baru di MU. Ferguson percaya bahwa dengan sebagian besar kekuatan tim tahun lalu ditambah 3 rekrutan baru (salah satunya Michael Owen) MU masih layak diperhitungkan untuk kembali mempertahankan gelar juara. Ya dengan semangat pantang menyerah yang dimilikinya serta Ferguson sebagai arsiteknya, MU tetap berpeluang besar mempertahankan gelar juara yang telah diraihnya.

Untuk itu selamat datang MU di Jakarta, selamat melakukan pertandingan persahabatan dengan kesebelasan nasional Indonesia pada tanggal 20 Juli 2009 di Stadion Gelora Bung Karno. Sebagai salah seorang penggemar MU adalah suatu kebahagian luar biasa bila dapat melihat secara langsung bintang-bintang MU merumput di Senayan. Dan hal ini tentu saja menjadi bahan mengasyikan untuk menuliskan laporannya di blog sebagai bagian dari Jurnalisme Warga. Tidak terbayangkan berapa besar ongkos yang harus dikeluarkan jika saya harus menonton langsung di stadion kebanggaan MU, Old Traforfd di Manchester. Sesuai julukan Stadion Old Traford yaitu “Theater of Dream”, mungkin cuma mimpi saja saya bisa hadir disana.

UPDATE Pukul 14.40 WIB:

Peristiwa peledakan bom di Hotel Ritz Carlton dan JW MArriot pagi ini sekitar jam 08.00 kemungkinan besar akan membatalkan kunjungan MU yang telah dipersiapkan lama.


Read More..

15.7.09

Dari Peluncuran Pesta Blogger 2009, Perlukah Blogger Memiliki Kode Etik

Bertempat di gedung serba guna Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo), Pantia Pesta Blogger 2009 (PB 2009) yang diketuai Iman Brotoseno secara resmi mengumumkan rencana ajang temu blogger Indonesia yang akan diadakan di Jakarta pada tanggal 24 Oktober 2009. Kegiatan pesta blogger kali ini merupakan penyelenggaraan yang ketiga kalinya sejak tahun 2007. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, kegiatan PB09 kali inipun diorganisir oleh Maverick dan Bubu.com dan mendapatkan dukungan utama dari Depkominfo, Kedutaan Besar AS di Jakarta, Microsoft dan Air Asia.

Adapun tema yang ditetapkan untuk pesta blogger kali ini adalah One Spirit One Nation. Menurut Iman, dipilihnya tema tersebut tidak terlepas dari penyelenggaraan pemilu tahun 2009 dimana kita seakan terpecah oleh partai, kelompok ataupun capres/cawapres. Karenanya melalui tema One Spirit One Nation para blogger diharapkan dapat mengatasi segala perbedaan dan bisa lebih merekatkan diri sebagai satu bangsa serta berperan konstruktif dalam menjaga persatuan nasional.

Mewakili Menteri Kominfo Mohammad Nuh yang berhalangan hadir karena menghadiri rapat Kabinet, Dirjen Aplikasi Telematika Cahyana Ahmadjayadi mengemukakan bahwa pemerintah mendukung penuh penyelenggaraan pesta blogger yang diharapkan dapat menjadi penyemangat terbentuknya Indonesia yang lebih kuat. Terkait dengan kebebasan yang dimiliki setiap blogger, Pak Cahyana mengemukakan bahwa pada dasarnya setiap blogger memiliki kebebasan penuh namun demikian tetap harus memiliki tanggungjawab.

Mengenai UU ITE, yang banyak dikhawatirkan pengguna internet, khususnya blogger, sebagai ancaman terhadap kebebasan berpendapat, Pak Cahyana mengemukakan bahwa UU ITE sendiri pada dasarnya dimaksudkan untuk melindungi kegitan transaksi elektronik agar para penggunanya memiliki kekuatan hukum atas bukti transaksi yang dijalankan. Memang dalam UU ITE terdapat pasal 27 ayat 3 yang mengatur mengenai larangan pencemaran nama baik dan penghinaan, tapi hal tersebut bisa dicegah jika para pengguna internet memiliki hak dan kewajiban.

Ditambahkannya bahwa untuk mencegah terulangnya kasus Prita, dirasakan perlu adanya suatu terobosan agar para blogger dapat memiliki hak dan kewajiban sebagai pengguna internet. Untuk itu Depkominfo bersama-sama dengan para pakar hukum telematika dan beberapa blogger telah beberapa kali bertemu untuk membahas dan mencari solusi yang sesuai. Dari pertemuan-pertemuan yang telah dilakukan diperoleh masukan mengenai perlunya para blogger Indonesia memiliki kode etik blogger seperti kode etik bagi wartawan. Dengan memiliki kode etik, para blogger akan memiliki rambu-rambu mengenai mana yang sebaiknya dilakukan dan mana yang perlu ditinggalkan.

Namun mengingat blogger dan para pengguna internet lainnya tidak berkumpul dalam suatu organisasi yang solid tentu saja tidak mudah merumuskannya. Karenanya disarankan agar dalam penyusunan kode etik blogger kiranya dapat belajar dari nettiqute para pengguna internet secara umum. Dalam nettiquete disebutkan antara lain perlu dipatuhinya aturan-aturan dalam pengiriman pesan di internet, misalnya tidak menuliskan pesan dengan menggunakan huruf besar semuanya. Karena penulisan dengan huruf-huruf besar dianggap sebagai bentuk ekspresi kemarahan si penulis.

Lalu kalau memang blogger Indonesia dipandang perlu untuk memiliki suatu kode etik tersendiri, kapan kode etik tersebut akan terbentuk? Jawaban pertanyaan ini tentunya akan terpulang kepada seluruh blogger Indonesia, baik yang sudah maupun belum tergabung dalam suatu komunitas blogger. Namun seperti halnya proses pembelajaran menuju terbentuknya suatu rumah sehat Kompasiana, maka penyusunan suatu kode etik blogger dapat dipandang sebagai suatu proses pembelajaran bagi para blogger sendiri dalam menentukan mana tulisan yang boleh ditampilkan ke publik dan mana yang tidak.

Dalam hubungan tersebut di atas, berbagai kegiatan blogshop (blogging workshop) - seperti yang pertama kali digagas dan dilaksanakan secara periodik oleh Kompasiana (Kompasiana Blogshop) dan nantinya akan diselenggarakan pula oleh Panitia Pesta Blogger 2009 di beberapa daerah yaitu Balikpapan, Samarinda, Makassar, Medan, Bandung dan Yogyakarta - kiranya dapat diapresiasi dengan baik sebagai upaya untuk mengenalkan nilai-nilai positif dan etika dalam kegiatan ngeblog.

Kita tentunya berharap kalau nantinya ada suatu kode etik blogger Indonesia yang komprehensif, maka ranah blogosphere di Indonesia umumnya dan Kompasiana khususnya akan lebih nyaman dihuni dan dikunjungi banyak orang. Apapun latar belakang agama, suku, partai politik, pilihan capres ataupun sekedar hobby seorang blogger, semua itu diharapkan tidak akan menjadi penyebab terjadinya gontok-gontokan dan perpecahan.

Selamat hari Rabu rekan-rekan pembaca, apakah hari ini anda berpendapat blogger Indonesia perlu kode etik ?


Read More..

9.7.09

Lanjutkan di TPS 78 dan 79 Bekasi

Waktu menunjukkan hampir pukul 09.00, ketika saya dan istri tiba di TPS 79 Perumahan Persada Kemala Bekasi Selatan. Sebenarnya kami bisa tiba lebih pagi kalau saja alamat TPS tertulis dengan benar. Di surat undangan tertulis lokasi TPS 79 di Persada Kemala Blok IX, padahal kenyataannya TPS tersebut berada di blok XXIX.

Suasana masih sepi dan tidak terlihat adanya antrian pemilih. Saat melirik daftar pemilih yang telah datang ke TPS, tampak baru sekitar 30-an orang yang telah menggunakan hak pilihnya. Tanpa perlu berlama-lama kami pun segera mendapat kartu suara dan langsung mencentang salah satu pasangan capres/cawapres di bilik suara. Karena waktu penghitungan suara masih lama, usai mencentang kami pun segera pulang.

Saat kembali sekitar pukul 12.30, jumlah pemilih yang menggunakan haknya sudah mendekati 350-an orang. Dari jumlah tersebut, menurut petugas KPPS terdapat 10 pemilih yang mendaftar dengan menggunakan KTP dan Kartu keluarga.

Sesuai jadwal, akhirnya TPS ditutup pada pukul 13.00. Petugas KPPS, dengan disaksikan 3 orang saksi dari masing-masing pasangan capres/cawarpes, mulai menghitung jumlah kartu suara yang digunakan untuk dicocokan dengan daftar pemilih yang hadir. Terdapat 353 kartu suara yang dipergunakan dan sisa kartu suara sebanyak 82 kartu. Dari 353 kartu suara, sebanyak 37 suara digunakan untuk memilih Megawati-Prabowo, 247 suara untuk SBY-Boediono dan 66 suara untuk JK-Wiranto. Sementara suara yang tidak sah sebanyak 3 suara.

Dari jumlah 353 kartu suara yang dipergunakan tampak bahwa 10,5 % pemilih mendukung Megawati-Prabowo, 18,7% memilih JK-Wiranto dan mayoritas 70% memilih SBY-Boediono. Secara umum penghitungan suara di TPS 79 ini berjalan lancar dan tidak terdapat perbedaan antara jumlah yang hadir dengan kartu yang dipergunakan.

Usai penghitungan di TPS 79, saya pun segera meluncur ke TPS 78 yang berlokasi di Persada Kemala Blok XVII. Di TPS ini pun hasil perhitungan suara tidak jauh berbeda dengan hasil di TPS 79. Terdapat 357 kartu suara yang dipergunakan dengan sisa kartu suara 79 buah. Dari 357 kartu suara yang digunakan, sebanyak 34 suara (9,5%) untuk Megawati-Prabowo, 243 suara (68,1%) untuk vSBY-Boediono dan 69 suara (19,3%) untuk JK-Wiranto.

Secara umum perhitungan di TPS ini berjalan lancar, hanya saja sempat terjadi ketidakcocokan antara jumlah pemilih yang hadir dengan kartu suara yang dipergunakan. Jumlah yang hadir tercatat sebanyak 356 orang namun jumlah kartu suara yang dipergunakan sebanyak 357 buah. Setelah dihitung ulang beberapa kali dan dicocokan dengan jumlah pemilih yang hadir, akhirnya disepakati adanya ketidakcocokan tersebut. Salah satu penyebabnya kemungkinan ada seorang pemilih yang datang namun terlewat saat pengisian daftar hadir. Hal ini bisa terjadi saat calon pemilih hadir bersamaan dan muncul antrian agak panjang.

Akhirnya selamat untuk SBY-Boediono yang telah memperoleh kepercayaan mutlak warga pemilih TPS 78 dan 79 Bekasi untuk melanjutkan kepemimpinan sebagai Presiden RI 2009-2014. Kalau memang akhrinya memang terpilih, dan sangat mungkin terpilih kalau melihat hasil hitung cepat, semoga Pak SBY dan Pak Boediono semakin pro rakyat dan melaksanakan tugas dengan lebih cepat lebih baik tanpa harus mengorbankan kehati-hatian.

Salam demokrasi, pesta pilpres telah usai, mari lanjutkan bekerja.

Aris Heru Utomo

Read More..

22.6.09

Selamat HUT ke-482 Jakarta

Kalau anda perhatikan foto disamping, mungkin anda tidak akan mengira kalau lalu lintas Jakarta pada tahun 1970-an masih sangat lengang. Patung Dirgantara atau yang dikenal sebagai Patung Pancoran masih terlihat gagah menjulang menembus langit. Kini, di hari ulang tahun Jakarta ke-482, Patung Dirgantara tidak lagi terlihat kegagahannya karena tertelan oleh bangunan-bangunan tinggi di sekitarnya dan terjepit di antara jembatan layang jalan tol dalam kota. Sementara itu, meskipun sudah terdapat jalan tol, para pengguna lalu lintas di kawasan ini masih sering pamer paha (padat merayap parah habis).

Ya hari ini 22 Juni 2009 Jakarta berulang tahun ke-482 dan dirayakan dengan pertunjukan musik di kawasan Ancol semalam. Sebagai salah seorang warga yang pernah ber-KTP berlogo Monas, saya mengucapkan selamat kepada semua warga Jakarta. Semoga Jakarta terus tumbuh menjadi kota yang nyaman, ramah dan bersahabat bagi para penghuni dan siapapun yang mengunjungi ibu kota RI.

Untuk menjadi kota yang nyaman, ramah dan bersahabat, Jakarta tentu saja harus bekerja keras menyediakan lapangan pekerjaan, mengatur lalu lintas anti macet, menyediakan transportasi umum dan sarana publik lainnya, menyediakan tempat pemukiman yang layak, dan tentu saja menanggulangi banjir setiap tahun. Kalau saja para pimpinan Pemerintah Daerah dan warga Jakarta mampu mengatasi semua ini, maka harapan Fatahillah untuk mengganti nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta yang berarti “kemenangan” dapat diraih.

Selamat hari Senin pembaca …., selamat hari ulang tahun ke-482 Jakarta, sudahkah anda memberikan selamat dan mengunjungi Pekan Raya Jakarta (Jakarta Fair) ?.

Read More..

19.6.09

Hati-hati Jebakan Batman di Ambalat !!!

Sebagai hasil pertemuan Panglima Angkatan Bersenjata Malaysia dengan Menteri Pertahanan RI di Jakarta tanggal 10 Juni 2009, Indonesia dan Malaysia sepakat untuk mengedepankan perundingan untuk menyelesaikan masalah klaim tumpang tindih di Ambalat. Untuk sementara pemberitaan di media memang mereda, namun bukan berarti persoalan juga mereda. Justru persoalan baru dimulai, khususnya bagi para perunding Indonesia yang dituntut untuk dapat mempertahankan status kepemilikan di wilayah yang diklaim Malaysia.

Sejauh ini Pemerintah RI memang menyatakan konsistensinya untuk mempertahankan Ambalat dan tidak akan mundur sejengkal pun dalam mempertahankan kedaulatan disana. Namun belajar dari pengalaman berunding pada kasus Sipadan-Ligitan, yang berujung pada lepasnya kedua pulau tersebut, para perundingan Indonesia dituntut untuk lebih waspada dan jangan sampai masuk dalam jebakan Batman alias jebakan yang sepertinya sederhana namun jika lengah justru menjadi perangkap yang sangat menjerat.

Tanda-tanda Malaysia menggunakan jebakan Batman terlihat dari: Pertama, munculnya suara-suara agar Indonesia dan Malaysia lebih baik melakukan pengelolaan bersama di wilayah yang disengketakan, berdasarkan pendekatan win-win solution, daripada harus ngotot menggunakan kekuatan militer. Kedua, dikumandangkannya pendekatan persaudaraan berdasarkan semangat ASEAN.

Usulan pengelolaan bersama dengan prinsip win-win solution sepertinya menarik, karena sepertinya menghindari terjadinya konfrontasi militer yang dinilai justru akan merugikan kedua belah pihak yang ber.perang. Suatu usulan logis yang bisa memunculkan gerakan anti perang di Ambalat. Ini tentu saja akan menjadi perangkap bagi Indonesia, karena begitu menerima kesepakatan kerjasama berarti secara tidak langsung Indonesia telah mengakui kedaulatan Malaysia di wilayah yang disengketakan.

Jebakan pertama ini sangat terkait dengan jebakan kedua dimana Malaysia berupaya mengedepankan pendekatan persaudaraan ASEAN. Malaysia paham bahwa corner stone politik luar negeri Indonesia adalah ASEAN dan karenanya Indonesia akan memprioritaskan upaya menjaga stabilitas kawasan. Untuk itu sambil menunggu Indonesia masuk kedalam perangkap jebakan yang disiapkan, Malaysia melakukan gun boat diplomacy, mempertunjukkan kekuatan angkatan lautnya di Ambalat, dan berlindung dibalik persaudaraan ASEAN. Namun ketika nanti pada akhirnya Indonesia masuk kedalam jebakan, negeri jiran ini kemudian meninggalkan prinsip persaudaraan ASEAN. Malaysia akan mengedepankan kepentingan nasionalnya dibandingkan kepentingan ASEAN. Untuk itu Malaysia kembali akan menolak usulan penggunaan mekanisme ASEAN sebagai upaya penyelesaian konflik perbatasan dan lebih senang menggunakan peradilan internasional (ICJ) seperti halnya pada kasus Sipadan dan Ligitan.

Jadi bagaimana solusinya agar Indonesia tidak kehilangan wilayah Ambalat?

Pertama, Indonesia harus menekankan kembali kepentingan nasional sebagai prioritas kebijakannya. Mekanisme apapun yang digunakan harus menjamin tidak hilangnya wilayah nasional. Konsekuensinya, Indonesia harus siap berunding secara intens dan panjang serta melibatkan perunding yang memiliki daya tahan yang kuat. Jangan berharap lebih cepat lebih baik dalam melakukan dan menyelesaikan perundingan.

Kedua, civis pacem para bellum, kalau mau damai bersiaplah untuk berperang. Perkuat kemampuan TNI untuk melindungi wilayah perbatasan. TNI yang kuat bisa menjadi pendukung diplomasi. Selama ini tentara Malaysia bisa bolak-balik mengganggu karena sepertinya mereka menganggap kemampuan alutsista TNI tidak mampu mengalahkan alutsista mereka.

Ketiga, tingkatkan koordinasi antar instansi terkait di dalam negeri. Koordinasi, suatu kata yang mudah diucapkan tapi dalam praktiknya seringkali diabaikan. Tanpa koordinasi erat antar semua, jangan harap bisa melakukan diplomasi total.

Tulisan ini juga diposting di Kompasiana.com

Read More..

13.6.09

Boediono Ngeblog

Boediono, cawapresnya SBY ngeblog? Di Kompasiana, Detik, Politikana atau hosting sendiri? Begitu pertanyaan sejumlah rekan ketika diberitakan bahwa Boediono juga mulai ikutan ngeblog. Wajar saja mereka bertanya seperti itu, karena sejak beliau resmi menjadi cawapres berbagai langkah untuk lebih mengenalkan diri dilakukannya. Mulai dari kunjungan ke almamaternya, pasar trdisional, berbicara di berbagai media cetak dan elektronik, hingga kopdaran dengan para blogger di jalan Langsat.

Ya akhirnya Boediono memang ngeblog, namun berbeda dengan JK atau Prabowo yang memilih ngeblog bareng dengan blogger lainnya di Kompasiana, Boediono lebih memilih ngeblog dengan hosting sendiri DISINI. Saat ini blognya baru menampilkan halaman muka berwarna biru dengan gambar dirinya dan SBY serta kata-kata “Pemerintahan yang bersih untuk kesejahteraan rakyat nomor urut 2”.


Saya menyambut baik inisiatif Boediono, tepatnya sich inisiatif tim kampanyenya kali ya?, untuk memanfaatkan blog untuk menyampaikan pemikiran-pemikirannya dan berdiskusi secara terbuka dengan para blogger dan pengguna internet lainnya. Namun pertanyaan yang muncul, apakah Boediono akan tekun dan serius mengelola blognya?

Dari pengalaman saya ngeblog, membangun blog sesungguhnya adalah hal yang tidak terlalu sulit. Kalau anda tidak memiliki cukup dana untuk hosting blog sendiri, ada banyak hostingan blog gratisan yang dapat digunakan untuk membuat blog, misalnya blogspot, wordpress atau kalau tidak mau terlalu repot dengan sedikit masalah teknis bisa langsung posting di Kompasiana.

Dalam ngeblog, yang menjadi masalah justru merawatnya. Sama seperti tanaman yang jika tidak diurus akan segera layu, blog yang tidak terurus tidak akan dikunjungi orang. Kalau melihat blog-blog yang banyak dikunjungi, maka akan terlihat bahwa blog tersebut dirawat dengan baik, bukan hanya tampilan blog yang selalu didandani, yang jauh lebih penting lagi adalah update isi dari blog itu sendiri. Kata seorang blogger kawakan, dalam blog yang sangat penting adalah isinya, “content is the king”. Ibarat koran, maka blog harus diisi setiap hari, bayangkan kalau koran isinya sama dari hari kehari, siapa yang mau beli dan baca koran tersebut.

Kembali ke Boediono, yang menjadi pertanyaan adalah apakah nantinya beliau akan sungguh-sungguh merawat blognya?. Baik setelah nanti jadi wapres (kalau terpilih) atau setelah gagal jadi wapres? Kalau saja Boediono ngeblog tidak dengan hati dan tujuannya hanya untuk menjaring pemilih di kalangan netters menjelang pilpres atau sekedar pencitraan semata, maka dapat dipastikan setelah pilpres blognya akan terabaikan.

Sebenarnya banyak contoh blog politikus yang kini terabaikan setelah hajatan pileg. Salah satunya adalah blognya mantan Menseskab Yusril Ihza Mahendra. Blog ini tidak pernah lagi terurus sejak Desember 2008 (berarti sudah 6 bulan). Padahal ketika mempublikasikannya pada Nopember 2007, dengan penuh semangat Yusril mengatakan dalam postingan awalnya bahwa ia “menciptakan blog sebagai wahana komunikasi bertukar pikiran secara jernih, intelektual dan simpatik, atas dasar prinsip saling hormat-menghormati. Melalui blog, ia juga ingin berbagai pemikiran, pengalaman dan gagasan, yang barangkali akan bermanfaat untuk menambah wawasan dalam menyikapi berbagai peristiwa yang terjadi di sekitar kita”.

Contoh lain yang bisa kita lihat adalah Prabowo. Sejak pilpres 9 April 2009, Prabowo tidak lagi ngeblog di Kompasiana. Hal ini tentu saja menimbulkan pertanyaan mengenai niatnya ngeblog, dengan hatii atau demi popularitas di dunia politik atau disebabkan tidak adanya dukungan nyata dari blogger Kompasiana :-) ?. Untung saja Kompasaian merupakan blog ramai-ramai, jadi tidak ada Prabowo tidak ada masalah, isi blog bisa terus diperbarui dan datangnya bisa dari mana saja, mulai dari yang tinggal di Kuala Lumpur hingga yang tinggal di sekitar lumpur Sidoardjo.

Akhirnya selamat datang di ranah blgosphere Pak Boediono, rawatlah blognya dengan baik. Dan sesuai nama blog bapak “Boediono mendengar”, mudah-mudahan bapak mendengar dan memperhatikan aspirasi pembacanya. Siap-siaplah menerima masukan, pujian, kritikan hingga cacian dan hujatan. Ditunggu komentar-komentarnya lho.

Selamat hari Sabtu pembaca, sudahkan anda ngeblog hari ini ?


Postingan ini juag ada di Kompasiana.com

Read More..

11.6.09

Ternyata tetap tak bersalaman ...

Ketika saya pasang status di facebook “si mpok ternyata tetap juga gak bersalaman …, begitu kok mau jadi presiden”, beberapa rekan langsung mengomentari. Ada yang bilang “ya mungkin merasa bukan muhrimnya”. Rekan yang lain bilang “mungkin maunya seperti teletubies... berpelukan”.

Sementara yang agak seriusan mengatakan “manusiawi.... gak semua orang bisa ikhlas jika merasa dihianati apalagi cewe... yang cowo aja panas kuping dikit, langsung nyolot...panggil wartawan bikin konfrensi pers kasih respon.... emangnya gusdur, gito aja koq repot.... “. Rekan yang lain menambahkan “yang satu juga dikritik mukanya langsung cemberut berat, begitu koq mau jadi Presiden, tinggal sisa satu dong huahaha “. Lalu untuk melengkapi, komentar tersebut dijawab rekan yang lain “yang satunya full senyum”.



Ya untung saja Pak JK tampil santai dan penuh senyum dalam acara politaiment yang digelar KPU di gedung Bidakara semalam. Kalau saja pak JK ikut-ikutan pasang tampang serius, maka acara yang dimaksudkan sebagai deklarasi kampanye damai pilpres 2009 mungkin tidak berakhir “damai” seperti yang diharapkan.Karena ternyata acara yang dimaksudkan untuk memperlihatkan adanya kedamaian diantara para capres/cawapres justru dijadikan ajang pertempuran.

Pertempuran di Bidakara dimulai ketika pasangan SBY-Boediono memasuki ruangan. Ibu Mega yang sudah duduk terlebih dahulu di ruangan tersebut, dengan antengnya membiarkan kehadiran SBY-Boediono. Tidak ada jabat tangan dan tegur sapa. Hanya Prabowo yang berdiri dan menyambut kehadiran SBY-Boediono. Bahkan dalam beberapa kesempatan di tengah acara, SBY dan Prabowo terlihat beberapa kali bertegur sapa ringan.

Puncak pertempuran terjadi ketika ibu Mega mengirimkan rudal balistik Si Butet Yogya langsung di depan sasaran. Tentu saja yang menjadi sasaran tembak pun langsung merah padam dan terlihat menahan diri. Tembakan tersebut kemudian dibalas ringan oleh SBY saat memulai orasinya dengan menyampaikan panggilan hormat kepada semua capres dan cawapres, termasuk nama ibu Mega, sesuatu yang tidak dilakukan ibu Mega ketika memulai orasinya.

Mengakhiri pertempuran, ketika acara berakhir ibu Mega berlalu begitu saja dan tidak memperlihatkan kemesraan kepada capres/cawapres yang lain. Beda dengan SBY-Boedion dan JK-Wiranto yang saling berjabat tangan dan cipika cipiki.

Sebagai penonton yang hanya bisa melihat suasana keakraban para pemimpinnya di televisi, hilangnya momen “damai” dan keakraban antara cares/cawapres tentu saja mengecewakan. Pertanyaan sederhana yang kemudian muncul adalah bagaimana bisa memimpin negara kalau memimpin diri sendiri dalam damai saja belum mampu. Bagaimana bisa rekonsiliasi nasional dan bersama-sama membangun negeri kalau untuk sedikit “menghibur” penonton saja tidak bisa.

Selamat hari kamis ... semoga anda bisa bersalaman hari ini

Read More..

31.5.09

Memprihatinkan, Status Taman Nasional Komodo Terus Merosot

Ketika 10 Mei 2009 lalu saya mempostingkan “Ayo Dukung Taman Nasional Komodo”, kedudukan Taman Nasional Komodo (TNK) masih berada pada peringkat ke-9 dari 56 kandidat 7 keajaiban alam dunia yang baru (New 7 Wonders of Nature) pada kategori/group E: Forests, National Parks, Nature Reserves”. Namun menjelang batas akhir pemilihan 7 Juli 2009, kedudukan TNK justru merosot ke posisi 15. Posisi yang sangat berbahaya bagi TNK untuk dapat masuk ke tahapan penjurian berikutnya.

Photobucket

Menurut ketentuan, dari 256 kandidat yang saat ini bertarung dan dibagi ke dalam 7 kategori/group, hanya peringkat pertama s.d sebelas dari setiap kategori yang berhak maju ke tahapan 77 besar, dimana ke-77 kandidat ini nantinya akan dinilai oleh sebuah tim ahli yang dipimpin mantan Dirjen UNESCO Federico Mayor. Tim ahli inilah yang nantinya akan memilih 21 kandidat sebagai finalis yang akan dipilih kembali oleh publik. Hasilnya, peringkat pertama s.d tujuh akan ditetapkan sebagai 7 keajaiban alam yang baru.

Photobucket

Melihat posisi TNK yang terus merosot, maka seadainya pada tanggal 7 Juli 2009 (batas akhir pemilihan tahap sekarang) posisi TNK masih diluar 11 besar, maka otomatis TNK akan tersingkir pada tahapan ini. Nasibnya akan sama dengan Candi Borobudur yang tersingkir dari kontes 7 keajaiban dunia tahun 2007.

TNK sendiri saat ini bersaing ketat dengan Tree of Life (peringkat 8 dari Bahrain), Okawango Delta (9/Botswana), Christmas Island (10/Oceania), El Yunque (11/Puerto Rico), River Gambia (12/Gambia), Central Suriname(13/Suriname), Pandjari National Park (14/Benin), Eua National park (16/Tonga), Loango National Park (17/Gabon) dan Somali Montane Xeric Woodland (18/Somalia).

Untuk itu. ayo lupakan sejenak hingar bingar proses pencapresan dan pencawapresan, mari ramai-ramai memberi dukungan kepada TNK. Beritahu teteh, om, tante, kakak, adik, sepupu, keponakan, saudara jauh dan dekat untuk memilih TNK di website New 7 Wonder. O ya … jangan lupa pula, kalau anda memiliki akses ke tim sukses capres/cawapres, minta kepada mereka untuk membisikan kepada para calon pemimpin negeri ini untuk mengkampanyekan juga program pilih TNK. Lupakan sejenak ideologi partai pengusung capres/cawarpes atau aliran ekonomi yang akan diusungnya, mari bersama-sama mengkampanyekan TNK. Karena bagaimanapun, siapapun presidennya nanti, kita semua tentunya akan bangga kalau TNK bisa masuk ke dalam 7 besar keajaiban alam dunia.

Untuk mendukung TNK, caranya bisa ikuti petunjuk dibawah ini:

- Tulis alamat email anda pada kotak di alamat berikut NOMINASI
- Pada combo box “vote 1” pilihlan continent “Asia” kemudian candidate “Komodo National Park (INDONESIA)”.
- Pada combo box “Vote 2” hingga “Vote 7” pilihlah Continent dari Candidate yang memiliki rangking paling rendah (untuk melihat rangking klik: DISINI)
- Salin kode Anti Spam pada text box yang tersedia. Kemudian klik SUBMIT
- Setelah submit, isi biodata anda kemudian SUMBIT
- Setelah mendapat ucapan “Thank you for participating” segera cek email anda. Klik link yang diberikan sebagai tanda konfirmasi.

Salam TNK

Read More..

MU kalah karena PSSI

Menyimak pertandingan final Piala Champion 2009 antara Manchester United (MU) vs Barcelona, terlihat sekali bagaimana MU menjadi grogi setelah Samuel Eto'o membobol gawang Edwin Van der Saar di menit ke-10.
Ternyata bukan cuma tim kemarin sore saja yang kerap grogi dalam melakoni pertandingan puncak. Tim sekelas MU pun tidak luput dari perasaan grogi. Kebobolan dalam suatu serangan balik lewat kaki Eto’o jelas meruntuhkan mental anak-anak asuhan Alex Fergusson. Dominasi di menit-menit awal pun pupus seketika. Tidak ada lagi permainan apik seperti yang selama ini diperlihatkan, yang ada hanyalah kepanikan dan tidak terkoordinasinya permainan MU di lapangan.

Untung pelatih MU bukanlah pelatih yang gemar makan sate kambing atau mencari kambing hitam, ia tidak cepat-cepat menyalahkan orang luar (misalnya wasit atau rumput yang tidak rata), ia justru memuji keberhasilan Barcelona yang telah bermain dengan baik. Namun bagi penggemar MU, khususnya di Indonesia, rasanya tidak lengkap kalau tidak menganalisis dan mengomentari kekalahan MU. Dari pantauan terhadap diskusi dan analisis yang dilakukan para “pengamat” bola dan masyarakat awam pendukung MU, ternyata kekalahan MU terutama bukan disebabkan oleh faktor teknis seperti strategi atau penguasaan bola di lapangan, namun justru disebabkan oleh faktor non-teknis yaitu terkait rencana kunjungan MU ke Jakarta.

Sebagaimana diketahui, pada tanggal 20 Juli 2009 mendatang MU direncanakan akan berhadapan dengan PSSI di Gelora Bung Karno. Kalau jadi bertanding, maka ini akan menjadi pengalaman pertama MU bermain dengan kesebelasan nasional Indonesia. Meski cuma pertandingan tour, namun MU tetap melakukan persiapan serius dan tidak menganggap enteng kemampuan PSSI.

Bagaimana bisa MU menganggap remeh PSSI kalau para pemainnya saja memiliki pengalaman dan kemampuan bersepakbola yang melebih dari standar. Kalau pemain MU umumnya cuma memiliki skill dalam bermain sepakbola saja, maka pemain PSSI banyak yang memiliki skill tambahan seperti memukul wasit dan tawuran dengan sesama pemain. Selain itu, penontonnya pun banyak yang berpengalaman dalam kerusuhan terutama jika kesebelasan favoritnya kalah.

Jadi dengan pertimbangan di atas, mungkin MU terpecah perhatiannya dengan rencana kunjungannya ke Jakarta. Dan wajar kalau MU kemudian lebih mempersiapkan diri menghadapi PSSI. Jangan sampai nanti kalah dari PSSI hanya karena pemainnya dipukul dan wasit menghentikan pertandingan serta memberikan kemenangan kepada PSSI. Ya, MU tampaknya belajar dari Libya yang kalah saat bertanding dengan PSSI pada turnamen yang diselenggarakan di Jakarta beberapa waktu yang lalu (halah).

Read More..

24.5.09

Hati-hati Menyebut Kekayaan Capres/Cawapres

Kompas cetak Sabtu (23 Mei 2009) memuat berita di halaman 9 mengenai ketersinggungan Donald Trump yang disebut jutawan. Trump tersinggung karena Timothy L O'Brien dalam bukunya “Trump Nation: The Art of Being the Donald” menyebutkan kekayaannya hanya sebesar 150-250 juta dollar AS. Padahal menurut Trump jumlah kekayaannya jauh lebih besar dari yang disebutkan di dalam buku tersebut yaitu sebesar 5 milyar dollar AS, belum termasuk nilai yang melekat pada namanya.

Trump menganggap ketidakakuratan penyebutan nilai kekayaan yang dimilikinya bisa mengakibatkan hilangnya berbagai potensi bisnisnya. Trump rupanya bukan hanya sekedar tersinggung, tetapi ia juga membawa kasus ini ke pengadilan. Sekarang kasusnya sedang bergulir di pengadilan dan pengacaranya tengah berargumentasi dengan pengacara O'Brien.

Terlepas dari siapa yang akan memenangkan kasus tersebut di atas, ada satu hal yang mungkin bisa diambil sebagai hikmahnya, yaitu perlunya kehati-hatian dalam menyatakan kekayaan seseorang. Jangan sampai salah menyebutkan harta kekayaan seseorang, terus anda di-donald trum-kan.

Dalam konteks Indonesia, sejauh ini memang belum ada yang protes mengenai jumlah kekayaan yang dimiliki seseorang. Belum ada milyarder Indonesia yang tersinggung karena diberitakan hanya sebagai jutawan. Belum juga terdengar tanggapan capres/cawapres mengenai pemberitaan media massa yang menyebutkan jumlah harta kekayaan masing-masing yang dilaporkan ke KPK.

Sebagaimana diketahui, berdasarkan pelaporan harta kekayaan capres/cawapres ke KPK, media massa ramai-ramai memberitakan jumlah kekayaan yang dimiliki para bakal pemimpin negeri ini. Prabowo misalnya disebutkan memiliki kekayaan sebesar 1,7 triliun rupiah, JK 252 milyar, Megawati 105,8 milyar, Wiranto 46,5 milyar, Boedino 18,66 milyar dan SBY 7,6 milyar.

Belum ada tanggapan bukan berarti tidak akan ada, karena tidak tertutup kemungkinan para milyarder atau triliuner Indonesia akan terinspirasi dari kasus Donald Trump. Atau para milyader/triliuner tersebut justru punya cara tersendiri dalam melakukan protesnya, misalnya dengan menyelenggarakan pesta pernikahan yang menghabiskan milyaran rupiah dan mempertunjukkannya ke publik?



Read More..

17.5.09

Pelatih Liverpool Ternyata Belajar dari Politisi Indonesia

Kompas.com tanggal 16 Mei 2009 memuat berita mengenai pernyataan Pelatih Liverpool Rafael Benitez yang menyatakan bahwa Manchester United (MU) tidak lebih baik dibandingkan timnya, MU hanya memiliki poin lebih banyak dibanding “The Reds”. Alasan yang dikemukakan antara lain adalah dalam musim komptesi Liga Inggris 2008/20009 ini MU secara keseluruhan telah mengalami kekalahan sebanyak empat kali (dua diantaranya lawan Liverpool), sementara Liverpool hanya kalah dua kali.

Pernyataan Benitez tersebut tentu saja membuat saya tersenyum geli. Bagaimana tidak, pernyataan tersebut langsung mengingatkan saya akan pernyataan seorang politisi senior Indonesia saat kalah dalam pemilihan presiden (pilpres) tahun 2004. Politisi senior yang juga ketua umum parpol tersebut dengan sangat yakin mengatakan bahwa dirinya tidak kalah dari lawannya, hanya kurang jumlah suara yang diperolehnya. Saking yakinnya, politisi cantik yang kini maju kembali dalam bursa pilpres 2009 tersebut hingga kini tidak pernah mau mengakui kekalahannya.

Saya juga jadi tersenyum geli jika menyandingkan pernyataan Benitez dengan pernyataan seorang ketua umum parpol lainnya di Indonesia, yang mengatakan bahwa sebagai pemenang keempat pemilu legislatif (pileg) adalah wajar jika partainya mengajukan seorang cawapres. Saya melihat adanya suatu kesamaan diantara keduanya.

Benitez lupa bahwa pemenang kompetisi Liga Inggris ditentukan berdasarkan perolehan poin terbanyak secara keseluruhan, bukan sekedar hasil head-to-head atau jumlah gol yang dijaringkan ke gawang lawan. Benitez juga lupa bahwa MU ternyata lebih banyak meraih kemenangan dibanding Liverpool. Sejauh ini MU telah memenangkan pertandingan sebanyak 27 kali sementara Liverpool baru menorehkan kemenangan sebanyak 23 kali.

Sama halnya dengan Benitez, sang ketua umum parpol sepertinya lupa kalau persyaratan untuk mengajukan capres/cawapres harus didukung minimal 20% suara pileg atau 25% jumlah kursi di DPR. Jika hanya meraih suara sebanyak delapan koma sekian persen jelas jauh dari memadai untuk mengajukan nama capres/cawapres. Sang ketua umum parpol tersebut juga lupa kalau pencalonan capres/cawapres harus satu paket, tidak bisa batangan seperti halnya membeli sebatang rokok di warung kaki lima.

Balik ke Benitez, rupanya pelatih asal Spanyol ini selain piawai melatih bola, juga berbakat sebagai politikus. Benitez tampaknya tahu persis kemana harus berguru ilmu berkelit. Benitez sangat paham bahwa kalau dirinya tidak pandai berkelit maka sewaktu-waktu ia akan didepak dari kursi kepelatihan Liverpool. Berbeda dengan kursi politisi di Indonesia yang umumnya adem ayem, kursi kepelatihan Liverpool dan Inggris pada umumnya merupakan kursi panas, gagal mencapai target siap didepak. Teman-temanya sesama pelatih di klub liga Inggris lainnya sudah sering merasakan betapa tidak enaknya disuruh mundur oleh pengurus klub karena tim yang dilatihnya keok melulu.

Selamat Benitez, anda telah sukses berkelit, tapi maaf MU tetap menjadi juara liga Inggris 2008/2009. Bahkan Arsenal tidak mampu menunda perayaan peraihan gelar di Stadion Old Traford.

Tulisan ini dapat dibaca juga di Kompasiana.com

Read More..