Showing posts with label tokoh. Show all posts
Showing posts with label tokoh. Show all posts

7.3.11

Nachrowi Ramli Bakal Calon Gubernur DKI 2012-2017

“Jika ada yang bertanya apakah saya akan mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta tahun 2012-2017, maka jawabannya adalah saya akan mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI jika memperoleh dukungan dari masyarakat dan partai-partai politik. Untuk itu saat ini saya sedang mempersiapkan diri agar memperoleh dukungan tersebut” demikian pernyataan yang disampaikan Ketua Partai Demokrat DKI Mayor Jenderal (Purn) Nachrowi Ramli dihadapan para alumni Akademi Sandi Negara (AKSARA) dan Sekolah Tinggi Sandi Negara (STSN) pada Reuni Akbar AKSARA dan STSN 2011 di kampus STSN Ciseeng Bogor Jawa Barat tanggal 6 Maret 2011.

Sebagai alumnus AKSARA angkatan 4 tahun 1978 dan juga mantan Kepala Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg) tahun 2002-2008, Nachrowi Ramli yang akrab dipanggil Bang Ramli oleh para juniornya, merasa perlu menyampaikan pernyataan tersebut guna menjawab berbagai pertanyaan terkait mulai ramainya pemberitaan di media massa bahwa dirinya akan ikut pemilihan kepala daerah (pilkada) Gubernur DKI pada tahun 2012 mendatang, bersaing dengan Gubernur petahana (incumbent) Fauzi Bowo yang kemungkinan akan mencalonkan diri kembali.

Dengan lugas Bang Ramli menyampaikan bahwa meskipun pemilihan baru akan berlangsung tahun depan, namun ia perlu memperkenalkan diri lebih awal kepada seluruh lapisan masyarakat di Jakarta agar bisa dikenal lebih jauh, terutama terkait program-program yang akan diusung jika terpilih sebagai gubernur.

Ditambahkan oleh Bang Ramli bahwa sebagai anak Betawi yang sekarang menjabat Ketua Forum Komunikasi Anak Betawi (Forkabi), Ketua Badan Musyawarah (Bamus) Betawi dan Ketua Dewan Koperasi Jakarta, dapat dipastikan bahwa dirinya cukup dikenal oleh sebagian besar anggota masyarakat Betawi. Namun hal tersebut bukan berarti dirnya dikenal pula oleh berbagai lapisan masyakarat lainnya. Hal ini mengingat warga Jakarta berasal dari beragam suku bangsa dan elemen masyarakat. Karena itu ia meminta bantuan masyarakat Jakarta untuk memperkenalkan dirinya.

Sebagai adik kelasnya di AKSARA tentu saja saya menyambut baik niat Bang Ramli untuk maju sebagai calon Gubernur DKI. Niatnya bekerja untuk kepentingan kebaikan Jakarta yang merupakan pintu gerbang negara layak didukung.

Tentu saja Bang Ramli tidak bermodalkan semangat belaka dalam mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI. Sebagai seorang mantan tentara dan birokrat di Lemsaneg, saya melihat Bang Ramli memiliki modal yang baik untuk memimpin Jakarta. Ketika menjadi Kepala Lemsaneg, ia mampu membawa Lemsaneg sebagai institusi yang mampu membangun infrastruktur persandian dengan baik. Suatu kemampuan yang pantas untuk ditularkan saat menjadi pemimpin DKI, terutama saat melakukan pembangunan yang terkait dengan infrastruktur jalan raya yang dapat mengurai kemacetan Jakarta.

Seperti sebagian besar anggota masyarakat Jakarta ataupun yang tinggal di sekitar Jakarta, tentu saja saya berharap bahwa Bang Ramli mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI karena didasarkan pada kecintaan dari kepeduliannya pada Jakarta yang nyaman, aman, damai dan tenteram. Selain itu kita juga berharap transportasi Jakarta yang semakin macet dari hari ke hari dapat dibenahi sungguh-sungguh, bukan hanya bagus di atas kertas. Begtu pula masalah banjir yang seolah menjadi arisan setiap tahunnya dapat diatasi sehingga tidak ada lagi daerah yang menjadi langganan banjir.

Dengan pengalamannya di di ketentaraan dan birokrasi, Bang Ramli bisa menjadi figur kuat calon alternatif gubernur DKI mendatang. Sudah saatnya Jakarta dipimpin kembali oleh tokoh yang kuat dan tegas seperti Bang Ali atau Bang Yos.

Berikut data singkat Nachrowi Ramli alias Bang Ramli:

Nama: Nachrowi Ramli

Tempat/tanggal lahir: Jakarta, 12 Juli 1951

Pendidikan: AKABRI 1973 dan AKSARA angkatan 4

Pengalaman pekerjaan/organisasi: Kepala Lemsaneg (2002-2008), Ketua Forkabi, Ketua Bamu Betawi dan Ketua Dewan Koperasi wilayah Jakarta.

Partai Politik : Demokrat (Ketua Partai Demokrat DKI)


26.4.10

Nurul Arifin dan Demokrasi dari atas Kasur

Sabtu 24 April 2010 kemarin saya datang terlambat ke acara monthly discussion Kompasiana yang menghadirkan Nurul Arifin (NA), mantan artis yang sekarang menjabat sebagai anggota DPR RI di Komisi II. Saat tiba Pisa Café Mahakam, NA telah menyelesaikan paparannya dan tengah menjawab beberapa pertanyaan dalam sesi tanya jawab. Beberapa pertanyaan yang sempat saya perhatikan antara lain mengenai peran dan pandangan NA mengenai perlindungan terhadap buruh, otonomi dan pemekaran daerah, demokrasi dan pilihannya terhadap Golkar.

Mengenai perlindungan terhadap buruh, NA memperlihatkan dukungannya bagi setiap upaya yang dapat memberikan perlindungan menyeluruh kepada hak-hak dan kewajiban tenaga kerja. Bagi NA perlindungan tenaga kerja bisa dimulai dari rumah dengan antara lain memberikan haknya seperti gaji yang sepadan kepada PRT dan berupaya mengupgrade kemampuannya. Karena itu ia tidak mendukung gerakan tenaga kerja secara langsung seperti halnya yang dilakukan anggota DPR RI dari PDI-P, Rieke Dyah Pitaloka.

Dikemukakan bahwa terdapat perbedaan penugasan di DPR antara dirinya dan Rieke. NA bertugas di Komisi II yang antara lain berurusan dengan Pemerintahan Bidang Dalam Negeri, sementara Rieke berada di Komisi IX yang antara lain mengurusi tenaga kerja. Karena itu dengan alasan etika politik, NA tidak ingin mencuri panggung Rieke yang sesuai tugasnya di Komisi IX DPR menangani masalah tenaga kerja.

Menyangkut otonomi dan pemekaran daerah disampaikan bahwa Komisinya tengah membahas 33 usulan pemekaran daerah. Ia sendiri mendukung moratorium pemekaran daerah seperti yang disampaikan Pemerintah Pusat karena pemekaran yang dilakukan selama ini ternyata belum sesuai yang diharapkan.

Namun ia dan rekan-rekan di DPR tidak dapat menghentikan aspirasi pemekaran daerah yang disampaikan berbagai pihak karena ketentuan perundangan yang mengijinkan pemekaran daerah belum dicabut. Karena itu yang dapat dilakukannya adalah memperlambat prosesnya dimana setiap usulan pemekaran daerah diminta untuk melengkapi semua persyaratan yang diperlukan.

Data yang ada memperlihatkan bahwa dari 33 usulan yang masuk, baru 3 usulan yang memenuhi persyaratan. Selain itu setiap daerah yang dimekarkan hendaknya melewati tahapan transisi mulai dari daerah administratif hingga akhirnya menjadi daerah otonom. Hal ini juga untuk mengurangi kecenderungan yang selama ini terjadi dimana usulan pemekaran hanya datang dari elit politik, tanpa melibatkan peran serta masyarakat.

Mengenai demokrasi dan pilihannya terhadap Golkar, NA lagi-lagi mengambil contoh proses demokrasi yang berlangsung mulai dari rumah, bahkan sejak di atas kasur seperti komitmen terhadap pasangan serta hak untuk mendapat kepuasan dan menyatakan pendapat. Kalau hal seperti ini sudah bisa dilakukan di rumah, maka keluar pun akan lebih mudah melaksanakannya. Karena itu pula NA menyatakan komitmennya untuk hanya memilih satu partai yaitu Golkar. Kalau nanti ia sudah tidak di Golkar, ia tidak akan berpindah atau menjadi kutu loncat ke partai lain.

Adapun pilihannya terhadap Golkar didasarkan pada pertimbangan bahwa Golkar merupakan partai yang modern yang dikelola berdasarkan prinsip-prinsip manajemen kepartaian yang baik dan selalu menghormati hak-hak bersuara dan berinisiatif. Meski diakuinya bahwa di Golkar saat ini terjadi perbedaan pendapat yang kental antar anggotanya, namun perbedaan tersebut tidak menghambat para anggota untuk bersuara dan menjadi pengurus partai.

Mendengar jawaban-jawaban NA yang lugas dan terbuka, sepertinya kita bisa berharap kepadanya sebagai wakil rakyat. Ia memiliki komitmen yang kuat untuk berpolitik dengan baik dan santun. Sikapnya untuk tidak menjadi kutu loncat ketika gagal di Pemilu 2004 dan memilih untuk berupaya memperbaiki partainya dari dalam layak dihargai.

Selain itu pilihannya untuk menjadi anggota Komisi II, juga memperlihatkan keinginan yang begitu kuat untuk terus belajar dan memahami berbagai permasalahan di luar yang dikuasainya selama ini. Ini tentu saja sebuah pilihan yang cerdas, terlebih mengingat bahwa kebanyakan anggota DPR yang berlatarbelakang artis lebih memilih menangani masalah seni dan budaya.

Dari sedikit penilaian di atas, dapat dikatakan NA lebih baik dari politikus wanita lainnya, khususnya yang berlatar belakang artis, seperti Rachel Maryam (yang lebih menonjol berita perceraiannya dibanding prestasinya di DPR) atau Venna Melinda (yang lebih ngetop dengan inisiatif senamnya dibanding urusan politik). Yang mungkin bisa menyamai kinerjanya antara lain Rieke Dyah Pitaloka atau Angelina Sondakh yang saat ini memasuki periode kedua di DPR.

Karena hanya didapat dari sekali pertemuan. tentu saja kesan saya di atas tidak bisa mempresentasikan gambaran NA yang sesungguhnya. Diperlukan lebih banyak pengamatan untuk melihat sepak terjangnya di politik, khususnya saat pembahasan isu-isu substantif di DPR dan perannya di masyarakat. Kalau ternyata cuma bagus dalam segi pencitraan, sepertinya tidak berbeda dengan yang lainnya. Iya kan?

20.4.10

Dino Patti Djalal dan Twitter

sy terdampar di frankfurt. penerbangan eropa lumpuh. kanselir jerman merkel sendiri tidak bisa terbang ke jerman dan terdampar di lisabon”, begitu bunyi selarik kata-kata di akun Twitter juru bicara (jubir) Kepresidenan Bidang Hubungan Luar Negeri, Dino Patti Djalal, tertanggal 18 April 2010 pukul 1.51 PM.

Sebagai jubir presiden dan juga diplomat yang sering bepergian ke luar negeri, Dino Patti Djalal, tentu tidak akan mengira bahwa perjalanannya kali ini mengalami hambatan justru ketika pesawat yang ditumpanginya sedang transit di Bandara Rhein-Main, Frankfiurt, Jerman . Adalah debu vulkanis letusan Gunung Berapi Eyjafjallajokull di Islandia yang mengganggu penerbangan di kawasan Eropa Barat. Maskapai-maskapai penerbangan tidak berani menerbangkan pesawatnya ke kawasan tersebut karena khawatir debu-debu yang berterbangan mengganggu mesin pesawat dan dapat berakibat kecelakaan.

Akibat tidak adanya pesawat yang berani terbang, Dino Patti Djalal dan ribuan calon penumpang lainnya pun terpaksa mencari alternatif moda angkutan lain agar dapat segera sampai di tujuan. Beruntung transportasi darat di Eropa Barat tidak mengalami gangguan, sehingga bisa menggunakan bis atau kereta api. Alternatif ini yang dilakukan Dino Patti Djalal yang semenit kemudian mentweet “sy akan coba cari kereta api ke eropa paling selatan, mudah2an airport ada yg buka disana”.

Sekitar 8 jam kemudian, kembali Dino Patti Djalal mentweet “sy sudah di roma dgn kerta api. airprt roma buka tapi all flights full hari ini dan besok. semua penumpng di kerta api pengungsi badai debu”. Tak lama kemudian ia pun menambahkan “langit di roma dan frankfurt semua cerah dan sunny - memang aneh. krn gumpalan asap jauh di atmosfir, antara 5-10 km diatas darat, dan tipis”.

Tidak cukup menggambarkan keadaan kota, ia pun mendeskripsikan keadaan dirinya lewat selarik kata “krn sy sudah 3 hari gak ganti baju, udah bisa diberi gelar "diplomat apes dan apek". ha3x”. Bukan hanya itu, ia pun berkomunikasi dengan para tweeps (julukan bagi pengguna twitter), salah satunya adalah blogger Budi Putra yang saat itu sedang berada di Jerman sebagai juri Kontes blog internasional The BOBS. Kepada Budi Putra, Dino mentweet “@budip jadi. good luck di frankfurt. airport roma buka."

Ya semua larik-larik kata yang menggambarkan kondisi Dino saat terdampar di Eropa memang dikutip dari akun Twitter Jubir Presiden SBY yang memang ditujukan ke publik. Dino memanfaatkan Twitter sebagai tool dan media yang bisa menjangkau banyak orang. Dengan bentuknya yang ringkas dan memuat maksimum 140 karakter, Twitter menjadi pilihan tepat untuk mengabarkan suatu kejadian atau mengupdate informasi. Updating pun dapat dilakukan setiap saat, tentu saja sejauh ada akses internet atau telepon selular.

Bahwa Dino memanfaatkan Twitter sebagai media komunikasi di jejaring sosial, sepertinya memang belum terlalu lama. Ia baru memiliki akun Twitter sejak 17 Februari 2010 atau baru sekitar 2 bulan. Seperti lazimnya para tweeps, Dino pun mengkicaukan apa yang terjadi di sekitarnya. Ya seperti yang kita baca pada tweet di atas. Namun demikian, ia juga menyampaikan opini tentang apa yang dilihatnya, misalnya saja ketika ia mendampingi Presiden SBY ke KTT ASEAN di Hanoi, 6-9 April 2010, ia berkicau “vietnam yg sy lihat berubah dr jago perang jadi jago ekonomi. resepnya: berani berubah, piawai beradaptasi,selalu lihat kedepan. indonesia?” atau ketika mendampingi Wapores Boedino di Nuclear Security Summit di Washington DC, 16 April 2010, ia menyampaikan opininya “bencana yg tidak terbayangkan adalah kalau teroris mendapat akses thdp senjata nuklir dan menggunakannya. mari doakan tidak akan terjadi

Karena baru 2 bulan ngetweet, rasanya belum terlambat kalau saya mengucapkan selamat bertwitter ria. Meski terlihat mudah, tapi memposting suatu informasi dalam situs mikroblogging yang hanya menyediakan ruang sebanyak 140 karakter memerlukan teknik tersendiri untuk menuangkan isi pemikiran. Ditunggu informasi aktualnya yang terkait dengan rencana, kebijakan dan informasi lain yang terkait dengan tugas-tugas selaku Jubir Presiden SBY. Percayalah, publik pasti menunggu kicauan Pak Dino di Tweeter.

9.4.10

Sri Sultan Hamengku Buwono X Terima Penghargaan Tertinggi Sandi Negara

Atas nama pribadi dan sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) saya mengucapkan terima kasih atas penghargaan yang diberikan. Penghargaan ini sejatinya bukan untuk saya pribadi, tetapi untuk seluruh warga dan masyarakat Yogyakarta” begitu disampaikan Sri Sultan Hamengku Buwono X usai menerima penghargaan tertinggi sandi negara, Sanapati Utama, dari Ketua Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg), Mayor Jenderal Wiryono Budiharso, pada resepsi Hari Ulang Tahun ke-64 Persandian Indonesia di halaman gedung Lemsaneg, Jakarta, Rabu 7 April 2010.

Sri Sultan dan masyarakat Yogyakarta layak menerima penghargaan tersebut di atas karena berkat dukungan mereka lah, khususnya di masa-masa perang kemerdekaan, dunia persandian Indonesia tumbuh dan berkembang. Dari sejarahnya, memang dari Yogyakarta kegiatan persandian Indonesia berawal ketika Menteri Pertahanan Mr. Arif Sjarifuddin memerintahkan dr. Roebiono Kertopati, seorang dokter di Kementerian Pertahanan, untuk membentuk badan pemberitaan rahasia yang disebut Dinas Code dan membangun pemancar radio telegrafi.

Meski dr. Roebiono hanya berbekal pengetahuan sandi minimalis, yang diperolehnya saat mengikuti kursus beberapa minggu di Kementerian Luar Negeri Belanda, pada tanggal 4 April 1946 dr. Roebiono berhasil membangun cikal bakal dinas rahasia negara yang menangani pengamanan pemberitaan, bahkan memimpin dinas rahasia ini (sekarang Lemsaneg) hingga akhir hayatnya. Ia berhasil mengembangkan sistem sandi awal berupa One Time Pad (OTP) sebagai sistim sandi yang tangguh.

Beberapa tempat di Yogyakarta seperti di Jalan Batanawarsa (sekarang jalan I Dewa Nyoman Oka), desa Dekso di Kabupaten Kulon Progo dan desa Banaran (5 km dari Dekso) menjadi saksi sejarah keberadaan badan pemberitaan rahasia atau persandian nasional dalam turut serta mempertahankan kemerdekaan dari upaya Belanda untuk merebut kembali Indonesia lewat agresi I dan II.

Selain membangun dinas rahasia, yang dalam perkembangannya menjadi Jawatan Sandi dan kemudian Lemsaneg, dr. Roebiono juga berhasil membangun pemancar radio telegrafi yang dapat menghubungkan para pemimpin nasional di Yogyakarta dengan para pemimpin lainnya di Jawa Barat (Tasikmalaya, Garut, Karawang, Banten dan Cirebon), Jawa Timur (Jember, Jombang, Kediri dan Mojokerto), Jawa Tengah (Solo, Purwokerto, Tegal) dan Sumatera (Pematang Siantar dan Bukit Tinggi) dan Jakarta.

Dalam semua kegiatan tersebut di atas, Sri Sultan saat itu (Hamengku Buwono IX) dan rakyat Yogyakarta bahu membahu mendukung keberadaan dinas persandian, bahkan ada yang meminjamkan beberapa tempat untuk digunakan sebagai kamar sandi. Sementara itu, dimasa kemerdekaan saat ini, Sri Sultan Hamengku Buwono X mewarisi sikap ayahandanya untuk tetap mendukung pelaksanaan kegiatan persandian. Hal ini antara lain tampak dari pendirian Museum Sandi yang menampilkan berbagai koleksi persandian bersejarah. Museum ini dibangun atas prakarsa bersama antara Kepala Lemsaneg saat itu, Mayjen TNI Nachrowi Ramli dengan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X pada tahun 2006 dan diresmikan pada tanggal 29 Juli 2008.

Selain Sri Sultan Hamengku Buwono X, terdapat 4 orang lainnya yang juga menerima penghargaan Sanapati Utama yaitu Kolonel (Purn) Soemarkidjo (tokoh dan pelaku sejarah persandian), dan tiga orang mantan Ketua Lemsaneg yaitu Laksamana Muda (Purn) Soebardo, Laksamana Muda (Purn) B.O. Hutagalung, dan Mayor Jenderal (Purn) Nachrowi Ramli. Selain itu terdapat pula penerima penghargaan Sanapati 20 tahun dan Sanapati 10 tahun (masing-masing untuk mereka-meraka yang pernah bertugas di dunia persandian selama paling kurang 20 tahun dan 10 tahun)

24.11.09

Hendropriyono dan Ganyang Malaysia

Bagi banyak orang, nama Abdullah Mahmud Hendropriyono, mantan Menteri Transmigrasi dan Pemukiman Perambah Hutan di era Presiden B.J Habibie dan Kepala Badan Intelijen Negara di era Presiden Megawati Soekarnoputri, mungkin tidak terlalu asing. Namun bahwa beliau adalah kakak kandung tetangga depan rumah, saya baru mengetahuinya belum lama ini. Sebagai penghuni baru di sebuah perumahan di Bekasi Barat, saya memang belum banyak mengenal dekat tetangga sekitar.

Jumat, 20 November 2009, Pak Heri dan Ibu Eni, tetangga depan rumah saya itu mengundang kami dan tetangga sekitar menghadiri acara midodareni* anak perempuannya yang akan menikah Sabtu ini. Dalam acara ini hadir pula Pak Hendropriyono yang merupakan kakak kandung Ibu Eni.

Meski acaranya midodareni, jangan bayangkan dalam acara tersebut melulu diisi rangkaian acara adat Jawa saja. Acara sudah dimodifikasi dengan menghadirkan penyanyi yang diiringi organ tunggal untuk menemani tamu undangan saat santap malam. Disinilah kemudian Pak Hendro unjuk kebolehan membawakan sebuah lagu.

Alih-alih langsung bernyanyi, Pak Hendro terlebih dahulu bercerita tentang acara midodareni yang dimaksudkan untuk mengecek kesiapan keluarga mempelai wanita dalam melaksanakan upacara pernikahan pada keesokan harinya. Keluarga mempelai pria hadir dalam acara tersebut, namun sang calon mempelai pria meski boleh hadir namun tidak diperkenankan bertemu sang calon istri dan tidak boleh menyantap hidangan yang disediakan, kecuali air putih. Menurut Pak Hendro, hal tersebut merupakan bentuk latihan kesabaran dan simbol bahwa pihak pria lah yang nantinya memiliki kewajiban utama dalam menafkahkan keluarganya.

Usai bercerita tentang acara midodareni, barulah Pak Hendro berbicara tentang Malaysia saat mengkoreksi sebuah lagu melayu yang dibawakan sang penyanyi. Menurut beliau, lagu melayu yang dibawakan bukanlah dari Malaysia tetapi dari Riau. Begitu pula dengan lagu Semalam di Malaya, bukanlah lagu Malaysia tetapi lagu Melayu yang asalnya dari Riau. Asal usul Malaysia adalah dari Melayu Riau, dimana banyak orang Melayu yang pindah kesana pada masa lalu. Malaysia merupakan negara bentukan Inggris yang dimerdekakan pada 31 Agustus 1957.

Konflik dengan Indonesia terjadi ketika Malaysia berkeinginan menggabungkan Brunei, Sabah dan Sarawak dengan Persekutuan Tanah Melayu pada tahun 1961. Dikemukakan oleh Pak Hendropriyono bahwa sebenarnya pada tahun 1961 tersebut beberapa wilayah bebas seperti Serawak sedang melakukan referendum untuk menentukan apakah akan bergabung dengan Federasi Malaysia bentukan Inggris atau berdiri sendiri sebagai negara merdeka. Namun belum selesai proses referendum, pada tanggal 16 September 1961 secara sepihak Serawak dimasukan kedalam Federasi Malaysia. Keputusan ini ditentang oleh Presiden Soekarno yang menganggap Malaysia sebagai “boneka” Inggris. Presiden Soekarno memandang Malaysia sebagai negara yang tidak bersahabat dengan Indonesia dan menjadi sandungan dalam hubungan dengan Indonesia. Sejak itu konflik terus meningkat dan berpuncak pada kebijakan “Ganyang Malaysia” kepada negara Federasi Malaysia setelah PM Malaysia Tunku Abdul Rahman sangat menghina Indonesia dan presiden Indonesia dengan menginjak lambang negara Garuda Pancasila.

Kenapa cerita ini disampaikan pada suatu acara menjelang pernikahan? Menurut Pak Hendro, generasi muda sekarang, termasuk keponakannya yang akan menikah, banyak yang tidak paham sejarah, termasuk dalam masalah hubungan Indonesia-Malaysia. Ketika Malaysia diawal-awal masa kemerdekaannya, Indonesia banyak mengirimkan tenaga ahli kesana untuk membantu pembangunan mereka. Kini mereka lebih maju dari Indonesia dan orang-orang Indonesia yang berangkat kesana justru bukan lagi tenaga ahli melainkan tenaga kerja yang memiliki ketrampilan rendah.

Dengan kondisi di atas, Pak Hendro melihat perlunya generasi muda memahami sejarah agar bisa lebih memahami kondisi Indonesia secara utuh. Untuk itu ia berencana untuk membuat buku mengenai hal ini sebagai tambahan referensi sejarah Indonesia. Selanjutnya untuk memberikan semangat kepada generasi muda, Pak Hendro kemudian menyanyikan lagu Irlandia berjudul Danny Boy. Menurut beliau lagu ini menggambarkan pesan dari orang tua kepada anaknya yang akan berangkat perang dan cocok untuk membangkitkan semangat.

Usai acara midodareni, saya sempat berbincang sejenak dengan Pak Hendro dan meminta beliau untuk menulis di blog. Menyicil tulisan lewat blog seperti yang dilakukan beberapa mantan tentara seperti Prayitno Ramelan dan Chappy Hakim. Kalau kesulitan membuat blog sendiri, bisa ikut blog keroyokan seperti Kompasiana. Beliau merespon dengan baik tawaran tersebut.

Terima kasih pak Hendropriyono atas sharingnya. Ditunggu lho tulisannya di blog.

* Midodareni berasal dari kata dasar widodari (Jawa) yang berarti bidadari yaitu putri dari sorga yang sangat cantik dan sangat harum baunya. Midodareni biasanya dilaksanakan antara jam 18.00 sampai dengan jam 24.00 ini disebut juga sebagai malam midodareni, calon penganten tidak boleh tidur. Dalam acara ini disampaikan petuah-petuah dan nasehat serta doa-doa kepada calon mempelai. Adapun dengan selesainya midodareni saat jam 24.00 calon pengantin dan keluarganya bisa makan hidangan yang disediakan.

3.5.09

Tragedi AA: pertaruhan sebuah integritas

Hari Kamis (30 April 2009) kemarin kami sebenarnya dijadwalkan bertemu dengan Ketua KPK Antasari Anhar atau disingkat AA di kelas pendidikan dan pelatihan (diklat) diplomat tingkat madya di Deplu. AA diundang Pusdiklat Deplu untuk menyampaikan paparan mengenai “Good governance in Indonesia and the role of KPK”. Pada awalnya terdapat kabar bahwa beliau akan hadir dan menyampaikan sendiri paparannya. Namun sehari menjelang pertemuan, terdengar kabar bahwa beliau tidak bisa hadir dan menugaskan stafnya untuk mewakili. Pada akhirnya Antasari memang batal datang dan hanya diwakili stafnya, itupun terlambat datang karena adanya miskomunikasi di Sekretarian Pimpinan KPK.

Terus terang saja para peserta diklat kecewa dengan ketidakhadiran AA. Namun demikian saya dan teman-teman mencoba memahami alasan ketidakhadirannya yaitu kesibukan selaku ketua KPK. Tidak ada dugaan lain yang terkait dengan ketidakhadirannya. Namun betapa kagetnya ketika Jumat paginya kami membaca berita di media massa kalau pada hari Kamis tersebut Ketua KPK lebih memilih tinggal di rumahnya di BSD ketimbang harus ke kantor. Kabarnya beliau sedang tidak enak badan, sehingga lebih baik menyelesaikan tugas-tugas di rumah, termasuk memimpin rapat KPK.

Namun yang lebih mengagetkan adalah berita bahwa AA di cekal Kejaksaan untuk bepergian ke luar negeri dan dijadikan tersangka kasus penembakan Direktur PRB Nasrudin Zulkarnaen. Yang lebih heboh lagi adalah adanya berita bahwa beliau tersangkut pembunuhan karena masalah wanita.

Wah mau dibawa kemana negeri ini kalau sangkaan keterlibatan AA dalam tewasnya Nasrudin memang terbukti kebenarannya. Bagaimanapun hal ini menjadi sebuah tragedi tersendiri bagi AA dan masyarakat Indonesia. AA bukan sekedar Ketua sebuah orgtanisasi. Ia merupakan Ketua lembaga anti korupsi yang sedang menjadi tumpuan harapan masyarakat indonesia dalam menindak pelaku tindak pidana korupsi. Dalam menduduki jabatannya tersebut pun, AA dan para pemimpin KPK lainnya dipilih melalui fit and proper test di DPR. Kalau pemimpinnya saja kurang memiliki integritas, maka integritas pimpinan KPK lainnya pun dipertanyakan. Adalah wajar pula jika masyarakat berharap bahwa para pemimpin KPK memiliki integritas tinggi. Tanpa integritas, jangan harap KPK bisa menindak pelaku tindak pidana korupsi.

Dalam kaitan ini, tampak bahwa integritas AA selaku Ketua KPK sedang dipertaruhkan. Jika AA memang terbukti melakukan apa yang dituduhkan, maka integritasnya akan terjun bebas ke jurang terdalam. Bisa saja nasib AA akan seperti Irawady Joenoes, anggota Mahkamah Konstitusi, yang kedapatan menerima suap dalam kasus pengadaan barang. Ia juga bisa senasib dengan seorang mantan penyidik KPK yang kedapatan memeras seorang tersangka korupsi. Untuk itu tampaknya hanya hukuman yang sangat berat yang layak untuk seseorang yang tidak memiliki integritas dalam memimpin organisasi seperti KPK.

Gambar dicomot dari situs Visual Editors. Tks utk Toni Malakian atas pembuatan gambarnya.

Tulisana ini juga dapat dibaca di Kompasiana.com

20.3.09

Kopi Darat Dengan Wapres JK

Wapres Jusuf Kalla (JK) akan mengadakan kopdar dengan blogger kamis malam ini (19 Maret 2009)? Informasi ini pertama kali muncul dari seorang rekan blogger di situs pertemanan facebook. Ia mengabarkan bahwa dirinya termasuk salah satu dari 15 orang blogger yang diundang oleh JK. Namun ia belum bisa menyampaikan kepastiannya karena belum ada undangan resmi mengenai waktu dan tempat pertemuan.

Belum lagi rekan saya tersebut menginformasikan lebih lanjut mengenai rencana kopdar dengan JK, justru JK sendiri yang kemudian muncul di Kompasiana untuk memberitahukan rencana pertemuan tersebut dan semua blogger untuk hadir.


Jadilah kemudian saya meluncur ke tempat pertemuan di Cafe Pisa di jalan Mahakam Blok M. Ketika tiba disana sudah ada beberapa blogger yang hadir, seperti Mas Amril Taufiq Gobel dan Mas Yulyanto serta blogger dari Komunitas Makassar. Tak lama kemudian hadir Mas Pepih Nugraha, Mbak Novrita dan Mas Iskandar Zulkarnain. Selain itu tampak hadir rekan-rekan blogger lainnya seperti Mas Iman Brotoseno. JK sendiri datang sekitar pukul 20.20, terlambat 20 menit dari pertemuan yang dijadwalkan pukul 20.00.

Acara yang dipandu Mas Witjaksono Ndoro Kakung dimulai dengan paparan singkat mengenai ngeblognya JK di Kompasiana, dilanjutkan dengan tanya jawab dengan para blogger. JK dengan tenang mendengarkan dan menjawab berbagai pertanyaan yang diajukan, termasuk mendengarkan curhat seorang dokter gigi yang bertugas di Pulau Tambelan Riau. Beberapa masalah yang mengemuka antara lain mengenai kebebasan berpendapat dan UU ITE, pencapresannya oleh Golkar, dan perlunya peningkatan akses internet.

Mengenai kebebasan berpendapat, JK mengemukakan bahwa UUD 1945 menjamin kebebasan berpendapat dan merupakan bagian dari demokrasi. Blogger dapat mengkritik dan mengomentari kinerja pemerintah, namun bukan menghina. Terkait kekhawatiran ancaman dalam UU ITE dan perlunya merevisi pasal yang dapat mengancam kebebasan blogger, JK menyerahkan kewenangan sepenuhnya pada MK untuk memutuskan.

Bagian yang sangat menarik adalah pernyataan JK mengenai pencalonannya sebagai capres. Ia mengemukakan kembali kesiapannya menjadi capres Golkar dan akan diputuskan seusai pemilu legislatif tanggal 9 April 2009 mendatang. Bahwa ia melakukan pertemuan dengan berbagai tokoh politik, dikemukannya sebagai pendidikan politik dan perlunya para pemimpin partai membina kerukunan.

Menanggapi usulan agar JK mengundurkan diri setelah resmi dicalonkan sebagai capres Golkar, dengan tegas dijawab bahwa hal tersebut justru melanggar UU. Karena ia dan SBY dipilih langsung oleh rakyat untuk menjalankan tugasnya hingga Oktober 2009. Jika ia harus melakukan kampanye, ia bisa mengajukan cuti yang memang benar dibenarkan oleh UU. Akhirnya dengan nada optimis, JK mengemukakan bahwa jika ia terpilih sebagai pemimpin, ia yakin Indonesia dapat lebih maju bahkan dapat mengalahkan Malaysia.

Terkait peningkatan akses internet, JK mendukung pembangunan infrastruktur telekomunikasi yang memungkinkan akses internet ke sekolah-sekolah hingga kecamatan. Dalam mendukung peningkatan pemanfaatan internat, ia juga memprogramkan bantuan 1.000 notebook bagi anak-anak sekolah.

Dari kopdar ini ada beberapa hal yang kiranya dapat digarisbawahi. Pertama, salut atas inisiatif JK untuk mengundang para blogger hadir dalam acara kopdar. Hal ini memperlihatkan kejelian dan kegesitan Pak JK dalam mengamati perkembangan blog di Indonesia dan meningkatnya peran dan potensi para blogger sebagai ujung tombak penyebarluasan informasi dan opini ke masyarakat. Dengan jumlah blogger yang diperkirakan berjumlah 500 ribu orang dan akan terus bertambah seiring meningkatnya infrastruktur telekomunikasi, peran blogger tentu saja akan semakin strategis.

Hal kedua yang patut diapresiasi adalah keinginan kuat JK untuk belajar penggunaan teknologi informasi sehingga dapat meluaskan komunikasinya dengan berbagai lapisan masyarakat termasuk komunitas blogger. Dengan apa adanya, Pak JK membenarkan bahwa dirinya termasuk orang yang gagap teknologi (gaptek). Dalam mengoperasikan internet dan memanfaatkan fitur-fitur yang ada, seperti blog dan berbagai situs jejaring misalnya, ia kerap kali dibantu anak dan cucunya serta staf. Namun keinginan kuat untuk memanfaatkan teknologi informasi mendorongnya untuk terus berupaya dapat memanfaatkannya. Hal ini juga tidak terlepas dari konsekuensi yang dipilihnya sebagai seorang politikus untuk dapat berkomunikasi dengan masyarakat. Jika ia tidak melakukan komunikasi dengan masyarakatnya, jangan harap masyarakat akan memilihnya untuk memimpin Indonesia.

Ketiga mengenai kekhawatiran bahwa JK akan kampanye dan mendorong blogger untuk mendukung dia dan partainya tidak sepenuhnya terlihat. JK tampaknya paham bahwa blogger memiliki kebebasan dalam memilih dan berpendapat. Apa yang disampaikan dalam pertemuan tersebut tidak lebih dari diskusi dan pertukaran pandangan. Namun dengan inisiatif mengadakan pertemuan, ia telah bergerak lebih cepat dan tentunya berharap akan tercipta komunikasi yang lebih baik dengan komunitas blogger.

Keempat, kalau boleh menyarankan, acara semacam ini kiranya bisa dilakukan kembali di masa-masa mendatang, apapun jabatan yang disandang Pak JK mendatang. Pandangan-pandangan JK kiranya sangat berharga untuk dibagikan ke para blogger. Saya berharap agar JK memegang motto “sekali ngeblog akan tetap ngeblog”.


Gambar asli diambil dari sini

23.2.09

Diplomasi Three in One Hillary Clinton

Tampaknya tidak ada kunjungan seorang menlu yang sedemikian menarik perhatian selain kunjungan Menlu AS Hillary Clinton. Bahkan jika dibandingkan dengan kunjungan mantan Menlu AS sebelumnya, Condoleezza Rice ke Jakarta Maret 2006, kunjungan Hillary masih jauh menyita perhatian. Besarnya perhatian terhadap kunjungan Hillary setidaknya tidak terlepas dari dua hal yaitu tujuan kunjungan itu sendiri dan personifikasi Hillary.

Dari tujuan kunjungan, kedatangan Menlu Hillary ke empat negara Asia yaitu Jepang, Indonesia, China dan Republik Korea, merupakan suatu terobosan. Biasanya seorang Menlu AS akan memulai program kerjanya dengan bertemu mitra terdekatnya di Eropa atau Timur Tengah. Setelah mengunjungi kedua kawasan tersebut, barulah mengunjungi kawasan lainnya. Dengan berkunjung ke Asia, Menlu Hillary ingin memperlihatkan kesungguhan pemerintah AS yang memandang penting Asia sebagai sebagai mitra strategis yang dapat diandalkan.

Dari sisi personifikasi, sosok Hillary dipandang sebagai wanita cerdas dan sukses dalam karir politik. Mantan pengacara handal ini adalah seorang senator yang terpilih dalam dua kali masa jabatan. Disamping itu, Hillary adalah salah satu kandidat Presiden AS dari partai demokrat, yang bersaing ketat dengan Barrack Obama hingga saat-saat akhir. Dengan modal seperti itu, Hillary dipandang cakap untuk menduduki jabatan menlu. Ia sangat diharapkan dapat memperbaiki citra AS di dunia internasional dan menterjemahkan kebijakan luar negeri AS yang bersahabat dengan mengedepankan smart power diplomatic.

Perpaduan tujuan kunjungan dan personifikasi Menlu Hillary menjadi sangat menarik karena memadukan tiga hal sekaligus yaitu diplomasi simbolik, diplomasi non-simbolik (operasional) dan pada saat bersamaan melakukan aktivitas diplomasi publik.

Diplomasi simbolik biasanya dikaitkan dengan kegiatan yang memperlihatkan adanya kemampuan untuk berbuat baik yang didasarkan ada kecocokan satu sama lain. Bentuk diplomasi simbolik ini biasanya dinyatakan dalam bentuk pernyataan saling mendukung atau tercapainya suatu kesepakatan. Di Jepang, diplomasi simbolik tampak dari ditandanganinya perjanjian antara Pemerintah AS-Jepang untuk merelokasi 8.000 marinir AS dari Okinawa ke Guam pada tahun 2014. Sedangkan di Jakarta, diplomasi simbolik ini terlihat dari pernyataan Menlu Hillary yang menginginkan perlunya meningkatkan kerjasama bilateral AS-Indonesia secara lebih komprehensif. Selain itu disepakati pula sejumlah kerjasama di bidang pangan, pendidikan serta teknologi dan ilmu pengetahuan.

Dalam konteks kerjasama AS-ASEAN, Menlu Hillary juga menyatakan keinginan AS untuk segera meratifikasi perjanjian tidak saling serang atau Perjanjian Persahabatan dan Kerjasama ASEAN (Treaty of Amity and Cooperation/TAC). Sesuatu yang pernah diabaikan pada masa pemerintahan Presiden George Bush.

Kegiatan kedua yang dilakukan Menlu Hillary adalah melakukan Diplomasi non-simbolik (operasional). Kegiatan diplomasi ini atau bisa juga disebut dengan diplomasi substantif adalah kegiatan yang dikaitkan dengan pencapaian sejumlah tujuan. Kegiatan dalam diplomasi simbolik akan berjalan ditempat jika tidak segera ditindaklanjuti dengan langkah-langkah lanjutan untuk mencapai tujuan. Sebagai contoh, kesepakatan kerjasama di bidang pangan, pendidikan serta teknologi dan ilmu pengetahuan tidak akan mencapai sasarannya jika instansi-instansi teknis yang memiliki kewenangan dibidangnya tidak segera bergerak untuk menindaklanjutinya. Instansi teknis diharapkan segera mengajukan sejumlah rencana kegiatan konkrit disertai kerangka acuannya. Adapun keinginan AS untuk ikut meratifikasi TAC tidak akan berlanjut jika negara-negara ASEAN dan AS sendiri tidak segera memulai pembahasan substansi dan persiapan prosedural yang memungkinkan AS segera meratifikasi TAC.

Beberapa kalangan menyebutkan bahwa diplomasi substantif memiliki peran penting dalam mengembangkan hubungan antar negara, khususnya saat implementasi kesepakatan ternyata hanya terdapat diatas kertas. Saking pentingnya diplomasi substantif sehingga banyak yang menyarankan agar pelaksanaan hubungan kerjasama dapat dilakukan tanpa harus menunggu adanya kesepakatan antar pemerintah. Polanya adalah para pemangku kepentingan mengerjakan dan mengimplementasikan suatu kegiatan secara konkrit dan ketika kerjasama telah berlangsung, barulah disusul dengan pembuatan suatu kesepakatan antar pemerintah.

Kegiatan ketiga yang dilakukan dalam kunjungannya adalah melaksanakan kegiatan diplomasi publik. Sebagai top diplomat di Kemlu AS, setiap upaya yang dilakukan Menlu Hillary tentunya tidak dapat dilepaskan dari kegiatan diplomasi publik yaitu suatu kegiatan yang ditujukan untuk memberikan pemahaman terhadap berbagai prinsip dan kebijakan luar negeri Pemerintah AS serta membantu memperbaiki dan meningkatkan citra AS yang sempat tercoreng pada masa Presiden george Bush.

Dalam konteks ini, tidaklah mengherankan jika ketika berkunjung, selain melakukan diplomasi formal dengan pejabat tinggi pemerintah, juga dilakukan kegiatan penyebarluasan informasi yang melibatkan peran serta masyarakat di negara yang dikunjungi. Di Jepang, Menlu Hillary mengadakan pertemuan dengan para pemuda di Universitas Tokyo dan membicarakan berbagai isu mulai dari perubahan iklim, kemiskinan global hingga baseball.

Di Indonesia, kita mengetahui bahwa Menlu Hillary juga mengadakan pertemuan dengan berbagai tokoh di Gedung Arsip, mengunjungi proyek MCK plus-plus di Petojo Utara, berfoto bersama dengan murid-murid SD 01 Menteng dan bahkan tampil di acara musik Dahsyat di RCTI. Semua langkah diplomasi publik ini merupakan langkah pilihan yang cerdas. Selain dapat diliput secara luas dan ditonton banyak orang, Menlu Hillary juga dapat memperlihatkan sisi-sisi humanisnya, tidak saja sebagai wanita yang cerdas dan tangguh tetapi juga menyukai musik dan olah raga. Tidak mengherankan jika selama kunjungannya, Menlu Hillary menjadi begitu populer, bak selebritis yang selalu disorot media massa.

Ibarat kebijakan three in one di jalur Sudirman-Thamrin, maka diplomasi yang dilakukan Menlu Hillary pun adalah diplomasi three in one. Jika kebijakan lalu lintas di Sudirman-Thamrin dimaksudkan untuk mengurangi kemacetan dan memaksimalkan jumlah penumpang di setiap kendaaan yang melintasi jalur tersebut, maka diplomasi three in one Menlu Hillary dimaksudkan untuk mencapai beberapa sasaran sekaligus antara lain memulihkan citra AS di dunia internasional, menjaga kepentingan AS dengan merangkul mitra strategisnya di Asia dan memelihara keseimbangan arsitektur regional.

Ketika akhirnya Menlu Hillary mengakhiri kunjungannya, maka sesungguhnya upaya untuk memelihara dan meningkatkan hubungan dan kerjasama bilateral maupun regional baru saja dimulai. Diplomat dan semua pemangku kepentingan di kedua negara atau kawasan dituntut untuk segera menindaklanjuti berbagai hasil pembicaraan dan kesepakatan yang telah dicapai berdasarkan kerangka acuan yang telah disepakati.

15.1.09

Melongok Teladan Pemimpin Negeri Paman Sam

Semakin dekat pemilu, semakin banyak pula orang yang mempertanyakan prilaku para calon wakil rakyat ataupun presiden dalam memberikan keteladanan bagi rakyat, dalam hal ini sikap ksatria untuk mengakui kekalahan. Pengalaman pemilu 2004 memperlihatkan bahwa meskipun pemilu usai, tapi perseteruan antar calon masih terus berlangsung.

Dalam tulisan sebelumnya, Belajar dari John McCain, saya sudah menyinggung masalah ini. Secara kebetulan pula, beberapa hari yang lalu 3 mantan Presiden AS, Presiden George W Bush Jr dan presiden terpilih Barack Obama berkumpul bersama. Dua pristiwa sangat menarik perhatian dan kiranya perlu juga disimak dengan seksama oleh para calon wakil rakyat dan presiden di Indonesia. Tentu saja akan timbul polemik, kenapa AS, memangnya demokrasi mereka yang paling baik?

Hanya dalam hitungan hari, Presiden George W Bush Jr akan mengakhiri jabatannya dan meninggalkan Gedung Putih. Namun sebelum saat itu tiba, Bush mengadakan makan siang dengan 3 mantan Presiden AS dan presiden terpilih Obama. Meski usulan pertemuan tersebut datang dari Obama saat bertemu pada November 2008, namun kesediaan Bush untuk bereuni sambil makan siang tentu saja layak diapresiasi. Boleh jadi Bush Jr dipandang memiliki kinerja buruk saat memimpin AS, tapi dalam hal memelihara silahturahmi dan jejaring dengan mantan dan calon presiden mendatang tampak tidak kalah dengan para pendahulunya.

Dari foto-foto pertemuan, terlihat para mantan presiden, presiden incumbent dan presiden terpilih tersenyum penuh arti dalam suasana penuh keakraban. Dalam pertemuan tersebut mereka saling bertukar pengalaman dalam hal mengelola dan memimpin negara. Pertukaran pengalaman yang menarik dan tentu saja sangat bermanfaat bagi Obama yang akan meneruskan estafet kepemimpinan di AS untuk 4 tahun ke depan.

Melihat suasana pergantian presiden di AS dan menoleh ke suasana pergantian presiden di Indonesia, tampak adanya perbedaan yang sangat jelas. Soekarno meninggalkan Istana Negara dengan tergesa-gesa pasca G-30-S/PKI dan oleh penggantinya ditempatkan di dalam tahanan rumah hingga ajal menjemput. Soeharto meninggalkan Istana Negara segera setelah mengumumkan pengunduran dirinya dan sampai akhir hayatnya tidak pernah terlihat adanya perjumpaan dengan BJ Habibie yang menjadi penggantinya. BJ Habibie sendiri pun meninggalkan Istana Negara tanpa sempat mengadakan “pesta perpisahan”. Gus Dur nasibnya juga tidak lebih baik, meninggalkan istana dengan tergesa-gesa setelah “dilengserkan” DPR. Sementara Megawati yang kalah dari SBY, meninggalkan Istana Negara tanpa sempat berjabat tangan dengan SBY, bahkan hingga kini.

Bicara tentang kekalahan, John McCain dapat digunakan sebagai contoh yang baik. Segera setelah mengetahui bahwa ia gagal membendung Obama ke Gedung Putih, McCain menghubungi Obama untuk mengakui kekalahannya dan mengucapkan selamat. Tidak hanya itu, McCain pun meminta para pendukungnya untuk melupakan perseteruan saat kampanye dan mendukung Obama sebagai pemimpin masyarakat AS yang baru. Sementara di Indonesia, calon presiden yang kalah tetap tidak mau mengakui kekalahannya, bahkan hingga kini.

Orang boleh bilang bahwa Bush ataupun McCain bisa bersikap seperti tersebut di atas, karena kehidupan berdemokrasi di AS telah berlangsung lama, sehingga sikap dan kehidupan berdemokrasi telah menjadi bagian dalam kehidupan bermasyarakat.

Kalau saja pandangan di atas dipergunakan sebagai pembenaran, berarti kita masih memerlukan waktu puluhan tahun atau bahkan ratusan tahun lagi untuk hanya sekedar bersikap kesatria. Pertanyaannya kemudian adalah apakah memang harus demikian?

Mungkinkah Pemilu tahun 2009 bisa dijadikan titik untuk lebih memperkokoh jalan demokrasi yang telah kita tempuh? Tidak ada lagi gontok-gontokan menjelang dan pasca pemilu? Yang kalah mengakui kekalahannya dan memberikan dukungan sepenuhnya. Adapun yang menang menghormati yang kalah ?

Harapannya adalah para calon yang bersaing dapat saling menghormati satu sama lain, baik saat menjelang pemilihan ataupun sesudahnya. Demikian pula para pendukungnya, saat mengetahui jagoannya kalah, mereka tidak saling adu jotos, apalagi sampai merusak. Dan yang juga tidak kalah indahnya, ketika pemilu berakhir, dengan penuh kesadaran para calon yang terpilih maupun yang tidak terpilih membersihkan kembali atribut-atribut yang pernah dipasangnya saat kampanye. Membersihkan kembali lingkungan di sekitarnya sehingga sedap dipandang mata. Semoga.

Karikatur oleh Prabu diambil dari SINI


13.12.08

Selamat Jalan Pak Ali Alatas

Indonesia kembali kehilangan salah seorang putra terbaiknya saat Pak Ali Alatas atau yang juga biasa dipanggil Pak Alex berpulang ke haribaan NYA pada tanggal 11 Desember 2008 pukul 07.30 di Singapura. Beliau merupakan diplomat senior, singa tua di dunia diplomasi, yang berjasa dalam memperjuangkan kepentingan nasional Indonesia di berbagai forum internasional, tidak hanya tingkat regional tetapi juga global.

Melihat kiprahnya di dunia diplomasi, berbagai penghargaan dan pujian dilayangkan kepada beliau. Negara pun memberikan apresiasi sangat tinggi terhadap dedikasi dan darma baktinya, terbukti dengan pemberian Bintang Jasa Mahaputera Utama dan upacara pemakaman yang langsung dipimpin Presiden SBY serta dihadiri banyak pejabat tinggi negara dan anggota masyarakat. Ucapan duka cita pun mengalir dari para pemimpin negara di dunia, termasuk PM Malaysia Abdullah Badawi yang hadir untuk melayat di rumah kediamannya.

Sebagai salah satu staf di instansi yang beliau pernah pimpin, saya beruntung pernah beberapa kali bertemu langsung dengan Almarhum Pak Alex. Saya terkesan dengan kepintaran, tutur kata yang santun, cara penyampaian/penjelasan suatu permasalahan yang sistimatis dan mengalir jelas, dan tentu saja sikap kerendahan hati beliau.

Seperti harimau mati meninggalkan belang, maka Pak Ali Alatas pergi dengan damai meninggalkan keteladan sebagai seorang pejuang perdamaian dan negarawan yang dikenal di dunia internasional. Selamat jalan Pak Alex, Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.

Bonus:

14.10.08

Lewat Aceh mendapat Nobel

Ketika pada tahun 2006 Panitia Nobel memberikan hadiah Nobel Perdamaian kepada Mohammad Yunus, banyak orang yang bertanya-tanya. Kala itu Mohammad Yunus tidak dikenal sebagai tokoh yang giat memfasilitasi upaya perdamaian dunia. Namun keberhasilannya dalam mengembangkan dan memberikan bantuan kredit kepada masyarakat kecil di Bangladesh dipandang sebagai upaya menciptakan perdamaian melalui peningkatan taraf hidup masyarakat miskin.

Hal di atas tentu saja berbeda dengan hadiah Nobel Perdamaian 2008. Ketika Marti Ahtisaari dinyatakan sebagai pemenangnya, masyarakat internasional tidak merasa kaget. Ahtisaari sudah dikenal sebagai mediator dalam berbagai wilayah konflik.

Ahtisaari, seorang diplomat berpengalaman dan mantan Presiden Finlandia, merupakan tokoh yang aktif memediasi konflik di berbagai belahan dunia, mulai dari Namibia, Indonesia, Irlandia Utara hingga Kosovo. Meskipun demikian, namanya mulai masuk bursa pemenang pada tahun 2005, segera setelah keberhasilannya memediasi proses perundingan di Aceh antara GAM dan Pemerintah RI.

Keberhasilan tersebut patut diapresiasi, terlebih background pemberian penghargaan adalah Indonesia. Ini kedua kalinya Indonesia dijadikan background Nobel Perdamaian, setelah Uskup Ximenes Belo dan Ramos Horta tahun 1996. Walau demikian, terasa ada ironi kenapa kok bukan warga Indonesia yang meraih penghargaan bergengsi terebut. Ironis karena konflik dalam negeri justru dapat terselesaikan setelah adanya campur tangan warga asing.

Melalui Crisis Management Iniative (CMI) yang didirikannya, Ahtisaari pandai memainkan seni berdiplomasi dalam memediasi konflik sehingga dapat menghasilkan keputusan yang dapat diterima oleh pihak yang bertikai. Dalam pandangan mantan Menlu Australia Gareth Evans (1988-1996) dan Ketua International Crisis Group (ICG): “Ahtisaari merupakan perunding dan mediator yang cemerlang dengan gaya personal yang efektif, gabungan kewibawaan dan humor yang baik.

Saat proses perundingan antara Pemerintah RI dan GAM berjalan alot karena masing-masing pihak bersikeras dengan posisinya masing-masing, dengan lugas Ahtisaari menyampaikan tawaran yang langsung menohok kesasaran “kamu ingin menang atau perdamaian ?”

Mantan Menteri Hukum dan HAM Hamid Awaludin, yang sekarang menjadi Duta Besar RI di Rusia, juga terkesan dengan gaya Ahtisaari dalam berperan sebagai mediator, yang tidak saja menguasai substansi dan teknis perundingan dengan baik, namun juga sangat memperhatikan aspek psikologis perundingan. Ketika kedua belah pihak yang berunding berada dalam suasana tegang, dengan taktis dilakukan break. Para perunding diminta beristirahat dan berjalan-jalan di tepian sungai, baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama. Dimintanya pula untuk membicarakan hal yang remeh temeh di luar substansi perundingan, tujuannya untuk mencairkan kebekuan dan mendekatkan hubungan personal. Menurut Hamid Awaludin, hasilnya luar biasa karena hampir 80% kesepakatan dicapai saat berbincang santai di tepian sungai, bukan di meja perundingan.

Sementara itu dalam penyelesaian masalah Kosovo, Ahtisaari memiliki konsep jelas yang tertuang dalam roadmap for peace yang didukung oleh PBB dan negara-negara Barat. Proklamasi kemerdekaan Kosovo beberapa waktu dilakukan berdasarkan konsep Ahtisaari, termasuk panduan penempatan polisi Uni Eropa untuk menjaga keamanan dan menjalankan pemerintahan sampai pemerintahan Kosovo siap berdiri sendiri.

Tentu saja apa yang dilakukan oleh seorang mediator seperti Ahtisaari tidak selalu membuahkan keberhasilan. Suatu studi yang dilakukan Jacob Bercovitch memperlihatkan bahwa dari 56 proses mediasi terhadap 78 konflik internasional yang terjadi tahun 1945-1986, hanya beberapa saja yang berhasil mencapai tujuan.

Untuk itu upaya mediasi yang dilakukan Ahtisaari sesungguhnya hanya merupakan salah satu pendekatan untuk menyelesaikan konflik dengan bantuan pihak ketiga. Ahtisaari sebagai mediator memposisikan dirinya sebagai pihak ketiga yang membantu pihak yang berkonflik untuk mencari penyelesaian secara bersama-sama. Ia membantu merumuskan permasalahan dan mengembangkan berbagai opsi yang dapat diterima oleh para pihak yang bersengketa.

Keberhasilan Ahtisaari memediasi perdamaian Pemerintah RI–GAM, rupanya menginspirasi Wapres Jusuf Kalla untuk menjadi mediator perdamaian Masyarakat Melayu Pattani dan Pemerintah Thailand. Suatu proses mediasi yang disebut Majalah tempo sebagai “Resep Aceh Rasa Pattani”. Proses mediasi ini sekarang sedang berlangsung dan jika berhasil diharapkan dapat menjadi kado istimewa HUT Raja Thailand Bhumibol Adulyadej pada tanggal 5 Desember.

Saya berharap apa yang dilakukan Wapres Jusuf Kalla akan berhasil baik dan dapat mengharumkan nama bangsa Indonesia. Bangsa yang cinta kedamaian dan keindahan (kalau digabung damai itu indah). Keberhasilan tersebut juga akan tercatat sebagai keberhasilan bangsa Indonesia dalam menyelesaikan berbagai konflik di kawaan seperti di Kamboja dan Filipina Selatan ataupun keberhasilannya sebagai stabilisator di kawasan Asia Tenggara.

Agar ironi tidak kembali terulang, kiranya para mantan pemimpin bangsa Indonesia lainnya dapat pula meniru jejak langkah Ahtisaari, yang setelah tidak lagi menjadi Presiden di negerinya, tidak ngotot untuk kembali menjadi presiden dan justru memilih berkiprah di dunia internasional. Suatu langkah yang mungkin belum lazim di Indonesia. Di Indonesia, biasanya pemimpin yang sudah lengser berupaya mati-matian untuk kembali naik ke tampuk kekuasaan, meski memiliki handicap ataupun pernah gagal di masa lalu. Bahkan berbagai center yang didirikan pun ditujukan untuk menopang upayanya menuju puncak kekuasaan.

Saran saya untuk mantan pemimpin di Indonesia atau yang akan segera lengser, untuk lebih baik berkiprah di dunia internasional dengan memainkan berbagai isu internasional seperti isu demokratisasi, HAM, kesetaraan gender ataupun lingkungan hidup. Para mantan pemimpin juga dapat berkiprah sebagai mediator konflik di daerah. Berbagai center yang didirikan sebaiknya diarahkan kesana, misalnya untuk mengaktifkan kegiatan Forum Demokrasi berskala internasional ataupun menuntaskan berbagai konflik lokal.

23.6.08

Menengok pertempuran Waterloo

Kawasan ladang pertanian Waterloo, sebelah selatan Brussel, merupakan tempat yang tidak terlupakan bagi Napoleon dan pasukannya. Di tempat inilah pada hari Minggu, 18 Juni 1815 berlangsung pertempuran antara 124 ribu tentara Perancis yang dipimpin langsung oleh Sang Kaisar Napoleon melawan gabungan tentara sekutu Anglo-Belanda, Prusia dan Rusia (200an ribu). Setelah bertempur sengit dan terbuka selama 8 jam, Perancis akhirnya takluk dan Napoleon mundur bersama tentaranya ke Paris.

Peristiwa ini juga sekaligus menjadi kekalahan terakhir Napoleon, karena setelahnya itu ia diasingkan oleh Inggris ke pulau Saint Helena yang berada di lautan Atlantik, sekitar 2000 km dari Afrika. Napoleon menghabiskan waktunya selama 6 tahun terakhir di pulau tersebut, sebelum meninggal pada tanggal 5 Mei 1821.

Menandai peristiwa bersejarah ini, di kawasan Waterloo dapat dijumpai monumen peringatan berbentuk bukit dengan patung Singa menghadap kota Paris di puncaknya. Monumen yang diberi nama Butte de Lion yang dibangun oleh pemerintah Belgia sebagai objek sejarah dan wisata. Selain itu terdapat berbagai monumen lain disekitarnya yang dibangun oleh Inggris, Prusia dan Rusia.

Untuk membangkitkan minat sejarah dan memahami situasi peperangan saat itu serta menarik wisatawan, setiap bulan Juni dilakukan rekonstruksi pertempuran di lokasi sesungguhnya. Dengan membayar 5 euro per orang (dewasa) dan 3 euro (anak-anak), para pengunjung dapat melihat suasana peperangan secara live, termasuk perkemahan para tentara yang dibangun di sekitar kawasan ”pertempuran”.

Sekitar 1.200 sukarelawan berperan sebagai tentara Perancis dan tentara gabungan pimpinan Jenderal Wellington dari Inggris dan Marsekal Blucher dari Prusia. Berbagai atribut pertempuran di tahun 1815 ditampilkan kembali dan dibuat mirip aslinya seperti seragam tentara dan warga setempat yang membantu saat pertempuran, pedang, pistol, senapan, jenis kuda yang ditunggangi, termasuk pula tampilan jenggot dan kumis para pemerannya.

Sejak pukul 8 pagi para penonton sudah memgambil posisi strategis di tepi perladangan yang akan dipergunakan sebagai tempat rekonstruksi. Sekitar pukul 9 ”tentara” yang akan bertempur sudah siap di posisi yang sesuai dengan formasi pertempuran sesungguhnya. Sejam kemudian pertempuran pun dimulai, letusan meriam ditembakkan berulang-ulang, asap mesiu pun mengepul ke udara. Bau mesiu bercampur rumput dan kotoran kuda tercium sangat kental.

Semua kegiatan digarap serius dan dibuat seperti pertempuran sesungguhnya. Selama 2 jam penonton seolah dibawah kembali ke tanggal 18 Juni 1815, ketika Perancis dikeroyok oleh kekuatan sekutu Inggris, Prusia, Rusia, dan Austria, serta didukung Belanda, Spanyol dan Italia.

Mungkin belum terbayangkan pada saat itu, jika sekian puluh tahun kemudian, terutama saat Perang Dunia I dan II, Perancis justru menjadi sekutu negara-negara yang dulu mengeroyoknya. Bahkan Perancis bersama-sama Jerman, Italia Belanda dan Belgia dikenal sebagai negara pendiri Masyarakat Ekonomi Eropa, cikal bakal Uni Eropa saat ini. Semua ini memperlihatkan bahwa tidak ada yang kekal dalam suatu persekutuan, yang abadi justru adalah kepentingan itu sendiri.

6.6.08

Soekarno: Head to a Nation

Judul pada postingan ini diambil dari salah satu judul artikel majalah Newsweek terbitan 15 Februari 1965. Dalam majalah yang menampilkan foto Sukarno alias Bung Karno dalam pakaian kebesarannya, lengkap dengan peci, bintang dan tanda jasa, digambarkan mengenai Bung Karno sebagai seorang tokoh yang memiliki personalitas sangat kompleks. Dengan keflamboyanan dan kharismanya, Bung Karno memimpin Indonesia sebagai salah satu negara yang disegani pada saat itu, tidak saja di kawasan Asia Tenggara, namun juga dunia.

Bagaimana itu bisa terjadi?

Newsweek menyebutkan bahwa pada saat itu, ditengah kekhawatiran Barat terhadap pengaruh Komunis di Asia Tenggara, Pemerintah RI mengumumkan bahwa pada akhir tahun 1965 Indonesia akan memiliki bom atom sendiri. Jika ini terjadi, suatu saat Indonesia akan menjadi salah satu kekuatan nuklir dunia. Dalam pandangan Barat, hal ini tentu saja mengkhawatirkan karena Indonesia juga akan menjadi negara yang dapat mengancam stabilitas dan perdamaian di Asia Tenggara, disamping Komunisme Cina sendiri.

Bagi saya, kondisi tersebut memperlihatkan bahwa Bung Karno sebagai pemimpin negara dan bangsa berpenduduk 100 juta orang (kelima terbesar di dunia) dan sumber daya alam yang berlimpah, menyadari potensi dirinya dan karenanya mempergunakan potensi tersebut untuk menjalankan kebijakan politik luar negeri yang bebas dan aktif dengan tegas dan penuh percaya diri.

Terlepas bahwa Sukarno kemudian terguling pasca G30S/PKI, apa yang dilakukan Bung Karno tersebut sesungguhnya merupakan bagian dari impiannya untuk mewujudkan NKRI yang utuh dari Sabang sampai Merauke. Keberhasilannya mengembalikan Irian Jaya ke pangkuan NKRI, merupakan wujud dari keberhasilannya mendayung diantara dua karang.

Bung Karno yang dilahirkan 6 Juni 1901, mungkin akan merasa sangat bersedih melihat kondisi negara dan bangsa Indonesia saat ini. NKRI terus dicoba digoyang, tidak saja oleh kekuatan eksternal tetapi juga internal. Secara eksternal, memang tidak ada lagi invasi ataupun pendudukan militer asing seperti jaman kolonial, namun serbuan kekuatan dan pengaruh ekonomi telah menjadikan Indonesia seperti negerin tanpa daya.

Sementara secara internal, kentalnya semangat kedaerahan pasca penerapan otonomi daerah menjadikan upaya bersama mempertahankan NKRI menjadi bersifat parsial. Belum lagi semangat yang (katanya) berdasarkan agama, kelompok ataupun golongan, yang justru menimbulkan benturan-benturan yang merugikan kepentingan bersama. Celakanya, hal-hal seperti ini ternyata cenderung terlambat penanganannya.

Bung Karno sendiri memang bukan seorang tokoh yang sempurna. Pada masa ia memerintah, demonstrasi untuk meminta pemerintah menghentikan kenaikan harga pun kerap terjadi dan inflasi membumbung tinggi. Sikapnya pun terkadang menyulitkan bagi hubungan antar negara, termasuk keflamboyanannya terhadap wanita yang terkadang menyulitkan dalam pengaturan protokoler. Namun ketegasannya dan kemampuannya meyakinkan banyak orang (termasuk rakyatnya) dapat dijadikan contoh bagi mereka yang berkeinginan menjadi pemimpin bangsa (harapan ini juga berlaku bagi putri Bung Karno yang masih nekad berkeinginan kembali menjadi Presiden RI).

Selamat ulang tahun kelahiran Bung Karno ke-107. Terima kasih atas jasamu memimpin negeri ini menjadi negara yang merdeka dan berdaulat. Beristirahatlah dengan damai, lupakan A Year of Living Dangerously, doa kami menyertaimu. Doakan pula agar kami semua bisa meneladani hal-hal baik yang telah dilakukan Bung Karno, terutama dalam melaksanakan sila-sila Pancasila yang sudah mulai banyak dilupakan oleh masyarakat Indonesia.

31.5.08

Tintin ke bulan

Bongkar-bongkar lemari karena mau back for good, ketemu kaos lama bergambar Tintin dan Milou dengan kostum astronout. Kaos ini saya beli lebih dari setahun yang lalu saat mengunjungi museum Tintin di Brussel. Seingat saya, kaos ini baru sekali dipakai dan setelahnya langsung parkir di lemari dengan antengnya. Tentu saja kaos tersebut masih sangat apik kondisinya.

Bagi penggemar komik, pastinya mengenal Tintin, seorang wartawan berjambul rekaan George Remi atau Herge, komikus asal Belgia. Herge dengan jeli dan akurat serta coretan yang tegas, menampilkan tokoh Tintin sebagai tokoh wartawan yang gemar berpetualang ke berbagai tempat dunia serta tokoh-tokoh lain yang mendampinginya seperti kapten Haddock yang pemabuk, Profesor Calculus yang budek ataupun detektif kembar Dupont dan Dupond, serta tentu saja anjingnya Tintin, Milou.

Berawal dari cerita pertama mengenai petualangan Tintin ke Uni Soviet yang dimuat di surat kabar Belgia Le Vingtieme Sicle pada tahun 1929, pada buku komik berikutnya diceritakan bahwa Tintin antara lain pergi ke Kongo, Amerika, Mesir, China, Tibet, Australia, termasuk singgah di Jakarta (Vol 714 pour Sydney/Penerbangan 714 ke Sydney).

Hebatnya, selain berpetualang di berbagai kota dunia, Tintin juga pernah menyelami dasar samudra. mendaki Himalaya, dan bahkan pergi ke ruang angkasa dan mendarat di bulan.

Nah pada bagian petualangan ke ruang angkasa dan bulan inilah menurut saya yang paling fenomenal. Dengan detail Herge menggambarkan roket yang dipergunakan ke ruang angkasa, termasuk pembagian ruang pada roket tersebut. Diceritakan pula suasana di ruang angkasa ketika Tintin dan kapten Haddock melayang-layang ketika keluar dari roket atau saat mendarat di bulan.

Gambaran yang disampaikan Herge tentu saja menarik, terutama melihat imajinasi Herge yang dituangkan dalam komik. Ketika buku tersebut di cetak, "objective lune/tujuan ke bulan" (dicetak tahun 1953) dan "on a marche sur la lune/pendaratan ke bulan" (1954), dunia antariksa internasional masih dalam tahapan riset untuk dapat menerbangkan manusia ke ruang angkasa dan mendaratkannya ke bulan. Yuri Gagarin, manusia pertama yang terbang ke luar angkasa dengan roket Vostok 1, baru melakukannya pada tanggal 12 April 1961. Sementara melalui misi Apollo 11, Neil Amstrong dan Edwin Aldrin baru mendarat di tanggal 20 Juli 1969.

Imajinasi yang ditampilkan Herge tampaknya bukan sekedar khayalan semata, melainkan didukung dengan riset yang kuat, sehingga menjadikan ceritanya seperti kejadian sesungguhnya. Membaca Tintin seperti melihat dokumentasi tempat dan peristiwa pada saat itu. Ditambah dengan komentar-komentar lucu tokoh-tokohnya, komik Tintin menjadi menarik dan disukai banyak orang.

21.5.08

Selamat Jalan Bang Ali

Meski lahir dan dibesarkan di Jakarta, namun saya masih kecil ketika Ali Sadikin atau Bang Ali menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Karenanya tidak banyak yang saya ketahui mengenai sepak terjang beliau saat itu. Barulah setelah agak besar saya sedikit mengenal beliau dari berbagai bacaan, setidaknya tahu bahwa Bang Ali merupakan seorang tokoh visioner yang mengembangkan Kota Jakarta.

Dari sekian banyak proyek pembangunan yang dilaksanakannya, yang paling berkesan bagi saya adalah proyek perbaikan kampung yang disebut dengan proyek Mohammad Husni Thamrin (MHT). Melalui proyek MHT kawasan perkampungan yang tadinya becek dan kumuh diperbaiki dan dilengkapi dengan jalan dan gang beraspal serta aliran listrik. Hasilnya, sebagian besar kampung di Jakarta menjadi tertata dalam blok-blok yang berhubungan satu sama lain. Jakarta pun kemudian berkembang dari sebuah kampung besar menjadi Kota Metroplitan.

Tanggal 20 Mei 2008, tepat ketika Indonesia memperingati 100 Kebangkitan Nasional secara meriah, Bang Ali berpulang menghadap Sang Khalik. Tokoh yang oleh Presiden Soekarno disebut sebagai "keras kepala" ini pergi dengan meninggalkan sejumlah besar monumen pembangunan yang manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat, seperti tempat kesenian Taman Ismail Marzuki, kebun binatang Ragunan, Taman Impian Jaya Ancol ataupun gedung Gelanggang Remaja.

Selamat jalan Bang Ali, selamat beristirahat dengan tenang. Semoga disana Bang Ali tidak perlu lagi repot-repot mencari dana legal untuk membangun Jakarta dengan mengijinkan perjudian. Bang Ali juga tidak perlu menandatangani Petisi 50 jilid 2 bersama antara lain dengan Ibu SK Trimurti, yang pada hari yang sama juga menghadap Allah SWT. Semoga juga para pemimpin negeri ini belajar dari keteladanan Bang Ali dan mendorong Pemerintah untuk lebih bersungguh-sungguh memikirkan kepentingan masyarakat yang jauh lebih luas dibandingkan kepentingan kelompok atau perusahaan.

Kembali akan kenangan kepada Bang Ali, seorang rekan semasa SD dan SMA mengirim email sebagai berikut: "Ru, masih inget nggak waktu Bang Ali menyalami sambil mengusap kepala teman-teman pramuka di Pasar Seni Ancol, pada acara perpisahan sebelum beliau melepas jabatan gubernur DKI Jakarta. Di spanduk besar -- kalau tidak salah ingat -- tertulis: "Selamat Jalan Bang Ali - kami akan meneruskan perjuanganmu". Kami itu termasuk kita ngga ya?"

Menyambut pertanyaan rekan saya tersebut, mungkin pertanyaan itu pas untuk kita semua. Ditengah keprihatinan tentang kualitas pemimpin di Indonesia, sosok dan figur Bang Ali, yang tegas dan visioner, seolah menjadi suatu kerinduan tersendiri dan sangat diharapkan kehadiraannya.

Jujur saja, saya sendiri tidak berani mengklaim dapat meneruskan perjuangan yang telah dirintis Bang Ali. Dari segi kapasitas saja jauh berbeda, Bang Ali sudah Mayor Jenderal ketika berusia 37 tahun (bener 37 tahun bukan 47 apalagi 57 tahun), sementara saya masih seorang kuli. Tapi hal itu tentu saja bukan lantas dijadikan sebagai suatu excuse, setidaknya saya berupaya untuk dapat berbuat baik di profesi saya saat ini sebagai sekrup kecil dalam hiruk pikuk pergaulan global. Dengan terminologi perjuangan seperti yang terakhir itu, saya bisa sedikit lega menjawabnya. Bukan begitu?

Foto diambil dari Kompas.

Yang juga kehilangan Paklik Isnogud.

28.1.08

Saatnya pergi dan berpulang

Pak Harto akhirnya pergi dan berpulang menghadap sang pencipta. Ditengah kontroversi, ia pergi meninggalkan sanak keluarga, kerabat, sahabat serta orang-orang yang mencintainya. Ia juga pergi meninggalkan kroni-kroni dan orang-orang yang tidak menyukainya. Ini mungkin saja merupakan suatu yang terbaik baginya. Seperti pepatah China kuno mengatakan: Kematian adalah suatu keberuntungan. Beruntung, karena kematian orang dilepaskan dari segala penderitaannya. Dengan kematian, orang berpulang menuju Tanah Air yang akan memuaskan segala kerinduannya.

Selamat jalan Pak Harto, semoga arwahmu berpulang menuju tanah air yang dapat memuaskan kerinduanmu. Semoga kepergianmu membawa kebaikan bagi negeri kami, baik bagi pemimpin dan masyarakatnya, yang merindukan kesejahteraan, kedamaian dan keadilan secara merata. Semoga pencapaian yang baik bagi negeri ini dapat diteruskan dan ditingkatkan demi kebaikan bersama seluruh bangsa. Sementara kegagalan-kegagalan yang menyertainya hendaknya menjadi pelajaran berharga agar tidak terulang kembali. Soal tempatmu dalam sejarah Indonesia dan tentu saja berbagai kontroversinya, biarlah menjadi tugas yang masih hidup dan generasi penerus untuk menuntaskan, mencatat dan menuliskannya.

Keterangan foto: Tempat untuk menyatakan bela sungkawa yang telah dipersiapkan beberapa minggu lalu.

25.1.08

Akankah White House menjadi Black House

Nama Barrack Obama sedang moncer di AS. Dalam pemilihan awal calon Presiden dari Partai Demokrat di Iowa tanggal 3 Januari 2008, ia berhasil menaklukkan Hillary Clinton. Kemenangannya tersebut tentu saja memunculkan optimisme di kalangan pendukungnya mengenai kemungkinan Obama terpilih sebagai calon presiden dari Partai Demokrat. Pendukungnya optimis bahwa Obama mampu menyisihkan calon kuat lainnya, Hillary Clinton.

Kalau saja Obama terpilih sebagai calon Partai Demokrat dan kemudian mampu mengalahkan calon dari Partai Republik, maka ia akan menjadi presiden berkulit hitam yang pertama di AS. Sebagai Presiden AS, pastinya ia akan berdiam di Gedung Putih, tempat tinggal presiden dan keluarganya selama menjabat, yang sekaligus juga sebagai kantor kepresidenan. Pertanyaannya adalah apakah Obama kemudian akan tetap menggunakan nama Gedung Putih (White House) untuk tempat tinggalnya yang baru tersebut atau menyesuaikannya dengan nama lain, misalnya Black House?



kartun dari sini

3.2.07

Hu or Who

When you pronounce “Who is leading China?” or “Hu is leading China”, are you sure that the persons who are listening could notice that those two sentences have different meaning? In the beginning, I believe that it will be uneasy to distinguish those sentences, particularly if your are a foreigners. But don’t worry. You are not the only one.

The following conversation between US President, George Bush, and his Secretary of State, Condoleeza Rice, proved that even the President, who speak English as mother language, could also have misinterpretation. It was happened in White House, the Oval Office, when President Bush received telephone call from Rice:

George Bush: Condi! Nice to see you. What's happening?
Condoleeza Rice (Condi): Sir, I have the report here about the new leader of China.
George: Great. Lay it on me.
Condi: Hu is the new leader of China.
George: That's what I want to know.
Condi: That's what I'm telling you.
George: That's what I'm asking you. Who is the new leader of China?
Condi: Yes.
George: I mean the fellow's name.
Condi: Hu.
George: The guy in China.
Condi: Hu.
George: The new leader of China.
Condi: Hu.
George: The Chinaman!
Condi: Hu is leading China.
George: Now whaddya' asking me for?
Condi: I'm telling you Hu is leading China.
George: Well, I'm asking you. Who is leading China?
Condi: That's the man's name.
George: That's who's name?
Condi: Yes.
George: Will you or will you not tell me the name of the new leader of China?
Condi: Yes, sir.
George: Yassir? Yassir Arafat is in China? I thought he was in the Middle East.
Condi: That's correct.
George: Then who is in China?
Condi: Yes, sir.
George: Yassir is in China?
Condi: No, sir.
George: Then who is?
Condi: Yes, sir.
George: Yassir?
Condi: No, sir.
George: Look, Condi. I need to know the name of the new leader of China. Get me the Secretary General of the U.N. on the phone.
Condi: Kofi?
George: No, thanks.
Condi: You want Kofi?
George: No.
Condi: You don't want Kofi.
George: No. But now that you mention it, I could use a glass of milk, and then get me the U.N.
Condi: Yes, sir.
George: Not Yassir! The guy at the U.N.
Condi: Kofi?
George: Milk! Will you please make the call?
Condi: And call who?
George: Who is the guy at the U.N?
Condi: Hu is the guy in China.
George: Will you stay out of China?!
Condi: Yes, sir.
George: And stay out of the Middle East! Just get me the guy at the U.N.
Condi: Kofi.
George: All right! With cream and two sugars. Now get on the phone.
(Condi picks up the phone.)
Condi: Rice, here.
George: Rice? Good idea. And a couple of egg rolls, too. Maybe we should send some to the guy in China. And the Middle East. Can you get Chinese food in the Middle East?

Source: James Sherman

24.1.07

Anjing di ruang pertemuan

Kira-kira apa yang anda bayangkan jika seorang presiden sedang menerima tamu resmi negara, dan diliput banyak wartawan, tiba-tiba saja ada anjing peliharaan nyelonong masuk ke ruang pertemuan?

Mungkin anda membayangkan akan munculnya kehebohan dan kesibukan untuk segera mengeluarkan sang anjing yang berani-beraninya nyelonong tanpa permisi. Kemudian anda juga membayangkan bahwa pada akhir pertemuan akan ada kemarahan dari sang presiden terhadap petugas penjaga ataupun petugas protokol yang membiarkan sang anjing berlalu lalang.

Bayangan anda tersebut tidak sepenuhnya keliru, karena kemunculan seekor anjing pada suatu pertemuan tingkat kepala negara merupakan suatu hal yang tidak lajim. Biasanya pertemuan semacam ini telah dipersiapkan dengan seksama jauh-jauh hari, bukan hanya agenda pertemuan saja yang dibicarakan, tetapi juga tetek bengek lainnya yang terkait dengan aspek keamanan dan protokoler. Jadi kalau tiba-tiba saja ada seekor anjing masuk ke ruang pertemuan, tentu saja kesalahan layak ditujukan ke petugas keamanan dan protokol sebagai orang yang seharusnya mengamankan dan melancarkan jalannya pertemuan.

Saya meminta anda membayangkan hal di atas karena saya baru saja membaca berita yang dimuat AFP mengenai masuknya anjing peliharaan Presiden Rusia, Vladimir Putin, ke ruang pertemuan. Kejadian tersebut terjadi justru di saat sang presiden sedang menerima mitranya, Kanselir Jerman, Angela Merkel, di tempat peristirahatannya di Sochi (kawasan laut Hitam). Masuknya anjing peliharaan Putin yang bernama Koni (Connie) ini tentu saja menyela pertemuan serius antara Putin dan Merkel. Lagi asyik-asyiknya mereka ngomongin ”substansi” seperti masalah keamanan energi Uni Eropa, diplomasi Timur Tengah dan nuklir Iran, eh enak saja si Koni masuk dan mengendus-endus, termasuk duduk di dekat Merkel (lihat foto).

Menyadari bahwa Kanselir Merkel agak risi dengan kehadiran sang anjing, secara halus Putin berupaya menjauhkan anjing tersebut dari sisi Merkel sambil berujar ”saya tidak berpikir bahwa anjing ini akan menakutkan anda. Ia tidak akan melakukan hal yang buruk. Ia menyukai wartawan”. Merkel yang kemudian merasa lebih tenang, mencoba bertanya mengenai usia anjing tersebut dan dijawab oleh Putin bahwa anjing tersebut berusia lima tahun. Dan kemudian ditimpali oleh Merkel sebagai usia yang tidak terlalu tua bagi seekor anjing.

Lalu siapa sebenarnya Koni ini, kok sampai bisa keluar masuk dengan leluasa di ruang pertemuan presiden? Koni merupakan anjing peliharaan Putin jenis Labrador, yang dikenal sebagai anjing yang bersahabat, pintar, energetik dan bentuknya bagus. Di Rusia, Koni dikenal karena sering muncul pada acara-acara resmi kepresidenan, bahkan seringkali pula berdiri mendampingi Putin saat berbicara dalam berbagai kesempatan dengan wartawan, politisi ataupun anggota masyarakat lainnya di istana Kremlin. Terkadang karena akrabnya, tidak jarang para wartawan menyodorkan makanan kecil seperti biskuit.

Keterkenalan Koni ini pula lah yang kemudian mendorong Irina Borisova menulis buku Connie’s Stories yang diterbitkan Detskaya Literatura, penerbit buku anak-anak tertua sejak jaman Uni Soviet. Melalui buku ini, Borisova mencoba menggambarkan bagaimana perhatiannya Koni terhadap tuannya, simak kutipannya ”saya tidak ingin tuanku marah atau tidak suka kepada saya. Saya senang saat tuanku ramah kepadaku. Bow wow!”. Selain itu digambarkan pula kedekatan hubungan Koni dengan tuannya, seperti tampak dari kutipan berikut ”tuanku mengajak saya ketika pergi ke kantor. Menyenangkan tidur di karpet. Coba lah, saya yakin anda akan menyenanginya”.

Dengan gambaran kedekatan Koni dan tuannya seperti tersebut di atas, bayangan bahwa Putin akan memarahi pembantu-pembantunya tampaknya tidak akan terjadi. Dibiarkannya Koni masuk ruangan pertemuan, karena ia memang sudah terbiasa untuk itu, dan Putin pun akan senang hati memperkenalkan anjingnya kepada sang tamu. Kalau di istana Kremlin aja Koni bisa hadir, apalagi kalau pertemuan dilangsungkan di tempat peristirahatan presiden di Sochi. So pasti Koni bisa bebas keluar masuk. Bow wow!.

29.9.06

dr. Roebiono Kertopati

Kalau menyebut nama dr. Roebiono Kertopati, tentu tidak banyak orang yang mengenalnya, termasuk juga saya. Saya mengenal nama dr. Roebiono ketika saya diterima sebagai salah satu mahasiswa perguruan tinggi kedinasan pada tahun 1984. Saat itu saya baru mengetahui bahwa beliau ternyata merupakan dokter tentara berpangkat mayor jenderal sekaligus pendiri dan kepala Lembaga Sandi Negara (LSN). Beliau baru saja berpulang ke Rakhmatullah beberapa bulan sebelum angkatan saya diterima. Selama mengikuti pendidikan hingga selesai dan bahkan setelah bekerja pun, tidak banyak informasi tambahan yang saya peroleh mengenai beliau. Sedikit informasi tambahan adalah bahwa selain menjadi Kepala LSN, beliau juga Ketua Tim Dokter Kepresidenan Soeharto.

Selama bertahun-tahun kemudian saya tidak pernah merasa terusik mengenai informasi dr. Roebiono. Namun saya menjadi tergugah untuk mencari tahu lebih jauh saat seorang rekan berkomentar dalam tulisan saya “Pesona Wikipedia”. Menurut rekan saya tersebut, ia “merasa” kenal nama dr. Roebiono Kertopati, tetapi ketika mencoba mencari di mesin pencari Wikipedia, ternyata ia tidak berhasil menemukan nama tersebut. Untuk itu saya mencoba menelusuri sumber-sumber terbuka untuk mengetahui seberapa populer rating nama dr. Roebiono Kertopati. Instrumen pertama yang dipergunakan untuk melakukan penelusuran adalah Wikipedia itu sendiri. Dari hasil penelusuran di Wikipedia, diketahui bahwa terdapat sedikit keterangan mengenai dr. Roebiono yang menyebutkan bahwa beliau merupakan Kepala LSN pertama merangkap dokter kepresidenan RI pada masa presiden Soekarno.

Selanjutnya saya menggunakan jasa baik Direktorat Jenderal Google untuk menelusuri nama beliau. Dengan mengetik “Roebiono Kertopati” pada mesin pencari Google diperoleh 14 item yang menyebut nama beliau. 6 item mengaitkan nama beliau pada peristiwa G30S/PKI karena perannya sebagai salah satu dokter yang mengotopsi jenazah pahlawan revolusi. 2 item merupakan tulisan dalam sebuah blog yang menyebutkan kedudukan beliau sebagai dokter tentara, ahli radiologi dan Wakil Ketua tim Pelayanan Medis bagi mantan Presiden Soekarno yang saat itu dikenakan tahanan rumah di Wisma Yaso. Hal yang menarik, informasi dalam blog ini juga menyebutkan bahwa dr. Roebiono juga merupakan mantan staf pembantu Nefis, dinas intelijen Belanda. Selanjutnya pada 6 item terakhir merupakan kliping berita kegiatan LSN yang mengutip nama beliau selaku pendiri LSN. Instrumen lainnya adalah situs Tokoh Indonesia, yang hasilnya ternyata nihil.

Wah ternyata tidak mudah mencari data agak lengkap mengenai beliau. Mungkin karena beliau seorang Perwira Intelijen sehingga datanya tidak bisa diperoleh di website. Bahkan meskipun hanya terkait dengan informasi dasar seperti tanggal dan tahun kelahiran atau kapan tepatnya beliau memimpin LSN. Suatu informasi dasar yang mungkin bisa diperoleh jika seandainya LSN memiliki website dan memasukkannya dalam menu sejarah LSN.

Terlepas dari itu semua, catatan yang bisa ditulis adalah perlunya mempelajari sejarah persandian, baik saat pendidikan ataupun sesudahnya melalui literatur. Di tingkat pendidikan mungkin dapat disampaikan materi mengenai sejarah persandian yang bersifat interaktif. Saya baca di media, hal ini nampaknya sudah dilakukan untuk STSN, antara lain dengan mengunjungi museum persandian di Yogyakarta. Ke depan, bisa juga diterapkan pada berbagai tingkatan pendidikan persandian lainnya. Sedangkan mengenai literatur sejarah persandian, kalau tidak salah pada awal tahun 1990 pernah dilakukan penyusunan buku sejarah persandian. Namun terus terang saya tidak tahu nasib dan kelanjutan buku tersebut. Kalau memang buku tersebut masih ada, alangkah baiknya disosialisasikan kembali. Karena saya yakin banyak yang tidak memahami sejarah persandian, ya termasuk saya.