Showing posts with label dunia. Show all posts
Showing posts with label dunia. Show all posts

17.10.10

Merayakan Keragaman di Era Global

Bagi anak-anak muda tahun 1990-an, nama Maribeth Pascua tentunya bukanlah nama yang asing di Indonesia. Lewat tembang “Denpasar Moon” yang dirilis pada tahun 1993, nama Maribeth melejit dan populer di Indonesia. Sejak itu ia pun lebih banyak menetap di Indonesia dan berkeinginan menjadikan negeri ini sebagai tanah airnya yang baru. Setiap tahun ia memperpanjang izin tinggalnya dan tanpa terasa sudah lebih dari 20 tahun ia tinggal di Indonesia.

Sementara itu penyanyi kelahiran Indonesia Anggun C. Sasmi yang terkenal dengan lagunya “Tua-tua Keladi”, pada usia muda telah melanglang buana ke Eropa dan tinggal di Perancis untuk mengejar mimpinya menjadi penyanyi internasional. Anggun telah berhasil meraih mimpinya dan sekarang lebih banyak tinggal di Perancis untuk terus mengembangkan karirnya.

Maribeth dan Anggun pastinya tidak pernah janjian untuk sama-sama mengembangkan karir di luar tanah airnya. Tapi ada kesamaan di antara keduanya yaitu sama-sama menjadi penduduk dan warga global dengan keragaman bahasa, budaya, suku bangsa dan tempat kelahiran. Aktivitas dan mobilitas keduanya telah menembus tapal batas negara dan memperlihatkan betapa dunia ini semakin kecil, dapat dijangkau secara langsung maupun melalui media tevisi dan internet serta menyajikan fakta sosial bahwa keragaman itu suatu kenyataan yang tak terbantahkan.

Keragaman sudah ada sejak kita memulai aktivitas keseharian. Saat mandi pagi, kita bertemu dengan beragam peralatan mandi mulai dari pasta gigi, shampoo, sabun, gayung atau pancuran dengan berbagai merk yang menyatu sebagai bagian dari perlengkapan kamar mandi. Ketika sarapan pagi, misalnya sarapan nasi goreng, kita akan bertemu dengan beragam unsur yang menyatu di dalam piring. Begitupun ketika berangkat ke kantor dan menumpang kendaraan umum, kita akan bertemu dengan beragam penumpang yang berasal dari berbagai suku dan profesi. tua dan muda Singkat kata, dunia sekitar kita selalu menyajikan realitas yang penuh warna dan beragam.

Di dunia maya, keragaman juga terjadi, bahkan tidak lagi mengenal batasan wilayah secara fisik seperti di dunia nyata. Berawal dari saat membeli dan menggunakan komputer, kita sudah dihadapkan pada pemilihan penggunaan sistem operasi yang beragam, apakah berbasis windows atau open source seperti Linux. Begitu terhubung dengan internet, kita pun dihadapkan pada keragaman perambah (browser) untuk menjelajah dunia maya seperti Internet Explorer, Firefox, Flock dan sebagainya.

Ketika sudah berada di dunia maya, keragaman lebih terasakan lagi karena kita bisa menemukan jutaan situs dan milyaran informasi yang berserakan di sana sini. Lewat internet kita bisa berkomunikasi dengan banyak orang dari berbagai penjuru dunia tanpa mengenal batasan ruang dan waktu. Kita yang berada di Indonesia bisa menyapa dan berdiskusi dengan seseorang yang berada di belahan bumi lain tanpa harus meninggalkan tempat. Semua ini memperlihatkan bahwa globalisasi telah menghapuskan batasan geografis dan pada saat bersamaan menyatukan masyarakat yang sebelumnya terpencar-pencar dan terisolasi kedalam saling ketergantungan dan persatuan dunia.

Karenanya sikap seseorang atau sekelompok orang yang merasa terganggu dengan dengan adanya keragaman dan karenanya berupaya untuk memberlakukan penyeragaman dan menghindari kemajemukan dalam kehidupan sehari-hari akan menjadi tindakan yang sia-sia dan melelahkan diri sendiri. Memunculkan sikap pemahaman yang berbeda menyangkut keragaman dalam kehidupan bermasyarakat tidak akan mengubah keadaan.
Keragaman di era global dewasa ini akan terasa indah kalau saja kita bisa menikmati dan merayakannya dengan disertai sikap saling menghargai, saling belajar, dan semuanya memiliki ketulusan dan kesungguhan untuk selalu menegakkan kebaikan, keadilan, dan kasih sayang.

Maribeth dan Anggun menikmati keragaman dengan antara lain bersikap saling menghargai dan belajar bahasa, adat istiadat dan budaya setempat serta menghormati dan mematuhi peraturan dimana mereka tinggal. Maribeth misalnya, meski permohonannya untuk menjadi WNI belum disetujui, ia tetap rajin mempelajari bahasa-bahasa daerah yang dikunjunginya selain tentu saja mempelajari bahasa Indonesia. Ia sekarang sudah cukup mahir berbahasa Indonesia meski terkadang masih sering dicampur dengan bahasa Inggris. Sementara Anggun selain mempelajari bahasa Inggris, ia juga belajar bahasa dan budaya Perancis dengan sungguh-sungguh. Hasilnya bisa dilihat dimana ia kini fasih berbahasa Inggris dan Perancis. Selain itu Anggun juga aktif bergaul dengan masyarakat sekitarnya dan tidak melupakan identitas keindonesiannya.

Dari sisi professional, keduanya terus melatih kemampuannya sebagai penyanyi dan berkompetisi untuk tetap bertahan di dunia hiburan internasional dengan cara yang jujur. Keduanya memiliki kesamaan komitmen untuk mematuhi peraturan, menghibur penonton, dan menunjukkan penampilan terbaiknya. Mereka bersikap pluralis dengan menumbuhkan dan membiasakan dalam diri seseorang untuk bisa menerima kehadiran yang lain serta menghargai.

Demikianlah, keragamaan di era global dimaknai dengan kerendahan hati sehingga keragamaan budaya, bahasa, dan agama lalu menjadi sebuah festival yang dirayakan bersama tanpa kehilangan gairah dan kegigihan untuk selalu menemukan dan mengalami kebenaran demi kebenaran. Semangat merayakan keragaman semacam ini bukan semata domain orang-orang yang ingin go internasional tetapi mestinya merupakan domain semua orang, termasuk blogger. Bahkan bagi seorang blogger, semangat merayakan keragaman di era global sudah merupakan keharusan. Bukankah ketika bersilancar di dunia maya dan menuliskan opini-opininya di blog, blogger telah menjadi warga global. Tidak ada lagi sekat-sekat bahasa, budaya atau letak geografis yang membatasi seorang blogger. Apa yang dituliskan seorang blogger dan dipublikasikan, maka akan menjadi domain publik yang siap dibaca kapan pun.

Dengan semangat keragaman seperti tersebut di atas, maka spirit merayakan keragaman dalam Pesta Blogger ke-4 yang akan berlangsung pada tanggal 30 Oktober 2010 di Jakarta, hendaknya diikuti dengan kerendahan hati dan menghilangkan sekat-sekat perbedaan. Makna Pesta Blogger hendaknya bukan sekedar semangat untuk menjadikannya sebagai sebuah ajang kopi darat (kopdar) besar-besaran dengan melibatkan beragam komunitas online,

Pesta Blogger hendaknya justru dijadikan sebagai upaya untuk memelihara semangat peduli dan berbagi lewat blog. Dengan semangat merayakan keragaman, semangat ngeblog hendaknya tetap terpelihara dan syukur-syukur bisa menular ke anggota masyarakat lainnya. Apa yang dituliskan seorang blogger yang hadir di Pesta Blogger hendaknya bukan sekedar tentang pesta itu sendiri, tetapi lebih luas dari itu, menularkan semangat keragaman ke lingkungan di sekitarnya. Akhirnya, walau tidak ada larangan, sebaiknya jangan ngaku blogger kalau tidak pernah lagi peduli dan berbagi lewat blog dan secara berkala memperbarui blognya.


15.1.09

Melongok Teladan Pemimpin Negeri Paman Sam

Semakin dekat pemilu, semakin banyak pula orang yang mempertanyakan prilaku para calon wakil rakyat ataupun presiden dalam memberikan keteladanan bagi rakyat, dalam hal ini sikap ksatria untuk mengakui kekalahan. Pengalaman pemilu 2004 memperlihatkan bahwa meskipun pemilu usai, tapi perseteruan antar calon masih terus berlangsung.

Dalam tulisan sebelumnya, Belajar dari John McCain, saya sudah menyinggung masalah ini. Secara kebetulan pula, beberapa hari yang lalu 3 mantan Presiden AS, Presiden George W Bush Jr dan presiden terpilih Barack Obama berkumpul bersama. Dua pristiwa sangat menarik perhatian dan kiranya perlu juga disimak dengan seksama oleh para calon wakil rakyat dan presiden di Indonesia. Tentu saja akan timbul polemik, kenapa AS, memangnya demokrasi mereka yang paling baik?

Hanya dalam hitungan hari, Presiden George W Bush Jr akan mengakhiri jabatannya dan meninggalkan Gedung Putih. Namun sebelum saat itu tiba, Bush mengadakan makan siang dengan 3 mantan Presiden AS dan presiden terpilih Obama. Meski usulan pertemuan tersebut datang dari Obama saat bertemu pada November 2008, namun kesediaan Bush untuk bereuni sambil makan siang tentu saja layak diapresiasi. Boleh jadi Bush Jr dipandang memiliki kinerja buruk saat memimpin AS, tapi dalam hal memelihara silahturahmi dan jejaring dengan mantan dan calon presiden mendatang tampak tidak kalah dengan para pendahulunya.

Dari foto-foto pertemuan, terlihat para mantan presiden, presiden incumbent dan presiden terpilih tersenyum penuh arti dalam suasana penuh keakraban. Dalam pertemuan tersebut mereka saling bertukar pengalaman dalam hal mengelola dan memimpin negara. Pertukaran pengalaman yang menarik dan tentu saja sangat bermanfaat bagi Obama yang akan meneruskan estafet kepemimpinan di AS untuk 4 tahun ke depan.

Melihat suasana pergantian presiden di AS dan menoleh ke suasana pergantian presiden di Indonesia, tampak adanya perbedaan yang sangat jelas. Soekarno meninggalkan Istana Negara dengan tergesa-gesa pasca G-30-S/PKI dan oleh penggantinya ditempatkan di dalam tahanan rumah hingga ajal menjemput. Soeharto meninggalkan Istana Negara segera setelah mengumumkan pengunduran dirinya dan sampai akhir hayatnya tidak pernah terlihat adanya perjumpaan dengan BJ Habibie yang menjadi penggantinya. BJ Habibie sendiri pun meninggalkan Istana Negara tanpa sempat mengadakan “pesta perpisahan”. Gus Dur nasibnya juga tidak lebih baik, meninggalkan istana dengan tergesa-gesa setelah “dilengserkan” DPR. Sementara Megawati yang kalah dari SBY, meninggalkan Istana Negara tanpa sempat berjabat tangan dengan SBY, bahkan hingga kini.

Bicara tentang kekalahan, John McCain dapat digunakan sebagai contoh yang baik. Segera setelah mengetahui bahwa ia gagal membendung Obama ke Gedung Putih, McCain menghubungi Obama untuk mengakui kekalahannya dan mengucapkan selamat. Tidak hanya itu, McCain pun meminta para pendukungnya untuk melupakan perseteruan saat kampanye dan mendukung Obama sebagai pemimpin masyarakat AS yang baru. Sementara di Indonesia, calon presiden yang kalah tetap tidak mau mengakui kekalahannya, bahkan hingga kini.

Orang boleh bilang bahwa Bush ataupun McCain bisa bersikap seperti tersebut di atas, karena kehidupan berdemokrasi di AS telah berlangsung lama, sehingga sikap dan kehidupan berdemokrasi telah menjadi bagian dalam kehidupan bermasyarakat.

Kalau saja pandangan di atas dipergunakan sebagai pembenaran, berarti kita masih memerlukan waktu puluhan tahun atau bahkan ratusan tahun lagi untuk hanya sekedar bersikap kesatria. Pertanyaannya kemudian adalah apakah memang harus demikian?

Mungkinkah Pemilu tahun 2009 bisa dijadikan titik untuk lebih memperkokoh jalan demokrasi yang telah kita tempuh? Tidak ada lagi gontok-gontokan menjelang dan pasca pemilu? Yang kalah mengakui kekalahannya dan memberikan dukungan sepenuhnya. Adapun yang menang menghormati yang kalah ?

Harapannya adalah para calon yang bersaing dapat saling menghormati satu sama lain, baik saat menjelang pemilihan ataupun sesudahnya. Demikian pula para pendukungnya, saat mengetahui jagoannya kalah, mereka tidak saling adu jotos, apalagi sampai merusak. Dan yang juga tidak kalah indahnya, ketika pemilu berakhir, dengan penuh kesadaran para calon yang terpilih maupun yang tidak terpilih membersihkan kembali atribut-atribut yang pernah dipasangnya saat kampanye. Membersihkan kembali lingkungan di sekitarnya sehingga sedap dipandang mata. Semoga.

Karikatur oleh Prabu diambil dari SINI


8.1.09

Menanti Diplomasi Obama di Gaza

KEMANA Presiden AS terpilih Barack Obama ketika konflik Palestina-Israel semakin memanas? Ketika para pemimpin dunia ramai-ramai mengecam aksi Israel dan membawa permasalahannya ke Sidang Dewan Keamanan PBB (DK PBB), Obama seperti melakukan diplomasi kebatinan dan membiarkan pemerintahan transisi Presiden Bush untuk tetap mengambil keputusan yang membela agresi Israel dan memveto rancangan resolusi DK PBB mengenai gencatan senjata di Jalur Gaza. Alasannya, hingga tanggal 20 Januari mendatang, Presiden AS masihlah George Bush.

Gerah dikritik banyak pihak, pada akhirnya Obama keluar dengan pernyataan keprihatinan yang mendalam pada situasi di Jalur Gaza. Ia pun merespon dengan menjanjikan upaya yang efektif dan konsisten dalam menyelesaikan konflik di Timur Tengah. Pernyataannya ini sekaligus juga untuk menyangkal anggapan bahwa ia bersikap inkonsisten, berkomentar saat terjadi serangan teroris di Mumbai dan perlunya paket stimulus ekonomi, namun diam dalam masalah Palestina-Israel.

Bahwa masyarakat internasional menantikan sabda Obama kiranya dapat dimengerti mengingat besarnya peran dan pengaruh negara adidaya tersebut dalam mendukung terciptanya proses perdamaian di Timur Tengah. Selain itu, negeri Paman Sam tersebut merupakan sekutu dekat Israel.

Namun masyarakat internasional memang tetap harus bersabar, setidaknya selama dua pekan ke depan, untuk melihat penyelesaian konflik secara damai yang melibatkan AS. Sementara Israel dengan cerdik memanfaatkan situasi untuk menggempur Hamas di Jalur Gaza dan membunuhi penduduk sipil di kawasan itu.

Dalam kondisi seperti ini, muncul kekhawatiran terkait kesungguhan pemerintah Obama untuk mengedepankan dialog dan negosiasi dalam penyelesaian persoalan Palestina-Israel pada pokok persoalan yakni penjajahan suatu bangsa atas bangsa lain. Terdapat kekhawatiran pula bahwa Obama akan tetap mengedepankan kebijakan negaranya yang pro-Israel.

Kekhawatiran bahwa Obama akan tetap mempertahankan kebijakan pro-Israel cukup beralasan jika melihat pernyataan-pernyataannya saat pemilu. Di depan American Israel Public Affairs (AIPA) Committee, yang dikenal juga dengan Lobby Israel, pada tanggal 4 Juni 2008 Obama menyatakan: “I want you to know that today I’ll be speaking from my heart, and as a true friend of Israel. And I know that when I visit with AIPAC, I am among friends. Good friends. Friends who share my strong commitment to make sure that the bond between the United States and Israel is unbreakable today, tomorrow and forever.”

Pernyataan senada juga disampaikan saat berkunjung ke Sderot, kota yang berdekatan dengan Jalur Gaza, 22 Juli 2008. Pada kunjungan tersebut Obama menyatakan komitmennya untuk mendukung setiap upaya Israel untuk mempertahankan diri. Suatu pernyataan yang tentu saja melegakan Israel.

Dengan pernyataan sikap seperti itu, saat Obama memasuki Gedung Putih ia akan dihadapkan pada tantangan untuk segera mendapatkan solusi damai, yang tidak mencederai janjinya saat kampanye namun tidak merugikan kepentingan Palestina. Suatu pencapaian yang tidak mudah mengingat eskalasi ketegangan dan masih adanya polarisasi antar kelompok yang bertikai, baik di kalangan Palestina sendiri maupun Israel.

Namun dibandingkan para pendahulunya, Obama tampaknya memiliki cukup modalitas untuk menyelesaikan konflik Palestina-Israel. Melalui perundingan dan pembicaraan politik yang panjang dan melelahkan, mulai dari Konperensi Madrid 1991 hingga Annapolis, serta sejumlah inisiatif yang diluncurkan, Obama memiliki cukup bahan untuk memetakan hasil kesepakatan yang ingin dicapai, misalnya saja solusi mengenai pembentukan dua negara yang berdaulat.

Kalau saja Obama bisa segera merumuskan dan mengimplementasikan kebijakan luar negerinya di Timur Tengah, maka tidak akan banyak lagi korban sipil yang berjatuhan di Jalur Gaza dan tragedi kemanusiaan serupa tidak akan terulang lagi di masa mendatang. Diplomasi Obama dan Menlu Hillary Clinton pun akan dapat difokuskan pada penyelesaian persoalan Palestina-Israel pada pokok persoalan yakni penjajahan suatu bangsa atas bangsa lain.

Postingan ini dapat pula dibaca di Kompasiana.com

6.11.08

Belajar dari McCain

Kekhawatiran bahwa Barack Obama akan kalah karena efek Bradley (perbedaan hasil polling dengan hasil pemilu) akhirnya tidak terjadi. Obama menang dengan sangat meyakinkan. Hal tersebut tentu saja disambut hangat, tidak saja oleh warga AS tetapi juga masyarakat di belahan dunia lainnya, termasuk Indonesia.

Dibalik eforia kemenangan Obama, tentu saja banyak pelajaran dan hikmah yang dapat dipetik, misalnya saja bagaimana pada akhirnya masyarakat AS menentukan pemimpinnya tanpa bias rasial atau bagaimana suatu upaya yang disertai kerja keras, doa dan tentu saja lingkungan yang kondusif dapat merubah mimpi menjadi kenyataan.

Namun ternyata bukan dari Obama saja kita bisa belajar, dari Senator John McCain yang dikalahkan Obama pun banyak hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik.

The fault is mine, not yours” begitu pernyataan John McCain di depan para pendukungnya. Suatu pernyataan yang memperlihatkan sikap kesatria McCain untuk segera mengakui kekalahannya. Meski tersenyum, terlihat sekali bagaimana McCain berusaha menutupi kekecewaannya dan bahkan berupaya menenangkan pendukungnya. McCain jelas memberikan contoh bahwa kekalahan dalam proses demokrasi tidak harus disikapi dengan kekerasan, melainkan disikapi dengan ksatria.

Tidak sekedar mengakui kesalahan di depan pendukungnya, McCain pun segera menghubungi Obama dan memberikan ucapan selamat atas kemenangannya. Ia pun kemudian meminta pendukungnya untuk mendukung Obama sebagai pemimpin mereka yang baru.

Suatu kondisi yang kontras jika dibandingkan dengan situasi di Indonesia. Ketika pilpres 2004, calon yang kalah tidak mau mengakui kekalahannya, bahkan hingga kini. Sementara di berbagai pilkada, calon yang kalah dan pendukungnya, jika tidak menyerang setidaknya melapor ke KPU dengan tuduhan lawannya telah melakukan kecurangan.

Orang boleh bilang bahwa McCain bisa bersikap seperti itu karena kehidupan berdemokrasi di AS telah berlangsung ratusan tahun, sehingga sikap berdemokrasi telah menjadi bagian dari kehidupan warganya.

Kalau saja premis di atas yang dipergunakan sebagai pembenaran, berarti kita masih memerlukan waktu puluhan tahun atau bahkan ratusan tahun lagi untuk hanya sekedar bersikap kesatria. Pertanyaannya kemudian adalah apakah memang harus demikian?

Mungkinkah Pemilu tahun 2009 mendatang bisa dijadikan titik untuk mengukuhkan jalan demokrasi yang telah kita tempuh? Tidak ada lagi gontok-gontokan menjelang dan pasca pemilu? Yang kalah mengakui kekalahannya dan yang menang menghormati yang kalah ?