Showing posts with label Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Indonesia. Show all posts

22.6.11

Station Kranji

Baca judul postingan ini sebaiknya anda tidak membayangkan bahwa saya akan membuat postingan dalam bahasa Inggris. Judul di atas saya ambil dari nama jalan menuju stasiun kereta di Kranji. Nama jalan tersebut ditulis gado-gado, antara bahasa Indonesia dan Inggris. Coba saja tengok, kata “Jalan” menggunakan bahasa Indonesia dan di singkat menjadi JL, sementara nama jalannya sendiri menggunakan kata dalam bahasa Inggris “Station Kranji”. Selanjutnya “Kode Pos” ditulis kembali dalam bahasa Indonesia.

Dalam postingan saya terdahulu, Membaca Rambu Berbahasa Inggris di Bekasi, saya mengatakan bahwa tidak ada yang keliru dengan penggunaan rambu lalu lintas dalam bahasa Indonesia dan Inggris tersebut, karena hal tersebut justru memperlihatkan sikap tanggap Pemerintah Kota dalam merespon perkembangan di kota Bekasi. Sebagai salah daerah yang berbatasan langsung dengan wilayah ibukota DKI Jakarta, saat ini memang telah mengalami kemajuan yang begitu pesat. Infrastruktur, sarana dan prasarana terus dibenahi guna terus menggulirkan roda perekonomian dan memberikan kenyamanan bagi warga penghuninya. Kondisi ini tak pelak menjadikan Bekasi sebagai daerah penyeimbang Jakarta, yang perkembangannya tidak ketinggalan dengan ibu kota negara.

Kita ambil saja hikmah positifnya dari adanya rambu dua bahasa tersebut adalah terdorongnya pemahaman warga Bekasi mengenai perkembangan kotanya menjadi sebuah kota internasional. Untuk itu warga Bekasi pun tampaknya sudah harus membiasakan diri berbahasa Inggris agar tidak kagok jika berbicara dengan orang asing yang menggunakan bahasa tersebut.

Jadi kalau lain kali melihat banyak rambu lalu lintas atau nama jalan di Bekasi ditulis dalam bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya, jangan langsung memarahi pemerintah kota atau kabupaten. Bayangkan saja kita sedang berada di Singapura, London atau New York ketika melihatnya (walau kadang sulit jika kita belum pernah mengunjungi kota-kota tersebut).

2.6.11

Gedung Pancasila

Tanggal 1 Juni dikenal sebagai hari kelahiran Pancasila. Pada tanggal ini, 66 tahun yang lalu, tepatnya 1 Juni 1945, Soekarno menyampaikan pidatonya yang terkenal mengenai lima dasar negara Indonesia Merdeka yang kemudian dikenal sebagai Pancasila.

Soekarno menyampaikan pidatonya dihadapan rapat Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang dipimpin Dr. KRT Radjiman Wedyodiningrat, dibantu dua Wakil Ketua yaitu seorang Jepang bernama Yoshido Ichibangse dan R.P.Soeroso

Pertemuan diselenggarakan di gedung Volksraad yang saat ini dikenal sebagai Gedung Pancasila dan sekarang menjadi bagian dari kompleks bangunan Gedung Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Republik Indonesia.

Menurut situs Kemlu, gedung Volksraad diperkirakan dibangun pada tahun 1830. Gedung tersebut awalnya dibangun sebagai rumah kediaman Panglima Angkatan Perang Kerajaan Belanda di Hindia Belanda, yang juga merangkap sebagai Letnan Gubernur Jenderal.

Masih menurut situs Kemlu, gedung bekas kediaman Panglima Belanda dipandang cukup memadai untuk tempat persidangan Dewan Perwakilan Rakyat (Volksraad) kemudian diresmikan sebagai Gedung Volksraad pada Mei 1918 oleh Gubernur Jenderal Limburg Stirum.

Dalam katalog Pameran Peringatan Hari Ulang Tahun ke-300 Kota Batavia yang diselenggarakan di musium di Amsterdam pada bulan Juni dan Juli 1919, terdapat catatan bahwa Volksraad pernah digunakan juga sebagai tempat pertemuan para anggota Dewan Pemerintahan Hindia Belanda (Raad van Indie). Kemudian pemerintah membangun gedung tersendiri untuk Raad van Indie yaitu gedung yang ada di sebelah barat gedung Volksraad di Pejambon No. 2.

Volksraad adalah sebuah dewan yang wewenangnya sangat terbatas. Semula Dewan hanya diberi hak untuk memberi nasehat kepada pemerintah, tetapi pada tahun 1927 dewan rakyat tersebut diberi wewenang untuk membuat Undang-Undang bersama-sama dengan Gubernur Jenderal. Tetapi wewenang itu tidak banyak berarti penting karena Gubernur Jenderal memegang hak veto.

Dalam suatu masa jabatan, jumlah keseluruhan anggota Volksraad pernah mencapai 60 orang terdiri atas 30 wakil rakyat Indonesia (19 dipilih tidak langsung dan 11 ditunjuk langsung), 25 orang bangsa Belanda (15 dipilih tidak langsung dan 10 diangkat), 4 wakil dari golongan keturunan China (3 orang dipilih tidak langsung dan 1 diangkat), dan seorang wakil golongan keturunan Arab yang diangkat. Setiap tahun diadakan dua kali sidang. Sidang pertama dimulai setiap tanggal 15 Mei dan sidang kedua pada hari Selasa ketiga Oktober bulan. Lamanya kedua sidang itu berlangsung selama empat setengah bulan.

Selama empat belas tahun (1927-1941), Volksraad hanya mampu mengajukan 6 rancangan undang-undang, 3 diantaranya diterima pemerintah. Hasil-hasil itupun dicapai setelah tiga orang anggota Volksraad tersebut yaitu Salim, Stokvis, Soetadi, dan Djajadiningrat menyampaikan kritiknya pada tahun 1923 yang mengatakan bahwa “kalau kita ikuti sejarah perkembangan Volksraad sejak tahun 1918, kita hanya bisa berkata dengan rasa penyesalan bahwa hasil-hasil yang dicapainya tidak ada sama sekali”.

Postingan terkait dengan Gedung Pancasila : Pancasila dan Gedung Pancasila Yang Kesepian

10.11.10

Yang Ringan dari Kunjungan Obama

Setelah tertunda dua kali, pada akhirnya Presiden AS Barack Obama tiba di Jakarta pada tanggal 9 November 2010 sekitar pukul 16.00 wib. Di sambut hujan di bandara Halim Perdanakusumah, Obama langsung menuju Istana Negara untuk menerima penyambutan resmi selaku kepala negara. Setelah itu Obama melakukan pembicaraan bilateral dengan Presiden RI SBY dan melakukan jumpa pers serta diakhir dengan acara jamuan makan malam.

Selain hal-hal substantive (saya akan tuliskan kemudian) yang memang menjadi pokok bahasan antara Obama dan SBY pada Selasa sore itu (9/11), terdapat kejadian-kejadian yang sepertinya ringan yang sayang untuk diabaikan.

Berikut beberapa hal ringan yang saya pantau dari media elektronik dan media online:

1. Insiden penarikan istri Dubes RI untuk AS Dino Patti Djalal

Ketika Presiden SBY dan Obama hendak memasuki tempat penerimaan tamu negara di teras Istana Negara, Dubes RI untuk AS Dino Patti Djalal agak tergesa-gesa menarik istrinya karena menghalangi jalan kedua presiden dan kamera televisi. Peristiwa penarikan itu terlihat sangat jelas di televisi yang menyiarkan kedatangan Presiden Obama di Istana Merdeka secara langsung.

Untung saja istri Pak Dubes tidak terjatuh. Mengenai insiden ini Dubes Dino Patti Djalal lewat akun twitternya meminta maaf kepada para tweeps (sebutan bagi pengguna twitter) dan tentu saja kepada istri beliau: "Maaf ya tweeps yang tadi melihat. Saya buru-buru menarik istri agar tidak menghalangi jalur kamera ke arah SBY-Obama. Maaf juga ya Rosa-ku sayang"

Insiden itu tepat beberapa detik sebelum Obama dan Yudhoyono menginjak tangga terakhir. Mereka terburu-buru untuk pindah dari sisi kanan menuju sisi kiri teras untuk masuk ke barisan menteri yang menyambut Obama dan Michele Obama.

2. Menkominfo Tifatul Sembiring rebut perhatian di twitter

Menteri Komunikasi dan Informasi Tifatul Sembiring menjadi sosok yang menjadi ramai dibicarakan ketika Menteri yang berasal dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini bersalaman dengan istri presiden AS Michele Obama.

Kejadian Tifatul bersalaman tersebut disaksikan banyak orang karena disiarkan langsung oleh televisi.

Sebenarnya sah-sah saja Tifatul bersalaman dengan Michele Obama. Masalahnya jadi ramai karena Tifatul diketahui selama ini tidak pernah bersalaman dengan lawan jenis yang bukan muhrimnya.

3. Kehadiran Megawati Soekarnoputri di Istana Merdeka

Setelah dikalahkan SBY dalam Pemilu Presiden, meskipun diundang Megawati Soekarnoputri tidak berkunjung ke Istana Merdeka. Namun kedatangan Obama pada akhirnya membawanya kembali ke Istana Merdeka untuk menghadiri jamuan santap malam. Megawati didudukan persis disamping kiri Michael Obama.

Obama yang duduk di sebelah kanan Presiden SBY kemudian berdiri dan berinsiatif mendekat Megawati untuk bersalaman. Pada saat bersalaman ini, Megawati menjabat uluran tangan Obama sambil tetap duduk. Tidak terlihat sama sekali upayanya untuk berdiri.

Bersambung … (postingan akan dilengkapi kemudian)


7.11.10

Semangat Sumpah Pemuda di Era Global

Di era global dewasa ini, dimana dunia telah berubah menjadi datar dan informasi dapat dikonsumsi tanpa dibatasi dimensi ruang dan waktu (Thomas L. Friedman, “The World is Flat”), apa sesungguhnya makna dari Sumpah Pemuda yang diikrarkan pada tanggal 28 Oktober 1928?. Dengan arus globalisasi yang begitu cepat merasuk ke masyarakat, terutama kalangan generasi muda, nilai-nilai apa yang masih dapat dipetik dari semangat pemuda tahun 1928 dan tetap relevan di era global? Bagaimana pula menterjemahkan nasionalisme kebangsaan di era global?

Pertanyaan-pertanyaan seperti tersebut di atas selalu mengemuka menjelang dan saat dilaksanakannya peringatan sumpah pemuda. Dan pertanyaan-peranyaan tersebut juga mengemuka ketika Operator Telekomunikasi XL menggelar acara yang bertajuk “Soempah Pemoeda 2.0” di Gedung Museum Kebangkitan Nasional (eks gedung Stovia), jalan Abdulrahhman Saleh Raya, Jakarta, pada tanggal 28 Oktober 2010.


Dalam acara yang menghadirkan sejarawan Anhar Gonggong, Sosiolog Imam Prasodjo, Promotor music Andre Subono, Pemenang Indonesia Berprestasi Award Sudijanto dan Sutradara Film Iman Brotoseno serta dimoderatori oleh tokoh multitalen Jaya Suprana, isu mengenai nasionalisme kebangsaan dewasa ini dan kaitannya dengan semangat sumpah pemuda kembali mencuat. Hadir sebagai peserta adalah para blogger dan penggiat sosial media yang datang dari berbagai komunitas di seluruh Indonesia.

Mengawali perbincangan, Jaya Suprana dengan nakal mengomentari usia para pembicara yang hampir keseluruhannya bisa dibilang tidak lagi muda, kecuali mungkin Sudiyanto yang masih berusia dibawah 40 tahun. Komentar ini tentu saja mengundang gelak tawa dan senyum kecut dari sebagian besar blogger yang memang rata-rata anak-anak muda. Jaya Suprana seolah ingin menyentil bahwa bicara tentang semangat pemuda maka sebaiknya yang berkompeten adalah pemuda itu sendiri. Bahwa ada tokoh-tokoh yang lebih tua sifatnya tentunya untuk mengayomi dan membimbing dari belakang (tut wuri handayani).

Usai kata pembukaan yang terkesan becanda tapi sarat makna dari moderator, perbincangan pun bergulir dengan pembahasan mengenai sejarah disepakatinya bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan ada Kongres Pemuda II yang berlangsung pada tanggal 27-28 Oktober 2010. Menurut Anhar Gonggong terdapat perdebatan seru dalam penentuan tersebut. Usulan yang mengemuka adalah digunakannya bahasa Melayu, seperti yang diusulkan Mohammad Yamin, karena banyak digunakan oleh penduduk di banyak daerah, khususnya Sumatera. Ada juga usulan penggunaan bahasa Jawa dengan argumen yang senafas dengan usulan penggunaan bahasa Melayu.

Di tengah kealotan tersebut, masuklah usulan penggunaan bahasa Indonesia (yang berasal dari bahasa di Riau) sebagai bahasa persatuan. Meski masyarakjat pengguna bahasa ini tidak banyak, namun bahasa tersebut mudah digunakan, tidak mengenal strata dan kerap dipakai sebagai bahasa penghubung dalam berkomunikasi antar daerah. Akhirnya melalui lose-lose solution (mengambil istilah dari Imam Prasodjo) diputuskan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.

Hikmah yang dapat dipetik dari proses pengambilan keputusan ini adalah tingginya semangat kebersamaan dan kebangsaan Indonesia untuk merebut kemerdekaan dari tangan tentara kolonial Belanda. Tingginya semangat kebersamaan dan kemerdekaan ini mengenyampingkan berbagai perbedaan yang ada, bahkan menyingkirkan sikap egoism kesukuan, terutama dari suku-suku mayoritas.

Kembali ke topik nasionalisme, Imam Prasodjo menggarisbawahi bahwa pada hakekatnya setiap generasi memiliki karakteristik tersendiri dalam memandang nasionalisme. Menurut Iman Prasodjo hal tersebut tidak terlepas dari perbedaan pola perilaku dan komunikasi yang ada di setiap jaman. Ditambahkannya, setidaknya terdapat 3 tahapan untuk membedakan pola perilaku dan komunikasi yaitu jaman pertanian, industri dan informasi.

Sesuai tahapan tersebut di atas, tidak mengherankan jika semangat nasionalisme pada era Budi Utomo 1908 berbeda dengan kiprah pencetus Sumpah Pemuda. Idealisme 1928 membuncah dalam momentum Proklamasi 1945. Kemudian, bangkit kekuatan pemuda mahasiswa 1966.

Kini di era global dimana perkembangan teknologi informasi telah memudahkan pola komunikasi yang tidak lagi mengenal batas negara, para pemuda melakukan komunikasi dengan dunia luar secara lebih intensif. Para pemuda dewasa ini telah berubah menjadi generasi multitasking (melakukan banyak hal secara bersamaan) yang memiliki persepsi tersendiri mengenai nasionalisme. Contoh nyata dari perwujudan generasi multitasking adalah sikap para blogger dan penggiat sosial media yang hadir pada acara ini yang terlihat asyik dengan gadget masing-masing, sementara mengikuti kegiatan yang tengah berlangsung. Sambil mendengarkan apa yang disampaikan para pembicara, mereka menyebarluaskan apa yang didengar ke teman-temannya di jejaring media sosial.

Menanggapi hal tersebut di atas, Imam Brotoseno, seorang sutradara film yang juga blogger dan aktif sebagai penggiat sosial media mengemukakan bahwa nasionalisme saat ini sifatnya cair dan dapat diartikan sebagai upaya membebaskan diri dari kebodohan dan kemiskinan. Karenanya nasionalisme jangan hanya diartikan sebagai upaya penolakan intervensi asing lewat masuknya arus modal ke berbagai dunia usaha. Selama masuknya investasi asing dimaksudkan sebagai upaya membangun dan meningkatkan kesejahteraan rakyat, maka hal itu tentu saja tidak ada salahnya.

Menambahkan apa yang dikemukakan Iman Brotoseno, Promotor musik Andre Subono melihat bahwa perkembangan teknologi informasi dan media jejaring sosial pada hakekatnya tidak mengganggu semangat nasionalisme. Nasionalisme bisa dibangun melalui semangat bekerja dan berprestasi sesuai dengan kemampuan masing-masing. Lebih jauh, ia merasa bersyukur bahwa dengan perkembangan sosial media, pihaknya dapat lebih mudah menjalankan kegiatannya selaku promotor musik.

Dari perbincangan mengenai sumpah pemuda di era global dan digital ini, hal yang patut diteladani adalah semangat kepeloporan yang begitu tinggi dan keberanian sebagai pemuda untuk keluar dari kepompong sukuisme dan batas-batas agama serta berani menjadikan Indonesia sebagai sebuah entitas baru yang sebenarnya belum tergambar persis wujudnya pada saat itu. Keyakinan para pemuda saat itu untuk menjadikan keadaan yang lebih baik dari pada terpecah dan sebagai terjajah patut kiranya dapat diikuti para pemuda saat ini. Jika di masa lalu para pemuda berupaya memerdekakan dari belenggu penjajahan fisik, maka kini yang perlu dilanjutkan adalah memerdekakan diri dari kemiskinan dan kebodohan.

Nasional saat ini mesti dibangun dan dipertahankan di atas semangat kepeloporan, keberanian dan penuh keyakinan untuk menjadikan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sejahtera, terbebas dari kemiskinan dan kebodohan. Upaya menegakkan semangat Sumpah Pemuda dan Nasionalisme tidak perlu dilakukan dengan aksi-aksi kekerasan seperti yang dilakukan beberapa kelompok mahasiswa dalam aksi demonstrasi. Mari kita terus berkarya sesuai dengan kompetensi dan kemampuan masing-masing, tanpa harus melakukan tindakan kekerasan dan perusakan. Simak apa yang dikatakan Windy Astuti, pelajar SMP dari Jogjakarta yang memenangkan kuis makna sumpah pemuda yang diselenggarakan XL: "Sumpah Pemuda: Kritis bukan anarkis, berkarya tanpa henti, dan menjadi pribadi yang berbakti untuk negeri"

Salam semangat pemuda


5.11.10

Duka di Wasior, Mentawai dan Merapi

Duka beruntun menyelimuti negeri ini. Di timur, tepatnya di kecamatan Wasior, Papua Barat. Terpantau ratusan orang tewas karena banjir bandang. Di barat, tsunami menerjang pulau-pulau di Mentawai dan juga menewaskan ratusan penduduk. Sedangkan di tengah, di Yogyakarta dan sekitarnya, Gunung Merapi mengamuk memuntahkan lahar panas dan debu vulkanik yang membumbung tinggi dan melebar sejauh belasan kilometer serta mengakibatkan jatuhnya banyak korban.

Bencana alam beruntun ini kembali menyadarkan kita bahwa musibah bisa datang kapan pun. Kita tidak bisa menolak datangnya bencana. Yang bisa dilakukan adalah meminimalisir jatuhnya korban dengan antara lain memasang alat-alat pemantau gempa, tsunami ataupun akivitas gunung berapi. Diketahui misalnya di kepulauan Mentawai telah dipasang sistim pemantau gejala tsunami, sementara di lereng Merapi dipasang sejumlah alat pantau aktvitas gunung berapi.

Bencana alam beruntun ini juga kembali menyadarkan kita semua bahwa sistim penanggulangan dan penanganan bencana di negeri ini masih jauh dari harapan dan seringkali tergagap-gagap dalam merespon bencana yang terjadi. Meski telah langsung turun ke lokasi bencana dan mengirimkan bantuan, Pemerintah daerah dan pusat masih lambat dalam menanggapi bencana.

Beruntung masyarakat kita sangat proaktif dn sigap. Tanpa diminta seluruh anggota masyarakat bergerak membantu para korban bencana. Para sukarelawan terjun ke lokasi bencana untuk memberikan bantuan perawatan kesehatan, pangan dan pakaian serta melakukan bimbingan mental pasca bencana. Saat ini ribuan sukarelawan bekerja di berbagai lokasi bencana. Meski kesulitan kerap menghadang, para sukarelawan dan seluruh anggota masyarakat tetap memperlihatkan semangat yang tinggi untuk membantu para korban.

Bencana alam yang terjadi beruntun kali ini sepertinya bukan yang terakhir. Bukannya mendoakan agar sering terjadi bencana, tapi berdasarkan penjelasan para ahli yang mengatakan bahwa wilayah Indonesia sebagian besar terletak di lokasi bencana alam maka sudah sepatutnya kita mesti meningkatkan kewaspadaan dan empati kemanusiaan kita. Para pemimpin negeri ini pun, baik pusat maupun daerah, diharapkan lebih tanggap dalam menyikapi bencana yang terjadi. Seorang pemimpin sebaiknya terjun langsung dalam kegiatan penanggulangan bencana. Jangan pergi meninggalkan lokasi bencana hanya karena alasan mencari investasi asing seperti yang dilakukan Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah perlunya membenahi sistim penanggulangan dan pemberian bantuan bagi korban bencana agar lebih terpadu dan transparan. Departemen Sosial, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) serta institusi terkait lainnya harus selalu berkoordinasi dalam menjalankan tugasnya. Koordinasi dalam sistim terpadu perlu dipererat agar tidak ada lagi debat kusir yang berkepanjangan ketika bencana terjadi.

Dengan sistim terpadu dan transparan, masyarakat tidak lagi harus berjalan sendiri-sendiri dalam proses pemberian bantuan. Bukan rahasia lagi banyak organisasi kemasyarakatan maupun individu yang menggalang aksi kemanusiaan, tapi tidak jelas pertanggungjawabannya. Bukannya curiga, tapi memang bukan rahasia pula jika ada saja organisasi atau individu yang kerap memanfaatkan suasana duka untuk memperoleh dana bagi kepentingan sendiri.

Akhirnya mari kita berdoa semoga diberikan ketabahan dalam menghadapi cobaan ini dan semoga bencana alam ini segera berakhir.

26.10.10

Mati Ketawa Ala Bang Foke

"Selamat pagi sobat Jkt, Bgmn semalam? Blm kapok khan tinggal di Jakarta? Begitu bunyi barisan kata-kata yang terdapat dalam sebuah foto yang dikirimkan rekan saya pagi ini.

Foto tersebut mengacu pada hujan deras semalam yang mengakibatkan Jakarta kembali lumpuh. Banyak warga Jakarta dan sekitarnya yang terpaksa berjalan kaki. Genangan di sejumlah jalan raya mengakibatkan kendaraan berhenti. Akibatnya banyak warga yang terjebak macet dan baru tiba di rumah tengah malam. Suatu kejadian yang tentu saja sangat tidak mengenakkan.

Saya sendiri, meski tidak menggunakan angkutan roda empat, terkena kemacetan di jalur transportasi kereta rel listrik. Setelah menembus hujan deras dari kantor saya di Pejambon, setibanya di Stasiun KA Gambir kereta yang dijadwalkan pukul 18.36 wib baru tiba satu jam kemudian. Dari Stasiun Gambir saya terlebih dahulu menumpang kereta ke arah Stasiun Kota, karena kalau langsung dari Gambir ke stasiun Bekasi dijamin tidak akan memperoleh tempat duduk dan berdiri sepanjang perjalanan.

Dari Stasiun Gambir hingga stasiun Cikini kereta masih berjalan lancar, tapi menjelang stasiun Manggarai hingga Stasiun Keranji di Bekasi kereta mulai tersendat dan sering berhenti karena harus bergiliran dengan kereta-kereta lain. Penyebabnya ada beberapa jalur kereta yang tergenang dan tidak bisa digunakan. Untuk itu jalur kereta yang masih berfungsi digunakan secara bergantian. Akibatnya jarak Gambir-Bekasi yang di saat normal dapat ditempuh sekitar 40-50 menit mesti ditempuh 4 jam alias 240 menit. Tidak mengherankan jika akhirnya saya tiba dirumah sekitar 23.30 wib.

Saya masih beruntung bisa pulang sebelum tengah malam, karena paginya setelah mendengarkan dan membaca berita baru tahu kalau banyak warga yang ternyata sampai di rumah sekitar pukul 2 malam. Bayangkan pukul 2 malam baru sampai di rumah, sementara keesokannya, pagi-pagi sekali harus ke kantor dan itu mesti berjuang kembali menembus kemacetan kota.

Ya Jakarta memang semakin hari semakin semrawut, macet, dan banjir. Hujan sedikit, banjir pun datang. Meski dipimpin oleh Gubernur Fauzi Bowo (Bang Foke) yang dikenal sebagai ahlinya, kondisi Jakarta justru semakin menyeramkan. Kondisi ini tentu saja membuat banyak orang frustasi. Tapi apa boleh buat tidak banyak hal yang bisa dilakukan selain menerima keadaan.

Untuk itu, guna mengurangi kestressan, banyak yang kemudian berupaya menghibur diri sendiri, caranya antara lain dengan mengolok-ngolok pemimpinnya yang dianggap belum mampu mengatasi keadaan Jakarta. Mengenai banjir misalnya, saking pasrahnya makanya pada foto dimana Bang Foke sedang bertolak pinggang dan berkomentar dikasih teks seperti ini "Ini cuman genangan kalo airnya udah sampai kumis gue, baru namanya banjir".

Kalau sudah sekumis baru namanya banjir

Apa boleh buat Bang Foke, meski tidak pantas seorang pemimpin diolok-olok, anda mesti legowo diolok-olok warganya (termasuk dengan mencukur kumis Bang Foke). Mungkin kalau suatu saat nanti bang Foke atau siapapun yang memimpin Jakarta bisa memenuhi harapan warganya, pujian akan datang sendiri. Sementara ini nikmati saja mati ketawa ala Bang Foke lewat foto-foto yang beredar di Blackberry Messenger, facebook ataupun milis-milis.

10.10.10

Mengunjungi Pintu Kota Ambon Yang Cantik

Minggu kedua Oktober 2010, saya berkesempatan mengunjungi Provinsi Seribu Pulau di kawasan timur Indonesia yaitu Provinsi Maluku. Rasanya amat sangat disayangkan jika sudah jauh-jauh terbang ke kota Ambon namun melewati kesempatan mengunjungi tempat-tempat wisata di daerah ini. Untuk itu usai menuntaskan pekerjaan, saya pun mengayunkan langkah kaki menuju tempat wisata yang terdapat di daerah ini. Salah satu tempat wisata tersebut adalah Pintu Kota yang terletak di desa Airlouw, sekitar 30 perjalanan darat dari Kota Ambon.

Untuk mencapai lokasi ini saya mesti menyusuri jalan yang agak berkelok-kelok di sisi barat Pulau Ambon. Dengan infrastruktur jalan raya yang relatif baik, perjalanan menjadi terasa nyaman, apalagi sepanjang perjalanan kita pun dapat menengok pemandangan laut lepas.

Setibanya di tempat tujuan kami segera membeli tiket untuk dapat memasuki Pintu Kota. Dinas Pariwisata kota Ambon mengenakan tarif sebesar Rp. 2.000 per orang dan Rp 10 ribu untuk parkir mobil. Usai dengan urusan pembayaran , kami pun segera memasuki areal tempat wisata tersebut. Meski hari Minggu, kawasan wisata ini ternyata tidak terlalu ramai oleh pengunjung. Beberapa motor terlihat diparkir di kawasan tersebut, sementara mobil yang kami tumpangi merupakan mobil pengunjung satu-satunya.

Mendengar nama Pintu Kota, mungkin anda akan membayangkan sebuah pintu gerbang atau gapura untuk masuk ke kota Ambon. Namun Pintu Kota sebenarnya adalah sebuah karang raksasa yang menjorok ke laut dan memiliki lubang besar menyerupai pintu di bawahnya. Dari lubang ini bisa disaksikan panorama Teluk Ambon yang indah.

Sementara dari atas bukit, pengunjung dapat memuaskan pandangan ke arah laut. Laut saat itu sedang surut sehingga batu-batu karang di sekeliling Pintu Kota seolah bermunculan dari dasar laut. Perpaduan batu karang berlubang dengan batu-batu karang kecil disekelilingnya serta hamparan laut luas menjadikan pemandangan di kawasan ini menjadi lebih indah dan menyegarkan mata.

Tanpa berlama-lama saya pun segera menuruni bukit menuju kawasan pantai. Terlihat beberapa pengunjung sedang asyik berduaan di beberapa tempat memanfaatkan sepinya kawasan pantai. Sementara di dekat Pintu Kota tampak sebagian pengunjung sedang berfose dan sesekali membasahi kakinya dengan air laut yang menerjang dengan halus.

Tidak terlihat adanya pengunjung yang mencoba berenang di tepian pantai. Dengan kontur pantai yang dipenuhi batu-batu karang, tampaknya menyulitkan pengunjung untuk berenang. Hal ini mungkin yang menyebabkan tempat wisata ini sepi pengunjung. Para wisatawan, khususnya wisatawan setempat, tampaknya lebih memilih kawasan wisata lain yang memiliki pantai yang landai seperti Natsepa dan Liang di sebelah timur pulau Ambon.

Secara keseluruhan kawasan wisata Pintu Kota cukup mengasyikan dan layak dikunjungi wisatawan, baik domestik maupun manca negara. Hanya saja agar kecantikan Pintu Kota dan berbagai kawasan wisata lainnya di Maluku dapat lebih menggoda wisatawan untuk datang perlu pembenahan infrastuktur dan diikuti dengan pembenahaan aspek manajerial pengelolaan tempat wisata secara lebih profesional mulai dari pengelolaan transportasi, penginapan hingga penyebarluasan informasi. Kalau saja hal ini bisa dilakukan, niscaya kawasan wisata bahari di Maluku bisa menyaingi Bali. Apalagi melalui rempah-rempah, Maluku sudah sejak lama dikenal dunia.

7.9.10

Lomba Logo Ketua ASEAN 2011 Berhadiah Puluhan Juta

Indonesia akan menjadi Ketua ASEAN tahun 2011. Sebagai salah satu pendiri ASEAN, Indonesia harus mampu menunjukkan kepemimpinannya dalam menyongsong terwujudnya Komunitas ASEAN dengan tiga pilar utamanya yakni: Politik dan Keamanan, Ekonomi dan Sosial Budaya.

Dalam upaya menghadapi tantangan sekaligus peluang menghadapi dinamika regional maupun global, diperlukan sebuah logo yang mampu merfleksikan spirit kepemimpinan Indonesia sekaligus menggelorakan solidaritas ASEAN.


KRITERIA LOGO


1. Ide logo harus merupakan ide orisinal dan belum pernah dipublikasikan atau diikutsertakan dalam lomba serupa.

2. Logo mengandung Lambang ASEAN asli (dapat dilihat di www.aseansec.org/7095.htm)

3. Disain logo dibuat dalam tampilab berwarna dilengkapi dengan penjelasan dan makna logo.


PERSYARATAN LOMBA


1. Lomba terbuka bagi WNI, tidak dipungut biaya.

2. Peserta wajib melampirkan identitas diri/fotocopy LTP dan nomor telepon/e-mail yang bisa dihubungi.

3. Desain logo dikirim dalam bentuk soft-copy dengan format JPEG besa file maksimal 1 MB, dikirikim ke lombalogo.djksa@gmail.com dan hard-copy yang dicetak di atas kertas foto ukuran A4, dikirim paling lambat tanggal 27 September 2010 (cap pos) dalam amplop tertutup bertuliskan:

PANITIA LOMBA LOGO KEKETUAAN INDONESIA DI ASEAN TAHUN 2011
P.O. BOX 3916
JKT 10039


SELEKSI PEMENANG


1. Dewan Juri akan memilih 3 (tiga) finalis untuk menentukan 1 (satu) pemenang utama serta 2 (dua) pemenang harapan.

2. Pemenang utama disediakan hadiah tabungan sebesar Rp. 20 juta, mengunjungi seremoni Keketuaan Indonesia di Vietnam atas biaya Kementerian Luar Negeri (Kemlu) serta sertfikat.

3. Pemenang harapan masing-masing memperoleh tabungan sebesar Rp. 5 juta dan sertifikat.

4. Nama pemenang akan diumumkan melalui website Kemlu (www.deplu.go.id) Oktober 2010

5. Seluruh desain peserta sepenuhnya menjaid milik Direktorat Jenderal Kerjasama ASEAN, Kemlu RI.

+++++

Tambahan Info: Jika ingin mengetahui logo-logo Keketuaan ASEAN sebelumnya, klik disini http://aseanblogger.com/?p=171

17.8.10

Setahun Be-Blog, Setahun Semangat Kemerdekaan


Pada tanggal 17 Agustus 2010 ini tepat setahun usia Be-Blog. Jika diibaratkan sebagai seorang manusia, maka Be-Blog adalah seorang bayi yang baru saja belajar berjalan, tertatih-tatih dan kadang terjatuh. Masih hangat dalam ingatan saya ketika kami (saya, Yulyanto, Wijaya Kusumah, Rawi Wahyudiono dan Irfan Zj) bertemu di rest area KM-19 untuk membicarakan embrio Komunitas Blogger Bekasi dan urunan untuk membeli domain dan menyewa hosting yang akan dijadikan tempat nongkrong blogger Bekasi di ranah maya.

Dari KM-19 pula dilakukan pembagian tugas kepengurusan sesuai kompetensi masing-masing, dimana saya kemudian dipercaya sebagai ketua, Wijaya Kusumah sebagai penasehat, Yulyanto Sebagai Sekretais, Rawi Wahyudiono sebagai Humas dan Irfan sebagai Admin. Tidak lupa pula kami mengontak Eko Sutrisno dan Amril Taufiq Gobel, yang awalnya akan datang ke pertemuan tapi kemudian berhalangan, untuk menjadi pengurus. Eko Sutrisno yang saat itu menjabat sebagai Komisaris di Blogger Cikarang didapuk sebagai wakil ketua dan Amril Taufiq Gobel sebagai penasehat mendampingi Wijaya Kusumah alias Om Jay.

Setelah ada kepengurusan dan semua persiapan tuntas dilakukan, maka Komunitas Blogger Bekasi diluncurkan pada tanggal 17 Agustus 2009 dalam suatu acara sederhana di Food Court Center Bekasi Cyber Park (BCP). Hadir antara lain saya dan keluarga, Eko Sutrisno dan putranya, Amril Taufik Gobel dan putranya, Om Jay, Yulyanto dan putranya, Abi Hasantoso dan putranya. Sementara Rawi Wahyudiono dan Irfan Zj berhalangan hadir. Sebagai tampilan awal situs Be-Blog adalah themes dua kolom bertema merah putih yang mencerminkan semangat kemerdekaan. Adapun tagline yang disepakati adalah “Menembus Tapal Batas”, suatu tagline visioner yang mencerminkan keinginan para blogger Bekasi untuk go internasional, melepaskan diri dari segala sekat yang ada disekelilingnya.

Setelah acara peluncuran Be-Blog di dunia maya, yang kemudian dijadikan sebagai hari lahir, berbagai pertemuan pun kemudian digelar, termasuk buka puasa bersama, untuk mempersiapkan acara pengenalan Be-Blog ke masyarakat luas. Disini kemudian bergabung teman-teman blogger Bekasi lainnya dalam kepanitiaan seperti Syaifudin Sayuti, Ajengkol, Dodi Mulyana, Ratu Sya, Devy, Nini, Rizky,Yolanda dan Masim Sugianto yang bersama-sama berupaya menyukseskan acara pengenalan Be-Blog.

Dari kiri: Marsekal Muda (Purn) Prayitno Ramelan, Marsekal (Purn) Chappy Hakim (Mantan KSAU), Walikota Bekasi Mochtar Mohammad dan Ketua BeBlog Aris Heru Utomo saat grand launching beBlog 17 Oktober 2009

Dengan semangat kerjasama dan kebersamaan yang tinggi, acara pengenalanan Be-Blog ke masyarakat luas berlangsung pada tanggal 17 Oktober 2009 di teras BCP. Acara berlangsung dengan sangat sukses. Sekitar 150 blogger dari Bekasi dan wakil komunitas blogger dari berbagai daerah hadir dalam acara ini. Hadir pula blogger dan penulis kondang seperti Chappy Hakim (Mantan KSAU), Taufik Miharja dan Pepih Nugraha (Kompas.com), Budi Putra (Country Manager Yahoo), Antyo Rentjoko, Prayitno Ramelan dan Linda Djalil (Kompasiana). Dan yang tidak kalah dahsyatnya adalah kehadiran Walikota Bekasi Mochtar Mohammad, yang tidak hanya hadir tetapi juga memberikan hadiah uang tunai untuk lomba menulis dan foto yang diselenggarakan Be-Blog.

Sejak acara tersebut berbagai kegiatan pun terus dilakukan dengan penuh semangat antara lain dua kali pelatihan ngeblog atau blogshop di STMIK Bani Saleh dan Unisma serta ditandatanganinya MOU dengan Telkom yang mendukung penuh pelaksanaan kegiatan Be-Blog.

Puncak pencapaian kegiatan Be-Blog pada tahun pertama ini adalah gelaran Amprokan Blogger 2010 yang layak dibanggakan. Kegiatan ini dapat dikatakan merupakan pertemuan blogger terbesar di Indonesia yang dielenggarakan suatu komunitas blogger karena dihadiri sekitar 300 orang blogger dari berbagai daerah, mulai dari Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan hingga Sulawesi. Selama dua hari blogger yang hadir dimanjakan dengan kegiatan yang bermanfaat bagi pemahaman mereka tentang Bekasi dan pengelolaan lingkungan serta e-governance.

Ya selama dua hari para blogger diajak melihat beberapa sudut kota dan kabupaten Bekasi seperti Bantar Gebang dan kawasan Jababeka serta berdiskus dengan Budi Putra, Nukman Lutfie dan wakil Pemkab Sragen menyangkut e-governance. Semuanya diikuti para blogger tanpa dipungut biaya apapun alias gratis, bahkan blogger dari luar Bekasi mendapatkan penginapan dan penggantian uang transportasi. Dari Amprokan Blogger ini muncul nama-nama baru di kepanitiaan seperti Komar Ibnu Mikam, Anggi Kusumah, Harun Al Rasyid, Mira Ayank, Irma Senja, Mila, Yulef dan Ibnu Susilo.

Kegiatan berikutnya yang juga layak dicatat tebal adalah keberhasilan merespon tawaran Kementerian Luar Negeri RI dalam menyelenggarakan seminar mengenai ASEAN. Selain sukses dalam hal penyelenggaraan, kegiatan ini juga sukses secara substansi dimana Be-Blog ikut menggulirkan gagasan pembentukan Komunitas Blogger ASEAN.

Selain acara-acara diatas yang terkesan serius, sebenarnya BeBlog juga melakukan kegiatan yang sifatnya lebih santai seperti karaokean bersama. Setidaknya dua kali kegiatan karaokean bersama telah dilakukan dan terlihat bakat-bakat menyanyi luar biasa dari BeBloggers yang tidak kalah hebatnya dengan penyanyi sungguhan. Tidak heran jika komunitas blogger lain takut untuk menantang lomba nyanyi (lirik Dodi).
Nggak ada loe nggak Rame

Segala pencapaian di atas, tanpa bermaksud menyombongkan diri, patut disyukuri bersama. Betapa pun pencapaian ini tidak terlepas dari kerja kleras dan kerjasama semua anggota Be-Blog. Namun meski berhasil menyelenggarakan berbagai kegiatan spektakuler di tahun pertamanya, harus diakui Be-Blog belum begitu kuat untuk mewujudkan visinya menembus tapal batas. Seperti lazimnya suatu organisasi, selalu saja terdapat dinamika internal dan tantangan yang mesti dihadapi, yang jika tidak dikelola dengan hati-hati bisa memunculkan kesalahpahaman.

Tantangan utamanya adalah bagaimana memelihara semangat dan sense of belonging anggota komunitas agar berbagai program kegiatan yang direncanakan Be-Blog dapat diimplementasikan secara dinamis, baik online maupun offline. Beragamnya latar belakang pendidikan dan pekerjaan anggota Be-Blog , seperti murid SMU, Mahasiswa, Pegawai, Pengusaha, ibu rumah tangga dan sebagainya, menjadikan beragam pula sikap dan perilaku dalam merespon permasalahan yang mengemuka.

Tingginya kesibukan dan urusan personal para pengurus Be-Blog dan anggotanya mengakibatkan tingginya frekuensi keluar masuk personil dalam setiap kegiatan komunitas. Saya sendiri pernah sekali absen ketika penyelenggaraan blogshop di STMIK Bani Saleh bulan Nopember 2009, saat itu selama sebulan saya mendapat penugasan kantor ke Belanda.

Kondisi fisik pun bisa menjadi masalah ketika banyak anggota jatuh sakit bersamaan waktunya dengan persiapan dan pelaksanaan kegiatan. Karenanya kita selalu mendoakan agar kita semua selalu diberikan kesehatan oleh Allah SWT. Seperti kata pepatah: mensana in corpora sano (di dalam badan yang sehat terdapat jiwa yang sehat). Dan keberhasilan kegiatan komunitas akan dapat diraih tergantung pada komitmen dan kesiapan para anggotanya untuk dapat saling berbagi dan bekerjasama serta tentu saja berkat badan yang sehat.

Akhirnya sebagai ketua Be-Blog tentu saja saya berharap agar semangat tinggi untuk saling berbagi dan bekerjasama yang telah ada selama ini kiranya dapat dipupuk, dipelihara dan ditumbuhkembangkan untuk kepentingan bersama. Be-Blog bukanlah milik saya atau pengurus lainnya, tapi milik bersama para blogger Bekasi yang dikelola secara gotong royong. Maju mundurnya komunitas berada di tangan kita semua blogger Bekasi dan teman-teman be-Blog. Untuk itu ramaikan aktifitas komunitas dengan postingan yang bermanfaat tentang Bekasi ataupun berbagai isu lainnya serta melakukan kegiatan offline lainnya. Kita jadikan bloggerbekasi.com sebagai landmark Bekasi di dunia maya dan wadah berkumpulnya blogger Bekasi dan teman-temannya di dunia nyata.

Setahun usia Be-Blog, setahun pula kebersamaan kita lalui dengan dinamikanya. Saat ini saya dan beberapa teman yang menjalankan kepengurusan Be-Blog, ke depan giliran anda. Untuk itu, tanpa kerjasama dan semangat berbagi, tujuan bersama untuk dapat menembus tapal batas lewat blog mustahil tercapai. Tanpa kerjasama dan semangat berbagi, Be-Blog akan tetap berada di landasan ketika berbagai komunitas lainnya justru telah terbang tinggi.

Salam Be-Blog dan selamat milad pertama, sukses selalu unuk kita semua. Merdeka !!!

14.8.10

Album Kenangan Hubungan Indonesia-Rusia

Judul: Sahabat lama, Era baru: 60 tahun Pasang Surut Hubungan Indonesia-Rusia.
Penulis: Tomi Lebang
Penerbit: PT Grasindo Widiasarana Indonesia
Tahun: I, Juli 2010
Harga: Rp. 55.000,-

Federasi Rusia adalah salah satu negara adidaya yang disegani dan pemimpin negara-negara Blok Timur yang berhaluan komunis saat perang dingin (1947-1991). Secara geografis, Rusia merupakan negara yang memiliki wilayah terluas di dunia (17,8 juta km), terdiri atas 11 zona waktu (bandingkan dengan Indonesia yang hanya memiliki 3 zona waktu). Secara politis, Rusia merupakan anggota tetap Dewan Keamanan PBB, anggota Group 8 (D-8), G-20 dan BRIC (Brasil, Rusia, India dan Cina), sebuah aliansi negara kuat di dunia selain Amerika Serikat.

Dengan segala potensinya dan predikat negara adidaya, keberadaan Rusia sangat penting dan strategis dalam memainkan perannya di berbagai belahan dunia, termasuk di kawasan Asia Tenggara. Di kawasan yang paling dinamis di dunia ini, Rusia ikut serta memainkan perannya dalam berbagai forum regional dan sub-regional Asia Pasifik seperti APEC, ARF, ASEAN+Rusia, Asia Europe Meeting (ASEM) dan East Asia Summit (EAS).

Dinamisnya pelaksanaan politik dan hubungan luar negeri Rusia di berbagai belahan dunia pada gilirannya melahirkan interaksi dengan semua negara yang menjadi mitranya, termasuk dengan Republik Indonesia (RI). Secara resmi hubungan RI-Rusia dimulai pada tahun 1950 ketika negeri beruang merah tersebut membuka perwakilan diplomatiknya di Indonesia. Sejak itu, hubungan kedua negara berlangsung hingga saat ini tanpa pernah mengalami pemutusan hubungan diplomatik. Seperti lazimnya hubungan antar negara, hubungan RI-Rusia memang tidak selamanya mulus, ada up and downs alias pasang surut.

Tidak banyak anggota masyarakat di kedua negara yang tahu bahwa pada suatu masa hubungan RI-Rusia pernah sedemikian mesranya, tapi di masa lain sempat mendingin. Tidak banyak pula yang tahu jika hubungan persahabatan RI-Rusia sebenarnya sudah dirintis sejak jaman Hindia Belanda ketika Rusia mendirikan kantor konsulatnya di Batavia pada tahun 1894. Hubungan tersebut meningkat ketika pada tahun 1948 Rusia mendukung pernyataan kemerdekaan RI dan membuka hubungan diplomatik dua tahun kemudian.

Guna menggambarkan pasang surut hubungan Indonesia-Rusia dan memperingati 60 tahun hubungan diplomatik kedua negara, tidak keliru jika Tomi Lebang, mantan wartawan Tempo, yang didukung penuh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Moskow menerbitkan buku “Sahabat Lama, Era Baru: 60 Tahun Pasang Surut Hubungan Indonesia-Rusia”.

Tiga Babakan Hubungan RI-Rusia

Dengan gaya bertutur, Tomi Lebang memetakan pasang surut hubungan RI-Rusia sesuai babakan waktu yang disebutkan oleh Wakil Duta Besar RI untuk Rusia Agus Sriyono dalam artikelnya “6o Tahun RI-Rusia” yang juga dimuat dalam buku ini. Ada tiga babakan waktu yang dikemukakan Agus Sriyono yaitu masa pasang (1950-1965), surut atau titik terendah (1965-1991) dan era kebangkitan (sesudah 1991).

Dengan pembagian seperti itu, maka ketika membaca ini kita seperti membuka sebuah album foto dengan gambar-gambar yang diletakkan secara runut. Dilengkapi tulisan-tulisan Duta Besar RI untuk Rusia, yang juga mantan wartawan dan Menteri Hukum dan HAM, Hamid Awaludin dan Wakil Duta Besar Agus Sriyono, buku ini mengajak pembacanya melihat hubungan RI-Rusia dari perspektif yang lebih luas.

Pembaca dapat melihat bahwa periode tahun 1950-1965 merupakan saat yang paling mesra dalam hubungan RI-Rusia yang ditandai oleh kedekatan personal pemimpin kedua negara, Presiden RI Soekarno dan Perdana Menteri Rusia Nikita Kruschev, dan banyaknya kerjasama yang dilakukan kedua negara.

Betapa dekatnya hubungan personal Soekarno dan Nikita Kruschev dapat dibaca dari tulisan Duta Besar Hamid Awaludin “Sahabat Lama Era baru”. Diceritakan bahwa pada tahun 1955, Soekarno berkunjung ke Leningrad (sekarang St Petersburg), sebuah kota bersejarah dan dikenal keindahannya. Di kota ini Soekarno melihat bangunan masjid berkubah biru berarsitektur Asia Tengah yang dijadikan gudang oleh Pemerintah Komunis Rusia. Ketika ditanya kesannya oleh Kruschev, Soekarno menjawab tidak ada keindahan apapun di Leningrad.

Awalnya Kruschev heran dengan pernyataan tersebut, bagaimana mungkin Leningrad dipandang sebelah mata oleh Soekarno yang dikenal suka akan keindahan. Tapi setelah mengetahui alasannya, Kruschev memahami sikap Soekarno yang kecewa terhadap pengalihan fungsi bangunan berkubah biru dari sebuah tempat ibadah menjadi gudang. Setelah Soekarno pulang, Kruschev pun memerintahkan agar gedung tersebut dikembalikan fungsinya sebagai masjid.

Selain kedekatan para pemimpinnya, hubungan persahabatan RI-Rusia juga lebih berwarna berkat tingginya berbagai kerjasama di berbagai bidang, bukan hanya militer tetapi juga pendidikan dan kebudayaan.

Di bidang militer, Indonesia menjadikan perlengkapan militer Rusia sebagai persenjataan utama militer Indonesia dan banyak personil militer Indonesia yang dilatih dan dididik di Rusia.

Di bidang pendidikan, banyak mahasiswa Indonesia yang mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Rusia (dikenal dengan sebutan mahasiswa ikatan dinas atau Mahid) untuk belajar berbagai disiplin ilmu di berbagai jenjang pendidikan.

Sementara di bidang kebudayaan, beberapa universitas di Rusia mendirikan program studi bahasa dan kebudayaan Indonesia. Tidak sedikit karya sastra Indonesia yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Rusia. Beberapa di antaranya adalah “Si Kabayan” karya Utuy Tatang Sontani, “Siti Nurbaya” (Marah Roesli) ataupun kumpulan puisi W.S Rendra yang berjudul “Stanzas, Psalams, Pamphlets and other Songs”.

Melalui buku ini kita juga dapat mengetahui bahwa bangunan-bangunan bersejarah dan monumental yang dibangun di Indonesia, perwujudannya ternyata tidak terlepas dari bantuan dan dukungan Rusia. Bangunan-bangunan yang hingga kini masih menjadi kebanggaan nasional tersebut antara lain Monumen Nasional (Monas) yang menjadi landmark ibukota DKI Jakarta, Gelanggang Olah Raga Bung Karno di Senayan dan Patung Tugu Tani di taman segi tiga Menteng.

Adalah peristiwa G-30-S/PKI pada tahun 1965 yang kemudian mengganggu kemesraan hubungan Indonesia-Rusia. Pemerintah RI dibawah Orde Baru, meski tidak sampai memutuskan hubungan diplomatik, menghentikan sebagian besar kerjasama dengan Rusia dan memulangkan seluruh personil militer dan Mahid yang sedang belajar di negeri Stalin. Tidak hanya itu, segala yang berbau Rusia dicap komunis dan menjadi momok bagi masyarakat Indonesia.

Berakhirnya perang dingin dan terjadinya proses globalisasi membawa angin perubahan di masing-masing negara. Partai Komunis di Rusia tumbang dan pemerintahan di Rusia berganti menjadi demokratis. Hal yang sama terjadi di Indonesia dimana Orde Baru tergeser ketika terjadi reformasi tahun 1998. Perubahan ini merekatkan kembali hubungan RI dengan sahabat lamanya Rusia. Gesture peningkatan hubungan baik keduanya ditandai dengan kunjungan Megawati ke Rusia dan dimulainya kembali pembelian peralatan militer dari Rusia. Kemudian kunjungan Presiden RI SBY ke Rusia dan Presiden Rusia Vladimir Putin ke Indonesia semakin mempertegas dimulainya kembali era baru hubungan RI-Rusia.

Masa depan Hubungan RI-Rusia

Terbitnya buku pasang surut persahabatan RI-Rusia layak disambut hangat oleh pemerhati hubungan internasional dan masyarakat di kedua negara. Selain memberikan informasi komprehensif menyangkut hubungan RI-Rusia, buku ini juga menandai awal upaya mempererat hubungan bilateral kedua negara. Berbagai masukan yang terdapat dalam buku ini, misalnya mengenai perlunya peningkatan kembali kerjasama di bidang pendidikan, kebudayaan dan pariwisata, dapat dijadikan dasar untuk menyusun kerjasama yang lebih konkrit.

Meski demikian, untuk penyempurnaan buku ini, khususnya jika akan diterbitkan edisi revisinya, maka beberapa penyempurnaan kiranya perlu dilakukan. Sebagai contoh, dalam buku ini tidak diceritakan secara panjang lebar mengenai keterlibatan Rusia dalam proses pengembalian Irian Barat ke Indonesia. Padahal dalam beberapa referensi diketahui Rusia ikut berperan penting dalam pelaksanaan diplomasi bebas aktif dan balance of power Timur dan Barat yang dimainkan Indonesia. Langkah tersebut berhasil mendorong negara adidaya lainnya yaitu Amerika Serikat untuk pada akhirnya menekanBelanda agar melepaskan Irian Barat ke pangkuan Indonesia.

Kekurangan lainnya, buku ini hanya membahas hubungan RI-Rusia berdasarkan capaian-capaian empat orang Presiden Indonesia yaitu Soekarno, Soeharto, Megawati Soekarnoputri dan SBY. Presiden B.J Habibie dan Abdurahman Wahid (Gus Dur) tidak disinggung. Bisa jadi penulis mungkin beranggapan karena singkatnya masa jabatan kepresidenan Habibie dan Gus Dur, berakibat tidak adanya capaian dalam hubungan dengan Rusia yang patut disampaikan. Tapi eksplorasi yang lebih mendalam mengenai hubungan RI-Rusia di masa Presiden B.J Habibie dan Gus Dur akan memberikan nilai tambah bagi buku ini.

Akhirnya, sebagai sahabat lama yang berstatus negara adidaya, peran Rusia di percaturan global tidak dapat dikesampingkan begitu saja. Selaras kebijakan presiden SBY untuk menciptakan million friends and zero enemy, kedekatan Indonesia-Rusia perlu dipelihara, ditingkatkan dan dikembangkan seraya memainkan kembali balance of power di era global dewasa ini. Pepatah Rusia mengatakan Net druga-ishi, a nashol-berogi (Bila tak memikili teman, carilah. Jika sudah mendapat, pelirahalah).

12.6.10

Solo dan Warisan Budaya Jawa

Solo atau Surakarta di sebelah mananya Yogyakarta? Begitu umumnya pertanyaan yang muncul ketika berbicara tentang Solo. Begitu pun ketika berbicara tentang budaya Jawa, banyak orang yang lebih menengok Yogyakarta dibanding Solo. Bagi orang Jawa, pertanyaan tersebut sepertinya terdengar aneh, namun tidak bagi masyarakat di luar Jawa dan orang asing. Bagi mereka Yogyakarta lebih beken dibanding Solo.

Dalam konteks ini lah upaya Komunitas Blogger Bengawan Solo untuk menyelenggarakan Sharing Online Lan Offline (SOLO) pada tanggal 4-5 Juni 2010 patut diapresiasi sebagai upaya untuk lebih memperkenalkan Solo dan segala potensi yang dimilikinya. Melalui acara yang dikemas secara santai, blogger Solo memperkenalkan kotanya lewat kunjungan ke kampung batik, susur sungai Bengawan Solo dan tak ketinggalan pertunjukan musik keroncong.

Dari perbicangan selama mengikuti kegiatan SOLO, diketahui bahwa alasan dipilihnya batik sebagai jendela untuk mengintip kota Solo tidak terlepas dari upaya membranding Solo sebagai kota batik dan kota yang mewarisi nilai-nilai budaya Jawa (the spirit of Java). Bahkan untuk membranding Solo sebagai kota batik, Walikota Solo Joko Widodo saat bertemu dengan para blogger menyampaikan bahwa setiap tahunnya di Solo digelar Solo Batik Carnival yang pada tahun ini akan dilaksanakan pada tanggal 23 Juni 2010. Pada kegiatan karnaval yang dilakukan di jalan-jalan utama kota Solo, akan ditampilkan lebih dari 350 orang peserta yang berpakain batik dengan desain khusus. Dan tahun ini kegiatan tersebut menjadi lebih istimewa karena bersamaan dengan Solo sebagai tuan rumah APMCHUD (Asia Pacific Minister`s Conference on Housing and Urban Development) yang akan dihadiri ratusan delegasi dari berbagai negara di Asia Pasifik.

Pilihan batik dan warisan semangat budaya Jawa sebagai langkah branding kota Solo tentu saja tidak keliru, karena bagaimanapun bagi masyarakat Solo, batik dan budaya Jawa merupakan dua hal yang tak terpisahkan. Sudah sejak lama masyarakat Solo mengenakan batik, baik dalam acara-acara di keraton maupun dalam kehidupan sehari-hari. Di samping itu, di Solo pula kita dapat menemukan jejak-jejak sejarah kekuasaan dan kebudayaan Jawa.

Melongok sejenak sejarah kota Solo, maka kita akan mendapatkan bahwa kota Solo didirikan pada masa Kesultanan Mataram tahun 1745 di desa Sala di tepi Bengawan Solo dan pernah menjadi pusat pemerintahan pada masa akhir Kesultanan tersebut. Ketika pada akhirnya Mataram pecah, Solo kemudian menjadi pusat pemerintahan Kasunanan Surakarta dan Praja Mangkunegaraan.

Dalam perkembangannya, kedua kraton Solo pewaris sejarah Jawa ini memang kalah pamor dibandingkan dengan Kesultanan Yogyakarta dibawah kepemimpinan Sri Sultan Hamengkubuwono. Namun demikian peran Solo sebagai salah satu pewaris nilai-nilai budaya Jawa tetaplah penting. Berbagai bangunan bersejarah, produk kesenian, dan makanan khas masih dapat dijumpai di Solo, salah satunya adalah Kampung Batik Laweyan.

Kampung Batik Laweyan merupakan kawasan sentra batik di Kota Solo yang menurut sejarahnya sudah ada sejak jaman kerajaan Pajang tahun 1546. Dalam sejarah perkembangannya, ketika Solo menjadi kota dagang penting, pernah berdiri Syarikat Dagang Islam pada tahun 1905. Karenanya pula tidak mengherankan jika di kampung batik Laweyan ini sangat terasa nuansa Islaminya. Hal ini antara lain terlihat dari keberadaan Masjid Laweyan yang dibangun pada tahun 1546 oleh pemiliknya Kyai Ageng Beluk guna menunjang dakwahnya.

Melongok kawasan kampung batik ini, kita akan melihat suatu kawasan yang didesain dengan konsep terpadu, tempat ratusan pengerajin batik membuat dan menjual berbagai motif batik seperti Tirto Tejo dan Truntum dengan harga yang bervariasi. Disini para blogger diajak mengelilingi gang-gang sempit perumahan penduduk yang berpagar tembok tinggi. Mengingat sejarahnya dan arti penting kawasan ini, Pemerintah Kota Solo pun sudah sejak lama melindungi bangunan yang memiliki kekayaan arsitektur Jawa kuno dan membina kelangsungan industri kerajinan batik di kawasan ini, serta menjadikannya sebagai kawasan wisata sejarah.

Sementara itu melalui kegiatan susur Bengawan Solo para blogger diajak melihat langsung kondisi lingkungan sungai Bengawan Solo yang legendaris sambil diajak memahami nilai-nilai sejarah yang melekat dengan sungai ini. Di tepi sungai inilah pertama kali didirikan bangunan Kesultanan Mataram, pendahulu Kasunanan Surakarta dan Praja Mangkunegaraan.

Secara keseluruhan acara berlangsung apik dan berhasil untuk memperkenalkan salah satu bagian kota Solo. Namun tentu saja waktu 1-2 hari belum cukup untuk menjawab keingintahuan para blogger tentang Solo dan memahami nilai-nilai yang terkandung dalam the Spirit of Java. Semoga pada acara berikutnya bisa ditampilkan sisi Solo yang lainnya.

Menutup kegiatan, para blogger peserta Sharing Online Lan Offline dimanjakan alunan musik keroncong, dimana salah seorang cucu Alm. Gesang menjadi penyanyinya. Tanpa basa basi para blogger langsung dibawa ke alam bawah sadar lewat tembang Bengawan Solo di nomor pembuka dan selanjutnya mengalir sampai jauh ...

Bengawan Solo
Riwayatmu ini
Sedari dulu jadi
Perhatian insani

Musim kemarau
Tak seberapa airmu
Di musim hujan, air
meluap sampai jauh

Mata airmu dari Solo
Terkurung Gunung Seribu
Air mengalir sampai jauh
Akhirnya ke laut

Itu perahu
Riwayatmu dulu
Kaum pedagang selalu
Naik itu perahu

29.3.10

Perjalanan ke Balibo, dari Deklarasi hingga Film

Sabtu, 27 Maret 2010, cuaca sangat cerah ketika rombongan kami yang terdiri dari Duta Besar Agus Tarmidzi (Penasehat khusus ASEAN Kemlu Timor Leste), Victor Sambuaga (Sekretaris I Politik KBRI Dili) , Gatot H. Gunawan (Staf Direktorat Jenderal ASEAN Kemlu RI), Florence Pattipeilohy (Staf Politik KBRI Dili) dan saya sendiri meninggalkan Dili. Tujuan akhir dari perjalanan ini adalah Kota Maliana yang berjarak sekitar 100-an km dari Dili. Namun karena dalam perjalanan ke Maliana kami juga melewati Balibo, sebuah kota kecil yang terletak di dataran tinggi distrik Bobonaro atau sekitar 20 km sebelum Maliana, kami pun tidak melewatkan kesempatan untuk menyinggahi kota ini.

Balibo menjadi tempat yang patut disinggahi karena di tempat inilah tercatat salah satu episode sejarah hubungan Indonesia-Tinor Leste dimana lewat Deklarasi Balibo yang diproklamirkan pada tanggal 30 November 1975, sebagian masyarakat Timor Timur berkeinginan untuk berintegrasi dengan Indonesia. Nama Balibo juga menjadi daya tarik tersendiri karena menurut film Balibo 5 produksi Arenafilm Australia dan disutradarai Robert Connolly, di Balibo lah 5 awak jaringan televisi Australia terbunuh ketika sedang meliput berita. Film ini menjadi kontroversial dan dilarang peredarannya di Indonesia karena dipandang dapat menguak luka lama integrasi Timor Timur ke Indonesia, khususnya dikaitkan dengan keterlibatan Pasukan Khusus TNI dalam peristiwa kematian 5 awak televisi tersebut.

Untuk mencapai Balibo dari Dili setidaknya dibutuhkan waktu 3,5 jam perjalanan darat melewati jalan berkelok-kelok dan penuh lubang menyusuri pantai Timor hingga Batu Gade. Dari Batu Gade, kendaraan dibelokkan ke kiri menanjaki dataran tinggi dimana kota Balibo berada. Sama seperti perjalanan dari Dili-Batu Gade, perjalanan menuju Balibo, selain menanjak, juga berkelak-kelok dan penuh lubang serta sesekali dihadapkan pada longsoran tanah dan batu dari bukit-bukit sepanjang jalan. Dengan kondisi jalan yang kuirang nyaman, tidak mengherankan jika seorang anggota rombongan kami sempat muntah karena tidak tahan menghadapi guncangan.

Sepanjang perjalanan yang mendaki, terlihat pohon-pohon sawit yang tidak terawat dan bangunan-bangunan rumah yang ditinggalkan penghuninya, bahkan sebagian di antaranya masih memperlihatkan sisa-sisa terjadinya perusakan.


Tepat di tengah kota Balibo, masih tampak berdiri monumen Deklarasi Balibo berupa patung seorang pria Timor bersarung yang sedang memegang bendera dan berkalung seutas tali yang terputus. Lokasi monumen Deklarasi Balibo ini sangat strategis di antara dua bukit kecil dan jalan utama antara Maleno (kota sebelum Maliana) dan Batu Gade. Karena letaknya yang strategis inilah, tempat ini dulunya sering menjadi medan pertempuran. Siapa yang bisa menguasa bukit akan lebih mudah mengontrol kawasan tersebut. Tidak mengherankan jika di salah satu bukit terdapat benteng peninggalan Portugis (sekarang disana digunakan sebagai tempat berdirinya menara telekomunikasi), sementara di bukit satunya digunakan sebagai bangunan tempat tinggal dan pemakaman.

Monumen Deklarasi Balibo dibangun untuk mengenang ditandatangainya deklarasi yang mendukung integrasi Timor Timur dengan Indonesia oleh 4 partai politik yaitu Associacao Popular Democratica de Timur (Apodeti) yang dipimpin Arnoldo dos Reis Araujo dan Jose Fernando Osario Soares, Uniao Democratica Timorense (UDT) pimpinan Francisco Xavier Lopes da Cruz da Dominggos Olivera, KOTA (Klibur Oan Timur Aswin) pimpinan Jose Martin dan Partai Trabalista pimpinan A Barao.

Menurut Hendro Subroto dalam bukunya “Saksi Mata Perjuangan Integrasi Timor Timur” keinginan keempat partai untuk berintegrasi dengan Indonesia dilandasai kesengsaraan dan kekejaman selama penjajahan Portugal lewat tangan Fretilin (Frente Revolucionaria de Timor Lesta Independence) yang sedang berkuasa. Deklarasi Balibo juga dimaksudkan untuk menandingi pernyataan kemerdekaan yang dicetuskan Fretilin secara sepihak pada 28 Nopember 1975 dengan menyatakan berdirinya “Republik Demokrasi Timor Timur”.

Monumen ini sekarang sudah tidak terawat, penjelasan tentang monumen ini pun sudah tidak tampak, yang ada justru coretan-coretan grafiti di beberapa bagian monumen. Konon ketika masih menjadi bagian Indonesia, di depan monumen ini terdapat sebuah gedung museum yang mendokumentasikan berbagai informasi tentang proses integrasi Timor Timur dan Deklarasi Balibo.

Dalam film Balibo 5, di kawasan sekitar monumen inilah diperkirakan 5 awak jaringan televisi Australia nekad menjemput ajalnya saat tentara Indonesia bertempur dengan Fretilin. Kenapa saya bilang nekad? Karena sebenarnya kelima orang tersebut telah diperingatkan, bahkan oleh pihak Fretilin sendiri untuk meninggalkan Balibo yang sangat berbahaya bagi keselamatan mereka. Tetapi demi mendapatkan berita eksklusif dan yakin bahwa sebagai jurnalis tidak akan menjadi sasaran tembakan, mereka tetap bertahan disana hingga akhirnya terjebak dalam pertempuran yang mengakhiri kehidupan mereka pada 16 Oktober 1975.

Tuduhan bahwa tentara Indonesia melakukan pembunuhan biadab dan pelanggaran HAM serta kebebasan pers pun kemudian bermunculan. Bahkan pada bulan Februari 2007 Pengadilan New South Wales menyatakan bahwa “Balibo 5 (maksudnya kelima awak televisi tersebut), ditembak dan atau ditikam langsung, bukan di tengah pertempuran, guna membungkam upaya mereka mengekspose gerakan tentara Indonesia ke Timor Timur pada tahun 1975”.

Meski tentara-tentara yang namanya disebutkan telah melakukan bantahan-bantahan, masalah ini masih terus dimunculkan dari waktu ke waktu, apalagi keputusan Pengadilan New South Wales ternyata diikuti dengan keputusan Polisi Federal Australia yang berkeinginan untuk membuktikan kematian Balibo 5. Mantan Menteri Penerangan Yunus Yosfiah yang menjadi tertuduh utama misalnya, telah beberapa kali membantah keterlibatannya dalam insiden Balibo 5. Menurutnya meski ia dan pasukannya pernah bertugas di Balibo, tapi saat kejadian ia tidak berada disana. Namun meski telah memberikan bantahan, namanya masih dikaitkan dengan tokoh Mayor Andreas yang diduga sebagai dirinya. Begitu pun halnya dengan mantan Gubernur DKI Sutiyoso, yang juga pernah bertugas di Timor Timur, telah memberikan bantahan mengenai keterlibatannya di Balibo. Anehnya, meski belum terbukti keterlibatannya dan telah memberikan bantahan, ketika Sutiyoso berkunjung ke Australia dirinya sempat akan ditangkap dan dipenjarakan disana.


Sementara itu di sebelah kanan monumen Deklarasi Balibo masih dapat disaksikan beberapa bangunan yang rusak parah dan tidak terurus. Sepertinya ditinggalkan penghuninya yang eksodus ke Timor Barat usai jajak pendapat tahun 1999. Adapun tidak jauh dari monumen terdapat prasasti yang dibuat Australia untuk menunjukkan narsisme tentaranya mengamankan Balibo usai pasca jajak pendapat. Dengan penuh kebanggaan Australia memahatkan rasa bangganya di kedua prasasti tersebut dengan menyatakan bahwa tentara negeri kanguru inilah yang pertama kali tiba di Timor Leste pada Septrember 1999 untuk menyelamatkan sebuah negara demokrasi dan mengamankan Timor Leste. Padahal ketika Indonesia memutuskan untuk mengintegrasikan Timor Timur sebagai salah satu propinsinya di tahun 1975, negeri yang mengaku sebagai Deputy Sherif AS ini pula yang memberikan dukungan pertama kepada Indonesia.

Sebagai sebuah kota kecil, tidak banyak penduduk yang tinggal di Balibo. Letaknya yang berada di ketinggian menyulitkan bagi warganya untuk bercocok tanam. Beda dengan Maliana yang berada di dataran rendah dan banyak memiliki daerah datar, yang memudahkan masyarakatnya untuk bercocok tanam, terutama bertanam padi. Ketika kami berkunjung tidak terlihat aktivitas dan keramaian warga, jalan dan rumah-rumah terlihat lengang, hanya terlihat beberapa anak kecil sedang bermain.

Karena letaknya yang berada di dataran tinggi, dari Balibo kita dapat melihat keindahan pemandangan alam di sekitarnya. Sepanjang mata memandang, tampak pegunungan menghijau dengan hiasan berupa awan putih berarak. Sementara itu jika memandangkan mata ke arah utara, akan tampat hamparan laut biru perairan Timor (dalam film Balibo 5, pemandangan laut didramatisir dengan kehadiran sejumlah besar kapal perang TNI-AL (kenyataannya, karena letaknya yang cukup jauh, sekitar 15 km, akan sangat sulit melihat kehadiran kapal perang dalam jumlah besar, apalagi jika harus melihat dengan mata telanjang).

Beberapa meter dari Monumen Deklarasi Balibo, terdapat sebuah gedung sekolah dasar yang dulunya dibangun Pemerintah RI sebagai Sekolah Dasar Negeri Balibo. Tampaknya tidak ada perubahan fungsi dari gedung tersebut, kecuali namanya yang dirubah menjadi sekolah dasar Timor Leste dan ditulis dalam bahasa Portugis. Sementara sebuah kantor yang mungkin dulunya digunakan sebagai kantor camat Balibo sekarang difungsikan sebagai kantor Pemerintah Sub-distrik Balibo.

Sama seperti kebanyakan warga Timor Leste, warga Balibo pun masih menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari, selain Tetun. Seorang warga Balibo yang melihat saya sedang melakukan aksi potret memotret sambil tersenyum menyampaikan salam dalam bahasa Indonesia. Sayang karena keterbatasan waktu, dan cuaca cerah berubah menjadi hujan, kami segera bergegas menuju perbatasan RI-Timor Leste di Motaen, Kabupaten Belu (sekitar 10 km dari Balibo). Hal ini harus segera kami lakukan agar jangan sampai perjalanan turun dari Balibo terhambat oleh longsoran tanah dan batu akibat hujan yang deras.

Demikian cerita persinggahan singkat kami di Balibo, walau singkat namun sangat bermanfaat . Setidaknya saya bisa membayangkan dan merasakan bagaimana suasana historis di kawasan ini. Saya membayangkan bagaimana para tentara Indonesia dan sebagian masyarakat Timor Timur berjuang untuk mengintegrasikan wilayahnya dengan bertempur dan mempertaruhkan nyawanya di medan yang berbukit-bukit. Saya juga dapat membayangkan bagamana lebaynya Australia mendefinisikan perannya di Timor Leste dan terkadang mendramatisir kejadiaan di Balibo dan memanfaatkan kejadiaan saat konflik terjadi di Timor Leste untuk menekan Indonesia.

Menghadapi pandangan dan sikap berbagai pihak yang mungkin ingin mendiskreditkan Indonesia, langkah yang tepat adalah bukan dengan melakukan berbagai larangan, tapi justru membuat informasi yang sifatnya terpadu. Dari film Balibo 5 kita bisa mengambil pelajaran bahwa film tetaplah bisa dijadikan sebagai media untuk promosi dan proganda. Untuk itu, hal sederhana yang bisa dilakukan adalah membuat film dari sudut pandang Indonesia. Dalam sejarah integrasi Timor Timur ke Indonesia, kita tidak bisa memungkiri bahwa sejarah Indonesia di Timor Timur telah menjadi fakta, karenanya menuliskan apa yang terjadi merupakan keniscayaan. Langkah ini lebih efektif dalam memunculkan citra positif Indonesia di dunia internasional serta bisa menjaga hubungan baik Indonesia dengan negara tetangganya seperti Australia dan tentu saja Timor Leste. Kita banyak memiliki sutradara handal yang dapat membuat film-film bermutu dan bukankah kita juga banyak memiliki pengalaman dalam membuat film perjuangan dengan Belanda sebagai bad guynya?

26.12.09

Ruang Publik dan Ruang Inspirasi Warga Bekasi

Jika sebagian besar anggota masyarakat ditanyakan kemana menghabiskan waktu di akhir pekan, saya yakin sebagian besar jawabannya adalah “di rumah saja” atau “pergi ke mall”. Mereka yang memilih di rumah saja beralasan kalau keluar khawatir terserempet mobil, macet, panas, berdebu dan tidak aman jika berjalan sendirian. Sementara yang pergi ke mall beralasan karena bosan terus menerus di rumah, perlu jalan-jalan agar bisa cuci mata, melihat-lihat keramaian dan tentu saja bisa ngadem karena sebagian besar mall menggunakan pendingin gedung/ruangan.

Jarang sekali atau bahkan mungkin tidak ada yang menjawab akan memanfaatkan sebagian waktunya untuk mengunjungi tempat terbuka seperti taman sambil berolahraga, duduk-duduk dan membaca buku. Kalau pun ada yang menjawab ke taman, pasti mengunjungi taman berbayar seperti taman rekreasi,taman buah atau kebun raya.

Tidak ada yang keliru dengan jawaban di atas, karena memang pilihan tempat yang tersedia bagi masyarakat untuk berekreasi (nyaman dan gratis) memang terbatas. Hampir sebagian besar kota di Indonesia belum memiliki taman atau hutan kota yang dapat digunakan warganya untuk berekreasi di akhir pekan dengan nyaman. Kalaupun ada taman, umumnya kotor dan tidak terawat. Hal ini bisa terjadi karena Pemerintah daerah/kota sepertinya lebih cenderung mengedepankan pembangunan fisik yang cepat memberikan keuntungan finansial seperti mall.

Padahal dengan lebih banyaknya warga yang enggan keluar rumah, lebih senang menghabiskan waktu di mall, atau menikmati jalan-jalan dengan mobil sebenarnya menjadikan kota tidak sehat dan tidak memunculkan interaksi antar warga. Pada gilirannya tidak memunculkan inspirasi yang mencerahkan bagi kehidupan warganya. Karena itu patut disimak apa yang dikatakan mantan Walikota Bogota, Kolombia, Enrique Penelosa, bahwa “kota yang baik adalah kota yang bisa merangsang warganya keluar rumah dengan sukarela dan ceriah”.

Dalam konteks kota Bekasi, apakah kota ini telah menjadi kota yang baik seperti yang dikatana Penelosa?. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, mari sejenak menelusuri keadaan di kota Bekasi. Dari gerbang masuk ke kota Bekasi seperti tol Pondok Gede Barat, Bekasi Barat ataupun Timur, maka akan mulai tampak deretan bangunan beton seperti halnya yang terdapat di ibu kota Jakarta. Sebagai daerah penyanggah Jakarta dan dengan sebagian besar warganya mencari nafkah di Jakarta, maka Bekasi pun tumbuh dan berkembang mengikuti Jakarta. Tengok saja pertumbuhan fisik di kanan kiri pintu tol Bekasi Barat dan Timur yang dipenuhi mall, supermarket, gedung perkantoran dan apartemen.

Jalan-jalan utama dan penghubung lainnya terus dibangun dan ditata. Lihat saja ruas jalan utama di kota Bekasi yaitu Jalan Achmad Yani pun telah diperlebar dan diperhalus. Selain itu proyek ruas jalan baru sepanjang Kalimalang mulai dibangun dan nantinya menambah ruas jalan Kalimalang yang sudah ada selama ini. Semua upaya di atas harus diakui telah memberikan gambaran wajah kota Bekasi yang lebih tertata rapih dan bersih.

Sayang pembangungan dan pembenahan yang dilaksanakan tersebut baru terbatas fisik, keramahan dan kenyamanan belum sepenuhnya menyentuh ruang publik yang menjadi kebutuhan warga. Tengok saja kebutuhan warga pejalan kaki di sepanjang Jalan Achmad Yani misalnya, meski trotoar sudah diperbaiki, namun belum didukung pepohonan rindang yang meneduhkan pejalan kaki. Sebagian kantor dan pusat pertokoan telah mulai melakukan penanaman pohon, tapi sebagian lainnya belum melakukan. Bahkan beberapa instansi terlihat sudah tidak memiliki tempat lagi untuk menanam pohon. Kalau saja setiap kantor yang ada di jalan tersebut menanam pohon-pohon yang akan tumbuh besar, termasuk penanaman pohon di jalur tengah jalan oleh Pemerintah Kota, maka dalam 4-5 tahun kedepan akan didapati jalan Achmad Yani yang teduh dan nyaman untuk pejalan kaki. Setidaknya kita akan mendapatkan suasana seperti di jalan Dipenogoro Jakarta.

Namun untuk saat ini, jangan coba-coba anda berjalan kaki dari ujung jalan depan kantor walikota menuju ujung jalan satunya dimana terdapat jembatan yang melintasi Kalimalang. Kalau itu dilakukan, dijamin peluh yang menetes akan bercampur dengan debu yang berterbangan.

Ruang publik lainnya adalah taman kota atau hutan kota yang idealnya bisa menjadi paru-paru kota dan ruang bersama bagi warga untuk berkumpul. Sebagai paru-paru kota, taman yang baik bisa mendinginkan kota dari teriknya matahari dan polusi kota. Sebagai ruang berkumpul warga, taman berguna untuk tempat berolahraga, tempat berkumpulnya berbagai anggota masyarakat dan tempat bertukar pikiran. Dimana semua ini pada gilirannya bisa memunculkan berbagai inspirasi dan kreativitas warga.

Sejauh ini taman kota yang bisa dijadikan benchmark kota adalah taman di alun-alun kota Bekasi yang dibangun bersama oleh Pemerintah Kota dan salah satu perusahaan otomotif. Taman kota yang dikelilingi Masjid Agung Al-Barokah, kantor Kodim, RSUD Bekasi, Polres, dan Kejaksaan ini memang terlihat teduh dinaungi berbagai pohon besar. Namun sayang keteduhan taman tidak diikuti dengan perawatan taman, dimana rumput dan ilalang tumbuh liar dan merusak pemandangan. Jogging track yang ada disekelilingnya tidak berfungsi karena mulai tertutup rumput-rumput, selain bau yang datang dari kotoran hewan dan manusia yang buang hajat seenaknya. Keadaan ini tentu membuat masyarakat enggan berkunjung ke taman.

Sementara itu, trotoar yang mengelilingi taman dan alun-alun kota sebagian mengalami kerusakan dan sebagian lainnya ditempati pedagang kaki lima. Kondisi ini tentu saja tidak memungkinkan bagi warga berjalan nyaman di sepanjang trotoar karena memang tidak ada tanaman pelindung yang bisa meneduhi pejalan kaki. Jadi memang amat disayangkan, jika taman yang semestinya bisa dimanfaatkan bagi kepentingan warga, setidaknya untuk berolahraga di pagi hari tidak termanfaatkan secara maksimal. Kalau untuk berolahraga bersama saja tidak nyaman, bagaimana bisa untuk sekedar duduk-duduk, berbincang santai , membaca dan mendapatkan ide-ide kreatif.

Bicara tentang ruang publik untuk menumbuhkan budaya kreatif, penataan taman tentu saja bukan satu-satunya cara. Namun pembenahan taman sebagai ruang publik yang dapat dimanfaatkan warganya bisa dikedepankan oleh Pemerintah Kota Bekasi. Jika ini dilaksanakan dengan baik, maka Bekasi bukan hanya bisa meraih Piala Adipura di tahun 2010 tetapi juga membudayakan warga untuk kreatif dan aktif mendorong proses pembangunan dan hidup bersih di lingkungannya. Untuk itu pula Pemerintah Kota kira dapat mendorong berbagai proses kreatif dan program yang diajukan oleh berbagai komunitas masyarakat di Bekasi seperti Komunitas Blogger Bekasi, Tangan Di Atas, Bike 2 Work, Forum Masyarakat Bekasi, masyarakat Penggemar Kuliner, Gerakan Masyarakat Peduli Adipura, Pengamen dan Anak Jalanan dan lain-lain.

Khusus Komunitas Blogger Bekasi sejauh ini para blogger telah turut serta mendukung program Pemerintah kota Bekasi seperti sosialisasi gerakan penghijauan dan lingkungan ke masyarakat di Bekasi melalui penyebarluasan opini dan informasi di internet serta aksi nyata di lapangan. Kalau saja pemahaman masyarakat semakin tinggi dan diikuti upaya penataan taman yang bisa menyentuh kebutuhan masyarakat Bekasi, penataan bukan hanya di taman kota alun-alun tetapi di seluruh taman yang ada di Bekasi termasuk di perumahan-perumahan, dapat dibayangkan bagaimana tumbuh dan besarnya kecintaan dan gairah masyarakat untuk ikut serta memajukan Bekasi. Pada gilirannya tentu saja Bekasi akan semakin maju. Semoga.