Showing posts with label lingkungan. Show all posts
Showing posts with label lingkungan. Show all posts

14.4.11

Stasiun Kranji Terendam

Tampaknya tidak perlu hujan berjam-jam untuk sekedar merendam halaman Stasiun Kranji dan menjadikannya sebuah genangan lebar. Lihat saja foto pada postingan ini, berkat hujan setengah jam saja, seluruh halaman stasiun terendam melebihi mata kaki orang dewasa. Saya mesti melepas sepatu dan menggulung celana panjang selutut agar bisa menuju jalan raya.

Ach … kalau saja sistim pembuangan air berjalan baik dan halaman stasiun kereta dipergunakan untuk peruntukan yang semestinya, saya yakin air tidak akan mengendon atau kos di tempat tersebut.

Ach … kalau saja sistim pembuangan air berjalan baik dan halaman stasiun kereta dipergunakan untuk peruntukan yang semestinya, saya yakin air tidak akan mengendon atau kos di tempat tersebut.

Saya perhatikan, tidak ada saluran pembuangan di halaman stasiun. Kalaupun ada saluran air, mungkin tertutup sampah atau tidak berfungsi. Halaman stasiun pun tidak dipergunakan sebagaimana mestinya. Halaman yang harusnya untuk parkir kendaraan bermotor, malah digunakan para pedagang K5 untuk berjualan dengan mendirikan tenda/bangunan darurat. Akibatnya, halaman parkir berubah fungsi sebagai pasar.

Melihat kejadian ini saya akhirnya ikutan bersalah karena jadi menuduh banyak pihak tidak mampu melaksanakan tugasnya (meski tuduhan tersebut hanya di dalam hati). Saya menuduh Pemerintah Kota, khususnya dinas-dinas terkait seperti dinas kebersihan, lingkungan atau tata kota, tidak peduli dengan kebersihan dan pengawasan peruntukkan halaman stasiun. Padahal sebagai penerima Piala Adipura 2010, mestinya tidak ada cerita halaman stasiun Kranji terendam hanya karena saluran air tidak berfungsi.

Saya pun jadi menuduh PT KAI yang tidak becus mengelola halaman parkirnya dengan menjadikannya sebagai pasar dadakan. Saya juga jadi menduga-duga mengenai adanya konspirasi (maaf pilihan katanya sengaja dilebaikan) antar berbagai pihak untuk “menduitkan” halaman parkir sebagai lapak tempat berjualan pedagang K5.

Selanjutnya, saya juga merasa bersalah karena sekecil apapun ikut mempersalahkan pedagang K5 yang berjualan di tempat yang bukan semestinya.

Akhirnya, ketika memposting tulisan ini pun saya merasa bersalah karena secara tidak langsung mengajak anda pembaca menyalahkan mereka-mereka yang saya sebutkan di atas.

Jadi agar saya dan (mungkin) anda tidak merasa bersalah berkepanjangan, maka mestinya pihak Pemerintah Kota bisa memainkan perannya dengan jauh lebih baik sesusai tugas pokoknya masing-masing. Kerjakan apa yang mesti dilakukan. Tidak perlu diprotes terlebih dahulu oleh masyarakat. PT KAI juga semestinya lebih baik lagi dalam mengelola aset-asetnya. Kalau urusannya kereta, ya jangan ikut-ikutan bikin pasar dadakan. Sementara kepada pedagang K5 semoga maju usahanya dengan berdagang di tempat yang semestinya.

Bekasi, 12 April 2011

12.3.11

Pray for Japan

Segera setelah gempa bumi berskala 8,9 skala Richter terjadi pada tanggal 11 Maret 2011 pukul 14.46, gelombang Tsunami datang menghancurkan wilayah pesisir pantai timur Jepang. Dari gambar-gambar yang ditampilkan sejumlah media terlihat betapa dahsyatnya musibah yang terjadi. Kapal-kapal laut, rumah dan kendaraan yang ada di kawasan tersebut luluh lantak diterjang gelobang.

Gempa yang terjadi dan diikuti gelombang tsunami kali ini merupakan musibah terbesar yang selama ini pernah terjadi. Dilaporkan setidaknya ditemukan sebanyak 9.500 orang (setengah dari penduduk kota Minsanriku) tewas, serta sebagian besar lainnya belum diketemukan. Dari pantauan media, setelah gempa besar ini, beberapa gempa susulan juga terus terjadi.

Selain menghancurkan Jepang timur, bencan ini juga memunculkan kekhawatiran bahwa gempa ini juga akan terjadi di kawasan Pasifik. Untuk itu sejumlah sinyal peringatan sudah dibunyikan dan masyarakat yang tinggal di sisi pantai Pasifik diminta untuk waspada dan bersiap melakukan evakuasi segera jika bencana terjadi.

Menghadapi musibah besar ini, selain bersiap dengan sejumlah peralatan dan teknologi maju guna mengurangi jumlah korban, kita juga mesti berdoa untuk kebaikan kita semua, khususnya untuk masyarakat Jepang agar tetap tabah dan kuat menghadapi bencana. Untuk itu melalu jejaring sosial media, pengguna twitter di seluruh dunia lewat hastag #prayforjapan, menyerukan doa bersama untuk keselamatan masyarakat yang terkena bencana, khususnya masyarakat Jepang. Amin Ya Robbal Alamin

9.3.11

Mancing

Bicara mancing maka bayangan kebanyakan orang adalah melempar/meletakkan kail ke kolam air yang dalam dan luas atau laut yang diperkirakan banyak ikannya. Tapi bagi Bang Mamad, sebut saja begitu karena saya belum sempat menanyakan namanya, mancing bisa dilakukan di kali kecil dengan air berwarna hitam dan dangkal.

"Bang memangnya bisa dapat ikan?" Tanya saya ketika pagi ini menjumpai Bang Mamad sedang jongkok di belakang kali kecil perumahan Persada Kemala, Bekasi Barat. Tangannya sedang memegang pancingan dengan mata kail di atas permukaan kali yang hitam.

"Bisa pak, biasanya saya dapat ikan lele. Ikan tersebut tidak terlihat karena agak tersembunyi di antara lumpur dan sampah. Kita mesti sabar"

Wow, luar biasa. Melihat kalinya yang dangkal, kotor dan banyak sampah ternyata masih ada ikan yang bisa dikail. Hal ini seolah menegaskan bahwa rezeki memang bisa diapat selama mau berusaha.

Dari kejadian pagi ini, saya pun teringat sebuah foto pedagang ketoprak yang mangkal di tengah timbunan sampah di tempat pembuangan akhir sampah di Bantar Gebang. Jika melihat jualan si pedagang ketoprak kita pasti tidak menyangka akan ada pembeli yang menghampiri. Alasannya sederhana, ketoprak dijual di kawasan yang sangat kotor dan bau dengan lalat yang beterbangan kesana-kemari dan hinggap di gerobak dan makanan.

Tapi penjual ketoprak tersebut tetap tenang menanti datangnya pembeli. Benar saja, ketika matahari sudah tepat di ubun-ubun, para pemulung yang berada di sekitar lokasi meninggalkan keranjangnya dan menghampiri si pedagang ketoprak. Selain para pemulung, para supir truk pun tidak ketinggalan untuk membeli ketoprak. Tidak perlu waktu lama, dagangan pun habis.

Kejadian lain yang juga berhubungan adalah cerita dari Pak Ahmad Kurnia, pemimpin redaksi newsroom Kemenkominfo saat berjumpa kemarin siang. Menurut Pak Kurnia, saat dirinya berada di ruang tunggu bandara Juanda, Surabaya, ia bertemu dengan seorang pegawai bank Swiss yang berkantor pusat di Lugano, Swiss. Pegawai bank tersebut berada di Surabaya dalam rangka menemui sejumlah klien orang Indonesia yang ingin berinvestasi di bank tempat ia bekerja.

"Yang mengejutkan, ternyata para klien Indonesia tersebut menginvestasikan dana minimal US$ 1 juta di bank Swiss tersebut" ujar Pak Kurnia. "dan yang lebih mengejutkan ternyata jumlahnya bukan cuma 1-2 tapi cukup banyak dan tidak sedikit pula yang menginvestasikan lebih dari US$ 5 juta, itu berarti di tengah kondisi perekonomian saat ini, banyak orang Indonesia yang kaya-kaya dan lebih memilih menginvestasikan dananya di luar neger".

Moral dari cerita ini, jangan pandang remeh air yang hitam dan dangkal. Jangan remehkan pula tempat yang kotor dan bau. Atau jangan remehkan orang lain. Karena dari mereka mungkin rejeki kita berasal. Seperti kata Forest Gump "Life is like a box of chocolates. You never know what you're going to get".

http://arisheruutomo.com dan http://aseanblogger.com Sent from my BlackBerry® smartphone

18.2.11

Jangan Rampas Hak Pejalan Kaki

Menikmati trotoar yang nyaman dan aman saat berjalan kaki seperti menjadi hal yang sangat istimewa di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Betapa tidak, ketika kita tengah berjalan di trotoar tiba-tiba ada saja pengendara motor yang melintas dengan mengambil ruang di bahu jalan. Apa yang dilakukan si pengendara motor tentu saja membahayakan keselamatan si pejalan kaki karena bisa saja terserempet kendaraan yang lewat.

Dalam beberapa kesempatan saya mencoba menegur si pengendara motor agar menggunakan jalur yang semestinya untuk kendaraan. Satu dua pengemudi sambil malu-malu meminta maaf dan beralasan dikejar waktu sehingga mesti mengambil jalan pintas dengan terpaksa menjadikan trotoar sebagai jalur motor. Sementara kebanyakan lainnya malah lebih galak dari si pejalan kaki yang sesungguhnya lebih berhak berjalan di trotoar.

Karena seringnya melihat kelakuan pengendara motor yang seenak udelnya sendiri, terkadang saya berpikiran jelek, jangan-jangan si pengendara motor yang suka merampas hak pejalan kaki sebenarnya tidak memiliki otak yang memadai sehingga tidak bisa membedakan jalan yang semestinya mereka gunakan.

Bicara mengenai perampasan hak pejalan kaki, selain pengendara motor, ada pula pedagang kaki lima (PKL), gelandangan dan pengemis. Bukan pemandangan baru jika kita melihat trotoar yang semestinya digunakan untuk pejalan kaki malah dipergunakan para PKL untuk berjualan, mulai dari menjual barang kelontong hingga makanan dan minuman. Akibatnya pejalan kaki dipaksa berjalan di badan jalan yang sebenarnya untuk kendaraan bermotor. Selain membahayakan si pejalan kaki, juga menimbulkan kemacetan lalu lintas.
Sama seperti pengendara motor, para PKL ini seringkali lebih galak dari pada pejalan kaki. Jangan coba-coba untuk menegur mereka jika anda bukan aparat keamanan. Bisa-bisa anda yang akan didamprat balik atau setidaknya dipelototin. Apalagi tidak sedikit dari PKL yang berdagang di trotoar sudah membayar sejumlah pajak tidak resmi kepada Gayus … eh maksudnya “aparat keamanan”.

Lalu bagaimana agar pejalan kaki tidak terampas hak-haknya? Saya melihatnya sederhana saja, para pengendara motor hendaknya mulai memunculkan kesadaran diri untuk tidak menggunakan trotoar sebagai jalur kendaraan bermotor. Jangan tergoda untuk ikut-ikutan pengendara lain yang terlebih dahulu menyalahi aturan. Dan tidak perlu pula menunggu aparat keamanan untuk bertindak.

Untuk PKL, gelandangan dan pengemis, kunci penyelesaian masalahnya terletak di aparat keamanan dan ketertiban (tramtib) itu sendiri. Maukah aparat tramtib bersungguh-sungguh melakukan tugasnya memelihara keamanan dan ketertiban lingkungan dan tidak menjadikan PKL sebagai obyek pungutan liar. Kalau aparat tramtib tegas, saya yakin PKL tidak akan berani berjualan di trotoar.

Begitu lah pemikiran sederhana saya, bagaimana dengan pemikiran dan pendapat anda?

5.11.10

Duka di Wasior, Mentawai dan Merapi

Duka beruntun menyelimuti negeri ini. Di timur, tepatnya di kecamatan Wasior, Papua Barat. Terpantau ratusan orang tewas karena banjir bandang. Di barat, tsunami menerjang pulau-pulau di Mentawai dan juga menewaskan ratusan penduduk. Sedangkan di tengah, di Yogyakarta dan sekitarnya, Gunung Merapi mengamuk memuntahkan lahar panas dan debu vulkanik yang membumbung tinggi dan melebar sejauh belasan kilometer serta mengakibatkan jatuhnya banyak korban.

Bencana alam beruntun ini kembali menyadarkan kita bahwa musibah bisa datang kapan pun. Kita tidak bisa menolak datangnya bencana. Yang bisa dilakukan adalah meminimalisir jatuhnya korban dengan antara lain memasang alat-alat pemantau gempa, tsunami ataupun akivitas gunung berapi. Diketahui misalnya di kepulauan Mentawai telah dipasang sistim pemantau gejala tsunami, sementara di lereng Merapi dipasang sejumlah alat pantau aktvitas gunung berapi.

Bencana alam beruntun ini juga kembali menyadarkan kita semua bahwa sistim penanggulangan dan penanganan bencana di negeri ini masih jauh dari harapan dan seringkali tergagap-gagap dalam merespon bencana yang terjadi. Meski telah langsung turun ke lokasi bencana dan mengirimkan bantuan, Pemerintah daerah dan pusat masih lambat dalam menanggapi bencana.

Beruntung masyarakat kita sangat proaktif dn sigap. Tanpa diminta seluruh anggota masyarakat bergerak membantu para korban bencana. Para sukarelawan terjun ke lokasi bencana untuk memberikan bantuan perawatan kesehatan, pangan dan pakaian serta melakukan bimbingan mental pasca bencana. Saat ini ribuan sukarelawan bekerja di berbagai lokasi bencana. Meski kesulitan kerap menghadang, para sukarelawan dan seluruh anggota masyarakat tetap memperlihatkan semangat yang tinggi untuk membantu para korban.

Bencana alam yang terjadi beruntun kali ini sepertinya bukan yang terakhir. Bukannya mendoakan agar sering terjadi bencana, tapi berdasarkan penjelasan para ahli yang mengatakan bahwa wilayah Indonesia sebagian besar terletak di lokasi bencana alam maka sudah sepatutnya kita mesti meningkatkan kewaspadaan dan empati kemanusiaan kita. Para pemimpin negeri ini pun, baik pusat maupun daerah, diharapkan lebih tanggap dalam menyikapi bencana yang terjadi. Seorang pemimpin sebaiknya terjun langsung dalam kegiatan penanggulangan bencana. Jangan pergi meninggalkan lokasi bencana hanya karena alasan mencari investasi asing seperti yang dilakukan Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah perlunya membenahi sistim penanggulangan dan pemberian bantuan bagi korban bencana agar lebih terpadu dan transparan. Departemen Sosial, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) serta institusi terkait lainnya harus selalu berkoordinasi dalam menjalankan tugasnya. Koordinasi dalam sistim terpadu perlu dipererat agar tidak ada lagi debat kusir yang berkepanjangan ketika bencana terjadi.

Dengan sistim terpadu dan transparan, masyarakat tidak lagi harus berjalan sendiri-sendiri dalam proses pemberian bantuan. Bukan rahasia lagi banyak organisasi kemasyarakatan maupun individu yang menggalang aksi kemanusiaan, tapi tidak jelas pertanggungjawabannya. Bukannya curiga, tapi memang bukan rahasia pula jika ada saja organisasi atau individu yang kerap memanfaatkan suasana duka untuk memperoleh dana bagi kepentingan sendiri.

Akhirnya mari kita berdoa semoga diberikan ketabahan dalam menghadapi cobaan ini dan semoga bencana alam ini segera berakhir.

26.10.10

Mati Ketawa Ala Bang Foke

"Selamat pagi sobat Jkt, Bgmn semalam? Blm kapok khan tinggal di Jakarta? Begitu bunyi barisan kata-kata yang terdapat dalam sebuah foto yang dikirimkan rekan saya pagi ini.

Foto tersebut mengacu pada hujan deras semalam yang mengakibatkan Jakarta kembali lumpuh. Banyak warga Jakarta dan sekitarnya yang terpaksa berjalan kaki. Genangan di sejumlah jalan raya mengakibatkan kendaraan berhenti. Akibatnya banyak warga yang terjebak macet dan baru tiba di rumah tengah malam. Suatu kejadian yang tentu saja sangat tidak mengenakkan.

Saya sendiri, meski tidak menggunakan angkutan roda empat, terkena kemacetan di jalur transportasi kereta rel listrik. Setelah menembus hujan deras dari kantor saya di Pejambon, setibanya di Stasiun KA Gambir kereta yang dijadwalkan pukul 18.36 wib baru tiba satu jam kemudian. Dari Stasiun Gambir saya terlebih dahulu menumpang kereta ke arah Stasiun Kota, karena kalau langsung dari Gambir ke stasiun Bekasi dijamin tidak akan memperoleh tempat duduk dan berdiri sepanjang perjalanan.

Dari Stasiun Gambir hingga stasiun Cikini kereta masih berjalan lancar, tapi menjelang stasiun Manggarai hingga Stasiun Keranji di Bekasi kereta mulai tersendat dan sering berhenti karena harus bergiliran dengan kereta-kereta lain. Penyebabnya ada beberapa jalur kereta yang tergenang dan tidak bisa digunakan. Untuk itu jalur kereta yang masih berfungsi digunakan secara bergantian. Akibatnya jarak Gambir-Bekasi yang di saat normal dapat ditempuh sekitar 40-50 menit mesti ditempuh 4 jam alias 240 menit. Tidak mengherankan jika akhirnya saya tiba dirumah sekitar 23.30 wib.

Saya masih beruntung bisa pulang sebelum tengah malam, karena paginya setelah mendengarkan dan membaca berita baru tahu kalau banyak warga yang ternyata sampai di rumah sekitar pukul 2 malam. Bayangkan pukul 2 malam baru sampai di rumah, sementara keesokannya, pagi-pagi sekali harus ke kantor dan itu mesti berjuang kembali menembus kemacetan kota.

Ya Jakarta memang semakin hari semakin semrawut, macet, dan banjir. Hujan sedikit, banjir pun datang. Meski dipimpin oleh Gubernur Fauzi Bowo (Bang Foke) yang dikenal sebagai ahlinya, kondisi Jakarta justru semakin menyeramkan. Kondisi ini tentu saja membuat banyak orang frustasi. Tapi apa boleh buat tidak banyak hal yang bisa dilakukan selain menerima keadaan.

Untuk itu, guna mengurangi kestressan, banyak yang kemudian berupaya menghibur diri sendiri, caranya antara lain dengan mengolok-ngolok pemimpinnya yang dianggap belum mampu mengatasi keadaan Jakarta. Mengenai banjir misalnya, saking pasrahnya makanya pada foto dimana Bang Foke sedang bertolak pinggang dan berkomentar dikasih teks seperti ini "Ini cuman genangan kalo airnya udah sampai kumis gue, baru namanya banjir".

Kalau sudah sekumis baru namanya banjir

Apa boleh buat Bang Foke, meski tidak pantas seorang pemimpin diolok-olok, anda mesti legowo diolok-olok warganya (termasuk dengan mencukur kumis Bang Foke). Mungkin kalau suatu saat nanti bang Foke atau siapapun yang memimpin Jakarta bisa memenuhi harapan warganya, pujian akan datang sendiri. Sementara ini nikmati saja mati ketawa ala Bang Foke lewat foto-foto yang beredar di Blackberry Messenger, facebook ataupun milis-milis.

15.10.10

Air Sahabat Kita

Air adalah zat atau materi atau unsur yang dibutuhkan semua mahluk hidup di bumi. Air menutupi sekitar 71% permukaan bumi. Menyadari pentingnya air bagi kehidupan, dapat dipahami jika kegiatan Blog Action Day 2010 yang jatuh pada tanggal 15 Oktober 2010 mengambil tema air. Sekitar 4.400 blog dari 133 negara ikut berpartisipasi dan menulis artikel di blognya hal-hal yang terkait dengan air.

Bagi saya sendiri, ketika mengetahui bahwa air menjadi tema Blog Action Day 2010, entah mengapa pikiran saya langsung melayang ke baris-baris kata dalam tembang Bengawan Solo karya Gesang: Musim kemarau/Tak seberapa airmu/Dimusim hujan air../Meluap sampai jauh. Tidak cukup sampai disitu, ada baris kata lain yang dituliskan Gesang: Mata airmu dari Solo/Terkurung gunung seribu/Air meluap sampai jauh/Dan akhirnya ke laut.

Bisa jadi Gesang saat itu tidak mengira jika air yang meluap, meski akhirnya ke laut, tetapi mampir dulu di pemukiman warga sebagai banjir atau genangan di sejumlah titik. Ada banjir yang hanya sebentar, namun ada pula yang sampai berhari-hari. Namun apapun itu, muncul dampak yang sama yaitu kotor dan menyebabkan penyakit. Disini air yang mestinya memberi manfaat justru menjadi musibah.

Kartun "Enjoying the Water" jelas menggambarkan bahwa air bisa jadi musibah karena air yang yang tenang tidak selamanya aman. Bukankah juga ada pepatah yang berbunyi "air tenang menghanyutkan. Air beriak tanda tak dalam".

Tapi namanya manusia, ditengah musibah selalu saja ada peluang untuk menunjukkan kreativitasnya dan mengubahnya menjadi peluang. Ketika banjir tiba, gerobak pun bisa jadi kendaraan untuk mengangkut orang-orang yang ingin menghindari banjir. Yang lebih konyol lagi, ditengah banjir ada saja orang yang masih bersenang-senang dengan bermain ski di area banjir.

Akhirnya lewat gambar-gambar tersebut saya ingin menunjukkan bahwa air adalah sahabat kita semua. Karena itu cermatlah kita menggunakannya. Jangan cemari lingkungan yang berakibat cemarnya air yang dikonsumsi manusia. Air adalah milik kita semua an kitalah yang bersama-sama mesti menjaganya. Mari bersama-sama kita dukungan upaya PBB untuk memperoleh air bersih dan sehat bagi jutaan umat manusia di bumi.

Change.org|Start Petition


14.10.10

Hati-hati Melintas Jalan Achmad Yani Bekasi

Waktu masih menunjukkan pukul 9 pagi ketika saya dan istri melintas jalan Achmad Yani, Bekasi dari arah utara ke selatan. Meski hari kerja, jalan utama di kota bekasi ini tidak begitu terlihat ramai.

Menjelang perempatan lampu merah ke arah Kayu Ringin (depan pertokoan Kali Mas Naga), kendaraan yang saya tumpangi melambat dan berhenti karena lampu menyala merah.

Saat menunggu lampu menyala hijau, istri saya tiba-tiba berujar “wah kok tiang lampunya bergoyang-goyang, padahal tidak ada angin kencang?”

“Coba kalau anginnya besar seperti saat hujan, lampu tersebut bisa jatuh dan menimpa kendaraan yang kebetulan melintas dibawahnya” tambah istri saya lagi.

“Iya benar, kayaknya tiang yang menyanggah lampu tidak terlalu kuat. Tampaknya dinas yang berkepentingan di kantor Pemerintah Kota (Pemkot) mesti segera turun tangan sebelum jatuh korban” jawab saya

“Sebenarnya sih bukan cuma tiang lampu perlintasan saja yang mesti diperbaiki, tapi juga jalan-jalan yang sudah mulai banyak berlubang. Misalnya di sepanjang jalan kali malang atau di jalan Achmad Yani sendiri” tambah saya kemudian.

“Iya, jangan sampai jatuh korban terlebih dahulu baru diurus. Bisa lebih repot urusannya” imbuh istri saya dengan penuh semangat

Kalau diperhatikan dengan seksama, beberapa waktu belakangan ini pihak Pemkot sepertinya agak mengendur dalam melakukan kegiatan pembenahan dan perawatan fasilitas umum seperti jalan raya. Selain itu pengawasan ketertiban yang sangat gencar dilakukan menjelang penilaian Adipura sekarang juga melemah. Lihat saja banyak pedagang kaki lima yang berjualan seenaknya di tepi jalan, misalnya di perempatan jalan depan Bekasi Cyber Park dan Mall Metropolitan. Selain menyebabkan kemacetan, tindakan berjualan di tepi jalan juga membahayakan si penjual dan pengendara yg lewat. Itu hanya beberapa contoh, mungkin anda bisa menambahkan di kolom komentar.

Mengendurnya kegiatan pembangunan dan perawatan infrastruktur publik serta pengawasan ketertiban oleh pemkot tentu saja amat disayangkan. Jangan sampai anggapan bahwa Pemkot aktif melakukan pembangunan demi mengejar Adipura dan sesudah meraih piala tersebut kembali ke aslinya (business as usual) terbukti kebenarannya. Jangan pula karena sejumlah pegawai Pemkot sedang berurusan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) maka urusan pelayanan dan perawatan kepentingan publik dilupakan.

Cara yg sederhana untuk membantah pandangan masyarakat Bekasi terhadap Pemkot dan pimpinannya adalah memenuhi kepentingan masyarakat seperti memperbaiki lampu-lampu lalu lintas yang sudah tidak benar posisinya, menambal jalan yang berlubang-lubang dengan benar atau memperbaiki saluran air yang menjadi penyebab banjir di Bekasi.

3.10.10

Habis Hujan Terbitlah Banjir

Minggu 3 Oktober 2010, Bekasi seharian diliputi awan berarak. Suasana kelabu membuat orang enggan keluar rumah. Puncaknya sekitar pukul 12 siang, air bagai ditumpahkan dari langit. Meski tidak berlangsung lama, cukup untuk membuat sebagian wilayah di Bekasi terendam banjir. Belum lagi genangan air surut, hujan kembali tercurah dan air pun kembali menggenangi kawasan yang sudah terendam banjir.

Salah satu kawasan yang terpantau mengalami banjir adalah komplek perumahan Persada Kemala. Komplek perumahan yang berdampingan dengan perumahan Jaka Permai beberapa bagiannya langsung terendam banjir. Akibatnya warga yang tinggal di blok belakang kesulitan melewati jalan utama perumahan. Untung satpam bertindak sigap dengan menutup jalan yang terendam banjir dan membuka pintu gerbang tengah yang menuju jalan Gaharu di perumahan Jaka Permai.

Untuk sementara masalah akses masuk dan keluar perumahan Persada Kemala teratasi. Namun warga yang rumahnya berada di kawasan blok yang terendam banjir dapat dipastikan tidak bakal bisa tidur nyenyak jika hujan turun kembali. Mereka khawatir begitu hujan kembali menderas, airpun akan memasuki rumah mereka. Meski biasanya air yang masuk ke rumah tidak berlangsung lama, tapi sudah cukup untuk membuat badan pegal-pegal karena sesudahnya harus membersihkan kotoran yang terbawa air.

Banjir di beberapa kawasan perumahan di Bekasi sepertinya sudah menjadi langganan, penyebabnya antara lain sistim pembuangan yang tidak memadai. Sungai-sungai yang melintasi perumahan sudah tidak bisa lagi menampung debit air yang melimpah. Selain terhambat sampah-sampah, yang seringkali lupa dibersihkan ketika kemarau, tidak ada lagi kawasan yang berfungsi sebagai tempat penampoungan dan peresapan air. Kawasan yang dulunya menjadi tempat penampungan dan peresapan air kini sudah beralih fungsi menjadi kawasan perumahan baru yang sebagian arealnya ditutupi aspal.

Warga kini nampaknya hanya bisa bersikap pasrah dan berdoa semoga hujan tidak terlalu lebat sehingga habis hujan tidak menerbitkan banjir.

Kalau di Persada Kemala banjir setiap kali hujan deras dan agak lama, bagaimana dengan kawasan tempat tinggal anda?

7.6.10

Selamat, Kota Bekasi Raih Piala Adipura 2010

Piala Adipura. Kota Bekasi akhirnya meraih Piala Adipura 2010. Kementerian Lingkungan Hidup Jumat 4 Juni 2010 menyatakan Kota Bekasi sebagai salah satu penerima Piala Adipura 2010 kategori Kota Metropolitan.

Hal ini merupakan suatu pencapaian yang luar biasa dan cermin keberhasilan serta kerja keras dari seluruh elemen masyarakat yang dipimpin Walikota Mochtar Mohammad. Usaha Walikota untuk meraih Piala Adipura diawali dengan kegiatan yang tidak mengenal lelah dalam mengkampanyekan 3K (kebersihan, keindahan, ketertiban) secara langsung maupun lewat berbagai media didengarkan dan diikuti masyarakat kota Bekasi.

Dari pantauan terhadap penilaian perolehan Piala Adipura, salah satu keberhasilan Kota Bekasi adalah kemampuannya untuk mengelola dan memanfaatkan sampah di TPA Sumur Batu Bantar Gebang menjadi sumber energi alternatif. Hal ini yang juga yang menjadi alasan kenapa Blogger Bekasi berupaya mempublikasikan keberhasilan pengelolaan sampah saat kegiatan Amprokan Blogger 2010. Dampaknya luar biasa, para blogger yang mengunjungi tempat tersebut mempublikasikan banyak tulisan di blog dan jejaring sosial lainnya.

Mewakili teman-teman blogger Bekasi, saya mengucapkan selamat kepada Walikota Mochtar Mohammad beserta jajarannya dan tentu saja seluruh masyarakat kota Bekasi. Semoga keberhasilan ini bisa mewujudkan harapan kita semua agar Kota Bekasi menjadi kota yang bersih, hijau, dan tertib. Kota yang nyaman ditinggali warganya. Tantangan mendapatkan Piala Adipura adalah mempertahankan dan meningkatkan keberhasilan yang telah dicapai.

9.2.10

Warga Bekasi (Ternyata) Tak Peduli Adipura

Target Walikota Bekasi H. Mochtar Mohamad untuk meraih Piala Adipura tahun 2010 tampaknya akan menghadapi tantangan serius. Ketika beliau secara sungguh-sungguh berkampanye dari satu tempat ke tempat lain, melakukan aksi tanam pohon setiap minggu dan ber iklan di radio, ternyata tidak jauh dari kantor walikota, tepatnya di kawasan Gelanggang Olah Raga (GOR) dan Bumi Perkemahan Pramuka kondisinya masih sangat memprihatinkan. Sehingga tepat rasanya jika dikatakan semut di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak kelihatan.

GOR dan Bumi Perkemahan Pramuka yang letaknya persis di depan kantor walikota ini, setiap akhir pekan memang selalu dipadati warga Bekasi yang ingin melakukan berbagai kegiatan seperti berolah raga, berekreasi hingga berpacaran. Tempatnya yang cukup luas dan rimbun memang menunjang semua kegiatan tersebut. Sayang kondisi kebersihan lingkungan tidak terpelihara dan dengan mudah dapat dijumpai sampah-sampah yang berserakan.

Banyaknya anggota masyarakat yang berkumpul, disertai kehadiran pedagang kaki lima, menjadikan kawasan GOR dan Bumi Perkemahan sangat ramai, khususnya di akhir pekan. Namun rendahnya kesadaran anggota masyarakat dalam turut serta memelihara kebersihan dan lingkungan, menjadikan kawasan ini kotor. Kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan dan senantiasa mengedepankan aspek kebersihan merupakan faktor penting berhasilnya upaya memelihara kebersihan lingkungan.

Untuk itu, sebelum jauh-jauh bicara tentang Adipura dan kesadaran masyarakat, hanya ada sebuah pertanyaan sederhana yang kiranya perlu dijawab “Apa upaya anda menjaga kebersihan dan sudahkan hari ini anda membuang sampah pada tempatnya ?”

31.5.09

Memprihatinkan, Status Taman Nasional Komodo Terus Merosot

Ketika 10 Mei 2009 lalu saya mempostingkan “Ayo Dukung Taman Nasional Komodo”, kedudukan Taman Nasional Komodo (TNK) masih berada pada peringkat ke-9 dari 56 kandidat 7 keajaiban alam dunia yang baru (New 7 Wonders of Nature) pada kategori/group E: Forests, National Parks, Nature Reserves”. Namun menjelang batas akhir pemilihan 7 Juli 2009, kedudukan TNK justru merosot ke posisi 15. Posisi yang sangat berbahaya bagi TNK untuk dapat masuk ke tahapan penjurian berikutnya.

Photobucket

Menurut ketentuan, dari 256 kandidat yang saat ini bertarung dan dibagi ke dalam 7 kategori/group, hanya peringkat pertama s.d sebelas dari setiap kategori yang berhak maju ke tahapan 77 besar, dimana ke-77 kandidat ini nantinya akan dinilai oleh sebuah tim ahli yang dipimpin mantan Dirjen UNESCO Federico Mayor. Tim ahli inilah yang nantinya akan memilih 21 kandidat sebagai finalis yang akan dipilih kembali oleh publik. Hasilnya, peringkat pertama s.d tujuh akan ditetapkan sebagai 7 keajaiban alam yang baru.

Photobucket

Melihat posisi TNK yang terus merosot, maka seadainya pada tanggal 7 Juli 2009 (batas akhir pemilihan tahap sekarang) posisi TNK masih diluar 11 besar, maka otomatis TNK akan tersingkir pada tahapan ini. Nasibnya akan sama dengan Candi Borobudur yang tersingkir dari kontes 7 keajaiban dunia tahun 2007.

TNK sendiri saat ini bersaing ketat dengan Tree of Life (peringkat 8 dari Bahrain), Okawango Delta (9/Botswana), Christmas Island (10/Oceania), El Yunque (11/Puerto Rico), River Gambia (12/Gambia), Central Suriname(13/Suriname), Pandjari National Park (14/Benin), Eua National park (16/Tonga), Loango National Park (17/Gabon) dan Somali Montane Xeric Woodland (18/Somalia).

Untuk itu. ayo lupakan sejenak hingar bingar proses pencapresan dan pencawapresan, mari ramai-ramai memberi dukungan kepada TNK. Beritahu teteh, om, tante, kakak, adik, sepupu, keponakan, saudara jauh dan dekat untuk memilih TNK di website New 7 Wonder. O ya … jangan lupa pula, kalau anda memiliki akses ke tim sukses capres/cawapres, minta kepada mereka untuk membisikan kepada para calon pemimpin negeri ini untuk mengkampanyekan juga program pilih TNK. Lupakan sejenak ideologi partai pengusung capres/cawarpes atau aliran ekonomi yang akan diusungnya, mari bersama-sama mengkampanyekan TNK. Karena bagaimanapun, siapapun presidennya nanti, kita semua tentunya akan bangga kalau TNK bisa masuk ke dalam 7 besar keajaiban alam dunia.

Untuk mendukung TNK, caranya bisa ikuti petunjuk dibawah ini:

- Tulis alamat email anda pada kotak di alamat berikut NOMINASI
- Pada combo box “vote 1” pilihlan continent “Asia” kemudian candidate “Komodo National Park (INDONESIA)”.
- Pada combo box “Vote 2” hingga “Vote 7” pilihlah Continent dari Candidate yang memiliki rangking paling rendah (untuk melihat rangking klik: DISINI)
- Salin kode Anti Spam pada text box yang tersedia. Kemudian klik SUBMIT
- Setelah submit, isi biodata anda kemudian SUMBIT
- Setelah mendapat ucapan “Thank you for participating” segera cek email anda. Klik link yang diberikan sebagai tanda konfirmasi.

Salam TNK

10.5.09

Ayo Dukung Taman Nasional Komodo

Selamat berhari Minggu untuk semuanya. Semoga di hari Minggu ini anda tidak dihadapkan pada kejenuhan akan berita para elit politik yang sedang sibuk mengatur posisi di puncak kekuasaan. Nah kalau anda ternyata merasa agak jenuh dengan berita politik, mungkin sudah saatnya anda perlu mengalihkan perhatian ke masalah lain yang berbeda.

Anda bisa saja mengikuti dan membuat berbagai quiz di facebook, mencatat resep masakan dan mempraktikannya atau mengunduh lagu di internet. Tapi kalau saya boleh menyarankan, luangkan lah waktu anda sejenak untuk memberikan dukungan kepada Taman Nasional Komodo, yang terletak di perbatasan NTB dan NTT, agar menjadi salah satu 7 Keajaiban Alam Baru di dunia (New 7 Wonder of Nature).

Mungkin dari anda ada yang bertanya-tanya apa sich untungnya kalau Taman Nasional Komodo terpilih sebagai salah satu 7 Keajaiban Alam Baru? Siapa pula yang mengadakan pemilihan dan penetapan suatu lokasi atau kawasan ke dalam Keajaiban Alam Baru dan bagaimana tahapannya? Terus kenapa sampeyan (penulis) repot-repot kasih woro-woro untuk mendukung TN Komodo, memangnya sampeyan dibayar berapa? Nach kalau pada akhirnya ada pembaca yang mau memberikan dukungan, bagaimana caranya?

Sabar … sabar, saya akan coba jawab satu persatu. Untuk pertanyaan pertama, jika Taman Nasional Komodo terpilih sebagai salah satu 7 Keajaiban Alam Dunia, barang tentu keuntungannya akan diperoleh industri pariwisata Indonesia, karena wisatawan mancanegara diyakini akan banyak berkunjung ke tempat tersebut. Sementara untuk dapat terpilih, suatu lokasi atau kawasan harus dapat mengumpulkan suara sebanyak mungkin dari para pengguna internet di seluruh dunia yang mengunjungi situs New7wonder Foundation.

Proses voting akan berlangsung sampai tanggal 7 Juli 2009. Setelah itu sebanyak 77 terbesar akan dibahas oleh para ahli yang tergabung dalam Panel 7 Keajaiban Alam Baru pimpinan mantan Dirje UNESCO, Prof. Federico Mayir. Panel inilah yang nantinya akan memilih 21 finalis yang akan diumumkan pada tanggal 21 Juli 2009. Selanjutnya hingga pengumuman pemenang di tahun 2011, ke-21 finalis ini akan terus bersaing mendapatkan suara terbanya.

Nah mengenai kenapa saya ikutan woro-woro disini, tidak lain tidak bukan adalah untuk ikuit membantu keinginan masyarakat dan pemerintah (Departemen Kebudayaan dan Pariwisata) untuk menjadikan Taman Nasional Komodo sebagai kebanggaan industru pariwisata Indonesia dan bukti keberhasilan pelestarian alam di negeri yang kita cintai. Untuk mencapai hal ini, Depbudpar melakukan sosialisasi ke berbagai tempat, seperti mall dan sekolah-sekolah, agar masyarakat Indonesia pengguna internet dapat berpartisipasi dalam proses voting dan memilih Taman Nasional Komodo. Sebagai informasi, posisi Taman Nasional Komodo pada saat ini (9 Mei 2009) berada pada urutan ke-9 pada kategori “E: Forest, National Park, Natural Reserves).

Langkah pro-aktif Depbudpar memang patut diapresiasi karena memperlihatkan adanya respon positif dari pemerintah untuk tidak mengulangi kegagalan dalam pemilihan tahun 2007 dimana Candi Borobudur kalah populer. Sehingga jangankan masuk 21 besar, dalam tahapan 77 besar pun Candi Borobudur tidak tercantum sebagai bangunan wisata yang dikenal masyarakat. Ironisnya, Candi Borobudur malah kalah dari Menara Kembar Petronas di Kuala Lumpur yang bahkan termasuk sebagai finalis 21 besar.

Baiklah sekarang anda sudah paham mengenai alasan harus mendukung Taman Nasional Komodo, lalu bagaimana caranya? Berdasarkan brosur yang dicetak Depbudbar bekerjasama dengan National Geographic, teknik voting dapat dilakukan sebagai berikut:

- Tulis alamat email anda pada kotak di alamat berikut NOMINASI
- Pada combo box “vote 1” pilihlan continent “Asia” kemudian candidate “Komodo National Park (INDONESIA)”.
- Pada combo box “Vote 2” hingga “Vote 7” pilihlah Continent dari Candidate yang memiliki rangking paling rendah (untuk melihat rangking klik:DISINI)
- Salin kode Anti Spam pada text box yang tersedia. Kemudian klik SUBMIT
- Setelah submit, isi biodata anda kemudian SUMBIT
- Setelah mendapat ucapan “Thank you for participating” segera cek email anda. Klik link yang diberikan sebagai tanda konfirmasi.

Tulisan saya lainnya yang terkait dengan hal di atas:
- Tujuan Keajaiban Dunia Wisata
- Keajaiban Dunia Wisata Indonesia


4.12.08

Perlakuan Istimewa di Tengah Kemacetan

Bukanlah suatu kebetulan jika kita kerap menjumpai kemacetan di berbagai tempat. Kemacetan telah menjadi menu sehari-hari bagi masyarakat Jakarta. Rasanya tidak ada jalan raya yang bebas dari kemacetan. Justru yang ada adalah semakin bertambahnya titik-titik kemacetan di berbagai tempat. Tidak mengherankan jika kemacetan menjadi topik hangat, sekaligus mengesalkan dan bahkan menimbulkan stress bagi sebagian besar pengguna jalan raya.

Untuk mengatasi kemacetan tersebut, Pemda DKI memang telah melakukan berbagai upaya seperti meningkatkan jumlah kendaraan angkutan umum, memperlebar jalan raya, ataupun memperkenalkan sistem angkutan massal seperti busway dan kereta api atau menggeser jam sekolah. Namun upaya mengurangi kemacetan ternyata belum sejalan dengan tingkat pertumbuhan penduduk dan kendaraan. Lihat saja bagaimana jumlah kendaraan bermotor, khususnya roda dua dan empat, terus bertambah setiap bulannya. Bahkan di saat krisis ekonomi pun, jumlah kendaraan baru terus bertambah.

Menyadari bahwa kemacetan tidak dapat dipecahkan segera, beberapa anggota masyarakat tampaknya berupaya mengambil inisiatif untuk mensiasati kemacetan, walau untuk itu harus menyisihkan pengguna jalan lainnya, dengan menggunakan vorider untuk membuka jalan yang macet.

Penggunaan vorider untuk membuka jalan tampaknya semakin banyak dipakai oleh beberapa anggota masyarakat ibu kota. Hari ini saja misalnya, setidaknya empat kali saya terpaksa menepikan kendaraan untuk memberi kesempatan kepada vorider dan kendaraan dibelakangnya untuk mendahului. Pertama, ketika kendaraan polisi PJR (Patroli Jalan Raya) yang dengan sirinenya yang meraung-raung mencoba membuka jalan bagi sebuah sedan yang jenisnya sama dengan kendaraan dinas menteri.

Kedua, ketika sebuah motor vorider polisi militer dengan sirine yang juga meraung-raung membuka jalan bagi sebuah kendaraan dinas berwarna abu-abu dan di atas plat nomor kendaraan tersebut terdapat tanda bintang dua berwarna emas. Pada peristiwa ketiga dan keempat, lagi-lagi sebuah motor vorider membuka jalan bagi kendaraan dinas berwarna hijau dengan tanda bintang satu di atas plat nomor kendaraan.

Di tengah kemacetan Jakarta, penggunaan vorider tentunya merupakan hal yang istimewa. Bagaimana tidak, ketika para pengemudi lainnya harus mengantri dan merayapi kemacetan, kendaraan yang menggunakan vorider bisa menyeruak di tengah kemacetan. Pertanyaannya kemudian adalah siapakah mereka sehingga bisa memperoleh perlakuan istimewa di jalan raya?
Lazimnya, yang dapat memperoleh perlakuan istimewa adalah Presiden/Wakil Presiden dan pejabat tinggi setingkat menteri serta tamu setingkat kepala negara/pemerintahan. Mengingat tugas dan tanggungjawabnya, saya dapat memaklumi kalau mereka mendapat perlakuan istimewa dalam penggunaan jalan raya. Selain itu, perlakuan istimewa dapat pula diberikan kepada kendaraan ambulans yang membawa orang sakit.

Sebagai pembanding, di beberapa negara Uni Eropa (UE), perlakuan istimewa penggunaan jalan raya hanya diberikan kepada kepala negara/pemerintahan seperti raja/ratu atau perdana menteri serta tamu negara setingkat Kepala Negara/Pemerintahan dan tentu saja ambulans. Kepada mereka diberikan vorider untuk memperlancar perjalanan, sedangkan ambulans diperkenankan untuk membunyikan sirene. Sementara pejabat dibawahnya, termasuk wakil perdana menteri dan para menteri, tidak berhak untuk mendapatkan pengawalan vorider. Saking tegasnya penerapan peraturan di jalan raya, terkadang memunculkan kekakuan dalam masalah keprotokolan.

Mengenai kekakuan pengaturan keprotokoleran, saya jadi teringat pengaturan bagi Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) saat berkunjung ke Brussels, Belgia, pada akhir tahun 2006. Saat itu Pak JK sedang melakukan kunjungan kerja dalam rangka memenuhi undangan Sekjen Dewan UE, Javier Solana. Kalau di tanah air, Pak JK tentunya bisa mendapatkan perlakuan istimewa saat berkendaraan di jalan raya. Namun tidak demikian halnya dengan di Belgia. Dalam ketentuan keprotokolan disana, kedudukan wapres dianggap sejajar dengan wakil perdana menteri atau menteri. Karena itu, Pak JK tidak berhak untuk mendapatkan pengawalan vorider. Meski telah dilobby secara intensif, pemerintah Belgia bersikukuh menerapkan ketentuan protokoler tersebut. Akhirnya sampai saat Pak JK meninggalkan Brussels, tidak ada vorider resmi yang disediakan Pemerintah Belgia.

Alasan pihak protokol Belgia untuk tidak memberikan perlakuan istimewa di jalan raya terhadap pejabat setingkat menteri karena sebagai host country dari Markas Besar UE, hampir setiap hari Brussels dikunjungi banyak pejabat tinggi negara termasuk para menteri, baik dari sesama negara anggota UE maupun non-UE. Kalau kepada mereka diberikan perlakuan istimewa seperti penyediaan vorider, seberapa banyak tenaga dan kendaraan yang dibutuhkan. Meskipun Belgia termasuk negara yang memiliki GNP tinggi (sekitar US$ 35 ribu), namun dalam rangka efisiensi dan efektifitas tetap saja harus melakukan perhitungan anggaran dengan cermat. Belum lagi pemberian perlakuan istimewa akan memacetkan jalan raya dan merugikan para pengguna jalan lainnya, yang notabene adalah para pembayar pajak.

Beruntung Indonesia tidak setiap hari menerima kunjungan kepala negara/pemerintahan atau menteri negara asing. Sehingga tidak setiap hari pula kita melihat pemandangan sebuah jalan raya ditutup karena ada pejabat tinggi atau tamu negara akan lewat. Namun demikian, hal tersebut bukan berarti membenarkan pemberian perlakuan istimewa penggunaan jalan raya kepada siapa pun. Selain menimbulkan kejengkelan dan perasaan iri, mengistimewakan penggunaan jalan bagi mereka yang tidak berhak justru memperlihatkan sikap kesewenang-wenangan dan pengabaian hak-hak pengguna jalan lainnya.

16.9.08

Senyum

Sudahkan anda tersenyum hari ini? Kalau belum, segeralah tersenyum sebelum bos anda menegur. Segeralah perbanyak senyum karena senyum itu akan menyehatkan anda, senyum itu merupakan ibadah dan senyum juga memperlihatkan ketulusan dan ketegaran. Tapi jangan salah tempat dan waktu, karena kalau anda senyum-senyum sendiri dan apalagi tidak ada orang yang diajak tersenyum, maka bisa saja anda dianggap kurang waras.

Berbeda dengan tertawa yang bisa terbahak-bahak dan hampir memperlihatkan keseluruhan gigi anda, maka tersenyum cukup dilakukan dengan menarik garis di kedua bibir ke atas. Jadi kalau anda lupa bergosok gigi, jangan khawatir karena anda masih bisa tetap tersenyum. Saat anda tengah terjebak ditengah kemacetan ataupun kendaraan anda disalip kendaraan lain pun, anda masih bisa tetap tersenyum.

Anda pernah lihat senyum Monalisa yang terkesan misterius?. Senyum Presiden SBY yang penuh pesona atau senyum Jubir Presiden Andi Mallarangen yang disukai ibu-ibu?. Ibarat buah-buahan, ternyata senyum juga bermacam-macam. Ada senyum manis, senyum kecut, senyum sinis, senyum ketus, senyum basa-basi, senyum pedih, senyum perih atau senyum ikhlas. Terserah mana yang akan anda pilih.

Apapun senyum anda, yang penting mulailah hidup anda dengan senyum iklahs maka dunia akan tersenyum ramah kepada anda.

Selamat pagi/siang bos, hari ini saya sudah tersenyum. Kalaupun senyum saya tidak lebar, mungkin karena tidak ada THR. Saya juga tidak bisa tersenyum lebar, karena prihatin atas banyaknya korban tewas saat berebut jatah zakat.

8.1.08

Taman Burung Beziers

Dalam rencana liburan akhir tahun 2007, sebenarnya kami tidak memiliki rencana untuk singgah di Beziers, kota kecil di barat daya Perancis. Setelah bermalam di Lyon, tujuan utamanya adalah Barcelona. Namun karena ada sedikit gangguan teknis pada kendaraan, terpaksa kendaraan dibelokkan ke Beziers untuk mencari bengkel terdekat. Berkat bantuan Tomtom si GPS pintar, ditemukanlah bengkel dimaksud yang letaknya di pinggiran Beziers. Setelah menyerahkan kendaraan kepada mekanik bengkel, daripada bengong di bengkel, meluncurlah kami ke kawasan centrum Bezier dengan menumpang bus umum. Mau cari apa di centrum?

Seperti lazimnya kawasan centrum di sebagian besar kota-kota di Eropa, biasanya di kawasan tersebut merupakan pusat keramaian dimana terdapat gedung-gedung pemerintahan, museum, restoran dan toko-toko yang mengelilingi taman alun-alun kota. Di taman alun-alun inilah biasanya warga kota berkumpul, duduk bercengkerama dan bermain-main bersama keluarga. Di saat musim liburan, seperti natal dan tahun baru, di alun-alun kota terdapat pasar malam dengan aneka jenis permainan dan hiburan seperti wahana berputar.


Namun berbeda dengan centrum di kota-kota lain, di centrum Beziers terdapat sebuah taman yang menurut saya cukup istimewa yang dinamakan Plateau des Poetes. Taman ini dibangun pada tahun 1863-1867 oleh wali kota Beziers Auguste Fabrégat. Di taman seluas 50.000 m2 ini kita dapat menemukan sebuah danau kecil di tengah taman, patung kenangan Perang Dunia II dan tentu saja beraneka ragam burung. Burung-burung tersebut hinggap dari satu pohon ke pohon lain atau mendarat di tanah lapang untuk mematuki jagung atau remah-remah yang dilempar pengunjung taman. Sementara di danaunya yang bersih kita dapat menyaksikan angsa atau bebek berenang.

Dari papan nama di taman, diketahui bahwa pada tahun 1990, Pemerintah Kota Beziers menetapkan kawasan ini sebagai tempat suaka burung dan kelelawar. Untuk itu kawasan ini dilengkapi pula dengan tempat pengamatan dan pengembangbiakannya yang diletakkan pada ketinggian 23 meter. Burung, bebek ataupun angsa di taman tersebut ini hidup dengan bebas tanpa khawatir ada yang mengganggu. Keberadaan mereka dilindungi penuh oleh pemerintah kota Beziers. Jangan coba-coba menangkap burung-burung atau angsa tersebut, apalagi berniat menjadikannya burung atau bebek goreng. Saya khawatir anda akan ditangkap pengawas kota dan dipidana karena dianggap mengganggu kehidupan habitat di taman ini.

Sebagai bukan ahli burung, saya tidak paham jenis-jenis burung yang terdapat di taman ini. Yang saya tahu hanyalah jenis burung dara, angsa atau bebek yang terdapat di taman tersebut. Tapi (lagi-lagi) dari papan nama yang terdapat di taman ini, diketahui jenis burung lainnya seperti blue-tits, great tits, redstar dan wrens (burung-burung kecil seperti burung gereja berwarna biru, kuning atau merah). Mungkin kalau seorang ahli burung seperti Mas Rudyanto alias Mbilung berkunjung ke taman ini, beliau akan lebih dapat mengenali jenis-jenis burung-burung yang ada.

Terlepas dari ketidaktahuan saya mengenai aneka jenis burung, saya menikmati keberadaan di taman ini. Dengan suhu siang itu yang berkisar 10-13 derajat Celcius, tidak terlalu dingin jika dibandingkan dengan suhu di Brussel yang ketika saya berangkat sempat mencapai -4 derajat Celcius, berjalan-jalan dan duduk di taman kota sangat menyenangkan. Sambil membaca buku, saya biarkan kemalasan menemani, tak jarang hingga terkantuk-kantuk. Sementara anak-anak kami biarkan bebas bermain di lapangan terbuka atau menikmati fasilitas bermain yang ada. Dengan taman dan danau di tengah kota serta kehadiran burung-burung yang menambah asri lingkungan, sayang untuk melewatkan kemewahan semacam ini.

Ya kemewahan, karena di Jakarta kami rasanya sulit untuk menemukan taman seperti ini. Kawasan Monas yang dimaksudkan sebagai taman dan paru-paru kota sudah dipagari dan tidak dapat bebas bersantai di dalamnya. Mau bersantai-santai di kawasan hijau seperti di Ancol harus membayar terlebih dahulu. Sementara untuk sekedar duduk-duduk di areal taman yang terdapat di kawasan tempat kami tinggal dulu, rasanya tidak mungkin lagi karena kawasan tersebut sudah dirubah fungsinya menjadi ruko.

Jadi sambil menunggu selesainya mobil diperbaiki, tidak ada salahnya bersantai sejenak di paru-paru kota Beziers.

8.12.07

Mengenal Kimberly Proses

Masih ingat film Blood Diamond (2006) yang dibintangi Leonardo DiCaprio? Ya, film yang bercerita mengenai berlian dan perang saudara di Sierra Leone, Afrika di tahun 1999. Film ini secara pas mencoba memotret isu perdagangan gelap berlian guna mendanai konflik antara pihak pemerintah dan pemberontak.

Sebagai daerah yang banyak memiliki kandungan berlian di perut buminya, Afrika sejak lama memang menjadi ajang konflik kepentingan. Eksploitasi tambang berlian sudah sejak lama dilakukan negara Barat, bahkan hingga kini. Akibatnya, meski dikaruniai kekayaan berupa tambang berlian yang melimpah, hasil penjualan berlian tidak berpengaruh terhadap peningkatan kesejahteraan rakyat Afrika. Yang ada justru konflik berkepanjangan.

Barulah ketika di tahun 2000 Dewan Keamanan (DK) PBB turun tangan untuk memutus sumber pembiayaan perang, konflik dapat diredakan. Saat itu DK PBB berinisiatif mengumpulkan negara-negara penghasil berlian di Kimberley Afrika Selatan guna membicarakan penghentian perdagangan gelap berlian. Konsumen juga diyakinkan untuk tidak membeli berlian yang tidak jelas asal usulnya.

Untuk mengetahui asal usul berlian, Sidang Umum PBB tahun 2000 mengadopsi resolusi untuk membentuk skema sertifikasi internasional yang disebut Kimberley Process Certification Scheme (KPCS). Di dalam KPCS disepakati bahwa perdagangan berlian yang belum diolah diatur oleh negara, organisasi kawasan dan organisasi terkait lainnya. KPCS menerapkan persyaratan ketat bagi anggotanya agar mengawasi dan mencegah berlian bermasalah memasuki pasar resmi. Untuk itu para anggota KPCS (termasuk Indonesia yang menjadi anggota sejak 1 Agustus 2005) diminta untuk melaksanakan kontrol internal dan semua penjualan berlian yang belum diolah harus disertai sertifikat mengenai asal usul berlian.

Guna meyakinkan kebenaran proses sertifikasi dan menghentikan perdagangan berlian di kawasan konflik, berbagai pihak terkait seperti anggota KPCS, kalangan industri dan masyarakat madani bekerjasama dalam kelompok-kelompok kerja untuk melakukan pengawasan, mendata statistik perdagangan berlian dan melakukan pengujian terhadap berlian. Sejauh ini mekanisme di dalam KPCS terbukti bisa mengakhiri mimpi buruk di kawasan konflik berlian dan kedepannya hal tersebut diharapkan dapat terus berlanjut dengan baik.

Belajar dari sertifikasi dalam Kimberly Proses, mekanisme serupa dapat pula diterapkan dalam perdagangan produk sumber daya alam lainnya seperti kayu. Sejauh ini proses sertifikasi kayu memang telah mulai diupayakan oleh berbagai negara penghasil kayu seperti Indonesia. Namun tampaknya belum terdapat suatu perjanjian internasional yang dapat mengikat banyak negara. Indonesia sendiri, guna mencegah perdagangan kayu ilegal ke Uni Eropa (UE), saat ini tengah merundingkan perjanjian kerjasama dalam kerangka European Union Forest Law Enforcement Governance and Trade (EU FLEGT). Melalui mekanisme EU FLEGT ini diharapkan nantinya kayu-kayu yang diperdagangkan ke UE memiliki sertifikat yang secara jelas menerangkan asal usul kayu. Harapannya agar kayu-kayu Indonesia yang diselundupkan terlebih dahulu ke negara lain, misalnya ke Malaysia dan China, ditolak masuk ke pasar UE.

15.10.07

Indonesian Foreign Policy with Added Environmental Issues

This post is my contribution to Blog Action Day, joining thousands of other bloggers to write about one topic for a single day. This year’s topic is the environment.

The issues on environment itself have a broad aspect, from the issues of our daily life to global economic and politics, from environment in our neighbourhood to the issues of climate change. In this regard, I am trying to share information and views on the Indonesian foreign policy and its relation to environment.

Indonesia’s foreign policy, like that of any other country, is shaping by various factors such as the nation’s history, its geographic conditions, its demography and its security and national interest. These factors prompted Indonesia to adopt a foreign policy that is independent and active.


As we may aware, environmental issues part of global issues, which related to issues such as biodiversity, climate change and global warming, genetically engineered etc. Talking about those issues, we can say that all of those issues connected to the Indonesia’s national interest. Combating environmental degradation should be a key strategic. In this connection, Indonesia puts issues on environment on their foreign policy and promotes bilateral and multilateral cooperation actively.

Referring to this condition, we could understand that finally the United Nation has appointed Indonesia as a host country for the UNFCC/COP 13 meeting in Bali on 3-14 December 2007. This is a big achievement for Indonesian foreign policy. It shows that Indonesia is not conducting foreign policy conventionally as it is, but also concern to the global issues and trying to find out solutions to solve the problems.

Looking to the history of the Indonesian foreign policy, actually this is not the first time Indonesia put environmental issues in its foreign policy. For instance, following the high of political tension in the South China Sea in 1990’s, Indonesia came up with the idea to conduct an informal meeting, which involves representatives and scientist from claimant countries as an individual.

At that time, the disputed territorial claims in the South China Sea remain a dangerous source of potential conflict in the absence of preventive measures to forestall a military or political crisis. Six claimant countries, Brunei Darussalam, China, Malaysia, Taiwan, the Philippines and Vietnam, have claims in this region and some of them have sent their military force to the region.

In order to minimize the future risk in the region, in 1990 Indonesia conducted Workshop on Managing Potential Conflicts in the South China Sea. The participants come from representatives and scientists from claimant countries to discuss possible cooperation in environmental sector such as biodiversity. After a series of meeting, finally the workshop agreed to conduct a join research on biodiversity in 2002.

The first joint research was in March 2002, scientists from the South China Sea region conducted a major biodiversity expedition, called Anambas expedition, to the waters of the Anambas and Natuna Islands in Indonesia. The two-week expedition obtained over 3000 specimens representing a large diversity of plant and animal species. Many were new records for the area, and some were new to science.

The expedition itself turned out to be more than a scientific mission. Not only was Exercise Anambas a trip to explore biodiversity, it also served a political purpose, to promote regional scientific collaboration among countries surrounding the South China Sea. The expedition made history, as it was the first that got scientists from different countries of the South China Sea working together.

From Indonesian experience, we can notice that environmental issues are already factors included in the Indonesian foreign policy, set up as a part of the Indonesia conflict prevention programme. Indonesia has considered integrating environmental aspects in all programmes and policies.

In order to increase their capabilities, in the future Indonesia should take environmental issues in a strategic way than before, linking green issues closer to economic relations. Since an environmental issue is only one of many issues, Indonesia needs coherent strategies for its bilateral and multilateral relations with develop countries, others large emerging economies as well as international organizations.

Notes: for my other posts on environmental issues, please click on Labels: lingkungan (in Indonesian language).

2.10.07

Parc Cinquantenaire

Kalau kebetulan suatu saat anda berkesempatan mampir ke Brussel, anda pasti dengan mudah menemukan taman atau hutan kota di kota ini. Hal ini tidak mengherankan karena sebanyak 15% luas wilayah Brussel memang diperuntukkan bagi taman dan hutan kota, sehingga menjadikan kota ini sebagai kota terhijau di Eropa.

Banyak kegiatan dilakukan anggota masyarakat di taman-taman yang disediakan untuk publik, mulai dari sekedar duduk-duduk menghirup udara segar hingga kegiatan olah raga. Di akhir pekan atau saat musim panas, jumlah anggota masyarakat yang berkumpul di taman akan semakin banyak, terutama untuk berjemur. Satu hal yang menarik adalah, meski banyak anggota masyarakat yang berkumpul di taman, tidak ada pedagang kaki lima yang mangkal apalagi berseliweran. Sehingga mereka yang yang sedang santai di taman tidak akan terganggu.

Dari sekian banyak taman di kota Brussel, salah satu taman yang sering saya kunjungi adalah Parc Cinquantenaire atau Jubelpark. Taman ini letaknya persis di pusat kota dan tidak jauh dari jantung kegiatan Uni Eropa. Di taman ini, selain hamparan rumput hijau dan pohon penyejuk yang tertata rapih, terdapat sebuah monumen yang pertama kali dibangun pada tahun 19880 guna memperingati 50 tahun kemerdekaan Belgia. Pada puncak monumen terdapat patung perunggu seorang satria yang menaiki kereta yang ditarik 4 ekor kuda, sedang mengibarkan bendera nasional.

Dikedua sisi monumen ini, terdapat 2 bangunan utama yang dipergunakan sebagai museum. Di sisi kiri adalah Museum Sejarah Militer dan Tentara Kerajaan Belgia. Di museum ini dapat dilihat perkembangan sejarah tentara Belgia dan perlengkapan yang dipergunakan sejak masa revolusi kemerdekaan, kolonialisme Belgia di Afrika dan Timur Tengah, hingga jaman modern, termasuk pesawat-pesawat terbang sesungguhnya seperti Hercules, Mirage dan F-14.

Sementara di gedung sebelah kanan terdapat Museum Seni dan Sejarah yang memajang antara lain peninggalan arkeologi, seni Eropa, instrumen musik hingga peradaban di berbagai kawasan dunia seperti Amerika, Asia Tenggara, India, Islam, mesir dan sebagainya. Khusus pada bagian Asia Tenggara kita dapat menemukan keragaman koleksi asal Indonesia, seperti patung dari daerah Batak, Jawa, dan Nias. Terdapat pula kain batik dan tenun ikat, lukisan dari Bali dan seperangkat gamelan.

Masih di sisi gedung sebelah kanan, terdapat sebuah Museum Mobil yang menampilkan mobil-mobil kuno seperti Ford tahun 1911 hingga Mercedes-Benz 300 SL, "Gull-Wing", 1955. Berbeda dengan museum militer dan sejarah yang tidak dipungut biaya masuk, pada museum mobil, pengunjung dikenakan biaya masuk sebesar 6 euro (dewasa) dan 3 euro (anak-anak).

Dengan berbagai objek yang tersedia seperti tersebut di atas, Parc Cinquantanaire saat ini merupakan salah satu objek pariwisata Brussel yang ramai dikunjungi wisatawan. Pemerintah kota Brussel bahkan memasukkan Parc Cinquantanaire dalam rute bus wisata Hoff On Hoff on, sehingga wisatawan yang ingin melakukan one day tour di Brussel tidak melewati kunjungan ke tempat ini. Sementara masyarakat umum warga Belgia sendiri pun dapat menikmati keteduhan pepohonan dan semilir angin ataupun melakukan aktifitas olah raga.

Suatu aktifitas keseharian, setidaknya di akhir pekan, yang kini menjadi barang mewah bagi masyarakat Jakarta dan mungkin masyarakat kota besar lainnya di Indonesia. Di Jakarta sendiri, tidak banyak lagi taman tersedia. Kegiatan di taman utama di jantung kota saja seperti di Monas, tidak bisa seleluasa di Parc Cinquantanaire. Selain taman tersebut sudah dipagari, kemungkinan ditemani pedagang kaki lima juga bukan hal yang mustahil. Tampaknya diperlukan kesungguhan dan keterlibatan semua pihak untuk membuat dan memelihara suatu taman yang asri.


24.9.07

Dimanche Sans Voiture

Pada hari Minggu 23 September 2007 di Brussel berlangsung puncak kegiataan “hari bebas kendaraan bermotor (car free day) tahunan yang diberi nama Dimanche Sans Voiture (hari Minggu tanpa kendaraan). Pada hari ini, mulai pukul 09.00 s/d 19.00, seluruh kendaraan bermotor pribadi, baik roda dua ataupun lebih dilarang melintas di seluruh kawasan kota Brussel. Namun demikian kendaraan angkutan umum seperti KA, tram dan bis kota tetap beroperasi guna mengangkut anggota masyarakat yang akan berpergian di dalam kota dan tidak memungut bayaran kepada penumpang alias gratis pada hari itu.

Melalui kegiatan ini pemerintah Brussel mengharapkan tumbuhnya kesadaran masyarakat terhadap mobilitas berkesinambungan di perkotaan dan terbangunnya strategi transportasi ramah lingkungan. Untuk itu berbagai kegiatan dirancang dengan melibatkan pemerintah region, masyarakat dan para sukarelawan. Secara keseluruhan, kegiatan telah dimulai sejak tanggal 16 September 2007 dengan penyelenggaraan pertunjukkan musik di berbagai stasiun KA dan sekaligus pertanda dimulainya penyelenggaraan Dimanche Sans Voiture. Dilanjutkan pada hari Sabtu tanggal 22 September 2007 berupa penyambutan hangat dari para pemilik toko kepada pembeli yang datang dengan menggunakan sepeda.

Untuk menjamin bahwa selama pelaksanaan Dimanche Sans Voiture tidak terdapat kendaraan bermotor yang melintas di dalam kota, sejumlah polisi ditempatkan di seluruh kawasan jalan. Jalan-jalan masuk utama menuju Brussel, baik dari highway ataupun jalan kecil lainnya, ditutup dan ditunggui sejumlah petugas. Pengemudi kendaraan bermotor yang coba-coba menerobos larangan jangan harap lolos dari pantauan polisi.

Dari pengamatan, tidak ada anggota masyarakat yang berkeberatan dengan penyelengaraan kegiatan ini dan coba-coba mengacuhkannya. Justru masyarakat senang karena dapat beraktifitas, bermain dan berekreasi bersama keluarga dengan santai di dalam kota tanpa direpotkan lalu lintas kendaraan bermotor. Dengan lenggangnya jalan-jalan di dalam kota, berbagai kegiatan dapat diselenggarakan di jalan raya seperti jalan santai bersama, bersepeda ataupun melakukan kegiatan permainan anak-anak.

Menurut sejarahnya, kegiatan ini sendiri diawali oleh kegiatan serupa yang diselenggarakan di Perancis pada tahun 1998 dan diberi judul “En ville sans ma voiture” (di kota tanpa kendaraanku). Jika pada waktu pertama diselenggarakannya Dimanche Sans Voiture di Brussel hanya mencakup 3 region (kawasan setingkat kecamatan) yaitu Schaerbeek, Watermael-Boitsfort and Evere, maka pada tahun 2007 ini telah mencakup seluruh region di Brussel. Sementara pada tingkat Eropa sendiri, tanggal 22 September telah ditetapkan oleh Komisioner Uni Eropa masalah Lingkungan sebagai tanggal kegiatan internasional hari bebas kendaraan bermotor.

Melongok maksud baik kegiatan ini untuk meningkatkan kesadaran lingkungan hidup, tidak mengherankan jika kegiatan semacam ini kemudian diikuti oleh berbagai kota lainnya di luar Uni Eropa, termasuk Jakarta. Sejak tahun 2006 lalu Jakarta juga sudah menyelenggarakan hari bebas kendaraan bermotor. Meski baru diawali untuk daerah sangat terbatas, yaitu sepanjang jalan utama Sudirman-Thamrin, namun inisiatif penyelenggaraannya patut disambut baik.

Namun diharapkan agar kiranya ditahun-tahun mendatang dapat terselenggara dengan lebih baik, melibatkan lebih banyak elemen masyarakat dan kawasan yang lebih luas. Mungkin tidak harus meniru pemerintah Brussel yang menerapkan kawasan bebas kendaraan bermotor untuk seluruh kota, Pemda DKI bisa secara bertahap memperluas penerapannya ke jalan-jalan protokol lainnya misalnya jalan Hayam Wuruk dan Gatot Subroto. Sementara pada saat yang bersamaan memperioritaskan perbaikan sistim transportasi publik di kawasan tersebut. Dengan harapan bahwa masyarakat Jakarta yang ingin bepergian, misalnya ke Glodok, dapat tetap melakukannya dengan menggunakan angkutan umum yang tersedia (meski tidak gratis).

Alternatif lainnya juga bisa dilakukan dengan memberikan kewenangan kepada setiap Walikota di DKI untuk menerapkan satu kawasan di wilalayahnya sebagai kawasan bebas kendaraan bermotor.

Satu hal lain yang kiranya juga perlu diperhatikan Pemda DKI dan juga Pemda di kota-kota Indonesia lainnya adalah perlunya membangun dan memelihara kawasan hijau lestari di dalam kota. Kalau pembangunan kawasan hutan kota masih terlalu muluk, mungkin bisa dimulai dengan memberikan ruang publik yang lebih luas berupa taman-taman hijau, bukan hanya bangunan Mal yang diperbanyak. Tanpa taman kota yang cukup berarti jumlahnya, kiranya "Hari tanpa kendaraan bermotor" tidak akan bermanfaat banyak, terutama dalam hal penyediaan lingkungan yang nyaman di perkotaan.