6.11.08

Belajar dari McCain

Kekhawatiran bahwa Barack Obama akan kalah karena efek Bradley (perbedaan hasil polling dengan hasil pemilu) akhirnya tidak terjadi. Obama menang dengan sangat meyakinkan. Hal tersebut tentu saja disambut hangat, tidak saja oleh warga AS tetapi juga masyarakat di belahan dunia lainnya, termasuk Indonesia.

Dibalik eforia kemenangan Obama, tentu saja banyak pelajaran dan hikmah yang dapat dipetik, misalnya saja bagaimana pada akhirnya masyarakat AS menentukan pemimpinnya tanpa bias rasial atau bagaimana suatu upaya yang disertai kerja keras, doa dan tentu saja lingkungan yang kondusif dapat merubah mimpi menjadi kenyataan.

Namun ternyata bukan dari Obama saja kita bisa belajar, dari Senator John McCain yang dikalahkan Obama pun banyak hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik.

The fault is mine, not yours” begitu pernyataan John McCain di depan para pendukungnya. Suatu pernyataan yang memperlihatkan sikap kesatria McCain untuk segera mengakui kekalahannya. Meski tersenyum, terlihat sekali bagaimana McCain berusaha menutupi kekecewaannya dan bahkan berupaya menenangkan pendukungnya. McCain jelas memberikan contoh bahwa kekalahan dalam proses demokrasi tidak harus disikapi dengan kekerasan, melainkan disikapi dengan ksatria.

Tidak sekedar mengakui kesalahan di depan pendukungnya, McCain pun segera menghubungi Obama dan memberikan ucapan selamat atas kemenangannya. Ia pun kemudian meminta pendukungnya untuk mendukung Obama sebagai pemimpin mereka yang baru.

Suatu kondisi yang kontras jika dibandingkan dengan situasi di Indonesia. Ketika pilpres 2004, calon yang kalah tidak mau mengakui kekalahannya, bahkan hingga kini. Sementara di berbagai pilkada, calon yang kalah dan pendukungnya, jika tidak menyerang setidaknya melapor ke KPU dengan tuduhan lawannya telah melakukan kecurangan.

Orang boleh bilang bahwa McCain bisa bersikap seperti itu karena kehidupan berdemokrasi di AS telah berlangsung ratusan tahun, sehingga sikap berdemokrasi telah menjadi bagian dari kehidupan warganya.

Kalau saja premis di atas yang dipergunakan sebagai pembenaran, berarti kita masih memerlukan waktu puluhan tahun atau bahkan ratusan tahun lagi untuk hanya sekedar bersikap kesatria. Pertanyaannya kemudian adalah apakah memang harus demikian?

Mungkinkah Pemilu tahun 2009 mendatang bisa dijadikan titik untuk mengukuhkan jalan demokrasi yang telah kita tempuh? Tidak ada lagi gontok-gontokan menjelang dan pasca pemilu? Yang kalah mengakui kekalahannya dan yang menang menghormati yang kalah ?

4 comments:

Anang said...

semoga ditiru politisi kita.. amin

Jon Mulya said...

Siap kalah memang perlu, tahu kalah langsung mengucapkan selamat. (kalo pilkada, waduh, bawa massa deh. "gue kagak terima neh',KPU curang, tdk adil...cape deh...)

Elys Welt said...

susah njawabnya, politikus di tanah air masih seperti anak kecil, kapan dewasanya ?

Kang Nur said...

semua perlu dimulai dari diri kita sendiri, dari lingkup terkecil diri kita, keluarga kita, dst.. :)
salam kenal :)