19.2.07

Tempe dan sikap percaya

Cerita tentang tempe sepertinya merupakan cerita yang tidak ada habisnya, setidaknya bagi saya. ”Enggak ada kartu matinye” kata orang Betawi. Nah kalau dalam postingan terdahulu saya telah membahas mengenai diplomasi tempe dan cara membuat tempe, kali ini saya akan bercerita mengenai penjualan tempe di tempat saya tinggal sekarang ini.

Berbeda dengan tempe di tanah air, yang dapat dengan mudah ditemukan di pasar, super market, warung-warung ataupun pedagang keliling, di Brussel tempe hanya dapat ditemukan di salah satu toko Asia yang terdapat di kawasan Centrum. Itu pun persediaannya sangat terbatas, sehingga seringkali orang yang membeli tidak kebagian tempe. Konon tempe yang dijual di toko ini dibuat oleh orang Belgia asal Indonesia. Namun karena dibuat sendiri dan juga karena keterbatasan tenaga, maka penyediaan tempe untuk dijual di toko ini pun tidak bisa terlalu banyak.

Beruntunglah bagi orang Indonesia, terutama yang bekerja di Kedutaan, karena selain bisa membeli tempe di toko Asia, ternyata tempe bisa diperoleh pula di kantornya. Menurut rekan saya, secara berkala ada penjual yang memasok tempe ke kantor kedutaan. Uniknya, penjualan tempe di kedutaan tidak seperti penjualan pada umumnya, dimana penjual menunggui barang jualannya dan si pembeli membayar langsung kepada si penjual. Di kedutaan, si penjual cukup menaruh tempenya di dalam refrigator kantor dan meletakkan selembar kertas tanpa pesan apapun (mungkin maksudnya agar si pembeli mencatatnya secara sukarela mengenai jumlah tempe yang dibelinya). Yang ada hanya pesan lisan, itu pun disampaikan dari mulut ke mulut, “mohon pembayaran agar disampaikan kepada mbak Muji dengan harga 1,60 euro per tempe” Setelah itu si penjual pergi dan kembali lagi seminggu atau dua minggu lagi untuk mengambil uang tempe dari mbak Muji.

O ya mbak Muji ini adalah pegawai kedutaan yang menangani urusan dapur. Dan dalam urusan tempe ini, tampaknya ia diamanatkan sebagai tenaga “pemasaran” yang memberitahukan staf kedutaan bahwa ada tempe baru di refrigerator dan menerima pembayaran dari pembeli. Ia tidak nongkrong seharian di dapur atau di depan refrigerator untuk mengawasi siapa-siapa yang mengambil tempe. Ia pun tidak perlu repot-repot menagih pembayaran tempe, karena si pembeli tempe secara suka rela akan menemuinya untuk memberikan pembayaran.

Awalnya saya cukup heran juga dengan cara penjualan semacam itu. Keheranan saya sebetulnya lebih didorong oleh sikap si penjual tempe yang tidak merasa khawatir bahwa tempenya akan diambil begitu saja oleh orang-orang yang ada di kedutaan. Kekhawatiran ini beralasan dengan mengingat bahwa kedutaan di Brussel termasuk besar dan memiliki banyak staf, sehingga bisa saja terdapat kemungkinan adanya orang yang “nakal” dengan mengambil tempe 4 buah tempe tapi hanya membayar 2 kepada mbak Muji (ingat masa-masa sekolah dulu pas jajan di kantin, makan tempe/tahu goreng tiga, ngaku dua, eh … bayarnya satu hehehe) atau karena kesibukan, kemudian lupa membayar tempe yang diambilnya.

Ketika suatu saat berkesempatan bertemu dengan penjualnya, seorang ibu, keheranan tersebut saya ungkapkan. Jawaban si ibu sederhana saja, “ya gak apa-apa toch mas kalau ada yang mau berbuat curang atau lupa mbayar, nanti kalau dapat rejeki kan pasti mbayar. Kalau pun lupa mbayar, gusti Allah kan melihatnya”. Iya tapi ibu kan bisa rugi kalau tempenya diambil tapi enggak dibayar dengan benar? timpal saya. “ach gak perlu khawatir mas, rejeki mah enggak kemana, masa cuma gara-gara tempe aja terus ngebohong” begitu ujar si ibu.

Dari jawaban-jawaban si ibu itu, saya menangkap kesan bahwa ia percaya bahwa pembelinya akan membayar penuh. Dan dia juga yakin bahwa setiap perbuatan curang akan dilihat dan dicatat oleh Allah S.W.T serta akan memperoleh ganjaran yang setimpal. Dari jawaban ibu ini saya juga jadi teringat cerita-cerita jaman Rasullulah dahulu, yang salah satunya menceritakan mengenai pedagang-pedagang di Mekkah yang bergegas meninggalkan barang dagangannya ketika waktu sholat jum’at tiba dan tidak tidak khawatir barang dagangannya diambil orang. Tapi di era dewasa ini, yang katanya berada di era global, apakah sikap seperti si ibu itu masih relevan, khususnya dikaitkan dengan jual beli berskala besar?

Catatan:
- tempe pada foto merupakan buatan sendiri, bukan tempe yang dijual oleh si ibu.
- cerita ini diambil dari blog saya lainnya setelah diedit disana-sini.

UPDATE (02/05/08): Links terkait tulisan saya mengenai tempe

- Diplomasi tempe

- Cara membuat tempe


9 comments:

aroeng said...

yang difoto itu jenis tempe yang kalau digoreng garing, dimakan panas2 uenaknya liar biasa bung!

saya bisa memahami filosofi si ibu, dan saya pikir masih relevan dalam lingkup tertentu. dalam skala besar memang bisa merepotkan. salam.

Pangarso D. Nugroho said...

hua..ha.. kayaknya jadi pada pinter bikin tempe nih isteri-isteri kita.
mungkin krn di Serbia setengah mati utk cari tempe, harus ke Wina kalau pengen tempe ... akhirnya ibu-ibu inisiatif belajar bikin tempe dan akhirnya kita bisa bertempe ria setiap saat ..... hidup tempe ... apalagi tempe bacem ... euanak tenan ....

hery said...

Hehehe, sama juga Om, aku juga susah cari tempe di tempat pengasinganku ini, lain kali aku juga posting caraku berburu tempe hwahaha

Aris Heru Utomo said...

Mas Aroengbinang, tempe memang enaknya dimakan saat panas. Kalau adem enaknya dibacem. jadi semua tetap enak, mantab!
#Mas Dadung, kesulitan terkadang membuat kita jadi lebih kreatif. termasuk saya jadi bisa lah bikin tempe seperti yg difoto.
#Mas Hery, boleh juga tiuch dituliskan cara berburu tempe dan sekalian juga pengalaman bikin tempe. gampang kok, caranya bisa diklik disini: http://arishu.blogspot.com/2006/11/cara-membuat-tempe.html,

hery said...

foto tempenya boleh aku pinjam untuk posting Om? Soalnya aku nggak ada foto nih hihihi,makasih sebelumnya

Aris Heru Utomo said...

Monggo ... monggo, digoreng garing juga boleh.

hery said...

Makasih photonya Om, aku sudah bikin tempe juga hihihi

Rudyprasetyo said...

Salam kenal mas...
SEneng banget dengan ucapan si ibu penjual tempe'Rejeki gak kemana-mana kok".
Hmm sama seperti ibuku juga waktu dulu saya dan kakak2 saya kecil, ibuku jualan kue di titip di kantor2. Dan pertanyaan senada juga sempat terlontar dari kami, krn kami tau bisanaya jumlah uang yg terkumpul dgn catatan kue kami selalu tdk sama, alias kurang.
"Kalaupun ada yg mau curang, mungkin dia memang sedang butuh, doakan saja, kue2 ibu yang di ambil lebih oleh mereka, bisa bermanfaat, yah setidaknya mereka bisa lebih kenyang.
Dan jgn di pikirkan, Gusti Allah pasti dah memeprsiapkan hal ini, apa yang kurang pasti akan di tambah."

Salam buat keluarga, dan ibu si penjual tempe itu yah.

Aris Heru Utomo said...

Salam kenal juga mas. Salam yang ke lainnya nanti akan saya sampaikan.