24.1.08

Tanggal Lahir

Sebetulnya saya sudah tahu sejak lama kalau putri mantan Presiden RI pertama (Megawati Soekarnoputri) dan Presiden RI kedua (Siti Hardijanti atau Tutut), sama-sama dilahirkan pada tanggal 23 Januari. Cuma beda tahun saja. Megawati dilahirkan tahun 1947, sedangkan Tutut tahun 1949. Jelas cuma kebetulan saja kalau keduanya memiliki tanggal lahir yang sama. Sama kebetulannya dengan tanggal lahir putri kami, yang lahir pada tanggal 23 Januari.

Dulu ketika putri kami tersebut masih dalam kandungan, saya pernah bertanya ke dokter kandungan yang memeriksa istri saya mengenai perkiraan tanggal kelahirannya. Menurut dokter, putri kami akan lahir sekitar minggu kedua Januari. Ternyata perkiraan tersebut agak sedikit meleset dan justru lahir pada minggu ketiga Januari, ya itu tadi … 23 Januari.

Iseng saya bertanya ke istri, memangnya ada niatan nahan-nahan si bayi dalam kandungan biar tanggal lahirnya sama dengan Megawati dan Tutut? Mendapat pertanyaan aneh tersebut, tentu saja bukan jawaban yang didapat malah gerutuan yang diperoleh. “Emangnya enak nahan-nahan bayi dalam kandungan?, kalau sudah waktunya lahir ya harus segera dikeluarkan. Lagian saya enggak tahu tanggal lahir Megawati dan Tutut!”.

Dasar orang Jawa, yang kata orang suka menghatuk-ghatukkan (mencocok-cocokkan) satu kejadian dengan kejadian lain, keluarga kami mencoba mencocokkan tanggal lahir putri kami dengan suatu peristiwa yang terjadi saat ia masih di dalam kandungan. Setelah mengingat-ingat beberapa kejadian yang mungkin ada kecocokan, akhirnya diperoleh suatu kejadian yang mungkin paling tepat, yaitu saat kunjungan Presiden RI (waktu itu masih Soeharto) ke negara di mana kami bertugas.

Pada saat itu istri saya, yang sedang mengandung 7 bulan, ikut menyambut kedatangan rombongan Presiden Soeharto. Nah dalam rombongan Presiden turut serta Tutut mendampingi bapaknya. Pas giliran menyalami saya dan istri, Tutut melihat istri saya yang sedang hamil dan kemudian mengelus-ngelus perut istri saya sambil mendoakan supaya anak yang ada dalam kandungan terlahir dalam keadaan sehat dan menjadi anak yang baik.

Dari kejadian ini, anggota keluarga saya kemudian sok menganilis dan menyimpulkan bahwa kesamaan tanggal kelahiran putri saya dengan Tutut karena waktu itu pernah dielus-elus yang bersangkutan. Mendengar analisis dan kesimpulan tersebut saya cuma senyum-senyum saja. Cuma dalam hati bersyukur juga bahwa pada saat itu bukan Pak Harto yang mengelus perut istri saya. Lah kalau beliau yang mengelus, sesuai analisis ilmu gathuk, bisa jadi anak saya lahir tanggal 8 Juni (tanggal kelahiran Pak Harto). Kalau begitu kejadiannya, yang kasihan tentu saja istri saya yang harus mengandung lima bulan lagi. Putri saya yang masih dalam kandunganpun lebih kasihan lagi, bisa tua dalam kandungan.

Alhamdullilah putri saya lahir sehat dan sekarang menjelang ABG. Baru saja kami berempat merayakan hari lahirnya secara sederhana di rumah. Kami berharap dan mendoakan agar putri kami tumbuh sehat serta menjadi anak yang baik dan sholihah. Sementara di koran saya juga membaca Tutut merayakan hari lahirnya yang ke-59 secara “sederhana” pula di rumah sakit karena masih harus menunggui bapaknya yang masih dirawat. Adapun Megawati merayakannya HUTnya yang ke-61, juga secara “sederhana” di kediamannya dan tanpa karangan bunga.

5 comments:

amethys said...

selamat ultah ananda.....semoga semua harapan ayah dan bunda terkabulkan..amin

iman brotoseno said...

tapi yang ngasih nama bukan Tutut dong ? he he...

Aris Heru Utomo said...

#Mbak Wieda: Amiin
#Mas Iman: iya bukan Tutut yg kasih nama, enggak seperti om Iman yg diberi nama oleh Bung Karno ... :)

kucingkeren said...

Wah telat nih kasih selamat buat ABG nya :-) . Pokoke selamat gitu ya mas..hehe.. kadonya? minta sama bapaknya aja , kaos dari mana gitu :-)

Aris Heru Utomo said...

#Mbak Susan: Terima kasih mbak. Hadiah kaosnya udah in advance, mintanya sich Tokio Hotel :)