2.4.10

Jumatan di Kampung Alor, Dili

Waktu menunjukkan pukul 12.00 ketika Jumat (27 maret 2010) saya tiba di masjid An Nur Kampung Alor, Dili. Pelataran masjid yang pada hari-hari lain terlihat lowong, pada hari Jumat justru disesaki kendaraan roda empat. Bukan hanya pelataran, sisi jalan menuju mesjid dan tanah kosong di seberangnya pun (tepat di Kedutaaan Australia) sudah dipenuhi kendaraan. Sebagian besar adalah kendaraan berwarna putih dengan tulisan “UN” pada kedua sisinya.

Menurut seorang warga Kampung Alor asal Sulawesi yang bernama Amirudin, masjid An Nur sebagai salah satu masjid yang ada di kota Dili memang selalu ramai dihadiri warga muslim Timor Leste yang akan menunaikan ibadah sholat Jumat. Kehadiran anggota Pasukan Keamanan PBB yang berasal dari negara yang banyak penduduk muslimnya seperti Mesir, Malaysia dan Nigeria pun semakin meramaikan masjid. Mereka inilah yang menyesaki pelataran masjid dengan kendaraan dinas PBB-nya,

Memasuki masjid, terlihat para jamaah sudah memenuhi seluruh ruangan. Sama seperti sholat Jumat di Indonesia, para jamaah yang hadir pun mengenakan pakaian sehari-hari yang bebas dan rapih plus kopiah, termasuk polisi PBB yang sebagian besar masih mengenakan seragam dinasnya (lengkap dengan pistol di pinggang). Sementara sebagian jamaah lain yang baru datang tampak sedang mengambil wudlu di sisi kanan masjid. Selain tempat untuk jamaah pria, di sisi kiri masjid disiapkan pula tempat untuk jamaah wanita.

Usai menunaikan sholat sunnah, saya pun duduk bersilah di atas lantai ubin teraso, yang sebagian besar sudah tidak mulus lagi. Saya bergabung dengan sekitar 300 orang jamaah untuk mendengarkan kotbah dalam bahasa Indonesia. Sebagian besar jamaah terlihat tekun mendengarkan apa yang disampaikan khotib, termasuk polisi PBB asal Nigeria dan Mesir yang tidak mengerti bahasa Indonesia, sementara sebagian jamaah lainnya terlihat terkantuk-kantuk.

Usai shalat Jumat, para jamaah pun segera membubarkan diri untuk melanjutkan pekerjaan masing-masing. Samad, seorang anggota polisi PBB asal Malaysia dan akan mengakhiri tugasnya pada bulan Oktober 2010 ini misalnya, segera bergegas kembali ke posnya yang tidak bisa ditinggalkan berlama-lama. Bahkan ketika hujan belum reda (kebetulan hujan turun bertepatan usainya sholat Jumat), Samad segera menuju Mitsubishi Pajeronya bersama beberapa polisi PBB lainnya asal Malaysia. Sementara Amirudin, yang meskipun tinggalnya tidak jauh dari masjid di Kampung Alor ini, juga bergegas untuk kembali menunggui dagangannya. Meskipun demikian, di beberapa orang lainnya, sambil menunggu hujan reda, terlihat tengah asyik berbincang satu sama lain. Bahkan dari logat bicaranya terasa sekali kalau mereka adalah pendatang asal Jawa Timur.

Menurut sejarah yang dikutip dari buku "Islam di Timor Timur" karya Ambarak A. Bazher (Gema Insani 1995), Masjid An Nur didirikan pada tahun 1955 atau 1956 atas inisiatif Imam Haji Hasan Bin Abdulah Balatif Kepala Kampung Alor dan masyarakat muslim Dili. Pendirian ini direstui oleh Kepala Suku Arab saat itu, Hamud bin Awad Al-Katiri. Dalam perkembangannya kemudian terbentuk perkampungan Islam seperi sekarang ini.



Karena kerusakan disana-sini, pada awal tahun 1980-an masjid ini diperbaiki dan diresmikan kembali oleh Pangdam IX/Udayana Mayjen Dading Kalbuadi pada tanggal 20 Maret 1981. Masjid An Nur ini memiliki dua lantai, lantai pertama untuk tempat sholat sementara lantai kedua digunakan sebagai ruang sekolah. Di bagian tengah masjid terdapat sebuah taman yang mungkin maksudnya digunakan sebagai penyejuk ruang alami. Di pojok kanan terdapat perpustakaan sederhana dimana buku-buku Islam dan beberapa keping CD di letakkan di dua buah rak kayu.

Berdiri sejak tahun 1955, tentu saja masjid ini memiliki catatan sejarah panjang kehadiran umat Islam di Timor Timur, baik pada masa Portugis, saat berintegrasi dengan Indonesia maupun ketika akhirnya menjadi Timor Leste.

Ketika Timor Leste dibawah Portugis, oleh masyarakat di Kampung Alor Masjid An Nur ini dijadikan sebagai salah satu tempat perjuangan politik untuk mengusir Portugis. Masjid ini pun pernah menjadi salah satu basis perjuangan proses integrasi Timor Timur dengan Indonesia. Ambarak A Bazher misalnya menyebutkan peran tokoh-tokoh umat Islam Timor Timur seperti H. Salim Bin Said Al-Katiri, Hedung Bin Abdullah dan Sya’ban Joaqim dalam meminta bantuan rakyat dan pemerintah Indonesia.

Ketika Timor Timur akhirnya menjadi Timor Leste, umat muslim, khususnya yang berasal dari Indonesia, sempat mengalami pengalaman tidak mengenakkan terkait dengan status kewarganegaraan mereka. Pada tahun 2004 misalnya, meski di Pengadilan yang dipimpin hakim internasional, Emiliano dos Reis, mereka tidak dianggap melanggar Undang-undang Imigrasi dan Suaka nomor 9/2003, sekitar 247 warga muslim asal Indonesia tetap diusir secara paksa (deportasi) dan menggunakan kekerasan untuk keluar dari Timor Leste. Sayangnya ketika kejadian tersebut berlangsung, tokoh-tohoh HAM yang selama masa integrasi lantang bersuara justru terkesan diam saja.

Kini, enam tahun setelah pengusiran tersebut di atas, kehidupan umat islam di Timor Leste tampaknya mulai normal kembali. Hal tersebut setidaknya tampak dari ramainya sholat Jumat dan berjalannya sekolah yang dikelola pengurus masjid An Nur. Masyarakat Indonesia yang tinggal di kampong Alor pun sudah bisa menjalankan kegiatannya kembali seperti berdagang, dan sebagian diantaranya telah menjadi Warga Negara Timor Leste. Lebih jauh, mengutip omongan Presiden Pusat Komunitas Islam Timor Leste, Arief Abdullah Sagran, "Tidak ada intimidasi karena agama di Timor Leste meskipun kami minoritas." Semoga


3 comments:

eshape waskita said...

Wah belum pernah kesini nih mas.
makasih "sharing"-nya.

Sakses selalu ya mas.
Amin

Salam

Quinie said...

salut dengan link2nya.. ke web yang bener2 pernah saya denger atau saya kunjungi...

ditunggu laporannya di kunjungan dinas mendatang ya...
btw, disana ada kd gag?

oiya, 1 lagi dari sisi keamanan, ehm.. aman kah kalo wni berkunjung ke sana?

Aris Heru Utomo said...

@Mas Eko, sama-sama mas

@Raty, terima kasih, semoga bermanfaat. Soal KD saya gak ketemu, tapi saya menghadiri acara di hotel tempat KD konon menghabiskan waktunya selama beberapa hari dg RL. Nach kalau RL ini, satu pesawat waktu penerbangan Dili-Denpasar. Dia duduk persis di depan saya. Walau gak jelas, saya sempat ambil gambarnya waktu di Ngurah Rai.

Soal keamanan, ehm relatif ya