9.8.07

Mencari Masakan Indonesia di Amsterdaam

Meskipun telah jauh-jauh melanglang sampai ke daratan Eropa, kalau soal makanan, saya dan mungkin kebanyakan orang Indonesia di rantau tidak bakalan lupa dengan makanan tanah air. Kalau sedang melancong ke berbagai kota misalnya, sudah pasti yang dicari adalah restoran Indonesia terlebih dahulu. Jika tidak ada, baru lah diupayakan restoran lain yang menyediakan nasi dan menu lain yang mirip-mirip dengan masakan Indonesia, seperti di restoran Cina, Thailand atau Vietnam.

Kejadian untuk mengisi perut dengan masakan Indonesia kembali terulang ketika kami sekeluarga dan seorang teman berkunjung ke Amsterdaam pada hari Sabtu 4 Agustus 2007 lalu. Setelah lelah berkeliling kota, disepakati untuk mulai mencari restoran yang menjual masakan Indonesia. Di kota ini sebenarnya tidak sulit mencari restoran seperti itu, karena banyak masyarakat asal Indonesia yang tinggal di Amsterdaam.

Pencarian pertama berhasil menemukan Restoran Java (aaah sayang saya tidak sempat memotretnya) yang terletak di sebuah gang sempit yang memisahkan toko-toko souvenir sepanjang dam square menuju central station. Restoran Java ini tidak seberapa besar, tapi cukup untuk menampung 20 orang pengunjung. Meski memakai nama Java, tapi restoran ini sesungguhnya bukan restoran Indonesia, melainkan restoran Cina yang menjual masakan Indonesia sebagai menu tambahan. Dari daftar makanan yang terpampang di pintu masuk, restoran ini menyajikan rijsttafel (satu set makan dari pembuka sampai penutup) sebagai menu utama. Pilihan makanannya hanya terbatas pada soto ayam, nasi campur dengan lauk rendang, kacang buncis dan sate ayam. Karena keterbatasan menu, akhirnya kami tidak jadi makan di tempat ini. Apalagi istri sempat berbisik kalau bisa cari makanan yang hangat seperti bakso.

Pencarian kemudian berlanjut ke arah yang berbeda, namun tetap berjalan kaki. Ketemu restoran Cina - Indonesia yang jauh lebih besar dan lebih nyaman. Tapi setelah melihat menunya, lagi-lagi harus kecewa karena ternyata masakan Indonesianya cuma pelengkap saja seperti di restoran Java. Baru pada pencarian ketiga, ketemu restoran Indonesia yang "sesungguhnya" yaitu restoran Sukasari. Sesuai namanya, pemilik restoran ini berasal dari Indonesia (Bandung) dan telah mendirikan restoran ini sejak tahun 1969.

Setelah melihat daftar menu, akhirnya kami putuskan untuk makan di restoran ini. Cukup lengkap juga makanan yang disajikan. Ada gado-gado, bermacam sate (ayam, babi atau sapi), lontong, soto ayam, nasi goreng, mi goreng, tumis ikan, dan yang tentu saja bihun baso. Setelah pilih-pilih, saya memesan nasi goreng, anak-anak memesan sate ayam dan mi goreng, istri memesan bihun baso, sedangkan rekan saya dan istrinya memesan gado-gado.

Menunggu tidak terlalu lama, gadis pelayan restoran yang berasal dari Suriname (tadinya saya kira dari Bandung juga karena wajahnya tidak beda dengan orang Indonesia), menyajikan makanan satu persatu. Nasi goreng disajikan dengan potongan tomat dan kerupuk, sedangkan bihun baso disajikan dalam mangkok sedang dengan 5-6 butir baso didalamnya. Dari penampilan, nasi goreng yang disajikan biasa-biasa saja. Rasanya? ya biasa juga dan dan hambar. Mungkin sudah disesuaikan dengan lidah londo dan menghemat bumbu.

Sementara bihun baso, dari segi penampilan cukup menggoda. Kuahnya cukup segar dan baso daging sapinyanya lumayan enak seperti baso lapangan tembak. Hanya sayang terlalu banyak cuka, sehingga rasanya sudah pasti kecut abis. Kekurangan lainnya adalah tidak disediakannya kecap dan saus tomat/sambal. Lagi-lagi saya mencoba memaklumi dan menghibur diri, mungkin bihun basonya sudah disesuaikan dengan lidah londo atau barangkali pemilik/juru masaknya sudah lama tidak lagi mengupgrade kemampuan memasak makanan Indonesia?

Untuk gado-gado, saya tidak sempat mencicipinya. Tapi teman saya berkomentar kalau gado-gadonya kecut, mungkin kebanyakan cuka seperti bihun baso. Sedangkan untuk sate ayam, bumbu kacangnya oke punya, tidak kalah dengan sate ayam yang dijual di tanah air. Kalau ada yang tanya, meski satenya tidak dibakar melainkan dioven, saya bisa merekomendasikan untuk mencoba sate ayam in

3 comments:

aroengbinang said...

aku baca sambil senyum-senyum bung, setengah kasihan, maaf :), setengahnya lagi bersyukur :D, memang kalo soal makanan di resto atau warung, makan di tanah air pasti lebih afdol ya bung. ayo liburan pulang kampung....

aris heru said...

:) Sebetulnya anak2 juga sudah pada protes, kenapa sich repot2 cari masakan Indonesia, di rumah kan juga udah makan masakan Indonesia, lagian belum tentu enak. Tapi penasaran aja mau ngikutin perjalanan kuliner kecil2an model Bondan Winarno hehehehe ...

Indonesia Food Recipe said...

Info Resep Masakan, makanan Indonesia, minuman,Juice, Food Recipe.
http://www.kitchens4cooking.com