18.1.11

Mendokumentasikan Polugri RI

Dalam sebuah tayangan di acara Metro Files yang disiarkan Metro TV pada Sabtu 15 Januari 2011 pukul 19.00-20.00 wib, terlihat mantan Duta Besar RI untuk Jepang Wisber Louis berjalan memasuki gedung Merdeka di jalan Asia Afrika Bandung. Sambil berjalan, ia menceritakan pengalamannya menyaksikan salah satu peristiwa penting dalam sejarah diplomasi Indonesia.

Kala itu, sebagai seorang diplomat muda, ia dan teman-temannya diikutsertakan di bidang keprotokolan dengan tugas antara lain menjemput tamu di Bandar udara Kemayoran dan mendampingi delegasi di Bandung. Di kota kembang ini ia kemudian menyaksikan para pimpinan dan anggota delegasi dari berbagai negara Asia dan Afrika dengan pakaian nasional masing-masing berjalan dari depan hotel Preanger dan Roman menuju gedung Asia Afrika untuk mengikuti Konperensi Asia Afrika (KAA) yang berlangsung pada tanggal 18-24 April 1955.

Dari adegan pembuka ini, tayangan terus bergulir dengan gambar-gambar dan narasi yang menceritakan pertemuan akbar dan sangat bersejarah di tahun 1955 yang melahirkan semangat Bandung yang berisikan semangat pembangunan, perlucutan senjata dan anti kolonialisme. Suatu semangat yang mendorong lahirnya negara-negara baru di Asia dan Afrika yang bebas dari penjajahan kolonial.

Dengan semangat Bandung pula kemudian lahir Gerakan Non-Blok (GNB) pada tahun 1961 sebagai jawaban terhadap kondisi saat itu yang semakin terpolarisasi antara kekuatan Barat yang dipimpin Amerika Serikat dan Timur dibawah kepemimpinan Uni Soviet. Melalui GNB diformulasikan posisi independen yang merefleksikan kepentingan negara-negara anggotanya. Sejarah pun kemudian mencatat keberhasilan Indonesia di KAA dan GNB sebagai pencapaian besar politik luar negeri (polugri) bebas aktif Indonesia.

Dari suasana KAA 1955, adegan berlanjut kembali dengan pembahasan mengenai polugri bebas aktif Indonesia mulai dari jaman Presiden Soekarno hingga Presiden SBY saat ini. Untuk menjelaskan mengenai polugri bebas aktif Indonesia dan pelaksanaannya di lapangan, terdapat serangkaian pendapat dari para mantan Menlu RI seperti Mochtar Kusuamaatmadja, Hassan Wirayuda, dan Alwi Shibab serta Menlu RI saat ini R.M Marty Natalegawa. Selain itu terdapat pula tanggapan pengamat politik luar negeri LIPI Dewi Fortuna Anwar dan Rizal Sukma dari CSIS serta mantan diplomat (alm) Des Alwi.

Semua tayangan di atas merupakan gambar-gambar yang terdapat dalam film dokumenter berjudul “Indonesia Merangkul Dunia (IMD)” yang dibesut para diplomat muda Indonesia yang baru saja menyelesaikan pendidikan di Sekolah Dinas Luar Negeri tingkat dasar (Sekdilu) angkatan 35.

Dengan kreatifitas dan didukung pemahaman mengenai polugri bebas aktif Indonesia, mereka berhasil merangkai sejumlah dokumentasi gambar dan film yang terdapat di dalam sejumlah buku referensi dan pemberitaan, termasuk film-film dari Arsip Nasional yang sudah diunggah ke Youtube, menjadi sebuah film dokumenter perjalanan poluguri bebas aktif Indonesia sepanjang 45 menit.

Langkah untuk mendokumentasikan perjalanan polugri bebas aktif ini tentu saja patut diapresiasi sebagai suatu terobosan tersendiri bagi para diplomat muda Indonesia yang baru saja menyelesaikan pendidikan dan bersiap terjun ke dunia diplomasi. Jika selama ini produk akhir pendidikan dan latihan kediplomatan berupa karya tulis dan buku, maka kali ini para diplomat muda tersebut berhasil memberikan alternatif baru produk pendidikan dan latihan berupa karya film dokumenter.

12951477761968648030Melalui film dokumenter IMD, para pemirsa diajak menyimak perjalanan polugri bebas aktif sejak pertama kali digagas oleh Mohammad Hatta lewat “Mendayung di antara dua karang” hingga era Presiden SBY “Mendayung di antara banyak karang”.

Menariknya ,film dokumenter IMD ini bukan saja diperuntukkan bagi kalangan internal Kementerian Luar Negeri (Kemlu) tetapi juga bisa menjadi pengetahuan umum dan pembelajaran bagi masyarakat Indonesia, terutama kalangan generasi muda, yang ingin mempelajari sejarah polugri bebas aktif secara visual melalui saluran televisi dan jaringan internet (berharap film dokumenter ini diunggah ke situs internet seperti youtube).

Lebih jauh lagi, sejalan perkembangan global dan pola interaksi antar individu yang semakin bertambah tinggi, upaya mendokumentasikan berbagai kegiatan polugri ini dapat dimanfaatkan untuk mendorong pelaksanaan diplomasi total dengan melibatkan keikutsertaan masyarakat sebagai bagian yang tak terpisahkan dari satu negara. Hal ini sejalan dengan konsep diplomasi total dimana pelaksanaan diplomasi tidak lagi harus mengandalkan birokrasi pemerintahan, karena semua elemen masyarakat dapat melakukannya. Dan apa yang dilakukan tersebut pada akhrnya akan terpantau oleh masyarakat internasional dan memberikan dampak bagi baik buruknya citra Indonesia di dunia internasional.

No comments: