27.6.10

Melongok ASEAN Center di Moskow

Dibandingkan hubungan ASEAN dengan negara mitra lainnya, hubungan ASEAN-Rusia relatif lebih muda. Tahun 2011 mendatang, hubungan ASEAN-Rusia baru menginjak tahun ke-15, bandingkan dengan hubungan ASEAN-Uni Eropa yang sudah lebih dari 30 tahun. Meskipun relatief muda, akselerasi hubungan keduanya justru tidak ketinggalan dengan mitra-mitra ASEAN lainnya. Di level hubungan kepala negara/pemerintahan misalnya, ASEAN-Rusia telah sekali menyelenggarakn Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN-Rusia di Kuala Lumpur pada tahun 2005. Direncanakan KTT ke-2 ASEAN-Rusia akan diselenggarakan kembali pada bulan Oktober di Ha Noi, Vietnam.

Akselerasi hubungan ASEAN-Rusia ini tentu saja menarik mengingat pada masa Perang Dingin, negara-negara anggota ASEAN terbelah dalam poros Timur-Barat. Negara-negara Indochina yang merupakan negara sosialis yaitu Vietnam, Laos dan Kamboja sangat dekat ke Rusia (saat itu Uni Soviet). Sementara sebagian besar negara anggota ASEAN lainnya lengket dengan negara-negara Barat yang dipimpin AS.

Berbeda dengan hubungan semasa Uni Soviet, kini hubungan ASEAN-Rusia tidak lagi terbatas pada hubungan antar negara, tetapi telah berkembang pada tingkatan yang lebih luas. Kini hubungan keduanya telah pula melibatkan peran serta masyarakat di ASEAN dan Rusia. Kesempatan bekerjasama di berbagai bidang, misalnya pendidikan, penelitian ilmiah dan kemanusiaan, pun menjadi lebih terbuka.

Dalam konteks ini, tidak mengherankan jika kemudian ASEAN dan Rusia menyepakati pembentukan ASEAN Center di Moscow State Institute of International Relations Moscow State Institute of International Relations (University) of the Ministry of Foreign Affairs of the Russian Federation (disingkat MGIMO-University). Dipilihnya MGIMO University memperlihatkan arti penting ASEAN di mata Rusia dan kesungguhan untuk meningkatkan hubungan ASEAN dan Rusia.

MGIMO University sendiri merupakan sebuah perguruan tinggi terkemuka di Rusia yang fokus pada studi hubungan internasional. Universitas ini didirikan pada tahun 1944 dan berada dibawah Kementerian Luar Negeri Rusia. Banyak alumni MGIMO University yang kini telah menduduki berbagai jabatan penting di pemerintahan dan akademi ilmu pengetahuan Rusia serta lembaga-lembaga penelitian Internasional, salah satunya adalah Menlu Rusia Sergey Lavrov.

Namun bukan karena alumni MGIMO University jika kemudian Menlu Sergei Lavrov lah yang meresmikan ASEAN Center pada tanggal 15 Juni 2010. Menlu Lavrov meresmikan Center ini karena melihat pembentukan ASEAN Center di Moskow penting guna mengisi gap dalam hubungan bilateral Rusia-ASEAN.

Dalam acara peresmian Center, Menlu Lavrov mengatakan bahwa peresmian ini tidak terlepas dari perlunya kebutuhan akan suatu lembaga yang dapat mendorong kesadaran publik di Rusia dan bangsa-bangsa Asia Tenggara mengenai pentingnya kemitraan Rusia-ASEAN dan adanya dasar untuk menciptakan kemitraan antara akademisi dan pengusaha serta meningkatkan hubungan humaniter Rusia-ASEAN. Kebutuhan ini dirasakan penting mengingat selama ini belum tampak peningkatan yang signifikan, terutama di sektor kerjasama ekonomi dan perdagangan, termasuk turisme.

Hadir dalam acara peresmian ini seluruh ketua dan anggota delegasi 7th ASEAN-Russia Senior Officials Meeting (SOM) yang baru saja mengadakan pertemuan pada tanggal 14-15 Juni 2010, termasuk Dirjen Kerjasama ASEAN Kemlu RI Djauhari Oratmangun, Dubes negara-negara anggota ASEAN di Moskow, dan para dosen serta sejumlah mahasiswa MGIMO.

Usai acara peresmian dilanjutkan dengan peninjauan ke kantor ASEAN Center yang terletak di lantai 4 gedung baru MGIMO University. Kantor Center menempati salah satu ruang berukuran sekitar 8×4 meter. Di ruang ini dipajang koleksi buku-buku tentang ASEAN dan Rusia karya penulis dari negara anggota ASEAN dan Rusia. Dari Indonesia tampak buku karya wartawan Kompas, Simor Saragih, “Bangkitnya Rusia, Peran Putin dan Eks KGB”, dan “Vodka, Cinta dan Bunga” karya staf KBRI Moskow, Aji Surya. Selain itu dipajang pula benda-benda kerajinan dari negara anggota ASEAN, seperti batik dan Wayang dari Indonesia.

Mengomentari pembentukan ASEAN Center ini, Dirjen ASEAN Kemlu RI, Djauhari Oratmangun, mengharapkan Center dapat menjadi batu pijakan kerjasama riset dan mempererat hubungan ASEAN-Rusia. Sementara Dubes RI Hamid Awaludin yang juga hadir pada acara peresmian mengemukakan bahwa pembentukan Center dilakukan pada saat yang tepat dan senang karena peresmiannya dilakukan disaat peringatan 60 tahun hubungan bilateral Indonesia-Rusia. Sehingga Center ini dapat pula dimanfaatkan untuk mempromosikan Indonesia di Rusia.

Sebagai penutup dapat disampaikan bahwa ASEAN Center ini dipimpin oleh Dr. Victor Sumsky, seorang pakar Asia Tenggara/Studi Oriental di MGIMO University dan peneliti senior di Institute of World Economy and International Relations Moskow (IMEMO) serta seorang Indonesianis terkemuka di Rusia. Dana untuk menjalankan kegiatan ini berasal dari Russia-ASEAN partnership Fund. Dana tersebut digunakan antara lain untuk membayar tenaga ahli dan melakukan kegiatan penelitian. Selain itu akan digunakan pula untuk membuat portal internet yang berisikan informasi tentang berbagai hal dalam hubungan ASEAN-Rusia. Saat ini Portal tersebut akan ditampilkan dalam bahasa Rusia dan Inggris, namun kedepannya direncanakan akan ditampilkan juga dalam bahasa semua negara anggota ASEAN.

No comments: