8.1.09

Menanti Diplomasi Obama di Gaza

KEMANA Presiden AS terpilih Barack Obama ketika konflik Palestina-Israel semakin memanas? Ketika para pemimpin dunia ramai-ramai mengecam aksi Israel dan membawa permasalahannya ke Sidang Dewan Keamanan PBB (DK PBB), Obama seperti melakukan diplomasi kebatinan dan membiarkan pemerintahan transisi Presiden Bush untuk tetap mengambil keputusan yang membela agresi Israel dan memveto rancangan resolusi DK PBB mengenai gencatan senjata di Jalur Gaza. Alasannya, hingga tanggal 20 Januari mendatang, Presiden AS masihlah George Bush.

Gerah dikritik banyak pihak, pada akhirnya Obama keluar dengan pernyataan keprihatinan yang mendalam pada situasi di Jalur Gaza. Ia pun merespon dengan menjanjikan upaya yang efektif dan konsisten dalam menyelesaikan konflik di Timur Tengah. Pernyataannya ini sekaligus juga untuk menyangkal anggapan bahwa ia bersikap inkonsisten, berkomentar saat terjadi serangan teroris di Mumbai dan perlunya paket stimulus ekonomi, namun diam dalam masalah Palestina-Israel.

Bahwa masyarakat internasional menantikan sabda Obama kiranya dapat dimengerti mengingat besarnya peran dan pengaruh negara adidaya tersebut dalam mendukung terciptanya proses perdamaian di Timur Tengah. Selain itu, negeri Paman Sam tersebut merupakan sekutu dekat Israel.

Namun masyarakat internasional memang tetap harus bersabar, setidaknya selama dua pekan ke depan, untuk melihat penyelesaian konflik secara damai yang melibatkan AS. Sementara Israel dengan cerdik memanfaatkan situasi untuk menggempur Hamas di Jalur Gaza dan membunuhi penduduk sipil di kawasan itu.

Dalam kondisi seperti ini, muncul kekhawatiran terkait kesungguhan pemerintah Obama untuk mengedepankan dialog dan negosiasi dalam penyelesaian persoalan Palestina-Israel pada pokok persoalan yakni penjajahan suatu bangsa atas bangsa lain. Terdapat kekhawatiran pula bahwa Obama akan tetap mengedepankan kebijakan negaranya yang pro-Israel.

Kekhawatiran bahwa Obama akan tetap mempertahankan kebijakan pro-Israel cukup beralasan jika melihat pernyataan-pernyataannya saat pemilu. Di depan American Israel Public Affairs (AIPA) Committee, yang dikenal juga dengan Lobby Israel, pada tanggal 4 Juni 2008 Obama menyatakan: “I want you to know that today I’ll be speaking from my heart, and as a true friend of Israel. And I know that when I visit with AIPAC, I am among friends. Good friends. Friends who share my strong commitment to make sure that the bond between the United States and Israel is unbreakable today, tomorrow and forever.”

Pernyataan senada juga disampaikan saat berkunjung ke Sderot, kota yang berdekatan dengan Jalur Gaza, 22 Juli 2008. Pada kunjungan tersebut Obama menyatakan komitmennya untuk mendukung setiap upaya Israel untuk mempertahankan diri. Suatu pernyataan yang tentu saja melegakan Israel.

Dengan pernyataan sikap seperti itu, saat Obama memasuki Gedung Putih ia akan dihadapkan pada tantangan untuk segera mendapatkan solusi damai, yang tidak mencederai janjinya saat kampanye namun tidak merugikan kepentingan Palestina. Suatu pencapaian yang tidak mudah mengingat eskalasi ketegangan dan masih adanya polarisasi antar kelompok yang bertikai, baik di kalangan Palestina sendiri maupun Israel.

Namun dibandingkan para pendahulunya, Obama tampaknya memiliki cukup modalitas untuk menyelesaikan konflik Palestina-Israel. Melalui perundingan dan pembicaraan politik yang panjang dan melelahkan, mulai dari Konperensi Madrid 1991 hingga Annapolis, serta sejumlah inisiatif yang diluncurkan, Obama memiliki cukup bahan untuk memetakan hasil kesepakatan yang ingin dicapai, misalnya saja solusi mengenai pembentukan dua negara yang berdaulat.

Kalau saja Obama bisa segera merumuskan dan mengimplementasikan kebijakan luar negerinya di Timur Tengah, maka tidak akan banyak lagi korban sipil yang berjatuhan di Jalur Gaza dan tragedi kemanusiaan serupa tidak akan terulang lagi di masa mendatang. Diplomasi Obama dan Menlu Hillary Clinton pun akan dapat difokuskan pada penyelesaian persoalan Palestina-Israel pada pokok persoalan yakni penjajahan suatu bangsa atas bangsa lain.

Postingan ini dapat pula dibaca di Kompasiana.com

3 comments:

Anonymous said...

sebagaimana presiden presiden amerika lainnya. Obama tak akan pernah bisa - tak berdaya - menghadapi lobbyst lobbyst yahudi disekitar konggres, senat maupun pemerintahannya..

Anonymous said...

@Iman Brotoseno: sebetulnya bukan hanya tidak berdaya, tapi Obama merupakan presiden pertama yang tegas menyatakan dukungan Jerussalem sebagai ibu kota Israel. Hal ini dinyatakannya saat bertemu dengan para lobbyist yahudi tsb.

Anonymous said...

saya juga penasaran dg sabda Obama terkait sengkarut di Gaza. tapi kok pesimis ya? lagipula waktu terus berjalan, sementara pembantaian terus terjadi. Jika kemudian sabda itu positif utk palestina, apakah masih punya makna??