17.9.07

Nonton F1 di SPA Francorchamps

Setelah tahun 2006 lalu tidak menggelar acara balap mobil F1, karena adanya renovasi, pada Minggu 15 September 2007, Belgia kembali berkesempatan menjadi tuan rumah hajatan balap jet darat tersebut di sirkuit Spa Francorchamps. Acara tersebut tentu saja mengobati kangen para penggemar F1, terutama warga Eropa yang tinggal di Belgia dan di negara-negara sekitarnya seperti Belanda, Luxemburg dan Jerman. Berduyun-duyun mereka menuju sirkuit Spa Francorcchamps untuk bergabung dengan penggemar balap mobil F1 dari seluruh dunia.

Sebagai penggemar olah raga, kesempatan nonton langsung balapan di Spa Francorchamps tentunya akan amat sayang untuk dilepaskan. Setelah tahun 2005 gagal nonton langsung dan 2006 tidak ada balapan, tahun 2007 ini akhirnya saya berkesempatan nonton langsung gelaran F1 tersebut. Walau untuk itu saya harus menahan haus dan lapar seharian karena acara balapan tahun ini bertepatan dengan bulan Ramadhan 1428 H.

Perjalanan menuju sirkuit diawali dengan sedikit kebingungan mencari jalan masuk sekeluarnya dari jalan bebas hambatan ke arah Spa. Sesuai petunjuk di billboard, setelah menempuh jalan bebas hambatan E25 dipersilahkan keluar di pintu 48. Perkiraan saya, setelah keluar dari pintu tersebut dapat langsung menuju lokasi sirkuit. Ternyata perkiraan saya meleset, lokasi sirkuit dari pintu keluar tersebut masih berjarak sekitar 20 km, itupun harus melewati jalan nasional yang berliku-liku.

Karena kemacetan dan salah membaca petunjuk jalan, akhirnya jarak sekitar 20 km tersebut ditempuh selama sekitar satu jam. Masalah selanjutnya adalah mencari tempat parkir. Karena tiba sudah agak siang, tempat-tempat parkir telah disesaki kendaraan para penonton yang telah datang terlebih dahulu. Setelah berputar-putar akhirnya dapatlah tempat parkir yang jaraknya lumayan jauh dari pintu masuk tempat balapan.

Perjuangan berikutnya adalah mendapatkan tempat duduk yang cukup enak untuk melihat mobil yang dipacu para pembalap. Lagi-lagi hal tersebut juga tidak mudah. Berbagai tempat strategis telah dipadati penonton. Apa boleh buat, akhirnya terpaksa nonton sambil berdiri dan sering jinjit biar bisa melihat mobil yang lewat. Maklum bule-bule didepan saya, rata-rata memiliki postur yang tinggi.

Selama sekitar satu jam lebih saya menyaksikan para pembalap memacu kendaraan di sirkuit sepanjang 7 km dengan kecepatan rata-rata lebih dari 200 km/jam selama 44 putaran. Suara mesin mobil yang meraung-raung seperti bunyi pesawat jet yang akan tinggal landas, cukup memekakkan telinga. Namun meski memekakkan telinga, justru disinilah salah satu keasyikan menonton langsung. Satu hal yang tidak mungkin didapatkan jika menonton di depan televisi.

Melalui pertarungan seru, duet Ferrari yaitu Kimi Raikkonen dan Felipe Massa akhirnya keluar sebagai pemenang. Sama seperti waktu perebutan pole position, keduanya menggungguli duet Mercedes McLaren, Fernando Alonso dan Lewis Hamilton, yang akhirnya harus meraih posisi ketiga dan keempat. Wah enggak percuma saya pegang bendera Ferrari. Sayang dari tempat saya, tidak mungkin melihat langsung pemberian trophy pemenang. Namun melalui layar raksasa yang dipasang di beberapa tempat, para penonton masih memiliki kesempatan melihatnya.

Dari pengalaman menonton F1 kali ini, satu hal yang dapat dijadikan pelajaran adalah perlunya mengetahui lokasi balapan dengan seksama. baik itu jalan masuk ke lokasi, tempat parkir hingga tempat duduk. Kalau anda nonton balapan dengan secara berombongan dan diatur biro jasa, hal di atas tidak menjadi masalah. Namun untuk penonton perorangan seperti saya, sebaiknya memiliki persiapan mengenai lokasi secara lebih seksama. Saya perhatikan banyak penonton yang harus berjalan kaki sangat jauh ke tempat mereka memarkir kendaraan. Syukur-syukur jika ada yang memberikan tumpangan. Jika tidak, siap-siap saja kaki gempor dan pegal linu karena berjalan jauh.

Hal yang sama juga berlaku jika kita akan menonton pertandingan lain ataupun suatu pertunjukkan. Malah bukan hanya lokasi yang perlu diketahui, ada baiknya kita juga mengetahui faktor lain misalnya faktor keamanan. Saya teringat sekian tahun yang lalu ketika usai pertunjukkan Iwan Fals (Kantata Takwa) di Istora Senayan, terjadi kerusuhan yang berakibat rusaknya kendaraan yang diparkir dekat tempat pertunjukkan.

5 comments:

ramirojusa said...

wah, enak ya oom, kerjanya bisa disambi jalan-jalan nonton balapan mobin. pingin juga sih bisa (kerja) kayak oom Aris.

lho kok puasa sih oom, kan oom orang Jakarta, ribuan kilometer dari Belgia, mestinya kan boleh gak puasa hihihihihi

salam kenal ya oom.

Pangarso D. Nugroho said...

waks ... pengen dong ikutan nonton ...

Aris said...

#Rami: salam ya utk papa. bilangin ke papanya utk juga rajin2 ngeblog, jangan kalah sama Rami.

#Dadung: yg lebih deketan kayaknya ke Budapest tuch, sirkuit hungaroring.

rizal said...

ngomong-ngomong tiket masuknya berapa tuh?

Harrie said...

Wah asyik dong bisa merasakan desingan mobil F1 secara langsung.
Kapan ya..F1 mau maen di Jakarta. masak sih kita kalah ama Malaysia.
Konon, Singapura bakal menjadi sirkuit jalanan untuk F1 tahun mendatang ya?