7.9.07

Liputan lumpur Sidoarjo di TV France 2

Siaran TV France 2 tanggal 6 September 2007 pukul 20.00 menyajikan liputan bencana Lumpur Sidoarjo. Liputan yang dimasukan dalam program acara “Envoye Special” ini memperlihatkan bagaimana luapan Lumpur yang terjadi sejak 29 Mei 2006 tersebut telah mengakibatkan tenggelamnya 5 desa, 15 orang meninggal dunia dan setidaknya sekitar 15 ribu orang kehilangan tempat tinggal. Dari judul liputannya saja, Une percee en enfer (sebuah awal di neraka) kita langsung mengetahui bagaimana menderitanya penduduk Sidoarjo menghadapi bencana ini, tidak ubahnya seperti di pintu neraka.

Meski tidak secara terang-terang menyebutkan kelambanan penyelesaian masalah, yang sudah lebih dari setahun, namun melalui gambar-gambar yang disajikan tampak keresahan yang meluas akibat lambatnya penuntasan masalah. Tayangan gambar pada liputan tersebut memperlihatkan bahwa salah satu langkah yang diambil, dengan membangun dam sebagai penyekat, ternyata tidak dapat mencegah meluasnya aliran lumpur. Aliran lumpur semakin meluas dan rumah serta sawah penduduk semakin banyak yang terendam. Penduduk yang tanah dan rumahnya, bahkan desanya, terendam tidak dapat berbuat apapun. Demo-demo yang dilakukan belum menyelesaikan masalah. Yang dapat dilakukan adalah berdoa, baik sendiri-sendiri mauoun bersama-sama.

Sementara itu ditampilkan pula wawancara dengan eksekutif Lapindo Brantas, Yuni Wati, di kantornya yang megah dan menjulang tinggi di Jakarta. Eksekutif yang dipanggil Ibu Yuni oleh reporter TV France 2 ini, tampaknya berupaya menjelaskan bahwa tidak benar perusahaannya tidak bertanggungjawab. Pemberitaan bahwa Lapindo Brantas tidak bertanggung jawab terjadi karena adanya salah persepsi dari media massa. Disampaikan pula bagaimana Lapindo Brantas merasa tidak bersalah dan menuding gempa Yogyakarta dua hari sebelumnya sebagai penyebabnya.

Yang juga tidak kalah menarik dari sesi wawancara ini adalah tampilan Ibu Yuni dengan kalung emas yang cukup besar dan tambahan bros emas di baju kerjanya. Tampilan tersebut kontras dengan tampilan korban bencana lumpur di Sidoarjo. Dengan pakaian seadanya dan meskipun terlihat tersenyum, namun tidak dapat ditutupi wajah-wajah mereka yang menderita karena misalnya harus kehilangan harta benda, ternak dan tentu saja sawah dan ladang tempat mereka mencari nafkah. Diperlihatkan bagaimana beberapa orang penduduk harus berendam di lumpur guna menyelamatkan ayam piaraannya yang terperangkap di kandang.

Secara umum, tayangan yang dibuat selama 10 hari ini dapat memperlihatkan gambaran obyektif mengenai bencana yang terjadi di Sidoarjo. Namun tetap saja menyisakan pertanyaan mengenai siapa yang bertanggungjawab terhadap bencana lingkungan yang terjadi. Tayangan ini tampaknya tidak ingin membahas sampai sejauh itu. Akan menarik jika terdapat segmen lanjutannya, misalnya mengenai tanggung jawab Lapindo Brantas sebagai perusahaan yang melakukan pengeboran minyak tapi malah mendapatkan lumpur atau menayangkan proses penghentian lumpur dan ganti rugi terhadap korban bencana.

Dari segi image di masyarakat Eropa, tayangan ini tentu saja semakin memperlihatkan gambaran Indonesia sebagai negeri bencana, terutama setelah bencana: tsunami di Aceh ataupun gempa di Yogyakarta dan berbagai tempat lainnya. Masyarakat Eropa akan lebih mengenal Indonesia dengan bencananya dibanding hal-hal lain yang bersifat lebih positif. Untuk itu, upaya Pemerintah RI ataupun Kedutaannya di luar negeri untuk menginformasikan dan menjelaskan kondisi yang sesungguhnya di dalam negeri, tidak akan berhasil maksimal. Diperlukan pembenahan-pembenahan serius di dalam negeri guna menciptakan pandangan yang “terang terus dan terus terang”. Selain itu Pemerintah RI juga semestinya dapat “menyelesaikan masalah tanpa masalah”.


Foto-foto diambil dari sini



2 comments:

escoret said...

Wah,pernah aku posting nich mas..[http://escoret.net/blog/index.php?s=lumpur+lapindo]

eh,lam knl ya..???

aris said...

Salam kenal juga mas pepeng.