31.7.07

Piala Asia dan Promosi Indonesia

Saya tergelitik komentar seorang rekan yang menyayangkan ketidakberhasilan Indonesia memanfaatkan ajang Piala Asia 2007 sebagai ajang promosi di dunia internasional. Padahal sebagai tuan rumah, Indonesia telah berhasil menyelenggarakan pertandingan dengan baik sejak babak perempat final, semi final dan final. Dengan keberhasilan sebagai tuan rumah, lalu apa yang diperoleh Indonesia?

Seperti diharapkan PSSI dalam situsnya “Piala Asia 2007 bukan semata mengangkat pamor sepakbola Indonesia, tapi juga memicu pertumbuhan ekonomi sekaligus promosi dahsyat bagi Bangsa dan Negara ini. Secara ekonomis, Piala Asia akan mengangkat GNP Indonesia. Dunia pariwisata bakal kian menggeliat. Diperkirakan Jakarta akan dibanjiri lebih dari 1,5 juta orang dari luar, baik dari luar Kota Jakarta maupun dari manca negara. Kota Palembang juga diprediksi akan dijejali tak kurang dari 100 ribu orang dari luar berbagai daerah di Sumatra.

Ribuan orang asing bakal masuk Jakarta dan Palembang selama Piala Asia. Selain petinggi AFC dan FIFA, ada sekitar 300 wartawan asing, talent scouting, pengamat, pelatih asing. Petinggi klub elite dari berbagai Negara juga akan Begitu juga turis mancanegara akan datang berbondong-bondong. Hitung saja, berapa banyak uang yang akan mereka habiskan untuk membayar hotel, makan, rekreasi, berbelanja, dll.”

Suatu target yang hebat. Namun terlalu berlebihan untuk mengaitkan keberhasilan penyelenggaraan Piala Asia dengan peningkatan GNP. Saya sendiri tidak mengerti cara mengukur keberhasilan pencapaian harapan tersebut. Namun dari segi prestasi di lapangan, pamor sepakbola Indonesia tampaknya belum cukup terangkat. Meski tampil cukup baik, kesebelasan Indonesia belum dapat menandingi raksasa sepak bola Asia. Menang sekali atas Bahrain, selanjutnya cukup puas menjadi kesebelasan “nyaris”, nyaris menahan imbang Arab Saudi dan Korea Selatan dan selanjutnya kalah. Final Piala Asia pada hari Minggu tanggal 22 Juli 2007 menjadi panggung untuk Arab Saudi dan Irak unjuk kebolehan. Lewat gol tunggal Younes Mahmoud, kesebelasan Irak akhirnya menjadi juara.

Terkait dengan masalah promosi, sebenarnya sejak pertandingan Piala Asia berlangsung hingga final di Jakarta tersebut, saya mencoba mengamati berbagai pemberitaan di televisi dan beberapa media cetak di Belgia. Hasilnya hanya sedikit sekali yang memuat berita kejuaraan Piala Asia, bahkan media televisi seperti Euronews, RTBL, TV Turkey, BBC dan CNN hanya memberitakan dalam bentuk teks berjalan. Baru lah setelah partai final dan Irak keluar sebagai juara, beberapa televisi menyiarkan gambar. Itu pun gambar suka cita warga Irak di Baghdad menyambut kemenangan kesebelasan nasionalnya. Gambar pertandingannya sendiri hanya disiarkan CNN beberapa detik, termasuk gambar Presiden SBY yang tersenyum saat penyerahan Piala.

Masih penasaran dengan sedikitnya pemberitaan Piala Asia dan tentu saja penyebutan Indonesia/Jakarta sebagai tuan rumah, iseng-iseng saya buat survey kecil-kecilan dengan menanyakan beberapa orang Belgia. Dari beberapa orang yang sempat saya tanyakan, sebagian tidak tahu kalau ada kejuaraan Piala Asia di Jakarta. Sebagian yang lainnya tahu bahwa Irak menjadi juara Piala Asia 2007, namun ketika ditanyakan dimana tempat pertandingannya, mereka tidak tahu. Kesimpulannya, masyarakat Belgia tidak tahu kalau ada kejuaraan Piala Asia di Jakarta. Kalaupun mereka tahu Irak yang menjadi juara, itu karena lebih terkait dengan berita perang di Irak.

Wah sedih juga kalau begitu, punya hajatan besar tapi gaungnya tidak terlalu kedengaran. Beda dengan hajatan Piala Eropa, yang gaungnya terasa sekali di Indonesia. Bukan hanya media cetak yang ramai-ramai membuat berita dan analisis, stasiun televisi pun berebut untuk menyiarkan secara langsung.

Jangan buru-buru menyalahkan masyarakat di Belgia atau Eropa yang tidak tahu menahu mengenai hajatan yang digelar di Jakarta. Karena sebenarnya masyarakat Jakarta sendiri baru menyadari kalau kotanya akan menjadi tuna rumah beberapa hari sebelum acara digelar. Sebelumnya terlihat adem ayem saja. Simak saja berita dari Batampos yang menyebutkan sepinya promosi persiapan Piala Asia. Bahkan menurut Republika, ketika acara dimulai, Indonesia tidak menggelar acara apa pun. Nah kalau sudah begini, bagaimana mau ada pemberitaan di berbagai media massa dunia. Lalu promosi macam apa yang telah dilakukan PSSI?

2 comments:

Anonymous said...

Well sebenernya aku juga nggak tahu kok kalau bakalan ada Asian Cup tahun ini dan dihelat di Jakarta.
Aku tahunya baru setelah denger kabar kalo Indonesia menang 1-0 ma Bahrain.
Kalau bicara masalah publikasi yang kurang di dunia international aku kurang tahu akan hal itu.
Kalau dinegri sendiri mah cukup gembar-gembor apalagi saat lampu stadion mati, wasit tidak adil dan sgnya.
Semuanya diekspos berlebihan sampai lupa untuk mengekspos keberhasilan dan peningkatan permainan Timnas kita.
Media dijadikan senjata handal ketika Indonesia kalah.
Mungkin itu sudah tradisi kalao Indonesia kalah selalu aja ada alasan untuk mencari biang keladinya.
Untuk masalah Asian Cup yang kurang populer mungkin karena sepak bola kelas dunia yang baru saja dihelat merupakan hal yang baru bagi rakyat kita. Jadinya kaget dan kurang antusias.
Malah sepakbola tidak dijadikan acara entertainmen bagi kita karena banyak hal.
Mulai dari stadiun yang kotor dan tidak mendukung, penonton yang menakutkan dan masih banyak lagi.
But untuk pemanasan Indonesia lumayan lah dalam penyelenggaraan tahun ini
Sorry kepanjangan :)

~evelyn ( Red Devil )
http://evelynpy.wordpress.com/

Anonymous said...

Hehehehe sama donk, saya juga baru tahu menjelang kejuaraan di gelar, bahkan gak tahu kalau finalnya akan di Jakarta (ihik). Btw Indonesia menang atas Bahrain dgn skor 2-1 lho. Salam