15.6.11

Tiga Kebiasaan Buruk Yang Mesti Dihindari Blogger

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kebiasaan memiliki arti sebagai sesuatu yang biasa dikerjakan. Lebih jauh lagi KBBI mengartikan kebiasaan sebagai pola untuk melakukan tanggapan terhadap situasi tertentu yang dipelajari oleh seorang individu dan yang dilakukannya secara berulang untuk hal yang sama.

Dari pengertian dalam KBBI seperti tersebut diatas, kita dapat menyimpulkan bahwa kata kunci dari kebiasaan adalah “perulangan” suatu cara bertindak yang telah dikuasai yang berlangsung secara otomatis mekanis yang terjadi secara berulang-ulang. Sejalan dengan pengertian tersebut, maka kebiasaan yang sering dijumpai pada seorang blogger adalah:

1. Tidak pernah tepat waktu

Kebiasaan tidak pernah tepat waktu biasa dijumpai pada saat seorang blogger menerbitkan artikel di blognya. Jarang sekali seorang blogger tepat waktu dalam membuat dan menerbitkan artikelnya. Jika sedang bersemangat, seorang blogger bisa membuat dan menerbitkan artikel setiap hari. Tapi kalau lagi malas, bisa membuat dan menerbitkan satu artikel seminggu pun sudah cukup bagus.

Celakanya, kebiasaan tidak pernah tepat waktu tersebut ternyata sering dibawa dalam kehidupan keseharian. Sebagai contoh, saat diundang rapat jam 19.00 WIB, baru nongol jam 20.00 WIB sambil cengar cengir dengan alasan macet atau ketiduran. Karena seringnya terlambat memulai suatu kegiatan, tidak heran jika ada yang mengatakan “bukan blogger kalau tidak ngaret”. Saya miris juga mendengar kata-kata seperti ini, tapi apa boleh buat kenyataannya memang begitu. Bukan sekali dua kali saya mengalami kejadian seperti itu, khususnya saat mengadakan acara yang melibatkan blogger. Jarang sekali para blogger memulai acara tepat waktu, apalagi untuk acara-acara yang sifatnya gratis.

2. Tidak berani memberikan konfirmasi

Dalam dunia maya, blogger sebenarnya dapat dikatakan sebagai seorang yang bisa menyatakan pendapatnya lewat tulisan. Namun sayangnya kemampuan menyatakan pendapat tersebut sering kali tidak diikuti dalam tindakan nyata dalam kehidupan seharian. Sebagai contoh, (lagi-lagi terkait dengan undangan) ketika menerima suatu undangan pertemuan, jarang sekali blogger yang menyatakan konfirmasi kehadiran atau ketidakhadirannya. Padahal konfirmasi sangat diperlukan oleh si pengundang, misalnya untuk pengaturan tempat pertemuan atau jumlah konsumsi yang diperlakukan.

Kebanyakan blogger lebih banyak memilih diam dan tidak memberikan konfirmasi atau telah memberikan konfirmasi untuk hadir namun ketika mendadak batal, maka pembatalan tersebut tidak dikonfirmasikan kembali. Hal ini ibaratnya seperti aksi pendekar dari gua siluman yaitu tiba-tiba hadir di pertemuan atau tiba-tiba batal tanpa konfirmasi ulang.

Yang lebih lucu, kalaupun memberikan jawaban, jawabannya berputar-putar dan menyuruh si pengundang untuk berpikir, misalnya dengan mengatakan “saya akan datang ke pertemuan untuk menyampaikan usulan tentang ABCD, tapi kalau saya tidak datang maka menjadi hak yang datang menyampaikan usulannya”.

Padahal daripada memberi jawaban berputar-putar, akan lebih mudah jika memberikan konfirmasi sebagai berikut “Ya saya akan hadir” atau “Maaf tidak bisa hadir karena ada kegiatan lain yang bersamaan”. Kalau mau pakai kalimat pemanis akan lebih baik lagi :Terima kasih atas undangannya, saya akan hadir dalam pertemuan tersebut” atau “Terima kasih atas undangan yang baru saja saya terima, tetapi mohon maaf saya tidak bisa hadir karena pada saat yang bersamaan ternyata ada kegiatan lain yang mesti saya hadiri”.

3. Tidak berani bersikap terbuka dan memilih anonymous

Dengan alasan kebebasan menyuarakan pendapat di alam demokrasi, blogger bisa berkata apa saja di blognya. Tapi kebebasan tersebut ternyata seringkali tidak diikuti dengan sikap terbuka terhadap identitas diri si blogger. Meski kebebasan berpendapat dijamin UU, namun tidak sedikit blogger yang lebih memilih menggunakan identitas samaran agar lebih bebas berpendapat di blognya atau saat berkomentar di tulisan orang lain. Dalam bahasa Presiden SBY “mereka adalah orang-orang yang berteriak di ruang yang gelap”.

Menanggapi blogger yang lebih bersikap sebagai anonymous, sejauh tidak mengganggu, saya menghormati pilihan tersebut. Akan tetapi jika mereka mampir di postingan saya dan meninggalkan jejak berupa komentar-komentar negatif, maka dengan senang hati saya akan menghapus komentar-komentar tersebut.

Demikianlah tiga kebiasaan buruk blogger yang mungkin anda perlu ketahui dan mesti dihindari. Anda punya hak untuk setuju atau tidak setuju. Anda juga berhak untuk menambahkan atau mengurangi tiga daftar yang saya buat tersebut. Untuk itu, kalau anda punya tambahan butir-butir lainnya atau komentar, silahkan tinggalkan jejak di kolom komentar di bawah ini.

6 comments:

first gamut said...

point 1 adalah bad habbit saya. Berusaha untuk tidak melakukan, tetapi aktivitas dan kerjaan lain menghambat untuk bisa selalu tepat waktu. hehe ;p *tetep ngeles

eshape waskita said...

Salam.

mas Aris kalau nulis memang selalu bernas, mungkin lain kali nulis juga mas beberapa kelebihan blogger yang bisa kita contoh.

Salam sehati

Meli Vedder said...

pak aris salam kenal! aq bloggerbekasi juga tp nyasar di kaltim :) ttg blogger yg males konfirm hehehe aq ngiri soalnya dsini gak ada perkumpulan blogger, otomatis gak pernah ada acara blogger, dulu pernah ada (aq blum gabung) eh skrg dah tewas :(

Muhidin Saimin said...

Mantaf sekali pak, jadi malu nih ternyata benar semua ada disaya, harus introspeksi untuk perbaiki diri nih..... salam kenal pak

Aris Heru Utomo said...

@First Gamut, ngeles ni ye :)

@Mas Eko, salah satu kelebihan blogger yang riang gembira adalah suka tersenyum, ya seperti mas Eko ini :)

@Meli Vedder, wah asyik nich ada blogger bekasi yang tinggal di kaltim ? kapan2 bisa bikin kopdaran disana nich kalau pas ada kesempatan jalan2 ke kaltim

@Muhidin Saimin, sama-sama mas, instrospeksi juga buat kita semua kok.

asdodi alhadi said...

luar biasa kita memang harus saling menasehati dalam kebaikan dan kebenaran itulah arti amar maruf nahi munkar