16.10.06

Nobel Muhammad Yunus

Pemenang Nobel Perdamaian 2006 telah diumumkan tanggal 13 Oktober 2006 lalu. Pemenangnya adalah Muhammad Yunus, ekonom dan bankir asal Bangladesh dan bekerja di Grameen Bank Bangladesh. Bagi sejumlah pengamat, terpilihnya Muhammad Yunus bisa jadi merupakan suatu kejutan. Hal tersebut mengingat bahwa nama Muhammad Yunus tidak banyak disebut-sebut untuk memenangi hadiah tersebut. Setidaknya ia kalah ngetop dengan nama-nama calon peraih nobel perdamaian yang dinominasikan berbagai pihak seperti mantan PM Finlandia, Marthi Ahtissari, mantan Menlu Australia, Gareth Evans dan tentu saja Presiden RI, Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Komite Nobel memilih Muhammad Yunus dengan pertimbangan bahwa yang bersangkutan banyak membantu memberdayakan kemiskinan penduduk di negerinya dengan memberikan pinjaman lunak bagi penduduk miskin. Hal tersebut tampaknya dinilai oleh Komite Nobel sebagai langkah yang lebih konkrit mengingat kemiskinan merupakan sumber dari banyak perselisihan. Sebagai orang awam, keputusan Komite Nobel tentu saja layak diamini. Apalagi ternyata berbagai kekerasan yang terjadi di berbagai kawasan dunia memang disebabkan oleh kemiskinan dan (juga) ketidakadilan.

Lalu perlu kecewakah kita karena ternyata hadiah Nobel tidak diraih oleh putra Indonesia, Presiden SBY? Jawaban saya langsung saja: ngapain juga kecewa. Karena dengan atau tanpa Nobel pun, Pekerjaan Rumah (PR) Presiden SBY masih sangat banyak. Masalah perdamaian di Aceh misalnya (yang menjadi salah satu dasar untuk mencalonkan Presiden SBY), ternyata hal tersebut hanyalah merupakan salah satu mata rantai permasalahan yang berhasil diselesaikan. Sementara masalah-masalah lainnya masih jauh dari tuntas antara lain seperti masalah Papua, Poso, terorisme, pengangguran, kemiskinan, pembunuhan Munir ataupun masalah lingkungan (ingat kebakaran hutan yang mengakibatkan ekspor asap ke Malaysia dan Singapura).

Semua PR itu akhirnya menjadi beban tersendiri bagi Presiden SBY untuk lebih berintrospeksi dan meningkatkan upaya untuk membenahi kondisi di dalam negeri. Adalah sangat tidak nyaman ketika Presiden SBY menerima Nobel, tetapi ternyata kerusuhan di Poso masih terus berlanjut, konflik di Papua masih mengemuka, pembunuh Munir belum diketahui, penyelundupan kayu masih berlangsung, hutan-hutan gundul dan terbakar saat musim kemarau dan sederet ketidaknyamanan lainnya.

Kembali pada upaya Muhammad Yunus yang patut diganjar Nobel Perdamaian 2006, bagaimana sekiranya langkah Muhammad Yusuf dilaksanakan di Indonesia, memberikan pinjaman kepada masyarakat miskin dan usaha kecil dengan berdasarkan pada kepercayaan?

Meskipun belum ada survey mengenai tingkat kepercayaan yang dimiliki masyarat Indonesia, saya yakin metode Muhammad Yunus dapat saja diterapkan di Indonesia. Apalagi dari segi infrastruktur kita telah memilikinya, lihat saja Bank Rakyat Indonesia (BRI), yang memiliki nasabah umumnya petani pedesaan, telah memiliki kantor cabang dan pembantu di seluruh nusantara, termasuk pedesaan di Indonesia. Infrastruktur ini bisa dimanfaatkan maksimal dan disertai upaya sosialisasi bahwa duit pinjaman dipergunakan untuk memulai atau mengembangkan unit usaha. Langkah sosialisasi sangat diperlukan, mengingat orang kita biasanya langsung konsumtif setelah menerima duit, gak peduli duit pinjam. Sehingga bukannya untuk mengembangkan usaha, eh malah digunakan untuk membayar cicilan motor atau membeli televisi baru. Ah … jangan begitu lah.

Ayo buktikan kita bisa!!! Masa’ rakyat Bangladesh saja bisa, kita enggak.


6 comments:

Agusti Anwar said...

Begitu diumumkan, saya juga pengen nulis soal ini, tapi urung terus he he... Memang sih agak membingungkan kok nobel perdamaian dimenangkan ekonom... Tetapi konsep kredit mikro Grameen Bank Yunus itu memang berhasil sekali. Mas, saya mulai terpesona dengan pola Yunus justru waktu ngikutin sesi di Clingendael Sept 2004, ketika pembicara dari bank Belanda menyinggung micro-finance grameen bank yang diperbandingkan dengan BPR kita. Ternyata BPR kita justru contoh kedua terbaik setelah Grameen Bank itu, walaupun tidak begitu terekspos.

Yang saya senangi dari menangnya Yunus adalah pernyataannya bahwa ini kemenangan bagi perlawanan terhadap kemiskinan... Salam, Anwar.

Anonymous said...

Menarik memang apa yang dilakukan oleh Muhammad Yunus ini. BTW, saya sangat tertarik untuk bisa menyadarkan para bankers dan pengambil keputusan di Indonesia untuk mencontoh konsep yang di lakukan oleh beliau. Sebetulnya konsep tersebut telah ada di Indonesia yang dilakukan oleh Koperasi, mereka menyebut pinjaman tanggung renteng.

Nah, dalam rangka itu kebetulan saya aktif di koperasi bhakti pemuda nasional yang beranggotakan koperasi pemuda di Indonesia. Saya ingin sekali bisa mendatangkan Dr. M Yunus ke Indonesia.... untuk itu bisakah Bapak-Bapak meberikan akses email beliau ? Bila ada bisa di email ke ear_abusaad@yahoo.co.id. Terima kasih

Aris Heru Utomo said...

Untuk kontak Mohammad Yunus bisa masuk ke website grameen foundation dengan alamat sbb: http://www.grameenfoundation.org demikian semoga bermanfaat.

Anonymous said...

jangan deh dapet nobel...timor leste dulu dpt nobel eh terus rusuh deh...bangladesh baru2 ini juga sama dapet nobel eh langsung rusuh juga.....nobel abadi jika yang menganugerahkan adalah rakyatnya sendiri kepada para pemimpin negara yg emang pantas.

raka said...

pak aris, saya mengambil beberapa statement dari blog bapak untuk bahan blog saya ya. dicantumin sumbernya qo. gapapa ya.thanx

raka said...

Pak heru, mau tanya, bagaimana caranya artkel yang muncul di homepage blog cuma dua paragraf pertama? bagus, jadi lebih ringkas dan enak dibaca