24.10.06

Lebaran di Brussel, Belgia

Seiring dengan berakhirnya bulan Ramadhan 1427 H, gema takbir terdengar dari gedung aula KBRI Brussel di Avenue de Tervuren 294. Kegiatan takbir bersama yang dikoordinir Keluarga Pengajian Masyarakat Indonesia (KPMI) ini dihadiri oleh anggota masyarakat Indonesia yang berdiam di Brussel. Meski tidak terdengar bunyi bedug seperti lazimnya di tanah air, takbiran bersama ini cukup menghangatkan suasana malam takbiran yang sejak sore hari hingga menjelang fajar diwarnai gerimis.

Bahwa malam takbiran dan Lebaran di Brussel berlangsung adem ayem, tidaklah mengherankan karena Belgia bukanlah negara muslim. Meski Islamic Center Brussel telah memutuskan bahwa 1 Syawal jatuh pada tanggal 23 Oktober 2006, tidak nampak suasana kemenangan dan kemeriahan menyambut Lebaran. Malam takbiran, tidak beda dengan malam-malam lainnya yang biasa-biasa saja. Semua berjalan biasa saja seperti hari-hari yang lain. Kalaupun ada takbiran, selain yang diselenggarakan KPMI dan dihadiri oleh masyarakat Indonesia, tempat lain yang menyelenggarakannya hanyalah Masjid Islamic Center di Brussel.

Berbeda dengan cuaca di malam takbiran, cuaca pagi hari sangat cerah, sejak pukul delapan pagi masyarakat Indonesia berdatangan ke gedung aula KBRI untuk dapat melaksanakan Sholat Idul Fitri dengan imam H. Umar Baktir dan khotib H. Hambali Maksum dari Belanda. Dalam khotbahnya, Ustad Hambali Maksum mengingatkan jamaah Idul Fitri untuk lebih meningkatkan ketaqwaan yang dilandasi iman dan kepercayaan yang kuat terhadap Allah SWT. Dengan ketaqwaan, masyarakat Indonesia akan dapat terhindar dari azab seperti yang pernah menimpa kaum-kaum yang mendurhakakan Allah SWT. Dengan ketaqwaan pula, pemimpin dan masyarakat Indonesia secara bersama-sama dapat menuju suatu masyarakat yang sejahtera dan berkeadilan.

Usai menjalani Shalat Id, masyarakat Indonesia yang datang dari berbagai kota di Belgia dipersilahkan menyantap penganan ringan yang disediakan seperti onde-onde, pastel dan lemper. Setelah itu beramai-ramai ke Wisma Duta, kediaman resmi Duta besar di Tramlaan 345 Schaerbeek (sekitar 5 km dari aula KBRI) untuk berhalal bi halal dan menyampaikan selamat hari Lebaran.

Masyarakat Indonesia yang berasal dari berbagai kota di Belgia seperti Antwerpen, Ghent, Liege, Leuven dan tentu saja dari Brussel tumplek di Wisma Duta untuk saling bersilaturahmi dan merasakan suasana hari raya seperti di tanah air dengan antara lain menikmati hidangan khas Indonesia yang tersedia di Wisma Duta. Berbagai hidangan khas Indonesia yang disediakan seperti ketupat sayur, mie dan nasi goreng, sambal kentang, mie kocok dan siomay segera tandas dinikmati masyarakat yang hadir. Begitu pula halnya dengan asinan, ketan durian dan bajigur langsung ludes. Petugas dapur Wisma Duta tampaknya harus bekerja ekstra keras untuk menyediakan makanan tambahan agar seluruh masyarakat yang hadir kebagian.

Selain acara halal bi halal yang diselenggarakan oleh Duta besar, biasanya sebagian masyarakat Indonesia, seperti staf KBRI, juga menyelenggarakan halal bi halal dengan format yang lebih kecil dan tamu-tamu terbatas. Namun dari pengamatan sepintas, untuk Lebaran tahun ini tampaknya tidak terdapat staf KBRI yang menyelenggarakan halal bi halal atau open house seperti tahun-tahun sebelumnya. Tahun lalu, setelah siangnya menghadiri halal bi halal di Wisma duta, malamnya menghadiri undangan halal bi halal di rumah Atase Keuangan. Besok siangnya menghadiri halal bi halal di kediaman Wakeppri dan malamnya di rumah Atase BIN. Lusanya menghadiri acara yang sama di rumah Kabid Ekonomi dan Atase Perindag. Wah pokoknya selama hampir seminggu, sebagian masyarakat Indonesia, terutama yang dari KBRI, melakukan halal bi halal keliling. Sampai-sampai saat itu ada yang yang nyeletuk “wah kita gak perlu masak selama seminggu nih”.

Namun tahun ini nampaknya ada sedikit perbedaan, mungkin karena Lebaran jatuh pada awal minggu (Senin dan Selasa) dan Rabunya sudah harus ngantor lagi, sehingga demi kepraktisan cukup mengikuti kegiatan halal bi halal di Wisma Duta saja. Selain itu juga sebagian pejabat KBRI yang disebutkan di atas sudah pada kembali ke tanah air dan dan pejabat yang baru tiba masih butuh "orientasi".


5 comments:

si cantik said...

Pak yang benar bukan sambal kentang tapi sambal goreng kentang.

Dara said...

Pak Aris kok gak ada fotonya?

pipiet hidayat said...

mas Aris,
yang kehabisan makanan gak diceritain ??
he he he....

Aris Heru Utomo said...

1. Iya maaf deh, maksudnya memang sambal goreng kentang.

2. Sebagian foto2 bisa dilihat di http://arishu.multiply.com

3. Mbak Pipiet, makanan yang habis kan udah ditambahin nasi goreng restoran china, selain itu kan juga ada yang ikutan membantu motongin ketupat di dapur :-)

Irwin Day said...

Wah jauh bener ber-Lebaran :)