12.9.06

September (belum tentu) ceria

Bagi Vina Panduwinata bulan September merupakan bulan yang menyenangkan karena kekasih yang lama dirindukannya ternyata hadir di bulan ini. Sehingga dengan riang si burung camar melantunkan bait-bait nada dalam lagu karya James F. Sundah “September ceria” yang pada bagian refrainnya berbunyi “September ceria milik kita bersama”. Namun berbeda dengan Vina atau James F. Sundah, bagi warga Amerika Serikat bulan ini meninggalkan kepedihan mendalam yang sulit disembuhkan. Lima tahun lalu, tepatnya 11 September 2001, sekelompok teroris berhasil menyerang New York dan Washington. Serangan tersebut menimbulkan luka yang dalam bagi negara adi kuasa Amerika Serikat, lebih dalam dari luka yang ditinggalkan Jepang saat menyerang Pearl Harbor, Desember 1941.

Bagaimana Amerika Serikat tidak terluka, karena serangan bunuh diri teroris menggunakan pesawat komersial tersebut jelas-jelas menohok hegemoni dan supremasi negara adidaya tersebut. Apalagi gedung-gedung yang menjadi sasaran merupakan simbol-simbol kejayaan sang super power. Tak ayal lagi, bagaikan banteng terluka, Amerika Serikat dibawah pimpinan George Bush Junior memaklumkan perang kepada teroris dan mengupayakan pengejaran serta penangkapan hidup atau mati icon teroris internasional, Osama bin Laden, yang dianggap paling bertanggung jawab atas peristiwa pemboman 11 September. Bush kemudian menerapkan doktrin preemptive strike dan memaklumkan "siapa saja yang tidak bersama Amerika memerangi terorisme internasional adalah bangsa yang bermusuhan dengan Amerika”. Prinsipnya sederhana "gebuk dulu, urusan belakangan" dan yang menentang kebijakan tersebut sama saja menetang kebijakan big bos.

Kebijakan Bush tersebut kemudian dengan cerdik dimanfaatkan beberapa negara guna memperjuangkan dan melindungi kepentingan nasionalnya. Pakistan misalnya buru-buru menyatakan dukungannya terhadap Amerika Serikat dalam memerangi terorisme. Negara ini sangat berkepentingan antara lain agar Amerika Serikat tidak berpaling terlalu jauh ke India yang merupakan seteru beratnya dan tentu saja kesempatan untuk memperoleh bantuan instan. Sementara negara lain yang tidak memberikan reaksi atas kebijakan Bush tersebut nampaknya terkenah getahnya. Salah satu negara yang apes adalah Irak yang menjadi sasaran invasi Amerika Serikat. Meski alasan resmi invasi tersebut lebih terkait pada isu kepemilikan senjata kimia, namun pernyataan Bush beberapa waktu lalu bahwa Saddam Hussein tidak terlibat terorisme seolah membenarkan sinyalemen bahwa terdapat alasan lainnya yang merujuk Irak sebagai negara pendukung gerakan terorisme.

Sementara Indonesia sendiri seperti biasa selalu kurang cepat menggapai peluang. Meski Presiden RI berkunjung ke Amerika Serikat tak lama setelah kejadian (23/9), namun tampaknya tidak ada oleh-oleh berarti yang didapat dari kunjungan tersebut. Selain itu pernyataan sejumlah pemimpin dan tokoh di Indonesia yang menyatakan seolah-olah tidak ada teroris di Indonesia, telah menjadi sesuatu yang kontra produktif dalam memanfaatkan momentum. Padahal beberapa waktu kemudian, 12 Oktober 2002 di Kuta, Bali, kelompok teroris pimpinan Iman Samudera meledakan bom dahsyat yang mengakibatkan jatuhnya korban sebanyak 202 meninggal dan 209 cedera. Apalagi ternyata pemboman itu juga disusul oleh peledakan-peledakan bom lainnya seperti bom Marriot tanggal 5 Agustus 2003 dan bom di depan kedutaan Australia yang entah kenapa juga dilakukan pada bulan September yaitu tanggal 9 September 2004.

No comments: