4.9.06

Buitenzorg

Hari Minggu kemarin (03/09) saya mengunjungi brocante mingguan (flea market) di Waterloo, dekat monumen pertempuran pasukan Napoleon dengan Jenderal Wellington (Butte du Lion). Seperti biasa kalau mengunjungi brocante, saya lebih senang lihat2 saja. Kalau ada barang yg disenangi dan kebetulan pas budget, ya beli. Nah dalam kunjungan kali ini saya mendapatkan kartu pos lama terbitan jaman pra kemerdekaan. Penjualnya sendiri tidak tahu persis tahun pencetakan kartu pos tersebut. Namun melihat gambar di kartu pos tersebut, diperkirakan fotonya sendiri dibuat tahun 1900-an atau bahkan sebelum tahun 1900. Kartu pos berjudul ”Voyage aux Indes – Buitenzorg. Le Parc du Gouverneur” (Perjalanan ke Hindia - Bogor. Taman Gubernur) ini memuat foto pohon raksasa di depan sebuah rumah kediaman. Di depan pohon tersebut, tampak seseorang sedang berjongkok.

Saya perkirakan kartu pos ini dibuat antara tahun 1900-1940 dan tampaknya bukan oleh orang Belanda, yang pemerintahnya saat itu tengah menguasai Indonesia, tetapi oleh seseorang yang menguasai bahasa Perancis dan ditujukan untuk komunitas yang berbahasa Perancis pula. Untuk itu, siapa lagi kalau bukan orang Perancis sendiri atau justru Belgia?. Dugaan bahwa kartu pos tersebut dibuat oleh orang Perancis cukup masuk akal mengingat bahwa Perancis juga merupakan salah satu negara yang saat itu memiliki wilayah jajahan di Asia Tenggara, terutama Indochina. Orang Belgia? Dugaan bahwa orang Belgia yang membuat kartu pos tersebut juga beralasan, mengingat Belgia merupakan salah satu negara yang juga mempergunakan bahasa Perancis sebagai bahasa sehari-hari, selain bahasa Belanda. Saya sendiri lalu cenderung menduga bahwa kartu pos ini memang di buat oleh orang Belgia. Alasannya sederhana, secara tradisional dan berdasarkan hubungan sejarah dan kekerabatan, orang Belgia yang berbahasa Belanda lebih dekat dengan orang Belanda. Jadi terdapat kemungkinan bahwa pada saat itu terdapat orang Belgia yang melancong ke Hindia Belanda dan mengambil gambar Buitenzorg, lalu beberapa tahun kemudian dicetak dalam bentuk kartu pos.

Keberadaan kartu pos tersebut sangat menarik karena sedikit banyak memberikan gambaran tambahan mengenai Buitenzorg atau yang sekarang dikenal sebagai istana Bogor. Kalau melihat rumah dibelakang pohon, tampaknya bangunan tersebut merupakan sisi lain dari istana Bogor yang dikenal saat ini. Untuk membuktikan dugaan tersebut, saya mencoba melakukan penelusuran informasi di internet. Ternyata tidak mudah, apalagi mencoba mendapatkan gambar seperti di kartu pos tersebut. Namun demikian saya berhasil mendapatkan keterangan mengenai Buitenzorg, suatu tempat yang pada saat itu dipergunakan sebagai pesanggrahan dari Gubernur Jenderal G.W Baron Van Imhoff. Keterangan tersebut tampaknya sejalan dengan keterangan pada kartu pos tersebut ”Le Parc du Gouverneur”.

Dengan luas halaman mencapai 28.4 hektar, Buitenzorg atau istana Bogor dibangun bertingkat tiga pada tahun 1744. Namun beberapa bagian dari gedung tersebut kemudian roboh dan hancur akibat gempa yang disebabkan meletusnya Gunung Salak. Kemudian gedung tersebut dibangun kembali pada tahun 1850, namun kali ini tidak bertingkat karena disesuaikan dengan situasi daerah yang sering gempa. Selanjutnya pada 1870, istana Bogor dijadikan tempat kediaman resmi dari Gubernur Jenderal Belanda seperti Daendels van der Cappelen dan Gubernur Jenderal Inggris Sir Thomas Stamford Raffles. Dari rangkaian informasi tersebut, dugaan saya bahwa foto pada kartu pos dibuat sebelum tahun 1900 ada benarnya. Namun beberapa tahun kemudian barulah foto tersebut dicetak dalam bentuk kartu pos seperti tampak pada gambar di atas.

5 comments:

MSA-bxl said...

Menarik juga penelusuran Sdr.Aris mengenai sejarah Istana Bogor, yg dapat menambah informasi bagi kita semua. Berhubung saya orang Bogor juga, mohon ditelusuri siapa yg lg jongkok tsb...???

tamara adriani said...

sangat menarik sekali foto yang Saudara tampilkan, kebetulan saya sedang penelitian gedung tua Perpustakaan Nasional di daerah Salemba Raya 28A yang dahulu pernah menjadi sekolah HBS KW3 tahun 1860-1942. Saya pernah melihat kartu pos yang menampilkan gedung HBS KW3 salah satunya di surat kabar Suara Pembaruan, mungkin Saudara Heru pernah browsing di situs yang menampilkan kartu pos dengan gambar gedung tua?saya mohon informasi dari Saudara Heru. Terima kasih
tamara.adriani@gmail.com

dika said...

mennarik pak tapi ak punya yang lebih menarik lagi saya punya tahun 1939 tahun 1941 ada sekitar 10 kalau saya daftar atau jual lewat mana?

Aris said...

Coba dicek dilink yg ada diartikel saya berikut ini:
http://arishu.blogspot.com/2007/08/link-kartu-pos-indonesia-tempo-doeloe.html

Sjamsuddin said...

gambar diatas, diperkirakan adalah POHON BERINGIN yang MEMANG TUMBUH BESAR di daerah yang disebut ALUN ALUN EMPANG, BOGOR sekarang.

Samar dikejauhan adalh Gedung Masjid Agung pada masa masa awal berdirinya.

Daerah alun alun ini memang jadi pusat perhatian sejak jaman Kerajaan Pakwan (Pakuan); karena menjadi halaman muka kerajaan dan tempat berlatih para prajurit. Pada jaman Belanda, pernah juga daerah ini menjadi ibu kota wilayah Bogor, ada kantor Bupati. Wilayah ini pernah disebut sebagai 'Sukahati', tempat yang menyenangkan hati....