14.8.10

Album Kenangan Hubungan Indonesia-Rusia

Judul: Sahabat lama, Era baru: 60 tahun Pasang Surut Hubungan Indonesia-Rusia.
Penulis: Tomi Lebang
Penerbit: PT Grasindo Widiasarana Indonesia
Tahun: I, Juli 2010
Harga: Rp. 55.000,-

Federasi Rusia adalah salah satu negara adidaya yang disegani dan pemimpin negara-negara Blok Timur yang berhaluan komunis saat perang dingin (1947-1991). Secara geografis, Rusia merupakan negara yang memiliki wilayah terluas di dunia (17,8 juta km), terdiri atas 11 zona waktu (bandingkan dengan Indonesia yang hanya memiliki 3 zona waktu). Secara politis, Rusia merupakan anggota tetap Dewan Keamanan PBB, anggota Group 8 (D-8), G-20 dan BRIC (Brasil, Rusia, India dan Cina), sebuah aliansi negara kuat di dunia selain Amerika Serikat.

Dengan segala potensinya dan predikat negara adidaya, keberadaan Rusia sangat penting dan strategis dalam memainkan perannya di berbagai belahan dunia, termasuk di kawasan Asia Tenggara. Di kawasan yang paling dinamis di dunia ini, Rusia ikut serta memainkan perannya dalam berbagai forum regional dan sub-regional Asia Pasifik seperti APEC, ARF, ASEAN+Rusia, Asia Europe Meeting (ASEM) dan East Asia Summit (EAS).

Dinamisnya pelaksanaan politik dan hubungan luar negeri Rusia di berbagai belahan dunia pada gilirannya melahirkan interaksi dengan semua negara yang menjadi mitranya, termasuk dengan Republik Indonesia (RI). Secara resmi hubungan RI-Rusia dimulai pada tahun 1950 ketika negeri beruang merah tersebut membuka perwakilan diplomatiknya di Indonesia. Sejak itu, hubungan kedua negara berlangsung hingga saat ini tanpa pernah mengalami pemutusan hubungan diplomatik. Seperti lazimnya hubungan antar negara, hubungan RI-Rusia memang tidak selamanya mulus, ada up and downs alias pasang surut.

Tidak banyak anggota masyarakat di kedua negara yang tahu bahwa pada suatu masa hubungan RI-Rusia pernah sedemikian mesranya, tapi di masa lain sempat mendingin. Tidak banyak pula yang tahu jika hubungan persahabatan RI-Rusia sebenarnya sudah dirintis sejak jaman Hindia Belanda ketika Rusia mendirikan kantor konsulatnya di Batavia pada tahun 1894. Hubungan tersebut meningkat ketika pada tahun 1948 Rusia mendukung pernyataan kemerdekaan RI dan membuka hubungan diplomatik dua tahun kemudian.

Guna menggambarkan pasang surut hubungan Indonesia-Rusia dan memperingati 60 tahun hubungan diplomatik kedua negara, tidak keliru jika Tomi Lebang, mantan wartawan Tempo, yang didukung penuh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Moskow menerbitkan buku “Sahabat Lama, Era Baru: 60 Tahun Pasang Surut Hubungan Indonesia-Rusia”.

Tiga Babakan Hubungan RI-Rusia

Dengan gaya bertutur, Tomi Lebang memetakan pasang surut hubungan RI-Rusia sesuai babakan waktu yang disebutkan oleh Wakil Duta Besar RI untuk Rusia Agus Sriyono dalam artikelnya “6o Tahun RI-Rusia” yang juga dimuat dalam buku ini. Ada tiga babakan waktu yang dikemukakan Agus Sriyono yaitu masa pasang (1950-1965), surut atau titik terendah (1965-1991) dan era kebangkitan (sesudah 1991).

Dengan pembagian seperti itu, maka ketika membaca ini kita seperti membuka sebuah album foto dengan gambar-gambar yang diletakkan secara runut. Dilengkapi tulisan-tulisan Duta Besar RI untuk Rusia, yang juga mantan wartawan dan Menteri Hukum dan HAM, Hamid Awaludin dan Wakil Duta Besar Agus Sriyono, buku ini mengajak pembacanya melihat hubungan RI-Rusia dari perspektif yang lebih luas.

Pembaca dapat melihat bahwa periode tahun 1950-1965 merupakan saat yang paling mesra dalam hubungan RI-Rusia yang ditandai oleh kedekatan personal pemimpin kedua negara, Presiden RI Soekarno dan Perdana Menteri Rusia Nikita Kruschev, dan banyaknya kerjasama yang dilakukan kedua negara.

Betapa dekatnya hubungan personal Soekarno dan Nikita Kruschev dapat dibaca dari tulisan Duta Besar Hamid Awaludin “Sahabat Lama Era baru”. Diceritakan bahwa pada tahun 1955, Soekarno berkunjung ke Leningrad (sekarang St Petersburg), sebuah kota bersejarah dan dikenal keindahannya. Di kota ini Soekarno melihat bangunan masjid berkubah biru berarsitektur Asia Tengah yang dijadikan gudang oleh Pemerintah Komunis Rusia. Ketika ditanya kesannya oleh Kruschev, Soekarno menjawab tidak ada keindahan apapun di Leningrad.

Awalnya Kruschev heran dengan pernyataan tersebut, bagaimana mungkin Leningrad dipandang sebelah mata oleh Soekarno yang dikenal suka akan keindahan. Tapi setelah mengetahui alasannya, Kruschev memahami sikap Soekarno yang kecewa terhadap pengalihan fungsi bangunan berkubah biru dari sebuah tempat ibadah menjadi gudang. Setelah Soekarno pulang, Kruschev pun memerintahkan agar gedung tersebut dikembalikan fungsinya sebagai masjid.

Selain kedekatan para pemimpinnya, hubungan persahabatan RI-Rusia juga lebih berwarna berkat tingginya berbagai kerjasama di berbagai bidang, bukan hanya militer tetapi juga pendidikan dan kebudayaan.

Di bidang militer, Indonesia menjadikan perlengkapan militer Rusia sebagai persenjataan utama militer Indonesia dan banyak personil militer Indonesia yang dilatih dan dididik di Rusia.

Di bidang pendidikan, banyak mahasiswa Indonesia yang mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Rusia (dikenal dengan sebutan mahasiswa ikatan dinas atau Mahid) untuk belajar berbagai disiplin ilmu di berbagai jenjang pendidikan.

Sementara di bidang kebudayaan, beberapa universitas di Rusia mendirikan program studi bahasa dan kebudayaan Indonesia. Tidak sedikit karya sastra Indonesia yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Rusia. Beberapa di antaranya adalah “Si Kabayan” karya Utuy Tatang Sontani, “Siti Nurbaya” (Marah Roesli) ataupun kumpulan puisi W.S Rendra yang berjudul “Stanzas, Psalams, Pamphlets and other Songs”.

Melalui buku ini kita juga dapat mengetahui bahwa bangunan-bangunan bersejarah dan monumental yang dibangun di Indonesia, perwujudannya ternyata tidak terlepas dari bantuan dan dukungan Rusia. Bangunan-bangunan yang hingga kini masih menjadi kebanggaan nasional tersebut antara lain Monumen Nasional (Monas) yang menjadi landmark ibukota DKI Jakarta, Gelanggang Olah Raga Bung Karno di Senayan dan Patung Tugu Tani di taman segi tiga Menteng.

Adalah peristiwa G-30-S/PKI pada tahun 1965 yang kemudian mengganggu kemesraan hubungan Indonesia-Rusia. Pemerintah RI dibawah Orde Baru, meski tidak sampai memutuskan hubungan diplomatik, menghentikan sebagian besar kerjasama dengan Rusia dan memulangkan seluruh personil militer dan Mahid yang sedang belajar di negeri Stalin. Tidak hanya itu, segala yang berbau Rusia dicap komunis dan menjadi momok bagi masyarakat Indonesia.

Berakhirnya perang dingin dan terjadinya proses globalisasi membawa angin perubahan di masing-masing negara. Partai Komunis di Rusia tumbang dan pemerintahan di Rusia berganti menjadi demokratis. Hal yang sama terjadi di Indonesia dimana Orde Baru tergeser ketika terjadi reformasi tahun 1998. Perubahan ini merekatkan kembali hubungan RI dengan sahabat lamanya Rusia. Gesture peningkatan hubungan baik keduanya ditandai dengan kunjungan Megawati ke Rusia dan dimulainya kembali pembelian peralatan militer dari Rusia. Kemudian kunjungan Presiden RI SBY ke Rusia dan Presiden Rusia Vladimir Putin ke Indonesia semakin mempertegas dimulainya kembali era baru hubungan RI-Rusia.

Masa depan Hubungan RI-Rusia

Terbitnya buku pasang surut persahabatan RI-Rusia layak disambut hangat oleh pemerhati hubungan internasional dan masyarakat di kedua negara. Selain memberikan informasi komprehensif menyangkut hubungan RI-Rusia, buku ini juga menandai awal upaya mempererat hubungan bilateral kedua negara. Berbagai masukan yang terdapat dalam buku ini, misalnya mengenai perlunya peningkatan kembali kerjasama di bidang pendidikan, kebudayaan dan pariwisata, dapat dijadikan dasar untuk menyusun kerjasama yang lebih konkrit.

Meski demikian, untuk penyempurnaan buku ini, khususnya jika akan diterbitkan edisi revisinya, maka beberapa penyempurnaan kiranya perlu dilakukan. Sebagai contoh, dalam buku ini tidak diceritakan secara panjang lebar mengenai keterlibatan Rusia dalam proses pengembalian Irian Barat ke Indonesia. Padahal dalam beberapa referensi diketahui Rusia ikut berperan penting dalam pelaksanaan diplomasi bebas aktif dan balance of power Timur dan Barat yang dimainkan Indonesia. Langkah tersebut berhasil mendorong negara adidaya lainnya yaitu Amerika Serikat untuk pada akhirnya menekanBelanda agar melepaskan Irian Barat ke pangkuan Indonesia.

Kekurangan lainnya, buku ini hanya membahas hubungan RI-Rusia berdasarkan capaian-capaian empat orang Presiden Indonesia yaitu Soekarno, Soeharto, Megawati Soekarnoputri dan SBY. Presiden B.J Habibie dan Abdurahman Wahid (Gus Dur) tidak disinggung. Bisa jadi penulis mungkin beranggapan karena singkatnya masa jabatan kepresidenan Habibie dan Gus Dur, berakibat tidak adanya capaian dalam hubungan dengan Rusia yang patut disampaikan. Tapi eksplorasi yang lebih mendalam mengenai hubungan RI-Rusia di masa Presiden B.J Habibie dan Gus Dur akan memberikan nilai tambah bagi buku ini.

Akhirnya, sebagai sahabat lama yang berstatus negara adidaya, peran Rusia di percaturan global tidak dapat dikesampingkan begitu saja. Selaras kebijakan presiden SBY untuk menciptakan million friends and zero enemy, kedekatan Indonesia-Rusia perlu dipelihara, ditingkatkan dan dikembangkan seraya memainkan kembali balance of power di era global dewasa ini. Pepatah Rusia mengatakan Net druga-ishi, a nashol-berogi (Bila tak memikili teman, carilah. Jika sudah mendapat, pelirahalah).

No comments: