25.8.10

Mencicipi Uli Bakar di Stasiun Bekasi

Para penumpang kereta baru saja keluar dari Stasiun Bekasi ketika seorang pedagang uli ketan bakar menawarkan dagangannya sambil tersenyum. “pak, bu … uli bakarnya, masih anget nih” ujar sang pedagang sambil mengipas-ngipas bara api dari arang yang digunakan memanggang uli ketan. Saya lihat beberapa orang menghampirinya dan membeli beberapa potong uli bakar untuk dibawa pulang.

Saya yang tadinya tidak begitu memperhatikan akhirnya tertarik dan mencoba menghampiri. Sambil menunggu kendaraan yang akan menjemput, saya kemudian berbincang-bincang dengan si penjual uli ketan tersebut. Mang Asep begitu ia biasa dipanggil ketika saya menanyakan namanya. Sudah hampir 10 tahun ini ia berdagang uli ketan di kota Bekasi. Menurutnya ia biasa berjualan di sekitar Stasiun kereta kota Bekasi, RSUD dan Polres Bekasi atau terkadang di kawasan GOR.

“Jadi Mang Asep enggak punya lokasi tetap untuk berjualan?” tanya saya.

“Enggak pak, saya ngider saja ke tempat-tempat yang ramai. Kalau sore saya panggul barang dagangan ke Stasiun Bekasi karena biasanya ramai oleh penumpang yang pulang kerja. Nanti kalau sudah rada sepi, saya pindah ke RSUD atau Polres Bekasi” jawab Mang Asep.

“Terus berapa harga jual uli ketan ini?”

“Kalau di stasiun Bekasi Mamang menjualnya seribu rupiah per buah, tapi kalau di RSUD atau Polres kadang Mamang naikin harganya menjadi seribu lima ratus atau dua ribu rupiah per buah”.

“Lho kok harga jualnya enggak sama?”

“Iya, soalnya Mamang mesti berjualan disana sampai tengah malam, terkadang sampai jam 2, dan seringkali harus bayar pungutan atau pajak pak?”

“Bayar pajak ke Gayus?”

“hehehehe … enggak pak, bayarnya ke orang-orang yang suka jaga di sekitar situ” (tampaknya Mang Asep ngejawab sambil mengira-ngira siapa itu Gayus …)

“Berapa besar pajaknya mang dan kalau enggak ngasih bagaimana?”

“ya sekitar 5-10 ribu rupiah pak, kadang ditambah dengan beberapa buah uli yang saya jual. Kalau enggak ngasih ya mamang diusir enggak boleh jualan. Tapi khusus di stasiun ini, Alhamdullilah sudah sekitar seminggu ini enggak ada yang minta”

“wah rupanya Gayus ada dimana-mana ya …”

“hehehehe … “ (sambil tertawa, kali ini saya lihat Mang Asep tampaknya mulai bingung … apa hubungannya Gayus dengan uli ketan dagangannya)

Sebelum kebingungan Mang Asep berlanjut, saya lanjutkan dengan pertanyaan berikutnya.

“Mang, kalau semalam berapa kira-kira uli ketan yang bisa dijual?”

“Wah enggak tentu pak, … tapi rata-rata sih uli ketan yang saya bawa sebanyak 200 buah selalu habis. Hanya saja waktunya yang enggak tetap. Terkadang belum jam 9 malam sudah habis,tapi lain waktu baru habis hingga tengah malam.”

“Mang saya coba satu ya, yang itu yang enggak terlalu gosong” ujar saya sambil melihat uli ketan yang penampilan dan bau bakarannya menggoda. Selain itu enggak enak juga sama Mang Asep, masa cuma ngobrol doank dan enggak beli hehehehe …

“o iya pak … pakai gula kan?” dengan cekatan Mang Asep membalik sebuah uli yang sudah mulai terlihat kuning kecoklatan dan kemudian membubuhkan gula pasir yang telah dicampur parutan kelapa (seperti serundeng).

“Wah mantab pak rasanya, gurih dan ulinya tidak lengket. Lebih enak lagi kalau sambil duduk-duduk dilengkapi secangkir teh hangat atau kopi”

“Iya pak, kalau ditemani teh atau kopi lebih enak. Di depan Polres biasanya para pembeli juga pesan teh atau kopi yang ada di warung sekitar situ”

“Uli ini Mang Asep buat sendiri?”

“Enggak pak, saya ambil dari orang lain. Saya tinggal bawa dan jual. Enggak sempat kalau buat sendiri dan capek. Lebih senang ambil uli dari orang lain, walau untungnya harus dibagi dengan si pembuat uli ketan”

“Kalau pikulannya juga sewa?”

“Enggak, kalau ini punya Mamang sendiri, cuma ulinya saja yang ambil dari orang” ujarnya Mang Asep sambil mengipas bara api agar panasnya tetap terjaga.

“lalu berapa keuntungannya semalam Mang?”

“Ehm … lumayan lah pak (tanpa menyebutkan jumlahnya). Bisa buat makan sehari-hari” jawab Mang Asep.

>Sebetulnya saya ingin berbincang-bincang lebih lama lagi dengan Mang Asep, sayang kendaraan jemputan saya sudah datang.

“Mang jemputan saya sudah datang nich, terima kasih ya ngobrolnya. O ya saya beli yang mentah donk beberapa buah, buah besok pagi, asyik kan dimakan ditemani secangkir teh”

“o iya pak … ini ulinya. Sebaiknya disimpan di kulkas pak biar gak berubah rasanya” ujar Mang Asep sambil membungkus beberapa uli mentah.

Setelah menerima uli, saya pun segera meninggalkan Mang Asep. Namun dari dari bincang-bincang singkat tersebut saya bisa melihat kegigihan pedagang kecil seperti Mang Asep. Meski omzet dan keuntungannya tidak terlalu besar (ya kalau di rata-rata semalam bisa menjual 200 uli dengan harga seribu rupiah per buah, maka total omzetnya adalah Rp. 200 ribu), ia bisa tetap terus tersenyum memperlihatkan keceriaannya.

Mang Asep tidak terlihat mengeluh dan pasrah ketika pendapatannya berkurang karena kena “Gayus” sebesar Rp. 5-10 ribu per lokasi. Dengan tidak berkeinginan untuk membuat sendiri uli ketannya, Ia sepertinya tidak terlihat ngoyo dalam berjualan. Ia cukup puas memperoleh keuntungan dari barang yang dijualnya, sementara keuntungan dari pembuatan uli biarlah menjadi hak si pembuatnya.

Bagi mereka yang orang sekolahan atau wiraswastawan menengah atas, apa yang dilakukan Mang Asep mungkin dipandang sebelah mata. Dengan berjualan seperti itu dan pendidikan yang rendah, Mang Asep mungkin tidak akan pernah naik kelas.

Nah disinilah perlunya campur tangan berbagai pihak, misalnya Pemerintah Daerah atau wiraswastawan yang telah berhasil, untuk membantu meningkatkan taraf hidup orang-orang seperti Mang Asep yang memiliki semangat untuk berwirusaha namun terkendala modal, keahlian dan pengetahuan yang terbatas. Orang-orang seperti Mang Asep tidak bisa ikut seminar kewirausahaan dengan biaya jutaan atau ratusan ribu rupiah. Boro-boro ikut seminar, ia pun tidak memiliki cukup modal, keahlian dan pengetahuan untuk meningkatkan usahanya. Menurut saya, hanya bantuan dan bimbingan lah, misalnya dengan pola kemitraan, yang bisa membantu orang-orang seperti Mang Asep untuk bisa naik kelas. Bagaimana menurut anda?

No comments: