13.2.10

Berburu Foto Berburu Cinta

“Mas wartawan ya ?” begitu pertanyaan Pak Polisi yang bertugas dipertigaan selepas pintu tol Bekasi Barat ketika melihat saya memotret. “aah bukan pak, saya hanya lagi coba-coba belajar memotret dan hasilnya akan diikutkan lomba foto blogger Bekasi”. “ooo … kirain wartawan, kalau ia, foto mobil mogok itu saja mas, gara-gara mobil itu jalanan ini jadi macet”, jelas pak polisi tanpa saya minta.

Apa yang ditanyakan Pak Polisi di atas, sebenarnya cuma sebagian kecil dari dinamika yang mengiringi upaya saya memotret berbagai objek lomba foto blog “Aku Cinta Bekasi”. Gara-gara berkeinginan mengikuti lomba tersebut, sudah hampir sebulan terakhir ini saya selalu mengantungi kamera saku, karena memang kamera ini yang saya punya, dan mencoba mengamati berbagai objek yang ada di Bekasi.

Sebagai calon peserta lomba yang sangat amatiran saya cuma berharap pada munculnya kejadian-kejadian yang dianggap menarik di sekeliling saya untuk kemudian segera dijepret. Karena itu apa yang saya lakukan pun jadinya lebih banyak spontanitas dan menunggu momen yang pas.

Karena banyak yang didasarkan pada spontanitas, maka demi untuk mendapatkan gambar yang bagus, saya pernah tiba-tiba harus menepikan kendaraan ketika melihat sebuah objek yang menarik di jalan Kalimalang. Kali lain saya harus ke tengah lapangan yang rumputnya tinggi untuk memotret sapi-sapi yang merumput di depan halaman kantor Kabupaten Bekasi. Saya juga pernah harus berpanas-panas agar bisa menghasilkan foto dengan latar belakang yang cerah.

Dengan diam-diam, saya pernah mencoba memotret ekspresi wajah calon penumpang yang sedang menanti kereta ataupun penjual koran di Stasiun Bekasi. Sayapun pernah memotret kerumunan murid taman kanak-kanak yang akan naik kereta api dalam rangka studi tour. Bahkan saya pernah berlama-lama di atas jembatan penyeberangan di depan Mal Metropolitan untuk mendapatkan gambar keramaian lalu lintas di sekitar kawasan tersebut.

Guna mendapatkan gambar dengan latar belakang kebiruan tua atau yang dikenal sebagai golden blue, saya pernah harus menongkrong sepanjang sore. Celakanya ketika waktu yang ditunggu tiba, gerimis datang sehingga pengambilan gambar tidak bisa maksimal. Pernah juga, karena kurang kontrol atau karena sudah kelamaan mengambil gambar, baterai kamera tinggal sedikit. Lagi-lagi foto yang diambil tidak bisa maksimal.

Yang agak mengesalkan adalah jauh-jauh hari sudah merencanakan untuk hunting foto di akhir pekan, namun ketika harinya tiba, justru hujan turun tau mendung seharian. Bagi fotografer professional hal tersebut mungkin tidak masalah, namun bagi pemotret abal-abal seperti saya tentu saja menyulitkan untuk mengalihkan latar belakang objek yang kelabu, karena hujan atau mendung, menjadi ceriah dengan latar belakang awan kebiruan dan sedikit awan berarak.

Pengalaman di atas rupanya bukan hanya saya sendiri yang mengalaminya. Teman-teman lainnya, ternyata mengalami hal serupa. Bahkan ada yang mengeluh dan menyalahkan kamera sakunya. Merekapun merasakan pengalaman serupa dengan apa yang saya alami.

Lalu kenapa semua ini dilakukan ? Apakah karena hadiahnya besar sehingga ramai-ramai ingin ikut serta? Kalau ditanyakan tentang jumlah hadiah yang diperebutkan, jumlahnya memang besar apalagi jika melihat lomba foto ini ditujukan bagi semua kalangan dan jenis kamera yang digunakannya pun bebas, mulai dari kamera canggih hingga kamera saku dan kamera ponsel.

Lomba foto blog yang diadakan Komunitas Blogger Bekasi (be-Blog) ini hadiahnya memang menggiurkan. Pemenang hadiah pertama mendapatkan uang tunai sebesar Rp. 10 juta. Pemenang kedua sebesar Rp. 7,5 juta dan pemenang ketiga mendapatkan Rp. 5 juta.

Tapi kalau ditanyakan kesejumlah calon peserta, alasan utamanya bukan hadiah yang besar tapi lebih kepada upaya untuk berpartisipasi sebagai wujud kecintaan akan Bekasi. Ada yang mengemukakan bahwa kesempatan berburu objek foto bisa digunakan lebih mengenal Bekasi. Dan mereka sendiri terkejut ternyata banyak hal-hal sederhana di Bekasi yang tidak diketahui sebelumnya. Maklum sebagian besar dari mereka adalah pengelaju (commuter) yang hanya ada di Bekasi saat malam hari, saat beristirahat.

Para pengelaju ini pada umumnya hanya paham rute dari tempat tinggalnya ke kantor pergi pulang. Kalau ditanyakan bagian lain dari Bekasi akan kesulitan menjawabnya. Bahkan ada teman, yang meskipun sudah lama tinggal di Bekasi (selatan), ternyata belum pernah ke kawasan Bekasi Timur. Sehingga ketika pertama kali berkunjung ke Gedung Depsos di jalan Joyomartono, Bulak Kapal, betapa suprisenya dia melihat ada gedung pertemuan disana.

Saya sendiri merasakan apa yang diungkapkan beberapa teman. Sebagai contoh saya baru tahu kalau di Bekasi ada beberapa monumen sejarah saat berburu foto dengan tema sejarah. Sebelumnya saya tidak pernah tahu kalau jembatan kereta yang di dekat stasiun Bekasi ternyata menyimpan fakta sejarah sebagai salah satu tempat bertempurnya para pejuang kala merebut dan mempertahankan kemerdekaan dari penjajah Belanda dan Jepang.

Kalau selama ini saya lebih banyak tahu tentang lokasi pembuangan dan pengolah sampah Bantar Gebang hanya dari koran dan internet, maka ketika berburu foto saya akhirnya menyempatkan mendatangi tempat tersebut. Melihat bagaimana sampah dibuang di tempat pembuangan akhir dan kemudian dikelola, bukan hanya dijadikan kompos tetapi diubah menjadi energi listrik.

Semua aktivitas ini pada akhirnya memang menumbuhkan apresiasi tersendiri dan pada gilirannya memunculkan kecintaan akan Bekasi. “Tak kenal maka tak sayang” begitu yang sering dikatakan orang, maka dengan berburu foto muncul kesadaran bahwa ada banyak yang hal menarik di Bekasi dan bisa dieksplorasi lebih jauh . Bukan sekedar mengunjungi mal yang banyak ditemui di dekat pintu tol, tetapi juga mendengarkan kisah-kisah perjuangan masyarakat Bekasi, menikmati seni budaya tradisional dan mencoba makanan eksotik yang belum terjamah.

4 comments:

Quinie said...

hohoho.. ini toh 'curhatan'hunting potonya? xixixiix...

choreed said...

Yang menarik, di foto 6 yang di Bantargebang, ditengah-tengah gunungan sampah, ada juga yah pedagang "Ketoprak". Kira-kira yang dagang, yang beli, yang ngambil foto, sama-sama pake masker gak tuh Pak Aris? :)

Aris Heru Utomo said...

@Quinie, hohoho juga

@choreed, wah gak ada yang pakai masker. Saya juga heran dgn pedagang ketopraknya, dagangan dikerubuti laler dan baunya luar biasa tapi betah. Saya sendiri sich gak bisa berlama-lama, bauu masih bisa tahan, tapi gak tahan dikerubuti laler.

annosmile said...

foto mobil mogoknya nggak difoto mas
kayaknya obyek bagus tuh..