17.6.08

Aspal di Seoul

Seoul enggak ada matinya, berdenyut terus selama 24 jam, begitu komentar Eko Ristiyanto, rekan saya yang sudah hampir 2 tahun terakhir ini tinggal di ibukota Korea Selatan, melihat saya terkagum-kagum dengan keramaian kota. Dari bandara Incheon hingga pusat kota, sepanjang mata memandang yang terlihat adalah kepadatan lalu lintas dan beragam aktivitas orang Korea.

Bahkan ketika saya berkunjung ke kawasan Tung Dae Mon pukul 11 malam, kegiatan baru saja dimulai ketika para pedagang membuka gelarannya. Saat waktu beranjak dini hari, daerah ini justru semakin ramai pengunjung yang ingin mendapatkan produk bermerk tapi palsu. Jangan salah, meski orang Korea pendapatannya rata-rata lebih besar dari orang Indonesia, namun mereka masih sangat menyukai produk-produk bermerk aspal. Faktor harga menjadi salah satu pertimbangannya, ya setidaknya bisa lebih dari separuh harga produk aslinya.

Kaos polo merk Nike dengan logo Manchester United di dada kiri dijual seharga 15 ribu Won atau sekitar US$ 15. Aslinya kaos tersebut berharga US$ 35,-. Sementara dasi bermerk Gucci atau Hermes berharga sekitar US$ 18, atau lebih murah US$ 20-an dibanding produk asli.

Meski bisa separuh dari harga aslinya, saya merasa harganya tetap mahal, apalagi jika dibandingkan produk sejenis asal China. Selidik punya selidik, ternyata produk tekstil yang dijual di kawasan tersebut umumnya memang berasal dari China. Tidak heran kalau lebih mahal, karena si pedagang tentunya ingin memperoleh keuntungan dari barang yang dibelinya dari China.

Sayang sekali saya tidak bisa mengabadikan suasana kawasan tersebut. Karena kelalaian saya, kamera saku yang saya bawa kemungkinan hilang saat berada di lobi Intercontinental. Jadilah postingan pendek ini tanpa foto

4 comments:

Iman said...

jalan jalan ke seoul ...trus pulang kampung ke jakarta ?

amethys said...

perjalanan pulkam yah? lewat kroya? upsss....korea nding.....

wah...barang2 palsu tuh di mana2....hehehehe

kucingkeren said...

halahh...di sono jg bisa raib ya, jatuh kali ya, mas? btw..itu kaos teteup jd fokus utama buat oleh2 yaa... :-)

Aris said...

@ Mas Iman & Mbak Wieda: bukan perjalanan pulkam kok. Kebetulan ada gawean nemenin pak Mohammad Nuh.

@ Mbak Susan: iya, jatuh di lobi intercon, tapi Alhamdullilah besoknya ketemu tuh kamera. btw kaos bajakan yg buat oleh2?