18.1.08

MAAFIN si penghapus dosa

Kalau saja ada lembaga survei yang iseng mentabulasi kata-kata apa saja yang sering muncul di Indonesia akhir-akhir ini, mungkin salah satunya adalah kata “maaf”. Kata yang satu ini bisa jadi menduduki rangking teratas karena diucapkan hampir semua orang Indonesia. Selain diucapkan, kata tersebut juga dicetak di berbagai media massa, baik cetak maupun elektronik, mainstream ataupun main-main. Seolah-olah semua orang berebut untuk mengucapkan kata maaf atau mendorong orang lain untuk mengucapkan kata tersebut. Mulai dari pejabat tinggi, mantan pejabat tinggi, yang ingin menjadi pejabat ataupun mereka yang tidak bermimpi untuk menjadi pejabat.

Kalau saja lonjakan kata maaf tersebut terjadi saat Hari Raya Idul Fitri, mungkin bisa dimaklumi. Karena di saat itu, setelah menjalankan puasa selama 1 bulan, umat muslim memang diwajibkan untuk berbondong-bondong menghaturkan permohonan maaf kepada sesama umat manusia. Permintaan maaf dilakukan kepada ibu, bapak, sanak saudara, teman, kekasih, mantan kekasih, tetangga dan orang-orang yang kita kenal lainnya. Baik saat berdekatan maupun ketika jarak memisahkan.

Tetapi ketika Hari Raya Idul Fitri sudah berlalu 3 bulan yang lalu, melonjaknya permintaan maaf tentu saja mengagetkan. Sama kagetnya dengan kenaikan harga minyak mentah yang terus membumbung hingga 100 dollar AS per barel. Kalau kemudian banyak orang yang terkaget-kaget dengan pelonjakan tersebut dan kemudian tidak siap untuk menyatakan maaf, tentu saja tidak mengherankan. Memangnya gampang memaafkan begitu saja? Apalagi jika orang yang akan dimaafkan tidak pernah meminta maaf. Begitu antara lain alasan kelompok yang menolak memberikan maaf. Sementara kelompok yang lebih pemaaf tidak kalah pula argumennya dan mengemukakan bahwa Tuhan saja pemaaf, kita kok manusia tidak bisa memaafkan sesamanya.

Terlepas dari pro kontra, bagi mereka yang kreatif, pelonjakan kata maaf bisa dijadikan peluang untuk meluncurkan produk baru, misalnya odol atau salep yang bisa merangsang seseorang untuk mengeluarkan kata maaf. Odol (atau salep?) dengan merk “Maafin” misalnya, diindikasikan dapat menyembuhkan borok akibat dosa yang dipendam lama. Menurunkan panas hati dan dendam. Mengurangi kerutan diwajah karena cemberut.




Kalau anda berminat dan menanyakan kepada saya dimana bisa dibeli dan berapa harganya ? Wah mohon MAAF (beneran) saya enggak bisa menjawabnya. Wong gambar obat “Maafin” ini diperoleh begitu saja di kotak surat elektronik saya. Saya tidak tahu siapa pembuat gambar kemasan obat tersebut dan kalau ada produknya, dimana diproduksinya dan oleh siapa. Tapi kalau anda tetap penasaran untuk menggunakannya, saya sarankan untuk membuatnya sendiri mempergunakan bahan aktif yang disebutkan dalam kemasan obat tersebut. Mungkin bisa lebih murah dan manjur. Jangan lupa ikuti petunjuk pemakaiannya secara teratur.

Catatan: untuk menyelesaikan postingan ini setidaknya diperlukan 24 kata MAAF.

4 comments:

amethys said...

obat penghapus dosa "maafin"? kekekeke... maafin klo ga sembuh...hihihihihihi

wah..wah...maaf saya segudang koq...jadi ndak perlu make obat2 an. Hanya kejelekan saya, saya ndak bisa melupakan kesalahan seseorang, biar dengan gampang saya memaafkannya.....(klo ada yg minta maaf looh)
tapi kanyanya orang Indonesia saat ini ribut memaafkan seseorang yg ngga pernah merasa berbuat salah....heheheheheehehe

iman brotoseno said...

ha ha ha, kalau eyang sepuh yang lagi sakit bisa dibloyoh seluruh tubuh dong

Harrie said...

Memberi maaf itu memang berat, itu sebabnya Tuhan memberi ganjaran yang besar bagi yang pemaaf.
Tapi kalo ada udang di balik maaf, yaa..wassalam dech.

Akhdan Naufal said...

Ya... sangat kreatif dan mengena juga tetap jenaka... ihiks