23.11.07

Paris Pamer Paha

Hari beranjak gelap ketika minggu sore saya tiba di stasiun kereta Gardu Nord Paris. Rekan yang akan menjemput belum tampak. Suhu sore itu berkisar 3-4 derajat, cukup untuk menggigilkan sekujur tubuh. Sambil menunggu, saya mencoba mencari kehangatan di dekat lampu-lampu pemanas di lobi stasiun. Beberapa orang sudah berkerumun di sekitar lampu-lampu yang berasda di ujung lintasan kereta. Beruntung masih ada sedikit tempat tersisa di lampu pemanas pada lintasan 4. Lumayan, setidaknya masih dapat merasakan sedikit kehangatan.

Sekitar dua puluh menit kemudian, rekan saya tiba. “maaf terlambat nich, jalanan macet dimana-mana. Repot, gara-gara aksi mogok angkutan umum, hampir seluruh jalan-jalan di Paris macet”. Saya cuma senyum-senyum dengan penjelasan teman saya tersebut. Maklum minggu-minggu terakhir ini Paris memang sedang diwarnai aksi pemogokan pekerja di sektor transportasi publik. Operator kereta dan bis angkutan umum mogok kerja karena tidak setuju dengan rencana pemerintahnya untuk melakukan reformasi, yang salah satunya terkait dengan pemberian tunjangan pensiun. Puncak pemogokan terjadi selasa 20 November 2007 ketika ratusan ribu pegawai negeri mengikuti langkah pekerja sektor transportasi ikut melakukan pemogokan.

Akibatnya jalan-jalan di dalam kota dan menuju Paris macet total. Warga yang akan berpergian terpaksa mengandalkan kendaraan pribadi atau taksi. Tentu saja badan jalan sesak dengan kendaraan pribadi. Untuk mencapai suatu tujuan, kendaraan harus merayap pelan, tidak berbeda seperti yang dikatakan bossnya Ammar mengenai lalu lintas di Jakarta yang pamer paha alias padat merayap parah habis. Bagaimana tidak, jika untuk menempuh jarak 8 km saja, biasanya diperlukan waktu sekitar 30 menit, sekarang butuh waktu paling tidak 2 jam. Untuk jarak yang lebih jauh, tentu saja diperlukan waktu yang lebih lama lagi.

Pemerintah Perancis sendiri sebenarnya tidak tinggal diam dan mencoba mengatasi permasalahan yang terjadi dengan mengajak para pekerja berunding. Namun sejauh ini Presiden Sarkozy kekeuh menjalankan rencana reformasi dan mengatakan: "reformasi ini sudah terlalu lama ditunda".

Terlepas dari kontroversi reformasi yang sedang dilaksanakan Presiden Sarkozy, satu hal yang pasti adalah bahwa angkutan umum massal memperlihatkan kesaktiannya. Kota besar seperti Paris bisa kejang dan lumpuh tanpa angkutan umum yang normal. Sehari dua hari atau bahkan seminggu dua minggu mungkin belum terlalu terlihat dampaknya, tapi kalau berkepanjangan bisa sangat merepotkan. Sekolah-sekolah ada yang diliburkan karena gurunya kesulitan menuju tempat mengajar. Begitu pula beberapa kegiatan ataupun rapat-rapat yang telah direncanakan terpaksa ditunda atau diundur pelaksanaannya menunggu kehadiran peserta.

Kejadian terakhir saya alami sendiri saat menghadiri seminar di salah satu hotel yang terletak di jantung kota Paris. Karena peserta yang diharapkan hadir masih sedikit, acara yang seharusnya dimulai pukul 09.00 pagi, terpaksa diundur hingga pukul 10.30. Penundaan satu setengah jam, bukan berarti menjadikan peserta lengkap, tetapi setidaknya pertemuan tidak kosong-kosong amat. Kasihan panitianya yang sudah mempersiapkan kegiatan dan acara jauh-jauh hari sebelumnya.

Ehm kalau saja yang pamer paha itu adalah Sophie Marceau, Issabele Adjani atau Anggun C Sasmi, yang sekarang tinggal di Perancis, mungkin enggak banyak orang keberatan. Mungkin justru merasa senang, bukan begitu?

7 comments:

all about health said...

wah kirain paha paris hilton pengen bandingin ma paha gw bagus mana?:D:D:D..btw nice posh met kenal juga ya

Pinkina said...

kirain paris banjir kok ada pamer paha pamer paha
/*emangnya Indonesia :))

Iman Brotoseno said...

sepertinya di jakarta nggak pengaruh ada pemogokan transportasi massal, wong jumlah motor dan mobilpribadi lebih banyak daripada manusianya..
Btw dimana sekarang Isabela Anjani, I used to love her so much hiks hiks

Anonymous said...

Selain paha, yang menarik juga namanya, mas. Kalau melihat nama itu saya suka pikir, itu saya. :lol:
Sewaktu diiinterview untuk kerja dulu saya sempat diingatkan kalau ada peralatan di unit kami yang namanya ARIS. Teman-teman suka gurau kalau mereka menyebut Aris, akan ditambahi embel-embel, the man not the device. :lol: Salam kenal dari seberang Atlantik.

drt

susan said...

hiks..hiks.. baru denger deh paris pamer paha juga.. Rupanya pamer paha itu penyakit menular yak? Yaitu buktinya dari Jakarta ke Paris.. hehe... Kata Ammar, kucingnya cantik2 gak di sana??

Ayahe Ramiro said...

GARDU Nord dgn Gare du Nord sama enggak ya mas?

btw, kalo di film Holiday-nya Mr Bean, ada setting di Gare du Lyon. :)

bon voyage monsieur Aris....

venus said...

ada macet juga di sana? wew...