4.12.06

James Bond dan Real Politics

Ayah, kok Casino Royale-nya udah tua sich? Begitu komentar anak saya yang kedua, Kiki (6 tahun), ketika diajak nonton film serial James Bonda terbaru Casino Royale. Saya hanya tersenyum saja karena tahu bahwa si Kiki sedang membandingkan pemeran James Bond terbaru dalam film Casino Royal (diperankan oleh Daniel Craig) dengan Pierce Brosnan pemeran James Bond sebelumnya. Karena sudah beberapa kali nonton Die Another Day, film James Bond terakhir yang diperankan Pierce Brosnan, anak saya tersebut tampaknya paham bahwa sosok James Bond lebih ceriah dan segar, sehingga tentu saja terlihat lebih muda.

Meski masih agak bingung dengan penjelasan saya, tapi Kiki tampaknya mulai bisa mengerti kalau James Bond kali ini terlihat berbeda, dingin, keras dan bertenaga. Berbeda dengan film-film Bond terdahulu, tokoh Bond di Casino Royale digambarkan sebagai jagoan yang bertampang keras dan tidak kenal belas kasihan terhadap musuh-musuhnya. Dari menit-menit pertama penonton sudah disajikan adegan sangat keras dimana antara lain digambarkan Bond membenamkan kepala musuhnya di toilet hingga tewas atau menembak begitu saja informan musuhnya di halaman suatu kedutaan besar suatu negara Afrika di Madagaskar, padahal informan tersebut telah dikejar mati-matian sebelumnya.


Namun dalam film tersebut, selain digambarkan bahwa Bond gampang membunuh orang, Bond juga bisa saja di bunuh orang. Dua kali digambarkan Bond nyaris tewas yaitu saat diracun oleh cewek bule gundiknya Le Chiffre (lawan Bond dalam film ini) dan saat disiksa oleh Le Chiffre. Bond tidak jadi tewas karena yang pertama diselamatkan oleh Vesper Lynd, cewek akuntan yang ditugaskan untuk mengawasi Bond, dan yang kedua diselamatkan oleh Mr. White, seorang agen rahasia lainnya yang memiliki kepentingan terhadap duit judi yang dimenangkan Bond. Bahwa Bond juga manusia biasa digambarkan pula dengan memperlihatkan Bond yang sering menggunakan kemeja biasa, beda dengan sebelum-sebelumnya yang selalu rapih dengan jas hitam atau tuxedo. Bond juga digambarkan bisa sedih dan bahkan jatuh cinta dengan Vesper.

Semua gambaran di atas tentu saja tidak saya sampaikan ke Kiki karena pastinya akan semakin bingung, cuma sekedar pengantar catatan kecil saja. Saya justru ingin mengulas setting politik internasional pada film Bond kali ini, yang juga berbeda dengan film-film terdahulu. Dalam film-film Bond terdahulu, setting politik internasional yang melingkupinya selalu disesuaikan dengan real geopolitics saat itu. Sebagai contoh, dalam Die Another Day, setting politik internasional yang dipergunakan adalah masalah nuklir Korea Utara. Masalah nuklir Korea Utara mengemuka karena negara yang dijuluki Axis of Evil oleh Amerika ini, ngotot untuk melakukan uji coba senjata nuklirnya meski ditentang dunia internasional. Bahkan dalam film ini digambarkan bahwa tokoh penjahatnya berasal dari Korea Utara.

Pada Tomorrow Never Dies, setting politiknya adalah situasi keamanan di laut Cina Selatan yang rawan karena adanya klaim tumpang tindih. Hanya saja memang tokoh penjahatnya bukan dari Cina atau negara-negara yang memiliki klaim di perairan laut Cina Selatan, melainkan raja media internasional (yang tampaknya terinspirasi oleh jaringan media yang dimiliki Rupert Murdoch). Pada The World is Not Enough, situasi real geopolitics yang ditampilkan adalah masalah energi dengan mengaitkan masalah krisis energi dunia dengan keselamatan jalur distribusi minyak di kawasan Kaukasia.

Pada The Living Daylights yang dibintangi Timothy Dalton, real geopolitics yang ditampilkan adalah pendudukan Uni Soviet di Afghanistan. Sementara pada film-film Bond yang dibintangi Sean Connery dan Roger Moore, situasi real geopolitics yang melingkupinya adalah persaingan Amerika dan Uni Soviet di masa perang dingin. Hal ini dapat terlihat antara lain pada Dr. No, You Only Live Twice dan From Rusia With Love, (Sean Connery), The Man With Golden Gun, The Spy Who Love Me dan For Your Eyes Only (Roger Moore). Sedangkan setting politik internasional lainnya yang menjadi latar belakang film-film Bond adalah terorisme internasional (Thunderball, Diamond Are Forever, A View To Kill) dan perdagangan obat-obat terlarang (Live and Let Die).

Lalu bagaimana setting politik internasional di Casino Royale? Meskipun digambarkan bahwa tokoh penjahatnya adalah seorang bankir yang membiayai organisasi terorisme internasional (Le Chiffre), namun isu terorisme internasional tidak dieksplorasi lebih jauh dan tampaknya hanya sekedar dijadikan keterangan untuk memperlihatkan bahwa Le Chiffre merupakan seorang penjahat. Beda dengan penjahat-penjahat Bond terdahulu yang memperlihatkan real action yang dapat mengancam keselamatan dunia dan kemudian digagalkan agen 007, di film ini aksi Le Chiffre hanya tampak di meja judi.

Produser film Casino Royale tampaknya menyadari bahwa film yang didasarkan pada novel pertama Ian Flemings ini (dengan judul yang sama), merupakan kisah pertama James Bond untuk menjadi agen rahasia Inggris 007 dan upayanya menjadi agen yang memiliki ijin untuk membunuh. Sehingga untuk memasukkan isu real geopolitics dewasa ini, seperti perang Irak atau isu terorisme internasional pasca 11 September (dengan Osama bin Laden dan Al Qaeda sebagai iconnya), dipandang tidak sesuai untuk memperkenalkan tokoh Bond sekaligus aktor baru pemeran Bond. Mungkin di film Bond mendatang, isu real geopolitics akan kembali muncul dan siapa tahu mengambil lokasi pengambilan gambar di Bali atau tempat-tempat lain di Indonesia.

2 comments:

Laks said...

wah koq sama templatesnya sama saya...
salam mas

Anonymous said...

Tokoh James Bond kali ini lebih garang dan lebih menonjolkan kekuatan ototnya, namun kurang flamboyan..:-)